EXO PLANET – Chapter 14

EXO PLANET NEW POSTER 02PADA LORONG PANJANG, DIANTARA SEPASANG PRIA MUDA, muncul berbagai kekhawatiran yang terselip di setiap langkah mereka yang berpadu mesra. Sesekali keduanya saling mengajukan pertanyaan kecil. Mempelajari makna tersembunyi di balik raut masing-masing.

Tak ada gelak tawa di tengah kesunyian tersebut. Bangunan istimewa yang dipijak keduanya pun membuat mereka semakin canggung.

Kematian Parleemos masih menjadi bagian dari tragedi mengerikan bagi seluruh penghuni planet. Dan setelahnya, gelar castè yang disandang membuat keduanya menjadi penerus berikutnya.

Ya.

Apalagi jika bukan karena politik istana.

Baik Luhan maupun Baekhyun tak pernah mengira akan berurusan dengan problema tersebut dalam waktu singkat. Pertemuan dengan berbagai pengurus membuat kepala mereka hampir membusuk.

Castè hanyalah bagian kecil dari pasukan penjaga kedamaian. Ketelanjangan mereka mengenai kekuasaan dan peraturan membuat keduanya tak mampu menyerap berbagai hal yang diterimanya. Bahkan Kris dan Suho, pemimpin gugus mereka, lebih buruk lagi—buku-buku tebal di perpustakaan istana masih menjadi pekerjaan rumah mereka selama beberapa hari terakhir.

“Kudengar kau sering mendepak bokong Tao dan castè Myrath lain. Tapi kali ini kau terlihat lebih tenang.”

Baekhyun mengangkat kedua tangan, menggeliat seperti kuda nil di dalam lumpur.

Disampingnya, Luhan hanya menyeringai. Jangan salahkan Baekhyun jika pria itu nampak bosan. Tetua-tetua di pertemuan kali ini benar-benar melelahkan otot mereka. Menjaga sikap dan tata bicara bukanlah gaya Baekhyun. Dan pria itu telah menghabiskan separuh harinya demi pembusukkan otak oleh aturan dan tugas istana.

“Para tetua membuatku lelah, Baek. Kau tahu,” kemudian Luhan mengubah mimiknya seperti tetua Hobb dengan kerutan yang tegas saat ia menguap.

Baekhyun menepuk bahu Luhan; menyetujuinya. Beruntung ia memilih Luhan sebagai teman di waktu senggang. Raut wajahnya menenangkan, tidak seperti Chanyeol yang selalu menggelitiknya dengan sepasang telinga fairy yang dimilikinya.

“Bagaimana kau mengetahuinya, fratheer?” Baekhyun bicara dari sisi Luhan. Jemarinya menelisik perutnya yang mulai membuncit.

“Wajah Tetua Hobb lebih menarik dibandingkan Tetua Seon. Lagipula tubuh pendeknya membuat ia semakin terlihat kerdil,” kemudian Luhan berdeham seolah menekan tawaannya.

“Bukan—bukan tentang mimik wajah tetua bau itu, fratheer. Melainkan huglooms.”

Sejenak Luhan mengerutkan bibir.

Langkahnya mendadak pelan dan hal itu diketahui oleh Baekhyun. Adegan itu nampak lucu karena Baekhyun malah merapatkan kakinya; hendak menyalin kekakuan Luhan yang masih menundukkan kepala.

“Para castè bertanya-tanya mengenai kemunculan huglooms.” Lagi-lagi Baekhyun berucap.

Luhan masih mengatupkan bibir. Ia berusaha mengalihkan perhatian Baekhyun dengan menoleh pada tiap jendela yang dilaluinya. Pria dengan garis tegas di rahangnya tersebut cukup cerdas dengan terus menembakkan berbagai pertanyaan dimana jawaban-jawaban itu tak dimiliki Luhan.

“Kita mengetahuinya; bahwa hanya Kai yang mampu membawa jiwa huglooms. Tak ada yang memiliki kemampuan itu selain dirinya.”

“Dan Kai telah tiada.”

Luhan berucap tegas, tanpa berteriak, meski suaranya membuat Baekhyun terperanjat.

