MERMAID “Chapter 03”

Last update: November 22th, 2012

MESKI CAHAYA MENTARI MENEMBUS KATUP MATANYA sejak separuh waktu lalu, Sabina masih tetap di sana; di dalam tub bersama air laut yang menyelubungi tubuh ikannya. Ia tak peduli saat sepasang wanita dengan pakaian pesuruh istana memasuki ruangan. Ini bukan tempatnya dan mereka tak perlu meminta izin darinya. Gadis itu tak melakukan hal lain terkecuali berdiam diri. Sayup-sayup ia mendengar salah satu di antara wanita pesuruh membisikkan sesuatu—mengira bahwa Sabina adalah sebongkah patung pahatan. Dan saat ia dengan sengaja menciptakan riak kecil, keduanya terkejut hingga menimbulkan suara ringkih kuda.

Sabina perlahan menghela napas. Panas, kasar, dengan bau bercampur tanah. Ia selalu merasakan sensasi itu saat menghirup udara daratan: tubuhnya bergetar dan menegang. Sama halnya dengan ekornya yang kemudian berubah abu-abu. Ia tak memiliki pilihan lain saat ini. Untuk menemukan Sviesa, ia membutuhkan energi dan hal itu dimulai dari tub sempit selebar tubuhnya.

Kepalanya mendadak berkedut nyeri. Tanpa melakukan gerakan yang mencolok, Sabina hanya mengerutkan alis dan mengeratkan bibir. Berbagai pertanyaan di dalam benaknya dijawab oleh pikiran-pikiran buruk yang menaunginya. Hal itu meresahkan Sabina. Ia mencoba menepisnya dengan sesuatu yang baik, meski puluhan busur vermillion yang meluncur menyerang habitatnya seolah menusuk-nusuk tubuhnya—membiarkan pikiran kotor menyelundup dari lubang-lubang busur yang tercipta.

“Mengapa kau masih diam di sana?”

Suara maskulin itu mengejutkan Sabina. Ekornya mengepak seperti sayap Arklys, memercik air, membasahi ujung sepatu makhluk lain yang muncul tanpa terdeteksi oleh inderanya. “Nyaris saja kau membunuhku, Lee Hyukjae.” Ia berucap seperti desis ular. Sambil menyisir rambutnya yang basah, ia melihat si pria tercenung. Antara rasa bersalah karena keterkejutan Sabina dan jengkel akibat sepatunya yang becek, Hyukjae hanya mampu membungkam emosinya dengan satu hembusan napas.

“Asal kau tahu, terlalu banyak berpikir akan membuatmu bodoh.” Hyukjae membungkuk untuk menyeka penutup kakinya. Setelah itu ia baru menyadari bahwa gadis yang menghuni ruangannya tadi malam sama sekali tak menyentuh ranjangnya.

Sabina masih di tempatnya, mengamati setiap gerakan kecil yang Hyukjae tunjukkan. “Bisakah kutemui Leeteuk? Ada yang perlu kubicarakan dengannya,” ucapnya.

“Upacara andoeva akan dilaksanakan sebentar lagi. Kurasa kesempatan itu tak akan datang hingga esok hari,” si pria menjawab singkat.

Baginya, ucapan Hyukjae begitu tegas tanpa ketus yang berlebihan. Namun Sabina menarik kesimpulan bahwa seiryuu kesembilan itu tidak menyukai makna tersebut. Yang ia ketahui, andoeva adalah upacara penyerahan pemimpin wilayah kepada Donbang yang berpusat di kota Shinki; tepat berada di titik pertemuan ke empat penjuru angin. Ia mengetahuinya dari salah satu genbu, penguasa utara, saat mereka mendapatkan surat perintah tersebut bulan lalu.

“Kau tidak dikirim ke sana untuk menjadi bagian dari kemiliteran Donbang bukan?”

