NIGÓS

NIGOS POSTER (2)

NAPAS MEREKA SALING MEMBURU MENJEMPUT KEBEBASAN yang sulit mereka raih sejak terakhir kali mereka berpindah tempat. Tubuh ketiganya jatuh berdebam menyeret pasir-pasir halus di atas tanah kering. Bahkan rintihan mereka berkeliaran bersama butiran-butiran partikel yang tersisa dari teleportasi.

Kai memaksa sepasang kakinya untuk berdiri meski sayatan panjang di bahunya membuat sebagian otaknya enggan untuk memberikan perintah. Ia memerhatikan sekelilingnya. Sehun, yang berada tak jauh darinya, tengah menyibukkan diri dengan membalut luka yang menganga di pahanya akibat gigitan galýkos yang kelaparan.

Ia bersyukur pula Baekhyun dan Chen berada dalam jangkauannya meski nyeri jantungnya bagaikan ditusuk oleh ribuan jarum tajam.

Tangisnya kemudian meruntuhkan kekuatannya. Kai mendekap tubuhnya bersama pasir-pasir yang melekat pada pakaian lusuhnya. Partikel nomenós berterbangan di atas tubuhnya, menyesap dan menggantikan segala luka yang dimilikinya menjadi kulit serta epidermis baru.

“Tenanglah, Kai. Semua akan baik-baik saja.”

Suara yang menenangkan itu menggugah hatinya.

Kai mendongak. D.O telah berada di tempatnya mendarat sementara Suho, Lay dan Xiumin menyerbu Baekhyun dan Chen—sama sekali tak bergerak sejak mereka tiba di dekat gundukan batu yang telah disulap D.O menjadi persembunyian terbaik mereka.

Dirangkulnya tubuh Kai yang sebagian besar terbalut oleh darah segar. Pria dengan kulit krim cokelatnya tersebut membungkam mulut, menahan isak yang sedari tadi ditahannya.

“Chen telah terjaga. Lay kini memfokuskan diri pada Baekhyun,” ucap D.O, masih mencoba menenangkan Kai.

“Aku tak bisa menyelamatkan Tao! Aku tak bisa menyelamatkan Tao!”

Pekikan Kai membuat D.O semakin mengeratkan jemarinya. Sehun menatapnya seolah pria jangkung itu menyuruh D.O untuk meredam emosi Kai. Ia berpaling dan menemukan Suho menunduk pasrah.

Hanya tersisa sembilan dari dua belas makhluk yang memiliki kekuatan langka dari jiwa-jiwa suci Naracaz. Dan Tao merupakan kehilangan yang sangat mereka sesalkan setelah Kris dan Luhan.

Kai masih menggurau seperti orang gila. Tangisnya membuat pria-pria yang ada di sana menggores semburat gelisah di wajah-wajah tampan mereka. Terlebih saat Kai tak mampu membendung kekecewaan dan kesedihannya.

Nigós sialan itu mengambil Tao! Dia membunuhnya!” Jeritan histeris Kai semakin menjadi-jadi.

Tubuhnya menekuk pada D.O. Rasanya ia patut untuk disalahkan atas penangkapan Tao, si penghenti waktu. Kedatangannya ke distrik sebelas bersama Sehun, Baekhyun dan Chen tak lain adalah untuk menjemput Tao dan membawanya ke persembunyian.

Mereka tak berhasil meyakinkan Tao bahwa Nigós, si pemburu jiwa, adalah nyata. Sayangnya, makhluk yang tak memiliki rupa tersebut telah merenggut Tao lebih dulu. Sesaat sebelum Kai berteleportasi membawa tubuh teman-temannya, Nigós mematahkan penghentian waktu yang dibuat Tao.

Kai menjerit.

Tatapan terakhir Tao dengan sepasang mata bulatnya membuat hati Kai dihantam kuat oleh kepiluan. Senyum yang tergurat dari mata sendu Tao masih membayangi kepergiannya.

“Maafkan aku, Kai. Seharusnya aku memercayaimu.”

-o-

MAKHLUK ITU TAK BERBENTUK, SUHO. TUBUHNYA DISELUBUNGI kain usang dan wajahnya tak memiliki rupa. Ia mampu menggerakkan benda apapun yang diinginkannya dan ia terbang!”

Perdebatan itu terus berlanjut di tengah santapan makan malam mereka yang hanya terdiri dari udang batu yang direbus dan juga rerumputan yang ditumis asal. Kadang pula terselip keheningan di antara mereka.

