KATAKAN SAYANG

“Kucoba untuk menahan gejolak itu hingga kuyakini bahwa aku telah benar-benar jatuh hati padamu.”

Advertisements

SENYUMMU MENYENTUH BENAKKU.” Ia menggumam, tepat di wajahku. “Aku lemah, tak kuasa untuk menolak keberadaanmu.”

Ragu, kutolehkan diri pada sisi lain jalan setapak; sengaja tak kubiarkan dirinya mendekat lebih jauh. Aku melangkah mundur, semakin mengeratkan genggamanku dalam saku sang duffle coat. Kulihat ia bergeming, maka kumanfaatkan hal itu dengan bergerak menjauh. Wangi romantis dengan sentuhan mawar dari semerbak tubuhnya menghentikanku, lagi. Ia mencegatku, membuatku mendongak akibat sosoknya yang menjulang tinggi.

black-white-infrared-charleston-battery-park-bench-kathy-fornal

“Jangan, sayang. Jangan menatapku seperti itu. Sorotmu menunjukkan padaku bahwa kau meragukanku,” suaranya menghalus, terdengar seolah ia tengah mengeluh.

“Aku—“

“Sstt! Kumohon, jangan menyela. Aku hanya ingin kau untuk duduk dan mendengar.”

Kewaspadaanku menjerit saat ia menyentuhkan telunjuknya di bibirku. Hanya sepersekian detik saja namun berhasil membuat jantungku berdebar. Ia meraih lenganku, menyeretku pada sebuah bangku panjang di tepi jalan dan memaksaku untuk duduk di sana.

Kuikuti gerakannya di sisiku saat ia mulai menguntai jarak di antara kami. Rambutnya masih sama; hitam dan berkilau. Sama gelapnya seperti sepasang matanya yang selalu mengilat diterpa matahari. Seharusnya aku pergi, karena hari semakin tenggelam seiring senja yang kian menghilang. Namun aku juga terlalu lemah, tak mampu menolak kehadirannya yang telah memancing ketertarikanku.

Sambil menggigit bibir bawahnya yang menggigil, jemarinya merogoh saku waxed cotton yang menyembunyikan maskulinnya. Sebuah kotak kecil berwarna crimson, terlihat manis dengan sejumput pita perak di pusatnya. Kuperhatikan pria dengan wana kulit yang sama denganku itu lebih seksama, tak peduli dengan angin musim dingin yang sesekali menerbangkan rambutku yang tergerai.

“Saat itu kau mengenakan linen merah. Warnanya begitu indah berpadu dengan kulit emasmu yang gemilang. Auramu menyilaukanku dari kejauhan, membuatku nyaris menginjak mati seekor merpati yang berlalu-lalang,” ucapnya lembut. Nadanya naik-turun, persis seperti bait puisi di atas panggung musikal.

Seiring napasnya yang memburu, ia menunjukkan sebuah cincin perak yang terselip di dalam kotak. Berlian sebesar kuku kakiku lantas menyita fokusku. Oh, apa yang sedang dilakukannya padaku?

Ia kembali berkata, “Masih kuingat malam itu; saat jiwa kita saling menyatu dalam kekhilafan cinta; saat tubuhku membelai mesra tubuhmu; saat bibirmu mengoyak-ngoyak bibirku dan—“

“Hentikan! Apa yang sedang kau utarakan?” Seketika kubungkan mulutnya dengan sebuah pukulan ringan di bahunya. Seorang pria tua yang melintas sempat menatapku skeptis. Bahkan para ibu bertopi jerami yang tengah berjogging ria hendak mengintip perbincangan kami.

“Kucoba untuk menahan gejolak itu hingga kuyakini bahwa aku telah benar-benar jatuh hati padamu!” Ia sedikit memaksa dengan menaikkan nada suaranya.

“Kau tidak sedang bercanda, ‘kan?” Kuulangi kalimat itu berulang kali. Sejak kapan aku dan dirinya melakukan sesuatu yang tak kusadari?

