V FOR VOWED (II-III)

Kali ini ia bertindak ramah, mana tahu saat Sonia membuka pintu, wanita itu akan membunuhnya dengan ribuan tamparan ataupun tusukan belati tajam yang selalu disembunyikannya pada salah satu laci meja.

Ia bertanya-tanya, sejauh mana jenuh itu mencegah kesabarannya untuk menunggu lebih lama. Sekali lagi ia menghirup udara dalam-dalam, menghitung detik di tengah hening yang semakin menyeramkan.

Potret gedung pada dinding sempat mengingatkannya akan bising ibukota, meski kenyataannya gambar itu merupakan tempat yang saat ini tengah didudukinya, August D Entertainment. Beruntung ruangan yang dihuninya saat ini bukan didominasi oleh putih. Warna itu selalu membuatnya panik, seolah-olah menelan tubuhnya secara perlahan ke dalam gumpalan kabut yang tak nyata.

blood__sweat_and_tears__v_by_g_a_b_j_o_o_n-dakloc6

Ia mengamati lukisan di sisi lain tanpa benci, sebuah potrait dari cat minyak yang telah mendongkrak keangkuhannya. Harus ia akui bahwa ketampanannya tak mampu untuk dipungkiri, mungkin alasan itulah mengapa wajahnya bersandar manis di sana.

Sepasang matanya kemudian tertuju pada meja tulis, mengamati papan nama akrilik berukir nama Sonia sambil sesekali menggigiti ibu jarinya yang belum tersentuh pemotong kuku sejak seminggu lalu.

Biasanya ia selalu menduduki kursi utama si pemilik nama—sekedar untuk menggodanya. Namun kali ini ia bertindak ramah, mana tahu saat Sonia membuka pintu, wanita itu akan membunuhnya dengan ribuan tamparan atau pun tusukan belati tajam yang selalu disembunyikannya pada salah satu laci meja.

V mengangkat dagu ketika pintu di balik punggungnya berderit. Ia menoleh, mau tak mau tersenyum manis meski sambutannya ditolak mentah-mentah oleh si wanita. Itu dia, Sonia, pemilik agensi ternama ibukota yang juga merupakan tempat dimana ia meraih popularitas sebagai pria misterius bermata turquoise―dan tentu saja, sebagai si pemilik hatinya.

Continue reading “V FOR VOWED (II-III)”

V FOR VOWED (I)

Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Silau, hanya itu yang ia temukan di sekelilingnya. Meski sepasang mata turquoise―yang baginya merupakan unsur penting pemikat wanita―terpejam kuat, ia mampu merasakan silau itu dari kehangatan yang merayap ke tiap pori-pori. Lembut, sang penerang menyentuhnya dengan segala godaan hingga membuatnya terbaring lemah.

2016-11-23-13-07-06

Selagi ia masih mencari kebenaran di dalam benaknya, sekujur tubuhnya kemudian mendadak mengejang, tepatnya ketika ia mendengar sebuah bisikan dari kejauhan. Tak memiliki kendali akan tubuhnya sendiri, ia hanya mampu menggerakkan kepala tak karuan. Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia semakin gelisah. Rasanya ia ingin mati saja.

…jika kau mati, siapa yang akan membelai keabadianku?

Dan getaran itu membuatnya membeku seketika. Ia belum bisa mendeteksi apakah suara itu milik seorang pria atau wanita. Yang ia tahu, bisikan itu kini berada tepat di dekat telinganya, mencekat napas dan kesadarannya, seolah suara itu menguasainya, segala yang dimilikinya.

…wake up, my man.

Jari-jari yang dimiliki oleh si pemilik suara itu menjangkau dadanya, menuntun ujung telunjuknya untuk membentuk sebuah garis lurus, menciptakan sentuhan lembut yang nyaris menggoda gairahnya untuk merintih indah.

…wake up, V.

Continue reading “V FOR VOWED (I)”

DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Continue reading “DALAM SEBUAH PELUKAN”