EXO PLANET “Chapter 13”

EXO PLANET NEW POSTER 02

KATAKAN PADAKU BAHWA INI BUKAN KAU, KAI.”

Sepasang kaki Cho Ikha melayang di ujung tempat tidurnya; sama halnya dengan jiwanya yang mendadak pudar tak bernyawa. Lidahnya kelu, kesulitan untuk membantu liurnya mengalir melalui tenggorokan.

Segumpalan bayangan tersebut masih berada di dalam pengawasannya; menyembunyikan poster Hugh Jackman di dinding kamar bersama otot-otot yang menggoda.

Pandangan Cho kemudian mengelilingi ruangannya. Kepalanya mendadak ling-lung. Ia tak mampu mendeteksi bunyi detak jam dindingnya; yang mampu ia dengar hanyalah bisikan-bisikan aneh yang menyorot melalui kilatan sepasang mata biru pada bayangan tersebut.

“Tidak,” Mata Cho mengerjap cepat ketika genangan air menghalangi penglihatannya. “Siapa pun dirimu, kuharap kau untuk segera meninggalkan ruanganku.”

Cho Ikha membisu. Wajahnya terbenam semakin dalam saat tangannya menutup erat sepasang telinga mungilnya. Bisikan bayangan tersebut seolah memenuhi setiap celah hingga ke saluran eustachius-nya.

“Tidak. Suara ini bukan suaramu, Kai.” Tubuhnya mengerut seperti rumput malu. Otot-otot di dalam tubuhnya saling berkontraksi dan menciptakan peluh dingin yang semakin bermunculan melapisi tubuhnya.

“Hentikan, kumohon.” Lagi-lagi Cho berontak.

Gadis itu terhenyak merasakan bayangan tersebut membentuk pusaran di sekelilingnya. Ia terperanjat; memojokkan diri di sudut tempat tidurnya.

Jiwanya mendadak melemah. Cho merasakan ketakutan itu menjalar menggerayanginya. Bayangan itu sama sekali tidak menyerah untuk mendapatkan perhatiannya. Dan ketika si hitam kembali menyerukan kalimat-kalimat yang baginya seperti mantra sihir, Cho mendongak tanpa melepaskan tangan-tangan dingin yang menutup pendengarannya.

Seperti saat pertama kali ia bertemu dengan Sehun, si pengendali angin.

Cho mampu memahami penuturan si bayangan dan hal itu membuatnya semakin dilanda kesedihan. Terlebih ketika bayangan tersebut berkata…

“Aku telah mati, dan aku akan terus mengulangi kalimat itu lagi saat kau masih meragukanku.”

Beradu dengan hembusan napasnya, Cho Ikha tetap berusaha untuk menyembunyikan diri saat matanya perlahan-lahan menyelinap di antara celah tubuhnya. Bayangan tersebut masih mengisi ruang di dalam kamar kecilnya; bergerak-gerak menakutkan.

“Kau masih hidup saat membawaku kemari.” Dengan segala keberaniannya, gadis itu berucap.

“Sebelum Onew berhasil membunuhku.”

Tawa ketir Cho Ikha tertahan oleh otot-otot lehernya. Ia belum menemukan titik proporsional dari pernyataan tersebut. Selama beberapa menit ia membiarkan akalnya saling meneriaki hal-hal yang menyatukan berbagai ke-tidak-masuk-akal-an itu. Karena sejujurnya Jonghyun secara perlahan telah membuatnya melupakan mimpinya; petualangan di planet antah-berantah.

“Apakah ada April Mop di planet EXO?” tanya Cho sembari mengukir senyum kecut di bibirnya.

“Tidak. Dan aku yakin tak ada upacara pembasuhan naga di Seoul.” Bisikan tersebut menjawab.

Cho mendengus kasar. Diusapnya kening yang telah terpolesi makeup itu sebelum tubuhnya terkulai lemah membentur dinding ranjangnya. “Kau nyata. Aku tidak bermimpi,” ia berbisik.

Aku tidak akan membuat kadar kegilaanmu semakin tinggi.” Dengung bayangan tersebut di telinga Cho. “Jiwaku tak mampu bertahan cukup lama di sini jadi kumohon dengarkan kata-kataku baik-baik, Siete.”

“Kata-katamu menyiratkan bahwa kau akan menghilang dari jangkauan mataku setelah kau mengucapkan maksud hatimu.” Cho mendongak, menemukan bayangan tersebut menggumpal seperti tornado.

Aku,” Si bayangan membuat jeda. “ingin kau hidup dalam dunia yang sesungguhnya. Bukan di dunia fantasi dimana kau mengayun-ayun afftheurcaly di atas punggung Uro atau Audaces.

Seketika Cho mengelak. Rasanya seperti ditohok oleh ujung pedangnya sendiri. “Aku tidak pernah menganggap planetmu sebagai sebuah fantasi atau dongeng. Kau bukanlah bagian dari dongeng, Kai. Perasaanku padamu pun bukan bagian dari dongeng.” Terselip amarah di dalam ucapannya.

Kau masih keras kepala seperti huglooms.

“Aku adalah huglooms.” Cho kembali membela diri.

Membawamu ke planetku adalah ide terburuk yang pernah ada. Aku menyesal karena melibatkanmu dalam peperangan itu.

Gadis itu melayangkan boneka baymax ke arah si bayangan; membuatnya memudar seperti awan sebelum akhirnya membentuk pusaran angin dengan mata birunya yang menyala. “Apakah kau menyesal pula dengan pertemuan kita?”

