Z.E.R.O “Chapter 02”

ZERO“SHROUDED IN THE SUNLIGHT”

ORANGE KEMERAHAN. WARNA ITULAH YANG MENEMBUS LUBANG tenda pagi ini. Biasanya campuran sandybrown dan floralwhite disertai cahaya yang cukup menyengat. Terima kasih kepada babi gemuk dan pria lain yang mendengkur seperti alunan orkestra. Kali ini aku terbangun lebih awal dari matahari.

Kucoba melewati Joan dan Yen dengan meredam suara di ujung tumit. Keduanya saling meringkuk menutup telinga dengan kotak busa tebal. Aku bertaruh; meski si babi gemuk tidur di ujung lain, dengkurnya yang melegenda mampu menggugah para hering yang berkeliaran mencari bangkai. Terkadang sulit kumengerti usaha Joan dan Yen untuk tetap terlelap dengan bising tersebut. Mungkin akan kutanyakan saat mereka tergugah—itupun jika aku masih ingat.

Kusibakkan penutup tenda yang berayun ringan menyentuh punggung Yen. Sejuk udara pagi yang melambai sedikit meredakan pusing di kepalaku akibat pola tidur yang berantakan. Tubuhku menggeliat seperti ulat bulu seolah terbebas dari penjara bawah tanah, lega. Tidur seperti deretan ikan tenggiri di dalam kaleng benar-benar membuat sendi-sendiku membeku.

Oh, andai Green menemukan kaleng tenggiri lain hari ini. Aku merindukan asin dan gurih itu di lidahku.

“Hai,” sapaku. Sadar bahwa ada seorang pria yang tergeletak malas di dalam lingkaran api unggun.

Ia menjawabku tanpa menoleh. Punggungnya bersandar pada salah satu bilah kayu sementara ujung kakinya hampir menyentuh arang yang masih berasap. Yang kutahu, pria itu adalah satu di antara tiga manusia lain yang masih membutuhkan perawatan dari Joan. Tubuhnya hampir sempurna namun goeja menelan tulang di kaki kiri dan organ dalamnya.

“Namamu Lee Hyuk Jae bukan?” Ia tersenyum lantas mengayunkan jemarinya, mengajakku untuk bergabung bersamanya.

Kuturuti tanpa menyela. Selang dari sepasang bongkah, kududuki kayu besar yang diseret paksa oleh si pria besar, Green dan babi gemuk secara bersamaan. Bukan karena kayu itu hanya boleh diduduki oleh sang pemimpin, aku menyukainya karena aku tak perlu melipat kakiku yang panjang.

Dengan kedua matanya yang terpejam, pria itu mendesah berat. Dan entah mengapa aku dapat merasakan sakit yang diderita dari suara paraunya. Aku tak pernah melihatnya berada di luar tenda dan aku tak tahu bagaimana dirinya dapat bersimpuh di sana, di hadapanku, bersama kaki kirinya yang hanya terdiri dari daging dan kulit saja.

Kulihat tenggorokannya bergerak lambat. Sepasang mata gelapnya pun perlahan terbuka. Ia mendongak sambil mengatur napas. Menatap langit berawan yang mulai menerang. Aku merasa bersalah karena tak mengetahui namanya. Joan pun hanya memberikan info terkini dari kondisi mereka tanpa menyebut nama—terkecuali Tahiti. Yang jelas, pria itu nampak mengerikan; kulit wajahnya yang rusak dihiasi kumis dan janggut yang tumbuh secara kasar, cuping telinganya hilang sebagian, rambut pendeknya rontok dan ia kehilangan dua gigi taringnya.

“Bagaimana kondisimu?” Kuberanikan diri untuk bertanya.

Pria itu mengukir senyum yang nyaris tak terdeteksi. “Tak pernah lebih baik,” jawabannya dipenuhi keputusasaan.

Aku menunduk, menghindari kontak atau tangisku akan meledak. Ia mengulurkan secarik kertas yang diselipkan dalam poket celana panjang lusuhnya. Kutatap dirinya cukup lama sebelum menerimanya. Selembar pengumuman, ditandatangani oleh seseorang bernama Lee Hyuk Jae.

Namaku terukir di atas kertas yang nyaris pupus dan tercabik-cabik di tiap sisinya. Lengkap dengan sidik jari bertinta merah. Ragu, kucetak ibu jariku di sana. Aku pun terkejut mengetahui kesamaan yang nyata pada tanda tersebut. Tanpa lebar maupun panjang yang berlebihan.

