ANOTHER STORY OF “MY BROTHER KYU”

Another Story of My Brother KyuSTILL FIND A WAY TO TAKE REVENGE “Another Episode of MY BROTHER KYU”

BISAKAH KAU TERSENYUM SEDIKIT SAJA PADAKU, CHO IKHA?” Gadis di sampingnya merajuk kesal. Buku tebal David Meerman Scott tak lagi menganga; karena kedua tangannya bersimpuh malas di halaman terdepan.

“Pelankan suaramu, girl. Kita tidak sedang berada di lapangan baseball.”

Dengan suara lirihnya, Cho Ikha meredam lengkingan gadis yang masih saja menusuk-nusuknya melalui sepasang mata bulatnya. Penjaga perpustakaan berada di bagian lain dan ia tak ingin para nerdy di sekelilingnya mendepak bokongnya hanya karena keributan kecil tersebut.

“Sikapmu menunjukkan bahwa aku telah melakukan kesalahan besar,” si gadis  mencondongkan tubuhnya. Berharap bahwa Cho Ikha mampu menelisik gumaman dari gerakan bibirnya.

Cho mendongak; tak lagi menunduk memahami deretan filosofi yang tengah dipelajarinya.  “Menurutmu?”

Pertanyaannya membuat gadis dengan rambut panjangnya yang diikat sembarangan itu kembali mengeluh. Ia tak perlu bertanya mengapa. Dari cara Cho Ikha menyipitkan matanya, hal itu telah lebih dari cukup untuk membungkam kembali mulutnya.

This is not fair. Aku adalah korban sesungguhnya dari taruhan bodohmu dengan Cho K—“ Gadis itu menggigit bibirnya sebelum sepasang tanduk yang disamarkan Cho Ikha menampakkan diri. “Dan akulah yang dirugikan.” Ia mengoreksi.

Sepasang alis Cho Ikha membentuk gelombang.

Yeah. Justru saat ini Cho berharap bahwa gadis yang dikenal sebagai teman baiknya itu benar-benar menyebut nama terlarang tersebut. Buku di pangkuannya telah siap-sedia mencumbu kepala si gadis.

“Dirugikan?” Cho mengulang kembali.

Sepasang matanya menyipit. Sorotnya sama sekali tak menunjukkan keyakinan yang tersembunyi di balik kata-kata si gadis. Bagaimana mungkin gadis itu merasa dirugikan jika saat itu teman terbaiknya justru terperangkap jebakan kakaknya—dan benar-benar menikmati momen singkat tersebut.

Menangkis pembelaan gadis tersebut, Cho memusatkan diri pada teori Theodore Peterson yang dibacanya berulang-ulang sejak separuh jam lalu. Berbagai alibi dikumandangkan gadis itu seperti sebuah pidato orator, membuatnya sama sekali tak menelan liur untuk sekedar memberi jeda.

“Hentikan, Miinah. Kau membuat isi otakku meledak!”

Cho menggeram meski suara femininnya hanya mampu menghentikan Miinah dalam beberapa detik saja.

“Aku hanya perlu membuat satu rencana yang matang untuk membalasnya, okay?” Ucapan Cho mengiang dengan harapan bahwa Miinah dapat meredam hasratnya untuk tetap membela diri.

“Kukira kau telah mencobanya?” Tatapan Miinah kemudian tak lagi menggebu-gebu. Nadanya terdengar lembut dan ia tak lagi menuntut.

Kini giliran Cho Ikha yang mendesah. “Selalu gagal. Kekuatan Cho Kyuhyun ada pada uangnya dan kelemahanku adalah para wanita yang dikencaninya sangat menyukai uang.” Kemudian sepasang bahu tegapnya melemah saat ia menyandarkan diri pada tubuh kursi.

“Lalu bagaimana denganku?! Seharusnya kau katakan terlebih dahulu sebelum kau membuat taruhan bodoh tersebut, Cho Ikha! Aku sangat pintar untuk diajak kerjasama!”

