THROUGH THE MIRROR

Aku tak pernah membisikkan namanya. Namun di bawah sadarku, kupahami bahwa sesungguhnya aku menginginkan kehadirannya.

Advertisements

Satu, dua, tiga… kemudian tak kutemukan lagi sisa daya untuk sekedar menyentuh piringan kecil keempat yang berderet rapih di pusat chiffon pelindung tubuhku. Meski telah kuhirup wangi kamomil yang berbaur dengan rempah menyengat, nyatanya masih terasa ngilu di dalam sana; tepat di pusat titik antara sepasang alis gelapku. Lebih dari itu, setiap kali lelah dan penat datang menghampiri, ada sebuah bayangan di antara cahaya redup yang sengaja―dan selalu―dibentuk oleh akalku.

wedding-colorado-longmont-cakeknife-portrait-lighting-photographer-photography-getting-ready-pasturesofplenty-rustic-farm-outside-beautiful-unique-happy-love-farm-makeup-reflection-eye-liner-gettingre

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasrat dan harapanku di hadapan cermin manapun.

Kutatap kaca yang sama tingginya denganku itu seraya mendengus lunglai. Kembali kubisikkan kata-kata itu dalam benakku, bahwa aku adalah satu di antara gadis beruntung yang seharusnya lebih banyak bersyukur ketimbang menggerutu dan menyesali hidup. Maka kubuka cermin berpintu itu, menyibakkan deretan kain mahal yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum pernikahanku dengan Park bulan lalu.

Hanya beberapa detik saja, hingga kurasakan sepasang lengan kokoh menyergap tubuhku yang lelah.

“Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih untuk tak bergerak,” suara lembut itu berhembus di telingaku.

Aku mengerjap sesaat sebelum akhirnya menghembus lega. Kukenal suaranya, kukenal lengan kokohnya, kukenal sentuhannya dan kukenal irama napasnya―sebaik kukenal sosok Park, lelaki yang telah mengikatku dengan upacara abadi, yang telah berhubungan denganku secara fisik.

Daun cermin itu kemudian kututup kembali, menimbulkan salinan yang sama persisnya dengan cahaya-cahaya nyata di sekelilingku. Itu dia, sosok misterius yang selalu menggertak nyaliku akan kehadirannya yang tak mampu kudeteksi.

“Kau―lagi,” ucapku.

Kusentuh kulitnya agar ia melepasku. Pria itu menolak dengan menusukkan kuku-kukunya yang tajam di perutku. Hal itu membuatku mengalah, membiarkannya semakin merekatkan diri. Dari redup cahaya di dalam ruang, aku hanya bisa melukis rambut hitamnya yang berantakan. Ia selalu menyembunyikan wajahnya dariku, dan hingga saat ini aku masih menerka-nerka.

“Sungguh wanita yang sangat keras kepala,” ia menyapukan bibirnya di rambutku, “mengapa kau tak mengindahkan kata-kataku, sweetheart.”

Bibirku sengaja kugigit paksa. Benar, ini bukan kali pertama ia mengunjungiku. Seketika kuingat lagi perbincangan lalu saat ia menghujam jantungku di tengah sore teduh; waktu kupandangi wajahku pada cermin kecil, mengamati bercak merah yang timbul di pipi.

“Waktu itu kau hanya menggertakku saja, aku tahu.” Kugenggam jemariku sendiri tanpa menoleh ataupun mengalihkan sorot mataku padanya.

Kulihat ia bergerak lambat untuk menyibak rambut hitamku yang tergerai. “Benarkah?” gumamnya.

Aku terdiam. Ia masih menusuk-nusuk perutku sementara bibirnya kini mencambuki leherku yang berkeringat.

“Entah mengapa pikiranku membisikkan sesuatu yang lain, sweetheart,” lagi-lagi suaranya berhasil memanggil hasratku yang terpendam lama. Ia menggumamkan sesuatu yang tak kuketahui, hingga bibirnya menjauh untuk menghirup rambutku. “Kau melakukannya seolah-olah kau menginginkanku untuk datang kembali,” ujarnya, mendesah.

You wish,” kucoba untuk berucap kasar.

“Seseorang merindukan sentuhanku,” jemarinya kemudian berpindah, meraih kancing keempat yang belum terjamah olehku sebelumnya.

Kutolak gerakannya dengan menggertak, “Jangan semena-mena, maniac!”

Sstt!” ia kembali menghentikanku dengan satu kata tak berkarakter. Tubuhnya mendorongku hingga menghentak cermin, membuatku terkesiap dan membungkam diri. “Aku tak akan melukaimu, jadi tenanglah,” bisiknya, masih dipenuhi kelembutan yang tak pernah kutemukan sebelumnya.

Aku menelan liur.

