MERMAID “Chapter 04”

SEBELUM SABINA DISERET PAKSA OLEH PENJAGA BERKEPALA BESI, ia mendengar Leeteuk memerintahkan mereka untuk membawanya ke menara pengawas. Di tengah kebingungan itu, ia tak mampu mengucap apapun selain mengapa dan bagaimana. Keempat penjaga yang mengapitnya tak memberikan gerakan yang menyiksa selain mencengkeram erat seolah lengannya yang ramping itu selembut adonan roti panggang. Namun hal itu cukup mengintimidasinya; menakutinya.

Disinilah Sabina saat ini; sebuah ruangan di dasar menara yang gelap dan berbau lumut. Dikelilingi dinding batu dan tak berpintu, tempat itu hanya dihiasi sebuah jendela tanpa kaca dan jeruji berkarat yang membentang. Ia tak menemukan ruangan selain tempatnya menyekap diri. Dan ia yakin, susunan anak tangga berlapis bebatuan kasar di ujung penglihatannya merupakan satu-satunya jalan untuk melarikan diri.

“Aku tahu kau di sana jadi keluarlah.”

Dari gema yang mengalir di sekelilingnya, Sabina mendengar seseorang bicara. Rambutnya muncul ke permukaan, menutup sebagian matanya untuk mengintip si pengunjung tahanan. Ia tak tahu bagaimana sosok itu menyingkirkan jeruji-jeruji yang menahannya di tempat lembab tersebut. Yang ia tahu, kini Lee Hyukjae tengah berdiri kaku di tepi genangan.

Ekor duyungnya bergerak di antara partikel air, membawa tubuhnya ke tepian lain yang menyatu dengan dinding. Ia bersyukur karena Leeteuk mendekamnya di dalam sebuah kolam berjeruji; bukan di dalam sel berjerami yang akan membuatnya mati perlahan. Maka Sabina membentuk posisi dengan duduk pada sebuah papan yang sengaja digantung rendah. Kemudian ia menyisir rambut panjangnya untuk menutupi tubuh telanjang dan ekornya yang bersisik abu. Bentuk rupanya mungkin sedikit mengejutkan Lee Hyukjae, karena sejenak pria itu mengalihkan pandangannya pada jendela.

“Mengapa kau tak mau bicara, Sabina?” Hyukjae kembali bicara. Setelah melepas jubah maroon kebanggaannya, ia duduk tepat berseberangan dengan Sabina—pada tepi dinding hingga ia mampu mencium bau karat dari besi yang menusuk-nusuk hidungnya.

“Waktumu hanya akan terbuang sia-sia jadi pergilah,” dengan suara rendahnya Sabina menjawab. Sepasang matanya tertuju pada ujung jemari yang masih menyusuri rambut legamnya.

Hyukjae menyeringai. Seringaian yang nyaris tak diketahui Sabina. “Bahkan kau mengucapkan hal yang sama padaku. Seharusnya kau berterima kasih karena aku tak berada di pihak Leeteuk saat itu.”

“Berdiam diri dan menolak untuk beradu kontak denganku termasuk ke dalam hitungan, Lee Hyukjae.” Suara duyung itu melengking di udara hampa. Sedikit ejekan terselip di antara kalimatnya. Sulit dipercaya bahwa Hyukjae akan menyebutkan bantahan kuno tersebut. Karena seingatnya, si pemilik Arklys itu hanya menunduk dan memejamkan mata saat Leeteuk menyuruh para penjaga untuk menyeretnya.

Lagi, Hyukjae menyeringai. Entah karena ia mengiyakan pernyataan Sabina atau sebaliknya. “Menurutku Leeteuk telah melakukan hal yang benar,” ujarnya. Punggungnya bersandar supaya ia dapat mengamati manusia duyung di pojok sel. Tubuhnya tersembunyi di balik bayangan. Cahaya matahari dari jendela hanya mampu membiaskan kilau lembut dari ekornya yang bersisik.

