TENTANG DIA

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh http://www.cekaja.com dan Nulisbuku.com 

SABTU PETANG, ITU BERARTI HAMPIR SEPEKAN IA mengisolasi diri dari siapapun di sana. Wanita itu selalu duduk di tepi pantai, tepat di bawah salah satu pohon ketapang yang tumbuh lebat di antara bebatuan dan pasir Sanur. Jika saja rambut indahnya tak berayun saat semilir angin membelai-belainya, aku akan mengira bahwa tubuhnya yang tersembunyi di balik bayangan itu adalah batu karang yang terdampar.

Sesaat ia menggedikkan bahu. Selama separuh waktu kuperhatikan dirinya, ia sama sekali tak menunjukkan gerakan yang mencolok selain memeriksa sepasang sandal yang berbaris rapi di sampingnya atau sesekali memerhatikan jam tangan. Maka kuberanikan diri dengan membentuk alunan langkah. Bersama dua botol soda dingin di tanganku, kucoba untuk meredam gaduh dari ketukan sepatu pantofelku di atas kongkret jalan setapak.

Aku menunduk untuk menghindari kawanan daun dan ranting ketapang yang tak mampu menyaingi tubuh jangkungku. Sambil menahan dongkol akibat pasir putih yang nyaris menelan sepatuku, kuhampiri dirinya dengan berjongkok di sisinya. Untuk pertama kali, kami saling bertatapan. Ia menunjukkan keterkejutannya dengan mengerutkan alis sedangkan yang mampu kulakukan hanyalah melayangkan sebuah senyum kaku.

“Tenang saja. Aku bukan pria jahat,” ucapku. Meski dalam hati kuteriaki berbagai kata sumpah-serapah atas getaran dalam suaraku—yang terdengar gelisah dan gugup.

Untuk menghindari kecanggungan yang muncul di antara kami, kuulurkan salah satu soda di tanganku padanya. Sejenak ia mengamatiku seolah kacamata hitam berbingkai biru yang melindungi sepasang matanya memiliki sensor infra merah. Aku pun mengikuti gerakannya saat ia memindai sekelilingnya. Kemudian si wanita meraih kaleng dingin itu tanpa mengucapkan terima kasih, membenamnya dalam pasir di antara sepasang kakinya yang menyila.

Aku menyeringai. Tanggapannya ternyata tak seburuk yang kubayangkan.

Bersama sandal merah muda yang membatasiku dengannya, kubiarkan angin dan panas dari laut menyatu menerpa wajahku. Aku menoleh padanya dan ia kembali bergeming di tempatnya; menatap laut lepas yang dihiasi boat dan perahu kecil yang melintas. Kini aku tahu mengapa ia memilih tempat ini sebagai persembunyiannya. Tak ada pelancong yang berlalu-lalang; tak ada kaki lima yang berjejer di jalan setapak; tak ada nelayan maupun perahu yang mendarat di tepian; hanya suara desir ombak dan angin sepoi-sepoi yang—mungkin—ia sukai.

“Jika kau ingin pergi ke sana, salah satu temanku bekerja di agen kapal pesiar. Setidaknya aku dapat membantumu untuk mendapatkan diskon khusus,” ujarku seraya menunjuk rupa Pulau Nusa Lembongan di kejauhan.

Kali ini ia tak meresponku candaanku. Aku kembali berucap, “Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu.”

“Lalu?”

Sontak kupandang dirinya saat ia menjawabku singkat. Wanita itu masih menatap laut saat kutusuk-tusuk wajahnya dengan tatapanku.

Aku mendesah. Tak ada yang kulakukan selain meremas kaleng soda yang masih tertutup  sempurna dalam genggamanku. Namun tak pula aku beranjak meninggalkannya. Alasan mengapa kuhabiskan waktuku mengamatinya dari balik pagar hotel tempatku bekerja karena aku terlalu bosan duduk manis di warung kopi saat jam makan siang. Dan aku tak ingin pergi begitu saja setelah kudengar suara lembutnya—meski hanya dengan mengucap satu kata saja.

