RETWEET

“Jangan mencuriku dengan hitam. Karena cokelat telah memikatku dengan kelembutan.”

03.40 pm • 14 Feb 16

Ada yang mengusik fokusku belakangan ini. Bukan hantu, bukan pula deadline dari Wacky dan Lit—yang nyaris menggertak tidurku di tiap malam buta. Kuanggap sepasang wanita itu sebagai pemicu lesu yang menyerang tubuhku. Meski sulit dibenarkan bahwa sesungguhnya kepalaku (lah) yang tengah menderita; kehilangan hasrat untuk menulis dan berimajinasi.

Sosok yang telah menggangguku itu memilih nightdancer94 sebagai nama pengguna. Sedikit lame, memang. Namun cukup menyita perhatian. Ia selalu mengulang hal yang sama tiap kali bait tweet yang kubuat meraung-raung di antara interaksi lain. Beruntungnya, satu petunjuk utuh membulatkan spekulasiku bahwa ia adalah seorang pria: penggemarnya sebagian besar gadis belia dan pula mereka meninggalkan jejak romantis yang tak patut disuguhkan di hadapan orang tua.

Balasan yang dilayangkannya telah meracuni kejeniusanku. Aku dibuatnya bodoh dan naif. Sejak pekan lalu ia mengikuti akunku, lelucon-lelucon yang dirangkum manis dalam berbagai kalimat pendeknya menghentikan seniku. Dia, satu-satunya pria yang berhasil membuatku jengkel dan mati kutu.

“Caramel Frappuccino,”

Begitulah sang pelayan menyambutku. Aku tak peduli. Yang kulakukan sejak tadi hanyalah mengutuk ponselku dengan sumpah serapah. Tak kuindahkan ocehan Lit mengenai revisi syair-syair yang, seharusnya, kuajukan sore ini. Aku hanya perlu menyumbat mulut mereka dengan majalah dewasa yang memamerkan tubuh pria-pria berotot tanpa busana.

Tapi tunggu dulu. Ada yang menggangguku, lagi.

Serbet kertas yang sengaja dibentang di bawah kaki cangkir itu seolah melambai-lambai mengajakku untuk mengintip ke sudut mata. Aku melirik bosan, dan kutemukan goresan-goresan hitam dengan lekuk yang indah di sana, seperti tulisan sang pengukir patung di permukaan marmer mahal.

Kemudian kubaca, meski bercak kopi  membentuk lingkaran cokelat yang tak nyata.

Jika kau membubuhi hitam dengan putih & kuning, mungkin kau akan menemukan cokelat yang kau kagumi.

—nightdancer94

Ada rasa kejut dan dongkol yang menguap di kepalaku seketika. Ia di sini, di tempat yang sama, di bawah atap yang sama, di antara para pemadu kasih yang memenuhi ruang hangat di tengah musim semi empat belas Februari. Aku hendak menghentikan si pelayan hingga kusadari bahwa gadis itu nampak kewalahan oleh permintaan beberapa pengunjung yang menyebalkan. Jadi kubiarkan saja—meski hitungan ke sepuluh di dalam kepalaku membunuh kesabaran dan meningkatkan segala keingintahuan.

Bahkan seekor penyu pun ikut bersembunyi di balik batu.

04.13 pm • 14 Feb 16

Firasatku mengatakan bahwa ia sedang mengamatiku sekarang. Maka kutulis sebuah kiasan pada Twitter untuk memancing perhatiannya. Pria itu membuatku mencari-cari seolah menginginkannya untuk duduk di sampingku. Sialnya, aku tak mampu menemukan sosok kesepian selain pria tua di pojok bar dengan tatapan kotornya yang menggelikan. Membayangkannya saja membuat bulu kudukku menggelinjang untuk berlari. Semoga si penari malam 94 itu bukanlah sang om tanpa nama.

Tak lama kemudian si ramping persegi panjang bergetar-getar.

Oh, aku mengerti benar dengan pertanda itu.

Mungkin itu bukan seekor penyu, melainkan seorang pangeran yang dikutuk menjadi duyung.. RT @huglooms: Bahkan seekor penyu pun ikut bersembunyi di balik batu.

04.15 pm • 14 Feb 16

Sudah kuduga. Lihatlah betapa ia sangat menyukai leluconku.

