THE BODY (TWOSHOOT)

The Body - PosterKURASA REKAMAN INI CUKUP JELAS.” Pria itu berucap sama tingginya saat ia berdiri di pusat perhatian. Ibu jarinya bergerak lihai menuntun alat pengendali untuk menunjukkan potongan-potongan pada layar yang dipenuhi lingkaran merah.

Ada selusin manusia di dalam ruangan; termasuk sepasang wanita paruh baya dengan seragam yang sama. Tak ada raut canda atau pun senyum sederhana. Karena pria tinggi dengan cetak biru bertuliskan Commander Park tengah mengawasi bersama mata elangnya.

“Pria ini diidentifikasi sebagai Lee Hyukjae. Tinggi sekitar enam kaki; wajah tanpa operasi—terkecuali hidungnya; anak kedua dari keluarga kecil yang tinggal di sudut kota; tak banyak bersosialisasi sebelum akhirnya ia digilai wanita setelah memenangkan kompetisi menari di Night Festival of Gangnam.”

Ya.

Choi Siwon, pria yang memimpin pertemuan, memindahkan berbagai potongan singkat wajah buronan daerah dengan pengendali di tangannya. Dari caranya menerangkan, jelas sekali ia sedang terburu-buru. Commandernya tidak menyukai kelalaian dan kebodohan. Dan kali ini ia ditugaskan secara khusus untuk mengatasi kasus pembunuhan berantai tersebut.

“Petunjuk lain?” Sang commander memeriksa dokumen tebal di pangkuannya. Ia nampak tidak tertarik dengan detail yang begitu rumit di dalamnya.

Choi Siwon dikenal sebagai polisi tangguh yang mampu menaklukkan sasaran—lihatlah otot-otot yang timbul di balik seragam kebanggaannya. Namun Commander Park tidak menyukai cara Choi memimpin pertemuan. Pria itu lebih cocok terjun di lapangan, bukan di hadapan papan putih bersama penjelasannya yang dipenuhi gumaman.

“Satu dari puluhan remaja muda yang menghilang di tahun 2008,” imbuhnya.

“Dan ia muncul kembali dengan kejahatannya?” Tanya yang dilayangkan Commander Park disambut anggukan mantap oleh Choi.

“Bagaimana dengan kediaman orang-tuanya?”

“Ibunya meninggal setahun setelah Hyukjae dinyatakan menghilang—depresi yang berkepanjangan. Sementara ayahnya dan Sora Lee tinggal di salah satu pedalaman daerah Gwangju. Mereka akan terkejut jika melihat berita nasional, mengingat daerah itu cukup jauh dari modernisasi.”

Park Jungsu, sang commander, merapatkan bibirnya sementara Choi Siwon menyebut keterangan-keterangan lain yang dibantu oleh teman satu timnya. Sesungguhnya ia tidak banyak memerhatikan rekaman pembantaian yang diperoleh dari cctv, hingga sesuatu yang unik menghentak lamunannya.

“Bisakah kau hentikan adegan tersebut? Ya, pada detik berikutnya.” Ia menyuruh Choi melakukannya dan pria itu tak banyak menolak.

“Bisa kau jelaskan tanda apa itu?”

Choi Siwon menarik kemeja sementara sepasang matanya menyudut. Wanita dengan kacamata tebal di sayap kiri pun memahaminya. Segera dengan gerakan yang pasti, ia mulai membongkar dokumen lain di bawah meja. Hati-hati, Choi mengamati Commander Park tanpa terdeteksi. Pria itu menunggu, dan itu berarti sebuah malapetaka.

Khawatir, Choi menarik lembaran kertas yang disodorkan si wanita padanya. Tergesa-gesa ia membaca rentetan kalimat dalam hitungan detik.  Ia tak menyangka bahwa Park Jungsu dapat menemukan detail yang terlewatkan olehnya.

Sebuah tanda mirip tattoo di pergelangan tangan Hyukjae benar-benar terlewatkan oleh pengawasannya.