Dari cara pria itu menatapnya, Sabina mengetahui bahwa Hyukjae terkejut atas ucapannya. Keduanya terdiam cukup lama, saling membaca karakter masing-masing dari raut wajah mereka. Terlebih dengan apa yang Hyukjae lakukan padanya. “Cukup banyak—Hangeng, Sungmin, Shindong, Kibum dan Ryewook. Aku masih tak mengerti mengapa Leeteuk memutuskan untuk mengirim mereka,” kemudian ia menunduk seolah menyimpan beban di dalam kepalanya.

Katup matanya yang semakin sayu membuat Sabina kesulitan untuk menatap Hyukjae. Ia merendam tubuhnya ke dalam air, meski sesungguhnya ia tak ingin mengakhiri perbincangan singkat tersebut. Rasanya jauh lebih baik; air adalah kehidupannya; air adalah jiwa dan raganya. Mungkin dengan menenggalamkan diri ke dalam lautan akan membantunya untuk berpikir tenang. Ia tidak menyukai garis-garis hitam yang membuat wajah Hyukjae mengusut. Ia tidak menyukai kegalauan yang mengusik cara Hyukjae bicara.

“Sabina,”

Sepasang pupil hitam Sabina membelalak tatkala menemukan Hyukjae berada di sisinya. Dibatasi oleh permukaan air pada tub, mata mereka saling bertemu dan menatap lekat. Rambut cokelatnya yang menerang nyaris bersentuhan dengan air. Entah mengapa Sabina merasakan setitik kesedihan dari cara pria itu menatapnya. Tidak seperti kemarin saat acuh lebih mendominasi.

“Aku tidak bermaksud untuk menakuti atau menggertakmu. Hanya saja, kemunculanmu di tengah kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini membuatku dan para seiryuu lebih waspada.” Kemudian ia berpaling untuk menghindari tatapan Sabina yang mendalam. “Leeteuk telah meyakinkanku bahwa kau adalah satu di antara hal-hal lain yang tak perlu kukhawatirkan. Meski masih kutanyakan pada diriku sendiri mengapa kubawa dirimu kemari saat itu.”

Benar. Kini Sabina yakin bahwa ada sesuatu yang mengusik pikiran Hyukjae. Ia terlihat kehilangan arah, fokusnya terbilah saat bicara. Perubahan drastis yang cukup mengganggunya itu membuat Sabina bertanya-tanya.  Ia beranjak, menyisir rambutnya yang panjang untuk menutupi tubuh ikannya yang telanjang. “Sekalipun kau tak menyelamatkanku, aku akan tetap berusaha untuk mencapai pemimpin penguasa terdekat,” kemudian ia menunduk saat kilatan penyerangan yang menyakitkan itu kembali mengoyak perasaannya.

Hyukjae tersenyum. Senyum pertama yang ditemukan Sabina hari ini. “Saat ini kau adalah tanggung-jawabku dan aku akan tetap mengawasimu. Lagipula, aku masih tak mengerti bagaimana seekor duyung dapat mengetahui tentang andoeva.” Ia berdiri setelah membisikkan kalimatnya di wajah Sabina. Semerbak wangi dedaunan segar mengalir bersama napasnya.

Ia memberi tanda pada Sabina lewat hujaman sorot matanya. Sebuah peringatan tersembunyi yang dilontarkan secara halus. “Bersiaplah, jika kau tak ingin melewatkan perayaan tersebut,” ucap Hyukjae seraya menyambar jubah maroon yang telah disiapkan pelayan dengan simbol seiryuu yang tersemat pada tiap ujung.

Di balik tubuhnya, Sabina membisu. Yang terbaik baginya saat ini adalah menerima ajakan Hyukjae tanpa menyela. Sungguh tak disangka Hyukjae mempersingkat keingintahuannya. Jika pria itu mengetahui alasan di balik pengetahuannya mengenai andoeva, ia yakin sang penyelamat hidupnya tersebut tak akan melindunginya lebih jauh.

Andoeva hanya diketahui oleh tiap generasi pemimpin dan petinggi istana terpilih. Bukan publik maupun seekor duyung seperti dirinya.