Cahaya corion Baekhyun menerangi gua gelap yang diciptakan D.O. ereka mengelilingi cahaya di atas hidangan sederhana. Semua nampak kacau dan kotor. Pakaian kumal mereka sebagian besar telah robek dan berlubang.

“Dia telah menghisap jiwa Kris dan Luhan, Baekhyun! Apa kau belum mengerti juga? Dia mengincar kita! Kau telah berhadapan dengannya dan kau masih menyangkalnya?”

Baekhyun menghentakkan kakinya pada tanah, membuatnya meringis ngilu akibat luka yang belum sembuh sempurna. “Ketika aku di sana, ia sama sekali tak mengincarku atau pun Chen. Ia terus menyerang Tao dan Kai—karena si teleportman itu terus melindungi Tao,” jelasnya pada Suho.

“Mungkin ia memiliki semacam pola untuk memburu kita?”

D.O membuka suaranya setelah berdiam diri untuk menyimak perdebatan antara mereka.

Yeah dan sekarang makhluk sialan itu telah menghisap jiwa Tao. Saat kita sedang asyik membicarakannya, ia pasti sedang melayang mengelilingi planet ini sambil menghentikan waktu untuk mencari jejak kita.” Baekhyun kembali meracau. Sesekali ia melemparkan kerikil pada cahaya yang dibuatnya, membuat cahaya tersebut bergoyang-goyang seperti lampu gantung.

“Sebaiknya kita membuat rencana. Kau tak ingin menghabiskan seluruh hidupmu untuk melarikan diri, ‘kan?” Xiumin berkata seolah menengahi keduanya.

“Yang kutahu, kita hanya memiliki dua pilihan. Melarikan diri atau menghadapinya.” Suho menatap hampa pada mangkuk besar yang kini hanya berisi rangka udang batu.

“Atau pilihan terakhir, mengetahui pola pemburuannya—seperti yang D.O katakan sebelumnya. Kurasa jika kita mengetahui target selanjutnya, kita akan melindunginya sebisa mungkin untuk menghindari perburuan.” Xiumin kembali berkata.

“Masuk akal,” Baekhyun mengusap dagu. “Ingatlah, Nigós tidak melukai siapa pun selain targetnya. Kurasa cara itu cukup jitu untuk menghentikannya dan—bang! Cabik-cabik tubuhnya lalu membakarnya.” Ucapnya antusias.

D.O mengeratkan selimut lusuh yang ia temukan tak jauh dari persembunyian. Ia belum terbiasa dengan hawa dingin yang menguap dari tubuh Xiumin. “Kita harus menemukan si api naga. Hanya dirinya yang mampu membakar jiwa Nigós.”

“Namanya Chanyeol. Dia berada di distrik enam,” jawab Suho secepat angin.

“Tunggu apa lagi?”

Seketika ketiganya menoleh ke arah lubang gua yang cukup dalam. Pada ambang dinding pembatas, Kai berdiri di sana terlihat lebih bugar dan bersemangat. Sepertinya mental pria itu telah kembali padanya.

“Siapa yang akan berteleportasi bersamaku?” Suara lantangnya menyerap hingga ke dinding gua.

-o-

DISTRIK ENAM SANGAT BERBEDA DENGAN DISTRIK SATU DIMANA makhluk-makhluk penghuni planet berdiam diri dan bersosialisasi. Tempat ini dikelilingi oleh hutan lebat. Bebatuan hanya tampak di tepian batas distrik. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain beberapa bangkai binatang yang menua ditelan udara.

Sambil meniti langkahnya pada reruntuhan, sepasang mata hitam Kai tetap mewaspadai akan apa yang ada di sekelilingnya. Selain gemerisik udara, suara burung yang saling bersahutan saja yang ditangkap oleh inderanya.

Hampir memasuki hutan pinus di hadapannya, langkah Kai terhenti ketika ia menemukan pohon-pohon tumbang di hadapannya hangus dilahap api. Ia tidak salah berteleportasi. Dari bentuk pepohonan tersebut, ia yakin bahwa si api naga-lah yang menciptakan pola tersebut.

“Indah, bukan?”

Keterkejutan Kai membuyarkan lamunannya.

Ia menoleh.

Suara maskulin yang menyahutnya datang dari balik tubuh. Bola mata hitam Kai melakukan pergerakan kecil mengikuti sosok tinggi tersebut. Ujung rambut sosok itu nyaris menyentuh bahu tegapnya. Perpaduan warna cokelat sienna dan saddlebrown pada rambutnya membuat kulit putih si pria lebih bersinar.

