V FOR VOWED (I)

Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Silau, hanya itu yang ia temukan di sekelilingnya. Meski sepasang mata turquoise―yang baginya merupakan unsur penting pemikat wanita―terpejam kuat, ia mampu merasakan silau itu dari kehangatan yang merayap ke tiap pori-pori. Lembut, sang penerang menyentuhnya dengan segala godaan hingga membuatnya terbaring lemah.

2016-11-23-13-07-06

Selagi ia masih mencari kebenaran di dalam benaknya, sekujur tubuhnya kemudian mendadak mengejang, tepatnya ketika ia mendengar sebuah bisikan dari kejauhan. Tak memiliki kendali akan tubuhnya sendiri, ia hanya mampu menggerakkan kepala tak karuan. Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia semakin gelisah. Rasanya ia ingin mati saja.

…jika kau mati, siapa yang akan membelai keabadianku?

Dan getaran itu membuatnya membeku seketika. Ia belum bisa mendeteksi apakah suara itu milik seorang pria atau wanita. Yang ia tahu, bisikan itu kini berada tepat di dekat telinganya, mencekat napas dan kesadarannya, seolah suara itu menguasainya, segala yang dimilikinya.

…wake up, my man.

Jari-jari yang dimiliki oleh si pemilik suara itu menjangkau dadanya, menuntun ujung telunjuknya untuk membentuk sebuah garis lurus, menciptakan sentuhan lembut yang nyaris menggoda gairahnya untuk merintih indah.

…wake up, V.

Continue reading “V FOR VOWED (I)”

THROUGH THE MIRROR

Aku tak pernah membisikkan namanya. Namun di bawah sadarku, kupahami bahwa sesungguhnya aku menginginkan kehadirannya.

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

wedding-colorado-longmont-cakeknife-portrait-lighting-photographer-photography-getting-ready-pasturesofplenty-rustic-farm-outside-beautiful-unique-happy-love-farm-makeup-reflection-eye-liner-gettingre

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasrat dan harapanku di hadapan cermin manapun.

Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

Hanya beberapa detik saja, hingga kurasakan sepasang lengan kokoh menyergap tubuhku yang lelah.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih untuk tak bergerak,” suara lembut itu berhembus di telingaku.

Continue reading “THROUGH THE MIRROR”

KATAKAN SAYANG

“Kucoba untuk menahan gejolak itu hingga kuyakini bahwa aku telah benar-benar jatuh hati padamu.”

SENYUMMU MENYENTUH BENAKKU.” Ia menggumam, tepat di wajahku. “Aku lemah, tak kuasa untuk menolak keberadaanmu.”

Ragu, kutolehkan diri pada sisi lain jalan setapak; sengaja tak kubiarkan dirinya mendekat lebih jauh. Aku melangkah mundur, semakin mengeratkan genggamanku dalam saku sang duffle coat. Kulihat ia bergeming, maka kumanfaatkan hal itu dengan bergerak menjauh. Wangi romantis dengan sentuhan mawar dari semerbak tubuhnya menghentikanku, lagi. Ia mencegatku, membuatku mendongak akibat sosoknya yang menjulang tinggi.

black-white-infrared-charleston-battery-park-bench-kathy-fornal

“Jangan, sayang. Jangan menatapku seperti itu. Sorotmu menunjukkan padaku bahwa kau meragukanku,” suaranya menghalus, terdengar seolah ia tengah mengeluh.

“Aku—“

“Sstt! Kumohon, jangan menyela. Aku hanya ingin kau untuk duduk dan mendengar.”

Kewaspadaanku menjerit saat ia menyentuhkan telunjuknya di bibirku. Hanya sepersekian detik saja namun berhasil membuat jantungku berdebar. Ia meraih lenganku, menyeretku pada sebuah bangku panjang di tepi jalan dan memaksaku untuk duduk di sana.

Continue reading “KATAKAN SAYANG”

TENTANG DIA

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh http://www.cekaja.com dan Nulisbuku.com 

SABTU PETANG, ITU BERARTI HAMPIR SEPEKAN IA mengisolasi diri dari siapapun di sana. Wanita itu selalu duduk di tepi pantai, tepat di bawah salah satu pohon ketapang yang tumbuh lebat di antara bebatuan dan pasir Sanur. Jika saja rambut indahnya tak berayun saat semilir angin membelai-belainya, aku akan mengira bahwa tubuhnya yang tersembunyi di balik bayangan itu adalah batu karang yang terdampar.

Sesaat ia menggedikkan bahu. Selama separuh waktu kuperhatikan dirinya, ia sama sekali tak menunjukkan gerakan yang mencolok selain memeriksa sepasang sandal yang berbaris rapi di sampingnya atau sesekali memerhatikan jam tangan. Maka kuberanikan diri dengan membentuk alunan langkah. Bersama dua botol soda dingin di tanganku, kucoba untuk meredam gaduh dari ketukan sepatu pantofelku di atas kongkret jalan setapak.

Continue reading “TENTANG DIA”

DEPRESSION

He’s still wearing the same shirt. His tiny little fingers are twitching as if whispered to me to embrace it. Dark between us makes me unable to see what kind of shoes he used this time, but still, his charming face mesmerizes me all the time. I’m not sure the color of his hair—the first time we met, black dominated of his, just like mine. His nose reminds me of someone’s, while his thin lips pursing in a lovely way. I’m looking at his beady eyes that I like, and he is looking back at me, sadly.

I’m smiling, he’s not.

He doesn’t budge at all so I start to move closer. When I am about holding him in my arms, someone pushes me away. I am confused, I don’t know her. I am angry because she is not allowed me to touch him. I look at her which is much taller than him—but not taller than me. She is wearing the same shirt with my little boy. She is wearing the same color with my little boy. Her short hair is the same with my little boy.

Continue reading “DEPRESSION”