Z.E.R.O “Chapter 01”

ZERO“Mounds of Gravels and Ashes”

MEREKA MENYEBUTKU JAE KARENA SI MUDA KERITING mengenalku— meskipun hanya ingatan kecil yang samar. Namanya Tahiti, gadis belia dengan rambut hitam ikal yang menjadi ciri khasnya. Diantara sekumpulan manusia yang selamat, hanya otak Tahiti yang tak berhasil ditembus oleh abu perusak. Si babi gemuk berkata bahwa Tahiti sangat beruntung, tapi tidak bagiku. Kau akan memiliki pendapat yang sama saat kau melihat kondisi tubuhnya.

Sepasang kakinya habis dilahap goeja, abu perusak, sementara lengannya terbalut sempurna oleh kain perca. Joan tak ingin yang tersisa menatap Tahiti jijik. Sebagian besar kulit yang mengelupas di tubuhnya membuat daging dan tulang si gadis menarik perhatian lalat-lalat yang mencoba untuk bertahan hidup. Dibantu oleh Yen, keduanya mencoba ‘menata’ Tahiti kembali saat mereka menemukan tubuh gadis itu terperangkap di bawah reruntuhan.

Satu, dua… sepuluh.

Hanya sepuluh orang, termasuk diriku. Sedikit, memang. Dengan suara rintihan Tahiti yang nyaris hilang, ia berbisik padaku bahwa angka itu jauh di luar perkiraannya. Goeja mampu memusnahkan dinding batu dan pohon oak. Gadis itu bahkan tertawa ringkih saat melihat tubuhku yang masih utuh sempurna.

Ia sangat menginginkannya. Tahiti sangat menginginkannya.

“Hanya ini yang kami temukan untuk hari ini.”

Seorang pemuda, wajah kusamnya selalu membuatku lupa. Joan mengulang namanya beberapa kali tepat di hadapan wajahku tapi otakku bergerak lambat untuk sekedar mengingat dimana arah matahari terbit. Aku mengangguk, menyuruhnya untuk duduk pada batang pohon yang melingkari sisa arang dari api unggun.

“Distribusikan pada yang lain. Giliranku untuk berjaga bukan?”

Pemuda itu kemudian mengikuti perintahku. Mengajak si babi gemuk dan yang lain untuk menelan rumput basah berlendir sebagai asupan makanan hari ini. Rasanya seperti lumut berjamur bercampur pasir, dan sialnya mau tak mau kami harus menelan rumput tersebut atau kematian akan datang menghinggapi setiap pundak kami yang letih.

Kutinggalkan mereka yang masih saling berbagi dengan sabar dan dalam diam di sana. Tragis yang menimpa sepasang tua minggu lalu telah mengubah jalan pikiran mereka untuk tetap bersama. Keduanya kalap, tak mampu mengingat apapun membuat mereka kehilangan arah. Mereka memutuskan untuk pergi dan keesokan harinya si babi gemuk menemukan tubuh si pria tua mengapung di pantai.

Retak yang timbul dari suara kerikil dan puing yang kuinjak membuatku berhati-hati. Sesekali kuseret sepatu lusuhku untuk menyingkirkan puing dan debu. Kadang kutemukan potongan poster maupun pamflet. Mungkin Goeja melenyapkan ingatanku, namun masih kuingat bagaimana cara membaca. Sungguh ajaib.

Dari kejauhan, tenda yang kubuat bersama pria besar bercamping merah nampak kokoh diterpa angin. Matahari mulai terbenam, cahayanya membiaskan putih dari terpal tenda menjadi ivory. Meski sempit, kami sama sekali tak keberatan untuk berhimpitan satu sama lain. Terkecuali saat si babi gemuk mendengkur tak terkendali di tengah tidur lelapnya.

“Butuh seseorang untuk bicara?”

Kutorehkan wajahku pada seseorang dengan langkah yang sama besarnya dengan kakiku.

Lagi-lagi Joan. Ia selalu menawarkan diri untuk menjadi teman bicara. Sempat kukira ia menyukaiku. Namun gadis itu tak pernah menunjukkan sikap yang agresif. Jadi kusimpulkan bahwa perasaanku saja yang berlebihan—sedikit besar kepala.

“Lebih baik kau jaga Tahiti. Kudengar ia menjerit kemarin malam,” kuucapkan penolakan itu tanpa menyinggung perasaannya.

“Dia akan baik-baik saja. Green menemukan sekotak obat-obatan di bawah reruntuhan rumah pemimpin kota.”

Seketika kutatap Joan intens dan sepasang mata tegasnya lantas berputar malas.

