V FOR VOWED (I)

Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Advertisements

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Silau, hanya itu yang ia temukan di sekelilingnya. Meski sepasang mata turquoise―yang baginya merupakan unsur penting pemikat wanita―terpejam kuat, ia mampu merasakan silau itu dari kehangatan yang merayap ke tiap pori-pori. Lembut, sang penerang menyentuhnya dengan segala godaan hingga membuatnya terbaring lemah.

2016-11-23-13-07-06

Selagi ia masih mencari kebenaran di dalam benaknya, sekujur tubuhnya kemudian mendadak mengejang, tepatnya ketika ia mendengar sebuah bisikan dari kejauhan. Tak memiliki kendali akan tubuhnya sendiri, ia hanya mampu menggerakkan kepala tak karuan. Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia semakin gelisah. Rasanya ia ingin mati saja.

…jika kau mati, siapa yang akan membelai keabadianku?

Dan getaran itu membuatnya membeku seketika. Ia belum bisa mendeteksi apakah suara itu milik seorang pria atau wanita. Yang ia tahu, bisikan itu kini berada tepat di dekat telinganya, mencekat napas dan kesadarannya, seolah suara itu menguasainya, segala yang dimilikinya.

…wake up, my man.

Jari-jari yang dimiliki oleh si pemilik suara itu menjangkau dadanya, menuntun ujung telunjuknya untuk membentuk sebuah garis lurus, menciptakan sentuhan lembut yang nyaris menggoda gairahnya untuk merintih indah.

…wake up, V.

***

Ia sadar bahwa napasnya terengah-engah. Membuatnya terpaku sejenak lantas membungkam mulutnya yang menganga. Liurnya ditelan bulat-bulat, selalu begitu, setiap kali ia tergugah dari sentuhan singkat yang mengganggu mimpi-mimpinya.

10.04 am.

Dugaannya melesat, ia mengira jam di atas coffee table di sudut ruang akan menunjukkan angka dua belas. Setidaknya ia terjaga lebih cepat, sesuatu yang sulit untuk diramalkan mengingat malam lalu ia mencoba untuk membunuh jenuhnya bersama gelas-gelas alkohol dan beberapa putung rokok.

Merasa bahwa berbaring cukup lama merupakan ide yang buruk, pria itu akhirnya berjengit dari ranjang, menggeliat bagai tupai di musim dingin sembari menyisir rambut pirangnya yang berantakan. Sesekali ia memukul kepalanya—sama sekali tak mampu mengingat episode yang terbentuk dari pikirannya yang dipenuhi minuman keras.

Perhatiannya kemudian mengawasi secarik putih di atas meja. Ia pun bergerak meraihnya, menemukan deretan kata yang berhasil memancing kesadarannya. Sepasang bola matanya berpaling, memindai kamar tidurnya dengan warna hitam dan putih yang mendominasi. Tak ada siapa-siapa di sana, hanya deretan pakaian kotor yang dilepas sembarangan.

“Mari kita bicara, temui aku setelah pertemuan berakhir.”
—Sonia

Damn, V! Kenakan celanamu!”

Seketika jantung pria itu berdenyut-denyut saat seorang pria lain memasuki ruangannya. Bagai angin, atau mungkin karena ia belum sepenuhnya tersadar,  Jungkook segera menyambar celana pendek hitam di atas lantai lantas menutup bokongnya yang telanjang. Ia mengerang, menolak ajakan baiknya.

“Mengapa kau di sini? Kita tidak bercinta semalaman, ‘kan?” akhirnya ia membuka mulut, suaranya serak, masih diselubungi oleh gelembung-gelembung bir.

Jungkook meringis, tak dapat menahan kegelian dari bualannya. Pria itu menepikan tubuhnya hingga ia kembali jatuh di atas ranjang, “aku masih belum bisa membayangkan adegan itu—ketika kita bercinta bersama—jadi jangan pernah berharap,” ujarnya.

Ia tergelak, menarik ujung selimut untuk membalut tubuh tanpa busananya. Sengaja ia membiarkan Jungkook mengucap makian-makian khasnya. Biasanya hal itu dapat membantu mengembalikan kesadarannya.

“Bisakah kau membantuku untuk menjelaskan semua ini?” jemarinya menunjuk-nunjuk pakaiannya yang berantakan. Kepalanya masih berdenyut pusing, maka ia hanya mampu menggumam halus sambil berguling di atas ranjang.

“Kau sama sekali tak mengingatnya?” Jungkook nyaris menjerit.

V menggeleng lemah, bibirnya mengerut, yang, bagi para wanita yang mengidamkannya merupakan tindakan menggemaskan. Namun tidak bagi Jungkook.

Sebelum Jungkook menjelaskan, pria itu melayangkan seulas seringaian. Jungkook mengendurkan rahang, lalu menyebutkan nama Kylie, wanita seksi yang ditemuinya semalam. Tentu saja, ia mengetahui finalnya: Kylie terjebak oleh pesonanya, atau mungkin saja ia sendiri yang menggoda sang wanita saat ia ditelan aroma alkohol hingga keduanya berakhir di suatu tempat untuk memuaskan—

Shit.

V memaki dalam hati. Ia tak ingin menutup kesimpulan terakhir dari spekulasi yang ada di dalam benaknya. Karena ia kini memahami pengertian dari penyataan Sonia pada secarik kertas yang sengaja dirobek paksa dari salah satu halaman buku kosong.

Sonia mengetahuinya, dan itu berarti wanita itu tak akan mudah untuk dibohongi—lagi.

Time to go to work. Come on!” Jungkook membuyarkan lamunannya.

V memungut keberaniannya untuk bergerak. Ia sama sekali tidak takut, hanya saja, ia tak mampu membayangkan Sonia menemukannya tengah beradu mesra dengan Kylie. Itu pun jika hal itu benar-benar terjadi. Ia tidak mengingatnya, sama sekali tidak mengingatnya.

Yeah, saatnya bagi V untuk menghadapi kehidupan nyata. Bersama Jungkook yang menarik tubuhnya menuju kamar mandi, ia mengeluh bagai kuda sebelum mengawali Sabtu siangnya.

…bersambung…

2016-11-23-12-59-28

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s