“Logo dari laboratorium X. Tempat itu luluh-lantak oleh peledak yang terpasang di tiap sudut, menewaskan hampir seluruh pekerja di sana—termasuk peneliti dan wakil direktur. Penyebab kejadian masih diselidiki,” jelas Choi panjang-lebar. Ia bersyukur karena otaknya bekerja dengan baik kali ini.

“Kudengar ada sebuah kasus kecil menyangkut lab itu,”

Choi meraih lembar lain yang disodorkan si wanita berkacamata lantas membacanya kilat. “Lab X dikenal sebagai pesaing YZ. Selalu berupaya melakukan berbagai eksperimen baru terutama di bidang teknologi.”

Park Jungsu mendekam dalam keheningannya. “Kau pikir bahwa Lee Hyukjae adalah dalang dari kejadian tersebut?”

Choi hendak membuka mulut sebelum akhirnya seorang lain menginterupsi. Wanita dengan seragam yang dikenakan oleh para karyawan di bidang pelayanan publik, berjalan menuju sang commander disertai tatapan kotor dari seluruh penghuni ruangan. Pelayanan publik terkenal bahenol dan mempesona. Jika wanita-wanita itu mendatangi mereka, itu berarti  sebuah undangan untuk memecahkan kasus lain sedang menunggu.

Park Jungsu menghentikan pertemuan mereka setelah si wanita membisikkan sesuatu. Ia berjalan menuju lorong tamu diiringi oleh si petugas pelayanan publik. Tak perlu lama, keduanya dihadapkan oleh seorang pria paruh baya dan sepasang pria lain yang mengapitnya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Park setelah membungkuk memberi salam.

Si pria melepas kacamata yang membuatnya nampak seperti kutu buku. “Perkenalkan, namaku Dr. D.”

Park kemudian menyambut uluran tangannya, menelisik makna di balik senyum si pria yang menyembunyikan berbagai makna.

-o-

DALAM SEKALI LANGKAH KECIL, GADIS ITU MERAIH KENOP pintu untuk menyembunyikan ruangannya dalam kesunyian. Di luar, pemilik rumah sedang berusaha mendobrak pintu kamar lain di sampingnya. Wanita berbadan gemuk yang ia kenal sebagai pengangguran itu sepertinya belum membayar uang sewa. Dan tagihan pajak akhir tahun mendesak si tuan rumah.

Ia memandang sesaat. Tak ada yang istimewa dari kamar sempit yang disesaki oleh perabotan tua dan berkarat. Meski debu dan kotoran tak menghambat pernapasannya, gadis itu sama sekali tak mengaduh—terutama setiap kali tulang keringnya terkantuk sudut ranjang.

Televisi tua yang menggantung di dinding kemudian dinyalakan. Dari tayangan-tayangan yang bergerak cepat pada layar menunjukkan bahwa gadis itu sedang bosan. Tidak ada yang menarik, begitulah benaknya menggemakan suara. Seluruh program nasional selalu menayangkan sebuah berita yang berulang-ulang pada jam yang sama.

Tentu saja, tak ada yang lebih menarik selain himbauan negara atas kekhawatiran yang disebabkan oleh Lee Hyuk Jae. Seorang pria, yang baginya, tengah mencari popularitas dan ketenaran dengan merenggut nyawa mereka yang tak berdaya.

Gadis itu berjalan lambat menuju lemari dinding, menarik selembar kain tipis di antara tumpukan untuk menggantikan jeans dan t-shirt tua yang melekat di tubuhnya. Ia hendak melompat ke tempat mandi yang hanya dibatasi oleh dinding rapuh sebatas dada, hingga sesuatu yang terbaring tenang di atas ranjangnya menggugah perhatian.

Ia menoleh cepat pada jendela dengan tirai yang berayun ringan oleh angin malam. Sudah diduga, tidak mungkin sosok lain di dalam ruangannya melewati pintu istimewa. Karena jika sosok itu melakukannya, si pemilik rumah yang cukup agamis pasti akan mengusirnya—dan mengganggap bahwa ia mengundang seorang gigolo yang biasa dilakukan si wanita tua di lantai dasar.