“Kau tak pandai berakting dan aku tak ingin mengecewakan diriku sendiri.”

Miinah melayangkan pukulan kecil di kening Cho Ikha. Ia menjerit dan membuat sepasang nerdy di pojok ruangan mendelik tajam seolah ia telah mengusik kehidupan mereka.

Tentu saja Miinah tak serta-merta menerima dengan baik ucapan Cho Ikha. Tidak pandai berakting? Ia adalah salah satu pemeran di drama sekolahnya saat ia masih menegah atas—dalam cerita Housemaid sebagai pembantu keji.

Holy crap!” Miinah hampir berteriak.

Lagi.

Cho Ikha lagi-lagi menggerutu.

Bola matanya bergerak lambat sementara bahunya bergerak-gerak tak menentu akibat pertempuran sengit yang dihujamkan Miinah melalui pukulan-pukulan kecilnya. Cho mengaduh dan mengerang. Beberapa gadis melintasinya—diiringi gumaman ala tukang gosip—telah menghancurkan niat yang sulit yang ia kumpulkan sejak awal semester untuk mengakhiri penderitaannya di ruang sidang.

Miinah memberikan sedikit petunjuk dengan tanda di dagunya.

Cho menoleh ke arah dinding kaca; dan dugaannya hampir mencapai kebenaran mutlak.

Dari reaksi gadis-gadis pecicilan yang berjejeran seperti kupu-kupu malam, Cho tak perlu mengotak-atik otaknya lebih jauh. Yang ia pelajari dari gadis-gadis di lingkup universitasnya adalah: para junior selalu tertarik pada pria tampan dan menggoda.

Dan pria di luar sana; yang bagi Cho Ikha hanyalah pria biasa—dengan perolehan nilai lebih akibat jam tangan dan kacamata mahal, sama sekali tak memiliki daya tarik yang kuat seperti layaknya Lee Hyuk Jae, kekasihnya.

Meskipun Cho Ikha berusaha untuk menyangkal, pada kenyataannya pria itu adalah sosok yang ketenarannya tak pernah padam di kalangan para wanita.

Yeah.

Lagi-lagi ia menggerutu.

Hey, bisakah kalian duduk tenang di bangku masing-masing? Apakah kalian kumpulan anak bebek buruk rupa yang sedang menunggu makanan?” hardik Cho.

Teriakan histeris mereka seketika melenyap.

Tiga dari kumpulan gadis-gadis itu menyetarakan pandangan mereka pada Cho. Gadis kurus dengan rambut pirang yang menjuntai hampir berucap; sebelum gadis lain dengan hidung yang kelewat tinggi akibat operasi plastik tersebut membisikkan sesuatu.

“Jika kau bukan seniorku, mungkin aku akan mengataimu, sunbaenim.”

Begitulah si gadis pirang menjawab.

Cho menyeringai. Well, setidaknya menjadi senior bukanlah sesuatu hal yang buruk.

Disampingnya, Miinah mengerucut seperti putri malu. Sesekali ia mengintip dari celah para gadis yang kembali membicarakan pria yang tengah duduk di antara bangku taman. Sesekali pula Miinah mendengar Cho Ikha menyebut kata disgusting atau sepenggal kata dari kalimat bunch of morons akibat celotehan mereka.

“Ini kali pertama aku melihatnya di area universitas. Dia sangat tampan!”

“Lihat cara pria itu meminum kopinya. What a gentleman!”

Cho menggeleng bersama decakan yang menyertai gerakan kepalanya. “Dari warna bibirnya yang gelap, kurasa pria itu sedang berusaha untuk bertahan hidup setelah hubungannya kandas dengan mantan kekasihnya. Pengaruh rokok dan alkohol; bagaimana mungkin pria sok tampan itu disebut gentleman?”