“Seharusnya ia memilih untuk membebaskanku dan tidak mengurungku di dalam jeruji ini. Itu adalah satu-satunya pembenaran yang kuketahui,” ia membantah.

Sejenak Hyukjae menunduk untuk memudarkan sebuah garis senyum yang muncul tanpa disadarinya. Sabina sungguh keras kepala. Ia akan menghadapi kewalahan itu tiap kali mereka memiliki pendapat yang saling bertolak belakang. “Apakah kau menginginkanku untuk lebih serius, hmm?” tanyanya melembut.

“Jangan memandangku seperti itu, Lee Hyukjae. Aku tak ingin menciptakan kesalahpahaman dari sikap dan caramu bicara,” ia menghindari tatapan sang seiryuu sebelum akhirnya membenamkan diri pada kolam.

Hyukjae mengikuti gerakan ekornya meski pada akhirnya Sabina menghilang ditelan kegelapan. Ia tak perlu takut bahwa gadis itu akan melarikan diri. Hanya saja, saat ini ia sedang membutuhkan seseorang untuk bicara—meskipun ia menanyakan pada dirinya sendiri mengapa ia memilih untuk datang ke tempat ini.

“Aku lelah, Sabina.” Hyukjae mengusap wajah. Jubah kehormatannya ia letakkan di tepian. Tak ada lagi Ryeowook di istana dan itu berarti tak akan ada sosok menjengkelkan yang akan mengutuknya karena noda yang kadang menghiasi jubah tersebut. Sosok menyebalkan nan merindukan.

“Aku masih tak mengerti mengapa Leeteuk mengirim sebagian seiryuu ke pusat militer Donbang. Kekuatan kami akan melemah, pertahanan wilayah akan terpupus dan hal itu akan memudahkan seon—“

Hyukjae menelan ludah. Bibirnya bergetar; antara menahan diri atau mengutarakan berbagai kekecewaannya pada Sabina. Lengan kokohnya melingkari sepasang kakinya yang menekuk. Isi kepalanya berdenyut-denyut seolah ada sebuah kehidupan di dalamnya. Ia tidak sedang mengonsumsi minuman beralkohol meski pusing yang dialaminya nyaris memiliki rasa yang sama saat pertama kali ia mabuk. Sakit itu berhasil membuat Hyukjae ling-lung.

“Mungkin Leeteuk telah melakukan hal yang benar,” ucap Sabina.

Hyukjae sedikit terkejut saat duyung itu muncul di dekatnya. Tepat di samping sepatu hitamnya, lengan Sabina terlipat manis sementara gadis itu menatapnya intens. Hyukjae menyadari sesuatu yang berbeda dari Sabina; sepasang mata birunya meredup saat terkena sinar matahari, ekornya membiaskan violet yang memburam, dan kulit manusia yang mendominasi bagian lain dari tubuhnya itu nampak licin seperti porselen. Sama seperti ikan salmon hasil tangkapan Heechul.

Hyukjae kemudian menggeleng. Ia melupakan satu hal yang sengaja Sabina tuturkan sebagai sebuah ejekan. Dan kini ia memahami perasaan Sabina saat dirinya menyebutkan kalimat yang sama—yang sengaja duyung itu salinkan untuknya. “Kau tak akan mengetahui kebenaran itu hingga apa yang kau percayai runtuh oleh keputusasaan dan pengkhianatan,” ujarnya.

Sabina kemudian menunduk, membuat rambutnya yang basah kesulitan untuk bergerak. “Sepertinya aku mengerti dengan baik pengertian itu,” kali ini ia menyetujuinya.

Takjub dengan kesamaan pendapat yang begitu tiba-tiba, Hyukjae menanggapinya dengan sebuah anggukan. Setelahnya ia menemukan Sabina menari-nari di dalam air, memindahkan diri pada sudut yang sama—pada bangku panjang yang melayang.