“Ketika Tahiti menyuruhmu menjadi pemimpin yang tersisa, tak ada yang mampu kulakukan selain memberontak dalam lirih. Mungkin kau sudah tahu akan hal itu,” ucapnya tersedu-sedu.

Kugerakkan lenganku, menyuruhnya untuk berhenti bicara. Pria itu meringis menghentikan deru napasnya yang tak terkendali. Ia nampak kesusahan dan kesakitan. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menolongnya. Seharusnya pria itu tak perlu mengungkit hal tersebut. Aku sendiri pun telah memberontak untuk ke sekian kali pada Tahiti bahwa aku bukan ditakdirkan untuk memimpin mereka. Aku tak memiliki bakat itu dan selama mereka terjaga, aku hanya mampu mengatur makanan dan penjagaan saja.

“Suatu hari Joan membasuh kepala dan wajahku. Tanpa berkata, ia menyodorkanku lembaran kertas yang sama—dengan tulisan dan cetak yang sama,” Ia berucap lirih. Matanya tertuju pada kertas yang terapit di antara jemariku. “Ia dan Green menemukannya saat mereka mencari pakaian dan barang-barang lain di dalam reruntuhan.”

“Aku sama sekali tak mengingat apapun,” hanya itu yang mampu kukatakan sebagai dalih.

Si pria menggeleng. “Justru karena secarik kertas itulah kuubah cara pandangku terhadapmu, Jae.” Kemudian ia memijat kaki kirinya yang melembek seperti daging giling. “Aku bermimpi. Mimpi yang sama—yang menghantuiku beberapa hari ini.”

Hening.

Aku menunggu pria itu untuk kembali bicara. Aku tak memiliki penjelasan apapun jika ia akan mengatakan sesuatu mengenai lembaran tersebut. Dadaku sedikit bergetar. Mentalku belum siap untuk menerima kabar yang tak ingin kudengar.

Bahu pria itu bergerak-gerak mencari tempat untuk bersandar. Tubuhnya sedikit merosot untuk menopang kepalanya yang memberat. “Aku tak mampu melihat sosok itu dengan jelas, tapi pria itu berteriak di hadapan puluhan orang. Kutemukan lembaran itu di depan rumahku, dan pria itulah yang melekatkannya di sana.” Ia menelan ludah lalu melanjutkan. “Tak banyak orang-orang yang mengikuti sarannya. Karena takut, kuputuskan untuk bersembunyi di dalam bunkerku dan saat kubuka mata, Joan dan Yen tengah mengobatiku.”

“Apa yang sebenarnya ingin kau utarakan?” tanyaku, menatap kertas tersebut untuk memahami makna dari deretan tulisan yang masih tampak jelas.

“Ikuti kata hatimu, Jae. Ada sesuatu yang harus kau gali jauh di dalam benakmu. Ada sesuatu yang kau ketahui,” ucapannya terhenti oleh batuk keras yang menghantam dadanya.

Si pria menekan tenggorokan sementara tangannya yang lain mencoba meredam serak. Oh, Tuhan. Rasanya sungguh menyakitkan. Pilu itu semakin mengiris-ngiris benakku saat melihat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

“Akan kuambilkan air untukmu.”

“Tak perlu,” Ia menahan kepergianku dengan mencengkeram pergelangan tanganku. “Aku hanya ingin duduk sebentar untuk menatap matahari pagi,” dan kurasakan ia menarik lenganku dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Kulihat ia menyeka bibir menggunakan punggung tangannya. Tubuhnya bergetar, hal itu membuatku berlari cepat ke arah tenda untuk meraih selimut tebal yang menumpuk di atas rak kayu yang kami buat. Kututupi tubuhnya yang semakin bergetar. Kuberikan sedikit pijatan di bahu dan lengannya.

Ia berbisik mengucap terima kasih dan hal itu lebih dari cukup. Aku duduk tepat di sampingnya, menatap matahari yang kian membiaskan warna yang lebih terang. Dalam hening ini, kadang kulayangkan berbagai tanya pada diriku sendiri. Siapa aku? Mengapa aku bisa berada di sini? Mengapa aku bisa selamat dari goeja?

Sialnya, otakku sama sekali tak memberikan respon yang baik acap kali kuulangi pertanyaan-pertanyaan tersebut setiap hari.

