V FOR VOWED (I)

Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Silau, hanya itu yang ia temukan di sekelilingnya. Meski sepasang mata turquoise―yang baginya merupakan unsur penting pemikat wanita―terpejam kuat, ia mampu merasakan silau itu dari kehangatan yang merayap ke tiap pori-pori. Lembut, sang penerang menyentuhnya dengan segala godaan hingga membuatnya terbaring lemah.

2016-11-23-13-07-06

Selagi ia masih mencari kebenaran di dalam benaknya, sekujur tubuhnya kemudian mendadak mengejang, tepatnya ketika ia mendengar sebuah bisikan dari kejauhan. Tak memiliki kendali akan tubuhnya sendiri, ia hanya mampu menggerakkan kepala tak karuan. Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia semakin gelisah. Rasanya ia ingin mati saja.

…jika kau mati, siapa yang akan membelai keabadianku?

Dan getaran itu membuatnya membeku seketika. Ia belum bisa mendeteksi apakah suara itu milik seorang pria atau wanita. Yang ia tahu, bisikan itu kini berada tepat di dekat telinganya, mencekat napas dan kesadarannya, seolah suara itu menguasainya, segala yang dimilikinya.

…wake up, my man.

Jari-jari yang dimiliki oleh si pemilik suara itu menjangkau dadanya, menuntun ujung telunjuknya untuk membentuk sebuah garis lurus, menciptakan sentuhan lembut yang nyaris menggoda gairahnya untuk merintih indah.

…wake up, V.

Continue reading “V FOR VOWED (I)”

DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Continue reading “DALAM SEBUAH PELUKAN”

THROUGH THE MIRROR

Aku tak pernah membisikkan namanya. Namun di bawah sadarku, kupahami bahwa sesungguhnya aku menginginkan kehadirannya.

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

wedding-colorado-longmont-cakeknife-portrait-lighting-photographer-photography-getting-ready-pasturesofplenty-rustic-farm-outside-beautiful-unique-happy-love-farm-makeup-reflection-eye-liner-gettingre

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasrat dan harapanku di hadapan cermin manapun.

Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

Hanya beberapa detik saja, hingga kurasakan sepasang lengan kokoh menyergap tubuhku yang lelah.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih untuk tak bergerak,” suara lembut itu berhembus di telingaku.

Continue reading “THROUGH THE MIRROR”

NOSTALGIA

Tiap kali kutilik layar itu, rasanya seperti kehidupan yang lalu, jauh sebelum kuingat lagi kapan terakhir kali kusentuh dengan ujung jemariku sendiri.

Kutundukkan kepala, mendesah beribu kali menandingi sepoi angin yang berlalu-lalang. Seharusnya aku berucap syukur, bukannya mengobar hati dengan segala rindu yang selalu menusuk-nusuk kepalaku.

Dan, salahkan aku karena hingga saat ini aku belum sepenuhnya menolak untuk menoleh ke balik bahuku. Mungkin ia tak ingin ditinggalkan, mungkin ia tak ingin kutinggalkan.

20151225_0941461

Sengaja kusembunyikan seluruh jemariku di dalam saku, melindungi kuku-kuku kecilku dari udara musim gugur yang mulai menyatu dengan dingin dari utara. Kereta berikutnya belum juga berada dalam jangkauan, maka kuhabiskan waktuku dengan mengetuk-ngetuk hak sepatu di atas lapisan porselin berkualitas—sementara kubiarkan bangku kosong di belakangku dihuni oleh ibu tua berambut pirang bersama affenpinscher yang masih terbilang muda.

Seolah berada di antara tiang-tiang Patron 3/4, ada semacam koneksi yang menjembataniku dengan Stasiun Jakarta

Tidak, aku tidak sedang berada di Stasiun Jakarta. Tempat ini jauh lebih indah dan tertata dibandingkan dengan hiruk-pikuk di sana. Hanya saja—dan lagi-lagi—bayangan kegilaan di sudut ibukota itu selalu membuatku merenung, betapa kurindukan berbagai bising yang menyatu dengan segala keunikan itu dan memaksaku untuk menyebut nama-nama mereka yang kutinggalkan di sana dalam bisikan.

Masih kuingat senja itu, saat kulewatkan sore berawan bersama seorang gadis yang hanya terpaut beberapa tahun denganku, yang selalu kusebut sebagai teman dan musuhku, yang selalu kusebut sebagai adik tersayangku. Kami beradu tawa, terbahak hingga para insani mendelik tajam, saling merangkul diri seolah ia dan diriku merupakan satu jiwa, bahkan melontarkan seratus makian yang tak pantas didengar balita.

Continue reading “NOSTALGIA”

PHOTO CHALLENGE: “TANAH AIR”

20151220_063225
Monumen Nasional, Jakarta, Indonesia (Taken by Huglooms)

Sometimes, I feel that I am too much different. Living in another land makes me feel like a stranger; body and soul are detained, shrunk along the cold air in the winter. One, is able to raise me from all unnecessary thoughts, is tanah air. I just need to take a moment to look at some portraits: Kuningan, Cirebon, Jakarta, Bali. All those beauties, hustle and bustle, immediately disassembles the wall of dread and loneliness. Tanah air is my other half, my sunlight and the moonlight.

Continue reading “PHOTO CHALLENGE: “TANAH AIR””