DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Advertisements

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Lucy memukul keningnya, menelisik kembali bunyi hebat yang meraung-raung di telinga. Ternyata ia masih mendiami alam bawah sadarnya. Pria asing yang selalu muncul menggodanya itu merupakan sebuah bukti yang tak mampu untuk ditolak, keindahan yang tak dapat ia temukan di kehidupannya yang membosankan.

“Biarkan aku terjaga, V.” Akhirnya Lucy menyebut nama si pria. Lembut, tanpa penuh paksaan.

“Tapi aku masih rindu,” pria itu kembali membantah. Suaranya yang parau nan sensual itu terdengar bagai lagu, menggoda Lucy hingga tubuhnya bergerak tanpa kendali, memangkas jarak di antara keduanya dan membuat gadis itu terduduk di tepi ranjang, tepat pada posisi semula saat pertama kali ia terjaga.

Tercekat oleh napasnya, Lucy hanya mampu terdiam, mengigit bibir tebalnya  dengan kuat dan mencoba untuk mengontrol diri. Tiap kali ia menjumpai wujud V, ia selalu gagal untuk menghitung detak jantungnya. Pria itu terlalu mustahil—Lucy mampu mendeteksi kekuatan di balik tubuh pucatnya, serta wajah dengan tiap detail yang sempurna. Dan bagi Lucy, keistimewaan itu hanyalah dimiliki oleh seorang dewa.

Detik berikutnya Lucy menggeleng, “Sebaiknya kita akhiri saja. Lagipula kau hanyalah buah bayangan yang tercipta dari depresi dan kesendirianku,” ucapnya, nyaris menggumam.

Kemudian Lucy menemukan senyum di wajah pria itu memudar. Kelopak matanya yang semula tertutup kini menyajikan kilatan biru pada sepasang irisnya. Tubuh V bergerak lambat, bangkit dari tidurnya lantas memposisikan diri di hadapan Lucy. Kulit pucatnya membiaskan cahaya lembut namun tidak menyakitkan mata. V tanpa busana bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan bagi Lucy.

“Kau tahu bahwa aku bukanlah sekedar mimpi,” pria itu menyentuh halus dagu Lucy, mengajaknya untuk menatap matanya yang menyala biru. Rambut pirangnya berayun ringan saat ia memiringkan kepala, menelisik kesadaran Lucy. “Kuajukan sebuah tanya, dan kau menjawab ya.” imbuhnya.

Lucy mengeratkan bibir. Yang ia tahu, saat ini V tengah menggertaknya dalam lirih. Sentuhan kecil yang diciptakan pria itu telah mengantarkan ribuan pasukan bertombak besi yang siap meruntuhkan benteng pertahanannya. Dan sialnya ia selalu lemah, apalagi ketika V menyorotinya dengan berbagai makna yang tak dimengerti.

“Hanya kau yang dapat mengembalikan sayapku, Lucie. Jadi bersabarlah, hingga waktunya tiba.”

V mendekat, menciptakan bunyi kecil dari tempat tidur Lucy yang tak seluas ukuran biasa. Lucy mengetahui gerakan itu, maka ia memutuskan untuk menahan napasnya. Saat bibir pria itu mencumbu miliknya, rasanya seperti heroin, membuatkan melayang jauh dari daya gravitasi.

Lucy hendak menjawab ciuman itu namun V menghentikannya. Dari jarak yang sangat dekat, Lucy mampu mencium aroma lily dari napasnya yang menyejukkan. V menyeringai, seolah mengerti bahwa Lucy menginginkannya lebih dari itu.

“Hanya di dalam mimpi saja, Lucie. Hanya di dalam benakmu saja,” V berucap lembut, mengajak Lucy untuk jatuh ke dalam dekapannya.

Meski pria itu selalu menyebut namanya dengan logat yang aneh, Lucy sama sekali tak peduli. Ia berusaha untuk meraup tubuh pucat itu dalam dekapannya, mencium wangi maskulin bercampur aroma bunga yang sulit untuk dilukiskan. Jemarinya mengusap lembut punggung si pria, melewati sepasang garis kasar yang tercipta dari luka lama akibat benda tajam. Yang ia tahu, V saat ini tengah membisikkan sebuah lagu sendu, mengantarnya hingga ia kembali tertidur dalam pelukan.

Dan saat Lucy membuka mata, ia kini menyadari bahwa bunyi nyaring itu berasal dari weker di atas meja, membawanya kembali pada dunia nyata.

b7d6af01e7241a952a21d33c0a2a4dd8

***

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

2 thoughts on “DALAM SEBUAH PELUKAN”

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s