Sejenak keheningan melanda keduanya. Cho menunduk, tak mampu untuk sekedar menatap singkat pada sepasang mata biru tersebut.

Tentu saja tidak.” Begitulah bayangan tersebut berkata. “Aku tak tahu sampai kapan jiwaku akan bertahan. Jadi berbahagialah, Cho Ikha.

Gadis itu kembali melayangkan benda apa pun yang diraihnya. Kali ini ia melempar boneka McQueen pada si bayangan meski akhirnya mobil merah itu mendarat cepat menghantam pintu kamar.

“Kau tak akan meninggalkanku, ‘kan?” Cho bersungguh-sungguh. Ia bergerak maju, berdiri dengan kedua lututnya yang menekuk di atas ranjang.

Kuharap kencanmu berjalan dengan baik,”

Kini Cho menggeram. Ia tak mampu mendeteksi ekspresi yang ditunjukkan Kai padanya. Perasaannya tak menentu; terlebih saat jiwa Kai terus-menerus mendengungkan hal-hal yang mengoyak hatinya.

“Tidak. Aku tak akan datang. Kukira apa yang kualami selama tubuhku tertidur hanyalah mimpi belaka. Namun kau hadir kembali meski hanya berbentuk bayangan dan kau—”

Cho Ikha menghentikan kalimatnya. Sepasang mata bulatnya mencari-cari meski kini bayangan Kai tak lagi bergerak-gerak di hadapannya.

“Kai,” ia menyapa dengan suaranya yang pelan.

Bibirnya kemudian menyentuh lututnya. Gadis itu menekuk, tak mampu menghentikan tangisnya yang meledak tiba-tiba; menghancurkan segala akal dan perasaannya yang melebur menjadi abu.

“Kumohon jangan pergi. Aku belum selesai bicara.”

-o-

POHON BESAR ITU MASIH MENJADI TITIK PUSAT AREA TERSEBUT meski patung maskot kebanggaan sekolahnya telah selesai dibangun tahun lalu. Dikelilingi oleh bangku panjang, si pohon tua menjadi tempat berlindung favorit para murid dari matahari musim panas.

Dan disanalah Cho Ikha; duduk di antara murid-murid lain tanpa terusik sedikit pun oleh manusia-manusia yang saling berlalu-lalang melalui pintu gerbang utama di hadapannya.

Konsep Cho kali ini adalah gelandangan. Dengan wajah tanpa makeup dan rambut extension yang hanya diikat ekor kuda, Cho Ikha kembali menjadi sosoknya yang acuh. Sesekali ia mendengar gadis-gadis dari kelas ilmu sosial membisikkan sesuatu. Beruntunglah earphone yang melekat di telinganya mengalihkan perhatiannya.

Cho menghembuskan napasnya seolah melepaskan berjuta lelah yang selama ini menguasai tubuhnya. Sesaat senyum ketirnya mengembang paksa; bukan hanya penghuni sekolahnya saja yang, mungkin, tengah menertawainya saat ini. Bahkan makhluk lain pun secara terang-terangan mencemoohnya.

Ia mengenali sosok gadis di toilet wanita yang bersembunyi dari sinar matahari di ujung lapangan; gadis yang menjadi legenda sekolahnya setelah tubuhnya ditemukan membusuk di sana puluhan tahun lalu. Sosok itu menatapnya seolah ia tak layak untuk duduk di bawah pohon.

Tatapan yang sama; yang selalu diterimanya saat makhluk-makhluk fana lain terpantul oleh kedua lensa matanya.

Wassap?

Seketika Cho terjaga saat seseorang menarik earphone-nya.

Ternyata Amber, teman terdekatnya, menepuk keras bahunya seraya berjongkok di sampingnya. Jonghyun dan Sunhwa muncul bersamaan; keduanya saling menguntai lengan di bahu masing-masing. Cho membalasnya dengan dehaman, sama sekali tak menunjukkan ketertarikan.

“Kau berhasil mencium bibir Heechul sunbae yang menggoda itu semalaman?” ledek Amber.

Cho menepuk pipi gadis tomboi itu yang tak pernah bosan mengunyah permen karet kebanggaannya—satu pack seharga sepuluh ribu won. Sunhwa duduk di sisi lain sementara Jonghyun berdiri angkuh di hadapan mereka.

Yeah, tujuan Jonghyun tak lain adalah untuk menunjukkan otot-ototnya yang terbentuk akibat bantuan tutor kesayangannya. Madness Kim Jongkook.

He’s mad, i guess. Kubatalkan kencan kami di saat-saat terakhir.” Ucapan Cho Ikha disertai lirih yang sama saat mereka muncul di hadapannya; tak ada ketertarikan—lagi.

“Jadi alasan itulah yang membuatmu kembali mengerikan seperti semula?”

Satu-satunya pria di antara mereka kemudian meraih rambut Cho yang diikat tak menentu. Memainkannya seolah ujung-ujung rambutnya yang memerah itu menjijikan seperti lendir siput sawah.

Cho menepis lengan Jonghyun yang dilapisi oleh otot-otot terlatihnya. Baginya, Jonghyun lah yang kini nampak mengerikan; mengingatkannya pada atlet angkat besi bermarga Lim yang ia tonton di televisi bersama ayahnya.

