WHO ARE YOU ? – PART 4

***

Main casts : Park Jiyoon and Key SHINee

Support casts : Other SHINee member, Seong Yeo Ra, Kim Jung Hwa, etc.

Type : Sequel [Part 4]

Length : 8 parts [maybe less, maybe more]

Genre : Mistery, romantic, ficlet, humor (?), difficult to guess, out of mind

Rate : General

 ***

KEY SHINEE DAN SEORANG YEOJA CHECK-IN DI SEBUAH HOTEL?”

Saya mendapatkan foto ini dari salah satu Me2Day seorang yeoja yang diyakini sebagai petugas Hotel XXXXX [check it :: http://www.me2day.com/chocochip%5D. Tak sengaja ia melihat Key SHINee sedang menggendong seorang yeoja dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar beberapa hari yang lalu.

Selidik punya selidik, yeoja yang menjadi pusat perhatian itu adalah salah satu mahasiswi di kampus yang sama dengan Key.

Manager SHINee dan pihak SM belum mengkonfirmasi hal ini. Lalu, apakah foto tersebut memang benar adanya? Well, sepertinya Key akan mendapatkan ribuan anti-fans dari seluruh dunia.

Source : chocochip Me2Day, allkpop, BaiduBar

Reupload by: gingsul-girl

JIYOON’ SIDE

Sudah berpuluh-puluh kali kubaca berita diatas melalui flat-monitor komputerku. Dan sudah berpuluh-puluh kali pula kuteguk air putih untuk menenangkan fikiranku. Kulihat ada dua ratus comment dibawah berita tersebut. Padahal beritanya baru menyebar sepuluh menit yang lalu. Dan comment tersebut semakin bertambah setiap detiknya.

Setelah Yeo Ra memberitahuku tentang berita ini di kelas Hyeo Seosaengnim, aku segera berlari ke asramaku dan mengunci pintu rapat-rapat, berusaha menghindar dari perhatian orang-orang di kampusku. Karena tepat setelah berita tersebut menyebar, Yeo Ra menelfonku kalau keadaan kampus menjadi kacau. Semua orang—terutama para yeoja—mencari tahu dan bertanya-tanya tentang kebenaran foto tersebut. Mereka mencariku dengan maksud ingin menginterogasiku. Dan karena tak berhasil menemukanku, walhasil Yeo Ra lah yang menjadi sasaran.

Saat otakku sedang kacau, tiba-tiba handphone-ku bergetar. Segera kulihat layar handphone-ku dan ku klik tombolnya untuk membaca sms masuk.

From: Si mulut lebar

Jiyoon, gawat! asramamu sudah dikepung banyak orang.

aku tak bisa masuk kesana. Apa ada pintu lain di belakang?

Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan mengintip ke jendela. Benar kata Yeo Ra, kulihat banyak sekali orang didepan asramaku. Untung kamarku di lantai atas, jadi aku bisa memonitor mereka. Kuketik sms balasan padanya.

Aku akan membukakan pintu belakang. Kau pergi lewat gang sempit samping asramaku, nanti ada pintu di ujungnya.

Kupakai Hoodie-ku sebelum keluar kamar, takut penghuni asrama lainnya mengetahui keberadaanku. Aku segera berlari ke arah pintu belakang dan kudapati Yeo Ra sudah menungguku disana. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dan mencari tempat yang aman.

@@@

Kuseruput sweet-ice-tea milikku cepat-cepat untuk mendinginkan kepalaku. Well, kami akhirnya ‘bersembunyi’ di sebuah kedai makanan pinggir jalan setelah berhasil menghindar dari beberapa yeoja yang lewat di belakang asramaku.

“Jiyoon-ah,” sahut Yeo Ra yang duduk didepanku.

“Hmm,”

“Ternyata benar, malam itu kau pergi dengan Key, ya?” Yeo Ra menyeringai ke arahku. Aku hanya memutar bola mataku dan mendengus.

“Mengaku sajalah,” ia menowel-nowel lenganku, menggodaku.

“Jangan asal bicara, nona Seong Yeora,” kataku lalu mendelik ke arahnya.

“Kalau bukan begitu kejadiannya kau harus menerangkannya padaku atau selamanya aku akan salah paham padamu. Kita ‘kan teman,” pintanya sedikit memaksa. Kuhembuskan nafas dari mulutku dengan berat.

“Aku akan menceritakannya padamu, tapi nanti kalau masalah ini sudah selesai,”

“YA!! KAU—”

Kuacungkan tanganku padanya, menyuruhnya untuk diam. Sepertinya ada yang menelfonku karena dari tadi handphone-ku tak berhenti bergetar. Kuperhatikan handphone-ku dan tertera nomor tak dikenal di layarnya. Aku sempat agak ragu untuk mengangkat telfon ini, tapi kuputuskan untuk menerimanya. Mungkin ini telfon penting?

“Yeoboseyo?” tanyaku malas.

“Jiyoon-sshi. Ini aku, Key. kau ada dimana sekarang?”

“K-k-key?” tanyaku terbata-bata. Kualihkan perhatianku pada Yeora yang juga terlihat kaget mengetahui bahwa yang menelfonku itu adalah idolaku sendiri.

“Ne. Kau ada dimana? Kau sudah tahu tentang berita itu?”

“Ne,” jawabku singkat.

“Cepat ke SM building sekarang juga. Manager hyung ingin bertemu denganmu,”

“Eh? Ne, ne…”

“Sampai bertemu disana,”

Dan Key segera mengakhiri perbincangan singkat kami. Aku segera berdiri dari tempat dudukku dan beranjak pergi dari situ.

“Ya! Kau mau kemana?” suara Yeora menghentikanku.

“Menyelesaikan semuanya,” jawabku singkat. “Yeora, tolong bayar dulu minumanku, nanti akan kuganti setibanya di asrama nanti,”

“Tapi kau belum cerita,” desaknya lagi.

“Aku akan menceritakannya nanti malam. Sekalian kau menginap di kamarku. Eotthe?” kataku menawarkan sebuah kesepakatan. Kulihat ia mengangguk pelan dan akupun langsung melesat pergi. Tak lupa kurapatkan hoodie-ku dan kupakai kacamata hitamku.

@@@

Kuketuk sebuah pintu yang tertulis ‘SHINee Stuff’ diatasnya dengan perlahan. Tak lama kemudian, seorang namja yang kuketahui membuka pintu tersebut. Jonghyun—setelah membukakan pintu—mempersilahkanku masuk dan duduk di sebuah sofa yang terletak di tengah ruangan. Onew oppa dan Key ternyata sudah ada disana. Sayang, tidak ada Minho dan Taemin.

“Kukira kau tidak akan menghubungiku mengingat keadaan diluar sana sedang kacau balau,” kataku pada Key sambil melangkah menuju sofa dan duduk diatasnya. Aku memilih untuk duduk disamping Key. Mungkin hal itu dapat mengurangi stressku yang berkepanjangan.

“Manager Hyung menyuruhku untuk tidak menelfonmu dulu. Kau baik-baik saja ‘kan?” tanyanya.

“Anni. Keadaanku buruk,”

“Fans-nya Key menyerangmu?” sela Jonghyun yang duduk tepat di hadapanku.

“Lebih dari itu,” jawabku singkat. “Dimana Minjae Ahjusshi?” sambungku.

“Dia sedang mengadakan rapat dadakan dengan Soo Man Sunbaenim. Tunggulah sebentar,” Key terlihat mengotak-ngatik handphone barunya.

“Lukamu sudah sembuh?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku, memperhatikan setiap inchi dari wajah si kunci hatiku ini.

“Ne. Lihat, aku sudah terlihat tampan lagi bukan?” ia menunjukkan kedua sisi wajahnya padaku dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

Kuputar bola mataku dan mendengus pelan. “Sekarang bukan saatnya memuji ketampananmu, Key,”

“Jadi kau yang bernama Park Jiyoon itu?” Onew Oppa menatapku sambil tersenyum.

“Ne. Annyeong haseyo,” kubungkukkan tubuhku sedikit padanya.

“Key sempat menceritakanmu padaku,” terangnya, tetap memamerkan senyumnya padaku. Aku hanya menyeringai kecil pada Onew Oppa. Entahlah, saat ini aku sama sekali tak bisa tersenyum. Padahal sekarang aku sedang dikelilingi namja-namja idolaku.

“Kami fikir si Tuan Kim itu hanya orang iseng yang ingin mencari sensasi saja. Tapi ternyata dugaanku salah,” ucap Key kemudian mengambil secarik kertas diatas meja didepanku. Ia menunjukkan kertas tersebut padaku. Dan, lagi-lagi, kertas itu berisi ancaman yang dibuat si Tuan Kim untuk Minjae Ahjusshi. Diatas kertas tersebut bertuliskan : ‘Kau tak melakukan perintahku!! Ini sudah lewat dari tiga hari dan Kim Ki Bum masih saja berdiri di SM Building. Aku tak punya pilihan lain. Akan kubuat ia menderita, sedikit demi sedikit’

“Kukira dia ini seorang pshyco,” sela Onew.

Kubuang kertas itu sembarangan lalu kuusap wajahku menggunakan kedua tanganku. “Kalau orang ini memang membencimu, kenapa dia tidak langsung saja menaruh bom di dorm-mu agar kau mati seketika? Atau, kenapa dia tidak merusak rem mobilmu agar kau bisa mati mengenaskan di jalan?” tanyaku sewot sambil melirik ke arah Key.

Kudengar Jonghyun dan Onew Oppa tertawa pelan. Dan hanya Key yang tersenyum simpul. “Kenapa kalian tertawa? Ada yang lucu? Ini menyangkut kehidupan Key, oppa… kalau memang benar orang ini pshyco, berarti Key sekarang dalam bahaya!!” kataku sedikit berteriak ke arah Onew. Kurasakan nafasku sedikit memburu karena emosiku yang tak terkendali ini.

“Jiyoon-sshi. Kalaupun orang ini memang gila, manager hyung pasti akan mengerahkan segala cara untuk melindunginya,” ucap Onew menegaskan. “Aku tahu kalau kau itu fans-nya Key, tapi kau tak perlu mengkhawatirkannya,” lanjutnya lagi.

“Eh? Jadi, Jiyoon ini fans-nya Key?” Jonghyun mengarahkan telunjuknya padaku. Key dan Onew Oppa terlihat mengangguk sambil tersenyum.

“Hahaha, Tenang, Jiyoon-sshi. Tak akan terjadi hal buruk. Aku sudah berpengalaman dalam masalah ini,” ucap Jonghyun. Ya, dia memang pernah mengalami hal ini saat berita tentang statusnya dengan Shin Se Kyung tersebar. Tapi jelas-jelas cerita ini sangat berbeda dengannya.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanyaku pada namja disebelahku. Ia menoleh ke arahku dan membuat sebuah senyuman di bibirnya.

“Ada,” ucapnya singkat. “Aku tampan ‘kan?” kini ia tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih itu. Kulempar bantal sofa yang ada dibalik punggungku dan mengenai wajahnya.

“Jiyoon-ah, aku—“

“Mwo? Jiyoon-ah?” kataku memotong kalimat Key.

“Ne. Kenapa memangnya?” tanyanya tanpa dosa.

“Aku ini satu tahun lebih tua darimu, Key. Jadi bersikaplah sopan sedikit,” terangku.

“MWO? Kau lebih tua dariku?” Key membalikkan tubuhnya menghadapku dengan cepat sambil mengarahkan pandangannya padaku tanpa berkedip.

Beberapa saat kemudian, Minjae Ahjusshi muncul dari balik pintu. Ia langsung bergabung dengan kami dan memilih duduk di sofa tunggal. Ia mengeluarkan beberapa berkas dari tas kerjanya tanpa mempedulikan kehadiranku.

“Intel SM sudah menyelidiki semuanya dan ternyata data dari si pemilik Me2Day itu palsu. Selain itu, tidak ada petugas hotel yeoja yang bertugas pada malam hari di hotel tersebut,” terangnya dengan raut muka seserius mungkin.

“Ulah si Tuan Kim lagi, huh?” sela Key diantara keheningan yang menyelimuti kami. Minjae Ahjusshi mendesah pelan.

“Gara-gara berita ini, kalian harus masuk blacklist untuk beberapa event di Korea. Selain itu, posisi kalian sebagai duta anak-anak tahun ini mungkin akan bergeser dan digantikan oleh BEAST,” lanjut ahjusshi. Ia membolak-balik beberapa dokumen di tangannya.

“Sebegitu besarnya kah dampak dari pemberitaan tersebut?” tanyaku penasaran.

“Perlukah kusebutkan lagi hal-hal lainnya?” Minjae Ahjusshi mengatakannya tanpa menatapku.

“Kalau begitu, ahjusshi segera terangkan pada publik bahwa aku ini bukan siapa-siapa-nya Key,” kataku tak mau kalah.

“Alasan tersebut kurang begitu logis, Jiyoon-ah,” Jonghyun menambahkan.

“Cari alasan lain!!!” kataku sedikit berteriak. Membuat semua mata di ruangan ini tertuju padaku. “Demi tuhan, ahjusshi. Aku tak pernah menyangka akan serumit ini kejadiannya,”

Kuputuskan untuk menjauh dari mereka dengan berjalan menuju sebuah meja yang jaraknya dua meter dari tempat dudukku dan menyenderkan kakiku pada meja tersebut. Kuusap pelipisku sambil memejamkan mata, mencoba menghilangkan pusing yang tak terkira.

“Aku pasti akan melakukan berbagai cara, Jiyoon-sshi. Ini menyangkut Key, menyangkut SHINee, menyangkut SM juga,” kudengar suara Minjae Ahjusshi samar-samar.

Kurasakan seseorang menyentuh pundakku lembut, membuatku dengan seketika membuka kelopak mataku. Dan kudapati Key sedang tersenyum manis padaku. “Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, Jiyoon-sshi,”

Aku hanya menggeleng pelan. Meskipun suara Key barusan membuat hatiku tenang, tapi keresahanku kembali datang setiap kali mengingat si Tuan Kim itu.

“Aku mengkhawatirkanmu. Itu saja,” ucapku tanpa menatapnya. “Aku tak pernah berharap akan terlibat sejauh ini, Key. Menjadi fans-mu saja itu sudah cukup bagiku,” gumamku sambil menundukkan kepalaku dan kedua tangan terlipat di dada.

Kedua tangan Key meremas pundakku pelan. “Jiyoon-sshi,” bisiknya tepat di depan wajahku. Segera kutatap kedua matanya yang sedang mengarah padaku.

“Kau harus percaya padaku kalau aku akan baik-baik saja. Semua member SHINee dan Manager hyung akan menjagaku. Justru yang kutakutkan itu adalah kau,” ucap Key dengan nada setenang mungkin.

