CHOCHOLIA

Chocholia (2)
chocholia

Kau cukup memanggilku Lia, atau Choco—seperti nama peliharaan salah satu penyanyi terkenal dari negeri seberang sana. Namun jangan samakan aku dengan Choco yang sesungguhnya.

Aku bukan peliharaan, namun manis seperti makanan penutup khas Italia. Ya, seperti choco, seperti cokelat. Karena itu mereka pula menyebutku sang pemikat hati—kemampuanku untuk berbaur dan menyatu dengan keadaan melebihi keahlian ahli komunikasi dari universitas ternama.

Tak lebih dari manusia biasa, aku tidak memiliki kemampuan istimewa seperti layaknya Steve Rogers, pun tak selihai Tony Stark dalam merakit kabel-kabel kusut menjadi mesin canggih yang mampu membawanya melayang setinggi camar.

Aku, tumbuh di antara mereka yang memahami bahwa hidup adalah sesuatu yang patut untuk disyukuri; tinggal di antara mereka yang mengerti bahwa keseimbangan antara spiritual dan kehidupan nyata merupakan sesuatu yang penting.

Seperti yang muncul pada salah satu gambar di situs pencarian Google mengenai kata-kata mutiara, “Banggalah pada dirimu sendiri, tersenyumlah ketika tersakiti. Hati tanpa benci membentuk jiwa yang tegar dan damai.”  Mari kita ciptakan kehidupan yang indah dengan saling menghargai dan menghormati sesama. Tak ada yang salah dengan perbedaan, jika memang iya, yang salah berarti ketakutanmu sendiri.

January, 2015