ONE CHANCE

Kwon Jinyong mengeratkan selimut yang membungkus keseluruhan tubuhnya. Tak ada niat yang terlintas sedikitpun di pikirannya untuk sekedar menyapa mentari pagi yang sejak tadi mengusik kedua kelopak matanya yang nampak membengkak. Sisa-sisa efek dari minuman yang ditenggaknya semalam membuat badan kurusnya enggan melepaskan diri dari empuknya ranjang King Sie dengan seprai putih kesayangannya tersebut. 

Matanya dipejamkan erat. Masih bersikeras untuk tidak tersadar sepenuhnya. Dirinya berharap pagi yang datang ini hanyalah mimpi, bukan kenyataan.

Yah, Jiyong sama sekali tidak mengharapkan pagi ini datang.

Dia mengharapkan hari ini tidak pernah ada di dalam kalendernya.

Andaikan saja ada kekuatan magis yang bisa menghapuskan hari ini untuknya, maka dia pasti akan melakukannya. Apapun syaratnya.

Walaupun dia harus mencabut taring Nagini milik Voldemort atau mencuri sejumput bulu milik unicorn yang berasal dari negeri antah berantah, dia akan melakukannya.

Dia yakin dia pasti akan melakukannya…

Kwon Jiyong, pria realistis yang tampan dan selalu menjadi andalan dalam pergaulan maupun pekerjaannya ini akan mengerjakan hal-hal bodoh dan gila untuk gadis itu.

Gadis brengsek dengan kepribadian bak virus mematikan yang bisa melumpuhkan sel-sel kewarasan di otaknya hanya dengan menunjukkan senyumnya.

Gadis brengsek itu bernama Jang Sora.

~ o0o ~

Apa yang kau cari di dalam pernikahan? Kebahagiaan? Perlindungan? Cinta?

Aku yakin kau akan lebih merasakan semua itu jika bersamaku…(*)

Mata gadis itu terbelalak terkejut mendengar pernyataan Jiyong yang menurutnya gila. Jang Sora menelisik setiap sudut wajah Jiyong yang kini tengah duduk berhadapan dengannya di restoran Jepang, tempat mereka biasa makan dulu.

Terakhir kali mereka makan di restoran itu adalah dua bulan yang lalu, seminggu tepat setelah Sora menyatakan perasaannya pada pria tersebut. Gadis itu sudah terlalu lelah menunggu Jiyong untuk mengungkapkannya terlebih dahulu. Jadi dengan modal satu buah gaun mini dress berwarna merah (warna yang tidak pernah ada di dalam lemari bajunya) Sora mengajak Jiyong bertemu di restoran tersebut dan mengerahkan seluruh kemampuan berbahasanya untuk mengatur kata agar tidak nampak terlalu murahan saat mengatakan kata “Aku menyukaimu” pada pria itu.

Namun ternyata setelah perjuangan Sora yang sudah bersusah payah membaca majalah dan browsing di internet mengenai ‘Tata cara mengatakan perasaan terlebih dahulu kepada pria yang disukai’ tersebut, Jiyong dengan sangat tak terduga oleh Sora justru mengatakan kalau pria itu tak bisa menerima perasaan gadis bertubuh mungil itu.

Tak ada alasan yang dilontarkan dari pria yang memiliki banyak tato di tubuhnya tersebut. Hanya senyum terpaksa yang tersungging di bibirnya, senyum yang paling dibenci Jang Sora sepanjang dia hidup selama dua puluh tahun belakangan.

Namun sekarang lelaki yang mengecat semua rambutnya menjadi putih itu duduk di hadapannya. Memelas, memohon kepadanya agar mengubah pikirannya dan membatalkan acara yang sudah pasti akan terjadi keesokan harinya.

Dan saat ini yang ada dipikiran gadis itu adalah… Ini bukan Kwon Jiyong yang dia kenal.

Jiyong yang dia tahu memiliki harga diri yang cukup ekstrem untuk sekedar memohon sesuatu dari seorang gadis.

Jiyong yang Sora kenal, tak akan melakukan hal se ‘romantis’ ini untuknya.

