MERMAID – CHAPTER 05

Solusinya adalah dengan mengingat kembali pertentangannya dengan Sviesa malam itu, meski hal itu terlalu menyakitkan bagi Sabina.

Advertisements

MENGAPA PRIA YANG MENGAKU SEBAGAI MAJIKANMU ITU selalu mengawasi seolah kau adalah buruan makan malamnya?”

Sabina tertegun dari pikirannya saat Dolca mengaduh dalam bisikan. Gadis dalam genggamannya itu masih menaruh kewaspadaan tiap kali dirinya mengintip dari sudut mata dan menemukan Lee Hyuk Jae menjawab keresahannya dengan sorotan tajam penuh prasangka. Meskipun ia telah menyeret Dolca ke tepi balkon, jarak itu nyatanya belum cukup meyakinkan si gadis untuk tidak berlebihan. Ya, Lee Hyuk Jae dan Choi Minho tetap bergeming di tempat mereka―sesekali merapatkan lipatan lengan di dada atau memperbaiki letak bokong mereka.

palace_of_the_mountain_king_by_erikshoemaker-d7ww4uh

Sudah terlalu lama bagi Sabina untuk berdiam diri. Semakin lama ia bersembunyi, semakin cepat Sviesa menghilang dari ingatannya.

Sabina lantas tersenyum, mendengungkan desah panjang yang melelahkan, “Ia pikir kau adalah seorang penguntit, Dolca.” Jemarinya mengeratkan genggaman sebelum akhirnya melepas sentuhan di tangan si duyung. “Apakah Liu baik-baik saja?” imbuhnya.

“Panggil namaku dengan Sulli, Sabina. Choi Minho menginginkan identitasku dan Liu untuk tetap tersembunyi,” kembali Dolca mengintip sosok Minho dari balik tirai tipis di jendela yang memisahkan mereka. Suaranya sengaja direndahkan, tak ingin sepasang manusia itu mendengar diam-diam.

“Begitu pula dengan mereka,” Sabina memberengut, menyetujuinya, “Leeteuk memberiku nama yang buruk. Aku tidak begitu menyukainya,” ucapnya disertai anggukan yang bergerak cepat dalam detik.

Sementara membiarkan gadis disampingnya untuk mengatur napas, Sabina baru menyadari bahwa pria dengan warna mutiara biru yang mendominasi pakaian agungnya itu selalu tertuju padanya saat dirinya dan Lee Hyuk Jae membentuk jeda di tengah perbincangan mereka. Ia tak bisa menguping, yang ia yakini hanyalah keseriusan yang terungkap dari wajah sang pemilik Arklys dan tegang di wajah Minho.

“Haruskah kuucapkan terima kasih padanya?” tanyanya, membawa kembali perhatian Dolca.

Sabina sama sekali tidak mengetahui apa yang tengah dilakukan si gadis. Yang ia tahu, dari balik tirai dan kaca tipis itu, ia menemukan Minho melayangkan secarik senyum yang, tentu saja, bukan ditujukan padanya.

“Jika bukan karena Choi Minho―dan jika aku tak menyembah untuk meminta belas kasihannya, ia tak akan memberiku sepasang kaki ini,” jawab Dolca.

Sabina menoleh, mendapati gadis itu tengah menatap sepasang kakinya yang terlindungi oleh gaun panjang yang melambai-lambai.

Benar, hampir saja ia lupa bahwa hanya ia dan Sviesa yang dapat membentuk ekor mereka menjadi sepasang kaki. Entah sebanyak apa sakit yang diderita Dolca saat ia menerima sebagian organ manusia itu di tubuhnya. Kali ini ia hanya perlu bersyukur bahwa masih ada yang peduli pada Dolca, abdi khususnya di laut gorgóna.

“Sepertinya ia tertarik padamu, Dolca.”

Kali ini dagu Sabina bergerak lurus menuju eksistensi Choi Minho di dalam ruangan, membuat Dolca menepis lembut bahunya. “Tidak mungkin. Ia dikenal sebagai pemimpin wilayah barat yang angkuh dan tak punya hati,” ujarnya.

Sabina mendengus, “Benarkah?” yang lantas disambut anggukan hebat dari Dolca. Lagi-lagi ia tersenyum, cerita singkat yang diutarakan si gadis justru mengingatkannya pada Lee Hyuk Jae, sang seiryuu berhati batu.

Sesaat keduanya terdiam, tenggelam dalam rona pilu yang memancar dari mata sendu yang mereka miliki. Sabina menemukan gerakan Dolca yang rikuh. Gadis itu lantas memilih untuk memunggunginya, mengamati ribuan titik di bawah pelupuk mata, menolak untuk tidak berhadapan dengan sepasang pria yang masih mengamati mereka tanpa suara.

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan―perihal penyerangan tersebut, bukan?” Awalnya Dolca ragu, hingga akhirnya ia memberanikan diri.

“Katakan padaku, Sabina.” Ia kembali bicara karena Sabina sama sekali tidak memberikan reaksi, “Minho membawaku ke laut gorgóna tanpa sepengetahuan genbu dan aku yakin kau tak akan mampu untuk sekedar membayangkannya.”