“Para  genbu mengenalku dengan baik, juga Sviesa.” Dada Sabina menaik, seolah ia tengah menahan napas. Ia nampak menimang-nimang hingga tatapan Hyukjae meluluhkannya. “Salah satu dari mereka menyelamatkanku dan Sviesa saat pelindung EXO mencoba untuk memusnahkan kami.”

Sabina menciptakan hening sebagai sebuah jeda. Ia mencoba untuk memilah kata, menghindari kata-kata kotor yang tak pantas untuk diucapkan, serta menyortir memori-memori yang tak perlu untuk diungkap.

“Kenapa?” tanya Hyukjae.

Dari caranya bicara, Sabina mengira bahwa Hyukjae agak menuntut. Mungkin pria itu mulai tertarik dengan kisahnya; atau mungkin ia telah berhasil terperangkap oleh jeratan Hyukjae atas upaya Leeteuk untuk mengorek rahasianya. Sabina tak peduli. Hanya ada dirinya dan Lee Hyukjae di sana. Tak ada yang perlu ditakutinya.

“Saat itu kami sedang mengejar duyung yang mencuri sesuatu dari lumbung milik ratu Mary. Si pencuri itu memancing kami menuju perbatasan dan tak kusangka kami menyentuh pelindung tersebut. Aku tak tahu seperti apa pelindung istana ini tapi EXO yang dimiliki para genbu sangatlah mengerikan,” pikiran Sabina melayang bersama penuturannya. Sesekali ia tersenyum membayangkan wajah konyol Sviesa saat gadis itu ketakutan.

“Kudengar dari Leeteuk bahwa kau dan Sviesa memiliki kekuatan,” Hyukjae menyela tanpa bermaksud menyinggungnya. Ia menunggu, bahwa Sabina tengah mencoba menuturkan sesuatu yang cukup penting untuk didengar.

Lantas Sabina menggeram dalam diam. “Karena itulah mereka membiarkan habitat kami dimusnahkan oleh vermillion,” jemarinya mengepal kuat sementara sepasang matanya memejam rapat.

Denyut di kepala Hyukjae semakin menjadi-jadi. Ia mencoba mengaitkan teka-teki yang dimilikinya pada satu potongan puzzle yang dimiliki Sabina. Sialnya ia terlalu lelah untuk sekedar menerka-nerka. Maka Hyukjae melampiaskan dengan gumaman singkat.

“Aku masih tak mengerti, Sabina.”

Hyukjae mendesah. Ia telah gagal mengikuti jejak yang Sabina paparkan. Gadis itu terlalu banyak memotong bagian-bagian yang seharusnya dijelaskan dengan baik. Vermillion, lagi-lagi vermillion, selalu mengusik pikiran duyung itu dan membuatnya meracau kehilangan akal.

“Andai aku mengerti, Lee Hyukjae. Jangan paksa aku untuk menuturkan sesuatu yang tak kuketahui!” Ekor Sabina menghitam seiring ia menjatuhkan diri pada kolam, memercikan air yang membasahi sebagian wajah dan rambut Hyukjae.

Sang seiryuu membungkam diri, menunggu kemunculan Sabina yang kembali menari-nari di dalam air. Duyung itu selalu melakukan hal yang sama saat ia terperangkap oleh emosinya yang tak terkendali, membingungkan matanya karena gerakan ekornya yang tak menentu.

“Bocah-bocah genbu mengenalmu dan sangat tak masuk akal jika mereka sama sekali tak melindungimu,”

“Karena aku menolak permintaan mereka. Aku menolak permintaan Kai.”

Hyukjae mengerutkan dahi. “Kai? Si pengalih materi?”

Dan Sabina memberenggut. “Mereka mengetahui sesuatu yang kami miliki—aku dan Sviesa. Mereka memintaku untuk memberikannya pada Suho dan Kris dan kami menolak. Itulah saat terakhir kali aku bertemu dengan mereka.”

“Sesuatu?” Kali ini Hyukjae benar-benar menuntut.