“Sayang sekali aku belum menemukan cara untuk mengendalikan api sharon-ku,” pria tinggi itu kembali berkata. Suara baritonnya menandakan kepercayaandiri yang tak biasa.

Bau menyengat dari sisa asap dan abu masih mengusik Kai. Sekelilingnya dipenuhi oleh warna hitam dari batang pohon yang berarang. Ia memilih berjongkok pada bongkah yang masih utuh, tepat berseberangan dengan si pria tinggi berpakaian lusuh.

“Kurasa kau mengetahui maksud kedatanganku.”

Kedua tangan Kai melipat di atas lutut. Mata hitamnya masih menyoroti si pria.

“Tentu saja. Visualisasi yang kudapatkan beberapa waktu terakhir membuatku mengenalimu—“ ia menyeringai. “Kai, si penembus waktu, sang pengalih materi.” Kemudian menciptakan gerakan-gerakan konyol menggunakan kedua tangannya seolah menyindir Kai.

Pria dengan sebutan dark-jong itu tidak termakan jebakan. Seringaiannya membuktikan bahwa kali ini Kai mampu mengendalikan emosinya—mengingat saran D.O dan Sehun mengenai si api naga yang berjiwa bebas dan sarkastik.

“Kukira si pengendali air yang akan datang,” ucapnya seraya membenahi rambutnya yang tertiup angin.

“Suho dan yang lain menjaga yang terluka.” Jawaban singkat Kai menunjukkan bahwa ia tak suka berbasa-basi.

Api naga menggeleng; gerakan kepala yang diartikan oleh Kai sebagai sebuah tanda iba yang berisi penghinaan. “Bagaimana pertarungan singkatmu dengan Nigós?”

Partikel nomenos Kai membaur di tangannya. Mengingat malam itu sama saja mengingat kelalaiannya—dan juga mengingat Tao. “Sama sekali tidak menarik,” ucapannya tegas namun rendah. Jelas sekali ia tidak menyukai topik tersebut.

“Sungguh disesali bahwa kita tinggal di sebuah planet tanpa pemimpin dan peraturan. EXO bukanlah tempat yang tepat untuk berlindung, Kai.”

Keduanya terdiam selama beberapa saat, membiarkan angin dari utara mengisi ruang di antara sepasang jiwa naracaz.

“Dari caramu bicara, sepertinya kau mengetahui banyak mengenai Nigós.”

Nigós adalah jiwa yang telah mati. Ia mencari cara untuk hidup kembali dengan merenggut jiwa-jiwa suci sang naracaz. Kita sangat beruntung memiliki jiwa langka tersebut sehingga kita dikaruniai kekuatan istimewa. Kau pikir mengapa Suho maupun D.O menemukanmu dan yang lain dari berbagai distrik?”

Si api naga berbicara dengan nada yang cepat, seolah waktu adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.

Sepasang bahu Kai bergedik. “Karena kita adalah satu jiwa dan kita memiliki semacam koneksi,” Ia menyelipkan sebuah tanda tanya diakhir kalimat.

Chanyeol menjentikkan jari, menimbulkkan seberkas api di jarinya. “Namun kebanyakan dari kita menolak kekuatan tersebut sehingga kita belum siap menerima serangan.”

“Kita tidak diciptakan untuk bertempur, Chanyeol.”

“Lalu untuk apa kita diberikan kekuatan ini, Kai? Jangan naif, bocah kecil.” Chanyeol kembali menyeringai.

Dibatasi oleh tanah dan potongan kayu yang terbakar, Chanyeol mengetahui bahwa Kai sama sekali tak menyukai kata-katanya. Lihat saja! Partikel nomenosnya semakin menguap membentuk awan hitam di sekitar tubuh Kai.

Nigós menemukanku beberapa hari lalu. Dia mencoba menyerangku dan terjadilah pertempuran kecil di sini.” Chanyeol mengalihkan emosi Kai. Terbukti si telepotrtasi itu mulai meredam partikel ajaibnya.

“Kukira makhluk itu mengincar Tao.”

Chanyeol mendengus. “Berarti Nigós telah berhasil menipu pikiranmu.”

“Maksudmu?”

“Sejak aku dilahirkan dari tanah euporos, kusadari bahwa aku berbeda. Maka sejak saat itu kuhabiskan waktuku mempelajari Naracaz, berpetualang, berkomunikasi dengan penduduk dan menemukan fakta Nigós yang mendongengi setiap makhluk di planet ini.”