“Pria berwajah kusam, Lee Hyuk Jae!” Joan bergemuruh. “Mengapa Tahiti menyuruhmu untuk menjadi pemimpin yang tersisa sementara kau sendiri tak mampu mengingat nama-nama kami?”

Aku terkekeh. Oh, namanya Green. Baiklah, akan kuulangi nama itu setiap hari melebihi mantera penyembuh Tahiti.

Kupandangi sepatuku dan sepatu Joan dengan model yang sama. Kami menemukannya dari puing toko kecil di ujung kota. Pakaian, selimut, apa pun, yang tidak terpupus oleh goeja, yang terbenam di bunker setiap rumah.

“Tahiti bukanlah penyihir, Jo. Berapa kali kusuruh kau untuk memilah setiap pernyataannya,” kali ini ucapanku terdengar skeptis.

Pemimpin. Tahiti selalu menyebutku pemimpin tanpa alasan yang nyata. Berbeda dengan Yen dan Joan—yang bagi Tahiti sepasang gadis muda itu sempat mengenyam pendidikan ilmu penyembuh di sekolah yang sama dengannya. Tentu saja, sebelum pemusnahan terjadi.

“Ya, tapi hanya ia yang memiliki ingatan, Jae. Aku mempercayainya dan kita harus tetap bersama hingga kita menemukan manusia lain yang selamat.” Begitulah Joan membela Tahiti. Selalu seperti itu.

Joan menatapku sama tegasnya seperti aku menatap dirinya saat ini. Kulit wajahnya sebagian mengelupas namun tak mengurangi pesona dan aura kecantikannya dari bagian lain. Aku tahu bahwa ia sedang putus-asa. Seperti yang kurasakan, seperti yang lain rasakan. Tak ada informasi dari pemerintah sejak pertama kali kami terbangun tiga minggu lalu. Bahkan si babi gemuk—di antara kami yang selamat, Tahiti sama sekali tak mengenalnya dan kami menyebutnya babi karena berat badannya sama seperti perpaduan tubuhku dan Joan—kehilangan dua puluh pounds dalam seminggu terakhir.

Langkahku terhenti hampir di ujung tanah, tak jauh dari genangan air di sisi pantai.

Kutatap laut luas yang membentang di hadapanku, tak peduli apakah Joan masih di sampingku atau tidak. Tahiti—tetap mengenai ucapan Tahiti, berkata bahwa goeja telah mengubah struktur tanah dan air, membuat wilayah yang kami sebut Sesa ini sebagian berubah menjadi lautan.

Ujung bangunan di pesisir pantai tenggelam dalam air. Kadang kutemukan potongan tulang yang mengapung tersapu ombak. Sambil berjongkok, kupandangi wajahku dari permukaan air yang keruh. Putih, bersih, serta rambut pendek berwarna cokelat keemasan. Si pria besar menemukanku mengapung di pantai dan Joan menyelamatku dari sesak cairan di dada. Keberuntungan berpihak padaku, tidak seperti kakek tua yang terperangkap di dalam bunker rumahnya dan tersapu ombak lautan.

Karena itulah kuhabiskan sore hari menjelang gelap di tepian pantai. Mungkin gubuk kecilku berada di dasar laut. Mungkin masih banyak bangkai manusia lain yang terjebak di sana. Andai saja aku mampu mengingat bagaimana goeja menghantam dunia. Rasanya ingin kubenturkan kepalaku bertubi-tubi pada karang yang terpupus.

“Saatnya untuk pergi,” ucap Joan. Dagunya bergerak menunjuk matahari yang telah tenggelam sempurna.

Aku memberinya anggukan kecil, kali ini mendengarkannya untuk kembali. Joan berbalik lebih dulu, menunjukkan bentuk tubuhnya yang ramping. Rambutnya diikat sembarangan oleh tali kotor. Melihat tubuhnya yang lusuh benar-benar menghantamku pada kenyataan. Sungguh aku tak memiliki jawaban dari satu pertanyaan yang mengiang di benakku setiap saat.

Sampai kapan kami akan bertahan di atas puing-puing ini?

Mungkin Joan benar, aku harus mempercayai Tahiti. Gadis itu mungkin memiliki jawaban yang tak kuketahui.

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

4 thoughts on “Z.E.R.O “Chapter 01””

  1. wah, sejenis maze runner gitu ya ceritanya? :O
    kok feeling2 si tahiti itu jahat ya? *asal tebak :p

    congratulation on ur new template! lebih fresh keliatannya 😀

    1. Hiyaaaa tau aja Ka. Auk nih lagi kepincut sama Thomas eh malah kepikiran kalo Hyukjae jadi penyelamat dari kejahatan (?)
      Hihi makasih kaaaa entah kenapa aku juga puas abis sama ini tema (yang notabene HTML ma CSS yang ribet)

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s