“Tak ada sedikitpun canda di antara kita, sayang. Tak ada!” Kemudian ia beranjak, menempatkan diri di hadapanku dengan berlutut pada satu kaki. “Aku bukanlah pria nakal yang hanya bisanya bermain-main saja; bukan pula pria brengsek yang menjadikanmu boneka dan mengikat kesucianmu dengan uang,” ucapnya seraya mengendalikan jemariku untuk menggenggam kotak kecil tersebut.

“Maukah kau menikah denganku, sayang?” Ia menggenggamku erat, menatapku bersama sorot matanya yang menggebu-gebu.

Aku pun menyeringai, “Dengar, pria manis. Aku bahkan tak tahu siapa namamu. Yang kutahu, kau selalu mengamatiku beberapa hari ini setiap kali kulewati taman kecil ini dan kau mengajukan sebuah proposal padaku sekarang?” Kuajukan tanya itu tanpa ragu. Ia memang tampan; sangat tampan hingga aku tak ingin menolaknya bersama berlian mahal itu.

“Itu tidak penting, sayang! Maukah kau menjadi pendampingku?” Ia tetap bersikukuh.

Aku terdiam, menatapnya penuh keintiman.

“Ayolah, cinta! Aku sudah tidak banyak waktu lagi dan—argh!” Seketika pria itu menjerit kala seseorang menghujamnya dengan ribuan tamparan. Wanita muda, mungkin seumuran denganku, berteriak dan memaki tanpa rasa malu yang menyerbu.

“Tidak tahu diri!” Si wanita berucap lantang, membuatku mengerucut di tempatku. Sementara si pria tampan berguling-guling di atas jalan setapak, menghindari berbagai pukulan yang tak patut dijadikan tontonan massa.

“Aku bisa menjelaskan,” ucapku, hati-hati.

Wanita itu menoleh, “Tak perlu, gadis muda. Ia patut untuk dipukul dan ditendang,” kemudian ia kembali menyerang si pria tanpa ampun. “Sudah berapa kali kusuruh kau untuk menghentikan kebiasaanmu itu, Kai!” teriakannya membuat si pria menjerit-jerit untuk membebaskan diri. Kata-kata kutukannya saling berbaris tatkala pria itu berhasil melarikan diri.

Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan selain menggenggam kotak kecil di tanganku. Si wanita belum juga menenang. Rambut panjangnya berantakan, sementara kulit putihnya memerah akibat pertarungan sengitnya dengan si pria.

Aku memberanikan diri untuk berdiri, “Maaf, aku tidak bermaksud—“

“Namamu?”

Spontanitasnya membuatku terjaga, “J-Julie,” ucapku, terbata.

“Okay, Julie. Asal kau tahu, Kai—maksudku pria yang barusan kutendang habis-habisan itu, terobsesi untuk menyatakan cinta dan mengajukan pernikahan pada gadis-gadis cantik sepertimu. Jika kau mendengarkan puisi-puisi aneh yang ditujukan padamu, kuharap kau mengabaikannya dengan mudah.”

Tunggu dulu.

“Apa?! Apa kau bilang?”

“Dan,” Ia mengibaskan poninya sebelum menyerobot kotak kecil yang sedari tadi telah kuamankan dari penjahat mana pun, “Ini adalah milikku—cincin pernikahan kami. Ia selalu meninggalkan cincinnya padaku dan mengambil milikku tanpa sepengetahuanku,” kemudian ia menunjukkan cincin lain di jemarinya dengan ukiran yang sama.

Aku terhenyak, “Kau isterinya? Bagaimana mungkin!”

Ia menggerakkan sepasang bahunya, “Hanya kebiasaan jelek, Julie. Ia tetaplah pria baik hati yang mencintaiku dan kedua anak kami dengan tulus,” kemudian ia beranjak pergi ke arah Kai berlari.

Dari kejauhan, kulihat pria itu mendekati Porche biru muda di tepi jalan; mengendarainya dengan membabi-buta.

Sial! Aku telah dibodohi!

***SELESAI***

Originally posted by Syndrome Grabber, “Katakan Sayang“:cerita pendek mengenai seorang puitis yang tak sabar untuk menyatakan cinta pada sang dambaannya.

Thank For Your Visit Huglooms

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

4 thoughts on “KATAKAN SAYANG”

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s