Disampingnya, Baekhyun melirik singkat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam ucapan Luhan acap kali pria itu berkilah. Seolah sesuatu tersembunyi rapat di balik jeruji benaknya.

“Kalau begitu tolong jelaskan padaku mengapa saat itu kau memanggilku dan mengajakku ke hutan millim.”

Luhan memalingkan muka. Ia memilih untuk melepas jubah castènya ketimbang melayani haus Baekhyun akan segala keingintahuannya.

“Aku tidak tahu, Baekhyun,” ia bergumam, nyaris tak terdengar.

“Kau tidak pernah membagi cerita apapun denganku, Luhan. Apakah karena gugus kita berbeda?”

Kali ini nada Baekhyun memelas. Ia menyerah. Ada beberapa hal dalam diri Luhan yang mengingatkannya pada Parleemos: keduanya menyukai teka-teki di dalam ucapan mereka. Dan ia yakin bukan hanya dirinya saja yang memiliki pendapat serupa.

“Berpikir dan berdiam diri untuk menyembunyikan sesuatu adalah dua hal yang sangat berbeda.”

Itulah jawaban Luhan dan disambut oleh ocehan Baekhyun yang menguntai bersama langkah mereka pada lorong berikutnya.

“Apakah hal tersebut menyangkut mimpi burukmu?” tanya Baekhyun, masih berusaha mengorek sesuatu dari si pengendali benda.

“Sebagian, yeah.” Begitulah Luhan menjawab.

Setelah menuruni anak tangga di ujung lorong, keduanya terhenti di hadapan sebuah ruangan dengan pintu besar yang terbuka. Sepasang penjaga mengapit di tiap sisi, ujung kepalanya hampir menyentuh ukiran wajah pada daun pintu.

Tak ada nyala yang membuat ukiran tersebut lebih hidup. Wajah Parleemos meredup; bersama dengan wajah Sora, sang ratu. Ruangan istimewa tersebut kini menjadi bagian dari sejarah. Sama seperti kematian Parleemos King.

Luhan mengawasi sepasang pelayan yang melewatinya. Mereka membungkuk sebelum akhirnya berpamitan. Sayup-sayup ia mendengar Baekhyun mengomentari pelayan berhidung mancung karena bokongnya yang menonjol. Namun Luhan menghiraukannya. Pikirannya meledak-ledak; mencari-cari beberapa bagian yang belum menyempurnakan puzzlenya.

“Aku masih tidak mengerti mengapa kau menginginkan tubuh Kai tetap di sana. Bukankah tidak baik jika mayatnya hanya dibaringkan di atas pemujaan?”

Luhan menoleh. Tak disangka jika Baekhyun benar-benar mengekorinya hingga ke dalam ruangan Parleemos.

Ya. Benar.

Di sana, di tengah ruangan, terbaring tubuh makhluk yang telah membeku sempurna. Wajah pucatnya selalu menggores luka di dalam hati Luhan. Sepasang kelopak matanya menutup sempurna, menandakan makhluk itu sedang menjalani tidurnya yang panjang.

Seorang pelayan dengan dandanan yang menor menghampiri Luhan.

Di atas pipih kayu, setangkai tulip crimson disodorkan padanya. Luhan meraihnya, kemudian meletakkan bunga tersebut di antara jemari tubuh Kai. Ia menyentuh lembut lapisan terluar mayat tersebut, merasakan dingin yang diciptakan Xiumin untuk mengawetkan tubuhnya.

Luhan mendesah.

Meski Lay telah menyembuhkan luka di pusat kehidupan tubuh Kai; meski Lay telah menghilangkan goretan di wajahnya; meski Lay telah memperbaiki patah di kaki kirinya; tak ada cara lain untuk membangkitkan yang-telah-mati.

Parleemos telah tiada. Tak ada yang mampu menolongnya.

“Tak ada seorang pun yang akan membakar tubuh Kai menjadi butiran abu. Akan kumakamkan tubuhnya di saat yang tepat.”