“Mereka tak memberikan penjelasan lebih. Namun aku memiliki firasat bahwa Sviesa mengetahuinya. Tak lama setelah itu, para vermillion melakukan penyerangan,” tutur Sabina.

Hening kemudian membelah keduanya. Hyukjae hendak membuka mulut lalu menutupnya kembali. Bisikan gadis itu muncul di sela bibir, terdengar seolah ia tengah berbicara pada dirinya sendiri.

“Aku tak pernah menemukan Leeteuk kebingungan seperti itu. Ia bimbang akan dua hal yang saling bertolak-belakang,” Hyukjae nyaris bergumam. Ucapannya membangkitkan keingintahuan Sabina yang terpendam cukup lama oleh kesedihannya. Ia mendengar gadis itu beringsut dari sudut gelap yang tak mampu dijangkau oleh matanya. Sabina mendekat, bersama kulit porselen nan licin yang membuatnya bergidik.

“Ia bertemu dengan Suho dan Sehun setelah andoeva berakhir. Keduanya sedang mencari seekor duyung berekor violet,” katanya. “Seorang buronan berbahaya dan mereka menginginkannya hidup-hidup.”

Sabina menyeringai. “Buronan berbahaya, huh?” kemudian ia mengubah ekor ikannya menjadi warna yang sama. “Dan kau telah mengetahuinya,” imbuhnya.

“Kau hanya perlu meyakinkan kami lebih keras, Sabina. Jika tidak, Leeteuk akan menyerahkanmu pada mereka.”

“Tak ada yang kupercayai di dunia ini selain Sviesa. Kami selalu meringkuk di persembunyian dan sama sekali buta akan dunia luar. Bagaimana mungkin aku akan menceritakan hal pelik ini padamu dan Leeteuk begitu saja?” Sabina membentak dan hal itu cukup membuat Hyukjae terkejut. “Aku membutuhkan Sviesa, Lee Hyukjae. Dan wanita-wanita vermillion sialan itu menangkapnya!”

Sabina marah, ekornya berubah maroon sama halnya seperti sepasang pupil matanya. Hyukjae membiarkan Sabina dilalap amarahnya sendiri. Meski pada detik berikutnya gadis itu tersedu-sedu oleh kesedihannya. “Aku memercayai para genbu dan mereka mengambil keuntungan dari kepercayaanku,” ia berkata seolah sesuatu yang erat mencekik lehernya.

Hyukjae tidak bisa melihat Sabina karena duyung itu menyembunyikan wajahnya. Bermaksud untuk menenangkannya, pria itu menjulurkan lengan, menyentuh air asin yang memenuhi kolam sel tersebut. Alih-alih meraih Sabina, keduanya dikejutkan oleh hentakan bayangan yang mengilat-ngilat dalam kepala masing-masing. Hyukjae bergerak mundur. Sepersekian detik momen tersebut membuat jantungnya berdebar hebat.

“Jangan pernah menyentuh air yang sama denganku, Lee Hyukjae,” punggung telanjang Sabina menolehkan wajahnya yang memucat. “Atau aku akan mengetahui segalanya.”

Tertegun, pria itu meraih jubah kehormatan dan melarikan diri dari tempat gelap tersebut. Terburu-buru ia menapaki anak-anak tangga, melewati lantai lain yang dipenuhi sel-sel para penjahat yang melakukan berbagai teror di wilayah timur. Hyukjae tidak menyadarinya—saat bersama duyung berekor violet itu adalah saat dimana pelindung pikirannya tidak bekerja dengan baik.

Hyukjae berhenti di tikungan. Ia mengingat kembali saat Sabina merasuki pikirannya; saat duyung itu berhasil menembus sebuah memori yang telah ia lama ia pendam; saat manusia setengah ikan itu membuka dokumen rahasia yang memalukan.

-o-

“AKU DIPERINTAHKAN YUNHO DAN MAX UNTUK melakukan inspeksi di keempat penjuru wilayah,” begitulah gadis itu menjawab. Gaun mewahnya yang berkilauan terseret-seret pada lantai semen tanpa dilapisi keramik mahal. Bersama sepasang pria yang mengawalnya, ia mengacuhkan Heechul yang enggan menunjukkan setitik kehormatan padanya.