“Ada banyak pria yang memiliki nama yang sama denganku. Mungkin Lee Hyuk Jae pada kertas ini bukanlah diriku dan—“

Kata yang ingin kuutarakan kemudian tercekat di leherku. Kupandangi si pria dengan sepasang matanya yang meredup. Mulutnya menganga, meneteskan darah yang tak kunjung mereda. Tak ada denyut saat kuperiksa nadinya. Tak ada kehidupan yang tersisa dari napasnya yang menghilang.

Pria itu telah mati.

Kini kusadari bahwa ia telah mati.

-o-

KAMI MEMBIARKAN TUBUH SI PRIA MENGAPUNG DI LAUT. Yen sempat memandikannya dan mengikat lengan dan kaki sebelum tubuhnya mengeras. Karena tak menemukan sekop, kuputuskan untuk menenggelamkan tubuhnya di laut lepas. Green dan Yen melambaikan tangan saat tubuhnya mulai tertelan laut. Dan tak ada yang kami lakukan setelah itu selain membisu bersama terik matahari.

“Kukira kesehatan si janggut kian membaik tiap harinya. Tak kusangka hidupnya berakhir dengan cepat,” Joan berdiri di sampingku. Masih dengan pakaian dan sepatu yang sama.

“Mengapa kau tak memberitahuku, Jo?”

Dari sudut mataku, kutahu ia tengah menatapku sekarang. “Maksudmu, namanya? Tahiti tak mengenali pria itu karena luka parah di wajahnya.”

“Bukan namanya. Tapi ini,” kemudian kutunjukkan lembar kertas yang terlipat manis di poket celanaku. Joan menghindari tatapanku karena aku mengetahuinya. Alis kirinya selalu terangkat tiap kali ia terkejut atau terheran-heran. “Inikah alasan mengapa kau percaya padaku?”

Joan mendesah panjang. Ia tak perlu membaca deretan kata tersebut karena kuyakin ia telah mengetahuinya lebih dulu. Tak sulit bagi Joan untuk meremas lembaran tersebut, membentuknya menjadi bola kecil lantas memberikan tendangan kecil hingga kertas tersebut mendarat di atas ombak.

“Sedikit harapan sangat membantu di tengah keadaan kita yang terpuruk saat ini,” ucapnya. Tentu saja dengan nada lembut yang kusuka.

“Kau tak memiliki alasan yang cukup jitu, Jo. Mungkin namaku bukan Lee Hyuk Jae. Mungkin ada yang salah dengan ingatan Tahiti.”

“Saat ini kita sedang berduka. Bisakah kita perdebatkan hal ini lain waktu?”

Pertama pada hari ini, Joan dan aku saling memandang tajam. Menyisakan canggung yang dirasakan Green dan Yen—lantas keduanya mengundurkan diri untuk menjauh dari kami. Yeah, di antara yang tersisa, Joan dan aku adalah sepasang kawan yang baik sekaligus lawan bicara yang buruk. Selalu ada pertengkaran kecil, entah mengenai warna sepatu maupun arah tenda yang kubangun. Lantas bola mata Joan berputar. Ia selalu merasa bersalah saat Green atau yang lain berada di antara perdebatan kami.

Ugh, aku tak ingin mengingatnya. Pikiranku selalu menolak kenyataan akan perhatian Joan pada si wajah kusam.

Si pria kekar bercamping merah mendekat. Alih-alih datang kepadaku, ia justru malah berbisik pada Joan. Lagi, aku tersinggung untuk kedua kali—setelah memikirkan bagaimana Joan selalu mempertimbangkan perasaan Green. Tapi biarlah, aku tak ingin melelahkan mentalku sendiri untuk hal-hal sepele.

“Dua wanita tua yang terbaring bersama Tahiti,” Aku tak menyadari bahwa Joan tengah bicara di balik punggungku. Dan kedua tanganku bertolak di pinggang. “Tubuh mereka sudah mengeras. Sepertinya mereka telah meninggal kemarin malam tanpa sepengetahuan kita.”

Seketika tubuhku berbalik, kudengar si pria kekar dan Joan saling berkomunikasi dengan bahasa yang tak kumengerti. Suara mereka mendengung di telingaku, dan kepalaku mendadak disengat panas dari udara siang.