Dan Jiyong yang ada di ingatannya, tidak menyukainya sampai sebesar ini…

“Kau… kau sedang bercanda kan?” Sora membasahi tenggorokannya dengan ludahnya. Matanya masih tak bisa berhenti menatap wajah Jiyong yang kini tertunduk di hadapannya, menunggu saat-saat ketika pria itu menunjukan cengiran menjengkelkannya dan berkata “Kau tertipu lagi…” kepadanya.

Tapi sepertinya tak ada tanda-tanda kalau pria itu akan berbuat hal semacam itu sekarang.

Jiyong mendesah, kemudian menarik napasnya berat. Pria itu menggigit-gigiti ujung kukunya, dan perlahan berusaha mengangkat kepalanya. Dia menatap lurus ke bola mata coklat milik gadis di hadapannya.

“Apa sebegitu seringnya aku mengerjaimu dulu?” Tanya Jiyong pelan, pertanyaan ini dia tujukan lebih kepada dirinya sendiri.

Lelaki itu menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jarinya, dan terkekeh.

“Benar juga, aku memang selalu seperti itu…” Katanya lagi, Sora mengerutkan keningnya tak paham.

Masih tak ada kata-kata yang terlontar sekitar dua menit setelah kalimat itu, Sora nyaris kehabisan kesabarannya menunggu Jiyong mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dengan dahi nyaris menyentuh meja.

Gadis itu sudah cukup lelah dengan semua ini, dan dia tak berniat sedikitpun membuang waktunya dengan duduk dan menggalau tak menentu dengan pria ini disini. Sulit baginya menata hati setelah ditolak olehnya dan kini dia tak mau membuatnya rusak lagi karena besok akan menjadi hari yang menjadi pintu gerbang untuk masuk ke dunia masa depannya.

Akhirnya gadis itu pun memutuskan bangkit dari duduknya, dan hendak beranjak dari tempatnya namun sebuah deringan menghentikan langkahnya.

 Woo – Dino – Bin

Jiyong mengangkat kepalanya, langsung menatap nanar ponsel milik Sora. Dengan kikuk Sora menekan tombol ‘reject’ kemudian mengangkat dagu Jiyong dengan tangannya dan memaksa pria itu untuk menatapnya.

“Kalau tidak ada yang kau bicarakan lagi, aku pulang.”

Jakkaman…

Sora melepas tangannya dari dagu pria tersebut, dan kembali duduk ke tempatnya semula.

“Aku punya satu pertanyaan…” Katanya pelan, “Apa yang kau cari di dalam pernikahan? Kebahagiaan? Perlindungan? Cinta?. Aku yakin kau akan lebih merasakan semua itu jika bersamakuJadi  Jang Sora, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi…”

Gadis itu mendesis, mata coklatnya nampak berkaca-kaca.

“Aku membencimu Kwon Jiyong… Kau tahu? Seharusnya kau tak pernah mengatakan kalimat ini sekarang, seharusnya aku tak pernah mendengarnya…” Sora mengusap air mata yang menetes di pipinya. “Kau selalu seperti ini… Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”

Gadis itu pun berdiri, dengan mengusap air matanya lagi kemudia berjalan tergesa meninggalkan restoran tersebut. Meninggalkan Jiyong yang sedang menatap kosong ke depan, tanpa memberikannya satu kesempatan lagi.

~ o0o ~

“Kau takut?”

Sosok pria tinggi dengan balutan  kemeja putih, jas putih beserta dasi berwarna abu-abu menatap Sora cemas, menggenggam tangan gadis itu lembut memberikan asupan semangat untuknya. Sora yang sejak tadi diam sembari memain-mainkan karangan bunga di tangannya akhirnya menoleh dan tersenyum lembut ke arah pria itu.

Aniyo, gwenchanayo…” jawabnya pelan.

Hari ini adalah hari besar bagi seorang Jang Sora. Hari dimana seharusnya dia merasakan kebahagiaan selayaknya para gadis-gadis di luar sana. Karena ini adalah hari pernikahannya. Namun akibat pertemuan tiba-tibanya dengan Jiyong semalam, perasan gadis itu menjadi kacau balau sekarang, dan dia mengutuk pria berambut putih itu karena membuatnya telah menjadi seperti ini.