“Kau tidak terkejut?”

Sosok itu berucap dengan suaranya yang lembut.

Si gadis melepas ikatan pada rambutnya setelah mengeratkan kain tipis di tubuhnya. “Suatu kehormatan bagiku menerima kunjungan singkat dari artis ibukota,” kemudian meredupkan nyala pada televisi yang tengah menampilkan wajah yang sama dengan tamunya.

Ya, Lee Hyukjae.

Tak ada jejak kotor dari sepatu classic hi-tops merah tua yang dikenakannya. Lee Hyukjae berhasil merusak inderanya yang cukup sensitif oleh bunyi keratan tikus sekali pun. Si gadis mengawasi dengan detail yang terpancar dari pupilnya. Kulit putih Lee terlihat bersinar oleh t-shirt dan jeans berwarna gelap. Rambutnya kusut namun memberi kesan menggoda. Ia bertaruh bahwa para gadis tak akan mampu menolak pesonanya. Terutama saat pria itu melayangkan senyum kecil di bibirnya—seperti yang ia lakukan saat ini.

Lee Hyukjae cukup terpana saat ia tak menemukan cemas yang ditunjukkan si gadis, seolah ia telah memprediksi akan kehadirannya yang sangat tiba-tiba.

“Apa yang membuatmu terdampar di tempat kumuh seperti ini?” tanyanya pada Lee lantas meraih botol wine pada laci di samping ranjang yang diperolehnya dari sebuah festival bulan lalu.

Lee kini mengamati, gadis itu bergerak menuju laci lain di ujung sudut yang diubahnya menjadi dapur kecil. Lekuk tubuhnya yang tersembunyi dengan baik oleh kain tipis itu sempat membuatnya kehilangan fokus. Beruntung uluran gelas kecil dari si gadis menyadarkannya, membuat Lee tersenyum malu.

“Kau tidak takut?” tanya si pria, menyambut ajakan gadis tersebut dengan meneguk minumannya dalam sekali tembak.

“Maksudmu, takut yang sama—yang dirasakan para korbanmu?” gadis itu kemudian menatap Lee Hyukjae. Dari kaus tipis dan celana ketat yang dikenakannya, ia berkesimpulan bahwa pria itu tidak bersenjata. “Aku lebih memilih untuk terpukau. Kau jauh lebih tampan dari gambar yang berlalu-lalang di televisi nasional,” dan tatapannya berakhir pada sepasang mata sendu si pria dengan warna gelap yang mengintimidasi.

Lee menunduk, menyembunyikan sipu malu yang menyemburat dari kulit putihnya. “Tempatmu sangat kecil. Tidak mudah bagiku untuk melarikan diri jika kau berteriak saat aku membunuhmu,” ucapnya—masih dengan suara yang lembut.

Ia memandangi cukup lama pada bingkai kecil di atas laci; wajah si gadis, lengkap dengan keluarga kecilnya yang menyentuh nurani Lee Hyukjae.

“Coba saja. Mungkin perkiraanmu meleset,” ujar si gadis seraya menuju tempat mandinya yang sempat tertunda.

Ruang sempit itu mendesak Lee Hyukjae untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Dinding yang rapuh, bau tengik dari seprai, penerangan yang tidak baik hingga menciptakan kengerian di dalam ruangan. Tak disangka gadis itu bertahan untuk tetap tinggal. Maka ia beranjak dari ranjang, meninggalkan kusut pada lapisan selimut. Rupanya ia tak ingin berlama-lama, keributan di luar ruangan mengenai uang sewa membuat telinganya berdengung tajam.