Chanyeol beranjak dari tempatnya. Sambil bermain-main dengan api di ujung jarinya, ia melanjutkan, “Makhluk malang itu sangat pintar. Ia tercipta dari tanah paous, tanah busuk di kutub planet. Tubuhnya tidak sempurna dan ia selalu mendapatkan cemoohan. Karena itu ia pergi ke dasar kutub dan membuat tempat pemujaan.”

Si bungkuk merindukan bulan, huh?” Kai menyela.

“Cerita selanjutnya tidak cukup menarik. Setelah melakukan pemujaan, ia dapat memisahkan diri dari tubuhnya dan menguasai tubuh siapa pun yang diinginkannya. Pria tampan, gadis cantik, kakek tua, hingga suatu ketika tubuhnya tenggelam akibat gempa dashyat di dalam dasar kutub.”

“Kasihan,” Lagi-lagi Kai menyela dan membuat Chanyeol mendesis kesal.

“Telah dicobanya ribuan kali untuk mendapatkan tubuh baru, namun hasilnya nihil.”

Bosan mendengarkan, Kai lantas memindahkan tubuhnya tepat di balik tubuh Chanyeol. “Aku sama sekali tak peduli dengan cerita monyet sialan itu. Aku datang hanya untuk menjemputmu, Chanyeol. Okay?”

Si api naga terperanjat saat napas Kai menakuti bulu kuduknya. “Untuk apa? Untuk sama-sama mati di tangannya?” ia hampir berteriak. Degup jantungnya berdetak cukup kuat akibat kemunculan Kai yang tiba-tiba.

Harus Chanyeol akui, si teleportasi itu sangat cepat dan keras kepala seperti dirinya.

“Dengar, pria angkuh. Setiap detik yang kuhabiskan denganmu merupakan kesempatan bagi Nigós untuk menemukan target selanjutnya. Jadi jangan bertingkah sok tahu dan berhentilah memandangku seolah-olah aku hanyalah rumput liar bagimu.”

“Bukan rumput liar, Kai. Tapi bocah ingusan yang menyebalkan.”

Seluruh jemari Kai membentuk genggaman erat. Beberapa kali ia melakukan teknik pernapasan untuk mengontrol emosinya yang kembali menguap. “Ayolah, Chanyeol. Lay tidak akan selamanya menyembuhkan kami sedangkan luka di tubuh Sehun, Chen dan Baekhyun memperlambat pergerakan kami.”

“Kau hanya perlu memindahkan mereka ke planet ketiga. Lapisan atmosfer yang kuat tak akan mampu ditembus Nigós. Lalu kau, pergilah menjauh dari mereka dan lindungi dirimu sendiri.”

Oh, jadi pilihanmu adalah melarikan diri—bukan menghadapinya?” Nada Kai meninggi. Rambut hitamnya disisir paksa oleh jemari kotornya.

“Pertama, jiwa Nigós hanya akan pudar oleh api sharonku. Aku bisa mempertahankan diri dan aku tidak bergantung pada siapa pun. Asal kau tahu, ia tidak begitu menyukaiku, Kai.” Kemudian membentangkan kedua tangan, menunjukkan pada Kai bahwa tempat mereka berpijak hanyalah tumpukan kayu yang terbakar.

“Kedua, yang diincarnya hanyalah kekuatanmu.”

Pernyataan Chanyeol menegunkan pikiran Kai. Ia menatap lurus pada sepasang mata firebrick yang dimiliki Chanyeol.

“Sejak awal, Nigós hanya mengincarmu. Jiwamu adalah yang terkuat di antara kita. Kris, Luhan maupun Tao hanyalah bonus kecil yang ia terima dari pengejarannya terhadapmu. Karena setelah ia mendapatkanmu, ia hanya perlu menjentikkan jari untuk menghisap jiwa yang tersisa.”

-o-

TIDAK, KAI. KITA AKAN MEMUSNAHKANNYA DAN KAU sama sekali tak membantu—dengan tak membawa si api naga.”

“Dan sudah kukatakan beberapa kali bahwa sebaiknya kita mendengarkan saran Chanyeol, Suho. Aku tidak mengenalnya dengan baik tapi kau dan D.O mengetahuinya melalui visualisasi-visualisasi yang kau dapatkan. Apa salahnya untuk mencoba?”