Tersisa tujuh orang. Mungkin akan kembali berkurang di akhir minggu. Kota ini nampak luas jika kuperhatikan dari reruntuhan dan pohon yang tumbang. Bagaimana mungkin tak ada penyelamat dari pemerintah setelah berminggu-minggu kami menelan rumput liar dan air laut yang disaring dengan susah payah oleh Yen?

Aku mulai merasakan frustrasi. Kepalaku kembali berdenyut menyakitkan.

Greeny!” Kuteriakkan namanya dengan lantang di tengah langkahku yang melambat. Aku bersiul untuk memanggil si babi gemuk dan dengan ragu si pria kekar menjangkauku—meninggalkan Joan yang memilih untuk berlari menuju tenda.

“Adakah di antara kalian yang takut dengan air?”

“Jangan tanyakan aku, Jae. Kau tahu tubuhku seperti batu karang saat tercelup ke dalam air,” terselip canda dari jawaban si babi. Hal itu cukup menghibur otakku yang penat dan menghitam.

“Apa yang sedang kau rencanakan pria kecil?” Si pria kekar berkata lantang. Suara bassnya terdengar berat.

Desir ombak yang berbaur dengan angin menggugah benakku yang terlelap. Seseorang harus bertindak jika mereka ingin tetap bertahan. Ada banyak rumah yang tenggelam di sana. Mungkin akan ada banyak suplai dan kebutuhan lain. Kami telah kehilangan tiga orang dalam sehari dan jumlah kami semakin sedikit.

“Berenang,” jawabku, percaya diri.

-o-

MEREKA KEMBALI!” BAHKAN DARI KEJAUHAN AKU DAPAT merasakan tanah dan air bergemuruh berkat tarian si babi gemuk. Bersama si pria kekar, ia berlari menerjang ombak kecil di pesisir pantai.

Green dan aku saling melahap udara dengan rakus. Kubiarkan jaring di tepian; berisi barang-barang yang kami temukan di dalam air. Sementara itu kami saling menjatuhkan diri di atas pasir, masih menghirup udara bebas tanpa henti. Jika Green tak memutuskan untuk membantuku, si babi gemuk tak akan seriang itu saat menemukan kaleng-kaleng makanan dan plastik ramuan yang menumpuk di dalam jaring.

“Seharusnya aku tidak memandang remeh pria kurus macam kalian.”

Aku tak tahu pada siapa si pria kekar melayangkan ejekannya. Karena pada detik berikutnya kulihat Green melempar segenggam pasir yang nyaris membutakan mataku. Sepasang kawan itu mengurusi jaring, diiringi Joan yang menghampiri kami untuk membagikan selimut berdebu. Dari warnanya yang berbeda, kurasa si pria kekar menemukan barang baru hari ini.

Rasanya lembut di kulitku, meski kotor menggelikan bulu hidungku.

“Apa yang menggerakkanmu untuk melakukan hal bodoh itu bersama Green?”

Suara lembut Joan kembali bergemuruh. Ia sedang berusaha memendam amarahnya—tentu saja aku tahu. Setelah mengeringkan tubuh, kusadari Green tak ada di sampingku. Mungkin Joan mengusirnya. Atau mungkin pria kusam itu tahu bahwa akan ada pertengkaran kecil lagi di antara kami.

Seperti yang terjadi saat ini.

“Pemimpin yang baik akan melakukan apapun demi pengikutnya, Jo. Dan pengikut yang baik akan memberikan dukungan terbaik bagi pemimpinnya.”

Ejekanku membuat gadis itu tersinggung. Joan mendengus kasar seperti binatang bertanduk. Kulipat kain tebal tersebut untuk menopang kepala. Berhadapan dengan langit saat ini membuatku bahagia. Tak kusangka aku akan merindukan udara dan daratan setelah bergulat dengan air asin yang nyaris membuatku kehilangan indera perasa.

“Saat kau dan Green di sana, Barton dan aku berpatroli di sekitar kota.” Kali ini suara Joan lebih lembut. Sangat lembut dan manis, seperti cara ia menatapku.

“Barton?”

Joan duduk di sisiku. Jauh lebih baik daripada kudongakkan daguku saat ia berdiri. “Nama baru untuk si pria kekar. Ia bekerja sebagai tukang besi sebelum pemusnahan. Barton cukup tepat untuk mempresentasikan tubuh kekarnya.”

“Lalu si babi?”

“Mulai saat ini kau menyebutnya Boom. Seharian ia hanya menunggumu dan Greeny di tepi pantai.”