Gemerisik air dari keran yang membasahi tubuh gadis itu mengingatkannya pada hujan. Sepertinya salah satu dari kaum hawa itu sama sekali tidak terusik oleh kehadirannya. Lantas Lee mendekatinya, melewati rak kayu berwarna merah tua yang tak lebih tinggi dari pinggangnya di tengah ruangan. Meski ia menyukai hujan, ia memilih untuk meraih keran di atas kepala si gadis dan menghentikannya.

“Namamu Jean, bukan?”

Bisikan yang diciptakan Lee membuat gadis itu membuka mata, menghentikan sensasi yang selalu dinikmatinya saat ia menjalani ritual tersebut. Ia tak menyangka bahwa Lee Hyukjae akan benar-benar bersamanya di tempat mandi yang sempit dan belum terlapis sempurna oleh semen—dan kini pria itu sedang terpaku di balik tubuhnya.

“Jennifer Cho,” ia melengkapi.

Lengannya ditepis lembut oleh Lee Hyukjae saat hendak meraih pembersih. Lee yang melakukannya, saling mengusapkan telapak tangannya yang agak kasar dan menciptakan buih-buih di tubuhnya.

“Apakah bokongmu asli?”

Sentuhan Lee di bagian tubuhnya itu seketika menegangkan otot Jean. Ia menggumam sebagai jawaban. Sepasang mata cokelatnya menatap awas pada penyangga handuk di sampingnya. Sekedar berjaga-jaga—alih-alih pria itu bertindak lebih gila.

“Lalu bagaimana dengan yang ini?”

Jemari Lee Hyukjae yang dilingkupi kelembutan dari buih-buih menelusuri tubuh rampingnya. Ia merasakan gerakan Lee di dadanya. Sentuhan lembut dan menyenangkan itu menarik Lee untuk mendekat. Jean kembali menggumam, kesat yang yang ditimbulkan oleh gesekan dari tubuhnya dan linen t-shirt Lee menggetarkan inderanya.

Lalu Jean mengangkat bahu. “Apakah menurutmu bagian tubuhku ini masih asli?”

Gerakan di tangannya mengajak Lee untuk menyentuh lebih dalam. Pria itu medengkur di dalam napasnya, ia mengetahuinya karena Lee semakin terbenam dalam pelukannya. Hidung mancungnya mencari-cari kenyamanan pada tengkuk Jean, sesekali menghirup udara dengan kasar seolah menyimpan pasokan oksigen yang tak terhingga.

“Sempurna,” Lee mendesah. Tubuhnya semakin merunduk untuk menyesap wangi buih yang menyatu dengan tubuh Jean. “Bagaimana cara Dr. D menciptakanmu?”

Diam.

Ruangan seketika dipenuhi oleh senyap. Hanya suara tetes air dari keran, juga buih-buih kecil yang meletup-letup dari permukaan tubuh Jean. Gadis itu memilih untuk menyepi, membiarkan tubuh Lee yang keras bagai metal menghentak-hentak punggungnya yang telanjang.

“Tidak perlu terkejut, Jean. Aku sama sepertimu,” Lee menahan suaranya dan menciptakan desah yang menggoda. Ia mengaum rendah di telinga Jean sementara jemarinya meraih pergelangan tangannya, menunjukkan sebuah tanda yang tertanam di kulit serta nyaris pupus oleh goresan-goresan tajam.

Jean menunduk saat Lee menyetarakan tanda yang sama—pada lengan masing-masing. Sebuah lingkaran, terbagi empat bagian oleh sepasang lengkung dan dihiasi dua titik hitam di kedua sisinya. Dari kejauhan tanda itu hampir menyerupai zelda. Meski dari jarak dekat tanda yang telah menjadi bagian dari tubuh mereka tersebut lebih menyerupai kepala ular.

Tumit Jean melayang menghantam tulang kering Lee. Pria itu meringis karena Jean menyikut torso dan dagunya, menciptakan langkah kecil saat tubuhnya sempoyongan. Jean meraih kain tipis untuk melindungi tubuhnya, membiarkan lembab dan basah dari sisa ritual mendinginkan kulitnya.