Dalam hitungan detik, gadis itu merasakan berbagai laser mematikan menyorotinya. Tatapan Cho Ikha pada si gadis pirang cukup mengkhawatirkan Miinah. Namun apa daya, sepertinya para hoobae dengan tubuh kurus tersebut telah lebih dulu menyerah.

So sexy the way he eats. Meskipun dia agak terburu-buru, bibirnya masih tetap menggoda.”

Yeah. Mungkin dia sedang menunggu seseorang.”

Kemudian gelak tawa Cho Ikha membahana.

Ketiga gadis itu jelas merasa terganggu. Mereka masih berdiri di tempatnya sementara Cho Ikha belum juga menghentikan tawanya yang semakin cekikikan.

Sejujurnya gadis itu tengah menertawai juniornya; karena lidah mereka begitu kaku mengucapkan bahasa asing. Bukan karena pujian mereka yang membuat pria di luar sana seperti berhala.

Girls. Don’t be too innocent, okay? He is eating rush means he doesn’t have time for any meaningful prelude in bed—ouch!

Dengan siku lengannya, Miinah memberikan ciuman kasar di sudut perut Cho. Gadis itu menggerutu sementara Miinah mencoba berkomunikasi pada Cho melalui gerakan alisnya.

Seolah kode-kode tersebut telah ia pelajari sebaik pelajaran sejarah Segitiga Bermuda, Cho kemudian memalingkan wajahnya.

Para penghuni perpustakaan menatap heran—yang justru diartikan Cho Ikha sebagai tatapan electronic, magic, supersonic, bionic and energicHurricane Venus Lyrics. Bombastis dan fantastis.

You know what i mean, don’t you?” Ia melayangkan pertanyaan tersebut pada Miinah dan gadis itu menjawabnya dengan sebuah pukulan kecil di bahunya.

“Siapa dia? Beraninya mengomentari pria tampan itu?” tanya si gadis pendek sebelum mereka memutuskan untuk mengacuhkan guyonan Cho Ikha.

Cho mencibir, membuat Miinah membungkam paksa mulutnya yang kadang tak bisa untuk dikendalikan.

“Apakah kalian sudah mengikuti akun instagramnya? Dia selalu membagikan foto-foto bersama peliharaannya. Hot dudes with dogs!” ucap si gadis pirang seraya diiringi tawa kedua gadis lain yang menggelikan.

“Oh, kuharap mereka tahu bahwa pria itu sangat menyedihkan menghabiskan waktu dengan anjingnya dan online dating with sex phone setiap malam.” Cho lagi-lagi menimbrungi.

Ketiganya melipat tangan. Sarat akan kegeraman dan kengerian yang sewaktu-waktu meledak begitu saja.

Sunbaenim, bisakah kau tidak ikut campur dengan urusan kami? Nikmati saja buku-bukumu tanpa mempedulikan kami.” Si tinggi pirang menggerutu.

“Mungkin dia lesbian, Nana. Dia sama sekali tidak tertarik dengan si seksi dan tampan legendaris kampus kita,” ujar si pendek diikuti tatapan yang bagi Cho cukup merendahkan.

Nana.

Oh, gadis dengan tubuh kurus seperti tulang terbungkus kulit itu bernama Nana. Cho menyipitkan sepasang mata hitamnya. Sambil mengayunkan pensil di tangannya, ia menelisik.

Huh! Ia tak ingin menghabiskan waktu untuk mengomentari tiap detail gadis tersebut. Baginya, hanya satu hal yang mampu mendeskripsikan Nana: an-ugly-old-woman.

“Lebih baik menyukai sesama jenis daripada harus menyukai pria macam dia,” Cho menjawab enteng.

Lelah beradu argumen dengannya, ketiga gadis itu bergeser cukup jauh; meski sesungguhnya Cho Ikha masih mampu mendeteksi bisikan mereka yang terdengar seperti fanchant.

Girls!” Cho berteriak, menghentikan bising dari mulut mereka. “Can you, all of you, stop talking about him? I’m so tired listen to mostly colleges here talking about that fairy-tale-guy!”