“Kau kesepian,” ucapku, nyaris bergumam.

Kulihat ia menorehkan setitik senyum di bibirnya. Aku pun ikut tersenyum; sekedar memberikan petunjuk padanya bahwa ia tak lagi sendirian. Jika kuperhatikan lagi, ia tak begitu cocok dipanggil ‘wanita’. Tanpa polesan apapun di wajahnya, ia nampak jauh lebih muda. Mungkin terpaut dua atau tiga tahun lebih tua dariku.

Ia menunduk, menyampirkan anak-anak rambut yang menggelitik wajahnya. Meski kulit cokelatnya bersinar seperti emas saat diterpa cahaya matahari, wajahnya tak dapat membohongiku saat ini. Hidungnya sedikit bengkak sementara pipinya bersemburat merah. Ia berhasil menutupi kesedihannya oleh topi pantai berpita batik Bali dan kacamata hitam.

Ya, ia menangis. Ia telah menangis seorang diri.

“Namamu?”

Aku sedikit terperanjat saat ia mengajukan pertanyaan singkat itu.

“Dimas,” jawabku. “Namamu?”

Lantas ia mengeruk pasir di antara kakinya hingga kaleng soda merah pemberianku muncul sebagian di permukaan. “Kau tak perlu tahu,” ia berdalih.

“Itu namanya tidak adil,” aku berucap dengan nada pertemanan—sopan namun riang.

“Apa kau mengetahui banyak tentang keadilan? Kalau begitu tolong jelaskan padaku,” ujarnya. Garis di wajahnya menegas, sama saat pertama kali kami saling memandang.

Aku menggedikkan bahu, “Sederhana saja. Aku menyebutkan namaku sedangkan aku tak mengetahui namamu. Bukankah akan lebih baik jika kau memberitahuku?”

Jemarinya bermain-main di atas pasir dan ia tak mengindahkanku. Kusisir rambut hitamku dengan gusar. Sepertinya ia tak menyukai caraku bicara. Karena setelahnya tak ada percakapan lain di antara kami.

“Apakah menyenangkan bekerja di sana?” Dagunya tertuju pada logo yang melekat di dada kiriku, diikuti oleh gerakan topi dan rambut panjangnya.

Aku menggigit bibir bawahku. Seharusnya kulindungi seragam hotel ini sebelum menemuinya. Ugh, aku tak menyukainya. Meskipun kami tak mengenal satu sama lain, aku tak menyukai fakta di saat orang-orang mengetahui pekerjaanku.

“Sama seperti manusia lain yang tak pernah puas menerima apapun yang dimilikinya,” kujawab pertanyaannya dengan lebih bijak dan hal itu membuatnya menyeringai—seolah ia mengetahui maksud dari pengertian tersebut.

“Jika kau dipaksa untuk memutuskan, apa yang akan kau pilih, Dimas? Cinta atau uang?”

Aku mendengus; bahkan nyaris tertawa. Haruskah kujawab pertanyaan bodoh tersebut? Bagiku, satu tanya itu mengandung sejumput gurauan yang tak perlu dijawab dengan teori ilmiah. Sialnya, wanita bertopi itu kini menatapku cukup intens. Ia menungguku; menunggu jawabanku.

“Tergantung dengan kondisi,” aku mencibir.

“Saat ini?”

Kuusap daguku seperti sedang berpikir keras. “A little both,” aku menggumam.

Sepertinya jawabanku sedikit memuaskannya. Kini ia termenung di balik kacamata hitamnya.

“Jika kau dihadapkan oleh uang yang tak terhingga, apakah kau akan tetap bijaksana?” Ia kembali bertanya dan aku cukup menyesal karena aku tak bisa menolaknya.

