EXO PLANET “Side Story”

EXO PLANET NEW POSTER 02

JIKA BUKAN KARENA TITAH PARLEEMOS, ia bersumpah tak akan menjejakkan diri pada ambang ruang pusaka yang dipenuhi cetak tebal peninggalan tiap generasi. Jika bukan karena titah Parleemos, ia bersumpah tak akan menyentuh buku-buku tebal di sana meski benda itu dilapisi kulit mushe1 yang diberkahi setiap malam oleh para cenayang. Sekali lagi, jika bukan karena titah Parleemos, ia akan menyeret Kai dan D.O untuk menggantikannya melakukan tugas—yang bagi sang tokoh utama kerajaan—istimewa tersebut.

Sehun menyeka peluh. Hari belum sepenuhnya berakhir namun peninjauan perdagangan hitam di pelabuhan curó telah mengikis sebagian besar tenaganya. Tubuh dan pikirannya berangsur tenang saat menyentuh bulu ovess yang melekat pada singgasana kecil yang dibangun dari kayu hutan kehidupan. Sesuatu yang konyol kemudian membuat Sehun membunyikan tawa. Sungguh menggelikan saat ia memohon pada Chanyeol untuk memungut potongan pohon yang runtuh di hutan suci. Ia tak pernah menginginkan kursi Parleemos, tapi tak ada salahnya untuk menghias ruang kecil yang menjadi bagian dari haknya tersebut dengan sesuatu yang berharga di planetnya.

Sambil menghirup udara lembab, rambut keabu-abuannya disisir lembut mengikuti pola undercut yang dibentuk oleh pelayannya. Sejak Zaque meluangkan waktu siangnya dari tugas castẻ bulan lalu, yang mampu ia lakukan hanyalah membaca buku dan perkamen tua.

Ya, membaca. Tugas mulia itulah yang diberikan Parleemos padanya.

“Sedikit lagi, Sehun. Kau hanya perlu bertahan sedikit lagi.” Ia bergumam pada dirinya sendiri saat meraih buku bersampul lavender di atas meja.

Setebal kulit razours; rapuh dan rentan; tak disangka buku tersebut masih utuh selama hampir satu abad berlalu. Meski membosankan, ada satu hal menarik yang disukainya dari buku tersebut. Sesuai dengan warna penutupnya, ia selalu mencium semerbak lavender acapkali ia membuka lembaran demi lembaran. Seperti wangi yang mewakili pesona seorang wanita yang diceritakan dalam buku tersebut; seperti wangi seorang huglooms.

Sehun kembali menyisir rambutnya. Hanya tersisa beberapa lembar saja dan rutinitasnya akan kembali sempurna; menggoda para pelayan aduhai di kedai Bapak Ghom bersama Baekhyun di kala senja tiba. Entahlah, mungkin Parleemos mengetahui kebiasaan buruk yang ia peroleh dari si pengendali cahaya. Karena itu beliau memisahkannya dari Baekhyun.

Alat bantu penglihatan pun diatur manis, mengapit tulang hidung dan menciptakan ketidaknyamanan di wajahnya. Dalam jemu, ia berharap Kai segera kembali untuk menemaninya. Dua hari telah berlalu sejak si pengalih materi memperkenankan diri untuk pergi berlibur. Gedung besar yang menjadi markas castẻ Krypth semakin senyap layaknya rumah berhantu.

‘Huglooms: Sang Penjaga Scutus’ tergeletak manis di pangkuan. Ada sedikit keraguan di dalam benak Sehun untuk memulai. Setiap kali ia menyoroti  ketebalan tersebut, wangi lavender bahkan tak mampu menghilangkan bosan yang melemahkan semangatnya untuk membaca. Kemudian ia beralih pada buku tua lain dengan warna navy dan maroon yang merampai seperti adonan kue. Tak ada judul pada sampul; hanya sebuah simbol dari goretan tinta hitam dengan garis sederhana berbentuk seperti garpu bergigi tiga yang dikelilingi titik api.

Sehun menyeringai. Ia hanya membutuhkan secangkir viinum untuk mengakhiri buku tipis dengan cerita singkat yang dikemas ringan tersebut—dan ia benar-benar telah mengakhirinya. Hanya saja. sangat disayangkan plot mengenai sang penjaga scutus tidaklah sesederhana buku tersebut.