Kuarahkan pandanganku pada Onew, Jonghyun dan Minjae Ahjusshi satu per satu. Mereka sepertinya sedang sibuk membicarakan sesuatu. Kemudian kutatap kembali Key yang sedari tadi tak memalingkan wajahnya dariku.

“Aku akan baik-baik saja. Tak perlu kau takutkan keadaanku. Aku bisa membuat yeoja-yeoja yang menyerangku tunduk dihadapanku hanya dengan sekali tendangan,” kataku yang berhasil membuatnya tertawa pelan.

“Seharusnya malam itu aku bisa berlari lebih cepat. Kalau aku bisa memberitahu sequrity, kejadiannya tak akan seperti ini. Kau bisa tenang menjalani aktivitasmu, dan aku bisa melanjutkan kehidupan normalku seperti biasa,” desahku.

“Hei,” Key menggoyang-goyangkan pundakku. “Ayolah, Jiyoon-sshi. Jangan terlalu serius seperti itu. Aku ingin melihat Jiyoon yang sangat pintar bahasa inggris ini kembali ceria seperti di kelas kemarin,”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi kata-kata Key yang sedang mengejekku. Kupandangi dirinya yang sedang terkekeh pelan dihadapanku. Hhhh, ya tuhan… namja ini benar-benar membuat sendi-sendi di seluruh tubuhku melemah. Aku tak bisa bergerak hanya gara-gara melihat tawanya yang indah itu….

“Key,”

“Hmmm,”

“Berjanjilah satu hal padaku,” kataku sedikit berbisik.

“Ne?”

“Berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja,”

Key mengangguk perlahan sembari menyunggingkan senyumnya. “Ne, Jiyoon-sshi. Meskipun aku tak begitu mengenalmu, terima kasih karena kau sangat perhatian padaku,”

@@@

“MWO???”

Kututup telingaku sekencang-kencangnya saat mendengar teriakan Yeora. Begitulah ekspresinya setelah mendengar penjelasanku tentang foto itu. Setelah berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun, akhirnya kuputuskan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sahabatku ini.

“KENAPA TIDAK LAPOR POLISI SAJA??”

Lagi-lagi kueratkan telingaku karena pengang mendengar suara Yeora. “Kan aku sudah bilang, si Tuan Kim itu mengancam mereka, Yeo….”

“Huh, berani-beraninya namja itu memukuli salah satu Member SHINee. Kalau orang itu sudah tertangkap, akan kuhajar dia!!” Yeora memukul-mukul gulingku kasar.

Kembali kupusatkan perhatianku pada monitor komputer. Aku sedang mengirim tugasku ke email milik Han Seonsaengnim. Gara-gara anti-fans-ku yang menggunung, aku tak bisa pergi ke kampus dan memilih untuk ikut kelas malam.

Sambil menunggu email, kucek beberapa situs fansite SHINee untuk mengetahui perkembangan berita tersebut.

“Yeora. Cepat kemari,” suruhku pada Yeora yang sedang tiduran di kasurku. Aku dan Yeora memperhatikan sebuah berita dari Newsen. Berita ini baru di post beberapa menit yang lalu. Ini menyangkut pemberitaan tadi siang. Dan mataku tak henti-hentinya tertuju pada deretan kalimat ini…..

“SMent ANGKAT BICARA MENGENAI KASUS FOTO KEY SHINEE”

…..berikut pernyataan manager SHINee terkait kasus foto Key yang menyebar di internet:

“Harap semua Locket dan SHINee World untuk tidak sembarangan menarik kesimpulan. Memang benar namja di dalam foto tersebut adalah Key. Tapi saya akan menekankan beberapa hal disini:

Pertama, yeoja yang ada di foto tersebut adalah teman Key. Yeoja itu tak sengaja terserempet sebuah taxi ketika akan meminta tanda tangannya. Karena merasa kasihan, jadi Key mengantarnya ke sebuah hotel yang ditempati oleh bibi dari si yeoja yang letaknya tak jauh dari tempat kejadian. [Keterangan untuk foto pertama]

Kedua, Key memenuhi permintaan temannya itu untuk foto bersama. Namun, karena belum siap, mata Key terlihat seperti orang yang sedang tertidur. [Keterangan untuk foto kedua]

Kukerjapkan mataku sekali kemudian kubaca ulang pernyataan dari Minjae Ahjusshi.

“Apa-apaan ini?” Yeora mendesis disampingku. “Ya! Si namja tua itu berbicara seolah-olah semua ini adalah kesalahanmu, Jiyoon-ah,” ia melempar keripik singkong ke layar komputerku. Aku hanya bisa terdiam membaca artikel tersebut.

“Jiyoon-ah. Kau harusnya menuntut keadilan pada manager SHINee. Aku yakin, semua penghuni kampus akan memandangmu rendah nanti,”

Aku berjalan gontai ke arah tempat tidurku. Sengaja tak kutanggapi perkataan Yeora karena kepalaku kembali di serang pusing yang membuatku mual. Kupandangi jam dinding yang menunjukkan pukul 01.56am. Kubaringkan tubuhku diatas ranjang lalu kupejamkan mataku erat.

“Yeora, aku butuh istirahat,” kataku, tak lebih dari sekedar berbisik.

“Jiyoon-ah, gwenchanayo?” Yeora menghampiriku dan kurasakan tangannya mengelus kening dan pipiku lembut. Aku tak sanggup untuk bicara sekarang. Berita tersebut seolah menyedot semua tenagaku. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah segera tertidur agar aku siap menghadapi hari esok yang akan terasa berat….

@@@

“Hhhhhh,,” kuhembuskan nafas dari mulutku dengan cepat selama beberapa kali. Ocehan Hwang Seonsaengnim pun tak kudengarkan dengan jelas.

Hari ini benar-benar hari yang sangat berat bagiku. Bayangkan, baru saja aku membersihkan halaman depan asramaku, tiba-tiba kulihat banyak sekali notes berwarna-warni menempel di pagar asrama. Dan semuanya ditujukan untukku. Isinya pun bermacam-macam. Ada yang menulis ‘DASAR WANITA PENGGODA’, ‘STAY AWAY FROM MY KEY’, ‘PARK JIYOON, YOU BITCH’, dan masih banyak lagi kata-kata makian yang mereka berikan padaku.

Belum selesai sampai disitu, saat aku dan Yeora sampai di kampus, semua tatapan para yeoja diarahkan padaku. Aku hanya diam menanggapinya. Tapi Yeora malah memarahi dan membentak mereka. Dia memang malaikat pembela kebenaran….

Drrrttt…

Handphone-ku bergetar membuyarkan lamunanku. Kurogoh kantung sweater-ku lalu kuambil benda kecil itu.

From : Key-somnia

Aku ada di kampus. Kau dimana? Bisa bertemu sebentar?

Eh? Key? Mengirimku pesan?

“Siapa?” Yeora mencondongkan tubuhnya padaku untuk melihat layar handphone-ku. “Key?” ia mengerutkan alisnya setelah tahu siapa orang yang telah meng-sms-ku.

Kutatap temanku ini bingung.

“Wae? Cepat datangi dia,” suruhnya tanpa ragu. Kemudian kukirim sms balasan padanya bahwa aku akan segera menemuinya.

@@@

Oke. Aku sudah sampai di halaman depan kampusku, tapi tak kutemukan juga sosok yang kucari. Kuedarkan pandanganku ke segala arah tapi tetap saja hasilnya nihil.

“Mencariku?” tanya seseorang dari balik punggungku. Kubalikkan tubuhku cepat dan kutemukan sosok namja yang membuatku jantungan ini. Ia melepas masker dan kacamatanya. Lagi-lagi kuedarkan pandanganku ke segala arah, memastikan bahwa tak ada orang lain yang melihat kami.

“Kenapa kau datang kemari?” bisikku pelan ke arahnya.

“Memangnya tidak boleh? Ini kan kampusku juga,” jawabnya santai.

“Ini sudah malam, Key. Kau tak takut kalau si Tuan Kim tiba-tiba datang menghajarmu lagi?” tanyaku, masih tetap mengedarkan pandanganku.

Key terlihat tersenyum tipis. “Disana ada seorang bodyguard yang menjagaku. Jadi kau tenang saja,” ia menunjuk ke sebuah arah dimana ada seorang namja berdiri di balik pagar. “Lagipula manager hyung tidak akan membiarkanku berkeliaran sendirian setelah mengetahui kejadian ini,”

“Kudengar kau selalu masuk kelas malam gara-gara fans-ku selalu mengejarmu? Benarkah?” tanyanya sambil merekatkan sweaternya.

“Tak apa. Anggap saja mereka itu memang fans-ku yang ingin meminta tanda-tanganku,” jawabku sekenanya. “Kau tidak ada jadwal hari ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku baru saja selesai siaran di KBS Kiss Radio dan kebetulan letaknya tak jauh dari kampus ini. Jadi aku menyempat diri untuk menemuimu,” jelasnya. Sebenarnya aku agak pegal karena dari tadi berdiri terus. Tapi setelah mencium wangi tubuh Key, semua pegalku hilang seketika.

“Mianhae,” ucapnya lirih. Kudongakan kepalaku menatapnya dan ia balas menatapku dan tersenyum. “Aku baru tahu tentang pernyataan manager hyung menyangkut masalah foto kita. Tak kusangka ia akan mengatakan hal seperti itu. Pasti hari-harimu sangat berat,”

Aku hanya mendengus pelan dan menyunggingkan senyumku. Kumasukkan kedua tanganku kedalam saku sweaterku dan menggedikkan bahu sekali. “Sudah kukatakan berapa kali padamu, Key. Jangan khawatirkan aku. Apapun akan kulakukan agar kau baik-baik saja,”

Kurasakan ia mengacak rambutku pelan, membuatku mematung sesaat ditempatku karena perlakuannya. EOMMA~ DIA MENGACAK RAMBUTKU….

“Gomawo, Jiyoon-sshi. Atau harus kupanggil Jiyoon noona?” ucapnya dengan nada yang membuat otakku meleleh seketika.

“Anni. Cukup ‘Jiyoon-sshi’ saja. aku tidak suka dipanggil noona,” sergahku cepat.

“Besok kita akan bertemu di kelas Mr. Lee. Kau jangan bolos kuliah, ok? Aku harus pergi sekarang. Annyeong,”

Ia segera pergi meninggalkanku sendirian di taman. Sebelum menghilang dari pandanganku, ia sempat melambaikan tangannya dari kejauhan.

Hhhh~ eomma… imajinasiku sekarang berubah menjadi kenyataan… Key melambaikan tangannya padaku…

Seseorang…. tolong tampar wajahku….

@@@

AUTHOR’s SIDE

Key melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil. Bodyguard-nya mengikuti dari belakang.

“Sudah bertemu dengan Jiyoon?” Onew menutup buku yang sedang dibacanya dan mengalihkan perhatiannya pada Key.

“Ne,” jawabnya singkat. Ia menutup pintu mobil dan sang supir langsung melesatkan mobilnya.

“Bagaimana keadaannya?” lanjut Onew.

“Dia terlihat baik-baik saja,” terang Key. “Hyung, dia sama sekali tak marah karena statement manager hyung yang menyudutkannya. Malah dia bilang, jika hal itu dapat membuatku baik-baik saja, dia akan menerimanya,” Key menatap hyung-nya lurus.

Onew tersenyum lalu meletakkan bukunya di pangkuannya. “Dia itu fans-mu. Pasti dia akan melakukan segala cara agar idolanya baik-baik saja,” jelas namja berambut blonde itu. “Kau beruntung memiliki seorang fans seperti dia,” ucap Onew lalu menepuk pundak Key.

“Oh, kau tidak bilang padanya tentang surat yang Tuan Kim kirim tadi pagi itu kan?” sambung Onew.

“Anni. Aku tidak ingin ia mencemaskanku, hyung. Jadi biarkan saja ia tak mengetahuinya,” ucap Key lirih. Ia mengeluarkan secarik kertas yang baru saja ia terima tadi pagi. Setelah membacanya, ia mengalihkan pandangannya ke arah pepohonan dan bangunan yang melintas didepannya…

“YOU’LL GO TO HELL, SOON, KIM KI BUM. BUT, FIRST OF ALL, I’LL MAKE YOUR LIFE LIKE IN THE HELL….”


@@@

JIYOON’s SIDE

Aku berjalan dengan sangat perlahan menuju kelasku. Saat ini aku sedang menikmati sentuhan Key barusan. Hmm~ wangi tubuhnya yang manis dan maskulin seketika itu juga menghilangkan segala kegelisahanku tentang anti-fans-ku.

Drrrrttt….

Kurasakan handphone-ku bergetar dibalik saku sweater-ku. Hhhh, ternyata Yeora menelfonku.

“Ne…” kataku setelah menekan tombol hijau di handphone-ku.

“Sekarang aku sedang menuju kelas. Tunggulah sebentar lagi,”

“Ne… kau ini berisik sekali,”

Kututup telefonnya kemudian kulanjutkan lagi langkahku yang sempat tertunda. Aku sempat bergidik saat melewati anak tangga pertama. Karena tak jauh dari tempatku berdiri adalah tempat kejadian dimana Key dipukuli oleh namja pshyco macam Kim Jung Hwa.

Kupercepat langkahku seketika itu juga untuk menghilangkan ketakutanku. Ergh, lebih baik kutelfon Yeora agar ia mau menemaniku selama perjalanan menuju kelas.

Baru saja kucari nama ‘Si Mulut Besar’ di phonebook-ku, tiba-tiba tangan seseorang membekap mulutku dan menarik tubuhku hingga membentur dinding disampingku. Untung handphone-ku tak terjatuh.

Kutatap orang yang membekap mulutku cepat. Melihat masker dan hoodie yang dipakainya, aku bisa tahu kalau dia adalah namja yang selama ini kucari.

“Selamat malam, Nona Park. Long time no see,” sapanya tepat didepan wajahku. Tangan kanannya masih membekap mulutku sehingga aku tak bisa mengucapkan apapun. Sengaja tak kubuat banyak perlawanan agar namja ini tidak melakukan hal-hal diluar dugaanku.

“Sebenarnya aku agak kesulitan untuk menemuimu akhir-akhir ini. Apakah hari-harimu menyenangkan?”

Kutatap mata namja ini dengan tajam, seolah menyiratkan bahwa aku sangat ingin merobek mulutnya. Bukannya takut, namja ini malah terkekeh pelan, membuatku semakin muak melihat tingkahnya.

“Sudah kukatakan berkali-kali pada idolamu itu kalau dia harus berhati-hati dalam bertindak. Tapi sepertinya dia mengabaikan peringatanku,” ia memiringkan kepalanya, matanya tak henti-hentinya mengamati setiap inchi wajahku.