Langkah mereka terhenti, saling menatap lawan masing-masing bersama denan argumen yang mereka yakini.

“Kau tak akan bisa membawa kami semua ke bumi. Kekuatanmu sangat terbatas, Kai.” D.O menyela. Ia lebih menyukai peran sebagai penengah. Terlebih saat setiap perdebatan yang mereka buat sulit untuk membuahkan kesepakatan.

“Aku telah berhasil membawa Sehun, Baekhyun dan Chen bersamaku. Mengapa aku tak bisa membawa kalian ke bumi?” Kai menggertak—dan gertakannya mengalihkan perhatian Xiumin dan Sehun, yang sejak tadi hanya duduk termenung di sisi gua.

“Kita akan tetap berpaku pada rencana,” Suho mendesis di telinga Kai. Bibir tipisnya terkatup sempurna. Ia memalingkan wajah, menghindari tatapan Kai yang berbaur dengan sepucuk permohonan.

Damn, Suho! Bukan Lay yang menjadi sasaran Nigós berikutnya!”

Kali ini Kai benar-benar habis kesabaran.

Sehun, dengan luka galýkos yang tak mampu ditembus oleh Lay, tertatih-tatih menuju tempat di mana Kai berdiri. Pria itu menggenggam lengan Kai; menghentikannya agar tidak mengikuti langkah-langkah Suho.

“Kami sudah mendiskusikannya saat kau pergi ke distrik enam. Lay adalah kemungkinan terbesar mengingat Kris, Luhan, Lay dan Tao tercipta dari tanah yang sama.”

“Lalu dimana Lay sekarang?!” Kai menepis kata-kata Sehun disampingnya.

Sehun, si pengendali angin, melirik takut pada Xiumin. Baginya, ia tak memiliki cukup argumen untuk beradu dengan Kai.

“Kami menyembunyikannya di dasar archipelago.” Jawab Suho singkat.

“Itu berarti kau membunuhnya secara perlahan, Suho!”

Kai menggosok permukaan wajahnya, geram. Sementara itu Suho hanya mampu mendesah pasrah. Pria yang memberikan informasi keberadaan tiap jiwa naracaz itu berjalan lunglai pada Xiumin. Rautnya meluntur, menimbulkan lingkaran hitam di kedua mata indahnya.

D.O dan Sehun mengapit Kai. Keduanya mencoba menenteramkan emosi si pengendali materi yang kesulitan mengendalikan hasratnya sendiri. Luka di punggung D.O yang dimilikinya minggu lalu membuat pria itu berubah diam. Sama diamnya seperti Sehun.

“Kumohon, D.O. Dengarkan kata-kataku dengan baik,” Suara Kai tersendat-sendat. Jemarinya menggenggam erat pergelangan tangan mungil D.O. “Tak ada pemimpin di antara kita dan kita tak perlu mendengarkan omong-kosongnya.”

Pria dengan tubuh yang lebih pendek dari Kai itu menengadah. Ia mampu merasakan tubuh dark-jong bergetar menahan amarah. Di sisi lain, dilihatnya Suho berdiam diri dengan tatapan kosongnya. Kekakuan Xiumin di samping Suho menambah keheningan di antara mereka.

“Suho sedang kacau. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kita semua.” D.O terdengar bijak dan disambut oleh anggukan Sehun.

“Tapi dia salah dan pernyataan Chanyeol lebih masuk akal,” Kai tak kalah bergumam. Ia kembali menggerutu dan menyebut kata-kata makian yang diketahuinya.

Dalam segala keheningan itu, sejenak D.O dikejutkan oleh inderanya.

Kai dan Sehun melirik mengetahui perubahan yang ditunjukkan D.O. Tubuh pria kecil itu menegang. Kegelapan malam dan sinar matahari yang sulit menembus planet membuatnya kesulitan meraba-raba.

“Berlindunglah segera.”

Suara rendah D.O mengalun tegas. Suho memahaminya dengan baik lantas bergerak cepat bersama Xiumin untuk menyeret Sehun ke dalam persembunyian. D.O melakukan gerakan kecil di kakinya dan segera bukit-bukit rendah di sekeliling mereka diluluhlantakkan.

Kai memicingkan mata. Raungan galýkos yang membahana di sepanjang udara menuntunnya untuk bersikap waspada. Reruntuhan bukit dan debu dari tanah yang hancur, puluhan pasang mata yang mengilat merah bergerak cepat ke tempat mereka berpijak.