“Sejak kapan kau menjadi mata-mata mereka, Tiffany?” Heechul berdiri kokoh, tetap memberikan petunjuk pada gadis bergaun pink tersebut bahwa ia tak mengijinkannya untuk melangkah lebih jauh.

Garis hijau yang menghiasi rambut hitamnya berayun saat Tifanny mengangkat bahu. Dengan melempar sebuah senyum yang mampu melelehkan kembang gula, ia membuat gerakan kecil dan membuat pengawalnya meruntuhkan dinding kokoh yang diciptakan Heechul.

Rahang Heechul bergetar karena menahan diri, “Jangan membuatku jengkel dengan bertindak seolah tempat ini adalah kekuasaanmu. Bersikaplah layaknya seorang tamu,” ia mulai menggertak.

“Kau tahu, kami adalah pengecualian.” Tiffany kembali tersenyum—yang bagi Heechul cukup memuakkan. Dulu, ia menyukainya karena gadis itu nampak sederhana dan lugu setiap kali sepasang mata hitamnya membentuk potongan bulan sabit. Kini senyum indahnya justru memancarkan kebohongan dan kepalsuan.

“Park Jungsu! Choi Siwon! Zhoumi!”

Tiffany meletakkan telunjuknya di bibir, menyuruh Heechul untuk menghentikan lengkingannya yang terdengar mengerikan. “Mereka tidak sedang berada di istana. Percuma saja kau meneriaki nama mereka, oppa,” bisiknya.

Heechul berjalan dengan langkah yang besar. Jubah maroonnya ikut terseret-seret menyaingi shiffon lembut pada gaun Tiffany, “Kau sadar bahwa keberadaanku hanyalah sebagai penasehat disini. Namun hal itu tidak berarti bahwa kalian bisa seenaknya memasuki tempat ini,” ia mencengkeram pergelangan si gadis bangsawan dari selatan. Tiffany tentu saja menolak dengan menepisnya dalam sekali hentakan.

Ia kembali menyunggingkan senyum, “Karena itu lebih baik kau diam. Bertarung denganku sama sekali tak akan membantumu,” kemudian wajah cantiknya berubah datar saat menatap Heechul—menantangnya.

“Sejak kapan Taeyeon membiarkan kalian menjadi liar seperti ini?” Heechul mengucapkannya dalam bisikan.

“Oh, tenang saja, oppa. Pemimpin kami sangatlah fleksibel dan mudah untuk diatur. Lagipula saat ini ia sedang terbaring tak berdaya,” ia mengakhiri perbincangan mereka dengan menyuruh kedua pengawal bertubuh tinggi-besar untuk mengekorinya.

Heechul terdiam. Mungkin itulah alasan mengapa sang pemimpin gadis-gadis vermillion dari selatan itu tak menampakkan diri dan menghindari kontak dengannya sejak beberapa minggu terakhir. Taeyeon sulit untuk ditemui dan hal itu mulai meresahkannya. Meski sebagian vermillion memiliki tutur yang cukup menjengkelkan, Taeyeon adalah satu di antara kemurnian yang tidak boleh terusik oleh kebinalan tersebut.

“Tifanny!” teriaknya.

Pria itu menyebut nama gadis itu berkali-kali, berharap hal kecil itu dapat menghentikannya. Hingga pada detik berikutnya Tiffany memundurkan diri saat mencapai tikungan. Ia mendengar gadis itu menjerit sambil menyebut beberapa kata kutukan yang tak pantas untuk diucap. Sepasang penjaganya bergerak membentuk perisai, membuat Heechul disulut heran.

“Kau mengagetkanku, Lee Hyukjae!” gertak Tiffany seraya mengusap dadanya.