-0-

JALAN YANG MEMBENTUK JEMBATAN PANJANG dan berliku membawa Sabina ke gedung lain. Masih pada tempat yang sama; masih pada bukit terjal yang sama. Melewati terowongan pada salah satu air terjun yang menghimpit istana, pun diiringi sepasang penjaga dengan baja yang menyelubungi lengan mereka, Sabina membentuk langkah berirama bersama hentak dari ujung tombak sang penjaga.

Gadis itu mengintip dari sudut matanya. Pada satu sisi ia melihat hamparan rumah penduduk dihiasi oleh sungai dan waduk; sama persis dengan apa yang ditemukannya dari balkon utama istana. Di sisi lain, pengamatannya dibatasi oleh tanah dan bebatuan berlumut. Dinding bukit yang menyatu dengan sisi jembatan itu tiba-tiba mengingatkannya pada Sviesa. Saat itu keduanya tengah melintasi jembatan di dalam laut bonito untuk berburu duyung liar yang mencuri di gudang mereka. Hingga akhirnya patung sepasang pria pembawa penyu di tiap sisi jembatan menghentikan mereka untuk bergerak lebih dalam. Itulah saat pertama kali ia mengetahui letak istana genbu. Dan lagi-lagi ingatan itu membuatnya merindukan Sviesa.

Langkah mereka terhenti setelah melewati valley di antara bukit. Di hadapan mereka kini hanya ada sepasang pintu dari kayu balsa. Tingginya mungkin hampir sama dengan lima penjaga yang saling berderet. Karena keamanan yang tinggi, ia diharuskan untuk menjawab beberapa hal yang dilontarkan penjaga lain dari kotak kecil yang melekat pada daun pintu. Setelah mendengar pintu tersebut menderu, barulah ia sadar bahwa ia telah lulus.

Sepasang penjaga yang mengapitnya menyuruh Sabina untuk mengikuti arah panah biru di lantai. Ia menurut dengan mendaki anak-anak tangga yang membawanya pada sebuah alun-alun raksasa. Sabina kemudian memandang takjub. Di sana, di pusat alun-alun yang dilapisi rumput hijau nan segar, ia menemukan sebuah formasi manusia. Kelima pria dengan pakaian seiryuu duduk di atas lutut masing-masing. Saling menunduk, seseorang dengan ponco dan tudung putih yang terang menyentuh kepala mereka satu per satu. Tak ada suara selain kata-kata sihir yang dikumandangkan si pria berponco. Dan ia sama sekali tak memahaminya.

Sabina hendak mencapai mereka hingga sesuatu menghentikan niatnya. Bukan karena ia menemukan Leeteuk berdiri rapi bersama seiryuu lain di balik para lelaki persembahan andoeva. Melainkan formasi empat penjuru yang menyilaukan matanya dengan warna-warna mereka yang berbeda. Ini kali pertama ia melihat pearl-blue dari penguasa barat, SHINee, tapi tidak untuk warna pink dan perak dari penguasa selatan dan utara.

Mendadak jantungnya berdebar hebat. Getar di tubuhnya merambat hingga ke ujung kaki saat ia kesulitan menghirup udara. Sabina melangkah mundur, memutar arah untuk kembali. Ia tak perlu mencari tahu siapa-siapa saja dari tiga penguasa yang datang pada upacara andoeva ini. Ia tak ingin kehadirannya diketahui oleh mereka. Mentalnya belum siap dan ia tak memiliki perlindungan yang baik saat berada di daratan.

“Hei, kau.”

Suara itu berdering dari arah lain, membuat Sabina semakin menunduk menyembunyikan wajah oleh rambutnya yang panjang. Itu suara seorang wanita. Dan dari caranya bicara, wanita itu bukanlah penjaga maupun pengurus istana yang mengenalnya.

“Tak ada seorangpun yang berani menghadiri andoeva di tengah upacara.”

Suara itu mendekat. Sabina bahkan mampu melihat ujung gaun linen yang ditenun oleh sutera dan emas di bawah matanya. Warna pink yang lembut dari gaun si wanita semakin menggetarkan tubuhnya. Warna dari sosok itu bukanlah pertanda penduduk timur, bukan pula dimiliki oleh para seiryuu.