Para galýkos, dengan empat pasang kaki dan tubuh besarnya, berlari menyelamatkan diri agar tujuan mereka terpenuhi. Bayangan-bayangan hewan buas itu semakin mendekat. Mereka bahkan mampu mendengar geraman galýkos yang haus akan daging segar mereka.

Hewan dengan mata mengilatnya itu mendadak berhenti seolah dikendalikan oleh remote control. Kai menatap D.O dalam sepersekian detik—dan ia berharap pria itu memahami maksud dari tatapannya. Dengan sisa kekuatannya, pria itu berlari menuju persembunyian dan menutup tempat tersebut dengan berbagai macam lapisan tanah.

“Dasar pengecut,” Sehun bergumam mengamati kepergian D.O. Karena baginya, bukan galýkos-galýkos lapar yang menjadi permasalahan utama. Melainkan sosok hitam yang melayang rendah di pusat barisan.

Itu dia.

Nigós, dengan tudung panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, mengarahkan jemari yang hanya terbungkus kulit tipis tua itu pada jiwa-jiwa naracaz. Sosok itu mendesiskan kata-kata yang sama sekali tak dimengerti mereka.

Kesempatan itu digunakan Kai untuk berteleportasi. Sayangnya kegiatan itu dapat dihentikan dengan mudah oleh Nigós saat Kai menarik Xiumin—setelah berhasil membawa Sehun ke dalam persembunyian dalam waktu sepersekian detik.

Sosok itu melayang bersama tudung usangnya yang tertiup angin. Tangannya berayun ringan seiring puluhan galýkos menyerang mereka bersama gigi-gigi tajamnya. Suho dan Xiumin menghalangi hewan-hewan buas itu saat cakar-cakar mereka mencoba menggali persembunyian. Sementara Kai, tanpa berpikir ia menyerang sang tubuh hina tersebut dan membuat keduanya melayang bebas di udara; saling beradu pukulan.

“Kau hanya menginginkanku, ‘kan?” Seringaian Kai menyisir di sepanjang bibirnya saat ia berhasil menjatuhkan Nigós ke permukaan tanah.

Dengan gerakan-gerakan yang dipelajarinya dari Xiumin, Kai mampu menghantamkan beberapa pukulan tajam di tubuh padat Nigós yang menua.

Jiwa gelap itu kembali berbisik. Bisikan yang, anehnya, dapat dimengerti Kai.

“Seharusnya kau mendapatkan tubuh yang lebih baik sebelum bertarung denganku. Kau terlihat mengerikan, Nigós.”

Tak lama setelah ucapannya selesai, Kai mendapati tubuhnya terpental jauh akibat amarah Nigós. Sepasang tangannya menyesak masuk ke dalam tanah, menciptakan garis-garis lurus untuk menghentikan tubuhnya.

Kai menggumam, sepertinya candaannya dikumandangkan pada waktu yang salah. Pakaian usang dan kotor Nigós berayun mengikuti arah angin saat ia membawa tubuh rentannya melayang cepat ke arah Kai. Saat pria itu menyiapkan kuda-kudanya, kobaran api yang membentuk dinding besar tiba-tiba muncul hampir membakar kulitnya.

Kai mundur beberapa langkah. Jemari rampingnya menyusuri rambut hitam tebalnya. Ia mendesah lega. Rambut yang dibanggakannya baik-baik saja—tak lupa sepasang alis dan bulu matanya.

“Bisakah kau sedikit saja untuk berhati-hati?!” hardik Kai pada sosok tinggi yang muncul di tengah kobaran api.

Chanyeol menyeringai. Ujung ibu jarinya berhadapan dengan lapisan tanah, membuat Kai mendengus tajam menerima penghinaan kecil tersebut. Sepasang mata bulatnya memperhatikan sosok Nigós yang berguling-guling seperti babi panggang di atas tanah. Para galýkos berkeliaran, mengabaikan perintah sang tuan akibat kobaran api yang membakar bulu-bulu kasar mereka.

“Simpan kebingunganmu itu, Suho. Sebaiknya kau pergi untuk melindungi dirimu sendiri.”

Sebelum Suho benar-benar memahami pernyataan Chanyeol, kesadarannya menghilang bersama tubuhnya dan Xiumin. Kemudian Kai muncul tepat di samping si api naga. Ia menghela napas panjang hingga membuat dada kekarnya bergerak naik-turun.

“Kau cukup lincah juga, bocah ingusan.” Chanyeol memberikan tepukan kasar di bahu Kai.