“Sayang sekali, yeoja manis sepertimu harus menyukai seorang Key. Namja seperti dia itu tak pantas untuk dicintai, Nona Park. Arasseo?” dinaikkannya sebelah alisnya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dariku. Aku hanya diam mengamati setiap gerak geriknya.

“Hhhh, aku agak kesulitan untuk mendekati Key gara-gara manager-nya yang sangat protective padanya. Hah, sayang, aku memiliki kapasitas otak yang sangat besar sehingga aku memiliki berbagai cara untuk menghancurkan hidupnya,” lanjutnya lagi.

“Dengar, aku tidak akan main-main lagi, Nona Park. Jadi, ikuti semua perintahku, atau orang yang kau cintai dalam bahaya,”

Ia membisikkan sesuatu ke telingaku. Sebuah rencana yang ia buat untuk Key-ku…

Dan yang membuatku tak bisa menolak, ia mengancamku dengan sesuatu yang membuatku mau tak mau harus melakukan hal itu…

“Pertimbangkan hal itu baik-baik, Nona Park,” ucapnya kemudian pergi meninggalkanku begitu saja.

Tubuhku langsung merosot ke bawah karena tiba-tiba kakiku terasa berat menopang tubuhku. Ya, tuhan… apa yang harus kuperbuat? Aku tak mungkin melakukan hal itu padanya.. tapi jika aku tak melakukannya, akan terjadi sesuatu yang lebih parah dari itu…

Kupegangi kepalaku menggunakan kedua tanganku. Kemudian ditariknya rambutku kasar hingga aku merasakan perih di sekitar kepalaku.

God, Please help me….

TO BE CONTINUED…..

WHO ARE YOU ? – PART 3

***

Main casts : Park Jiyoon and Key SHINee

Support casts : Other SHINee member, Seong Yeo Ra, Kim Jung Hwa, etc.

Type : Sequel [Part 3]

Length : 8 parts [maybe less, maybe more]

Genre : Mistery, romantic, ficlet, humor (?), difficult to guess, out of mind

Rate : General

***

==========================

Akan kulakukan apapun untuk melindunginya…

Meskipun itu berarti aku harus mengorbankan segalanya…

—Park Jiyoon

==========================

 ***

Jiyoon’ Side

“Nggghh…”

Aku berusaha untuk bangun dari posisiku, tapi kepalaku terasa sangat berat. Kupegangi kepalaku dan kupijit perlahan untuk merilekskan otot-otot di keningku. Namun sekelebat kejadian tadi malam membuatku dengan mudahnya membuka kelopak mataku. Key, yang bersimbah darah, mengerang meminta pertolongan padaku… Ya, tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tunggu, dimana ini? Aku tidak mengenali tempat ini. Dan kenapa sekarang aku berada di atas ranjang empuk berukuran king size?

Saat aku benar-benar pulih dari kesadaranku, ku perhatikan sekeliling ruangan ini dengan seksama. Tata ruangannya seperti kamar hotel. Apa jangan-jangan aku memang ada di hotel sekarang? Dan ketika kuputar tubuhku 180°, kudapati sosok yang kukenal disampingku yang sedang terbaring lemah dan tak bergerak sedikitpun.

“K-key?” kugoyang-goyangkan tubuhnya pelan agar ia terbangun. Tapi ia tak bergeming sedikitpun. Aku masih bisa melihat darah di beberapa bagian wajahnya yang mulai mengering. Segera kuarahkan telunjukku ke hidung Key—memastikan bahwa masih ada udara hangat yang keluar dari hidungnya yang mancung itu—karena fikiran kotor terus terngiang-ngiang dibenakku kalau-kalau Key sudah tak bernyawa lagi.

Kugoyang-goyangkan lagi tubuhnya dengan maksud agar ia segera terbangun. Tak lama kemudian kudengar erangan pelan dari mulutnya. Fiuhhh… Terima kasih, Tuhan. Dia masih hidup…

Ia memegangi keningnya sambil meringis pelan. Sepertinya ia mengetahui keberadaanku—karena tadi ia sempat melirik kearahku. “Dimana aku?” rintihnya pelan sambil memegangi kepalanya yang mungkin masih terasa sakit baginya.

“Mollayo… tapi syukurlah kau masih hidup,” jawabku seadanya. Kubantu dirinya untuk berdiri tapi ia hanya mampu untuk duduk saja. “Gwenchanayo?” tanyaku sambil mengusap pelan lukanya. Kini aku tak lagi se-grogi kemarin, mungkin karena keadaannya sedang runyam, jadi yang kurasakan saat ini hanyalah kecemasan yang tiada tara.

Key mencari sesuatu di kantung celana jeans-nya namun sepertinya ia tak menemukan benda yang ia cari. “SHIT!!!” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Sungguh, aku bingung harus berbuat apa. Ini pertama kalinya kulihat ia begitu kesal. Etteokhae?

“Key,” kataku membuka pembicaraan. Kuperhatikan ia masih mengusap-usap luka di sekitar bibirnya. “Sebenarnya ada permasalahan apa antara kau dengan namja itu?”

Key tak menatapku. Ia masih mengusap-usap lukanya sambil memperhatikan sekeliling ruangan ini. “Kenapa kau ada disini?” ucapnya tanpa mempedulikan pertanyaanku.

“Tadi malam… saat aku berusaha mencari pertolongan, namja itu berhasil menangkapku. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Tiba-tiba saja aku ada disini bersamamu,” jelasku dengan nada sedikit tertahan.

“Kau tidak apa-apa kan?”

“Eh?”

aku tidak salah dengar ‘kan? Dia menanyakan keadaanku?

“Aku bilang ‘kau tidak apa-apa ‘kan?’” tanyanya untuk kedua kalinya.

“Oh, ne… aku baik-baik saja. Sepertinya kau harus segera mengobati lukamu. Cepat hubungi manager-mu untuk menjemputmu disini,”

“Percuma,” sergahnya cepat. “Sepertinya orang itu sudah mengambil handphone dan dompetku. Lagipula kalau manager hyung menjemputku disini, beritanya akan cepat tersebar dimana-mana,”

Ergh… aku lupa kalau kami ini adalah korban ‘penculikan’. Otomatis semua benda-benda penting—seperti dompet dan handphone—sudah disita oleh sang penculik. Aku juga lupa kalau namja yang sekarang berada satu kamar denganku adalah seorang artis. Semua gerak-geriknya pasti selalu diintai oleh papparazzi.

“Jiyoon-sshi,” ucap Key sambil mengarahkan pandangannya ke belakang punggungku. Segera kubalikkan tubuhku untuk mengetahui apa yang telah mengalihkan perhatian Key.

Belum sempat kuambil benda yang tertempel di cermin samping tempat tidur, Key segera mencopotnya kasar kemudian kembali duduk di posisinya semula. Kami sama-sama melihat selembar foto yang membuat mata kami membelalak.

“OMO!!” kataku sedikit berteriak. Kurebut foto itu kemudian kupandangi lagi lebih seksama. Kukerjapkan mataku berkali-kali, tapi tetap saja orang yang ada didalam foto tersebut tak berubah.

Ya, tuhan… ITU FOTOKU DAN KEY!!

Dan yang lebih membuatku bingung—antara sedih, kecewa, senang dan bahagia—di foto tersebut, Key sedang memelukku yang sedang tertidur. Untungnya kami berdua masih mengenakan pakaian kami masing-masing. Tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi keterkejutanku.

“Tunggu,” Key mengambil foto tersebut dan membalikkannya. Ada sebuah tulisan dibalik foto tersebut.

Permainan baru saja dimulai, Kim Ki Bum…

Dan juga, terima kasih, Nona Park…

Kau mau menjadi korbanku ><

Sontak aku pun membulatkan mataku. Dan aku yakin, Key pasti mengira bahwa aku ada sangkut-pautnya dengan semua ini.

“Bagaimana bisa orang ini mengenalmu, Jiyoon-sshi?” Key menatapku penuh tanya. Aku segera mengingat-ingat kejadian tadi malam, sebelum aku tak sadarkan diri, sebelum aku berada di tempat ini….

“Aku tahu siapa namja ini…” kupejamkan mataku mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam, memastikan bahwa aku tidak salah orang.

“Aku tahu siapa dia, Key…”

@@@

“Ya! Kau kemana saja, Jiyoon-ah? Kukira kau menghilang di telan naga,” cecar Yeo Ra setibanya aku di asrama kampusku.

Oh, aku lupa memberitahumu sesuatu. Aku tinggal di asrama kampus sekarang. Karena apa? Karena eomma dan adikku pindah ke Indonesia. Appa dipindahtugaskan kesana. Akhirnya kuputuskan untuk tetap di Korea. Alasan sebenarnya sih agar aku dapat dengan mudah menemui idolaku. Kalau aku di Indonesia, bagaimana bisa aku bertemu dengan Key? Artis Kpop ‘kan jarang bertandang ke Indonesia.

“Gomawo, Yeo Ra,” ucapku padanya setelah ia dengan ikhlas hati mau membawakan tasku yang tertinggal tadi malam di kelas Mr. Lee. Saat ku cek lagi, tak ada satu benda pun yang hilang. Syukurlah…

“It’s ok, babe,” balasnya. “Tapi saat Minji—salah satu mahasiswi di kelas Mr. lee—mengantarkan tas ini padaku, dia bilang kalau tas Key juga tertinggal. Malah dia menyangka kalau Key pergi denganmu. Apa benar?” cecarnya tiada henti.

“Anni…” jawabku sekenanya. Aku tak mungkin menceritakan kejadian tadi malam pada Yeo Ra. Sebelum aku pulang kemari, aku sempat bertemu manager SHINee di hotel. Dia bilang padaku untuk merahasiakan semua ini sampai semuanya beres. Jadi lebih baik aku tutup mulut saja.

Baru saja aku berniat untuk membersihkan tubuhku, suara ringtone cellphone-ku berdering dari dalam tasku. Segera kuraih lalu kutekan tombol berwarna hijau.

“Yeoboseyo?”

Park Jiyoon?

“Ne. Siapa ini?”

“Aku manager SHINee, Han Minjae,”

“Sebentar, ahjusshi,”

Eh? Manager SHINee? Bagaimana ia tahu nomor cellphone-ku? Egh, Lebih baik aku segera menjauh dari Yeo Ra. Takut-takut dia mendengar pembiacaraanku dengan si ahjusshi. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamarku dan memilih untuk bersandar di tiang sebelah kamarku.

“Oh, ne. Ada apa ahjusshi?”

“Bisa kita bertemu saat makan siang nanti di Cafe La Cha Ta?”

“Tentu,”

“Baik. Ruangannya agak sedikit private, jadi nanti sebutkan kata sandi sebelum masuk ruangan di cafe tersebut. Arasseo?”

“Ne, ahjusshi,”

Tak lama kemudian, Minjae Ahjusshi menutup teleponnya. Pasti dia ingin membicarakan kejadian tadi malam. Ergh, setiap kali mengingat kejadian itu, kepalaku tiba-tiba terserang pusing yang tak terkira.

Kim Jung Hwa…

Ya, aku harus segera ke kampus untuk mencari tahu siapa dirinya. Dialah satu-satunya kunci dari semua permasalahan ini…

@@@

“Permisi, apa kau kenal mahasiswa seni musik yang bernama Kim Jung Hwa?” tanyaku untuk ke sekian kalinya.

“Anni. Setahuku, tidak ada mahasiswa yang bernama Kim Jung Hwa disini,” dan itu merupakan jawaban yang sama setiap kali aku melontarkan pertanyaan tersebut pada semua orang.

“Baiklah. Mian mengganggumu,” kataku sambil berlalu. Aku sudah lelah mencari namja misterius itu.

“Tunggu, agasshi. Kalau kau ingin tahu lebih pasti, kenapa kau tidak mencoba bertanya pada bagian administrasi? Biasanya semua data mahasiswa ada disana,” terang seorang namja yang barusan kutanyai.

“Oh, ne… gamsahamnida,”

Kulihat namja itu pergi meninggalkanku sendirian. Tanpa banyak basa-basi, segera kulangkahkan kakiku menuju bagian administrasi. Untung jaraknya tak begitu jauh dari tempatku berdiri.

“Permisi,” sapaku pada seorang namja tua didepanku. Ia membetulkan kacamatanya sebelum memperhatikan kemunculanku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mencari mahasiswa yang bernama Kim Jung Hwa, jurusan seni musik. Apakah mahasiswa tersebut sudah pindah jurusan? Karena saat saya mencoba mencarinya di kelas musik, orang-orang tak mengenalinya,” kataku panjang-lebar. Namja tua itu terlihat mengetik sesuatu pada keyboard-nya.

“Siapa namanya?” tanyanya ulang.

“Kim Jung Hwa,” kataku memastikan. Ia mengklik beberapa kali mouse portable-nya tersebut untuk mencari orang yang kumaksud.

“Agasshi. Tidak ada mahasiswa yang kau maksud di daftar kemahasiswaan. Mungkin anda salah menyebutkan nama?” ungkap namja tua itu.

“Tidak mungkin. Saya yakin sekali namanya Kim Jung Hwa. Coba tolong cek sekali lagi, seonsaengnim,” kataku sedikit memaksa. Namun namja tua itu tetap bersikeras kalau nama itu memang tidak ada di daftar. Karena tak mau berdebat, akhirnya kuputuskan untuk pergi dari tempat tersebut.

Ergh, sial!! Kim Jung Hwa…

Sebenarnya kau ini siapa?

@@@

Cafe La Cha Ta… tempat yang cukup mewah untuk ukuran orang biasa sepertiku. Saat aku akan masuk kedalam ruangan privasi bernomor 5 tersebut, ada beberapa sequrity yang menjaga pintu dan menyorongkan beberapa pertanyaan padaku—yang mereka anggap sebagai kata sandi. Setelah lolos menjawab pertanyaan mereka, aku dipersilahkan masuk kedalam ruangan yang besarnya sekitar dua kali lipat dari kamar asramaku.

Kudapati seseorang sedang duduk santai yang kukenali sebagai manager-nya SHINee. Namun ternyata ada orang lain disana. Dan percaya atau tidak, Key—dengan wajah yang masih berhias lebam—duduk tenang disamping Minjae ahjusshi.

“Annyeong hasseyo,” sapaku, membuat kedua pasang mata tersebut mengarahkan pandangannya padaku.

“Annyeong, Park Agasshi,” balas Minjae Ahjusshi kemudian mempersilahkanku duduk di sebuah kursi yang tepat berada di hadapannya.

“Aku akan bicara langsung pada point-nya saja karena saya masih banyak urusan,” terangnya sedikit tergesa-gesa. Aku hanya mengangguk pelan. Sesekali kupandangi si brondong idamanku yang telihat memejamkan matanya dan mendesah pelan.

