HUGLOOMS

Intro 03Mereka menyebutnya pelik. Aku menyebutnya unik. Tanpa disadari bahwa di antara aku dan mereka, ada setitik ketidakcocokkan dalam menyalurkan sebuah anggapan; atau mengutarakan maksud hati dalam alunan kata.

Jangan menghakimiku dulu, aku tidak sedang menyalahkan mereka. Dari situ, yang ingin kusampaikan adalah betapa setiap manusia memiliki warna yang berbeda di dalam kotak kecil yang tersembunyi manis pada pojok-pojok kepala masing-masing.

Sebagian besar dari mereka memanggilku Ikha. Dipojok sana mereka meneriakku Leha. Adikku memanggil Jules, dan yang lain menyebutku gila. Dari situ kemudian kupahami bahwa aku telah kehilangan kepribadianku sendiri. Siapa aku? Mengapa tak ada satu nama utuh yang melekat di balik punggungku?

Oh, baru kuingat.

Mungkin ketika aku mengidamkan tittle ‘doktor’ sebelum nama pemberianku, otakku tak mampu menampung segala kerumitan dari istilah-istilah itu—lalu aku menghitung mundur dan mengganti sang cita-cita menjadi seorang awak kabin.

Lantas ketika aku mendambakan menjadi seorang jelita seksi berseragam Garuda Indonesia, di umur kelima tak sengaja kulukai diriku sendiri dengan membakar lengan kiri dan dada, meninggalkan bekas luka yang cukup menyita uang dan keramahan sang ibu untuk sekedar menyamarkan warna kulitku.

Sigh… aku menyerah. Pada akhirnya pikiranku yang selalu berimajinasi dan melanglang buana menyeretku menjadi seorang penulis katrok bergaya 90’s. Dengan begitu ada sedikit jalan kecil supaya isi kepalaku tidak menggembung dan mengubahku menjadi si gila nan mempesona dalam gua batu.

Ada yang ingin kau bagi denganku? Mungkin kau memiliki warna yang berbeda dalam kotak kecilmu[.]

Maret, 2015