SHADOW

as the shadow lit the colors around, as it revealed the form of a picture.

We watched the sun went down together. Suddenly became paralysed by its warmth. He said nothing, me neither. Sank in deep thoughts and tough, drowned into a heaped of past and lasts.

…and I started to count, very softly through my breath, as the light slowly went down, showing the shape of the island which was hiding beneath.

1, 2, 3 ….

img_20170212_172837
Corona Del Mar, California

 

“Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
— Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations.

Some say dark is the most beautiful thing, some also fear to be left by the light. Frightened, insecurity, sorrow—they live in the darkness, with the shadow shrouds their back, haunts them like the Angel of Death.

It is sad, for some people. But there is always a good thing.

Continue reading “SHADOW”

DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Continue reading “DALAM SEBUAH PELUKAN”

FOURMILIÈRE

Grey, white, or similar color with dark paint as concrete; perpetual building constructions—high and plush up to the sky; four-and-two-wheels machines lining up on the road; smokes of pollution and cigar jumbled together to spike each hearts; and no green, no trees.

Yes, sometimes I missed the bustle of humans, waiting for the Trans. Yes, sometimes I missed them to say ‘Selamat Siang’ whenever I entered every shops at the corner. And, yes, sometimes I missed the night  which I could not find here. Youth, elder, kids, they besiege the late night food and junks as a throng of bats, attacking their preys. But then it changed: busy and even busier, narrow, stuffy, unpretty, and stressful.

Continue reading “FOURMILIÈRE”