THE SWEET ONES

In this week photo’s challenge, show us tiny. Capture something at a smaller scale.

I, normally, am not a huge fan of sweets. But those little ones always remind me of my little sister. She said that the sweet one would boost her mood, to be much happier and full of excitement.

I bought it only for decoration on our fall-alike dining table—even though a “big bear” always steals it at the end. But it is nice to have it there, with those colors mix up with the flowers and candles.

img_20161116_143309

In response of Daily Post’s Photo Challenge: Tiny

MERMAID – CHAPTER 05

Solusinya adalah dengan mengingat kembali pertentangannya dengan Sviesa malam itu, meski hal itu terlalu menyakitkan bagi Sabina.

MENGAPA PRIA YANG MENGAKU SEBAGAI MAJIKANMU ITU selalu mengawasi seolah kau adalah buruan makan malamnya?”

Sabina tertegun dari pikirannya saat Dolca mengaduh dalam bisikan. Gadis dalam genggamannya itu masih menaruh kewaspadaan tiap kali dirinya mengintip dari sudut mata dan menemukan Lee Hyuk Jae menjawab keresahannya dengan sorotan tajam penuh prasangka. Meskipun ia telah menyeret Dolca ke tepi balkon, jarak itu nyatanya belum cukup meyakinkan si gadis untuk tidak berlebihan. Ya, Lee Hyuk Jae dan Choi Minho tetap bergeming di tempat mereka―sesekali merapatkan lipatan lengan di dada atau memperbaiki letak bokong mereka.

palace_of_the_mountain_king_by_erikshoemaker-d7ww4uh

Sudah terlalu lama bagi Sabina untuk berdiam diri. Semakin lama ia bersembunyi, semakin cepat Sviesa menghilang dari ingatannya.

Sabina lantas tersenyum, mendengungkan desah panjang yang melelahkan, “Ia pikir kau adalah seorang penguntit, Dolca.” Jemarinya mengeratkan genggaman sebelum akhirnya melepas sentuhan di tangan si duyung. “Apakah Liu baik-baik saja?” imbuhnya.

“Panggil namaku dengan Sulli, Sabina. Choi Minho menginginkan identitasku dan Liu untuk tetap tersembunyi,” kembali Dolca mengintip sosok Minho dari balik tirai tipis di jendela yang memisahkan mereka. Suaranya sengaja direndahkan, tak ingin sepasang manusia itu mendengar diam-diam.

“Begitu pula dengan mereka,” Sabina memberengut, menyetujuinya, “Leeteuk memberiku nama yang buruk. Aku tidak begitu menyukainya,” ucapnya disertai anggukan yang bergerak cepat dalam detik.

Continue reading “MERMAID – CHAPTER 05”

THROUGH THE MIRROR

Aku tak pernah membisikkan namanya. Namun di bawah sadarku, kupahami bahwa sesungguhnya aku menginginkan kehadirannya.

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

wedding-colorado-longmont-cakeknife-portrait-lighting-photographer-photography-getting-ready-pasturesofplenty-rustic-farm-outside-beautiful-unique-happy-love-farm-makeup-reflection-eye-liner-gettingre

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasrat dan harapanku di hadapan cermin manapun.

Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

Hanya beberapa detik saja, hingga kurasakan sepasang lengan kokoh menyergap tubuhku yang lelah.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih untuk tak bergerak,” suara lembut itu berhembus di telingaku.

Continue reading “THROUGH THE MIRROR”

NOSTALGIA

Tiap kali kutilik layar itu, rasanya seperti kehidupan yang lalu, jauh sebelum kuingat lagi kapan terakhir kali kusentuh dengan ujung jemariku sendiri.

Kutundukkan kepala, mendesah beribu kali menandingi sepoi angin yang berlalu-lalang. Seharusnya aku berucap syukur, bukannya mengobar hati dengan segala rindu yang selalu menusuk-nusuk kepalaku.

Dan, salahkan aku karena hingga saat ini aku belum sepenuhnya menolak untuk menoleh ke balik bahuku. Mungkin ia tak ingin ditinggalkan, mungkin ia tak ingin kutinggalkan.

20151225_0941461

Sengaja kusembunyikan seluruh jemariku di dalam saku, melindungi kuku-kuku kecilku dari udara musim gugur yang mulai menyatu dengan dingin dari utara. Kereta berikutnya belum juga berada dalam jangkauan, maka kuhabiskan waktuku dengan mengetuk-ngetuk hak sepatu di atas lapisan porselin berkualitas—sementara kubiarkan bangku kosong di belakangku dihuni oleh ibu tua berambut pirang bersama affenpinscher yang masih terbilang muda.

Seolah berada di antara tiang-tiang Patron 3/4, ada semacam koneksi yang menjembataniku dengan Stasiun Jakarta

Tidak, aku tidak sedang berada di Stasiun Jakarta. Tempat ini jauh lebih indah dan tertata dibandingkan dengan hiruk-pikuk di sana. Hanya saja—dan lagi-lagi—bayangan kegilaan di sudut ibukota itu selalu membuatku merenung, betapa kurindukan berbagai bising yang menyatu dengan segala keunikan itu dan memaksaku untuk menyebut nama-nama mereka yang kutinggalkan di sana dalam bisikan.

Masih kuingat senja itu, saat kulewatkan sore berawan bersama seorang gadis yang hanya terpaut beberapa tahun denganku, yang selalu kusebut sebagai teman dan musuhku, yang selalu kusebut sebagai adik tersayangku. Kami beradu tawa, terbahak hingga para insani mendelik tajam, saling merangkul diri seolah ia dan diriku merupakan satu jiwa, bahkan melontarkan seratus makian yang tak pantas didengar balita.

Continue reading “NOSTALGIA”

HERE AND NOW

True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future

Allow me to recall our secret talk a long ago…

You said wherever I go, those dark clouds would still remain the same; trailing behind, showing their true color without fear to fade. You said wherever I hide, the breath of sadness would still be running towards; looking for a small slit to whisper the mournful song in to my ears, to break me in pieces. And again, again and again, you kept telling me wherever I stay, it would be still that way—it scared me ’til I forgot how to move aside.

august-2016-046

“Living the blue, pervading the sun, listen to the peace that slowly alighted along the breeze.”

I did go. I did hide. But look around me now. Can you see the sun is slapping the back of my head? To burn it into an extent that the bright blue over there is waiting for me to jump on? Can you hear the waves starving itself? To wake me up that the era is already done? The era where the clouds have been dispersed by the warmth of Maya’s absolute God?

Continue reading “HERE AND NOW”