“Sebelumnya apa kau sudah melakukan apa yang kusuruh?”

Lagi-lagi aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Kemarin saat bertemu dengan Minjae Ahjusshi, kukatakan bahwa aku mengenal namja yang ‘menculik’ kami tadi malam. Dan ahjusshi menyuruhku untuk mencari tahu terlebih dahulu.

“Ne. Aku sudah mencari tahu keberadaannya. Tapi anehnya saat kutanyakan pada bagian administrasi kampus, nama Kim Jung Hwa tak ada didalam list mahasiswa Kyeonggi University,” terangku panjang-lebar.

“Siapa kau bilang? Kim Jung Hwa?” ulang Minjae Ahjusshi.

“Ne. Apakah ahjusshi mengenalnya?”

“Anni,” jawabnya cepat. “Key, apa kau mengenalnya?” Minjae ahjusshi berbalik menanyai Key, dan namja itu hanya menggeleng lemah.

“Bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanyanya lagi.

“Mmm, aku tidak sengaja bertemu dengannya gara-gara aku menabrak tubuhnya dan membuat capuccino-nya tumpah ke kausnya. Aku sempat mengobrol dengannya sekali. Ia bilang kalau dia adalah mahasiswa jurusan seni musik dan ia sudah satu tahun menjalani kegiatan belajar dikampusku,”

“Lalu bagaimana bentuk wajah si tuan Kim itu?” lanjut si ahjusshi.

“Molla… dia selalu memakai masker. Yang kuingat itu…. matanya. Matanya mirip sekali dengan Key,” kulihat Key mendongakan kepalanya menatapku. Namun kualihkan pandanganku kembali pada Minjae Ahjusshi dan kulanjutkan kembali kata-kataku. “Dan saat kubilang matanya mirip dengannya, ia terkesan sangat tidak menyukainya,”

Minjae ahjusshi sepertinya sedang berfikir, kedua alisnya saling bertautan, membuatnya terlihat semakin tua. “Key bilang padaku kalau kemarin—saat ia dipukuli—namja itu mengatakan sesuatu padanya sebelum ia jadi babak belur seperti ini,”

“Eh? Mengatakan sesuatu?” kupicingkan telingaku agar aku tidak salah dengar.

“Ne. Dia bilang : ‘seharusnya kau mati’. Yaaaa, kurang lebih seperti itu. Mungkin jika kau tak datang, semuanya akan terlambat,” Minjae ahjusshi meremas jari-jarinya berusaha mencari jawaban.

“Kenapa ahjusshi tidak lapor polisi atau menyewa detektif untuk mencari tahu?” saranku padanya.

“Kami bisa saja lapor polisi atau semacamnya tapi ada sesuatu hal yang membuatku mempertimbangkan hal tersebut,” Key kini yang angkat bicara. Ia mengubah posisi duduknya kemudian mengambil sesuatu didalam tas-nya.

Ia menyodorkan sebuah amplop putih padaku. Tanpa pikir panjang, segera kuraih dan kubuka isinya dan secarik kertas yang berisi deretan huruf yang tertata rapih itu kini terpampang didepan mataku.

“Onew hyung menemukan surat ini terselip dibawah pintu dorm,” terang Key sedikit bergumam. Kulihat Minjae Ahjusshi memberi tanda pada Key untuk melanjutkan perbincangannya denganku. Cellphone-nya berdering, jadi namja separuh baya itu memutuskan untuk menjauh dan berbicara dengan si penelpon.

Keluarkan Key dari SHINee,

atau aku akan menyebarkan foto ini!!!

Hanya kalimat pendek itu yang tertera diatas kertas putih tersebut. Tak lupa, dua buah foto terselip didalam amplopnya. Kuambil foto tersebut kemudian kuamati dengan seksama.

Aku tak begitu kaget melihat foto pertama—karena foto itu sama persis dengan foto yang kami temukan di kamar hotel. Namun alisku semakin mengerut saat melihat foto kedua.

“Apa ini?” kuacungkan foto tersebut dan menunjukkannya pada Key.

“Itulah yang ingin kutanyakan padamu,” Key mencondongkan tubuhnya padaku. Sekali lagi, kupandangi foto kedua, foto yang memperlihatkan Key yang sedang menggendong tubuhku ke arah pintu hotel. Kulempar foto tersebut keatas meja lalu kupijit keningku perlahan.

“Sial!!” gumamku pelan. “Aku benar-benar tak ingat apapun,” jelasku pada Key sambil terus memijit keningku—berusaha mengingat kembali kejadian tadi malam.

“Aku juga bingung, Jiyoon-sshi. Setahuku, aku tak pernah menyentuhmu, apalagi menggendongmu. Yang kuingat, ia memukul leherku sehingga aku tak sadarkan diri, dan saat aku terjaga, kau ada disampingku—di kamar hotel—kemarin,”

“Kecuali kalau dia menghipnotismu atau mencuci otakmu,” selaku. Membuat namja ini menyunggingkan senyumnya sesaat. “Apa kau punya musuh atau orang yang tak suka padamu?” sambungku.

Ia menggeleng lemah. “Anni. Aku tak pernah merasa punya musuh. Mungkin ada anti-fansku diluar sana, tapi sejauh ini mereka tak pernah melakukan hal-hal ekstrem padaku,” terangnya sambil mengusap lebam di pipinya. “Dan kalaupun ia hanya seorang pencopet—karena Blackberry dan dompetku raib—ia tak mungkin mengatakan bahwa ia ingin agar aku mati hanya karena masalah uang,”

“Tunggu,” kuraih foto yang tadi kulempar keatas meja. Kemudian kuarahkan mataku pada Key dan foto tersebut beberapa kali. “Ada yang aneh,” ucapku. Kucondongkan tubuhku lalu kuletakkan foto tersebut di atas meja agar Key juga melihatnya.

Kutunjuk foto Key yang sedang menggendongku. “Lihat, wajahmu bersih sekali. Tanpa noda sedikitpun,”

Key memperhatikan foto itu dengan seksama. “Cahayanya kurang begitu bagus, Jiyoon-sshi. Jika pencahayaan yang redup seperti ini, lebam atau luka di wajahpun tak akan terlihat jelas,” jelasnya kemudian menyenderkan kepalanya lagi. “Lagipula permalasahan sebenarnya adalah ‘bagaimana bisa aku melakukan hal tersebut tanpa kusadari’?” Key menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Oh, benar juga… Hhhh, aku tak begitu mengerti dengan pencahayaan saat memotret.

Kusenderkan kepalaku ke senderan kursi kemudian kupejamkan mataku dan berfikir keras. Banyak sekali hal-hal yang sulit dipecahkan. Dan ternyata namja yang bernama Kim Jung Hwa ini lebih pintar dari kami. Ia bermain dengan sangat-sangat rapih.

“Kenapa kemarin malam—saat kelas Mr. Lee berlangsung—kau pergi?” tanyaku tiba-tiba.

“Karena seseorang mengirimku sms. Dia mengaku sebagai Taemin. Dia bilang kalau dia menggunakan nomor lain untuk mengirim sms padaku karena dia tak punya pulsa. Orang yang mengaku Taemin itu bilang kalau dia tak sengaja lewat kampusku dan ia memutuskan untuk pulang bersamaku,”

“Lalu kenapa dengan mudahnya kau mempercayainya?” cecarku lagi.

“Karena aku tahu Taemin sedang ada shooting tak jauh dari kampus kita. Jadi kufikir itu memang dia. Dan saat kuputuskan untuk menemuinya, tiba-tiba kutemui namja yang menyerangku,”

Kutegakkan tubuhku lalu kutatap mata Key yang sedang mengarahkan matanya padaku dengan serius. Aku hanya mendengus pelan dan mengeluarkan senyum kecutku. “Hah, sepertinya si Kim Jung Hwa ini sudah merencanakan ‘penyerangan’ ini. Buktinya? Ia bermain dengan sangat baik dan tertata rapih. Dan kalaupun orang ini orang waras, dia pasti akan memilih untuk meminta uang cash untuk membayar foto ini. Bukannya menyuruhmu untuk keluar dari SHINee,”

Key mengacak rambutnya pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela. “Selama tiga tahun aku berkarier di dunia musik, baru kali ini aku mengalami masalah yang bisa dibilang cukup rumit,” desahnya pelan.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Maksudku, bagaimana keputusan Minjae ahjusshi dan pihak SM dalam menanggapi surat ini?” tanyaku cepat.

“Entahlah. Manager hyung tidak mungkin dengan mudahnya melepasku dari SHINee. Namun jika foto ini tersebar, mungkin akan berpengaruh besar pada karierku juga,”

Tak lama setelah Key menyelesaikan kalimatnya, Minjae ahjusshi kembali setelah perbincangan pribadinya dengan si penelpon. Ia terlihat cemas dan terburu-buru. “Kita harus segera kembali ke SM,” ucap ahjusshi kemudian mengambil tasnya.

“Bagaimana dengan pembicaraan ini?” sergah Key, masih belum beranjak dari tempat duduknya.

“Ini lebih penting, Key. Soo Man Sunbaenim menelfonku,” sejurus kemudian Minjae ahjusshi menatap Key lurus. Seperti mengetahui maksud dari pancaran mata manager-nya, Key segera berdiri dan berjalan mendekati namja itu.

“Mian, Jiyoon-sshi. Lain kali kita akan membicarakan ini. Semoga saja ini hanya ulah iseng dari orang aneh. Kau bisa pulang dan melanjutkan aktivitasmu. Annyeong,” ucap Minjae ahjusshi sambil berlalu.

Key menghentikan langkahnya sebentar dan mendekatiku lalu dipegangnya pundak kiriku dengan lembut. “Aku akan menghubungimu jika ada perkembangan lebih lanjut. Nomormu sudah ku-save,” ucapnya lirih. Kemudian ia sedikit berlari menyusul langkah Minjae ahjusshi yang sangat lebar dan cepat itu. Tak lupa, masker dan hoodie menutupi wajah Key, berusaha agar orang-orang tak mengetahui keberadaanya…

Dibalik semua kecemasanku karena si Tuan Kim ini, kuusap lembut pundak yang barusan disentuh oleh Key. Setelah itu, kuhirup telapak tanganku pelan.

“Hmm, omona~ sentuhannya menyejukan jiwaku,” ucapku lirih.

@@@

Sudah 1 minggu ini aku tak melihat Key di kampus. Aku pun tak menjumpainya di beberapa kelas yang sama denganku. Dan saat kuperhatikan, ia juga tak muncul di beberapa acara televisi yang kuyakini bahwa ia akan muncul. Bagaimana aku bisa tahu semua itu? Jelas saja aku tahu, AKU INI PENGGEMAR BERATNYA!!!

Yang kutakutkan saat ini adalah bukan tugas Hyeo Seonsaengnim yang tidak kukerjakan. Tapi yang kutakutkan adalah keadaan namja idolaku itu. Karena sepertinya Tuan Kim itu—sebutan untuk Kim Jung Hwa—tidak main-main dengan pernyataannya kemarin.

“Ya! Kau kenapa? Sakit?” suara Yeo Ra berhasil mengembalikan kesadaranku. Aku hanya menggeleng lemah dan kembali menopang keningku.

“Eomonim belum mengirimmu uang?” tanyanya lagi, dan aku hanya bisa menggeleng menanggapinya.

“Lalu apaaaa? Kau terlihat sangat tak biasa akhir-akhir ini,” ucap Yeo Ra. Sesekali ia menempelkan telunjuknya pada pipiku, tapi aku tak bergeming sedikitpun.

“Aaah, aku tahu. Pasti karena Key tidak masuk kuliah beberapa hari ini. Iya, ‘kan?” godanya padaku. Ergh, sungguh! Aku sedang tak ingin mendengar ocehan chingu-ku ini sekarang. Kepalaku cukup penat karena masalah kemarin yang menimpaku. Dan saat aku mencoba untuk menenangkan diri, Yeo Ra malah menyebut nama Key yang berhasil membuat cenut-cenut di kepalaku kembali datang.

Aku tetap memejamkan mataku sambil menopang kepalaku tanpa mempedulikan Yeo Ra. aku ingin mengistirahatkan otakku yang ruwet ini. Dan, yah, sepertinya dia mulai jengah menghadapiku, telingaku kini tak lagi mendengar suara yeoja yang sedang duduk disampingku itu. Yang kudengar hanya suara samar-samar dari Hyeo Seonsaengnim.

“OMO!!!” teriakan Yeo Ra seketika menyentak jantungku, membuatku langsung terjaga dari tempatku. Mata semua orang langsung tertuju pada yeoja di sampingku, termasuk Hyeo Seonsaengnim.

“Ada apa Seong Yeo Ra?” tanya Seonsaengnim sembari membetulkan letak kacamatanya.

“A-a-anni, seonsaengnim. Tiba-tiba ada kecoa yang lewat di dekat kakiku,” jelasnya sedikit ketakutan.

Seisi kelas langsung riuh karena mendengar keterangan Yeo Ra. Hyeo seonsaengnim hanya menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan materi kuliahnya. Dan akupun kembali pada aktivitasku sebelumnya—memejamkan mata dan berusaha untuk tidur sejenak.

“Ya!!” Yeo Ra menarik lengan bajuku pelan, membuatku kembali membuka kelopak mataku.

“Wae?” tanyaku sedikit berbisik, tak ingin Hyeo seonsaengnim menegurku gara-gara mengobrol saat kuliah berlangsung.

“Kau harus lihat ini,” ia menunjukkan sesuatu dari layar I-Phone-nya padaku. Tapi aku tak begitu tertarik.

“Jangan katakan padaku kalau kau tadi berteriak gara-gara membaca berita tentang Jonghyun,” kataku memelas.

“Anni. Pokoknya kau harus lihat ini. Ppalli,” ia kembali menarik lengan kausku dan memaksaku untuk melihat ke layar I-Phone-nya. Akhirnya aku mengalah juga, dengan malas, kuraih handphone-nya itu dan memperhatikan sebuah website yang biasa ia kunjungi untuk mengetahui berita terbaru SHINee.

“OMO!!!!” kini giliranku yang berteriak kencang gara-gara melihat layar handphone tersebut.

“Ada apa lagi Park Jiyoon? Kenapa kalian berdua itu selalu membuat keributan di kelasku?” suara Hyeo Seonsaengnim yang terdengar serak-serak basah itu menggema di seluruh ruangan.

“A-a-a-nni, seonsaengnim. Kecoa yang tadi lewat ke kaki Yeo Ra…. sekarang dia lewat ke dekat kakiku,” terangku sekenanya. Kelas kembali riuh karena pernyataanku. Dan kesempatan itu segera kupakai untuk mencermati lagi halaman depan website tersebut.