Heechul mengikuti dalam satu baris. Dari sela tubuh pengawal Tiffany yang lebih jangkung darinya, ia melihat Lee Hyukjae menggenggam seseorang dengan jubah kehormatan seiryuu yang menyembunyikan tubuh dan wajahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyukjae. Ia mengucapkannya dengan penuh ketidakpedulian.

“Dan apa yang kau lakukan di sini?”

Hyukjae lantas menyeringai, “Kau tidak sadar dengan siapa kau ajak bicara?” kali ini ia menyelipkan nada tinggi dengan maksud untuk merendahkannya.

“Jangan terlalu kaku, oppa. Oh—“ keterkejutan gadis itu menghentikan kalimatnya. Kepalanya bergeser untuk mengamati sosok misterius di balik tubuh si pemilik Arklys.

“Hei, kau seharusnya mengurusi peliharaanku!” Heechul menyela keduanya, menarik paksa seseorang dengan jubah kehormatan tersebut dan menyeretnya menjauh. Tak peduli dengan sepasang kakinya yang telanjang—tertatih-tatih menapaki lantai semen yang kasar dan sedikit berkerikil. Di saat kepergiannya, ia sempat mengutuk seseorang tersebut mengenai tugas dan perintahnya. Menyisakan bingung yang tergurat di wajah Tiffany.

“Kukira Hyoyeon hanya bergurau. Tak kusangka kau benar-benar merekrut seorang pelayan pribadi—dan kau membaginya bersama Heechul,”

“Hanya untuk memastikan bahwa tak ada vermillion berbulu hijau yang mengobrak-abrik ruanganku,” Hyukjae melengkapi ucapannya.

Tiffany mengibaskan rambut hitamnya yang bergelombang, “Aku cukup tersinggung, kau tahu?” lantas menyunggingkan senyum kecut yang tak disukai Hyukjae.

“Apa lagi yang kau cari di istana ini, Tiffany?” Pria itu mendesah, membiarkan sepasang pengawal menjadi pemisah di antara mereka.

“Hanya inspeksi kecil jadi menyingkirlah.”

Hyukjae kemudian menghentikan sepasang penjaga dengan menerkam simbol wilayah selatan yang melekat pada pelindung kepala mereka. Keduanya jatuh setelah ia menukik torso dan lutut mereka. Tiffany mundur, tak ingin mengotori gaun kehormatannya.

“Pergilah, sebelum kebaikanku menghilang,” ucap Hyukjae setelah mengakhiri pergulatan kecil tersebut.

Tiffany mendongak, “Aku tidak ingin berargumentasi denganmu.”

“Jika hal itu dapat membuatmu hengkang dari tempat ini, aku akan melakukannya.”

Selama beberapa saat, keduanya tetap bersikeras pada pendirian masing-masing.

“Sepertinya Leeteuk melatih para seiryuu untuk menjadi pria tegas dan menyeramkan,” ucap Tiffany, mengejek.

“Kami tidak memiliki sesuatu yang kau cari,” dan tatapan Hyukjae menajam.

Dengan sekali gerakan, pria itu menyeret gadis itu pada tempat terbuka di lorong menara pengawas. Ia mengarahnya pada balkon kecil. Tak peduli meskipun gadis itu meraung-raung kesakitan. Seharusnya Tiffany tak perlu menantangnya. Karena setiap kali ia melakukannya, Hyukjae akan menyeretnya seperti bangkai babi hasil buruan hutan.

Tiffany membenahi gaunnya setelah Hyukjae melepas jeratannya. Helaan napasnya yang terburu-buru menunjukkan bahwa ia telah kalah. Ia menatap Hyukjae dan pria itu merentangkan tangan pada udara bebas—menyuruhnya pergi.

“Aku akan datang kembali esok hari,” ia berkata sebelum akhirnya menerjunkan diri dari balkon. Tubuhnya yang melayang bebas kemudian berubah menjadi seekor burung megah dengan bulu yang meyilaukan. Ia melengkingkan suaranya dan melayang menembus mentari.

