WHO ARE YOU (Chapter 03)

Aku berusaha untuk bangun dari posisiku, tapi kepalaku terasa sangat berat. Kupegangi kepalaku dan kupijit perlahan untuk merilekskan otot-otot di keningku. Namun sekelebat kejadian tadi malam membuatku dengan mudahnya membuka kelopak mataku. Key, yang bersimbah darah, mengerang meminta pertolongan padaku… Ya, tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tunggu, dimana ini? Aku tidak mengenali tempat ini. Dan kenapa sekarang aku berada di atas ranjang empuk berukuran king size?

It's Too Late (1)

Saat aku benar-benar pulih dari kesadaranku, ku perhatikan sekeliling ruangan ini dengan seksama. Tata ruangannya seperti kamar hotel. Apa jangan-jangan aku memang ada di hotel sekarang? Dan ketika kuputar tubuhku 180°, kudapati sosok yang kukenal disampingku yang sedang terbaring lemah dan tak bergerak sedikitpun.

“K-key?” kugoyang-goyangkan tubuhnya pelan agar ia terbangun. Tapi ia tak bergeming sedikitpun. Aku masih bisa melihat darah di beberapa bagian wajahnya yang mulai mengering. Segera kuarahkan telunjukku ke hidung Key—memastikan bahwa masih ada udara hangat yang keluar dari hidungnya yang mancung itu—karena fikiran kotor terus terngiang-ngiang dibenakku kalau-kalau Key sudah tak bernyawa lagi.

Continue reading “WHO ARE YOU (Chapter 03)”

WHO ARE YOU (Chapter 02)

Aku masih saja berbaring di bangku taman kampus sambil terus menjambaki rambutku dari tadi—semenjak Key bersekolah di universitasku, aku tak lagi tidur di lorong kampus. Reputasiku bisa hancur nanti.

Ergh~ Aku sudah mendapatkan tanda tangan Key dengan mengorbankan seluruh urat maluku, tapi memang dasar aku pabo, kertas itu malah terselip diantara tugasku dan sekarang hilang entah kemana. Aaaaa~~ sebal! Sebal! Sebal!

It's Too Late (1)

“Hei, sedang apa kau disini? Kau seperti orang gila yang menjambaki rambutmu sendiri,”

Suara seseorang mengagetkanku—benar-benar mengagetkanku—sampai aku harus terduduk dari posisiku semula. Aku hanya memandangnya sekilas. “Bukan urusanmu,” jawabku singkat. Kukira orang itu akan pergi meninggalkanku, eh, dia malah duduk disampingku tanpa izin. “Ya! Kau ini siapa sih? Pergi sana,” usirku sesegera mungkin. Mood-ku tiba-tiba berubah karena namja disampingku ini.

Continue reading “WHO ARE YOU (Chapter 02)”

WHO ARE YOU (Chapter 01)

“Hidup itu harusnya dinikmati, bukan? Kenapa harus berpusing-pusing ria karena masalah yang mengelilingi kehidupanmu? Anggap saja itu sebagai ‘pemanis’ rasa strawberry pada eskrim cokelatmu. Haha, aku sedang berbahagia sekarang. Karena apa? Karena sesuatu hal tak terduga hadir menghiasi duniaku.”

—Cho Ikha

It's Too Late (1)

“Oh, Key!” teriakku tiada henti.

Kurasa pita suaraku nyaris robek. Hah, I don’t care!! Yang penting hasratku untuk bisa menonton The 1st concert SHINee terkabulkan. Temanku sesama Shawol lebih parah lagi. Dia berteriak memanggil nama Jonghyun—tepat disampingku—menggunakan toa yang dibawanya.

Padahal aku tahu dia mengambil toa tersebut dari ruang BEM kampus. Untung benda itu tidak disita oleh satpam—jelas tidak disita, ia menyembunyikannya dibalik roknya yang panjang. Haha, sinting! Setelah konser ini selesai, aku harus memeriksa telingaku ke pusat THT.

***

Continue reading “WHO ARE YOU (Chapter 01)”

WHO ARE YOU (Prologue)

Bagaimana rasanya jika kau menjadi yang terbuang? Tak diinginkan oleh orang–tuamu dan diacuhkan oleh orang lain? Itulah yang kurasakan selama kurang lebih tujuh belas tahun. Aku terlantar tanpa seorang pun yang mempedulikanku. Berjalan kian kemari tanpa tahu arah tujuan.

It's Too Late (1)

Awalnya aku sudah menyerah karena sampai saat itu aku tidak tahu jati diriku yang sebenarnya. Tapi saat kulihat seseorang di layar televisi, aku yakin jika dia adalah kunci dari semua jawaban yang aku cari. Lalu aku semakin yakin lagi ketika aku mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkanku kalau orang itu benar-benar orang yang telah membuatku menderita selama ini.

Aku membencinya, sangat membencinya.

Selama ini aku terkapar di jalanan—mengais-ngais makanan, sedangkan dia? Dia menikmati segalanya, segalanya yang seharusnya kunikmati juga.

Aku membenci segala hal tentang dirinya.

Aku tak akan tinggal diam.

Akan kuambil semua yang seharusnya jadi milikku juga.