Sora menatap pria disampingnya lagi, pria yang akan menjadi teman berdiri dengannya nanti di altar sana, lelaki itu memberikan senyum menenangkannya sekali lagi. Gadis itu meyakinkan dirinya sendiri kalau semua akan baik-baik saja.

Tentu akan baik-baik saja, Kim Woobin adalah pria yang sangat baik, Sora membatin

“Kau tahu, rasa-rasanya aku ingin mengambil sesuatu untuk mengawetkan penampilanmu hari ini. Kau benar-benar cantik Jang Sora…”

Sora tersenyum, tak ada yang perlu dia khawatirkan lagi saat ini. Dia mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintainya sekarang, dan kelak Sora yakin kalau dia akan jatuh juga kepada pria yang mencintainya ini.

~ o0o ~

Woobin benar-benar mewujudkan segala impiannya. Dia yang merencanakan seluruh konsep dari acara ini. Seakan mengenal betul tentang calon mempelai wanitanya, pria itu mendedikasikan pernikahan ini hanya untuk Sora. Jadi semua yang ada dan disediakan di acara tersebut, semua sesuai dengan selera dan impian dari gadis itu.

Sebuah taman yang disulap menjadi tempat acara dengan dekorasi serba putih. Dengan berbagai macam dan jenis bunga di setiap sisinya. Makanan yang dihidangkan pun sesuai dengan selera Sora, gadis itu seorang vegetarian jadi semua makanan yang disediakan Woobin sendiri yang memastikan kalau tak ada daging sedikitpun di dalamnya.

Suara dentingan piano mengiringi langkah Sora yang menggamit lengan kakak angkatnya, Jang Woohyuk. Perjalanan yang terasa amat panjang dari ruangan sebelumnya menuju ke altar dimana Woobin menunggunya dengan senyum bahagia yang menunjukkan deretan gigi sempurnanya.

“Jangan menikah Sora-ya…”

Tangan gadis itu mendadak dingin, kalimat demi kalimat yang diucapkan pria itu semalam menyerang pikirannya tiba-tiba.

“Aku yakin ini belum sepenuhnya terlambat, jadi kau bisa batalkan semuanya sekarang.”

Sora menggelengkan kepalanya, berusaha menepis ingatan tersebut dan fokus dengan langkahnya.

Aku tahu kalau pria itu jauh lebih baik dariku saat ini, tapi beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan merubah segalanya, Sora-ya…”

Apa yang kau cari di dalam pernikahan? Kebahagiaan? Perlindungan? Cinta?. Aku yakin kau akan lebih merasakan semua itu jika bersamakuJadi  Jang Sora, aku mohon beri aku satu kesempatan lagi…”

“Satu kesempatan lagi…”

“Aku mohon…”

~ o0o ~

Jiyong menggigiti ujung-ujung kukunya, hal yang sudah menjadi kebiasaannya saat dirinya sedang berpikir atau cemas. Televisi yang sedari tadi menyala tak sedikitpun dia gubris, pikirannya sedang tak fokus ke benda elektronik tersebut saat ini.

Pria itu sedang memikirkan tentang bagaimana rencana kelangsungan hidupnya setelah ini. Setelah dirinya dicampakkan oleh gadis yang belakangan ini sudah mewarnai hari-hari yang sebelumnya sangat membosankan. Dulu setiap harinya Jiyong akan berpikir mengenai apa yang akan dia lakukan untuk membuat gadis bermata coklat itu kesal dan memperhatikannya.

Namun setelah hari ini berlalu, dia akan kehilangan semua itu…

Hari-hari berwarna itu…

Dan juga gadis itu…

Ponsel putih dengan sticker apel di baliknya bergetar, sebenarnya sudah sejak satu jam yang lalu benda itu memanggilnya. Namun pria itu sedang dalam kondisi tidak ingin berbicara dengan siapapun, jadi dia biarkan saja benda itu berputar-putar di tempatnya. Sedangkan dia masih asyik duduk di depan televisi sembari menggigiti kuku-kukunya hingga pendek.