Setelah memastikan vermillion itu telah pergi, Hyukjae menggemakan suaranya hingga menembus tiap sudut menara. Separuh lusin pria berkepala besi datang menyambutnya dengan sebuah formasi, memberikan sebuah penghormatan padanya seolah isi otak mereka telah diatur untuk melakukan hal tersebut.

“Seret kedua pengawal Tiffany dari hadapanku. Kulihat masih ada ruangan kosong di lantai ketiga—lantai yang digunakan khusus untuk mendekap para penguntit istana,” ucapnya datar.

-o-

SETELAH HEECHUL MENYINGKIRKANNYA DARI PERSETERUAN KECIL antara Lee Hyukjae dan Tiffany, Sabina kini hanya mampu menunggu. Jemari kakinya yang mungil saling menyentuh satu sama lain. Tanpa alas kaki dan hanya jubah kehormatan seiryuu yang melekat di tubuhnya; ia mengikuti perintah Lee Hyukjae saat pria itu mendadak kembali untuk membawanya pergi.

Bunyi derit yang menyakitkan menggugah lamunan Sabina. Ia mendongak, menemukan Hyukjae membanting pintu seolah menutup diri secara paksa dari berbagai kemunfikan yang mengikutinya. Dadanya bergerak naik-turun; layaknya seekor salmon yang terdampar di tepian sungai. Pria itu menggumam sebelum akhirnya melempar segumpal kain padanya. Sabina meraih tanpa berkomentar. Ia masih menunggu; menunggu Hyukjae untuk bicara.

“Haruskah kuucapkan terima kasih?” Ia memancing pria itu dengan sebuah tanya.

Hyukjae menggeleng. Rambut kecokelatannya disisir kasar tak menentu, “Tak perlu. Kau akan menyumpahiku sebentar lagi,” kemudian menyuruh Sabina untuk mengenakan pakaian yang diberikannya.

“Aku tak ingin mengurungmu di ruanganku selamanya,” ucapnya lemah. “Pakailah dan bertingkahlah seperti seorang pelayan.”

Sabina mempelajari bentuk gumpalan tersebut dalam waktu singkat. Sebuah gaun sederhana berwarna biru sapphire, sebuah ikat pinggang dengan warna senada, sebuah ikat rambut dengan hiasan mawar biru dan seuntai kain yang biasa dikenakan pelayan istana pada pergelangan tangan—ia hanya perlu menguntainya menjadi pita.

“Seorang byakko dari Barat sedang berkunjung. Kau hanya perlu menunduk dan merapatkan mulut,” Hyukjae memberinya perintah lain. Ia bergerak tak menentu. Seperti seorang pria yang tengah kehilangan arah. “Kunjungan Tiffany sungguh di luar dugaan dan hal itu membuatku mencurigai seseorang,” imbuhnya.

Hyukjae membantunya mengikat untaian kain serta ikatan di rambutnya. Ia benar-benar sedang terburu-buru. Bahkan pria itu tak peduli saat Sabina mengganti pakaian di hadapannya. Setelah yakin penyamaran duyung itu telah sempurna, sepasang bahu Hyukjae bergerak lemah, menenang.

“Bagaimana jika Leeteuk mengetahui keberadaanku disini?” tanya Sabina.

“Ia telah mengetahuinya. Saat Heechul meneriaki siapa pun—melalui pikirannya—untuk membawamu pergi, aku segera kembali ke selmu.” Ia menjawab dengan cepat. “Tetaplah di belakangku,” titahnya. Ia menatap bola mata Sabina yang menghitam. Kemudian keduanya berjalan menuju gedung utama istana.

Melewati beberapa anak tangga, lorong tinggi, dan penjaga berkepala besi di berbagai sudut, mereka berhenti pada sebuah ruangan terbuka. Menghadap balkon tanpa jendela, ruangan yang dikelilingi tirai maroon keemasan itu dipenuhi udara yang melambai-lambai. Gemericik air terjun yang mengapit istana menciptakan sebuah ilusi; seolah ia sedang berada di tengah hutan rimba bersama suara aliran sungai dan nyanyian burung pipit.