“Pakaianmu terlalu indah untuk dijadikan seragam pesuruh maupun pelayan istana. Tunjukkan padaku bahwa kau memang layak untuk menjadi bagian dari upacara andoeva.”

Sabina mengeratkan helai-helai rambutnya saat wanita itu hendak menyentuhnya. Ia tak ingin wanita itu mencurigainya jika ia memberikan penolakan.

“Dia pelayanku, jadi pergilah dan jangan membuat kericuhan dengan suara lengkingmu yang menakutkan.”

Setelah suara yang lebih maskulin tersebut mengakhiri ucapannya, Sabina merasakan cengkeraman kuat di bahunya. Jari-jari berotot itu mendorong tubuhnya hingga jatuh berlutut. Penuh paksaan, kasar dan menyakitkan, Sabina bahkan nyaris memberontak jika saja wanita dari penguasa selatan tersebut tidak berada di sana.

“Sejak kapan kau memiliki pelayan pribadi?”

“Sejak kau selalu menggangguku. Sekarang pergilah atau aku akan memaksa penjaga untuk menyeretmu.”

“Jangan mendikteku, Lee Hyukjae. Bisa saja kurobohkan tempat ini jika kumau.”

“Kau tak akan bisa melakukannya. Kau tahu itu,”

Mereka saling beradu argumen cukup lama. Konfrontasi itu semakin panjang dengan pengaduan si wanita atas hal-hal kecil yang terjadi di antara keduanya. Seperti momento; seolah mereka pernah menjalin sebuah kisah meski Hyukjae selalu menolaknya. Sabina tak mampu menelisik sepasang manusia dari wilayah berbeda tersebut karena tubuh si pria menghalanginya—lebih tepatnya melindunginya.

“Kau,” sambil menunduk Sabina mendapati gerakan kecil dari tangan Hyukjae. Ia mendongak, menatap Hyukjae yang menjulang seperti pohon Ẻternit. “Tetaplah duduk di sana hingga aku kembali.”

Ia menunduk. Kali ini tak menyukai keseriusan bercampur amarah yang menggoresi wajah Hyukjae. Dengan gerakan yang cepat, Hyukjae membuat si wanita mengaduh karena pria itu menyakitinya dengan menarik lengannya kuat-kuat. Sabina hanya mampu menelisik warna pirang dari rambut si wanita—juga suara khasnya. Dan ia akan mengingat dengan baik hal tersebut sebagai petunjuk lain atas Sviesa.

“Ikut aku dan berusahalah untuk tidak bersuara,” seseorang berbisik di telinganya. Sabina menoleh, menatap pria lain yang hadir bak hantu voodoo di sampingnya. “Hyukjae menyuruhku untuk membawamu jadi kau tak usah memandangiku seolah-olah aku adalah seorang penjahat wanita.” Ia berkata seolah mengetahui apa yang ada di dalam kepalanya, masih dengan suara bisikan yang menyejukkan.

Sabina mempelajari gerak-gerik si pria dengan wajah yang nampak ramah tersebut. Entah mengapa kepalanya mendengungkan sesuatu; bahwa pria itu tak akan menyakitinya. Mungkin karena ia mengenakan jubah maroon yang sama dengan Leeteuk dan Hyukjae; mungkin karena warna rambut yang sama dengannya; mungkin karena kulit putihnya yang halus seperti gulungan awan; atau mungkin karena lesung pipi yang sangat ia sukai dari pria-pria manapun di dunia.

Keduanya berjalan dengan langkah yang cepat, menelusuri jembatan dalam waktu yang singkat. Mencapai terowongan air terjun, pria itu memilih jalan lain menuju bagian belakang istana. Diikuti oleh Sabina, keduanya terhenti di pusat halaman yang dikelilingi oleh rumput beluntas yang berpola. Tubuh si pria yang lebih tinggi dari proporsi Lee Hyukjae itu terengah-engah saat duduk pada salah satu bangku. Ia mengaduh pada dirinya sendiri betapa ia membenci keringat dan bau apek yang ditimbulkan dari pori-pori tubuhnya.