Aku tertawa kecil.

Sudah kuduga. Si babi gemuk bukanlah pecinta olahraga seperti si pria kekar. Ia juga bukan fans berat dari berenang maupun berlari. Ia lebih menyukai tenda; membersihkan tempat tidur atau mendistribusikan makanan.

“Kami menemukan pola baru,” ucap Joan.

Ia menarik perhatianku dengan mengulurkan secarik kertas lusuh yang digores rapih oleh konkret merah. Kubentuk siku lenganku menjadi phitagoras, menopang tubuhku untuk menelisik peta kota Sesa yang dicoret sederhana oleh Barton. Semilir angin dari pantai membuat rambut Joan menggelitik wajahku hingga kudapat mengamati luka di wajahnya lebih detail. Wangi tubuhnya pun lembut. Tidak seperti bau keringat dari ketiak Boom yang berbulu.

“Tak jauh dari tanah di balik pepohonan yang mulai tumbuh di daerah ini, terdapat retakan yang membentang luas. Karena struktur tanah yang lebih tinggi, retakan itu membentuk jurang terjal. Mungkin setinggi dua pohon besar di sana.” Ia menunjuk deretan pohon besar yang mulai menghijau dari kejauhan. Tepat di arah barat daya.

Kukerutkan dahi, mengamati goresan tersebut setelah Barton menambahkan warna baru di samping gambar pepohonan. “Tapi pada arah selatan dan utara, Sesa hanya dikelilingi oleh air.”

“Itu berarti bahwa kota ini kini membentuk pulau kecil, Jae.”

“Maksudmu, kita tak bisa pergi?”

Joan menggeleng. Kembali menunjukkan peta tersebut dan menyuruhku untuk mengamati lebih detail. “Ada daratan lain di seberang jurang. Hanya terpaut puluhan meter, mungkin. Hanya saja aku tak tahu bagaimana cara kita untuk turun mencapai air yang membatasi pulau.”

Aku menggelepar, membiarkan pasir-pasir yang kasar saling melekatkan diri pada kulit dan kaus lusuhku yang basah. Ada berbagai macam hal gila di dalam benakku saat ini. Termasuk ketakutan bercampur depresi yang kembali menusuk-nusuk di sela pori-pori rambutku.

“Setidaknya kini kita mengetahui bagaimana mayat pria tua minggu lalu mengapung di pantai. Mungkin ia tak memperhatikan jurang tersebut saat berlari,” ucap Joan lirih.

Kemudian aku tak mendengar gadis itu bicara. Hanya suara berisik dari kertas yang sengaja dilipat dan dijejal paksa ke dalam poket celana dengan kain yang kasar. Joan menghela napas. Sepasang mata gelapnya mencoba menantang terik matahari. Kulakukan hal yang sama untuk menyainginya dan rasanya menyenangkan saat ia berada di sisiku lebih lama—meski hanya sekedar menatap langit tanpa kata.

Aku menengadah, memerhatikan gerakan gumpalan putih di atas kanvas biru. “Sepertinya cuaca akan berubah dalam waktu dekat,” kupandang mereka dari sela jemariku. Asin dari laut membuat mataku memerah. Aku tak ingin memperburuknya dengan mencumbu matahari langsung.

Joan menggumam. Ia membisu di tengah sayup girang dari canda Yen dan Barton di kejauhan. Mungkin malam telah menelan daya lihatku, namun siang hari aku dapat mengamati Joan dengan baik. Dibandingkan Yen, kulitnya memerah lebih cepat saat terkena panas matahari. Meskipun kotor, rambutnya yang panjang memiliki warna cokelat yang indah. Luka di wajahnya kian membaik, menimbulkan rona yang mempesonakanku.

“Apakah kau menyukai Greeny?” Kuhalau sinar menyengat itu untuk menyembunyikan wajahku. Kadang amarahku memuncak acap kali otakku tak mampu mengendalikan saraf di lidahku. Aku tak tahu mengapa kulontarkan pertanyaan konyol tersebut padanya. Ini benar-benar di luar skenario.

“Green?” Nada Joan meninggi. Itulah hasil dari pengamatan indera pendengarku.

“Ya, Green.”

Lantas tawa kecilnya mengaum rendah. “Kau tak akan menyukainya karena hal ini menyangkut masa-masa sebelum pemusnahan.”