“Butuh seseorang untuk bicara?” Sunhwa menepuk pundaknya, menawarkan bantuan yang sejak pagi itu sangat dibutuhkannya.

“Bersama dua makhluk aneh ini disampingku?” Cho kemudian mengarahkan ujung ibu jarinya pada Amber dan Jonghyun secara bergantian. “Tentu saja jawabannya tidak, Sunhwa.”

Amber memberikan neck-slice andalannya tepat setelah Cho mengakhiri kalimatnya. Ia mendengar pula Jonghyun menyela dan memakinya. Namun perdebatan mereka berakhir singkat oleh tawa dan canda.

Sepasang kembar palsu lantas berpamitan sejenak pada Cho dan Sunhwa. Keduanya tak ingin melewatkan aktivitas terpopuler yang berlangsung selama waktu makan siang. Bagi Cho dan Sunhwa, taruhan game di cafe kecil dekat sekolah hanyalah dilakukan oleh murid-murid malas.

Entah mengapa Amber dan Jonghyun menyukai hal bodoh tersebut. Karena sesungguhnya mereka tidak termasuk ke dalam kategori murid malas; Amber adalah murid terbaik di kelas international-relationship sedangkan Jonghyun murid terbaik di kelas seni.

“Siap untuk bercerita?”

Suara gadis di sampingnya menegunkan Cho. Ia menoleh, menemukan Sunhwa dengan segala kesederhanaannya tengah menunggu bibirnya untuk bicara.

Cho menggedikkan bahu. “Tak ada yang perlu diceritakan. Tak ada yang menarik.”

Keduanya menengadah, menjulurkan sepasang kaki mereka yang sangat mereka banggakan.

“Apa kau merasakannya juga?” tanya Sunhwa tanpa menatapnya. “Perubahanmu terlalu drastis sejak kesadaranmu dari kecelakaan itu, Cho Ikha.”

Gadis itu terdiam.

Cho Ikha membisu.

Ada sedikit kebenaran yang diakuinya dari ucapan Sunhwa. Meski senior-seniornya menunjukkan kedengkian saat berita ajakan kencan Heechul padanya beberapa waktu lalu menyebar cepat, ia menganggap hal tersebut sebagai hal sepele yang tak pantas untuk dijadikan gossip murahan yang dipampang pada majalah dinding.

“Sepertinya aku tak memiliki tujuan untuk hidup kembali, Sunhwa. Semuanya terasa hampa,” ucap Cho pada akhirnya.

Wae? (Kenapa?)”

Cho memahami Sunhwa. Gadis itu tak pernah menunjukkan pertanyaan-pertanyaan panjang. Sunhwa bukanlah tipe perusak suasana seperti duo Amber dan Jonghyun. Sunhwa adalah pendengar yang baik tanpa memaksanya untuk menjawab apa pun dengan sangat detail.

“Karena di dalam cerita ini aku bukanlah pemeran utama,” balasnya tanpa ragu.

“Kau memiliki keluarga, Cho Ikha. Juga teman. Jangan lupakan hal itu.”

Terselip ketenangan dari cara Sunhwa bicara. Gadis itu memang selalu tepat untuk mendiskusikan hal-hal serius. Sesungguhnya Cho sama sekali melupakan bagaimana cara keduanya bertemu—dan berakhir menjadi sepasang teman.

Seingatnya, gadis itu tidaklah fenomenal seperti Amber dan Jonghyun. Nilainya di setiap kelas pun tak begitu mencolok. Hanya saja Sunhwa telah mengingatkannya bahwa hidup adalah sesuatu yang patut untuk disyukuri. Di umurnya yang keenam belas, kehidupan telah mengajarkan Sunhwa untuk lebih bijaksana dan mawasdiri.

“Adikku akan lahir di penghujung tahun. Perhatian orang-tuaku akan sepenuhnya tertuju padanya. Sedangkan teman,” kemudian Cho menunduk. “Entahlah. Kurasa seiring dengan waktu, mereka akan melupakanku begitu saja.”

“Jadi kau pikir aku akan melupakanmu begitu saja?”

Cho mengeluarkan tawa gelinya. Menelisik ekspresi di wajah Sunhwa membuatnya semakin tergelitik.

“Terima kasih karena kau telah mendengarkanku, Sunhwa. Kau tak perlu memercayai kata-kataku yang terdengar konyol—terlebih mengenai planet EXO,” ujarnya.

Sunhwa mencibir. “Berterimakasihlah karena aku begitu waras di antara teman-teman super gilamu.”

Ucapannya mengundang tawa renyah Cho yang selama ini bersembunyi di balik kesenduannya.

“Tak ada yang salah denganmu, Cho Ikha. Dunia ini sangat aneh dan penuh misteri. Kadang pula tidak masuk akal. Jangan terlalu banyak berpikir atau kau akan berubah semakin tidak waras seperti mereka.”

Sepasang mata Cho mengikuti pergerakan lengan mungil Sunhwa yang dibalut oleh kulit pucatnya. Gadis itu menunjuk pada sepasang manusia yang begitu menonjol di antara puluhan manusia lain yang memasuki gerbang.

Bersama soft drink dan seplastik makanan, Amber dan Jonghyun membagikan makan siang mereka yang lebih sederhana dari biasanya. Mereka menghabiskan sisa waktu tersebut dengan mendiskusikan praktek di kelas biologi selanjutnya. Terkecuali Amber yang lebih menyukai topik terkini di majalah dinding yang menyaingi topik perubahan Cho Ikha: Tiffany berciuman dengan Nickhun, si murid baru, di lapangan baseball.

