VOICE

Hyung, how do you think about this?

 

“Kim Sunggyu-sii, bisa kau menghadap kesini? Kami belum menngambil gambar depanmu.”

“Kim Sunggyu-sii…”

Suara jepretan dan blitz yang berasal dari kamera para wartawan terdengar saling bersahutan di aula gedung tersebut. Gedung milik salah satu agensi besar di Korea Selatan yang bernama WoolimEntertainment hari ini penuh dengan kedatangan wartawan dari dalam dan luar negri. Mereka semua berbondong-bondong mendatangi tempat itu untuk peluncuran salah satu Film Korea yang sudah diramalkan akan mendobrak industri per filman Hollywood.

Kim Sunggyu, merasa sangat bangga bisa ikut dilibatkan dalam Film tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia menghadapi sebegitu banyak wartawan seperti yang dia lakukan saat ini. Dia memang sudah sering membintangi berbagai Film sebelumnya, namun ini adalah yang terbaik sepanjang hidupnya. Tak henti-henti pria tersebut tersenyum semenjak acara dimulai tadi. Senyum kemenangan.

Benar, ini lah yang seharusnya yang kulakukan.

Semua ini memang milikku, jadi sudah semestinya aku menikmati semua ini…

Sunggyu berkata dalam hati, air mukanya sempat berubah saat ingatan mengerikan itu terlintas di benaknya lagi. Namun buru-buru dia menghilangkannya saat seorang wartawan dari Jepang menyuruhnya untuk memamerkan senyum kebanggannya untuk dia abadikan di kameranya.

~ o0o ~

Sunggyu tahu dia sedang bermimpi saat ini.

Dia sedang berada disebuah halaman dari rumah tua yang tidak terawat. Persis seperti setting Film Horor “The Ring”. Namun tanpa sumur. Banyak rumput liar yang sudah tumbuh tinggi disana sini, temboknya sudah mengelupas dan cahaya bulan menambah kesan mengerikan untuk rumah itu. Dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri sekarang, matanya hanya bergerak untuk menyisiri rumah itu dengan tatapannya.

Sebenarnya alarm dikepalanya seakan sudah berbunyi sejak tadi, menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari tempat suram tersebut. Namun dia masih tak bisa bergerak. Sunggyu ingin membuka mulutnya untuk memastikan kalau tidak ada orang lain ditempat itu selain dirinya. Namun sama seperti tubuhnya, mulutnya pun tak bisa dia buka. Dia bukan tipe pria penakut sebenarnya, tapi suasana rumah ini benar-benar mengerikan. Semakin Sunggyu memperhatikan kondisi rumah itu, dia semakin merasa kalau tempat itu tak asing baginya. Seperti dia sangat mengenal rumah itu sebelumnya.

Perlahan dia mulai merasakan kalau bulu kuduknya meremang dan napasnya mulai terputus-putus. Masih belum bisa bergerak. Dan lelaki itu masih tahu kalau ini adalah mimpi,  oleh sebab itulah dia begitu ingin cepat-cepat terjaga dai tidurnya.

Hyung… Kau dimana?”

Sunggyu menoleh, mencari asal suara itu. Suaranya sangat halus, hampir sama halusnya dengan suara angin yang baru saja berhembus.

Hyung, ini aku… Kau harus cepat-cepat menemukanku, aku… aku kedinginan.”

Sunggyu merasa kalau tenggorokannya tercekat, dia ingat suara itu. Suara yang sudah menemaninya sejak kecil. Dia harus secepatnya pergi dari tempat ini sebelum orang itu menemuinya.

Hyung, ayo kita pulang saja. Aku tak suka disini, ada seseorang yang tak menyukaiku. Kaja, kita pulang saja…”

Tidak!,  dia menggertak dalam hati.

Hyung, tolong aku… Seseorang ingin menyakitiku. Aku mau pulang, Hyung!”

Andwae…

Andwae…

Shiroe! Nan Shireo, jinjja!

Sunggyu tersentak di tempat tidur. Dia menelan ludahnya, tubuhnya basah dengan keringat dingin. Segera dia duduk dan menyalakan lampu tidur tepat di samping ranjangnya, kemudian mengambil botol obat beserta air yang memang sudah dia sediakan sebelum dia tidur tadi. Hampir tiap malam pria itu bermimpi hal serupa semacam ini. Namun dengan setting yang berbeda-beda.