Aku mendelik. Lagi-lagi ia memercayai Tahiti.

Joan mendekap sepasang kakinya yang menekuk. Pandangannya kini tertuju pada laut lepas. “Tahiti berkata bahwa di sekolah, Green dan aku dikenal sebagai pasangan yang serasi.”

Spontan aku mendesau dan suaranya membuat Joan menatapku skeptis. Kuharap ia tidak sedang bergurau. Mendengarnya saja membuat isi kepalaku menguap bersama keringat di pelipisku.

“Tapi bagiku hal itu hanya masa lalu,” ia berujar—yang bagiku terdengar seperti sebuah sanggahan atau koreksi.

Tak apa. Setidaknya hal itu memiliki makna bahwa Joan tidak begitu memedulikan masa lalu.

“Lalu bagaimana dengan ingatannya mengenai diriku?” Kualihkan pembicaraan demi menghilangkan sepi yang membentuk dinding di antara kami. Kali ini keadaan berjalan baik. Tak ada pertengkaran kecil. Good!

“Mengapa tak kau tanyakan padanya? Kapan terakhir kali kau bicara dengannya?”

Sial.

Detik berikutnya, gadis itu malah meninggalkanku untuk bergabung bersama Boom.

-o-

KURANG LEBIH DUA PULUH KALENG KOSONG BERSERAKAN di sekitar api unggun. Biar kutebak, Boom menghabiskan empat kali lebih banyak dari porsi biasa. Entahlah, aku menolak ajakan Green untuk bergabung dalam pesta makanan kaleng sejam lalu. Kepalaku mendadak pusing. Jadi kuhindari mereka dengan berdiam diri di balik pepohonan, tertidur.

Mereka masih mengumandangkan tawa di sana. Barton, Boom, Green dan Yen. Wajah mereka nampak lebih berseri setelah menyantap ikan kaleng dan susu basi. Sambil menyeka sudut bibirnya, Boom berteriak meyakinkanku bahwa mereka telah menyisakan kaleng khusus untukku. Aku tersenyum; tak peduli. Yang kubutuhkan hanyalah sebungkus ramuan yang mampu mengusir pening di sini, di kepalaku.

Saat kusibakkan tenda, bau menyengat dari dedaunan yang menggantung di tiap sudut menghentakku. Anehnya, hal itu justru membuat mataku jauh lebih segar. Joan berada di sisi lain, sibuk mengganti balutan di lengan Tahiti dengan kain perca yang lebih bersih. Sedikit enggan, kuhampiri tumpukan kain yang ditempati Tahiti lalu duduk menyila di dekat sepasang kakinya yang hanya terdiri dari sebagian paha.

Sekarang kutahu mengapa gadis-gadis itu menebarkan daun-daun dengan semerbak bawang bombai dan kayu manis tersebut di sini; luka Tahiti memburuk, kian membusuk. Aku bertaruh Boom akan memuntahkan isi perutnya saat melihat kondisi si keriting muda.

“Kau tak perlu memaksakan diri untuk bicara padaku, Jae.” Suaranya parau. Nyaris tak terdengar. Kadang pula kucium bau busuk yang menerawang di antara sengat dedaunan.

Hatiku memilu. Rasa bersalah perlahan merangkak dari ujung kaki menuju kepalaku. Urat-urat di wajah Joan bergerak memberikan isyarat; menyuruhku untuk tidak melayangkan tatapan iba pada Tahiti. Si keriting muda tidak menyukainya.

Kutelan liurku yang mengeras. “Haruskah aku bicara pada intinya?”

Akhirnya aku berhasil membuka percakapan yang selalu kuhindari selama ini. Kutatap wajahnya yang sedang mengukir senyum. Alih-alih mengering seperti Joan dan Yen, luka di wajah Tahiti sama busuknya seperti luka di lengannya. Joan membalurinya dengan sesuatu berwarna cokelat gelap. Seperti campuran tanah dengan air namun lebih wangi dan halus.

“Jika kau mau,” ucapnya. “Tak kusangka kau masih terlihat tampan sejak pertama kali kau datang ke kota ini.”

Aku mendengus. Sulit kupercaya ia akan mengatakan hal itu padaku. Sepertinya Tahiti mengetahui maksudku, bahwa aku sudah tidak memiliki kesabaran lebih untuk menunggu. “Jadi aku bukan penduduk di sini?”