“Sejak kapan aku ingusan? Aku tidak pernah ingusan!” Kai melontarkan penolakannya dan membuat kekehan Chanyeol membara bersama apinya.

Chanyeol menarik kaus lusuh Kai hinggga membuat tubuh mereka saling melekat. ““Dengar, kukatakan sekali lagi bahwa aku belum menguasai benar tentang kekuatanku—api sharonku. Jadi saat aku tak bisa—“

“Berhentilah mendiktekku, pria tinggi sok tahu. Aku tidak dikenal oleh penghuni planet ini sebagai makhluk yang banyak berpikir seperti Suho.” Kai menginterupsinya, membuat raut di wajah Chanyeol berubah kusam.

Meski ia tak menyukai penolakan, Chanyeol kini mulai mengagumi keberanian sekaligus kecerobohan Kai. Setidaknya kedua hal itu yang akan mengeratkan hubungannya dengan salah satu bagian dari jiwa suci naracaz.

Kai melejit bersama partikel nomenosnya. Ia yakin bahwa Nigós saat itu belum siap menerima kemunculannya. Dengan membawa serta tubuh rusaknya, partikel ajaib Kai menelusuk jauh ke dalam tubuh Nigós—jauh hingga menyebar ke tiap sel-sel tulangnya yang menua.

Nigós kembali membisikkan hal-hal yang membuat dengung di telinga Kai meraung-raung seperti bunyi ribuan petir. Ia hanya mampu bertahan bersama sumpah-serapah yang dikumandangkannya. Penantiannya pun berhasil manis ketika jiwa kegelapan Nigós menguap dari tubuh tua; melayang meninggalkan kerangka yang dijadikan penopang jiwanya.

Kai melompat dari tempatnya begitu api sharon Chanyeol membara membentuk sepasang sayap phoenix. Apinya memerangkap jiwa Nigós dan membakar galýkos-galýkos lapar yang masih tersisa di tanah tandus tersebut. Kai menunduk, menghindari hawa panas dari sharon dengan merangkak cepat ke balik tubuh Chanyeol.

Sambil mengumpulkan kembali partikel-partikel nomenosnya, Kai mendengar raungan Nigós membahana di sepanjang udara hampa. Sebelum jiwa itu benar-benar dilahap selamanya oleh sharon, ia melihat percikan-percikan kecil dari jiwa Nigós membentuk sosok-sosok yang dikenalnya dengan baik.

Kris, Luhan dan Tao.

Ketiganya memberikan senyuman tulus yang sangat diingat Kai. Kris dan Luhan melambai tenang, sementara Tao hanya mampu menunduk. Kai menyebut nama mereka, memanggil mereka tanpa menyadari air mata telah membanjiri wajahnya yang dipenuhi debu. Sayangnya jiwa-jiwa tersebut memudar bersama jiwa Nigós yang mengikat mereka.

“Apa yang kau lakukan? Pergi atau kau akan musnah bersama planet ini!”

Kai terjaga pada detik berikutnya.

Ia mendongak mengamati tubuh tinggi Chanyeol yang membatasinya dengan kobaran sharon.

“Sharon telah menggila dan aku tak bisa menghentikannya! Pergi dan bawa jiwa-jiwa yang lain menjauh dari planet ini!”

Kai mengerjap, menghalangi wajahnya dari bara sharon yang semakin memanas. Kobaran tersebut membentuk bola-bola api yang mampu menghanguskan bebatuan  di sekitarnya. Tubuh Chanyeol bergerak tak menentu mengingat sharon telah kehilangan kendali.

“Dasar bodoh!”

Dengan gerakannya yang cepat, Kai memisahkan tubuh dan rohnya untuk mengendalikan tubuh Chanyeol; meski api itu tak kunjung berhenti. Berhasil memisahkan Chanyeol dengan tubuhnya sendiri, roh Kai kembali ke dalam tubuhnya kemudian berteleportasi bersama Chanyeol ke persembunyian; tepat sebelum ledakan besar membumihanguskan seluruh planet.

-o-

TUBUH-TUBUH ITU JATUH MENGHENTAK TANAH BERUMPUT. Pakaian usang yang melekat di tubuh mereka telah sepenuhnya melebur menjadi butiran debu. Asap saling menguap dari setiap pori-pori kulit mereka. Api telah membuat sebagian besar lapisan terluar tubuh mereka memerah seperti babi panggang.

“Kalian baik-baik saja?”