Kemudian Luhan dan Baekhyun meninggalkan tubuh Kai bersama tulipnya yang menghitam. Ia tak pernah berlama-lama di dalam ruangan tersebut. Ia belum sepenuhnya siap menemukan hal-hal lain yang mungkin saja terjadi di sana.

-o-

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

15 thoughts on “EXO PLANET – Chapter 14”

  1. woaahhh… almost the last part? hiks..
    rasanya msh banyak teka-teki yg blm terpecahkan. arwah kai yg gentayangan (?), cho ikha mau ngapain lg di exo planet, hyukjae yg di dunia manusia gmn kbrnya, dll ㅠㅠ

    klo ini ff dibikin buku, insya Allah aku siap beli. bagus bgt.. aku suka alur ceritanya ㅠㅠ

    1. Hi Oatentic 🙂

      Aduh maaf banget ini baru sempetin bales-balesin komentar di sini. By the way aku udah kasih tau password FF yang kamu minta sebelumnya belum ya? Aku lupa abis ini 😦
      Heheiiiii makasih ya udah baca EXO PLANET. Aku kira kamu cuma penikmat Super Junior aja (maklum aku multifans SM soalnya). Makasih banget buat komen kamu.

      Salam
      Huglooms

  2. my god….. emang sneak peek banget kak… bagusss makin penasaran. gila lah cerita ini tuh amazing banget. sesuatu… /insert suara syahrini/ wkwkwkwk. senpai-nim tolong bantu aku buat bisa bikin cerita kayak gini.. huhuhu

    1. Adek~~~~~~~~~~
      Baru muncul lagi tepar puasa 17 jam disini 😦
      Udah deh gak usah pake acara sempainim-sempainim-an. Tulisan kamu juga gak kalah bagus litaaaaaaa~~~
      Yaudin Chapter terakhir mau di publish segera. Kalau mau password-nya tinggal nge-line aja yak 😉

  3. aku punya mimpi,,,
    setelah judul ini selesai, bakal ada season 2
    di mana, cho ikha benar2 berakhir bahagia dengan sosok Kai (abaikan kematiannya)
    yah,,, benar2 Kai luar-dalam

    PS: efek sedih yg berkepanjangan atas nasib Kai T^T T^T T^T

  4. Itu kok tubuh Kai nya bisa utuh―ya aku tau kalo minseok udah membekukannya. Tapi kan disaat jiwanya hilang, seharusnya tubuhnya berubah menjadi pasir, seperti parlemos Leeteuk.

    This chap is so short, can’t answer the questions in my mind, sis. Yeah, i know that the answers can be found in the next chap, but … okay. Btw, could i get the ‘key’?

    Akankah pedang itu kembali ke tangan huglooms?
    ‘The Dead’ is born, who is he? Kai, kah? Or Eunhyuk? Hm, jadi keinget sama kekuatan mereka berdua yang sama-sama bisa memisahkan jiwa dari raga, hm…
    Lalu nasib sang ratu dan cucunya bagaimana di ‘planet wisata’ nya?
    Mimpi apa yg dialami Luhan?
    Apa yang disembunyikan Luhan? Kenapa mencurigakan?
    Tujuan Luhan membawa Baekhyun utk memberikan asupan cahaya untuk Ikha, kah?

    1. Hmm, kamu pasti lupa sama bagian kenapa tubuh Kai masih tetap utuh? 😉
      Makasih Dilla untuk komentar kamu yang sa~~~ngat detail. Itu artinya kamu menyimak cerita ini dengan detail juga. Kamu juga bisa menangkap beberapa detail yang sebenarnya sengaja aku buat rumit. Two thumbs up for you Dilla~~~ 😀
      Kalau kamu masih bingung dengan semua pertanyaan di atas, kamu bisa baca kembali EXO PLANET (mengingat aku sempat hiatus kurang lebih dua tahun?)

      1. Kenapa ya? *berpikir keras*
        Iya kak, sebelum aku ninggalin jejak di part 13 dan 14, aku udah baca ulang dari prolog nya kok. Karena pas baca langsung part 13,14 malah jadi ngga konek. -_-!
        Dan pas mau lanjut, eh ternyata the last part nya: locked-,-“

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s