Dari sebagian wajahku yang terhimpit cermin, kudapati sosok itu masih menghujaniku dengan ciuman-ciuman lembut di rambutku. Ia mengenakan kaus hitam yang sama; seolah ia tak memiliki pakaian lain. Wangi tubuhnya pun masih sama―seperti bau rerumputan di dalam hutan tropis yang telah disirami hujan dan embun pagi.

Lagipula, bukan ketakutan dan kengerian yang melingkupiku saat ini. Karena di tiap kehadirannya, ada sedikit kebutuhan yang timbul dari dasar benakku, nikmat akan ketenangan dan kenyamanan. Percayalah, hingga saat ini ia tak pernah menunjukkan ancaman keji selain mencumbu dan menyentuhku. Sialnya, aku benar-benar menyukainya, menyukai sikapnya.

“Sepertinya kau cukup kesulitan untuk menjauhiku,” ucapku, setelah memenangkan diri atas kesadaranku yang sempat hilang beberapa detik lalu.

Ia mendengus, “Aku tidak sedang mengincar uangmu.”

“Bukan jawaban itu yang ingin kuketahui.”

“Lantas?”

Kelihaiannya dalam menolak pertanyaanku membuatku selalu mati kutu. Kucoba untuk bersabar―hingga saatnya nanti kuketahui namanya, hingga saatnya kuketahui tipu muslihatnya untuk mencapai ruang pribadiku yang cukup sulit untuk dijamah orang lain.

“Apa maumu―mengingat ini bukan pertama kalinya kau mendadak muncul mengejutkan bayanganku,” tanyaku.

Kurasakan ia semakin mengeratkan tubuhnya padaku, “Aku sendiripun tak tahu mengapa kau selalu mengusik kepalaku, Mia. Namun ada satu hal yang mutlak disini,” ia menghela napas panjang, dadanya bergerak naik-turun di balik punggungku, “kesepian telah menggerogoti jiwamu.”

Aku mendengus tajam, nyaris membantah. Bagaimana mungkin di tengah kemewahan yang kumiliki ini ada kesepian yang menaungiku. Park menciptakan istana kecil bagiku dan keluargaku di tengah kota. Park merubahku menjadi ratunya dan menghiasi tiap sudut tubuhku dengan hiasan mahal. Kumiliki apapun yang tak dimiliki gadis manapun, bahkan aku dapat melakukan hal-hal yang kuingini.

“Dan sudah kukatakan berkali-kali untuk tidak membisikkan hasratmu di depan kaca. Lihatlah, kau memanggilku lagi dan lagi,” pria itu kembali berucap, menyuguhkan heran di hadapan isi kepalaku.

Tunggu dulu.

Aku tak pernah membisikkan namanya. Aku tak pernah menginginkannya untuk kembali. Aku tak pernah menunjukkan hasratku dan harapanku di depan cermin manapun.

Masih berkutat dengan benakku sendiri, jemarinya kemudian mencengkeram sepasang bahuku. Untuk pertama kalinya, ia memaksaku untuk berhadapan dengannya. Ragu kutatap wajahnya yang tampak mulus tanpa noda. Daguku terangkat, menunjukkan bahwa ia jauh lebih tinggi dariku. Kulit tubuhnya pun lebih pucat dari milikku, cocok dengan sepasang mata hitamnya yang kelabu.

Ia menunduk, mendekatiku. Tanpa penolakan, kubiarkan bibir tipisnya menyerbu bibirku, melumatnya seolah bagian itu adalah santapan makan malamnya. Tubuhku membeku seketika, tak mampu memberikan respon atas perlakuannya. Kuperhatikan bulu matanya bergerak-gerak seiring harmoni bibirnya yang tak henti mencumbuku.

Kuharap ia tak mampu mendeteksi dadaku yang menggebu-gebu. Oh, tidak. Kini kuakui bahwa aku menyukai tindakannya.

Pria tak bernama itu melepasku, napasnya sama sekali tak terburu-buru seolah ia telah dilatih untuk menjadi seorang pemain seksual. Dalam kaku, sepasang matanya menatapku. Bibirnya menunjukkan sebuah senyum yang mematikan. Ugh, lagi-lagi aku menyukainya.

“Lain kali aku tak akan mengampunimu, berhati-hatilah,” bisiknya mesra.

Sejenak jemarinya mengusap kening dan pipiku dengan lembut. Telapak tangannya lantas menyelimuti mataku. Kubiarkan kelopak mataku meredup, merasakan sentuhannya menghilang dari jangkauanku. Saat kubuka mata, ia tak lagi di sana. Seiring kepergiannya, tubuhku terbebas dari pesonanya.

Ya, aku terpaku, masih terpana oleh ciumannya. Namun ia telah pergi bersama angin, tanpa jejak dan suara.

Siapakah dia?

***

Thank For Your Visit Huglooms

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s