Mimpi sebelumnya dia berada di taman bermain, di dalam kelas sekolahnya saat Sekolah Dasar, kelas latihan drama dan juga tempat-tempat lainnya. Napasnya memburu, dia harus bercerita tentang ini kepada seseorang. Dia tidak sanggup menanggungnya lagi, dia menatap kosong botol obat penenang yang masih ada digenggamannya.

Tapi dengan siapa?

~ o0o ~

“Hai, sudah menunggu lama?”

Anni, baru saja.”

Setelah berpikir sepanjang sisa malamnya, Sunggyu akhirnya memutuskan untuk menemui teman lamanya, atau lebih tepatnya mantan kekasihnya Jang Sora untuk diajaknya berbagi cerita. Dia memilih gadis ini, karena dia merasa kalau gadis ini cukup keibuan dan pasti akan mendengarkan tanpa menyelah ceritanya.

“Aku tahu kau sedang booming saat ini, namun sepertinya apa tidak berlebihan kalau setelah sekian lama kita tidak berkomunikasi tiba-tiba saja kau mengajakku bertemu, di apartemenku?” Sindir Sora.

Gadis itu mengambil wine dari lemari penyimpanannya, dan menuangkannya untuk Sunggyu. Pria itu tersenyum tipis menanggapi sindiran tersebut. Dia tahu ini keterlaluan, sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali mereka bertemu. Namun dengan tiba-tiba, lelaki ini menelpon Sora pagi-pagi sekali untuk mengajaknya bertemu. Dan uniknya, bukan di café atau tempat-tempat umumnya orang mengadakan reuni teman lama, Sunggyu justru memohon untuk bertemu di Apartemen gadis itu. Ketika ditanya alasannya dia hanya berkata ada sebuah hal penting yang harus dia sampaikan.

Dan setelah merasa yakin kalau Sunggyu tidak mungkin melakukan hal “aneh-aneh” terhadapnya, akhirnya Sora dengan pasrah memberikan kode untuk membuka pintu Apartemennya tersebut.

Wae? Apa ada sesuatu yang sedang mengganggumu?” Tanya Sora.

Dia bisa melihat kegelisahan dari ekspresi wajah Sunggyu sekarang. Menjalin hubungan selama empat tahun, membuat dirinya bisa membaca dengan baik ekspresi yang dikeluarkan oleh pria itu.

Sunggyu menarik napas panjang, sebelum dia membuka suaranya, “Aku tidak tahu harus dimulai darimana…”

Sora meraih telapak tangan pria tersebut, menyalurkan kehangatannya untuk menenangkan pria tersebut, “Arasseo, kau bisa memulainya dari manapun kau suka. Otakku cukup cerdas untuk merangkainya menjadi urutan cerita yang sempurna, kau ingat?”

Lagi-lagi Sunggyu tersenyum tipis, dia mengusap kasar wajahnya dengan tangan satunya yang bebas dari genggaman Sora. Sekarang dia mulai ragu untuk bercerita, apa yang harus dikatakannya pada gadis ini.

“Begini, apa… apa kau ingat dengan Myungsoo?”

“Adikmu? Tentu saja, ada apa?”

“Dia bukan adik kandungku, kau lupa?”

Jang Sora mendengus, dia selalu heran dengan mantan kekasihnya ini. Seingatnya saat sekolah dulu, dia begitu menyayangi adik angkatnya itu. Namun entah sejak kapan di tidak ingat, sikapnya tiba-tiba saja berubah. Biasanya dia hangat kepada adiknya itu, namun belakangan sikapnya berubah acuh dan dingin. Dia juga terkadang membentak anak itu, dan berusaha menjauhinya. Hal yang tidak pernah dia lakukan saat pertama kali mereka kenal.

“Oke, adik angkatmu itu. Ada apa dengannya?”

Sunggyu menggigit bibir bawahnya, dia mulai ragu. Namun dia meyakinkan dirinya, dia sudah memutuskannya. Tak akan ada yang terjadi.

“Apa kau sudah tahu mengenai keadaannya sekarang?”