“Jika Parleemos tidak menyuruhku untuk membaca buku ini, Suho tak akan memiliki ide tersebut dan bersikeras memaksa para castẻ untuk memburu huglooms,” gumamnya.

Ia mencampakkan si tebal dengan menjadikannya sebagai alas. Dengan perasaan setipis buku, ia kembali menguntai kata demi kata dimulai dari halaman pertama. Sejujurnya, ia lebih menyukai cerita pendek dan bergambar. Seperti cerita dalam buku tersebut; tentang penyihir maallum, si pemakan tubuh pria tampan…

Pada suatu ketika, di sebuah kota kecil bernama Prada, seorang pandai besi menikahi pengrajin tenun di wilayah tersebut. Keduanya merupakan pasangan yang dikenal cantik nan rupawan. Mereka diberkahi sepasang anak perempuan dan satu anak laki-laki. Ketiganya adalah kebanggaan sang ibu meski sang ayah tidak memberikan adil yang sama pada si anak perempuan kedua.

Namanya Maallum; tubuhnya pendek, rambut ikal yang berantakan, gigi-giginya yang didominasi oleh taring membuat rahang lebarnya seperti piranha, tak lupa kulit tubuhnya yang bersisik membuat siapapun mencemoohnya.

“Mengapa aku tak secantik ibu dan kakakku?”

Begitulah yang dikumandangkan Maallum setiap kali ia bercermin. Ibunya tak kuasa menenangkan dan menghiburnya. Bahkan hingga ia beranjak dewasa, kedua saudaranya mengejek dan memakinya seolah ia adalah makhluk kotor dan hina.

Tak kuasa menerima caci maki tersebut, Maallum menjauh dari mereka dan pergi menuju tanah pauos. Di dalam gua yang ditemukannya, ia memohon kepada pencipta alam semesta. Dalam tangis, ia mengucap dendam yang merobek-robek hatinya. Kemudian ia mendengar roh bicara, roh yang memberikannya sebuah kekuatan dengan syarat gadis itu harus mempersembahkan seorang pria pada malam bulan penuh.

Maka ia kembali dan mempersembahkan tubuh ayah dan adik laki-lakinya. Roh menepati janjinya; memberikan kekuatan naracaz yang mampu membuat Maallum merasuki tubuh seseorang. Ia membalaskan dendamnya dengan mengoyak jiwa siapa pun yang menghinanya. Termasuk saudara perempuan dan ibunya.

Suatu hari ia bertemu seorang pria dan jatuh cinta. Dalam tubuh seorang gadis rupawan, Maallum mengelabuinya hingga ia melupakan persembahannya di bulan penuh berikutnya. Maka roh itu mengambil kembali kekuatan yang diberikan pada Maallum, mencampakkan gadis itu bersama jiwanya yang melayang-layang mencari sosok lemah yang mampu menampung jiwanya. Sang roh jahat hanya memberinya sebuah petunjuk untuk bertahan, yakni membunuh para pria untuk memperoleh kembali tubuhnya.

Sejak saat itu, para pria penghuni planet EXO selalu diselubungi cemas karena sewaktu-waktu Maallum akan datang mengambil jiwa dan raga mereka.

Sehun kemudian terperanjat saat mendengar bunyi debam di atas kepalanya. Ia memaki sebagai satu-satunya cara untuk menenangkan diri. Meskipun penyihir Maallum hanyalah satu di antara legenda planet, ia sama sekali tak mengharapkan si gadis buruk rupa itulah yang membuat keributan di lantai kedua.

Setahunya, tak ada makhluk lain selain dirinya di dalam markas. Sehun lantas bergegas, menjejaki tiap anak tangga hingga sesuatu seperti gumpalan udara yang membentuk manekin di ruangan Kai membuat Sehun menganga.

Kai telah datang.

Si pengalih materi telah mengemban misinya untuk menjadikan Huglooms sosok yang nyata.

“Kai. Itu…” ucap Sehun tak percaya.

*END OF EXO PLANET*

1mushe: musang berkaki dua. Memiliki sepasang mata hijau yang menyala saat gelap. Hidung anjing dan lengan kecil tanpa jari. Ekornya yang panjang membuat ia menyamar menjadi gulungan kapas saat bersembunyi dari bahaya.

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

4 thoughts on “EXO PLANET “Side Story””

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s