SHADOW

as the shadow lit the colors around, as it revealed the form of a picture.

We watched the sun went down together. Suddenly became paralysed by its warmth. He said nothing, me neither. Sank in deep thoughts and tough, drowned into a heaped of past and lasts.

…and I started to count, very softly through my breath, as the light slowly went down, showing the shape of the island which was hiding beneath.

1, 2, 3 ….

img_20170212_172837
Corona Del Mar, California

 

“Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
— Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations.

Some say dark is the most beautiful thing, some also fear to be left by the light. Frightened, insecurity, sorrow—they live in the darkness, with the shadow shrouds their back, haunts them like the Angel of Death.

It is sad, for some people. But there is always a good thing.

Continue reading “SHADOW”

THE SWEET ONES

In this week photo’s challenge, show us tiny. Capture something at a smaller scale.

I, normally, am not a huge fan of sweets. But those little ones always remind me of my little sister. She said that the sweet one would boost her mood, to be much happier and full of excitement.

I bought it only for decoration on our fall-alike dining table—even though a “big bear” always steals it at the end. But it is nice to have it there, with those colors mix up with the flowers and candles.

img_20161116_143309

In response of Daily Post’s Photo Challenge: Tiny

NOSTALGIA

Tiap kali kutilik layar itu, rasanya seperti kehidupan yang lalu, jauh sebelum kuingat lagi kapan terakhir kali kusentuh dengan ujung jemariku sendiri.

Kutundukkan kepala, mendesah beribu kali menandingi sepoi angin yang berlalu-lalang. Seharusnya aku berucap syukur, bukannya mengobar hati dengan segala rindu yang selalu menusuk-nusuk kepalaku.

Dan, salahkan aku karena hingga saat ini aku belum sepenuhnya menolak untuk menoleh ke balik bahuku. Mungkin ia tak ingin ditinggalkan, mungkin ia tak ingin kutinggalkan.

20151225_0941461

Sengaja kusembunyikan seluruh jemariku di dalam saku, melindungi kuku-kuku kecilku dari udara musim gugur yang mulai menyatu dengan dingin dari utara. Kereta berikutnya belum juga berada dalam jangkauan, maka kuhabiskan waktuku dengan mengetuk-ngetuk hak sepatu di atas lapisan porselin berkualitas—sementara kubiarkan bangku kosong di belakangku dihuni oleh ibu tua berambut pirang bersama affenpinscher yang masih terbilang muda.

Seolah berada di antara tiang-tiang Patron 3/4, ada semacam koneksi yang menjembataniku dengan Stasiun Jakarta

Tidak, aku tidak sedang berada di Stasiun Jakarta. Tempat ini jauh lebih indah dan tertata dibandingkan dengan hiruk-pikuk di sana. Hanya saja—dan lagi-lagi—bayangan kegilaan di sudut ibukota itu selalu membuatku merenung, betapa kurindukan berbagai bising yang menyatu dengan segala keunikan itu dan memaksaku untuk menyebut nama-nama mereka yang kutinggalkan di sana dalam bisikan.

Masih kuingat senja itu, saat kulewatkan sore berawan bersama seorang gadis yang hanya terpaut beberapa tahun denganku, yang selalu kusebut sebagai teman dan musuhku, yang selalu kusebut sebagai adik tersayangku. Kami beradu tawa, terbahak hingga para insani mendelik tajam, saling merangkul diri seolah ia dan diriku merupakan satu jiwa, bahkan melontarkan seratus makian yang tak pantas didengar balita.

Continue reading “NOSTALGIA”

THE REFLECTION

Awaiting for the Summer (Orange, California)
Awaiting for the Summer (Orange, California)

 

The clouds smuggled those colors, before
Now they are waving a rave of soft pink and orange
Dangling, like a crease
Scenic, like shimmering light
Eradicates loneliness and grief

—Huglooms

Continue reading “THE REFLECTION”