PRIA DI KEDAI KOPI

Pria di Kedai KopiThis nonfiction is written as a participation of #NOVEMBERHEROESSYBER contest.

Kedai kopi itu tak selebar kandang berpagar kayu yang dipenuhi selusin sapi montok milik saudagar Wawan; tak pula setinggi rumah kepala desa dengan cat berwarna hijau yang mencolok. Berpondasi bata dan semen hasil rogohan dari sisa konstruksi, tempat itu masih sama seperti saat terakhir kali kukunjungi tujuh tahun lalu: sempit, mungil namun bersih. Sepertinya Bu Lasmi masih menyukai kebersihan. Dari balik dinding yang membatasi pengunjung dan bagian dalam kedai, kulihat senyumnya menghangatkan suasana senja.

Aku tak ingin menjadi bagian dari hiruk-pikuk. Maka kupaksakan sepasang kakiku yang lelah untuk berdiri di tepian. Beruntunglah jalan utama desa tak sesibuk jalanan kota. Lagipula para pengunjung menikmati kopi hitam mereka tanpa menyadari keberadaanku meski syal dan boots cukup menarik perhatian mata siapa pun yang melihat.

Di sana, Bu Lasmi menyodorkan secangkir kopi hangat pada seorang pria tua. Ia duduk di antara pria-pria lain yang tak jauh berbeda usia. Jika kuperhatikan lagi, Bu Lasmi tak memberikan perubahan kecil pada kedainya: lemari kecil yang menyimpan peralatan untuk menyeduh kopi, meja panjang dilapisi kain batik tua yang memamerkan jajanan khas desa, sebuah bangku panjang dari bambu yang di cat merah-putih, serta dinding bercat ivory yang dipenuhi coretan-coretan dari kapur yang digunakan para murid di sekolah dasar.

Dulu, kedai itu berada di tengah ladang. Kini masyarakat setempat menciptakan jalan setapak yang dikelilingi rerumputan dan ditata manis seperti taman bunga. Tentu saja aku mengetahuinya. Seorang janda seperti Bu Lasmi berhak menerima penghormatan kecil tersebut dari kepala desa. Ia mampu bertahan hidup dari kedai kopinya meski kadang aku berteriak pada Tuhan atas ketidakadilan yang diterima oleh wanita tua nan baik hati tersebut.

Aku menghela napas. Kuputuskan untuk berjongkok dan sedikit menyandarkan diri pada kopor hitam di sampingku. Tidak, aku tidak sedang membicarakan sosok Bu Lasmi. Hanya saja, tempat itu mengingatkanku pada masa lalu yang kurindukan. Aku dapat membayangkan kembali saat kutemui bapakku di kedai tersebut tepat setelah ia menyelesaikan pekerjaan melelahkan di ladang padi. Ingatan lampau ketika tubuh kecilku mengais kotak makanan untuk bapakku.

Diantara pria-pria tua di sana, kulihat seseorang menyeruput kopinya hati-hati. Ia menyeka peluhnya setelah menyampirkan topi lusuh yang digunakan tiada henti. Warna lemon chiffon pada kausnya memudar dan celana panjangnya dipenuhi lumpur. Sepasang kaki tuanya yang telanjang saling bergesekan pada lantai batu, menyisakan serpihan tanah yang melekat di telapak kakinya.

Hal itu membuat dadaku sesak.

Masih kuingat ketika bapakku bekerja keras dan menghemat. Ia membawaku ke kota besar untuk memperoleh gelar sarjana dan master. Terakhir kali kami bertemu, ia kehilangan beberapa pounds dan menyisakan lemak tipis di bawah kulitnya yang menggelap. Aku tak sabar untuk bertemu dengannya. Madu dan kalsium kesukaannya sudah terbungkus rapi di dalam tasku.

Si pria tua di dalam kedai mengusap wajahnya dengan handuk kecil. Jemarinya yang berkeriput pun bergetar saat hendak meraih cangkirnya. Lagi-lagi hal itu membuat dadaku sesak. Kutundukkan wajahku karena mataku menggenang. Kupeluk tubuhku saat udara dingin dari pegunungan menyusup dari sela pakaian. Si pria tua mengingatkanku pada bapak. Aku tahu ia telah memaafkanku meski rasa bersalah itu masih menusuk-nusuk batinku.