Cho merogoh poket roknya. Ponsel 4G-nya menunjukkan bahwa seseorang berusaha menghubunginya.

“Jam istirahatku akan berakhir, eomma.” Begitulah gadis itu menjawab telepon dari ibunya.

Wajah Cho Ikha seketika mengerut. Ia sempat meminta ibunya untuk mengulang kembali kalimatnya yang begitu cepat.

“Apa? Rumah sakit?”

-o-

DIIRINGI IBUNYA, LANGKAH CHO IKHA TETAP TAK MENUNJUKKAN kecepatan yang konstan. Sepasang kakinya enggan untuk keluar dari kotak lift. Penjelasan ibunya mengenai kunjungan kali ini tidak cukup memberinya sebuah kepuasan. Terlebih saat ia menemukan beberapa orang berjejer rapi di lorong yang menjadi tujuan utamanya.

Di antara berbagai pasang mata yang menyorot panas atas kehadirannya, ia hanya mengenal seorang wanita paruh baya bersama anjing jenis pomeranian di dalam pelukannya. Cho mengenalnya sebagai kakak dari Eunhyuk, pria yang masih menjadi tersangka atas perbuatan bodohnya.

Dari observasi singkatnya, Cho mengira bahwa manusia-manusia yang berjejer di sepanjang lorong adalah kerabat Eunhyuk. Sepasang tua di paling pojok, yang tengah berpelukan, merupakan orang-tua dari si pelaku. Wajah si wanita hampir mirip dengan Eunhyuk, itulah alasan Cho Ikha berspekulasi bahwa mereka adalah orang-tuanya.

“Kuharap kau masih mengingatku.”

Gadis paruh baya itu menghampiri Cho. Bersama dengan anjingnya—atau anjing Eunhyuk yang kini dirawat olehnya, keduanya menjadi pembatas antara dirinya dan sekelompok manusia di balik tubuh si gadis.

Sayup-sayup Cho mendengar perbincangan antara ibunya dan pihak-pihak lain yang hadir sore itu. Namun ia memutuskan untuk tak lagi menguping. Ia terlalu lelah dan bingung untuk berpikir.

“Apakah terjadi sesuatu yang serius?”

Cho memutuskan untuk bertanya pada si gadis paruh baya. Ia sengaja tak menyebutkan namanya karena pertemuan singkat mereka membuatnya lupa. Dan ia yakin gadis paruh baya itu akan tersinggung saat mengetahuinya melupakan namanya.

“Kuharap kau mengetahui alasan mengapa kami memanggilmu kemari,” ucap si gadis. Anjingnya menatap intens pada Cho seolah dirinya adalah sepotong tulang yang lezat.

Cho menggeleng nyaris tak terdeteksi. Ia berharap gadis itu mengetahui arti dari gelengan kepalanya. Sementara si gadis meminta beberapa menit lagi sebelum sepasang tua itu menyuruh Cho untuk memasuki ruangan isolasi.

“Aku tak akan masuk sebelum kau memberikan sedikit saja jawaban atas pertanyaanmu sebelumnya.” Kali ini Cho memohon.

Raut wajah gadis itu sama sekali tak membantu Cho untuk berpikir. Belum lagi wajah-wajah para kerabat Eunhyuk yang menunjukkan seolah dirinya adalah kriminal kelas kakap.

“Sejak kapan kau mengenal adikku?” tanya si gadis, tetap berusaha untuk bersikap tenang.

“Saat pertama kali kita bertemu adalah hari dimana aku menatap wajah adikmu untuk pertama kalinya,” jawab Cho, jelas tanpa terbata-bata.

Gadis paruh baya itu merenung cukup lama.

“Ada apa, eonni?” Giliran Cho untuk bertanya. Kerut di wajah si gadis membuat Cho dilanda kecemasan.

“Jika kau benar-benar jujur padaku, maka ada yang salah dengan adikku.”

Tak ada sedikit pun petunjuk dari kalimat si gadis yang membantu Cho untuk menemukan jawaban sesungguhnya. Ia menatap gadis dengan poni hitamnya tersebut lebih erat. Pikirannya telah habis tenaga untuk sekedar menerka-nerka.

“Suatu keajaiban bagi kami di saat harapan itu putus mengingat Eunhyuk masih tak sadarkan diri sejak kecelakaan itu.”

Cho terdiam, masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan si gadis paruh baya.

“Ia telah siuman dan satu-satunya hal yang diucapkannya adalah namamu,” jelasnya lantang.

Seolah dihantam oleh ribuan petir, sepasang mata lelah Cho kini menganga memfokuskan diri pada sosok gadis di hadapannya.

“Apa maksudmu, eonni?” Cho kembali bertanya. Ia menginginkan gadis itu untuk mengucapkan kembali kalimat sebelumnya.

“Dia hanya menyebut namamu berulang-ulang. Hanya namamu.”

-o-

SEKALI LAGI, CHO IKHA TIDAK MENUNJUKKAN KEYAKINANNYA untuk memasuki ruangan tersebut. Beberapa orang di hadapannya telah menunggu; terutama raut wajah pasangan tua yang membuat keberaniannya menciut untuk sekedar menatap wajah mereka.

Ia sadar bahwa ia tidak bersalah. Namun tatapan setiap manusia di sana membuatnya terintimidasi; seolah-olah dirinya merupakan kunci dari ketidakpastian yang disembunyikan di balik raut wajah mereka.

