DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Continue reading “DALAM SEBUAH PELUKAN”

MERMAID – CHAPTER 05

Solusinya adalah dengan mengingat kembali pertentangannya dengan Sviesa malam itu, meski hal itu terlalu menyakitkan bagi Sabina.

MENGAPA PRIA YANG MENGAKU SEBAGAI MAJIKANMU ITU selalu mengawasi seolah kau adalah buruan makan malamnya?”

Sabina tertegun dari pikirannya saat Dolca mengaduh dalam bisikan. Gadis dalam genggamannya itu masih menaruh kewaspadaan tiap kali dirinya mengintip dari sudut mata dan menemukan Lee Hyuk Jae menjawab keresahannya dengan sorotan tajam penuh prasangka. Meskipun ia telah menyeret Dolca ke tepi balkon, jarak itu nyatanya belum cukup meyakinkan si gadis untuk tidak berlebihan. Ya, Lee Hyuk Jae dan Choi Minho tetap bergeming di tempat mereka―sesekali merapatkan lipatan lengan di dada atau memperbaiki letak bokong mereka.

palace_of_the_mountain_king_by_erikshoemaker-d7ww4uh

Sudah terlalu lama bagi Sabina untuk berdiam diri. Semakin lama ia bersembunyi, semakin cepat Sviesa menghilang dari ingatannya.

Sabina lantas tersenyum, mendengungkan desah panjang yang melelahkan, “Ia pikir kau adalah seorang penguntit, Dolca.” Jemarinya mengeratkan genggaman sebelum akhirnya melepas sentuhan di tangan si duyung. “Apakah Liu baik-baik saja?” imbuhnya.

“Panggil namaku dengan Sulli, Sabina. Choi Minho menginginkan identitasku dan Liu untuk tetap tersembunyi,” kembali Dolca mengintip sosok Minho dari balik tirai tipis di jendela yang memisahkan mereka. Suaranya sengaja direndahkan, tak ingin sepasang manusia itu mendengar diam-diam.

“Begitu pula dengan mereka,” Sabina memberengut, menyetujuinya, “Leeteuk memberiku nama yang buruk. Aku tidak begitu menyukainya,” ucapnya disertai anggukan yang bergerak cepat dalam detik.

Continue reading “MERMAID – CHAPTER 05”

THROUGH THE MIRROR

Aku tak pernah membisikkan namanya. Namun di bawah sadarku, kupahami bahwa sesungguhnya aku menginginkan kehadirannya.

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

wedding-colorado-longmont-cakeknife-portrait-lighting-photographer-photography-getting-ready-pasturesofplenty-rustic-farm-outside-beautiful-unique-happy-love-farm-makeup-reflection-eye-liner-gettingre

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasrat dan harapanku di hadapan cermin manapun.

Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

Hanya beberapa detik saja, hingga kurasakan sepasang lengan kokoh menyergap tubuhku yang lelah.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih untuk tak bergerak,” suara lembut itu berhembus di telingaku.

Continue reading “THROUGH THE MIRROR”

KATAKAN SAYANG

“Kucoba untuk menahan gejolak itu hingga kuyakini bahwa aku telah benar-benar jatuh hati padamu.”

SENYUMMU MENYENTUH BENAKKU.” Ia menggumam, tepat di wajahku. “Aku lemah, tak kuasa untuk menolak keberadaanmu.”

Ragu, kutolehkan diri pada sisi lain jalan setapak; sengaja tak kubiarkan dirinya mendekat lebih jauh. Aku melangkah mundur, semakin mengeratkan genggamanku dalam saku sang duffle coat. Kulihat ia bergeming, maka kumanfaatkan hal itu dengan bergerak menjauh. Wangi romantis dengan sentuhan mawar dari semerbak tubuhnya menghentikanku, lagi. Ia mencegatku, membuatku mendongak akibat sosoknya yang menjulang tinggi.

black-white-infrared-charleston-battery-park-bench-kathy-fornal

“Jangan, sayang. Jangan menatapku seperti itu. Sorotmu menunjukkan padaku bahwa kau meragukanku,” suaranya menghalus, terdengar seolah ia tengah mengeluh.

“Aku—“

“Sstt! Kumohon, jangan menyela. Aku hanya ingin kau untuk duduk dan mendengar.”

Kewaspadaanku menjerit saat ia menyentuhkan telunjuknya di bibirku. Hanya sepersekian detik saja namun berhasil membuat jantungku berdebar. Ia meraih lenganku, menyeretku pada sebuah bangku panjang di tepi jalan dan memaksaku untuk duduk di sana.

Continue reading “KATAKAN SAYANG”

RETWEET

“Jangan mencuriku dengan hitam. Karena cokelat telah memikatku dengan kelembutan.”

03.40 pm • 14 Feb 16

Ada yang mengusik fokusku belakangan ini. Bukan hantu, bukan pula deadline dari Wacky dan Lit—yang nyaris menggertak tidurku di tiap malam buta. Kuanggap sepasang wanita itu sebagai pemicu lesu yang menyerang tubuhku. Meski sulit dibenarkan bahwa sesungguhnya kepalaku (lah) yang tengah menderita; kehilangan hasrat untuk menulis dan berimajinasi.

Sosok yang telah menggangguku itu memilih nightdancer94 sebagai nama pengguna. Sedikit lame, memang. Namun cukup menyita perhatian. Ia selalu mengulang hal yang sama tiap kali bait tweet yang kubuat meraung-raung di antara interaksi lain. Beruntungnya, satu petunjuk utuh membulatkan spekulasiku bahwa ia adalah seorang pria: penggemarnya sebagian besar gadis belia dan pula mereka meninggalkan jejak romantis yang tak patut disuguhkan di hadapan orang tua.

Continue reading “RETWEET”