“Ternyata kau cukup gesit juga,” Lee menyeringai sembari mengenyahkan kotor yang melekat pada celananya.

Sepasang mata Jean tetap mengawasi. Sementara Lee nampak tergopoh-gopoh untuk berdiri, menimbulkan bunyi nyaring saat siku lengannya menjatuhkan vas kecil yang menggantung pada partition. Masih tak ada kata yang mengalir dari bibir Jean. Pikirannya terselubung oleh bingung dan tanya.

“Hanya sekedar tes kecil. Dan kau telah lulus,” Lee kembali berucap, menenggelamkan kewaspadaan di wajah Jean yang menirus semenit lalu. “Jadi kau yang meledakkan laboratorium?”

Kepala Jean bergerak lambat, memerhatikan Lee dari sudut yang berbeda. “Aku tidak mengerti, Lee Hyukjae.” Ia menggumam. Setelah yakin tak ada gerakan lain yang mencolok dari si pria, Jean kemudian menjauh dengan beranjak dari sudut sempit tersebut.

Palsu dari keluguan Jean membuat Lee menyeringai. Matanya mengikuti seolah tubuh Jean memicu medan magnet. “Aku tahu kau yang melakukannya. Hanya eksperimen kelas A saja yang mampu mencapai akses tertinggi di tempat itu.”

“Oh,” hanya itu jawaban dari Jean.

Ia kini mengenakan kaus pink yang mulai memudar serta celana longgar sebatas lutut. Di sudut tempat mandi, ia menemukan Lee tengah menahan tawa. Yeah, ia terlihat klasik dengan pakaiannya yang sederhana. Mungkin alasan itu yang membuat Lee mencemoohnya melalui senyum yang ia sembunyikan di balik bibir tipisnya.

“Kau tak ingin menyerangku?” Lee berjalan gontai setelah berhasil menjejak lantai bersama sepasang kaki panjangnya yang sempat roboh oleh serangan Jean.

Gadis itu menggedikkan bahu. “Berikan satu alasan mengapa aku harus menyerangmu.”

Lee mengerutkan dahi. Terkejut. Bukan itu jawaban maupun elakkan yang ingin didengarnya dari Jean. Sayang sekali, jika saja gadis itu menyebut kalimat lain, tubuhnya yang elok akan berakhir di tempat pembuangan sampah terdekat. Maka Lee mengangguk seperti mainan di atas dashboard mobil, mengamati Jean yang tanpa pertahanan.

“Kau sadar bahwa aku tidak membunuh mereka tanpa alasan,” ujarnya.

“Kau hanya terlalu naif dan ceroboh. Jika kau membunuh mereka, setidaknya kau harus membakar tubuh mereka tanpa jejak.”

Kata-kata itu sangat ringan melayang dari bibir Jean, membuat Lee kembali mengangguk puas.

“Sengaja kulakukan hal itu untuk mendapatkan perhatianmu.”

Untuk pertama kalinya sejak Lee menerobos masuk ke dalam kamar, seringaian Jean terukir di wajahnya. Lee menemukannya dari ujung bayangan yang menyembunyikan senyum ketir tersebut. Seringaian itu terlihat indah. Berpadu dengan bola mata Jean yang berwarna hitam-cokelat dan lesung pada satu sisi di pipinya.

Gadis itu menyulam langkah kecil, mendekati Lee dan memaksa tubuhnya untuk berbalik.

“Kau pikir mengapa kulakukan hal yang sama padamu?” tanya Lee. Sadar bahwa jemari Jean tengah menelusuri tengkuknya dengan sedikit tekanan yang menyakitkan.

“Kau bukan technobots,” Jean bergumam.

“Begitu pula denganmu.”

Keduanya kemudian saling memandang lama saat Lee menyentak tubuh Jean dalam dekapannya. Jean merasakan sentuhan lembut Lee di wajahnya. Pria itu menelisik lebih dalam, menyeret ujung jemarinya untuk memilin helai-helai rambut Jean yang sama hitamnya dengan bayangan.