Dari sela-sela kesadarannya, Suho merentangkan tubuhnya menghadap langit yang tak lagi segelap planetnya. Ia mendengar jawaban dari Chanyeol dan Xiumin. Tak lupa erangan Sehun dan D.O.

“Dimana Lay?” tanya Suho, setelah berhasil menghitung setiap kepala yang menyebar di atas permukaan.

D.O meringkuk. Asap yang mengepul dari tubuhnya masih menyimpan hawa panas yang menyentak kulit putihnya. “Maaf, Suho. Aku tidak berhasil membawanya.” Kemudian ia menunduk—sama sekali tak menunjukkan keberaniannya.

Suho mengedarkan pandangannya. Dilihatnya Chanyeol menunduk di sisi tubuh Kai yang masih dikelilingi partikel nomenos. Tubuh Kai belum terbentuk sempurna meski rasa syukurnya membuncah mengingat jiwa-jiwa suci tak menghilang.

Dari bentuk rerumputan yang melapisi tanah yang dipijaknya; dari udara yang dihirupnya; dari embun yang menetes dari pepohonan di balik tubuhnya, Suho semakin yakin bahwa mereka tidak sedang berada di distrik enam.

“Planet EXO telah musnah,” Suho menggumam seorang diri. Lengannya menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sehun bahkan mendengar pria itu menyebut nama Lay beberapa kali.

“Lay akan baik-baik saja. Karena kekuatan penyembuhnya, tubuh Lay diciptakan untuk terus terbentuk. Kita hanya perlu menemukan dimana dia mendarat saat ini.” Chanyeol menjawab dengan harapan bahwa penjelasannya dapat menenangkan isakan Suho yang meledak di tengah keheningan.

“Akan kupastikan Lay tetap berada di sisi kita. Aku tak akan membiarkannya pergi.”

Chanyeol menunduk, mengamati tubuh Kai yang telah terbentuk sempurna. Pria itu mengucapkan syukur lantas menopang tubuh si pemindah materi. Ketika para jiwa-jiwa naracaz tengah berupaya untuk memulihkan tenaga, kemunculan sinar matahari pagi membuat mereka berteriak histeris.

Chanyeol dan Xiumin, dengan tubuh bugar mereka, menyeret tubuh-tubuh yang lain bersembunyi di balik pepohonan. Tiap pasang mata mereka menyipit sempurna, menghentikan silau tersebut menusuk penglihatan mereka.

“Dimana kita?” tanya Sehun sembari bersembunyi di balik bayangan pepohonan.

“Bumi,” jawab Kai singkat.

“Apakah kita akan baik-baik saja di planet ini?”

Pertanyaan tersebut terlontar dari Chen.

“Kita hanya perlu beradaptasi,” giliran Chanyeol yang menjawab.

“—dan pakaian. Jangan lupakan hal itu.”

Baekhyun menyela. Meski ia nampak kelelahan, pria itu mampu berpikir jernih.

Delapan pasang mata itu saling memperhatikan tubuh masing-masing. Hanya Chen dan Sehun yang agak kikuk mengingat mereka tak dilapisi oleh sehelai daun sekali pun.

Kai menatap singkat pada Chanyeol.

Mungkin inilah takdir mereka sebagai pemilik jiwa-jiwa suci naracaz. Selama mereka tetap bersama, jiwa-jiwa suci akan tetap melindungi mereka.

END

Thank For Your Visit Huglooms

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

9 thoughts on “NIGÓS”

  1. can i screaming now???!!!!!!!
    WOHOOOOOOOOOOOOO huglooms is back!!! huglooms is back. kak katakanlah aku ini dramatis. tapi aku berasa nangis tau gak bacanya. kak ikha, kakak tau gimana bikin fantasy yg ugh menghibur, asyik dan pastinya kerennnn!!! gak salah dong kalo aku bilang kakak senpai-nim. huhu ini itu gimana ya?? mengobati diriku atas kerinduanku kepadamu kak /alay/ tapi serius.. fantasy paling keren emang punya kak ikha. aku mah butiran debu ini. wkwkwkwk

    udah ah ini panjang. wkwkwkwk.
    see you kak ^^ ♥♥♥♥

    1. kyutaaaaaa~ diaaaahhhhh~ aih aihhh cepet banget mampirnya. makasih ya bok udah sempetin baca. tar aku cek juga cerita barumu yak.
      udah gak usah merendah, aku tau tulisan kamu kece badai juga 😜 siap siap sampah muncul di blog mu yak hahaha

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s