“Kemarilah,” ia menyuruh Sabina untuk mendekat. “Namaku Kim Heechul dan kau boleh memanggilku pangeran tampan,”

-o-

MATANYA TERPEJAM SEMENTARA LENGANNYA SALING menyimpul di dada. Yang mampu dipandangi Sabina saat ini hanyalah seorang pria berparas cantik dimana bibir tipisnya memagut-magut seperti tikus pengerat. Ia bernapas dengan hati-hati. Tak ingin merusak tatanan rambutnya yang melambai-lambai sederhana oleh udara. Ia terlihat damai di tengah kesunyian yang berhasil menyembunyikan mereka dari hiruk-pikuk istana. Ditempati oleh lima belas seiryuu, gedung besar yang dikelilingi oleh tujuh menara tersebut menjadi asmara pria yang selalu dipenuhi keributan.

“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu, Sabina?”

Sepasang mata hitam Sabina mengedip dalam sekejap. Ia yakin pria itu tak memiliki mata lain yang tersembunyi di balik kemeja hitam berkancing maroon ataupun di balik rambutnya yang legam dan tertata. Karena saat ini sang seiryuu berparas cantik masih terpejam.

Kaku ia menjawab, “Sampai kau bicara padaku,” ucapannya disertai sebuah tanda tanya yang mengabur di ujung kalimat.

Kim Heechul tertawa lantas ia menatap Sabina dengan keceriaan yang belum pernah ia temukan sebelumnya. Cantik di wajahnya lagi-lagi membuat Sabina terpukau. Ia masih berusaha memahami bagaimana cara pria itu mengusir noda dan kotoran di wajahnya. Jauh berbeda dengan Hyukjae—kulit pucatnya lebih merona di kala pagi menjelang. Setelah itu Arklys dengan senantiasa menjadi sukarela untuk melekatkan debu-debu di wajah Hyukjae saat mereka mengangkasa.

Gadis itu terpaku sejenak tatkala Heechul menggenggam jemari Sabina dalam sekali gerakan. Tanpa tekanan yang berlebihan, ia merasakan sentuhan lembut yang mengikis kulitnya yang mengering. Heechul kembali menatapnya; tanpa kedipan, tanpa jiwa, seperti hilang ditelan pikirannya sendiri. Tak lama kemudian ia menggeleng seraya meletakkan jemari Sabina di pangkuan pemiliknya.

“Selamat. Kau telah lulus,” ucapnya disertai tepukan singkat. Sementara Sabina tak mampu menemukan pengertian dari kata-katanya. “Pertama dalam sejarah, seorang manusia duyung memiliki pikiran yang sangat kompleks. Kukira di dunia ini hanya aku dan Yesung yang memiliki keunikan tersebut—maksudku, di wilayah timur.”

Lantas pria itu kembali mengoceh seperti Sviesa. Membuat Sabina menahan senyumnya karena baik Heechul dan Sviesa memiliki kesamaan yang cukup kentara: menggabungkan tiga sampai lima kalimat dalam satu tarikan napas. Gadis itu mendengar Heechul menyebut beberapa nama yang dianugerahi keunikan yang sama—meski ia tak mengerti mengapa Heechul menyebut ‘pikiran kompleks’ sebagai sebuah keunikan. Di antara nama-nama tersebut, ia hanya mengenal Suho. Si pengendali air, salah satu genbu penguasa wilayahnya.

Nama Suho tiba-tiba mengingatkannya pada pria-pria berseragam perak di tengah upacara andoeva. Mungkin penguasanya berada di sana atau genbu lain yang tak ingin didengarnya. “Hyukjae tidak mengatakan padaku bahwa akan ada tamu dari penjuru lain,” ia berucap

“Tentu saja, Sabina. Andoeva adalah upacara penting bagi seluruh negeri. Bahkan Yunho dan Max hadir di sana.”

Sabina membelalak. “Yunho dan Max?” dan disambut oleh anggukan Heechul.