“Cho Ikha,”

Gadis itu mendongak mendengar suara parau nan halus menyebutkan namanya. Lagi-lagi ia menemukan tatapan-tatapan maut yang diciptakan mereka. Di antara mereka, ibunya tengah sibuk menjelaskan sesuatu yang membuat kerut di wajah pasangan tua itu timbul-tenggelam.

Suara parau itu kembali terdengar.

Kerumunan orang-orang lantas membelah diri, menciptakan celah besar yang berpusat pada satu-satunya bangsal di dalam ruangan. Cho masih mematung meski bisikan ibunya menyuruhnya untuk mendekat.

Ada sesuatu yang lain dari pria yang terbaring kaku di sana. Mesin pendeteksi detak jantungnya saling menderu menciptakan horror di sekelilingnya. Cho bergerak membentuk beberapa langkah kecil.

Ya. Itu Eunhyuk; masih dilingkupi oleh selang-selang infus yang membelit sebagian besar tubuhnya. Pria itu masih sama pucatnya saat pertama kali ia berkunjung. Tak ada rona di wajahnya dan tubuhnya semakin mengurus.

“Tinggalkan aku sendiri.”

Terbata-bata, pria itu mengucapkannya seperti sedang mengeja. Wanita yang diyakini sebagai ibunya memberikan sebuah sanggahan. Cho mengamati, memberikan pengertian tersembunyi di balik kerutan di keningnya pada sang ibu.

Maka ditinggalkanlah Cho Ikha dan Eunhyuk setelah kesepakatan tersebut diperoleh mereka dalam sepersekian detik. Pria ini sepertinya lebih berharga dari berlian dua puluh empat karat. Cerita ibunya yang menyebutkan bahwa Eunhyuk merupakan ahli waris dari perusahaan besar Lee bukanlah hal yang patut untuk dicurigai.

Tubuh Cho bergetar.

Bukan karena ia dihadapkan oleh tubuh Eunhyuk yang nampak seperti pengidap beri-beri, melainkan dari sekelebat aneh yang hampir melindungi tubuhnya. Mata-mata mereka mungkin tak mampu mendeteksi, namun tak begitu sulit bagi Cho untuk melihatnya.

Gadis itu terperanjat saat Eunhyuk membuka matanya lebar-lebar. Pupilnya bergerak-gerak tak menentu.

“Siapa kau?” Cho memberanikan diri.

Kemudian bola mata Eunhyuk perlahan-lahan tertuju padanya. Sangat menyeramkan dan juga menyedihkan.

Eunhyuk mendesis seperti ular. Ia mengucapkan sesuatu yang Cho yakini bukanlah bahasa sehari-harinya. Gadis itu menutup kedua telinganya. Ia mencoba bersikap tenang meski kalimat aneh yang disebutkan si pria berubah halus menjadi kata-kata yang dimengertinya.

Tak percaya, gadis itu semakin mendekat pada tubuh si pria. Sepasang mata saddlebrown yang dimiliki Eunhyuk membentuk gerakan yang tak menentu, membuat Cho Ikha semakin mengeratkan tubuhnya sendiri.

“Kai?” gumam Cho.

Eunhyuk menggeram. Suaranya menyerupai ayahnya ketika ia mencoba mengangkat beban berat. “Jiwanya telah pergi namun tubuh pria ini terus saja memanggilnya dari alam lain. Orang-tuanya berusaha keras membuatnya tetap hidup,” ucapnya.

Seketika Cho terhenyak. Tubuh Eunhyuk dengan jiwa Kai di dalamnya mengingatkan akan percakapan singkat dengan prajurit maritimo; waktu yang telah lampau saat ia berpetualangan menemukan afftheurcaly.

“Mengapa kau bisa berada dalam tubuh ini?” Cho meraih jemari-jemari tubuh Eunhyuk yang mengurus seperti cakar ayam.

“Aku mencobanya,” jawabnya singkat. “Aku tak ingin jiwaku memudar sia-sia. Jiwaku membutuhkan tubuh seseorang.”

Cho menatap sepasang mata Eunhyuk. Rasanya begitu aneh, ia sedang berbicara dengan Kai namun yang ada dihadapannya kini adalah tubuh orang lain. Seolah-olah ia sedang berbicara dengan Hyukjae, sang prajurit maritimo.

“Mengapa?” tanya Cho, menuntut jawaban yang lebih lugas.

“Karena aku tak ingin meninggalkanmu. Aku mencintaimu, Cho Ikha.”

Bibir Eunhyuk yang mengering kini bergetar. Ia kembali menggeram, mencoba untuk menggerakkan bagian lain dari tubuhnya.

“Itu berarti kau membunuhnya, Kai.” Cho tak kalah berbisik.

“Sepertinya kau tak menginginkanku untuk hidup di duniamu,” ucap Kai, terdengar putus-asa.

“Kau salah paham, Kai. Ini—“ Cho menelan ludah, memerhatikan kembali sekujur tubuh Eunhyuk yang terbaring kaku. “—tidak benar.”

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk lebih menyatu dengan tubuh ini dan—“

Tiba-tiba tubuh Eunhyuk mengejang, menghentikan ucapan Kai yang masih menggantung di ujung bibirnya. Bingung, gadis itu kemudian memanggil siapa pun yang mampu mendengarnya.