Sora mengerutkan keningnya, “Apa kau lupa kalau aku bekerja di Jerman dan baru kembali sebulan yang lalu? Jadi mana mungkin aku tahu mengenai keadaan adikmu? Ada apa? Apa kalian bertengkar lagi?”

“Dia sudah mati.” Kata Sunggyu cepat.

Dia harus mengatakannya sekarang sebelum dirinya berubah pikiran, dia menoleh dan menatap Sora yang sedang melihatnya terkejut. Kemudian buru-buru gadis itu merubah ekspresinya, dan menggantinya dengan ekspresi prihatin. Gadis itu berpikir kalau Sunggyu pasti merasa sangat kehilangan.

“Aku turut sedih mendengarnya, aku…”

“Aku yang membuatnya menjadi seperti itu…”

Ne?”

Sunggyu menarik napas panjang lagi, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku lah yang membuatnya seperti itu, aku yang membunuhnya.”

Sora membulatkan matanya, gadis berambut panjang itu menegakkan tubuhnya dan menatap Sunggyu, meminta penjelasan lebih.

“Anak itu… Semakin dirinya dewasa dia semakin menyebalkan! Aku sudah tak kuat lagi, aku… aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya membuat anak itu agar tak mengganggu ku lagi, aku sudah benar-benar muak dengannya…”

Sora menarik Sunggyu kedalam pelukannya perlahan. Dia merasa pria itu sedang tak berpikir jernih saat ini. Tidak mungkin pria ini berani melakukan hal buruk semacam itu pada adiknya sendiri. Walaupun dia terkadang bersikap layaknya anak nakal seperti laki-laki pada umumnya, namun Sora tahu betul kalau Sunggyu bukan pria jahat. Gadis itu akhirnya menepuk-nepuk pelan bahu lebar pria tersebut dan memilih untuk tidak berkomentar apapun, membiarkan Sunggyu menenangkan dirinya sendiri.

“Dia mendatangiku setiap malam, memintaku untuk menemaninya. Aku tidak mau melakukan hal itu, harusnya dia tahu kalau aku tidak mungkin melakukannya. Harusnya dia tahu aku tidak menyayanginya. Aku… aku membencinya, aku tidak mau melihatnya lagi.”

Gadis itu semakin mengeratkan dekapannya kepada lelaki tersebut, Sora merasa kalau dirinya tak berhak mengakimi Sunggyu saat ini. Dia ingin memberi waktu untuk pria itu menjelaskan dan menceritakan mengenai peristiwa yang sudah membuat lelaki yang dikenalnya sebagai sosok yang kuat, menjadi sosok pria yang lemah dengan tubuh gemetaran seperti sekarang ini.

“Myungsoo… Dia tidak membutuhkan aku untuk menjalani hidupnya, dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan penampilannya yang menarik. Itu sangat berbanding terbalik denganku.” Sunggyu mengela napasnya, “Lalu, kenapa dia masih terus-menerus menempel padaku? Kenapa dia tidak pergi menjauh dari lingkaran kehidupanku? Kenapa dia masih berharap aku bersikap baik padanya?”

“Karena dia adikmu.”

Sunggyu menegakkan tubuhnya, menatap Sora dalam-dalam, “Sudah kubilang kalau dia bukan…”

“Tapi dia menganggapmu kakaknya, dia menyayangimu. Kau yang paling tahu tentang itu, dibanding orang lain.”

Ya, tentu saja dia tahu.

Selain dia, tidak ada orang lain lagi yang dekat dengan Myungsoo.

Anak itu, sejak kecil sudah mengisolasi dirinya sendiri dan menjauh dari lingkungan sosialnya. Dia lebih senang bergaul dengan Kakak angkatnya dirumah, dibanding bermain dengan teman-temannya diluar. Maka dari itu Myungsoo sangat merasa bergantung pada Sunggyu.

Ayah Sunggyu menemukan Myungsoo di sebuah rumah tua yang terbuat dari bambu, di kampung halamannya. Saat itu Myungsoo berumur enam tahun, dan dalam keadaan nyaris sekarat akibat kurang gizi. Dia bersembunyi dirumah itu karena takut kalau warga akan membawanya pergi dari kampung tersebut. Namun akhirnya hanya Sunggyu yang saat itu dapat membujuknya untuk mau ikut dengan mereka ke Seoul.