“Apa masalahmu, sunbaenim? Jika kau merasa terganggu, sebaiknya kau saja yang pergi dari sini.”

Cho menangkap helai rambutnya dan menariknya kasar. “Masalahku?” Ia beranjak dengan menyeret kursi dan membuat suara nyaring yang mengerikan.

“Dengar, anak muda. Ada tiga hal yang menjadi masalah besar untukku saat ini,” kemudian Cho menghampiri ketiganya. Tubuhnya terselip di antara Nana dan si hidung plastik.

Perpustakaan mendadak hening dan beku. Tak ada yang mengusik konsentrasi Cho Ikha saat ini selain desah napas dari tiga juniornya yang cukup menyebalkan.

“Pertama, kau telah mengganggu sebagian dari penghuni perpustakaan ini—atau lebih tepatnya sangat menggangguku—dengan suara jelekmu itu dan kedua,” ia memeluk mereka dengan mencengkeram bahu Nana dan si hidung plastik erat. “Tempat ini adalah tempat umum bagi para mahasiswa; terutama bagiku yang sedang menyelesaikan skripsi.”

Cho mendengar si pendek menyela hingga gadis itu menelan kembali ucapannya saat ia meraih tengkuknya; memberikan pijatan lembut yang mematikan.

“Terakhir, biar kujelaskan sedikit saja mengenai pria yang kalian idolakan di sana,” ucapnya lantas menunjuk pria dengan kemeja abu-abu bergaris yang terbalut vest coralblue. Bibirnya hampir menyentuh daun telinga Nana, membuat gadis itu bergidik.

That sleezy-ball is known as a flirt. He likes flirting with every girl alive. Pelayan kafe, kayawan seven-eleven, petugas kebersihan mcdonalds, bahkan penjaga toko buku. Namun sayangnya ia tidak akan tertarik pada gadis tak berpengalaman seperti kalian.”

“Tak berpengalaman?”

Nana berjengit, menepis untaian lengan Cho Ikha di bahunya meski gadis itu kembali memeluknya lebih erat.

All the things he will say with his snotty bumbling smile is just another way to trick you. Meski sangat disayangkan dari caramu berpakaian, pria itu hanya akan melewatimu saja, Nana-ssi,” jelas Cho berurutan.

Terselip rasa bangga saat Cho Ikha menyelesaikan kalimatnya. Terbukti dari cara gadis itu tersenyum pada ketiga gadis tersebut.

“Sebaiknya kita pergi. Gadis ini benar-benar aneh.”

Begitulah kata-kata terakhir sebelum ketiganya benar-benar menghilang dari hadapan Cho Ikha.

Dari tempatnya, Miinah hanya mampu mendesah. Ia mengetahuinya dengan baik. Teman terbaiknya itu tak akan mengubah opininya tersebut meski ribuan kali dihadapkan oleh berbagai gadis yang menggandrungi si pria.

“Kau terlalu berlebihan, Cho Ikha.” Miinah bergumam. Sepasang matanya mengikuti tiap gerakan yang diciptakan gadis tersebut.

“Tidak, Miinah. Kali ini aku begitu bangga dengan deskripsiku mengenai pria itu.” Cho mengelak.

Apa yang dilakukan Cho Ikha telah mengundang banyak perhatian. Sebagian menyindir dan sebagian memuji. Karena itu Miinah tak ingin perhatian lain yang tersisa tertuju pada mereka jika ia meneriaki Cho Ikha atas perbuatan bodohnya.

“Kau terdengar seolah sedang membelanya,” seloroh Cho.

Miinah mengangkat kedua tangan. Ia tak ingin membuat masalah; dan sebagai teman terbaiknya, ia pun akan kesulitan mengendalikan Hulk yang menguap di tubuh Cho.

Cho merogoh saku celananya. Hanya mengucapkan beberapa kata kotor dan sumpah-serapah yang dipelajarinya dari youtube kemudian ia mengakhiri percakapan singkat tersebut dengan makian ala Hongdae.