Cho berusaha menenangkan meski cahaya biru dari tubuh Eunhyuk menyilaukan mata dan membuatnya berteriak histeris. Tubuhnya seolah mengeras. Cho tak mampu merasakan hal lain selain rasa sakit yang dideritanya seolah malaikat sedang mencabut nyawanya.

Beberapa orang kemudian memasuki ruangan secara paksa. Teriakan demi teriakan saling menggaung di dalam ruangan. Bunyi yang bersahutan dari mesin di samping bangsal membuat pasangan tua itu menjerit; terlebih si wanita. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari Eunhyuk.

Perawat menyebar membentuk formasi di sekitar bangsal. Namun satu hal yang hampir terlewatkan saat itu.

Wanita lain meraup tubuh Cho Ikha yang terkulai lemah di atas lantai. Salah satu perawat membantunya. Gadis itu sama sekali tak bergerak meski detak jantungnya bergerak normal. Sedangkan si wanita berteriak memanggil-manggil nama anaknya.

Cho Ikha, kembali tak sadarkan diri.

-o-

JANGAN TERLALU KUAT, FRATHEER D.O! KAU HAMPIR MERUNTUHKAN PONDASI utama!”

Lengkingan suara Sehun membahana di sepanjang stadium. Mereka tengah membangun ulang bangunan bersejarah tersebut setelah berhasil menata kembali reruntuhan yang tercipta akibat perang sebelumnya.

“Luhan, aku membutuhkanmu di bagian belakang.” Kris mendarat secara perlahan setelah mengikat bendera EXO di ujung tower.

Luhan mengangguk. Ia tak banyak bicara sejak pertempuran terakhir dengan SHINee World. Lay bahkan menyebutnya robot rumah karena ia hanya melakukan hal-hal yang diperintahkan castè lain padanya—terkecuali pada Tao saat pria itu menyuruhnya untuk memijat kakinya.

“Apakah kau baik-baik saja?”

Luhan menoleh. Disampingnya, Chen tengah menyesuaikan langkah dengan gerakan tubuhnya. Keduanya berjalan santai menuju bagian belakang stadium. Sesekali ia melirik pada D.O yang tak kenal lelah membangun sisa reruntuhan.

“Menurutmu?” ia melemparkan jawabannya pada Chen.

Pria itu menggerakkan kedua bahunya. “Bukan hanya kau yang merasa kehilangan, Luge.”

Senyum ketir Luhan terukir singkat. Hari telah berlalu namun kepergian Kai masih membayanginya hingga saat ini. Masih teringat jelas baginya saat sepasang mata hitam Kai meredup di dalam pelukannya.

Kepergiannya terlalu cepat dan ia belum sepenuhnya mengikhlaskan.

“Mimpi buruk itu masih menakutimu?” tanya Chen.

Luhan mencibir. Hampir saja ia melupakan hal tersebut. Seperti yang diucapkan Chen, belakangan ini ia dikejutkan oleh mimpi yang sama. Selama ini ia tak pernah bermimpi saat tertidur—dan entah mengapa mimpi tersebut membuatnya khawatir.

“Tak apa. Mimpi tak akan membunuhku, ‘kan?” Luhan mencoba untuk menghibur diri.

Pria itu seketika menghentikan langkahnya, membiarkan Chen melewati bebatuan tanpanya. Ia tertegun dan sempat memaki dirinya sendiri saat mengingat kembali mimpinya yang bertubi-tubi menguasai malam gelapnya. Sepasang mata sayunya kemudian mencari-cari.

“Bisakah kau luangkan waktumu sejenak?”

Baekhyun, si pengendali cahaya, seketika menoleh; menghentikan komandonya yang menyuruh Sehun dan Tao untuk tak banyak bicara saat bekerja. Pria itu mengusap kening, membasuh peluh yang membuat poninya menipis.

“Tentu saja.”

Kemudian Luhan menarik lengan Baekhyun tanpa banyak suara. Fugore, yang tetap setia menunggu di sisi lain stadiun, melengking nyaring saat pemiliknya telah kembali. Ia menyuruh Baekhyun untuk menunggangi fugore bersamanya.

Oh, jadi maksudmu kita akan pergi ke suatu tempat?” Baekhyun nampak kebingungan.

“Begitulah,” jawab Luhan seadanya.

Setelah memagutkan dagu, Baekhyun mengikuti pergerakan Luhan hingga fugore membawa mereka ke hutan millim dalam beberapa menit saja. Baekhyun tak banyak berkomentar. Kecepatan kuda itu di udara hampir membuatnya mual.

“Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Baekhyun setelah mereka mendarat di dekat pohon besar seperti brokoli.

“Ada sesuatu yang terus saja menghantuiku, Baekhyun. Sesuatu yang memanggilku untuk datang ke tempat ini sejak beberapa hari lalu.”

Luhan bergegas berjalan menyusuri sungai kecil. Ia mengenal baik tempat ini meskipun ia mendengar Baekhyun meraung-raung atas ketidakcocokannya dengan kegelapan di antara pohon-pohon millim.

“Chen mengkhawatirkanmu dan kurasa hal itu menyangkut mimpimu, hmm?”

Luhan kemudian berbalik. Ia cukup kaget dengan kata-kata Baekhyun sementara pria degan eyeliner di sekeliling matanya tersebut hanya menggedikkan bahu. “Kau tahu mulut Chen sulit untuk dijaga.”

“Sama seperti mulutmu,” ledek Luhan.