“Itu kau, ‘kan?” tanya Yeo Ra memastikan.

Kuarahkan telapak tanganku tepat didepan wajah Yeo Ra, menyuruhnya untuk diam…

Sekali lagi kuperhatikan lebih seksama berita tersebut. Kukibaskan poniku ke belakang lalu kugenggam I-Phone Yeo Ra erat-erat.

“Damn,”

TO BE CONTINUED….

WHO ARE YOU ? [ PROLOG ]

 ***

Main casts : Park Jiyoon and Key SHINee

Support casts : Other SHINee member, Seong Yeo Ra, Kim Jung Hwa, etc.

Type : Sequel [Prolog]

Length : 8 parts [Maybe Less, maybe more]

Genre : Mistery, romantic, difficult to guess, out of mind

Rate : General

 ***

PROLOG

 

Bagaimana rasanya jika kau menjadi orang yang terbuang? Tidak diinginkan oleh orang – tuamu dan diacuhkan oleh orang – orang? Itulah yang kurasakan selama kurang lebih tujuh belas tahun. Aku terlantar tanpa ada seorangpun yang mempedulikanku. Berjalan kian kemari tanpa tahu arah tujuanku.

Awalnya aku sudah menyerah karena sampai saat itu aku tidak tahu jati diriku yang sebenarnya. Tapi saat kulihat seseorang di layar televisi, aku yakin jika dia adalah kunci dari semua jawaban yang aku cari. Lalu aku semakin yakin lagi ketika aku mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkanku kalau orang itu benar-benar orang yang telah membuatku menderita selama ini.

Aku membencinya…

Aku sangat membencinya…

Selama tujuh belas tahun aku terkapar di jalanan—mengais-ngais makanan dari orang-orang, sedangkan dia? Dia menikmati segalanya… segalanya yang seharusnya kunikmati juga.

Aku benci semua hal tentang dirinya…

Aku tak akan tinggal diam…

Akan kuambil semua yang seharusnya jadi milikku….

Anonim,

***

Who Are You – Part 2

Main casts : Park Jiyoon and Key SHINee

Support casts : Other SHINee member, Seong Yeo Ra, Kim Jung Hwa, etc.

Type : Sequel [Part 2]

Length : 8 parts [maybe less, maybe more]

Genre : Mistery, romantic, difficult to guess, out of mind

Rate : General

======================

Sudah berapa banyak kata ‘pabo’ dan ‘bego’ yang sudah kusebut sepanjang hari itu? Lima puluh? Atau seratus kali? Ergh~ ini semua gara-gara kau Key!! Kau membuatku tak bisa berfikir jernih. Kalau aku terus-terusan seperti ini, Indeks Prestasiku bisa menurun. Padahal appa-ku sudah menghukumku gara-gara IP semester laluku hanya 2,21.

Ya! Key! You make me crazy!!

—Park Jiyoon

======================

Jiyoon’ Side

Aku masih saja berbaring di bangku taman kampus sambil terus menjambaki rambutku dari tadi—semenjak Key bersekolah di universitasku, aku tak lagi tidur di lorong kampus. Reputasiku bisa hancur nanti.

Ergh~ Aku sudah mendapatkan tanda tangan Key dengan mengorbankan seluruh urat maluku, tapi memang dasar aku pabo, kertas itu malah terselip diantara tugasku dan sekarang hilang entah kemana. Aaaaa~~ sebal! Sebal! Sebal!

“Hei, sedang apa kau disini? Kau seperti orang gila yang menjambaki rambutmu sendiri,”

Suara seseorang mengagetkanku—benar-benar mengagetkanku—sampai aku harus terduduk dari posisiku semula. Aku hanya memandangnya sekilas. “Bukan urusanmu,” jawabku singkat. Kukira orang itu akan pergi meninggalkanku, eh, dia malah duduk disampingku tanpa izin. “Ya! Kau ini siapa sih? Pergi sana,” usirku sesegera mungkin. Mood-ku tiba-tiba berubah karena namja disampingku ini.

“Ini,” ia menyodorkan sebuah goodie bag berwarna pink padaku. Seolah mengerti raut wajahku yang penuh tanda tanya, ia kembali melanjutkan kata-katanya. “Kemarin kau meminjamkan cardiganmu. Masa kau tidak ingat? Dasar pelupa,” ucapnya penuh nada ledekan.

“Ah, Kim Jung Hwa. Iya, kan?” kuambil goodie bag tersebut lalu kukeluarkan isinya. Ya, ini cardigan abu-abu-ku. Tapi, kenapa yang ini terlihat lebih bagus?

“Kau apa kan cardiganku? Kenapa jadi bagus begini?” tanyaku sambil membolak-balik cardiganku beberapa kali.

“Aku menggantinya. Habis cardiganmu sangat bau,” jawabnya disertai kekehan kecil. Aku hanya meninju pelan lengan kirinya.

“Kenapa kau pakai masker? Habis operasi plastik?”

Lagi-lagi ia terkekeh mendengar kata-kataku. “Anni, aku tidak suka menjadi pusat perhatian orang,”

“Hah, kau kira kau itu tampan?” ledekku padanya. Kulihat ia menyipitkan matanya padaku. Haha, aku suka membuat orang menderita. “Hei, Jung. Seharusnya kau tidak perlu mengganti cardiganku,” kataku mengganti topik pembicaraan.

“Harusnya kau bersyukur, nona Park. Aku tidak pernah sebaik ini pada orang lain,”

“Eh?”

“Kau itu orang pertama di kampus ini yang berhasil membuatku berbicara,” terangnya lagi.

“Orang pertama? Wow, berarti aku ini orang yang beruntung, ya? Memang sudah berapa lama kau sekolah disini?”

“Ngggg~ satu tahun?”

“Eh? Satu tahun? Tapi aku baru melihatmu kemarin. Kau mahasiswa pindahan?” tanyaku lagi lalu kukenakan cardigan abu-abu baruku. Mmm~ sama persis dengan milikku yang dulu.

“Aku mahasiswa jurusan Seni Musik. Dan lagi, aku memang tidak suka menampakkan diri,” terangnya sambil mengetik sesuatu di cellphone-nya.

“Kenapa kau bisa tahu kalau aku disini?” kutatap bagian wajahnya yang tak tertutupi masker. Sungguh, matanya mirip sekali dengan Key. Apa dia memang benar-benar Key?

“Entahlah, ketidaksengajaan mungkin?” jawabnya santai. Sepertinya ia menyadari kalau sedari tadi mataku tak pernah berpaling dari matanya. Karena ketika matanya bertemu dengan mataku, ia segera memalingkan wajahnya.

“Ada apa dengan wajahku? Ada yang aneh?”

“Oh, eh? Anniya~ hanya saja….”

“Hanya saja??” lanjutnya.

“Nggg~ hanya saja, matamu mirip sekali dengan mata Key,”

Kudengar ia sedikit mendengus dan memutar bola matanya pelan setelah mendengar penjelasanku. “Waeyo?” tanyaku lagi.

“Aku tidak suka jika dibandingkan atau disamakan dengan orang lain,” jelasnya singkat. Aku hanya mengangguk pelan tanda memahami perkataannya.

“Baiklah, aku harus masuk kelas. Sampai bertemu lain waktu, Jiyoon-sshi,” ia beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkanku tanpa menunggu kata-kata perpisahan dariku. Hhh~ namja aneh!!

@@@

Author’s Side

Onew baru saja pulang dari lokasi shooting CF terbarunya. Dilihatnya meja makan disampingnya yang kosong—tak ada satu piring makanan sedikitpun—melompong. Biasanya setiap kali dia pulang shooting, pasti selalu ada makanan yang telah disiapkan oleh Key.

“Hah, tumben sekali?” batinnya sambil melepas syal yang melingkar di lehernya.

“Oh, hyung? Kau sudah pulang?” tiba-tiba Key muncul dari balik pintu kamar, tas Auction pink-nya sudah bertengger di punggungnya. Ia tak begitu memperhatikan hyung-nya karena dari tadi ia sibuk menggulung lengan kemejanya.

“Kau mau kemana? Rapih sekali?” tanya Onew memperhatikan gerak-gerik dongsaeng-nya itu.

“Kuliah,” jawabnya singkat.

“Tidak ada jadwal?” tanya Onew lagi.

“Anni…” Key sibuk mondar-mandir sana-sini mencari sepatu Adidas-nya. Sesekali ia lirik jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tidak terlambat.

“Yang lain kemana?”

“Jonghyun hyung sedang pergi dengan Se Kyung noona. Minho ada shooting di MBC, dan kalau tidak salah, Taemin masih di SM building,” balas Key cepat. Sekarang ia sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengenakan sepatunya.

Onew menghampiri Key kemudian duduk disampingnya. “Senang dengan suasana kampusmu, huh?”

Key hanya berdeham mengiyakan pertanyaan hyung-nya.

“Lalu, bagaimana teman-teman barumu? Apakah ada fans-mu yang sekelas denganmu?” Onew meneguk yogurt yang sedari tadi ia pegang. Mendengar kata ‘fans’, Key jadi ingat seseorang di kelasnya. Ia hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan kegiatannya—mengenakan sepatu.

“Aku pernah cerita padamu tentang teman sekelasku yang bernama Jiyoon itu kan, hyung?”

“Ne… memang ada apa dengannya? Berbuat ulah padamu?” cecar Onew. Ia menemukan remote TV disampingnya kemudian ditekannya tombol merah pada remote tersebut.

“Anni… justru dia sangat menjaga privasiku. Yaaa, bisa dibilang dia itu sangat polos? Mmm, polos atau bodoh ya?” terang Key disertai tawanya.

“Bodoh?”

“Hahaha, anni… dia itu terlihat sangat pemalu. Eh, bukan, bukan, lebih tepatnya polos. Tapi aku suka. Jadi aku tidak cepat bosan dengan keadaan kelas. Kalau aku sekelas dengannya, dia itu selalu menjadi penyegar otakku,” terang Key lagi.

“Kalau begitu, kenalkan aku padanya,” Onew merangkul pundak Key dan memberikan seringaian kecil. Key melepaskan rangkulan hyung-nya itu kemudian bergegas pergi dari tempatnya. Sebelum pergi, ia sempat ber-mehrong ria pada Onew.

“Ya! Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara!!” sahut Onew.

@@@

Jiyoon’ Side

Jam 08.05 KST

Gara-gara aku ketiduran tadi siang, walhasil aku harus mengikuti kelas pada jam malam. Ergh~ ini gara-gara appa-ku yang selalu concern dengan nilaiku. Jadi kalau bukan karena appa-ku, aku tidak akan peduli dengan kuliahku. Tapi ada untungnya juga masuk kelas jam malam seperti ini, jadi aku tak perlu sekelas dengan Key. kalau aku sekelas lagi dengannya, bisa-bisa nilaiku hancur!!

“Akh,” kutopangkan daguku sambil memajukan bibirku kesal.

“Waeyo?” Yeo Ra mengguncang-guncang tubuhku pelan. Kutempelkan pipiku pada meja disampingku.

“AKU TIDAK SUKA MATA KULIAH BAHASA INGGRIS!!!” teriakanku berhasil membuat semua orang tertuju padaku. Wow, seperti iklan Ponds saja. Jadi berasa cantik, hihihi~

Tak lama kemudian Mr. Lee datang membawa beberapa kertas yang biasa ia bawa. Yah, apa lagi? Dia selalu membuat discussion session setiap kali kelasnya berlangsung. Jujur saja, aku lebih suka berbicara Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris.

“Oke, everybody, we had an unexpected visitor here. So, i want you to welcome the new student’ arrival. Please,” Mr. Lee mempersilahkan si visitor itu untuk masuk. Dan,

TADA…

KEY??

AGAIN???

HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…

Kurasa hatiku sedang mengitari sekeliling perutku sekarang. Aku merasakan mual yang tak terkira setiap kali melihat namja yang telah melelehkan hatiku itu.

“Hello, everyone. My name is Kim Ki Bum. Nice to meet you all,” ia membungkukkan tubuhnya 45° kemudian berjalan ke arah bangku kosong di hadapannya.

“Well, well, well, sepertinya akan ada mahasiswi yang rajin masuk kelas Bahasa Inggris nih?” bisik Yeo Ra tepat di telingaku. Tanpa melihat wajahnya, kudorong tubuhnya menjauhiku. Lagi-lagi aku tak bisa mengalihkan perhatianku padanya. Sial!!!

Mr. Lee memberi sebuah tanda untuk menyuruh semua penghuni kelas agar tenang, karena seiring kedatangan Key ke kelas kami, suara gaduh tak henti-hentinya menghiasi seisi kelas. “Oke, i want to make a games for you all. Make a group which are include of two peoples. I’ll give you three minutes to find your partner and write your name on a piece of paper and give it to me. Start from now,”

Hah? Mworago? Tadi dia bilang apa? Haduh, sepertinya si Mister lupa kalau ada murid bodoh di kelasnya. Mana kutahu arti yang dia maksud. Yang aku tahu tadi dia menyebutkan ‘games’, ‘two’, ‘name’ dan ‘start’ saja. Selebihnya aku tak tahu.

Segera kubalikkan tubuhku untuk bertanya pada Yeo Ra tapi si kucluk itu malah hilang entah kemana. Saat kuperhatikan, semua orang di kelas ini sedang hilir-mudik menanyakan sesuatu pada yang lain. Beberapa yeoja di kelasku sempat mendekati Key dan menanyakan sesuatu. Tapi apa? Aku saja tidak tahu Mr. Lee sedang menugaskan apa. Hhhh~ ya, sudah lah. Lebih baik aku diam saja menunggu kedatangan Yeo Ra, si penyelamat nilai Bahasa Inggrisku.

“Excuse me,” suara seseorang dari balik rambutku berhasil membuatku menoleh seketika itu juga.

“Eh, oh, K-key?” tanyaku terbata-bata. Halah, halah, halah, kenapa aku masih saja kaku seperti ini sih? Memalukan!!!

“I think you don’t have your own partner for this class. May i sit here and be your partner for today?” ucapnya panjang-lebar.

Eotteokhae? Eotteokhae? Aku tahu dia itu menguasai bahasa inggris, tapi bisakah kau pelan-pelan saja mengucapkannya, Key? Mollasseoyo… andwae~ bagaimana ini? masa aku harus menanyakan artinya? Nanti kartu AS-ku terbongkar dong? Aku tidak mau terlihat bodoh didepannya. Etteokhae?

“Nggg… Yes,” akhirnya hanya kata itu yang kulontarkan. Mau bagaimana lagi? Aku hanya hafal 4 kata di kelas bahasa inggris ini: Yes, No, Thank you, dan Sorry. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Key barusan. Kepalaku selalu pusing setiap kali mendengar orang berbicara bahasa inggris.