“Jika motifku adalah untuk membahagiakan kedua orang-tuaku, aku tak akan segan memilih opsi kedua.”

Kemudian ia menggelengkan kepala, “Ternyata kau sama seperti manusia lainnya—naif dan bodoh.”

“Setiap orang memiliki tujuan tertentu. Upahku sebagai bell boy tak begitu menutupi pengeluaranku jadi apa salahnya jika kupilih uang itu?”

Aku hanya mencoba untuk menjawab pertanyaannya dengan baik tapi justru malah terkesan seolah aku sedang membela diri. Detik berikutnya kudengar tawanya meledak di sela udara. Tak kusangka jika aku akan mengatakannya dengan mulutku sendiri.

Mungkin ia menertawai statusku sebagai bell boy.

Mungkin ia menertawaiku karena ia tahu bahwa aku pun sesungguhnya cukup malu dengan pekerjaanku.

“Aku tidak sedang menertawai statusmu atau pekerjaanmu. Tenang saja,” ucapnya seolah ia mengetahui isi pikiranku.

Aku memberinya senyum kecut.

Benar. Apa yang harus kutakuti? Ia hanyalah seorang wanita tak beridentitas yang menarik perhatianku karena kesendiriannya. Lagipula aku bukan seorang penipu atau pria yang selalu menjual diri setiap malam pada tante girang.

“Suatu hari orang-tuamu tak berpenghasilan; mereka tertipu oleh bisnis palsu dan membiarkan adikmu tak melanjutkan sekolah. Sedangkan saat itu kau baru saja lulus dan kakakmu melarikan diri karena tak diberikan restu untuk menikahi gadis dengan agama yang berbeda,” ia menelan liurnya dengan lambat. Alisnya kembali mengerut seolah sedang menelan kenyataan pahit di ujung lidahnya.

“Aku mendengarkanmu,” gumamku, sadar bahwa ia cukup lama memberikan jeda.

“Saat itu kau menjadi satu-satunya tumpuan bagi mereka. Hingga suatu hari datang seorang wanita yang dapat menolongmu dari beban itu. Tentu saja kau harus menikahinya sebagai bentuk keadilan bagi kedua belah pihak. Meski kau mengetahui bahwa wanita itu berusia dua kali lipat dari umurmu; memiliki seorang anak perempuan; dan tinggal jauh dari orang-tuamu; apa yang akan kau pilih, Dimas?” Sepasang matanya kemudian tertuju padaku, “Apa yang akan kau pilih jika kau dihadapkan oleh kondisi itu?”

Aku menunduk untuk menghindari tatapannya. Entah mengapa aku merasakan pilu dan nyeri saat ia berucap. Bibirnya bergetar, penuh dengan keengganan.

Keadilan.

Sekarang aku tahu mengapa ia tak menyukai kata tersebut.

“Pertama, kondisiku di sini adalah seorang pria. Aku akan berpikir beribu-ribu kali untuk menikahi seorang sugarmom,” aku berujar dan disambut oleh tawanya yang lebih tulus.

“Penyanyi dangdut itu adalah sebagai contohnya,” ia berkilah.

Oh, maksudmu Nazar?”

Lantas kami saling tertawa saat mengingat salah satu selebriti tanah air yang cukup kontroversional tersebut.

“Jika orang-tuaku tak menyudutkanku atau memaksaku, aku tak akan menikahinya hanya karena uang. Aku belum siap menerima gossip murahan dari para tetangga saat mereka membicarakanku dan kedua orang-tuaku.”

“Jadi hanya karena gossip?” Ia kembali melayangkan sebuah tanya dan membuatku kebingungan. Seharusnya kudiamkan saja dirinya seperti apa yang ia lakukan padaku. Namun aku tak bisa, aku tak mampu untuk menolaknya—lagi.