“Kau datang dari jauh—“

“Hanya untuk memperingatkan kalian mengenai goeja?” Aku tahu ucapanku terdengar tidak sopan. Dari cara Joan menatapku saat ini, aku benar-benar tak akan menahan diri untuk bersikap manis.

Kutunjukkan secarik kertas yang kuperoleh pagi ini dari si janggut. Lembaran tersebut menyebutkan bahwa Lee Hyuk Jae, atau aku, berusaha memperingatkan penduduk mengenai rencana pemerintah mengenai pemusnahan. Seharusnya aku paham mengapa tak ada pertolongan dari pemerintah hingga sekarang—jika lembaran itu memang benar adanya.

“Bisakah kau bicara tanpa berteriak?” Joan mendesis saat menemukan napas Tahiti yang memberat. Ia mengucapkan kata-kata serapah dalam bisikan. Tentu saja yang ia tujukan padaku. “Tahiti sengaja tak menjelaskan hal itu padamu karena ia takut kondisi mentalmu akan memburuk,” lanjutnya.

“Mentalku jauh lebih buruk saat ia menyembunyikan fakta ini dariku!”

Joan memukul pahaku. Antara menenangkan Tahiti dan melemparkan jutaan hina padaku, ia menjelaskan bagaimana Barton dan yang lain tidak pernah mengomentari apapun yang dilakukannya selama ini. Tentang bagaimana cara mereka mengucapkan terima kasih karena telah berhasil selamat dengan memercayainya.

Aku berbalik, menyembunyikan wajahku dari Joan. Biar kutebak: mereka mengetahui apapun tentang diriku dan sepakat untuk menyembunyikannya dariku.

Kutundukkan kepalaku yang berkedut-kedut. “Aku tak bisa mengingat apapun, Tahiti. Yang kuperoleh setiap malam hanyalah mimpi buruk dan satu-satunya yang kuingat hanyalah tubuhku yang diselubungi awan gelap.”

Bahkan aku mampu mendengar parau dan getaran dari suaraku.

“Itu bukan awan gelap. Itu goeja, Lee Hyuk Jae.”

Berat hati, kutatap wajah Tahiti dengan air muka yang sama. Sambil mengendalikan napasnya yang kesusahan, ia menjelaskan mengapa aku dapat bertahan tanpa luka maupun goresan kecil di tubuhku. Ia menjelaskan bagaimana aku mencoba menyingkirkan goeja dari penduduk sekitar. Gadis itu mengikutiku dan memilih untuk tidak bersembunyi di dalam bunker seperti yang dilakukan Boom ataupun Joan. Karena itu tubuhnya nyaris habis ditelan abu perusak.

“Joan mengatakan padaku bahwa ia menemukan tubuhmu di pantai. Aku sama sekali tak mengingat bagian itu—seharusnya kau ditemukan di bawah reruntuhan bersamaku. Yang mampu kuingat hanyalah sakit yang luar biasa di tubuhku.”

Pandangan Tahiti kemudian menerawang dalam temaram. Meskipun tanpa air mata, aku dapat merasakan bahwa ia tengah menangis dalam diam.

“Pelindungmu telah menjagamu dengan baik. Kekuatannya melindungi ingatanku.”

“Pelindung?”

Tahiti mengangguk. “Gadis cantik yang selalu berada di sampingmu, Jae. Yang membuat semua gadis dan para wanita enggan mendekatimu.”

Kugelengkan kepalaku bertubi-tubi. “Jangan membuat kepalaku semakin sakit, kumohon.”

Kali ini Joan yang bicara mengingat napas Tahiti yang tak beraturan. “Pemerintah memiliki departemen khusus yang terdiri dari para dewana. Mereka disebut para suju, manusia yang memiliki pelindung.”

Kutepuk kepalaku hingga kurasakan perih. Cerita apa lagi ini?

“Maksudmu, aku adalah seorang penyihir? Manusia berpelindung? Suju?” Tawaku menggema, mencemooh apapun yang dikatakan sepasang gadis di hadapanku. “Kukira kita hidup di zaman baru, Joan. Jangan mengarang sesuatu yang sangat tidak masuk akal!”

“Kita hidup di zaman penyihir. Bukan zaman baru. Aku meyakini bahwa mereka yang selamat telah mendengarkan nasehatmu, laranganmu, mempercayai kehadiran suju yang hanya diketahui oleh orang-orang penting di pemerintah.”