“Thank you,” ucapnya kemudian tersenyum padaku dan mendudukkan tubuhnya pada kursi disampingku.

“Eh? What… What are… you… What are you doing?” agak sulit bagiku untuk menyatukan kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang utuh. Padahal aku sering mendengar orang Bule mengatakannya di televisi.

Key tersenyum simpul sambil mengeluarkan buku catatannya. “Are you asking me? I’m here because i’ll be your partner today,” ucapnya enteng.

Dong… dong… dong… kepalaku tak bisa berfikir. Tiba-tiba seluruh kabel di otakku mengusut. Daripada aku terus-terusan mem-bego, lebih baik kutanyakan saja apa maksudnya.

“Psssstt, Key, aku bingung. Mereka itu sedang apa sih? Terus kenapa kau duduk disini?” bisikku sepelan mungkin.

DEMI APAPUN, AKU MENANYAKAN HAL ITU DENGAN MEMPERTARUHKAN KEMBALI SEMUA URAT MALUKU!!! MATI SUDAH SELURUH MARTABAT, HARKAT DAN DERAJATKU!!!

Hah, tepat sekali. Sesuai dugaanku, Key tertawa keras sambil memegangi perutnya setelah mendengar kata-kataku.

“Ya! Aku ‘kan minta penjelasan, bukannya ditertawai seperti itu,” kumonyongkan bibirku sambil mengetuk-ngetukan pulpen sapphire-blue-ku ke meja.

“Anniya, Jiyoon-sshi. Aku kira kau mengerti. Lagipula kau tadi menjawab ‘yes’ padaku,” ucapnya disela-sela tawanya. Huh, menyebalkan!!

“Kuberitahu ya, aku ini tidak suka bahasa inggris. Makanya sampai sekarang aku mendapat predikat ‘yeoja murni’ di kelas ini,” terangku sambil terus mengetuk-ngetuk pulpen tersebut semakin keras saking sebalnya.

“Loh? Bukannya predikat itu sangat bagus?” sepertinya Key telah kembali ke alam nyatanya. Sekarang ia tak tertawa lagi. Tapi masih senyam-senyum tak jelas sih…

“Yeh, bagus dari segi mananya? Maksudnya ‘yeoja murni’ itu adalah ‘yeoja yang benar-benar murni tidak tahu sama sekali tentang bahasa inggris’,” jelasku padanya.

Lagi-lagi Key tertawa lebar setelah mendengar penjelasanku. Ugh~ kalau bukan karena dia itu idolaku, sudah kucolok matanya sekarang juga.

“Oke, class. Pay attention, please” Mr. Lee menyuruh penghuni kelas untuk diam—nah, kalau yang satu ini aku mengerti artinya. Haha…

“The games is so simple. You and your partner will act like an idol and her/his fans. And then, the one who’ll be a fans should say everything about the idol until the idol want to go to dinner with you. Understand?”

“Yes, sir,” ucap semua orang di dalam kelas. Yah, lagi-lagi aku saja yang diam—tak mengatakan apapun—dari tadi.

“Kau mengerti apa yang diucapkan Mr. Lee barusan?” tanya Key ramah padaku. Aku hanya menggeleng pelan sambil mencoret-coret sesuatu di buku-ku.

“Kita harus beracting. Yang satu menjadi artis dan satunya lagi menjadi fans-nya. Dan, fans-nya itu harus merayu sang artis sampai artis tersebut mau pergi makan malam dengannya. Masing-masing akan bertukar posisi. Jadi kau bisa saja jadi artisnya atau fans-nya,” ungkapnya panjang-lebar.

“Oh.. lalu?”

“Nanti Mr. Lee akan menunjuk kelompok siapa yang akan maju ke depan. So?”

“Aku ingin jadi artis!!” respon kuangkat telunjukku keatas setinggi mungkin.

“Loh, aku ‘kan artis, jadi aku yang jadi artis dong?” Key sepertinya tak mau kalah denganku.

“Tadi kau bilang bisa bertukar posisi? Ya. Sudah, aku ingin jadi artis. Aku sudah bosan jadi fans terus,” jelasku sambil mengayunkan pulpenku ke kiri dan ke kanan.

“Aku bilang, kita tetap memegang dua posisi, artis dan fans. Jadi kau tidak bisa memilih,” ungkap Key dengan nada sedikit meninggi.

Aku hanya mengangguk pelan. Mulutku kubentuk menjadi huruf ‘O’ disertai alis kiriku yang terangkat. “Oke, oke. Tapi aku tidak bisa bahasa inggris? Eotthe?”

“Mmmm.. kau sebut saja apa yang ingin kau katakan. Nanti aku akan men-translate-nya ke dalam bahasa inggris?”

“Jeongmal?” kutatap namja di sebelahku ini sambil mengepalkan kedua tanganku.

“Ne..”

“Huaaaa~ gomawo..” saking senangnya, tanpa sadar kupegang lengan sebelah kanannya. Tapi segera kulepaskan tanganku secepat mungkin—takut-takut ia akan berubah pikiran.

“Baik. Aku akan menjadi artisnya terlebih dahulu,” ucapnya sambil menulis sesuatu pada buku catatannya.

“Kau ‘kan sudah jadi artis,” sergahku cepat. Key malah menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

“Oke, sekarang apa yang akan kau lakukan agar idolamu mau pergi makan malam denganmu?” tanyanya tiba-tiba.

“Hmm, yang aku tahu, idolaku itu suka sekali dengan yeoja yang berterus-terang dan memiliki selera style yang bagus. Jadi, untuk menarik perhatiannya, aku akan merubah penampilanku terlebih dahulu. Kalau masalah ‘keterus-terangan’, aku sih jagonya,” kataku sambil membusungkan dada.

“Eh? Jagonya?” tanya Key sambil mengerutkan alisnya.

“Yup, aku ‘kan tidak suka berbohong,”

Kulihat ia tertawa pelan tanpa menghentikan aktivitasnya—mentranslate kata-kataku. “Selain itu?” lanjutnya lagi.

Kuketuk-ketuk pulpen ke pelipis kananku. “Mmm… apa ya? Aku bingung. Habis kalau dekat-dekat dengan idolaku, aku selalu grogi,” jawabku seadanya. Kuperhatikan raut muka Key dan ia lagi-lagi tersenyum mendengar jawabanku. Hihihi, eomma, dia sungguh tampan…

“Oke. Ini dia. Kau baca-baca dulu kata-katanya. Setelah itu hafalkan dengan baik. Kau tidak ingin terlihat memalukan di depan anak-anak ‘kan?” Key menyodorkan buku catatannya yang sudah berisi translate-an dari kata-kataku barusan. Kuraih bukunya lalu kubaca satu demi satu tulisan tangan Key yang bisa dibilang cukup rapih untuk ukuran tulisan namja.

Oh, baby. You’re so gorgeous, handsome, and awesome…. Tunggu, aku ‘kan tidak bilang kalau idolaku itu tampan,” kuhentikan membaca tulisan Key karena kurasa ada yang salah dengan kata-katanya.

“Loh? Kau mengerti tulisanku ya? Orang yang kau idolai itu aku kan? Sudah pasti aku itu tampan. Jadi aku tambahkan kata-kata itu,” belanya.

“Andwae…” kuserahkan kembali buku catatannya. Memang sih, Key itu tampan, tapi ‘kan aku tidak perlu menyebutkan kata-kata itu. Huh,

“Ya, sudah kalau tidak mau,” ia menarik buku-nya seolah mengamankannya dariku. Tunggu! Kalau bukunya diambil, aku harus bicara apa jika disuruh Mr. Lee maju ke depan kelas?

“Ugh.. oke, oke, aku mau. Sudah, mana bukunya?”

Kulihat Key menyodorkan bukunya padaku disertai kekehannya.

“Sekarang giliranku yang menjadi artisnya. Apa yang akan kau lakukan agar aku mau pergi makan malam denganmu?” kataku balik bertanya.

“Hmmm… gampang. Aku akan merayumu,” jawabnya singkat.

“Misalnya?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku dengan maksud agar aku bisa menatap kedua matanya yang indah. Hyaaa, eomma… meotjyeo-meotjyeo-meotjyeo…

“Listen,” ucapnya singkat. Ia mengubah posisi duduknya menghadapku kemudian melanjutkan kata-katanya. Hhh~ kenapa tiba-tiba aku jadi grogi begini? Eotteokhae? Eotteokhae?

“Although you’re a little silly, dummy and innocent, but i want…”

“Chamkanman,” sergahku memotong kalimatnya. “Kau bilang apa barusan? Dummy? Ya! Aku tahu artinya!!! Andwae… itu bukan ‘merayu’ namanya, tapi ‘mengejek’!!” cecarku sambil memanyunkan bibirku. Key lagi-lagi menertawaiku dengan puasnya. Grrr~

“Aku pergi dulu sebentar. Sementara itu, kau berlatih saja dulu,” Key beranjak pergi keluar ruangan setelah membaca sesuatu dari Blackberry-nya. Meninggalkanku sendirian di kelas. Mmm, mungkin itu sms dari manager-nya? Yah, mana ku tahu…

Dasar Yeo Ra pabo, bukannya masuk kelas, dia malah pergi berkencan dengan Donghae oppa. Barusan dia mengirimkan pesan singkat padaku. Dasar bertrayer! Untung Key menyelamatkanku, kalau tidak, aku akan menjadi kambing congé di kelasnya Mr. Lee.

@@@

Ugh~ kemana sih si kunci itu? Sebentar lagi giliran kami berdua yang harus maju ke depan kelas. Ia sudah menghabiskan waktu kurang lebih 26 menit diluar dan ia belum kembali juga. Apa kususul saja? Ah, tidak perlu lah. Tapi,,, Ya, sudah lah. Lebih baik kususul saja dia. Daripada aku tidak mendapat nilai dari discussion session kali ini.

@@@

Oke, dia itu benar-benar menyusahkanku!! Aku sudah mencarinya ke tempat loker mahasiswa, kantin, dan lapangan basket. Tapi tak kutemukan juga sosok idolaku itu. Urgh~ harusnya kutanyakan nomor cellphone-nya tadi. Jadi aku bisa dengan mudah menemukannya. Kalaupun dia memutuskan untuk pergi, tidak mungkin ia rela meninggalkan tas-nya di kelas. Hhh~ lebih baik aku segera ke kelas. Mungkin ia sudah kembali.

Kebetulan kelasku ada di lantai tiga. Jadi aku harus melewati beberapa tangga sebelum bisa sampai di kelasku tercinta. Hhh~ omona~ ternyata kampus ini begitu menyeramkan kalau malam hari. Meskipun ada penerangan di setiap sudut tempat, tapi tetap saja tidak menghilangkan keheningan yang mengelilingiku.

Karena terlalu parno, ku percepat langkahku menuju kelas. Baru saja kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga pertama, kudengar suara seperti benda terjatuh tak jauh dari tempatku berdiri. Karena penasaran, kuikuti arah suara tersebut tanpa mempedulikan rasa takutku.

Suara itu semakin terdengar jelas saat kulangkahkan kakiku menuju tempat parkir yang letaknya tak jauh dari tangga yang akan kunaiki. Benar, suara itu berasal dari situ. Apakah penjaga sekolah sedang memperbaiki sesuatu di tempat parkir?

Awalnya kuputuskan untuk kembali ke kelas, tapi rasa penasaranku berhasil mengalahkan keputusanku itu. Yang lebih parah lagi, kudengar suara erangan seseorang dari balik mobil yang terparkir di depanku. Pelan-pelan, kulangkahkan kakiku untuk memastikan asal suara tersebut.

Kulihat bayangan seseorang dibalik mobil. Ia mengenakan hoodie yang menutupi kepalanya. Dan saat kudekatkan lagi jarak antara kami, ada yang lebih mengejutkanku. Namja tersebut sedang memegangi kerah baju Key. Key…?? Aku tidak salah lihat kan? Dia Key? Key SHINee yang selalu kupuja itu?

Ya tuhan, apa yang sedang terjadi? Kuperhatikan, wajah Key sudah penuh dengan darah yang mengalir dari pelipis dan hidungnya. Apa yang harus kulakukan? Ya, tuhan. Aku bingung…

Ditengah kebingunganku itu, kulihat Key menatap ke arahku. Sepertinya ia berusaha untuk mengatakan sesuatu padaku, tapi apa?? Akhirnya karena terlalu panik, kuberanikan diri untuk segera pergi dari tempat itu—mencari pertolongan lebih tepatnya. Tapi sialnya, orang yang memakai hoodie itu mengetahui keberadaanku. Sial!!!

Segera kupasang kuda-kuda untuk berlari sekencang mungkin. Dan benar saja, orang itu mengejarku dari belakang. Kudengar derap langkah kakinya semakin kencang. Setelah lima menit aku berlari, kupastikan bahwa ia tak lagi mengejarku. Tak ada derap kaki lagi yang mengikutiku. Ya, tuhan.. semoga ia tak menyadari keberadaanku…

Saat kufikir keadaan sudah aman, aku mulai melangkahkan kakiku menuju kelasku yang terletak di lantai tiga. Tapi sial, ketika kubalikkan tubuhku, kulihat sosok orang yang tadi mengejarku tepat berada di hadapanku.

Aku berniat untuk teriak sekencang-kencangnya, namun sepertinya ia mengetahui jalan fikiranku. Segera dibekapnya mulut dan hidungku menggunakan sapu tangannya. Aku dapat mencium aroma chloroform dari sapu tangan tersebut. Cengkraman orang ini terlalu kuat sehingga sulit bagiku untuk melarikan diri.

“Annyeong, Nona Park,” bisik orang itu tepat didepan wajahku.

Sebelum kesadaranku mulai menghilang, kuperhatikan sosok orang tersebut.

Dia…

Ternyata dia…

To be continued….  

Who Are You – Part 1

Main casts : Park Jiyoon and Key SHINee

Support casts : Other SHINee member, Seong Yeo Ra, Kim Jung Hwa, etc.

Type : Sequel [Part 1]

Length : 8 parts [Maybe Less, maybe more]

Genre : Mistery, romantic, difficult to guess, out of mind

Rate : General

======================

Hidup itu harusnya dinikmati, bukan? Kenapa harus berpusing-pusing ria karena masalah yang mengelilingi kehidupanmu? Anggap saja itu sebagai ‘pemanis’ rasa strawberry pada eskrim cokelatmu. Haha, aku sedang berbahagia sekarang. Karena apa? Karena sesuatu hal tak terduga hadir menghiasi duniaku.