Ponselku kembali bergetar, logo burung biru itu berkedip lagi pada layar. Ada sebuah pesan lain yang membuatku mengukir seringai di wajah; sebuah retweet pengobar antusias.

@huglooms Dan salah satu kegemarannya adalah mengamati sang angler yang menggila mencari mangsa.

04.16 pm • 14 Feb 16

Aku mendengus. Betapa beraninya ia menyamakan lekuk tubuhku dengan seekor ikan bersisik tajam. Kulayangkan lagi sebuah tweet padanya; sebagai bentuk dendam yang tak seberapa.

Berhati-hatilah, taringnya mampu menusuk-nusuk penyu dan membuatnya mati telanjang.

04.16 pm • 14 Feb 16

Kemudian kutengok pria genit di pojok ruangan dengan hati-hati. Yang dilakukannya sejak tadi hanyalah berkutat manis dengan ponsel hitamnya. Ugh, pikiranku dibuat kacau. Inilah alasan mengapa aku tak mudah dijebak oleh kencan buta yang sengaja diatur oleh Luna maupun Choa. Tapi mengapa aku malah terjebak dalam percakapan manis bersama si master retweet ini?

Mengapa tak kau buat ia telanjang saja? RT @huglooms Berhati-hatilah, taringnya mampu menusuk-nusuk penyu dan membuatnya mati telanjang.

04.18 pm • 14 Feb 16

Lagi, ia membalasku dengan pilihan kata yang membingungkan. Jantungku bergemuruh; aku tak mampu mendeteksi jenis gemuruh mana yang menderu-deru di dadaku saat ini.

@nightdancer94 Dalam gelap, mataku buta oleh kewaspadaan.

04.19 pm • 14 Feb 16

Kali ini kusertakan nama akunnya pada tweet-ku agar ia lebih merasa dihormati. Sementara kutunggu kicauannya, sepasang mataku tak berhenti mengamati si pria tua yang kini tengah tersenyum seorang diri dan terkekeh manja. Mungkin kusudahi saja, aku tak mampu membayangkan seekor penyu buruk rupa atau duyung terkutuk yang tengah mengamatiku.

@huglooms Pergilah ke tempat yang lebih dangkal. Mungkin terang mampu membinasakan segala prasangka.

04.30 pm • 14 Feb 16

Great!

Pada dasarnya ia kembali mencemoohku. Mungkin ia berhasil menemukan untaian sepasang alisku yang bergoyang-goyang karena terlalu banyak berpikir. Lantas kubiarkan punggungku bersentuhan dengan kursi; menyerah untuk menerka, membiarkan takdir yang bekerja.

“Godiva chocolate cake,” suara yang sama itu membuatku menengadah. Lagi, pelayan yang sama—yang kurasa merupakan salah satu di antara kaum tanpa pasangan yang bekerja di sore hari.

“Aku tidak memesan ini,” kupastikan hal itu dengan mengayunkan tangan seperti gerakan tarian EXODUS.

Gadis itu tersenyum seraya mengulurkan secarik serbet kertas lain. Dan aku tahu pertanda itu dengan meraihnya tanpa aba-aba. Ia menunduk kemudian menyingkir dengan segera seolah seseorang telah memperingatinya. Dalam sekali hembusan napas, kuteliti tulisan indah itu yang nyaris menyerupai cetakan font Gisha.

Lain kali kau harus berpikir dua kali saat menuliskan nama akunmu pada lembar customer review. Enjoy your cake ^-^

Kulipat serbet itu menjadi dua bagian. Pikiranku mendadak bercabang tiga: antara mencomot sedikit kue cantik pada ujungnya yang ramping, memaksa si pelayan untuk mengungkap identitas sang penari malam yang masih bersembunyi di balik para pengunjung, atau berlari sejauh mungkin karena kulihat gadis itu malah menghampiri om genit di pojok sana.

Setelah susah-payah bergumul dalam hati, pada akhirnya kuputuskan untuk melarikan diri. Yakin telah kubayar kopiku bersama ekstra tip untuk si gadis muda, kupandangi lagi pesan singkat pada piring besar itu sebelum kuberanjak pergi. ‘Real chocolate, untuk seorang penyair kesepian’? Ia benar-benar telah menohok statusku sebagai seorang jomblo—dan aku tidak akan pernah memaafkannya.