Sejak saat itu Myungsoo selalu mengikuti kemanapun Sunggyu pergi, meniru apapun yang Sunggyu lakukan, dan mengagumi apapun yang Sunggyu sukai. Dan itu membuat Sunggyu akhirnya memberikan julukan kepada adiknya tersebut. Yaitu “L”, yang berarti “Lazy”. Itu diberikan karena kebiasaan Myungsoo yang malas mengeluarkan pendapatnya dan lebih sering meminta pendapat dari Sunggyu setiap pilihan yang diberikan untuknya.

Awalnya Sunggyu tidak mempermasalahkannya, namun begitu mereka beranjak dewasa. Dia sadar kalau Myungsoo sebenarnya memiliki banyak kelebihan dibanding dirinya. Banyak gadis yang menitipkan surat padanya untuk diberikan pada Myungsoo, namun anak itu selalu meminta pendapatnya untuk membaca surat-surat itu, atau justru membuangnya sebelum dibaca. Lama-kelamaan, itu menjadi hal yang memuakkan bagi Sunggyu.

Yah, anak itu sangat membuat Kim Sunggyu muak.

~ o0o ~

“Hyung, kau ingat casting Film yang kita berdua ikuti saat itu? Pengumumannya sudah keluar tadi pagi. Dan aku menjadi pemeran utamanya, bagaimana menurutmu Hyung?”

Sunggyu membuka jendelanya, menghirup aroma udara malam yang berhembus ringan dan menerobos ke pori-pori diwajahnya.

“Aku akan menyetujui peran itu kalau kau juga ikut bermain di Film itu, bagaimana Hyung?”

Pria itu menatap lurus kedepan, disana terdapat banyak lampu milik rumah para warga yang menyerupai bintang saking banyaknya. Juga beberapa cahaya yang berasal dari gedung-gedung bertingkat dan papan-papan reklame iklan yang menunjukkan foto-foto orang-orang yang sering dilihatnya di televisi.

“Aku dengar, Film ini akan sukses nantinya. Produsernya bekerja sama dengan para kru dari Hollywood, dan ini Film yang berkelas. Jadi apa menurutmu aku bisa memerankannya dengan baik?”

Sunggyu melepas syal yang melilit lehernya, melemparkanya ke sembarang tempat. Dia menghirup napasnya dalam-dalam, membiarkan angin malam musim gugur masuk menerobos ke dalam kamar mewahnya.

“Hyung, sepertinya ada seseorang yang tidak menyukaiku. Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku hingga berusaha mencelakaiku. Apa kau tahu siapa orangnya Hyung?”

“Hyung, aku takut. Tadi ada mobil yang hampir menabrakku. Ini sudah kedua kalinya.”

“Waeyo Hyung? Apa salahku sampai kau berkata seperti itu? Kau tidak serius kan? Kau tidak benar-benar membenciku kan Hyung?”

Sunggyu menahan getaran ditubuhnya karena udah dingin yang terasa semakin menggigit hingga ke tulang-tulangnya, pria itu justru melepaskan sweater abu-abunya dan kembali melemparkannya ke sembarang arah.

“Hyung! Hajima! Kau tidak boleh melakukan itu… Baiklah, katakan apa yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Apapun, tapi jangan berdiri disitu… Itu berbahaya!”

“Pegang kuat-kuat tanganku! Jangan dilepas! Aku tak bisa hidup jika kau tak ada Hyung… Jadi kau jangan lepaskan tanganku, oke! Sekarang naik perlahan-lahan.”

Pria itu tersenyum miring, kemudian terkekeh geli seakan mengingat sesuatu hal yang lucu.

Pabboya! Kau benar-benar menyangka diriku akan lompat? Aku tidak akan pergi secepat itu, aku menginginkan peran di Film itu melebihi siapapun. Dan jika aku tak bisa mendapatkannya, apalagi dirimu? Kau hanya anak yatim piatu jalanan, jadi semua ketenaran dan kekayaan ini tak cocok denganmu.”  Sunggyu terkekeh lagi dan kali ini semakin kuat, tawanya menggema di ruangan kamarnya yang sepi dan dingin.