—Park Jiyoon

======================

JIYOON’s SIDE

“HUAAAAA~ KEY!!” teriakku tiada henti. Aku rasa pita suaraku sedikit lagi akan robek. Hah,  i don’t care!! Yang penting hasratku untuk bisa menonton 2nd concert SHINee terkabulkan. Temanku sesama Shawol—Seong Yeo Ra—lebih parah lagi. Dia berteriak memanggil nama Jonghyun—tepat disampingku—menggunakan toa yang dibawanya. Padahal aku tahu dia mengambil toa tersebut dari ruang BEM kampus. Untung benda itu tidak disita oleh satpam—jelas tidak disita, ia menyembunyikannya dibalik roknya yang panjang. Haha, sinting! Setelah konser ini selesai, aku harus memeriksa telingaku ke pusat THT.

@@@

“Ya! Park Jiyoon,” kurasakan seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku hanya mengerjap-ngerjapkan mulutku dan berusaha memicingkan mata, memastikan siapakah orang yang telah mengganggu kesenanganku—tidur siang di lorong kampus. Dan, ya, siapa lagi kalau bukan si mulut besar Yeo Ra. Hhh, lebih baik berpura-pura tidak melihatnya.

“Ya! Jiyoon, kau memalukanku saja. Cepat pindah!! Kau menghalangi jalan, tahu?” cecarnya sambil menendang halus pantatku yang semok ini. Yah, aku hanya bisa mengusap-usap pantatku dan kembali meringkuk.

“Hhhh~ terserah kau saja lah. Aku dengar ada anak baru yang akan masuk ke kelas Hyeo Seonsaengnim. Kau tidak tertarik?”

Hoaeeem~ aku hanya menguap pelan sambil meregangkan otot-ototku yang kaku. Ini semua gara-gara efek menonton konser SHINee kemarin malam, badanku serasa remuk karena tak henti-hentinya berjingkrak-jingkrakan.

Kuperhatikan Yeo Ra sedang menghias wajahnya dengan eye-liner serta alat make-up-nya yang lain. “Ya! Kau kira anak baru itu seorang namja? Aku rasa make-up mu tidak akan berguna,” kataku disela-sela kegiatan rutinku—mengupil—setelah bangun tidur.

“Hah, aku tidak peduli. Yang penting aku ingin memberikan kesan pada si anak baru kalau aku ini adalah yeoja tercantik di kelas. Yaa, siapa tahu kalau anak baru itu adalah Key. Kudengar dia akan masuk universitas tahun ini,” ucapnya sambil mengoleskan lip-balm di bibirnya yang bisa dibilang cukup dower.

“Hahaha, seorang Key masuk ke kampus kita? Kau jangan bermimpi. Lagipula Key itu milikku. Kau ‘kan sudah punya Jonghyun,” sergahku kemudian berusaha berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Yeo Ra. Kudengar ocehan dan derap kakinya berjalan mengiringiku dari belakang. Hoaeeem~ mendengar ucapannya membuat perutku melilit.

“Heh, yeoja genit, aku ke toilet dulu ya. Tiba-tiba perutku mulas,” kataku sambil menepuk pundaknya pelan.

“Jiyoon, nanti kau masuk kelas, kan?”

“Ne,” jawabku singkat.

“Kalau kau membohongiku lagi, akan kucincang kau,”

Aku hanya melambaikan tanganku pertanda bahwa aku akan mengikuti perintahnya. Ya, dulu aku pernah bolos kelas, padahal aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan masuk kelas. Hahaha, who care?

@@@

Hhhhh~ finally, kegiatan buang hajatku selesai juga. Sebaiknya aku segera ke kelas. Aku penasaran, siapa anak baru di kelas Hyeo Seonsaengnim. Kalau dia namja, akan kusuruh dia mentraktirku sebulan full, dan kalau dia itu yeoja, akan kubuat dia menjadi budakku. Hahaha.

Brukk…

Ugh! Sepertinya aku menabrak seseorang. Tubuhku sampai terpental hingga terjatuh. Hah, benar saja. Orang yang kutabrak juga ikut terjatuh. Sepertinya tadi kami bertubrukan cukup keras. Kuperhatikan orang itu memakai masker lengkap dengan kacamatanya. Dilihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya dia seorang namja. Capuccino yang dibawanya tumpah mengenai seluruh tubuhnya. Lihat saja, kaos putih rolling stone-nya kini penuh dengan warna kecokelatan berkat si capuccino.

“Mianhae,” ucapku sambil berusaha berdiri kemudian menghampirinya dan membantunya berdiri. Sepertinya ia marah padaku, uluran tanganku tak disambutnya dengan baik. “Mianhae. Aku sedang buru-buru jadi aku tidak melihat jalan,” kataku lagi. Tak sengaja mata kami saling bertemu. Dan kau tahu? Aku mengenal mata itu—mata yang sama dengan mata si kunci idolaku. Tapi, tidak mungkin ‘kan dia itu Key? Model rambutnya saja berbeda. Yang jelas, Key lebih stylish daripada namja bodoh ini.

Kukeluarkan cardigan abu-abu-ku lalu kuberikan padanya. “Ini sebagai permintaan maafku. Kau bisa menggunakan cardiganku untuk sementara. Yang penting kau harus ganti bajumu dulu,”

Ia tetap tak menggubrisku. Namja ini malah sibuk mengelap bajunya yang basah. Dia ini sepertinya lebih bodoh dariku. Apakah dengan mengelap bajunya akan mengembalikan warna kausnya? Akhirnya kutarik tangannya lalu kuseret tubuhnya menuju toilet pria disampingku. “Ganti pakaianmu sekarang atau  badanmu akan terasa lengket. Kau akan memakai kausmu yang basah seharian di kampus?” paksaku padanya. Awalnya ia agak ragu tapi akhirnya ia menurut juga padaku.

@@@

Ternyata menunggu namja itu berganti pakaian cukup memakan waktu juga. Hhh~ sepertinya aku tidak bisa ikut kelas Hyeo seonsaengnim. Setelah lima belas menit, akhirnya namja itu keluar juga. Well, cardiganku cocok juga dipakai olehnya. Haha,

“Ayo, ikut aku,” kutarik tangannya lagi menyeretnya menuju kantin kampusku.

“Hei, lepaskan aku,” cegahnya sambil berusaha melepas jeratanku.

“Ya! Aku ingin membelikanmu sesuatu. Sudah, kau diam disini, jangan kemana-mana,” kutinggalkan si namja aneh itu sementara aku membeli satu cup capuccino di kantin tak jauh dari tempat si namja berdiri.

“Nih,” kujulurkan capuccino tersebut padanya. Ia hanya menatap cup tersebut tanpa bergerak. “Ini sebagai permintaan maafku karena perbuatanku. Sudah cepat terima saja,”

Well, akhirnya dia menerimanya. Meskipun ia sempat mengatakan untuk tidak perlu berepot-repot ria hanya karena hal sepele. Aku hanya tidak ingin membuat susah orang lain karena perbuatanku. Haha, meskipun aku ini termasuk anak nakal di kelas, tapi aku berjiwa malaikat. Saat aku akan beranjak pergi, tiba-tiba ia menahanku.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Park Jiyoon. Kau sendiri?” tanyaku balik. Hmmm, agak lama ia menyebutkan namanya. Apakah ia lupa dengan namanya sendiri? Hahaha, ternyata benar, dia lebih bodoh dariku.

“Kim Jung Hwa. Ya, namaku Kim Jung Hwa,”

“Oh, oke, Jung Hwa. Aku harus masuk kelas. Jadi, sampai bertemu lain hari,” kataku melambaikan tangan.

@@@

Coba tebak? Where am i? Yang jelas aku tidak di kelasku sekarang. Hahaha, aku ada di perpustakaan mengerjakan tugas yang diberikan Hwang Seonsaengnim tempo hari. Lagipula, gara-gara menabrak Jung Hwa, aku jadi telat masuk kelas. Yeo Ra menelfon sambil memarahiku gara-gara—lagi-lagi—aku tidak masuk kelas. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai kesini.

“Dasar pemalas,” kurasakan seseorang menarik pelan rambutku dari belakang. Aku sudah mengiranya. Siapa lagi kalau bukan si temanku yang genit itu. Aku hanya memberikan cengiran kudaku padanya.

“Aku tidak masuk kelas karena aku harus mengerjakan tugas, Yeo. Lihat, ada buktinya, kan?” belaku sambil menunjukkan buku-buku di depanku.

“Jiyoon, kau menyesal tidak masuk kelas Hyeo seonsaengnim,”

“Menyesalnya?”

“Karena kau tidak melihat siapa anak baru yang masuk ke kelas kita,” cecar Yeo Ra penuh semangat.

“Memang siapa anak baru itu?” tanyaku santai sambil membalikkan halaman demi halaman buku yang sedari tadi kupegang.

“Key. Kau tahu? Dia Key!! K-E-Y membernya SHINee. S-H-I-N-E-E,” kurasakan Yeo Ra menggoyang-goyangkan lenganku tak sabaran. Aku hanya menyeringai kecil padanya.

“Come on, kau masih saja bermimpi, Yeo? Aku saja sudah sepenuhnya sadar dari tidur siangku. Aku tidak akan tertipu olehmu,” jawabku enteng.

“Ya sudah kalau kau tidak percaya. Kau tidak sadar kalau seisi kampus ini sedang membicarakannya?”

Kuperhatikan sekeliling ruangan ini dan yang kudapati hanya keheningan dimana-mana. “Tidak ada yang membicarakan Key, tuh. Lagipula kalau memang dia itu Key, pasti tidak ada seorangpun yangg berani mendekatinya. Seisi kampus ini sudah tahu kalau aku ini pecinta si kunci yang satu itu. Jika ada yang mendekatinya, akan kuhajar dia,” kataku sambil mencibirkan bibirku padanya.

“Jelas saja tidak ada yang bicara, ini perpustakaan tahu!!” belanya lagi. Aku berniat untuk menyerangnya lagi dengan kata-kataku, tapi seseorang menghentikan obrolan kami.

“Permisi. Bolehkah aku minta tolong?” tanya si namja didepanku. Dengan cepat kualihkan pandanganku pada namja itu. Kutelan ludahku dalam-dalam setelah mengetahui sosok di hadapanku itu.

“K-k-k-key?” ucapku terbata-bata. Aku sedikit mengucek-ucek mataku untuk meyakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya tuhan, kenapa tiba-tiba lidahku jadi kelu? Dan yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak, ia melemparkan senyumnya padaku. Oh, My, God!! Ia tersenyum padaku!! Kyaaa~~ eomma!!!

Kurasakan Yeo Ra menyenggol pundakku kencang yang secara otomatis mengembalikan jiwaku—yang sedang melayang-layang di atap perpustakaan—ke dalam ragaku. “Oh, eh, i-i-i-iya. Apa mau bantu?” tanyaku lagi.

Kudengar Yeo Ra sedikit berdecak disampingku. “Mianhae, Key. Mungkin maksudnya ‘apa yang bisa kami bantu’. Maklum, dia agak sedikit tidak waras,” terang Yeo Ra sambil menjambak pelan rambutku. Aku hanya tersenyum kecut padanya diselingi cubitan kecil di pahanya. Kulihat Yeo Ra sedikit meringis. Tapi itu kulakukan sebagai pembalasan dendamku karena dia menjambak rambutku. Ergh~ jadi ketahuan begonya deh…

“Aku ingin mencari buku tentang Seni. Tapi aku sedikit kesulitan menemukannya. Terlalu banyak buku disini, dan…”

“AKU BISA BANTU,” kupotong kalimatnya secepat mungkin agar Yeo Ra tidak curi start. Hahaha, aku tahu dia penggemar Jonghyun, tapi siapa tahu dia ingin dekat-dekat Key-ku. Huh, tidak akan kubiarkan!!!

“Park Jiyoon!! Lagi-lagi kau membuat gaduh di perpustakaan,” kulihat Hyun Ahjussi—penjaga perpustakaan—memelototiku dari tempat duduknya. Apa suaraku sekencang itu ya? Sampai-sampai suara jelek Hyun Ahjussi menggema di ruangan ini? Kuberikan tanda V padanya dan sedikit menggerakkan tanganku kesana kemari dengan maksud agar Hyun Ahjussi tak memarahiku. Kupandangi Key, dan, hhhhh~~ ia hanya tersenyum simpul. Kau tahu? Melihat senyumnya membuatku darahku berhenti mengalir didalam tubuhku… eomma~ aku butuh nafas buatan…

“Pssst, katanya kau ingin mengantarnya mencari buku? Kenapa malah bengong?” bisik Yeo Ra di telingaku. Ugh~ gara-gara melihat Key, otakku jadi bekerja sangat lamban.

“Engg~ baiklah. Buku Seni ya? Nggg~ sebelah sini,” aku bisa merasakan getaran pada suaraku. Ya, tuhan, semoga Key tidak menertawaiku. Kulangkahkan kakiku menuju rak buku Seni. Aku tahu Key mengikutiku dari belakang. Tapi tetap saja, jantungku berdebar sangat kencang. Ini pertama kalinya aku bisa sedekat ini dengan idolaku. Eomma~ eotteokhae?

Kuperhatikan sekelilingku, hampir semua mata tertuju pada Key. Bahkan dua orang yeoja dibalik rak yang kulewati sempat berbisik-bisik tak jelas sambil tersenyum pada namja-ku. Hih, kau kira kau itu cantik? Kupelototi saja mereka berdua ketika mata mereka tak sengaja bertemu dengan mataku. Kulihat mereka langsung pergi menjauhi kami. Haha, berhasil!

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” kudengar ia bersuara dari balik punggungku. Sebentar? Ia menanyakan namaku? NAMAKU?

“Eh? Kau bertanya padaku, kan?” tanyaku memastikan. Kuputar sedikit tubuhku agar bisa melihat wajah si namja idolaku itu. Ia terlihat menahan tawanya. Hhhh~ apa aku terlihat sangat bodoh di depannya? Huaaa~~

“Aku Park Jiyoon,” jawabku cepat. “Lalu, siapa namamu?”

Oh, tuhan. Bodohnya aku ini!! Kenapa aku malah bertanya padanya. Sudah jelas dia itu Key, idolaku, brondong idamanku. Dasar Jiyoon pabo!!

Lagi-lagi kulihat ia tertawa ringan sambil terus mengikuti langkahku. “Aku Kim Ki Bum,” balasnya.

“Ne. Aku sudah tahu,” kataku menahan malu. Ergh~ jangan sampai ia melihat wajahku yang mulai memerah ini…

Kudengar ia tertawa lagi. Yeah, aku tahu dia sedang menertawai sikap bodohku ini. Akh! Aku ingin memukul kepalaku dengan tongkat baseball !!!