“Hingga kutemukan cara untuk merebut kembali uangku, kau akan tetap duduk manis di sana tanpa berkomunikasi dengan pria brengsek itu.”

“Tapi—“

“Dia hanya tertarik pada wanita, Miinah. Jika kau ingin bekerja sama denganku untuk membalas dendam padanya, aku akan dengan senang hati mendengarkan. Kau merasa menjadi korban yang sesungguhnya, ‘kan?”

Kemudian Cho melemparkan sesuatu pada Miinah.

Gadis itu menerimanya.

Sebuah kunci mobil—dan ia mengetahui pengertian dari benda tersebut.

“Sampai bertemu lagi di rumahku,” ucap Cho seraya meraih tabletnya dan meninggalkan Miinah seorang diri.

-o-

KETIGANYA SALING MERAPATKAN DIRI TANPA MENYISAKAN ruang di antara tubuh mereka. Langkah mereka yang berirama menunjukkan bahwa mereka telah melakukan latihan kekompakkan diri sebelumnya.

Saling berbisik satu sama lain, ketiganya berdiri angkuh dengan posisi terbaik di hadapan seorang pria.

Yeah, siapa lagi jika bukan pria yang menjadi bahan perbincangan mereka sejak beberapa menit lalu.

“Sepertinya kau sedang menunggu seseorang. Kami mengundangmu untuk menyantap dessert bersama di main cafe. Mungkin hal itu akan membantumu menghilangkan bosan.”

Si hidung plastik berucap diiringi cubitan kecil yang ia layangkan pada si pirang.

Pria itu mendongak, melepas kacamata hitamnya yang ia peroleh sebagai hadiah kecil dari adiknya.

Dari cara si hidung plastik menatapnya, pria itu tak perlu repot untuk sekedar menerka. Sementara yang tengah asyik menggesekkan pahanya yang tidak tertutup rok mini secara sempurna, si pendek menggigit bibirnya dan memberikan kerlingan terbaik—yang bagi si pria hanyalah kedipan biasa lantaran sepasang mata sipitnya nyaris tak terlihat.

“Oh, terima kasih. Orang yang kutunggu akan muncul dalam hitungan detik,” balasnya. Tentu saja memberikan penolakan sebaik mungkin dengan menambahkan senyum andalan.

Dan sesuai dugaannya, ketiga gadis itu memberikan reaksi yang cukup berlebihan. Tiga lagi, diantara puluhan; mungkin ratusan; gadis yang mengidolakannya.

“Namaku Nana,” si paling tengah menjulurkan tangan.

“Cho Kyuhyun,” ia menjabat lembut. “Kau memiliki sense yang bagus untuk pakaianmu, Nana.”

Gadis berambut pirang itu tersenyum, menimbulkan semburat merah yang hampir menyerupai warna kaus kakinya.

“Terima kasih,” gumam Nana.

Kemudian mereka saling melontarkan pujian-pujian yang mereka simpan sejak dulu. Pria itu hanya mendengarkan; kadangkala memberikan komentar singkat yang bagi mereka adalah sebuah saran yang lebih suci dari pemimpin agama.

“Cho Kyuhyun!”

Nada itu dikenalnya dengan baik lantas membuat pria itu menoleh. Ia melambai sementara sosok itu mendumal sepanjang perjalanan menuju tempatnya.

“Baiklah, ladies. Sampai bertemu lain waktu karena orang yang kutunggu telah tiba.”

Dengan suaranya yang mampu melelehkan mereka, Kyuhyun beranjak dari tempatnya diiringi seorang gadis yang tak jauh berbeda dengannya.

Ketiganya menganga.

Bukan karena Cho Kyuhyun merangkul mesra gadis yang menyapanya, melainkan karena sosok tersebut dikenal baik oleh ketiganya. Sepasang mata masing-masing memerhatikan kedua manusia tersebut hingga sosok mereka lenyap bersama mobil mewah Cho Kyuhyun.