Dari gema udara, ia mendengar Baekhyun mengoceh seorang diri. Luhan membiarkannya bersama fugore di sisi hutan. Pria itu tak begitu menyukai alam yang sesungguhnya. Baekhyun dilahirkan di antara hiruk-pikuk kota dan ia sangat menyukai aktivitas apapun di dalamnya.

Luhan meniti langkahnya dengan hati-hati. Semakin memasuki hutan millim justru membuatnya semakin mendekati sesuatu yang ditunjukkan mimpinya. Ia yakin sesuatu tengah menunggunya meski ia belum tahu pasti.

Tepat disamping sungai kecil, kumpulan brascus yang membentuk gundukan kecil menarik perhatiannya. Brascus selalu menyala dalam gelap namun binatang itu meredup seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

Dengan menggerakkan jemarinya, pria itu mengontrol sayap-sayap brascus sehingga mereka menjauhkan diri. Sebongkah pucat meringkuk di sana; tak bergerak dan membatu. Menggunakan kekuatannya, Luhan membuat bongkahan itu menengadah. Kini ia dikejutkan oleh penemuannya yang tak terduga.

“Baekhyun!”

Luhan menyebut nama pria itu berulang kali hingga si pengendali cahaya benar-benar menghampirinya. Bersama fugore, pria itu tergopoh-gopoh mencapai Luhan karena tak ingin sepatu boots terbarunya ternodai oleh rerumputan millim.

Hendak mencaci Luhan, Baekhyun hampir tersedak saat mendapati Luhan tengah membentuk dedaunan millim menjadi sebuah kain lebar. Benda itu menutup sebongkah pucat yang ditemukan Luhan sesaat sebelumnya.

Baekhyun mendadak histeris. Ia tak yakin dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Oh, tidak. Cho Ikha!”

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

27 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 13””

  1. APA INI AKU BARUSAN BACA. FANS MACAM APA SEBENARNYA AKU INI KAK??!! HUHU MAAFKEUN!!! ya ampun kirain udah end. tapi kok……. akhhhhh tidakkkkkk.. malah makin konflik. duhhh.. bagaimana ini apa yg harus aku lakukan (gak ush lebay deh). kak aku harus memutar otak berkali kali karena yg kuinget cuma ending chap 12. setelah cho ikha kembali ke bumi. tapi aku lupa kai pas itu ngapain ya. huhu maafkan diriku ini kak. hehehe.. makin penasaran. dan tetep keren as always. aku padamu lah kak. ehehehe..

    see you in next chapter kak ^^

    1. Hahaha jedanya lama dek. kamu lupa mah wajar aja udah hampir dua taun ini cerita ke pending. Btw pe-er banget emang secara kamu mesti baca lagi dari awal (secara plot nya semua di repackaged hahaha). Thanks bebong udah komeeen :(. Stat melonjak gegara nigos, spy dan chapter ini tapi yang komen cuma kamu dan beberapa doang. next time mau diprotect lagi aja bodo amat ah!

      1. Oh ya di repackage semua kak??? Sepertinya aku harus membacanya dari awal. Wkwkwkwk gak apa lah namanya juga ngefans. Apapun akan kulakukan demi exo planet *ceilah. Emang kadang suka kesel sih liat statistik tinggi tapi banyak yg gak komen. Krna diriku juga merasa seperti itu kak *puk puk kita berdua*
        Gapapa lah diprotect. Yg penting aku dapet pwnya. Ahaahhaha

      2. Hahahaha siaaaallll~ pinter emang kalo kamu mah udah pasti dapet passwordnya. Kemana ih LINE nya pake acara di hapus. Gak bisa ngomongin suho sama kai ber-rating NC kalo di blog mah. Hahaha (oops…)

      3. Wahahahahaha. Anjirrr. Iya nih kak line ku asem banget gak mau di install ulang. Wah gawat ini suho ber NC, dia terlalu polos kak. Dilarang.

  2. iseng2 buka wp ini. eh alhamdulillah udah gak digembok plus ada lanjutan exo planet :3

    jgn digembok ya mbanyaa.. maapkeun sy yg suka lupa ninggalin komen di exo planet setahun (?) lalu.. huhu.. ㅠㅠ

  3. bener kan bener kannnnnn…. chapter 13 finally nongol juga. tapi jujur eon,,, masih bingung dgn alurnya [efek lupa krn dah berabad-abad gak baca]
    mwo??? protect? gak papa, kan ada fasilitas request password. kkkk

    btw, orenmaniya eonie,,,, dari taon 2012 ampe pertengahan 2015 rasanya hampa tanpa fanfic mu T^T
    tapi skarang gak lagi. kkkkkk

    1. Haradaaaaaa *kasih cium banyak banget*
      Udah lama banget ya aku ngilangnya? Gak nyadar bertahun-tahun. Hehe~ saran aku, kamu mending baca lagi dari awal karena EXO PLANET alurnya aku repackaged. Biar kamu bisa nangkep lagi jalan ceritanya 🙂
      AKU KEMBALI HARADAAAAA