“Ku kira kau tidak tahu siapa aku,”

Mendengar kalimatnya barusan membuatku menghentikan langkahku saat itu juga. Kubalikkan tubuhku hingga kini berhadapan dengannya. “Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu. Aku kan fans-mu,”

Ops, segera kubalikkan tubuhku lagi. Kupukul-pukul mulutku menggunakan telapak tanganku dan kembali berjalan ke arah rak buku seni. Aduh, bego!! Kenapa kau bilang padanya kalau kau ini fans-nya? Argh~ Jiyoon pabo!! Aku tidak berani menatapnya. Aku takut…

“Ehm,” aku berdeham dengan maksud menetralkan suaraku. Terlalu hening diantara kami berdua. Aku tidak suka dengan keadaan ini.

“Ehm, kudengar kau anak baru di kelas Hyeo Seonsaengnim, ya? Sayang, aku tidak hadir tadi,” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Kupastikan tidak ada getaran ataupun nada ‘gagap’ pada kalimatku.

“Oh, kau mahasiswi di kelas Hyeo Seonsaengnim? Aku tidak melihatmu di kelas. Tapi, salam kenal,” ucap Key dengan suaranya yang terdengar indah di telingaku. Aku hanya mengangguk pelan. Aku tidak ingin salah bicara lagi. Hhh~ aku ingin berteriak, tapi tenagaku tiba-tiba hilang.

“Kalau aku tahu anak baru itu adalah kau, pasti aku tidak akan bolos kuliah,” bisikku lebih pada diriku sendiri.

“Eh? Kau bicara padaku?” tanyanya tepat di belakang telingaku, menghembuskan nafasnya yang seketika itu jua membuat bulu kudukku berdiri tegak. Refleks, aku pun menoleh padanya sehingga wajah kami hanya terpaut beberapa cm saja.

Glek.. kutelan ludahku yang terasa sulit ini.

“Nggg~ a-a-a-anniya.. kau pasti salah dengar,” kualihkan pandanganku lagi ke depan untuk menghindari tatapan wajahnya. Kuhembuskan nafasku beberapa kali untuk menormalkan kembali kerja jantungku. Aisshh~ eomma, bunuh saja aku!!

“Nah, ini buku yang kau cari,” kataku menunjukkan deretan buku seni di hadapanku. Kupandangi Key yang sekarang berdiri tepat disampingku. Ia tersenyum melihat buku yang ia cari telah ditemukan.

“Gamsahamnida, Jiyoon-sshi,”

Aaaa~ eomma~~ ia bilang ‘terima kasih’ padaku!! Setiap kali mendengar suaranya, otakku tiba-tiba blank seketika. Aku tidak bisa berfikir! Oh, tuhan…

Aku hanya mengangguk kecil kemudian melangkahkan kakiku menjauhinya. Sebenarnya aku ingin lebih lama dekat dengannya—bisa mencium wangi tubuhnya, bisa memandangi wajahnya hanya dengan jarak kurang dari 50 cm—tapi entah kenapa kaki ini tidak mau diajak kompromi. Hey, kaki! Kau tidak ingin menghentikan langkahmu sebentar saja? Baiklah, akan kubuat kau berhenti sekarang juga!

“Key!!” kubalikkan tubuhku kemudian bergerak mendekatinya. Ia terlihat sedikit bingung melihatku. Hah, bodo amat!! Kuambil pulpen dan kertas dari seseorang yang tak sengaja lewat didepanku. Aku sedikit memelototinya agar ia tidak melawanku dan sepertinya ia menurut.

“Minta tanda tangannya dong,” kusodorkan kertas tersebut padanya tanpa mempedulikan urat ‘malu’-ku.

“Eh?” dan hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

@@@

“Heh, sudah berapa lama kau terus memegangi tanda tangannya Key?” kurasakan Yeo Ra melemparkan beberapa kacang atom ke arahku.

“Bilang saja kalau kau itu sirik. Tahu sirik tidak? Sirik itu terdiri dari huruf S-I-R-I-K. Jika digabung dibacanya ‘sirik’. Arasseo?”

Yeah, tepat setelah aku mengucapkan kata-kata terakhirku, Yeo Ra melemparkan bungkus kacang tersebut tepat mengenai wajahku. “Ya! Wajahku ini satu-satunya investasiku untuk menjadi calon istri Key! Stay away from my face or i’m gonna kill you right now!!” teriakku sambil melempar balik bungkusan tersebut pada Yeo Ra.

Ia hanya terkekeh pelan. “Kau kira Key akan melirikmu, huh? Oh, my gooood~” ledeknya penuh kebahagiaan.

“Kau kira Jonghyun juga akan melirikmu? Come on, beibeeehh~” ledekku balik. Kami berdua malah tertawa terbahak-bahak. Tawa kami menggema di seluruh sudut kelas. Yup, kami sedang menunggu kelas Park Seonsaengnim. Sebenarnya aku agak malas masuk kelas ini, karena setiap kali Park Seonsaengnim mengajar, setiap kali itu pula aku tertidur di kelas.

Park Seonsaengnim—yang notabene sudah berumur 63 tahun—berjalan dengan ayu-nya memasuki kelas. Langkahnya yangg terlihat gontai itu membuatku ingin memasang tali tambang di leher seonsaengnim lalu menariknya paksa menuju tempat duduknya. Ergh~ oke, penderitaanku selama dua jam ke depan baru saja dimulai…

Satu menit…

Dua menit…

Tiga menit…

Ya, tuhan… kenapa dari tadi jam dinding di depanku jarum panjangnya tidak bergerak sedikitpun? Park Seonsaengnim sudah berbicara panjang lebar, tapi kami baru menghabiskan waktu tiga menit. Tiga menit!! Bayangkan!!

Kulirik Yeo Ra yang sedang duduk tepat disampingku, ia terihat sangat memperhatikan apapun yang Park Seonsaengnim katakan. Sesekali ia mencatat bagian yang ia anggap penting. Haha, otakku sudah tak mampu menampung pelajaran, jadi aku lebih memilih mencoret-coret kertas sambil menopang daguku.

Sedang asik-asik-nya ber-doodle ria dengan spidol sapphire blue-ku, tiba-tiba perhatianku tertuju pada seseorang dibalik pintu kelas. Hah, anak nakal, terlambat masuk kelas Park Seonsaengnim sama saja membunuh absenmu! Kemudian kualihkan kembali perhatianku pada kertas hasil doodle-anku.

“Annyeong hasseyo, Seonsaengnim. Mianhamnida, saya sedikit tersesat mencari kelas ini. Bolehkah saya ikut kelas anda?” tanya si anak nakal yang kumaksudkan. Tunggu!! Aku kenal dengan suara itu.

Saat kudongakkan kepalaku, mulutku seketika itu juga menganga lebar. O-EM-JI, KEY!!! Segera kurapihkan rambutku yang agak berantakan ini kemudian mengusap-usap wajahku yang mengusut. Omo-omo-omo…

Key mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah, mencari bangku kosong yang bisa ia tempati. Kemudian, ia berjalan menuju sebuah bangku kosong yang letaknya tak jauh dari tempat dudukku­—dia duduk di deretan pertama sedangkan aku di deretan ketiga—setelah Park Seonsaengnim menyuruhnya masuk. Sebelum ia duduk, mata kami sempat bertemu, dan lagi-lagi ia tersenyum padaku.

Eh? Dia tersenyum padaku? Benarkah? Kubalikkan badanku untuk memastikan bahwa ia benar-benar tersenyum padaku. Dan aku berani menarik kesimpulan kalau dia memang ‘benar-benar’ dan ‘sungguh-sungguh’ tersenyum padaku—karena semua orang yang berada tepat dibalik punggungku mengarahkan matanya padaku. Bahkan Yeo Ra juga memandangiku keheranan. Aku yakin, mereka juga menyadari kalau Key melontarkan senyumnya padaku. Kyaaaa~~ eomma, eomma, eomma….

Yeo Ra menyikut siku tanganku pelan sambil tersenyum menggodaku. Eomma~ aku semakin tidak bisa berkonsentrasi kalau Key lagi-lagi satu kelas denganku. Eotteokhae? Eotteokhae? Eotteokhae?

Kudengar Park Seonsaengnim kembali melanjutkan materi kuliahnya. Hhhh~ jujur, pandanganku tak bisa kualihkan pada Seonsaengnim, mataku seolah-olah terkunci sehingga aku hanya bisa memandangi namja tampan didepanku. Hhhh~ kutopangkan daguku dan tak bergeming sedikitpun dari posisiku.

“Park Jiyoon,”

Hmmm~ sepertinya ada seseorang yang memanggil namaku… hah, persetan dengan dia! Yang penting sekarang aku bisa leluasa memandangi si kunci hatiku itu, hihihi…

“PARK JIYOOON,”

Oke, suara panggilan kedua ini berhasil membuatku terlonjak. Kupandangi Yeo Ra dan ia seolah memberi tanda bahwa Park Seonsaengnim lah yang memanggilku. Segera kubetulkan posisi dudukku dan menyisir rambutku menggunakan jari-jariku. “Ne, seonsaengnim? Anda memanggil saya?” tanyaku sambil memasang wajah aegyeo-ku.

“Memangnya ada apa dibalik punggung Key sampai-sampai kau tidak memperhatikan pelajaranku?” Park Seonsaengnim melipat kedua tangannya didepan dada.

“Nde?” aku tidak mengerti maksud si beliau itu. Yang jelas, tepat setelah seonsaengnim mengakhiri kalimatnya, seluruh ruangan bergemuruh dipenuhi gelak tawa teman-teman sekelasku. Kulihat Key membalikkan tubuhnya memandangiku sambil tersenyum. Aisshhh~ lagi-lagi aku bertindak bodoh….

@@@

Yeo Ra tak henti-hentinya menertawakanku. Demi tuhan, aku ingin menyumpal mulutnya menggunakan kaus kakiku. “Ya! Berhenti menertawakanku, Yeo,” kataku sambil memukul pelan lengannya.

“Habis kau ini pabo sekali, Jiyoon. Ya tuhan, selama tujuh tahun kita berteman, baru kali ini aku melihat sisi ke-paboa-anmu yang super akut itu,” ledeknya disertai tawa yang sedari tadi tak ada hentinya.

Kulempar bungkus Dry Kimchi ke arahnya. Tapi cara itu tetap tak berhasil menghentikan tawanya. Sial!

“Ehm, do you mind if i sit here?” tanya seseorang pada kami berdua.

Ya, tuhan. Tenggorokanku kembali tercekik. Aku tidak bisa bernafas… itu Key.. dia Key… Kim Ki Bum, namja yang telah membuatku menjadi orang bodoh seharian ini.

“Sure. Duduklah,” Yeo Ra sepertinya mengetahui kelakuanku, jadi dia yang bertindak lebih dulu. Dia memang sahabatku yang baik. Akan kucium dia sebagai balas jasaku karena telah berhasil menahan Key disini.

“Annyeong, Jiyoon-sshi,” sapanya sambil meletakkan sesuatu di atas meja. Ia duduk tepat di sebelahku, jadi aku bisa menghirup wangi tubuhnya yang membuatku tak ingin beranjak dari situ. Aku hanya tersenyum simpul padanya disertai anggukan kecil. Rasanya sulit dipercaya kalau saat ini aku bisa sedekat ini dengan Key. Ia disampingku! Duduk disampingku!!!

“Jiyoon-ah, jangan membuatku malu,” sela Yeo Ra. Aku tahu dia sedang menahan tawanya. tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku terasa kaku.

“Annyeong, Key. Cheoneun Yeo Ra imnida,” kulihat Yeo Ra menundukkan kepalanya dan tersenyum pada Key. Rrr~ yeoja genit!! Kutarik rambutnya pelan seketika itu juga dan berhasil membuatnya meringis pelan. Key hanya tersenyum simpul memperhatikan kelakuan kami yang bisa dibilang seperti anak kecil.

“Kenapa jam segini kau belum pulang? Apakah kau tidak ada kegiatan?” tanya Yeo Ra lagi. Diam-diam kuperhatikan jam tanganku. Yeah, jam menunjukkan pukul 07.38 pm.

“Anniya~ karena hari ini hari pertamaku masuk universitas, jadi manager hyung membebaskanku dari segala kegiatan. Aku sedang menunggu hyung menjemputku. Apa kalian berdua berteman?”

“Ne. Jiyoon itu temanku dari kecil. Chamkanman, hyung? Hyung yang kau maksud itu….” Yeo Ra mengarahkan telunjuknya pada Key sambil memasang wajah yang sedang menerka-nerka. Key lagi-lagi hanya tersenyum simpul.

“Jonghyun hyung. Memangnya kenapa?” tanyanya pelan. Eomma, suaranya membuat perutku mulas.. jaebal, yeoreobun~~

Mendengar kata Jonghyun hyung, tangan Yeo Ra langsung refleks mengorek-orek isi tasnya. Diambilnya benda yang ia cari kemudian disodorkannya pada Key. “Mianhae, tapi bisa kau berikan ini pada Jonghyun?”

Ternyata benda itu adalah sebuah kotak kecil yang telah dihiasi pita berwarna pearlswhite. Hah, aku tahu isinya, pasti sebuah kalung yang ia beli saat ia berlibur ke Bali. Ia memang ingin memberikan sebuah kalung pada Jonghyun. Cih, selama kami berteman, dia bahkan belum sekalipun memberiku hadiah—dulu dia pernah memberiku alat pembuka botol, tapi itu tidak termasuk kedalam kategori ‘hadiah’.

Key meraih kotak tersebut dan berjanji pada Yeo Ra akan memberikannya pada Jonghyun ketika mereka bertemu nanti. Namun, tiba-tiba pertanyaan Key membuatku tersedak. “Mmm, Jiyoon-sshi, kudengar kau ini salah satu fansku, ya?”

Aku bisa mendengar Yeo Ra terkekeh pelan. Aku hanya bisa mematung ditempatku. Eomma~ aku malu…

“Bukan fans lagi, Key. Tapi fans berat,” terang kawanku yang pengkhianat ini. Aku hanya memberikan senyumku—yang aku yakin sangat kupaksakan—pada Key. Setelah itu kuseruput es kelapa muda di tanganku cepat-cepat.

“Harusnya kau senang karena aku ada disini. Kenapa kau diam saja?” pertanyaannya barusan terdengar seperti sebuah ledekan bagiku.

“Ya! Kau ingin menjatuhkan martabatku, ya? Aku diam karena aku bingung mau bilang apa,” lagi-lagi kuseruput es ku dengan cepat. Dasar bocah labil, kenapa kau bicara seperti itu padanya? Aissshhh…

Namja disampingku malah terkekeh pelan. Tidak, tidak, lebih tepatnya dua orang yang mengapitku sedang menertawakan kebodohanku. Sial!!

Omona~ aku tidak berfikir jernih karena Key ada didekatku. Eotteokhaji??

TO BE CONTINUED….