Saat aku tergoda oleh dunia; saat aku kehilangan arah; saat aku mulai membentak karena tak sudi mendengar nasehat mereka; saat aku melupakan mereka; bapak dan ibu lah yang pertama kali memelukku. Mereka yang pertama kali mengucap maaf—padahal semestinya akulah yang melakukannya. Dan mereka menerimaku kembali dengan hati lapang dan ikhlas. Maka disinilah aku berdiri. Setelah sekian lama ibukota dan negara asing menyita sebagian dari hidupku, kuputuskan untuk kembali hanya untuk mencium tangan dan pipi mereka.

Kudongakkan wajahku dan kulihat si pria tua merogoh saku celananya. Selembar merah yang dilipat secara rapi diberikan pada Bu Lasmi. Ia tersenyum seraya menerima lembaran lain dan beberapa koin. Aku pun berdiri saat pria itu beranjak dari kedai. Dari balik pagar yang menyembunyikanku dari mereka, aku berjalan menyeret koporku yang berisik akibat roda yang bergesekan dengan aspal. Si pria tua menatapku dan kami bergeming sejenak. Sambil melayangkan seberkas senyum, ia meletakkan cangkulnya sembarangan.

Surprise!” kuucapkan kata itu dengan sedikit berteriak.

Ia lagi-lagi tersenyum. Saat ia mengetahui gerakanku untuk menyerbu ke arahnya, kulihat ia menyeka kedua tangan pada kaus lusuhnya. Kuraih dan kucium punggung tangannya. Tak lupa kuberikan sebuah pelukan hangat meski ia sedikit ragu untuk membalas pelukanku.

“Baju bapak kotor, Nak. Jangan melekatkan bajumu yang bagus ini.”

Suaranya parau dan lemah. Aku tahu ia lelah namun aku tak peduli. Kupeluk kembali tubuhnya yang menua dan membisikkan kata-kata rindu yang kupendam sejak terakhir kali kami bertemu. Ia balas memelukku, mengusap punggungku dengan maksud meredam tubuhku yang bergetar karena tangis.

Bapak melepasku kemudian kurasakan ia mengusap lembut kedua pundakku. Aku tersenyum saat kuseka wajahku yang dibanjiri air mata. Ia tidak menangis namun aku sangat mengetahui bapakku: seorang pria tua yang kuat dan tak pernah menunjukkan kesedihannya pada siapa pun.

“Kenapa tidak menghubungi dulu sebelum pulang? Bukankah seharusnya kau pulang bulan depan?” tanyanya seraya meraih cangkulnya. Kutarik cangkul kebanggaannya dan kuletakkan di atas kopor sementara kuseret kotak besar itu di jalanan. Kubiarkan bapak menggerutu saat kami berjalan beriringan.

“Sudah kubilang berapa kali bahwa bapak harus berhenti bekerja di ladang. Uang yang kukirim belum cukup, pak?” Aku mengelak.

Ada sedikit geram dalam nadaku dan si pria tua hanya tersenyum. “Kutabung uang itu karena bapak dan ibu ingin pergi ke tanah suci,” ucapnya.

Lantas aku menunduk, mengamati sepasang kakiku yang dibalut sepatu bermerek dan sepasang kaki bapak dengan sandal jepitnya yang kotor. Aku tak akan menanyakan dimana sandal yang selalu kukirimkan dari jasa online store. Karena ia akan menjawabnya dengan hal yang sama: tak ingin merusaknya.

Kukeratkan jemariku untuk menggenggam lengannya yang mengurus. Ketika dilema itu datang untuk tetap tinggal di negeri seberang atau tinggal bersama mereka, dengan berat hati kupilih opsi pertama demi mewujudkan keinginan mereka untuk pergi ke tempat impian. Demi bapak dan ibu, yang selalu mencintaiku dan mendukungku.

“Ibu baik-baik saja, ‘kan?”

“Tentu saja, Nak. Ibu dan adikmu pasti sangat senang mengetahui kedatanganmu,” ucapnya. “Kamu pasti lelah. Bapak akan buatkan kopi untukmu di rumah, seperti di kedai Bu Lasmi.” Kemudian ia tersenyum padaku.

Begitulah senja itu berlalu. Senja yang sangat kurindukan sejak musim dingin di negeri seberang. Aku hanya ingin menyeduh kopi bersama mereka yang telah menyelamatkanku saat aku kehilangan arah. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama mereka yang telah menyambutku kembali dengan senyum sederhana.

Ya, bersama ibu dan bapakku.

Pahlawanku yang sesungguhnya.

Dedicated to my old man. I never express myself in front of you—just like what you always do. But you know I love you, bapak. And I know you love me too.

END

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

2 thoughts on “PRIA DI KEDAI KOPI”

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s