  4. setelah menyepi selama beberapa jam untuk membaca ulang -seperti yang disarankan miss author- mulai dari prolog hingga chapter 13, akhirnya misteri yg baru-baru ini bikin penasaran tingkat stadium 12 terpecahkan sudah,,,, ヽ(*´∀`)ノ
    here the comments:
    1. dengan ingatan yang sedikit mengabur *intinya masih ingat* Ternyata fanfic ini benar2 berubah. Baik dari segi plot maupun setting (´∀`) Dan saya benar2 terpukau. Wae? karna eonie mampu memadukan jalan cerita yang lama dgn yg baru. Hanya saja,, sayang~ namanya kagak berubah dari cho ikha menjadi sakurai harada aka lee hye ra #plak
    2. point plus berikutnya. di detik akhir part ini,, gue kecewa…. mengapa part ini harus berakhir??? #cant wait the next chapter (^O^)/
    3. sugoi~~~ gambarimasu nee-chan (๑ゝω・ิ)ノ

    1. HAHAHAHAHAHAHAHAHA~

      Harada, you always make me laugh. As expected my cute little dongsaeng. Cuma maaf sekali karena aku tetap gak akan mengurangi kekecewaan kamu dengan mengganti Cho Ikha menjadi HARADA SAKURAI. Hahaha~ next series aku buat kamu jadi penyihir kejam yang super dahsyat aja. Gimana? Keren kan? 😉

      Btw, itu point yang terakhir artinya apa yak *pukul kepala bertubi tubi karena gak paham*

  5. oke kakak ,,, gak papa lah jd wizhard ato vampire skalian. itung2 bisa ngayal kek mr. potter ato jd vampir buron kek di drama blood. Iooking forward to the next series (´∀`)
    oh,,,, itu point yg ketiga:
    sugoi~~ in english called AMAZING!!!
    gambarimasu is fighting~~~~

  6. Annyeonghaseyo, jeoneun Dilla imnida. Still remember me? Hehe, maaf aku udah ngilang lama banget -_-!

    Aku cek terakhir kali coment EP di tgl 26-06-13
    Huft, udah 2 tahun berlalu namun tak terasa karena kepadatan jadwalku di dunia nyata nan fana ini, begitu juga dengan kakak, kan? 🙂

    Oke, komen untuk chapter ini:
    -Di part ini suasana bener-bener beda sama part sebelumnya. Part ini lebih terasa real not fantasy. Well, this is the real life for Cho. So, aku merasa seperti membaca FF like some fanfict else.
    -But at the last part, it back to EXO Planet. Yeah, i prefer it.

    Itu aja yang aku rasain di chapter ini, kak. Oya ada yang janggal buat aku kak.
    Kok siluet Kai berbisik memanggil Cho, siete? Bukannya Kai belum ada disaat Siete masih hidup?

    1. Hi, Dilla…
      Masih inget dong~~ siapa lagi kalau bukan sang commentator yang gak pernah absen kasih komentar disini 🙂
      Terima kasih ya udah nongol lagi setelah jeda dua tahun blog ini hiatus. Apa kabar di sana? Sehat kah? 😉
      Hmm, kebetulan jawaban dari pertanyaan kamu akan muncul pada detail di EXO PLANET SERIES ‘THE WOLVES’. Jadi mohon kesabarannya ya~~

    1. Iya duooonggg. Udah setengah jalan dan niatnya sih mau dibukukan. Tapi pas aku coba ternyata baru setengah aja udah 300 halaman dek. Jadinya aku putuskan buat di publish aja per-chapter nya di sini. Tinggal tunggu tanggal mainnya aja yaaaa, aku lagi fokus sama Chapter lain yang masih ke pending di tahun 2012 🙂

  7. Yaampunnn akhirnya aku baca lanjutan exo planet juga yampun
    efek ngebaca ini tanpa baca dari awal lagi jadinya agak bingung. Trus ada yang beda juga kayaknya kalo
    dulu kan ditulisannya makenya ikha
    nah kalo sekarang yang dipake chonya
    tapi gak ngaruh sih eon. Trus akibat udah lama gak
    baca nama nama yang susah itu jadi lupa sama artinya
    hihihi

    1. Halu Niaaaa long time no see~~~ 🙂
      Hihi iya nih aku repackaged chapter lama dan aku ubah dari “Ikha” jadi “Cho”. Karena hampir semua fanfiction disini pakai nama Cho Ikha, rasanya aku butuh masukan dek buat nama lain di tiap cerita yang berbeda. Ada sarankah kira-kira nama yang kece?

  8. Tak ada Kai, Hyukjae pun jadi >_<

    Eonni ini pinter bngt yak, gak cukup satu lngsng di bikin two-in-one. Jadi HyukKai … parah parah haha..

  9. Eonni!!!! Aku kaget karena sekian lama menunggu ff eonni sampe akhirnya gak pernah menunggu lagi karna pasrah eonni gak akan lanjutin ff ini 😦 tapi tiba tiba eonni liked postingan blog aku huhu thank youuuuu lalu aku baru sadar disini ada kehidupan lagi. Aku kangeeeeeennnn muah muah
    Inget deh dulu baru baca sampe chapt 12 tapi setelah baca komen sebelumnya, plotnya di repackage? Wah asli nih mesti nostalgia dari awal :3
    Tapi asli kangen banget huhuuuuuu

  10. Idk if u still remember me, but, oh my!!! I found uuu and these almost end fics. Thank God and thank to u author-nim ternyata fic ini gak selesai tanpa ending. Love you!
    *brb next chap*

    1. Hehe, maaf Cho. Dulu itu… lagi disibukkan sama karir tapi sekarang udah banyak waktu luang lagi.
      Suka gak? Ada pertanyaan gak nih? Biasanya kamu kan cerewet gitu sampe panjang komentarnya, hahaha~ 😉

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s