NOSTALGIA

Tiap kali kutilik layar itu, rasanya seperti kehidupan yang lalu, jauh sebelum kuingat lagi kapan terakhir kali kusentuh dengan ujung jemariku sendiri.

Advertisements

Kutundukkan kepala, mendesah beribu kali menandingi sepoi angin yang berlalu-lalang. Seharusnya aku berucap syukur, bukannya mengobar hati dengan segala rindu yang selalu menusuk-nusuk kepalaku.

Dan, salahkan aku karena hingga saat ini aku belum sepenuhnya menolak untuk menoleh ke balik bahuku. Mungkin ia tak ingin ditinggalkan, mungkin ia tak ingin kutinggalkan.

20151225_0941461

Sengaja kusembunyikan seluruh jemariku di dalam saku, melindungi kuku-kuku kecilku dari udara musim gugur yang mulai menyatu dengan dingin dari utara. Kereta berikutnya belum juga berada dalam jangkauan, maka kuhabiskan waktuku dengan mengetuk-ngetuk hak sepatu di atas lapisan porselin berkualitas—sementara kubiarkan bangku kosong di belakangku dihuni oleh ibu tua berambut pirang bersama affenpinscher yang masih terbilang muda.

Seolah berada di antara tiang-tiang Patron 3/4, ada semacam koneksi yang menjembataniku dengan Stasiun Jakarta

Tidak, aku tidak sedang berada di Stasiun Jakarta. Tempat ini jauh lebih indah dan tertata dibandingkan dengan hiruk-pikuk di sana. Hanya saja—dan lagi-lagi—bayangan kegilaan di sudut ibukota itu selalu membuatku merenung, betapa kurindukan berbagai bising yang menyatu dengan segala keunikan itu dan memaksaku untuk menyebut nama-nama mereka yang kutinggalkan di sana dalam bisikan.

Masih kuingat senja itu, saat kulewatkan sore berawan bersama seorang gadis yang hanya terpaut beberapa tahun denganku, yang selalu kusebut sebagai teman dan musuhku, yang selalu kusebut sebagai adik tersayangku. Kami beradu tawa, terbahak hingga para insani mendelik tajam, saling merangkul diri seolah ia dan diriku merupakan satu jiwa, bahkan melontarkan seratus makian yang tak pantas didengar balita.

20150308_1732151

Ia tidak menanggapi ataupun memberikan sebuah reaksi kecil. Yang kutahu dari caranya menggenggam lenganku, ia sedang mencoba untuk menahan kekecewaannya. Kemudian kami terdiam, memandangi sisa mentari yang mulai tenggelam menyisakan gelap

Kuperhatikan langkahnya saat meniti anak-anak tangga. Tak kusangka ia akan tumbuh tinggi menyaingi tubuh kecilku. Kadang mereka kira bahwa ia adalah kakakku, dan hal itu membuatnya meneriaki sumpah-serapah atas ketidakadilan itu.

Kami selalu berhenti di stasiun yang sama, menapaki tangga yang sama, melewati para pedagang kaki lima yang sama. Hingga kumandang adzan menegunkanku, kuyakini bahwa kami telah menghabiskan enam jam di pusat kota. Ia tetap berjalan mendahuluiku, tanpa memberiku sedikit celah untuk menyejajarkan ujung sepatunya bersama milikku. Lalu, setelah melewati keramaian stasiun, ia lantas memelankan ritmenya.

“Apa kau sudah yakin?” Ia menggumam, nyaris tak terdeteksi oleh inderaku.

Aku mendesah. Sudah kuduga ia akan membawa buah pembicaraan itu ke permukaan.

Tak ingin kutatap matanya, kualihkan perhatianku pada aspal berdebu di bawah pelupuk mata, “Berapa kali kau mengajukan pertanyaan yang sama itu padaku, hmm?” ucapku, diiringi setitik canda yang cukup hambar.

Melewati jembatan di atas kanal, ia kemudian menghentikan langkahnya. Ia mengangkat dagu, hal yang tak biasa ia lakukan—karena kutahu selama ini ia tak pernah tertarik untuk menelisik awan-awan yang bergerak di atas kepalanya. Ia tahu benar jawaban atas pertanyaan itu sendiri. Aku tidak sedang menyalahkannya. Karena aku mengerti, mengapa ia selalu melontarkan tanya itu hingga detik ini.

Kami saling terdiam. Bahkan aku dapat mendeteksi suara gemerisik air yang mengalir di dalam kanal. Hingga matahari terbenam dan menyisakan gelap, gadis itu mendekatiku, memberiku sebuah pelukan hangat yang selalu membuatku tegar dan kuat.

Aku akan merindukanmu, selalu.

Itulah kalimat yang kuingat saat terakhir kali kami bertemu. Dan sialnya, ingatan itu selalu berhasil membuatku membludak pilu, membuatku seperti wanita bodoh yang saat ini tengah berdiri kaku seolah habis ditolak cinta oleh seorang pria.

Tak lama, kudengar bunyi sahutan dari pengeras suara bertalu-talu bersama siulan sirine. Itu keretaku, yang masih kutunggu sejak dua puluh menit lalu. Setelah kududuki bangku dan menempatkan diri pada sudut yang tak terjamah, kurekatkan tubuh dalam balutan switer tebalku. Lucu, mungkin, bahwa aku selalu menyempatkan diri—setidaknya sekali dalam seminggu—untuk sekedar menaiki gerbong ini. Karena hanya ini yang dapat kulakukan untuk mengenang kembali senyumnya dan semangatnya.

Kurindukan waktu itu; ketika kami berdesakan di dalam kereta tua; ketika kami mulai mengomentari pria-pria sialan yang berpura-pura tidur dan tidak memberanikan diri untuk berbagi tempat duduk dengan para manula; ketika kami saling menunggu satu sama lain setelah bekerja keras seperti kerbau di padang padi.

Ya, hanya ini yang dapat kulakukan untuk mengenangnya, hingga saatnya nanti aku kembali.

***

In response of Daily Post’s Photo Challenge ‘Nostalgia‘: show us what nostalgia means to you — perhaps a moment or scene that makes you feel wistful, happy, sad, or somehow longing for the past.

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s