Seketika Sabina menoleh, mencoba memposisikan diri sama rendahnya dengan Dolca. Napasnya seolah tercekat di dada begitu ia menemukan gadis itu memejamkan mata, meremas-remas jemarinya yang ramping. Ia mengenal sikap itu dengan baik; Dolca sedang berusaha untuk menahan emosinya yang meluap-luap.

Ia hanya mampu mendengarkan, menolak kenyataan pahit ketika Dolca bertutur kata bersama rincian yang menghentak-hentak jantungnya; ketika gadis itu menemukan bangkai-bangkai hewan di dasar lautan, tertimbun tanah maupun diselimuti kelp dan rumput laut, dengan tubuh yang telah terkikis air asin menyisakan tulang dan urat nadi.

“Aku tak tahu,” ucap Sabina, suaranya nyaris menghilang bersama semilir angin yang menghembuskan helai rambut hitamnya. Ia menunduk, berusaha untuk menolak tatapan Dolca agar rasa bersalah itu tidak menjeratnya lagi.

“Kuharap kekasihmu itu tidak bersekongkol dengan para vermillion untuk membunuhmu dan Sviesa.”

Sabina meremas untaian kain yang membelit pergelangan tangannya, merasakan amarah seolah pernyataan Dolca berusaha menelanjangi tubuhnya. Iris di matanya berubah maroon, menyoroti si gadis meski sosok berwajah pucat di sampingnya itu masih menolak perhatiannya.

“Tanpa sengaja kudengar perbincanganmu dengan Sviesa malam itu,” kali ini Dolca membalas tatapannya. Ia sengaja mengatupkan bibirnya yang bergetar, menyunggingkan seulas senyum tawar yang lambat laun menguatkan ketakutan Sabina.

“Dia bukan kekasihku, Dolca!” Ia menolak dengan membangkitkan nada suaranya, “dan aku tak akan bisa menemukan semua jawaban itu hingga kutemukan Sviesa!” kemudian ia menyentuh lehernya yang rasanya hampir habis terbakar amarah.

Ia tak tahu persis kapan Dolca mengintainya bersama Sviesa―lebih tepatnya, memergokinya. Dari segala percekcokan itu, ia sendiri pun belum memahami dan mengerti. Jika saja ia tidak menolak situasi itu, Sviesa tak akan meninggalkannya dan berakhir di suatu tempat antah-berantah; dikurung, disiksa, dikuliti oleh suzaku keji berkedok vermillion.

“Minho dapat membantumu, Sabina. Kau pikir mengapa ia datang jauh-jauh kemari jika bukan untuk memastikan apa yang dilihatnya denganku di laut gorgóna?” kembali Dolca berkomentar, nadi di lengannya menegang saat ia menggenggam pergelangan tangannya yang terbalut kain sapphire.

Sabina menunduk. Sungai yang mengalir menuju hiruk-pikuk kota di bawah sana seolah memanjang melenyapkan pandangan. Langit seketika meredup, menjatuhkan kilatan petir yang telah siap-sedia menyerang jantungnya.

Dolca tidak bodoh. Mungkin ia memahami kekalutan Sviesa malam itu, jauh melebihi pemikirannya sendiri.

“Ini bukan hal sepele, Sabina. Penyerangan itu memiliki keterkaitan dengan kekacauan yang terjadi di berbagai penjuru arah. Dan gorgóna adalah tempat terakhir yang mereka cari untuk mencapai tujuan mereka.”

Kerut di wajah Sabina semakin menjadi-jadi, “Mereka? Maksudmu, para vermillion itu?”

“Cukup, Dolca!” tiba-tiba Choi Minho muncul di antara mereka, berjengit dan berdiri angkuh di hadapan Dolca, melindunginya, “Biarkan ia berpikir dan menyelesaikan apa yang telah ia mulai,” ucapnya datar.

Ia masih belum mengerti dengan segala kebingungan ini dan kemunculan Choi Minho justru membuatnya semakin kebingungan. Amarahnya bangkit ketika pria dengan simbol penguasa barat di dadanya itu menyingkirkan Dolca dari pengawasannya, seolah ia adalah binatang mematikan yang akan memakan tubuh Dolca hidup-hidup.

“Penjuru barat dikenal sebagai tempat yang jauh dari keporak-porandaan, memiliki hubungan terkuat di antara para byakko dan tidak pernah terlibat dengan sesuatu yang terkutuk. Dan kau, Sabina Mara,” Minho memberi jeda dengan membidiknya dengan keseriusan di wajahnya, “Kau telah membuat kami menjatuhkan diri ke dalam kekacauan ini.”

Tubuh Sabina bergetar, mati-matian ia berusaha untuk menghela napas sebanyak mungkin. Kepalanya mendadak ngilu, mendengungkan kengerian yang ditimbulkan oleh suara dan lengkingan hewan-hewan di laut gorgóna yang telah mati.

“Sudah saatnya kau untuk memutuskan,” ucap suara lain di sampingnya.

Itu Lee Hyuk Jae, dan entah jenis sihir apa yang dimiliki pria itu hingga sentuhan lembut yang ia ciptakan di bahunya membuat jiwa kelamnya mulai menerang. Keduanya saling bertatapan, membisikkan sesuatu di dalam pikiran mereka, tanpa mereka ketahui, untuk memercayai satu sama lain.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

3 thoughts on “MERMAID – CHAPTER 05”

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s