Ia mencoba untuk memutar ulang gambar singkat yang dilihatnya beberapa menit lalu. Kepalanya dipaksa untuk berpikir keras. Yunho dan Max, para duyung di habitatnya sangat mengagumi sepasang penguasa dari keempat penjuru. Ketampanan mereka melebihi kepopuleran para genbu. Meski tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui rupa dan bentuk sang penguasa, ada hal menarik tersendiri bagi mereka saat membayangkan eksistensi Yunho dan Max. Rasanya Sabina ingin memaksa Heechul untuk membawanya kembali ke tengah upacara. Yang mampu ia ingat hanyalah seorang pria berponco putih pemimpin upacara.

Oh, ada sepasang manusia berjubah di balik si pria berponco. Dengan model rambut yang sama, warna yang sama, serta jubah berhiaskan simbol matahari yang dikelilingi empat garis terpisah. Mungkin keduanya adalah Yunho dan Max.

Sabina menghentak kakinya pada rerumputan. Ia sungguh menyesali perbuatannya—menjauh hanya karena cemas atas kehadiran perwakilan pasukan genbu di sana.

“Jadi,” Heechul mengalihkan perhatiannya. “Mengapa kau berubah cemas saat mengetahui keberadaan penguasa utara dan selatan?”

“Kau tahu mengapa,” ia tak banyak bicara.

“Alasanmu terlalu sederhana, Sabina. Hanya untuk mencari kakakmu? Benarkah?”

Sabina mendengus, “Apakah ada satu saja rahasia yang kalian simpan untuk diri sendiri? Sepertinya para seiryuu selalu membagi informasi apa pun satu sama lain.”

Kemudian Heechul mencibir. “Tentu saja, sweetheart. Ada hal-hal pribadi yang harus disimpan dengan baik. Kau pikir aku akan menceritakan pada penyelamatmu saat aku tidur bersama pelayanku?”

Sesuatu dari pernyataan Heechul membuat tenggorokannya tercekat. Antara kejujuran, kebebasan, kecerobohan dan ketidakwaspadaan, pria itu sama sekali tak berpikir dua kali saat menyampaikan opininya. Kata-katanya keluar tanpa permisi. Satu kesimpulan yang Sabina rangkum: ia harus mewaspadai mulut Heechul. Seolah-seolah pria itu tak memiliki pengendali saat keretanya melaju di tanah lepas.

“Menakjubkan bukan? Kau pasti sedang berpikir mengapa kita berdua memiliki kesamaan yang sulit untuk dideskripsikan—tapi tak terlihat.” Heechul memberikan lirikan singkat.

Sabina berseru dalam benaknya. Bagaimana mungkin keduanya memiliki sebuah kesamaan? Ia tidak seperti Heechul yang selalu ceria dan berkata apa-adanya. Keseriusan dan kehati-hatian lebih mendominasi sikap dan caranya untuk bicara. Keduanya jauh berbeda, tapi yeah, memiliki kerumitan dalam pikiran masing-masing yang sulit untuk ditebak.

“Mengapa kau tidak bersama Leeteuk di tengah formasi andoeva?” tanya Sabina.

“Hanya tiga pemimpin saja untuk tiap perwakilan penjuru. Aku dan Hyukjae hanya mengawasi,” jelasnya. “Aku tidak menyukai politik seperti Leeteuk karena itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar istana. Meski begitu, dalam beberapa hal mereka sangat membutuhkanku dan aku pun membutuhkan mereka. Jadi posisiku di dalam istana hanyalah sebagai penasehat saja.”

“Dan aku yakin kau tidak menyukai pedang seperti halnya Siwon dan Zhoumi.”

Ejekan Sabina cukup menyinggung harga diri Heechul setelah itu. Si pria mengucap kata-kata yang tak dimengertinya seraya menunjukkan lengannya yang terbalut kemeja hitam; rata dan tak berotot. Hal itu membuat Sabina terkekeh. Tawa yang ia sendiri pun cukup takjub untuk didengar.