Jean menolak pada detik berikutnya. Perlahan ia menjauh, menghentikan kekaguman Lee atas dirinya. Setelah beradu argumen dalam hati, Jean meraih gagang bundar pada lemari besar dalam beberapa langkah. Lemari tua, yang berdiri di antara lemari lain disamping jendela.

Lee memerhatikan sesuatu yang sengaja ditunjukkan Jean. Di dalam lemari, terdapat bagian-bagian robot dengan nomor yang beda. Kepala, lengan atas, kebanyakan bagian leher dan lengan bawah yang diselubungi kulit elastis menyerupai manusia.

“Mereka juga mengincarku,” ucap Jean diiringi geraman Lee di balik tubuhnya.

Lee mendekati Jean. Menyaksikan potongan-potongan tersebut memenuhi isi lemari tua. “Seharusnya kulakukan hal yang sama untuk menyaingimu,” ujar Lee—masih mengagumi hasil seni Jean yang disembunyikannya dari publik.

“Pergilah. Kau mengganggu waktu tidurku,” sergah Jean seraya menutup kembali lemarinya dan membuat Lee mengaduh.

“Bagaimana jika kuputuskan untuk menemanimu?” Lee menyeringai. “Kau tak ingin tahu bagaimana aku bisa menemukanmu? Kau tak ingin berbagi cerita mengenai keluargamu yang—argh!

Dalam sekali gerakan lihai, tubuh Lee terlempar bebas melewati jendela. Lee sama sekali tak mampu mengingat bagaimana Jean mendaratkan tubuhnya pada balkon sempit tersebut. Gerakan Jean begitu cepat dan tak terdeteksi.

Lee mencoba untuk berdiri. Dilihatnya gadis itu tengah menatapnya kosong di ambang jendela.

“Biarkan aku hidup seperti manusia lain, Lee Hyukjae. Jika kau masih bersikeras, kau akan berakhir seperti koleksiku,” kemudian menutup jendelanya tanpa mengucapkan kata perpisahan.

Lee terkekeh. Sesungguhnya, bisa saja ia memaksa Jean dan membuat kegaduhan. Namun gadis itu nyatanya terlalu menarik untuk diajak bermain-main. Lantas Lee memilih untuk memberikan sebuah kecupan udara pada Jean sebelum akhirnya menjatuhkan diri dari balkon tersebut.

Gadis itu menggelengkan kepala. Lee Hyukjae mampu melakukan apa saja. Termasuk menjatuhkan diri dari lantai tiga rumah besar yang ditinggalinya.

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

8 thoughts on “THE BODY (TWOSHOOT)”

  1. lee hyuk jae ini knp selalu identik sama kata playboy sih? tp emang kece :3

    ahey, ditunggu part 2-nya. sesungguhnya msh blm kebayang latar belakang cerita ini sih. siwon lawan hyukjae kynya combo yg menarik :p

    -eka yg lupa password wordpress oatentic :)) –

    1. Ahahaha~~ I know you because of your nickname, Ka (dobelhyun). Don’t tell me you forgot your ‘oatentic’ password? 🙂
      Tenang aja, di part ini emang masih nge-blur kemana-mana Ka. Part berikutnya lebih asoy geboy~~

  2. cover nya euiii…. menggugah seleraku *indomie jingle* keliatan bgt yak tampang cabul bg enyuk *dicakar jewels*

    huahhhhh… dr D itu bg mokpo bukan sih itu? ??

    abg Heenim ku gak ada kah nyempil sedikit disini kak? ??

    ngomong2 , hidung bg enyuk di oplas ya? ?*eh

    1. Hahaha… Yolla, Yolla, Yolla…
      Yang enak Indomie goreng pedas, Dek. Bukan Indomie Jingle 😉
      Kamu pasti bisa nebak kok siapa Dr. D. Iya nih Bang Heenim tadinya mau aku jadiin Commander Park, tapi gak cucok jadi maaf sekali doi gak muncul di sini.

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s