Tak lama setelah ponsel tersebut berhenti berdering, bel apartemennya berbunyi. Jiyong berencana membiarkannya saja, namun sang pembunyi bel tersebut seakan tahu kalau pria itu sedang sengaja menghiraukannya. Orang itu akhirnya terus menerus menekan bel secara nonstop.

Jiyong pun akhirnya bangkit dari tempatnya dan menyeret langkahnya menuju pintu, sambil mengacak rambutnya frustasi dia berteriak, “Yak!Kalau orang tidak mau membuka pintunya, itu tandanya dia sedang tidak mau diganggu. Apa kau tidak pernah diajari etika sederhana seperti itu oleh orang tuamu!

Seorang gadis dengan gaun putih panjang dengan model bahu terbuka dan belahan rok yang cukup tinggi menyambut pandangan mata Jiyong begitu dia membuka pintu apartemennya.

Mata coklat gadis itu menatap Jiyong tajam.

“Ap… Apa… Bagaimana bisa kau disini? Bagaimana dengan acara itu?”

Sora menaikan sudut bibirnya, senyumnya bercampur dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Sambil mengigit bibirnya, gadis itu melangkah cepat dan menghamburkan tubuhnya ke pelukan Jiyong.

“Ini semua karena kau memohon padaku,kau harus ingat itu baik-baik!Aku melakukan semua ini karena kau yang memohon, jadi jangan membuatku menyesal.”

Lelaki itu tersenyum begitu mengerti situasinya saat ini. Senyumnya semakin lebar saat dia merasa kaosnya basah akibat air mata Sora.

“Jangan bertanya apapun padaku sekarang, aku sedang tidak dalam mood untuk menceritakan bagaimana proses perjalananku hingga ke tempat ini…”

Arraso, aku tidak akan bertanya… Hanya saja sekarang aku jadi paham, kalau kau mencintaiku sebegitu dalamnya.”

“YAK KWON JIYONG, AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU! ! !”

 ~o0o~

Epilog…

Woo – Dino – Bin

 Is calling…

Sora menatap ponselnya dan Jiyong bergantian, mempertimbangkan untuk menerima panggilan itu atau tidak. Pria itu mengangkat kepalanya dan tatapan matanya tertuju pada ponsel Sora yang masih berdering. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menolak panggilan tersebut dan menarik dagu Jiyong dengan jari-jari lentiknya.

Di luar sana, tanpa mereka sadari. Sesosok pria tinggi tengah mengamati mereka dari balik kaca restoran tempat dimana mereka berdua berada saat ini. Pria itu menggenggam erat ponsel nya dan tersenyum getir.

“Gadis itu… Dia memang memiliki selera yang sangat unik. Aku seharusnya tahu ini akan terjadi saat melamarnya waktu itu…” Gumam Kim Woobin miris.

Woobin mendongakkan kepalanya. Langit kota Ilsan cukup cerah malam ini, banyak bintang yang berkelip seakan meledeknya yang berdiri sendirian seperti orang bodoh di trotoar yang mana banyak pasangan kekasih berlalu-lalang melewatinya.

Pria itu tersenyum lagi, menatap Sora yang kini sudah mulai beranjak dari hadapan Jiyong dan melangkah menuju pintu keluar. Woobin bersembunyi, di balik salah satu pohon yang tertanam di trotoar , memperhatikan gerak-gerik gadis tersebut.

Setelah yakin taksi yang dihentikan Sora pergi, pria itu masuk ke dalam restoran untuk menemui Jiyong yang masih duduk mematung disana.

“Apa lagi sekarang…” Jiyong berujar sinis.

“Aku tak akan berbasa-basi…” Kata Woobin datar, “Sekarang kita tinggal menunggu hasilnya. Gadis itu sendiri yang akan menentukannya. Jadi…”

“Jadi?”

“Berdoalah, semoga masih ada satu kesempatan lagi untukmu…”

Jiyong menatap Woobin tajam. Mereka tahu, kalau mereka sama-sama membutuhkan satu kesempatan itu.

Satu kesempatan untuk memiliki Jang Sora…

END

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: chocholia

Its not about me, its all about you...

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s