“Jika kau membutuhkan seseorang untuk bicara, kau bisa datang padaku. Aku pandai menyimpan rahasia,” Heechul mengerlingkan mata dan disambut oleh cibiran darinya. “Baiklah. Saatnya pergi. Leeteuk dan Hyukjae menunggumu,” ujarnya, tak sabar.

Heechul sudah mulai beranjak dan Sabina mengikutinya. Seperti seorang pelayan, gadis itu mengekori Heechul sambil menunduk. Mereka melewati lobi dengan lorong yang panjang; dihiasi oleh jendela-jendela besar untuk memberikan akses pada cahaya matahari. Pria itu menggerutu saat mereka harus menjejaki tangga berantai untuk mencapai lantai ketiga. Sejujurnya hal itu membingungkan Sabina. Heechul tetap bersikeras bahwa ia kelelahan meski langkahnya yang besar membuatnya tertinggal jauh saat mendaki.

Mereka mencapai satu ruangan tanpa pintu. Dikelilingi oleh berbagai jenis bingkai dengan gambar yang berbeda, tempat tersebut nampak seperti museum seni. Permadani merah yang melapisi pusat ruangan membuat kursi-kursi panjang yang mengelilingi meja kecil menjadi lebih berwarna. Hyukjae duduk di sana, memijat kening, kelelahan. Sementara sosok pria lain dengan mahkota mawar hitam di kepalanya tersebut mengamati sesuatu dari luar jendela. Terik matahari menyoroti ruangan, menyilaukan guci-guci kuningan yang menjadi bagian dari hiasan.

“Duyungmu sudah kuselamatkan. Ingat, kau berhutang selusin anggur padaku.” Heechul menyuruh Sabina untuk mendekat pada Hyukjae. Setelah mengucap salam pada Leeteuk dan mengucap sesal atas ketidakikutsertaannya pada pelepasan kelima seiryuu, ia bergegas pergi seolah tak ingin menimbrungi urusan mereka.

Sabina ragu untuk sekedar berdiri tegap. Hyukjae menolak untuk menemui sepasang matanya sementara Leeteuk memberikan pandangan yang menakutkan. Cara Leeteuk memandangnya seperti seorang petani yang hendak menangkap dombanya untuk disembelih. Menggelenyar sisik-sisik tubuhnya yang berlindung di balik kulit manusia.

“Kau akan menjadi tahanan istana hingga kau berkata jujur padaku, Sabina.” Pada akhirnya Leeteuk bicara. Suaranya lembut, masih sama saat pertama kali ia mengajaknya bicara.

“Apa yang terjadi?” serak dari suara Sabina menandakan bahwa ia gugup. Ia mencium sesuatu yang tidak baik. Sesuatu yang menakutkan indera hewaninya.

“Mengapa kau bersikeras untuk mencari Sviesa?” Leeteuk memberi jeda untuk menghela udara yang lebih segar. “Rahasia apa yang tersembunyi dari eksistensinya?”

“Sudah kukatakan padamu sebelumnya bahwa dia adalah kakakku,” ia mengelak.

Kemudian sekelompok penjaga berkepala besi datang saling berderet mengelilingi mereka. Leeteuk memejamkan mata tengah berusaha untuk mengendalikan diri. Sabina tahu bahwa pemimpin seiryuu itu bertindak layaknya seorang pemimpin, namun ia merasa terpojokkan saat ini. Dan Lee Hyukjae, sejak semula ia tetap menghindari tatapannya.

Ada sesuatu yang mengubah pikiran Leeteuk.

Ada sesuatu yang membuat keduanya berperang dalam pikiran masing-masing.

“Sebelum aku menyakitimu, Sabina. Jadi bicaralah,” ucap Leeteuk diiringi gerakan para penjaga dengan ujung tombak yang mengarah padanya.

 

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

5 thoughts on “MERMAID “Chapter 03””

  1. kynya hrs baca ulang chapter 2-nya nih. rada2 lupa ceritanya :v

    btw2, ini ceritanya di post ulang ya? kmrn2 aku mau baca gak nemu euy.

    *selalu terkesima deh sama sosok hyukjae klo udah di-ff-in ikha ♡

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s