“Hyung, jangan lepaskan aku Hyung! Aku takut… Ini tinggi sekali, angkat aku Hyung! Aku mohon, disini dingin.”

Sunggyu menghentikan tawanya, adegan demi adegan yang sebenarnya sudah berusaha dia lupakan kembali berkelabat dalam ingatannya lagi. Semenjak pengakuannya pada Sora dua hari yang lalu, ingatan-ingatan itu semakin sering muncul dan terlihat jelas dipikirannya. Sunggyu tak berdaya untuk menepisnya jauh-jauh. Sejak hari itu, pria tersebut tak melakukan kegiatan apapun selain minum-minuman beralkohol hingga akhirnya tertidur, dan kembali mengulanginya kegiatan itu selama dua hari belakangan.

Berbagai panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya dia abaikan, beberapa orang yang datang pun dia suruh pergi.

Wajah itu kembali menghantuinya…

Wajah yang yang memasang topeng sok-tak-berdosa itu terus menerus merusak memorinya.

Ekspresi tak percaya dari Myungsoo saat tiba-tiba  Sunggyu menukar posisi mereka dengan mendorong anak itu ke sudut gedung kembali terputar di otaknya. Saat itu Sunggyu yang sudah berhasil naik dan kembali dari usahanya untuk menakut-nakuti Myungsoo dengan melompat dari lantai dua puluh apartemen mereka, berbalik mendorong  lelaki muda tersebut hingga membuatnya berada di posisi yang sama dengan Sunggyu sebelumnya. Wajahnya begitu terlihat ketakutan, dan Sunggyu menikmati detik demi detik saat Myungsoo memohon padanya untuk menariknya kembali keatas.

Pria itu tersenyum miring sembari menatap tajam adiknya yang sedang berada di ambang pintu maut tersebut. Sunggyu menundukkan tubuhnya, dan meringis saat melihat Myungsoo berusaha keras untuk naik.

“Aku… tidak mau! Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena aku adikmu Hyung…”

Bagai ditampar, tiba-tiba Sunggyu membelalakan matanya. Dia menoleh ke sekililing tempat tersebut dan menutup mulutnya sendiri kala melihat kondisi Myungsoo saat ini.

Ige mwoya? Apa yang sedang kulakukan?”

Tanpa membuang banyak waktu pria itu segera beranjak menangkap pergelangan tangan Myungsoo dan membantunya untuk menyelamatkan dirinya. Tubuh pria  itu cukup berat karena sudah lemas akibat menahan beban tubuhnya sendiri sejak tadi. Dia menarik tangan Myungsoo dengan sekuat tenaganya. Tangan Myungsoo menahan tubuhnya dengan berpegangan disalah satu sudut tembok yang mejadi jarak diantara mereka.

Dan tepat begitu Myungsoo hampir sedikit lagi mengangkat kakinya ke tembok tersebut, jari-jarinya yang memang sudah melemah membuat tubuhnya sedikit terhuyung karena tak sanggup menahan beban tubuhnya. Dan saat itu Sunggyu sudah tidak dalam keadaan menahan tubuhnya seperti sebelumnya.

Lalu kejadian selanjutnya benar-benar tak bisa terlupakan oleh Sunggyu. Bagai adegan slow motion, dia melihat adik angkatnya terpeleset dan terjun bebas ke bawah. Kim Myungsoo menatapnya nanar dan memanggil namanya dengan keras.

“Sunggyu Hyung!!!”

~ o0o ~

Memang tidak ada yang tahu. Management, teman-teman dan juga polisi. Mereka menganggap itu hanyalah sebuah aksi bunuh diri. Myungsoo dianggap tewas karena melompat dari gedung apartemen tempatnya tinggal. Dan peristiwa itu disebabkan oleh kondisinya yang sedih karena baru saja dicampakkan oleh kekasihnya Choi Yeonra. Gadis yang sudah menjadi kekasihnya dua tahun terakhir.

Kebetulan sekali, pikir Sunggyu

Dan keberadaan Sunggyu disitu, dianggap sebagai pencegahnya untuk melakukan hal tersebut. Walaupun gagal, Sunggyu dianggap memiliki alibi yang kuat karena mereka tidak pernah berkelahi ataupun memiliki masalah sebelumnya.

