ALTERNATIVE

PRIA DI KEDAI KOPI

  • Begitulah senja itu berlalu. Senja yang sangat kurindukan sejak musim dingin di negeri seberang. Aku hanya ingin menyeduh kopi bersama mereka yang telah menyelamatkanku saat aku kehilangan arah. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama mereka yang telah menyambutku kembali dengan senyum sederhana.

DEPRESSION

  • He’s still wearing the same shirt. His tiny little fingers are twitching as if whispered to me to embrace it. Dark between us makes me unable to see what kind of shoes he used this time, but still, his charming face mesmerizes me all the time. 

Untitled design

BEFORE THE DARKNESS

  • Hesitant, seasoned with fear, the orangutans left us toward the jungle. Among them, I saw Nabila there, waiting. Her gaze seems worried. Her eyes moved, searching. Until a baby in Dr. Rafli’s arms caught her attention. Nabila approached him, slowly, without trying to scare the officers.

COKE BOTTLE

  • Baginya, kota ini tak lebih dari tempat penampungan manusia yang berada di ambang kapasitas. Gedung-gedung tinggi di sekelilingnya sama sekali tak membantu. Asap kendaraan hanya membuat peluh dan kotoran di tubuhnya semakin menumpuk. Suara bising dari segala aktivitas di sana tak ayal meningkatkan stress dan lelahnya.

TENTANG DIA

  • #KompetisiMenulis by NulisBuku dan Cek Aja
  • Sabtu petang, itu berarti hampir sepekan ia mengisolasi diri dari siapapun di sana. Wanita itu selalu duduk di tepi pantai, tepat di bawah salah satu pohon ketapang yang tumbuh lebat di antara bebatuan dan pasir Sanur. Jika saja rambut indahnya tak berayun saat semilir angin membelai-belainya, aku akan mengira bahwa tubuhnya yang tersembunyi di balik bayangan itu adalah batu karang yang terdampar.

THE NIGHT DANCER

  • The darkness blinds me. Shouts and cries in the building howl together, buzzing my sense. I can not hear my voice. I can not feel my face. There is, a glance of move in the darkness takes me to a caution. Among the dots of light, I notice a figure. It is stomping my chest and open my eyes thoroughly. As the strains of piano pounding; as the string of violin escorting; the entire light is going toward him. Illuminating like a gold.

A GLASS OF WINE

  • Only four people, including myself. Boisterous by those boring sound, I chose to mind-read with a glass of wine flanked with my fingers. I am sitting among the old men. Bob Ross on the left and Sir Tolkien on my right.

FOURMILIERE

  • I love Jakarta. I miss Jakarta. And the feeling stopped ’til the city becomes a jail which is going to kill you slowly with lifeless elements inside, ’til it becomes a small pit of a hundred ants, like fourmilier. I will come back, but not to breathe heavily, just for a sip of the best coffee in Cikini.

GREEN, ORANGE, AND RED

  • My body is suffering. My soul is in misery. The pair of my eyes observing and I only find the darkness around. I feel the dirt in my hands, like a fusion of dust and clay. I heard the wind whistling, made me even more terrified. This time, it seems like I am in the uninhabited isle, or in the mud box. I thought I had run away yet caught up in the deepest of murk.

THROUGH THE MIRROR

  • Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

NOSTALGIA

  • Tidak, aku tidak sedang berada di Stasiun Jakarta. Tempat ini jauh lebih indah dan tertata dibandingkan dengan hiruk-pikuk di sana. Hanya saja—dan lagi-lagi—bayangan kegilaan di sudut ibukota itu selalu membuatku merenung, betapa kurindukan berbagai bising yang menyatu dengan segala keunikan itu dan memaksaku untuk menyebut nama-nama mereka yang kutinggalkan di sana dalam bisikan.

HE IS COMING

  • I always ignored it until the beat of ordinary turned to be frenetic, perpetual sound. Restless, unease, they shrouded me in anxiety. Something’s missing in me since the dreadful ordeal took them away, both who I loved―mom and dad. Something dark; something hollow; which began to harass inside my head and distracted my consciousness. And I haven’t figured it out. Not yet.

LIFE LINE

  • Throughout the sun, I was only able to see the clouds. They flocked, overlapped, like a league of woolly sheep; wavy and soft as marshmallows. I also found the same clouds at night. They were unfolding like the surface of the muddy lake; without a ripple as if it would swallow anyone who crossed it. And the woman on my right did exactly the same.

DALAM GELAP

  • Pelukku menyambutmu dalam rindu, cintaku terangkai manis membentuk segenggam bunga. Namun kau semu, bersembunyi di balik bayang-bayang, menatapku dengan lucutan tanya yang merundung membentuk setumpuk kelabu. Kelabu yang tak mampu kubaca.