Bel pada pintu berdentang tiga kali seiring kepergianku dari kafe. Sengaja kubiarkan kakiku membatu di ujung anak tangga pertama, mendengarkan desah napasku yang terdengar gagal dan pasrah. Sedikit disayangkan bahwa aku telah dibohongi oleh ketertarikanku sendiri. Ini salahku, tentu saja. Gadis kesepian mana yang tak merasa bahagia ketika menemukan seseorang yang menarik? Meski pada kenyataannya aku masih belum dapat mengesampingkan faktor superficial.

“Mengapa kau tidak tinggal lebih lama?”

Maskulin di balik tubuh seketika menghentak batinku. Kutoleh dengan memutar kepala. Ada seorang pria dengan jaket hitam tebalnya yang membalut hingga leher, menyembunyikan kulit emasnya yang menggelap karena senja musim semi. Ia bersandar malas, tepat di samping pintu.

“Di luar cukup dingin bagi seorang penyair yang kesepian,” ia melanjutkan.

Aku sepenuhnya berbalik, mulai tertarik. Kuamati dirinya dari ujung ke ujung, dan kuyakini dengan pasti bahwa ia bukanlah pria genit berkumis ringan yang sama sekali enggan kubayangkan.

“Kau—“

“Sekarang apa yang kau lihat, angler? Seekor penyu atau duyung terkutuk?” Ia mengajukan sebuah tanya yang entah kenapa sangat kusukai.

Kugigit bibir bawahku kuat-kuat hingga meninggalkan sedikit perih. Bukan karena bahagia oleh sang penari malam di hadapanku, melainkan karena ucap syukur atas penolakanku terhadap hal-hal yang tak kuinginkan.

“Aku tahu senyumku mengembang saat ini. Maaf aku tak bisa menyembunyikannya,” ucapku. Kemudian kulayangkan tawa ringan yang—bagi Luna—cukup menggoda pria mana pun.

Kulihat ia pun tersenyum. Harus kuakui bahwa senyum itu hanya mampu kutemukan pada drama-drama yang digemari ibuku. Ia sengaja membiarkan rambut hitamnya disapu angin, sementara sepasang mata cokelatnya dikelilingi bingkai hitam dari kacamata yang disangga kokoh oleh hidung mancungnya. Meski tungkainya setengah menekuk, kuyakini tubuhnya lebih menjulang dariku. Trench coat dengan warna yang nyaris mengaburkan kulit emasnya menyembunyikan imajinasiku—tentang seberapa indah lekuk dan detail tubuhnya.

Ugh! Aku tak perlu menyebutkan detail lainnya. Pria ini benar-benar sosok nyata dari sang ‘penari malam’.

Sempurna.

“Asal kau tahu, meskipun sang angler sangatlah lapar, ia tetaplah ikan sombong yang selalu memilah mangsa mana yang ingin ia telanjangi,” kuucapkan kalimat itu dengan sedikit berbisik.

Ia bergerak, mendekatiku, tak peduli dengan sepasang pemadu kasih yang nyaris menyentuh bahuku. Ia begitu dekat hingga dapat kucium wangi tubuhnya yang lembut, “Aku memiliki cokelat yang sama dan aku yakin kau dapat menemukan kelembutan yang sama juga,” bisiknya di telingaku.

Napasku mendadak terhenti. Kubenarkan hal itu karena debar ini semakin menjadi-jadi. Lidahku hendak menjuruskan beribu tanya mengenai keeksisannya di mataku. Namun kerling singkat yang ia tujukan padaku menghentikan kinerja otakku yang mulai membusuk.

Sial! Sepertinya aku tak akan menghabiskan malam empat belas Februari ini seorang diri.

**SELESAI**

Originally posted by Syndrome Grabber: “Retweetsebuah cerita pendek mengenai seorang penyair yang kesepian.

Thank For Your Visit Huglooms

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

5 thoughts on “RETWEET”

      1. duh, jangan minta saran deh sama aku. Aku aja belom bisa bikin cerita yang keren kayak gitu, apalagi nyaranin orang. Bingung mau kasih saran apa hehehehe

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s