Seseorang menyebut nama Hyukjae dengan nyaring. Sontak Sabina menunduk saat byakko dari penguasa barat menghampirinya. Hati-hati ia mencoba menelisik; perawakan tinggi dan berotot—tubuh ideal yang didambakan setiap pria, kulitnya putih bersih, wajah kecil dengan rambut cokelat yang nyaris sama dengan warna yang dimiliki Hyukjae, sepasang matanya melebar saat ia bergairah untuk bicara dan suaranya sungguh-sungguh maskulin.

Di balik tubuh sepasang pria yang saling memberikan pelukan, ia menemukan sosok lain yang tengah menunduk. Gadis belia, jauh lebih muda darinya. Rambut panjangnya diikat menyamping sementara ia meremas jemarinya tiada henti. Si gadis sempat menatapnya saat pandangan mereka bertemu, namun segera menunduk untuk menggigit bibirnya yang tipis.

Sabina tak peduli dengan hal-hal yang dikumandangan sepasang penguasa dari dua penjuru arah tersebut. Ia hanya memedulikan sosok lain yang datang bersama sang byakko. Rambut hitamnya membuat Sabina ragu meski tahi lalat di pipi si gadis mengingatkannya pada seseorang.

“Pelayanmu?”

Pertanyaan Hyukjae pada si pria muda membuat Sabina tertegun. Buru-buru ia menunduk, mencoba mengamati mereka dari sudut mata.

“Bagaimana dengan dia?” Sang byakko melempar kembali pertanyaannya pada Hyukjae.

Sendi di tubuh Sabina menegang. Karena ia tahu bahwa pemimpin dari barat itu tengah tertuju padanya. Gadis itu merasakan sentuhan Hyukjae di bahunya. Hal sederhana yang menciptakan keajaiban bagi dirinya, meneduhkannya.

“Agak aneh bukan? Kita berdua tidak menyukai seseorang yang mengurusi benda-benda pribadi,” Hyukjae tertawa dan disambut oleh kekehan dari sang byakko. Keduanya lantas menyebutkan lelucon mengenai wanita seksi yang tak dimengertinya. Yang ia tahu, tamu dari barat itu bernama Minho, Choi Minho.

“Darimana kau berasal, lady?” tanya Hyukjae pada pelayan sang byakko.

Gadis belia itu menatap Minho hati-hati. Sabina melihat seuntai senyum dari sang pemimpin wilayah barat kemudian si gadis menjawab, “Baltaz.”

Suaranya.

Sabina mengenali suara tersebut meski gadis belia itu berusaha menutupinya dengan serak palsu yang cukup kentara. Ketika Lee Hyukjae hendak mengajukan pertanyaan berikutnya, Sabina tak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia menghampiri si gadis belia, mencengkeram lengannya dengan paksa hingga keduanya berhadapan.

“Kau tahu mengapa lautan gorgóna menghitam saat matahari tenggelam?”

Pertanyaan Sabina mungkin membuat Lee Hyukjae dan Choi Minho saling bertanya. Namun tidak bagi si gadis belia. Matanya membulat, ia terkejut. Bibir tipisnya bergetar sementara ia masih meremas-remas jemarinya. “Karena pomma mengeluarkan cairan hitam dengan bau busuk yang menyengat,” jawabnya terbata.

Firasatnya benar.

Lelucon itu ternyata masih diingat baik oleh seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang kini berada dalam genggamannya. Gadis belia itu meletakkan sepasang telapaknya pada bahu. Ia menunduk, wajahnya memerah seperti daging rebus yang belum matang.

“Sabina,” bisiknya.

Lalu mereka saling berpelukan. Tak peduli dengan bingung yang menguasai sepasang pria di antara mereka.

“Dolca,” ia menyebut nama si gadis dengan pasti.

Gadis itu selamat.

Dolca berhasil menyelamatkan diri.

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s