“Berkata jauh lebih mudah, mbak. Tentu saja masih banyak alasan lain jika kau ingin mendengarkanku,” aku kembali mengelak. “Semua tergantung pribadi masing-masing. Jika aku tak memiliki keteguhan diri dan pendirian, aku akan memilih cara yang lebih mudah untuk mendapatkan uang.”

Perkataanku kembali membuatnya termenung. Sambil menunduk, jemarinya mencangkuli pasir putih yang membenamkan sebagian dari kaleng soda. Aku dapat mendeteksi anggukan kecilnya yang sengaja ia sembunyikan. Dari sini, dari tempatku, dapat kulihat bulu mata lentiknya bergerak-gerak saat ia berkedip. Tahi lalat di sisi mata kirinya mengingatkanku pada Paramitha Rusady. Namun ia memiliki pesona tersendiri—yang tak mampu kujelaskan.

“Apa kau mencintainya?” tanyaku seraya membuka pengait kaleng soda dan menyesapnya dengan hati-hati.

Aku tahu ia sedang membicarakan kisahnya. Mungkin karena itulah ia menyendiri di sini. Aku tak dapat membayangkan jika hal itulah yang terjadi pada wanita itu—maksudku gadis itu. Menikahi seorang duda beranak satu bukanlah sesuatu yang gadis manapun inginkan. Terkecuali jika mereka mencintai si pria.

“Aku bahkan tak tahu seperti apakah cinta itu,” bibirnya bergetar saat bicara hingga membuatnya menggigiti ujung lidahnya.

Ia beranjak dari tempatnya. Sepasang sandalnya mengait di jemarinya sementara kaleng soda pemberianku digenggam oleh jemarinya yang lain. Aku pun berdiri—dengan sedikit menunduk karena dahan ketapang yang pendek. Ia berjalan menuju jalan setapak yang membatasi tanah dan pasir di pantai sementara aku mengekorinya tanpa bicara.

Gadis itu mengenakan sandalnya kemudian menghadap ke arahku. Di bawah sinar matahari yang menyengat, senyumnya terlihat sangat manis melebihi senyum adik perempuanku. Dan sesungguhnya, ia jauh lebih manis saat tersenyum.

“Ketika manusia sedang putus asa, mereka akan melakukan cara apapun untuk mempertahankan diri,” ia berkata sembari menahan topinya yang berayun diterpa angin.

Aku tersenyum. Kedua tanganku saling mengait di balik punggung untuk menghormati pernyataannya.

“Jadi kau, Dimas,” ujung telunjuknya menekan-nekan bahuku. “Kuharap kau tetap memegang teguh pendirianmu seperti apa yang kau miliki sekarang.”

Ia menjulurkan tangan dan aku menyambutnya dengan sebuah jabatan. Kami saling memandang dan sesungguhnya aku tak sanggup melihat aura kesedihan yang memancar dari wajahnya.

“Senang berjumpa denganmu,” kemudian ia melepaskan genggaman tangan kami dan meninggalkanku di atas jalan setapak.

Tank top merah muda dan celana pendek yang dikenakannya membuat tubuhnya nampak ramping dari kejauhan. Alih-alih berbelok menuju jalan kecil yang membatasi hotel tempatku bekerja dan hotel lain di sampingnya, ia memasuki lobby gedung berpintu kaca setelah Agus memberinya sebuah salam. Aku pun berlari menuju Agus—sequrity hotel yang juga salah satu kawanku. Setelah mencapainya, ia berkata bahwa gadis itu adalah salah satu tamu hotel tempatku bekerja.

Sayangnya setelah pertemuan singkat kami di bawah pohon ketapang, keesokan harinya aku tak menemukannya lagi di sana. Ia telah pergi bersama misteri hidupnya. Ia telah pergi dan meninggalkan segala keingintahuanku akan kisahnya. Hanya satu hal yang kuingat dari senyum manisnya: bahwa ia menyuruhku untuk tidak mudah putus-asa dan tetap bersemangat menjalani hidup.

***

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

2 thoughts on “TENTANG DIA”

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s