“Hentikan, Tahiti.” Kurenggut rambut pendekku yang mulai memanjang. Telingaku berdengung dan pandanganku mengabur. “Kau tahu aku tak menyukaimu karena ingatan yang kau miliki. Jadi kumohon, jangan membunuhku secara perlahan oleh cerita yang kau karang.”

“Aku tidak pernah—“

“Hentikan,” aku beranjak dari tempat itu. Membuat Joan dan Tahiti mendongak saat aku berdiri. “Kumohon, hentikan.” Kemudian kutinggalkan mereka tanpa sepatah kata.

Kulihat yang lain masih mengelilingi sisa api yang mulai meredam. Aku menghampiri mereka, menempatkan diri tepat di antara Barton dan Yen. Kepalaku masih merasakan kedut yang luar biasa. Belum lagi kata-kata Tahiti yang sulit diterima akalku.

Barton memelukku, meneriaki sesuatu sebelum akhirnya memberikan cheers pada Greeny. Aku tidak begitu mendengarnya. Telingaku mendengung tajam bercampur sakit di kepala.

“Kau seharusnya menghajarku hingga aku mati, Barton.”

Pria itu terkekeh. Diremasnya sebelah bahuku saat ia memberikan sebuah pelukan singkat. “Percayalah. Aku ingin melakukannya sejak dulu, Jae. Jika bukan karena darah suju di dalam tubuhmu, aku akan melakukannya sejak dulu.” Kemudian kembali menggila bersama canda Boom dan Yen.

Suju.

Pelindung, gadis cantik, apakah mungkin alasan itu yang membuat Joan tak tertarik padaku? Hanya karena gadis cantik yang menjadi pelindungku?

Tubuhku mendadak mengerucut. Entah mengapa sesuatu yang tajam di telinga membuat tubuhku ambruk di atas tanah. Dengung di telingaku semakin menjadi-jadi, menghantarkan pilu dan ngilu ke seluruh organ tubuhku.

“Kau baik-baik saja?” Kudengar suara Barton menggaung tak jelas.

Seluruh inderaku bergerak lambat. Hanya dengung saja yang merusak sekaligus menakutiku. “Kau mendengarnya?” tanyaku, memastikan bahwa bukan hanya aku yang mendeteksi dengung tersebut yang semakin menggila.

“Apa?”

Tanganku terangkat, menyuruh mereka untuk diam. Suara itu semakin besar, seolah-olah mendekat padaku. Kucoba menajamkan kembali indera itu dengan memejamkan mata. Suaranya berasal dari balik pepohonan dan semakin meresahkan. Naluriku seperti narapidana di dalam penjara; berteriak, meronta, membabi-buta untuk melarikan diri dari balik sel berkarat.

“Turunkan tenda dan bersembunyilah di balik terpal tanpa gerakan dan napas yang mencolok. Segera.”

Kebingungan. Aku tahu dari cara mereka menatapku. Namun tak butuh waktu lama, sepertinya mereka mampu membaca resah pada raut wajahku. Mereka berlari dan meruntuhkan tenda dalam hitungan detik. Sementara itu kututup sisa api dengan kain basah kemudian meraih selimut tebal di tepi tenda. Kudengar Joan memanggilku dan melayangkan berbagai tanya. Sedikit membentak, kupaksa dirinya untuk diam dan ia menurutiku.

Dengung itu semakin menjadi-jadi.

Aku takut, resah, panik.

Dalam kegelapan, aku tak mampu mendeteksi apa pun. Hanya naluri saja yang menyuruhku untuk menggeletakkan diri di atas tanah bersama selimut tebal di tanganku. Kuatur dadaku yang bergerak naik-turun. Dari sela-sela rajutan selimut yang menutupi tubuhku, kulihat cahaya dari obor di samping tenda yang roboh masih berkobar.

Kurasakan hembusan hawa dingin menyapu sekitarnya. Kurekatkan selimut agar tetap melindungiku.

Rasanya seperti mimpi buruk.

Dengung yang memekakkan telingaku membuyar saat kurasakan sesuatu yang bertalu-talu menghentak-hentak lapisan selimutku. Sesuatu yang gelap, sesuatu yang mampu menyelimuti cahaya dari satu-satunya obor yang dimiliki oleh kami.

Ada sesuatu yang terjadi dan menakutkan nuraniku.

Ada sesuatu yang datang untukku.

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s