Tak ada yang mencurigainya, bahkan saat upacara pemakaman satu per satu tamu mengucapkan bela sungkawa dengan sungguh-sungguh kepadanya. Mereka yakin kalau pria itu benar-benar merasa kehilangan selayaknya orang lain yang baru saja ditinggal pergi untuk selamanya oleh keluarganya.

Mereka tak tahu kalau saat ini Sunggyu merasa sangat lega.

Lega karena dirinya tidak dituduh membunuh.

Lega karena peran di Film itu akhirnya diberikan kepadanya.

Lega karena dirinya tak perlu mendengar suara anak itu mengganggunya lagi.

Lega karena Myungsoo sudah tidak ada.

Myungsoo tidak ada lagi disini.

Di dekatnya.

~ o0o ~

“Jadi bisa kau katakan padaku dimana yang sakit?”

Sunggyu menatap kosong kearah langit-langit kamar yang memiliki bau menyengat yang khas ini. Matanya sesekali terpejam dan terbuka kembali dengan sangat lambat. Wajahnya pucat, dan bibirnya kering. Dia melirik lemah kearah pria dengan jas putih yang berdiri disampingnya.

“Aku… sepertinya aku sakit.”

Dokter tersebut tersenyum dan berkata dengan nada perhatian, “Kita tidak bisa tahu sebelum kita memeriksanya bukan? Maka dari itu kau harus mengatakan padaku, dimana yang paling kau rasakan sakitnya.”

Sunggyu menelan ludahnya lagi, matanya terpejam cukup lama kali ini. Dahinya berkerut sesaat, dan kemudian dia membuka matanya dan menatap dokter itu secara langsung.

“Telingaku… Aku rasa ada masalah di telingaku. Apa telingaku harus dioperasi untuk menyembuhkannya?”

“Tergantung seberapa parah sakitnya. Apa kau sering membersihkan telingamu sendiri?”

Sunggyu menggeleng lemah.

“Lalu, apa kau sering pergi ke club, dan sering mendengar suara yang keras?”

Lagi-lagi dia menggeleng.

“Bisa kau ceritakan bagaimana rasa sakitnya?”

Sunggyu meringis, kemudian bangkit dari tidurnya. Dia menarik napas panjang sebelum memulai kalimatnya.

“Telingaku sering mendengar suara-suara yang aneh. Suara-suara yang seharusnya sudah tidak pernah ku dengar lagi. Kau tahu, seperti  suara-suara yang tidak ingin kau dengar.”

“Dengungan?” Dokter itu mencatat di kertas yang sejak tadi dia bawa.

“Bukan.”

“Bisa kau beritahu secara rinci mengenai suara itu?”

Sunggyu menelan ludahnya lagi, “Dia memanggilku terus menerus, aku sudah menyuruhnya berhenti. Tapi dia terus menerus bertanya mengenai pendapatku, dan meminta persetujuanku. Dia… Dia…”

“Sebentar, jadi suara itu. Maksudmu itu suara manusia?”

Sunggyu menaikkan sebelah alisnya dan menatap dokter tersebut heran. Sang dokter sendiri sebenarnya bingung dengan reaksi Sunggyu saat ini.

“Sepertinya kau salah dokter Kim Sunggyu-sii. Aku akan merujukmu ke dokter lain, tunggu sebentar.”

“Tidak usah! Aku tahu kalau aku datang ke dokter yang tepat. Lakukan apa saja dengan telingaku sekarang. Aku mohon, aku tidak sanggup lagi mendengarnya.”

Dokter itu kembali ke mejanya dan mencatat sesuatu di sebuah notes. Dia kembali menatap Sunggyu, kemudian menggelengkan kepalanya.

“Kalau perlu kau angkat saja telingaku, dokter. Aku akan baik-baik saja tanpa telinga. Yang penting sekarang, hilangkan dulu suara itu! Lakukan sekarang juga! Kau dengar? Dia kembali memanggil-manggilku lagi. Dan ah, setelah itu aku harus pergi  ke dokter mata juga. Dia juga selalu terlihat dimana-mana saat ini. Lihat! Dia berdiri disampingmu sekarang…”

 ~ END ~

Advertisements

Author: chocholia

Its not about me, its all about you...

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s