Mereka masih mematung di tempatnya. Saling mengajukan berbagai opini di dalam benak mereka.

“Apakah sunbae itu adalah kekasih Cho Kyuhyun?” Si pirang bertanya.

“Tidak mungkin. Dia terus saja memaki pria itu saat kita memujinya.” Si hidung plastik berucap.

“Mungkin gadis itu adalah adiknya?” Si pendek berbisik.

Ketiganya kemudian saling menatap. Raut wajah mereka berubah kecut mengingat beberapa hal yang mungkin saja masuk akal. Gosip lain menyebutkan bahwa adik Cho Kyuhyun adalah salah satu dari senior mereka.

Jika memang benar gadis yang dirangkul Cho Kyuhyun adalah adiknya, maka….

“CHO IKHA SUNBAENIM!!!”

END  

Interlude:

“Wajahmu selalu mengusam setiap kali aku datang menjemputmu.”

Tanpa mengurangi perhatiannya pada jalan raya, tubuh Kyuhyun memposisikan diri dengan baik di balik kemudi.

“Kau masih bertanya mengapa?” Cho mendelik. Ia tidak banyak bicara sejak Kyuhyun memutuskan untuk menjemputnya.

Tak perlu menebak; gadis itu tak bisa membeli tiket konser Super Junior dan hal itu merupakan malapetaka besar baginya.

“Masih menginginkan uang tabunganmu kembali, hmm?” Kyuhyun sedikit menggoda.

Absolutely!

Dan sekarang kau mengetahui alasan Cho Ikha tak mampu membeli tiket tersebut, ‘kan?

Yeah. Taruhan kecilnya bersama Kyuhyun minggu lalu benar-benar membuatnya bangkrut.

“Aku butuh seseorang untuk mengatur semua kencanku dalam dua bulan mendatang. Kau akan mendapatkan uangmu kembali jika kau mau.” Kyuhyun memberikan penawaran kecil.

Of course dengan kata lain menjadi budakmu,” gerutu Cho Ikha diselingi cibiran dan makian singkatnya.

Beruntung pria disampingnya adalah Cho Kyuhyun, kakak kandungnya. Karena sekali pun ia membencinya, hal itu tak pernah mengurangi kecintaan mereka akan kehadiran masing-masing.

“Siapa gadis-gadis yang menghampiriku barusan? Kau mengenal mereka?” tanya Kyuhyun.

Cho mencibir. “Tiga kata: junior, bodoh, tak berpendidikan.”

Kemudian tawa Kyuhyun menggelegar di seantero mobil mewahnya.

“Jangan katakan padaku bahwa kau akan mengencani mereka juga,” ucap Cho diselingi nada peringatan.

“Cukup dengan memuji fashionstyle mereka yang cukup buruk. Kau tahu makna di balik cara berpakaian mereka bukan?”

Yeah,” jawab Cho singkat.

An-ugly-old-lady,” ucap mereka bersamaan.

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

2 thoughts on “ANOTHER STORY OF “MY BROTHER KYU””

  1. bahahahaha karyawan sevel!! Kenapa kepikir sampe kesitu coba?
    Keren yah sibling ini, cantik ganteng selera tinggi. Dan waktu bagian itu an ugly old lady, ih gemes sama mereka
    Asiik bgt kalo jd orang kayak ikha. Blak blakan keras kepala living freely mengintimidasi gitu haha beauty with brain!!
    Ohya gak lupa bagiannya hyukjae… Penggambaran sosok hyukjae sbg cowok satu2nya yg bisa memikat ikha, betapa kerennya hyukjaeeee. Beruntung bs jadian sama cewek se highclass dia hihihi

    1. Hi, Kricika~~~

      Iya nih, ini cerita lain dari FF “My Brother Kyu”. Cho Ikha nya lagi nyari cara buat balas dendam sama abangnya 🙂
      Makasih ya udah komentar disini 🙂

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s