SPY (ii)

SPY (Oneshoot)

JENNIFER HANYA MAMPU MEMBAYANGKAN. Sepasang kaki jenjangnya membentuk sebuah pola di dalam ruang vip yang telah disiapkan Victoria untuknya. Ketukan heels membuatnya makin gelisah. Hal yang mampu menenangkannya saat ini hanyalah dengan menciptakan skenario-skenario palsu di dalam benaknya.

Tatapan Jean menerawang bebas ke bawah pelupuk matanya, mengamati lautan manusia yang asyik berjoget ria di lantai dasar. Mereka seolah membentuk bayangan berpola, saling bersahut-sahutan mengikuti lagu yang dimainkan deejay Shindong malam itu.

Ia yakin, Victoria dan Taemin tengah mengamatinya di bawah sana.

Jean mulai menghitung dari angka terendah. Tubuh kecilnya berubah rileks saat lensa penglihatannya bergerak-gerak membentuk gelombang, mengabsen setiap kepala orang-orang yang berjejeran seperti sebungkus teri beku di supermarket. Diapit oleh jari-jari mungilnya, gelas wine yang hanya berisi beberapa tetes air itu berayun ringan. Separuh jam melakukan hal-hal tersebut nyatanya membuat Jean bosan.

“Jangan terlalu dekat dengan kaca, Jean. Seseorang bisa saja sedang membidikkan laser ke tengkorakmu.”

Seketika Jean menoleh, mengikuti asal suara itu bergaung.

Sulli, lengkap dengan pakaian waitress dan dasi kupu-kupunya memasuki ruangan tanpa terdeteksi oleh seluruh indera yang dimiliki Jean. Gerakan tubuh Sulli seperti pria dewasa. Rambut pendeknya menjadi nilai lebih—meski wajahnya yang sehalus krim vanilla mengurangi kesempurnaan samarannya.

Jean mengamati Sulli. Tanpa bersuara, gadis itu menata botol dan gelas baru di atas meja. Keheningan yang mengisi jarak di antara keduanya membuat keberanian Jean tergulung rapat. Sulli terlihat menyeramkan saat berdiam diri. Bahkan, selama sepersekian detik ia membayangkan pupil Sulli berubah merah dan empat gigi taringnya menajam seperti sirip hiu.

Ia terlalu banyak menonton film fantasi. Rasanya tidak mungkin jika Key menyuruhnya menjadi mata-mata Hyukjae hanya sebagai bingkai bahwa ia akan menjadi santapan Sulli Si Vampire Betina.

“Apa kau yakin pria itu akan datang?” Jean mencoba bersikap ramah dengan mengajukan pertanyaan. Harapannya timbul saat Sulli menyunggingkan seulas senyum sederhana, mematahkan dugaan bodohnya.

“Berdoa saja jika kau ingin selamat dari misi ini. Taemin menaruh opium di minuman ini dan jika efeknya tidak sesuai dengan yang diharapkan, kau harus bersiap untuk rencana B.” Sulli menjelaskan secara gamblang. Tanpa jeda, tanpa salah ucap. Ia menatap Jean tepat di pusat irisnya—dan lagi-lagi membuat Jean bergidik ngeri.

“Sulli-ya,” sahut Jean. Gadis itu berdeham, terlalu fokus untuk memeriksa setiap sudut ruangan. “Apakah Minho menggertakmu juga seperti yang dilakukan Key padaku? Karena itulah kau bergabung dengan mereka?”

Gadis itu duduk. Lempengan tipis yang membantu penyamarannya ia letakkan di atas meja. “Aku seorang yatim-piatu dan tak ada seorang pun yang harus kulindungi seperti yang kau lakukan terhadap kakakmu.” Nada bicaranya begitu tajam di telinga Jean.

“Apa mereka mengancam akan membunuhmu? Kalau begitu sebaiknya kau pergi dari jangkauan mereka setelah misi ini selesai. Mereka sangat misterius dan berbahaya.”

Jean menemukan Sulli menyunggingkan senyumnya. Ia menunduk sejenak sebelum akhirnya menyoroti Jean dengan tatapan mematikannya.

“Lebih dari itu, Jean. Aku tidak bisa meninggalkan mereka karena alasanku terlalu kuat,” Tubuhnya menjulang tinggi hingga Jean mendongak saat menatapnya. “Aku mencintai Minho, dan kurasa alasan itu cukup logis bagiku.”

Damn.

Seketika Jean menelan liur yang sama pahitnya dengan advil yang dikonsumsinya beberapa hari terakhir ini. Dugaannya salah; dan ia berharap Sulli tak akan melaporkannya pada Minho.

Tecquilla di atas meja sudah lebih dari cukup untuk membuatku tak sadarkan diri, Sulli-ya. Kau tak perlu membawakanku botol lain karena aku tak sanggup untuk menghabiskannya seorang diri.” Gadis itu menarik perhatian Sulli dengan topik lain.

Senyum yang tersirat dari bibir tipisnya cukup membuat Jean berbisik lega. “Aku tak akan memberitahu Minho jadi kau tak perlu mengalihkan pembicaraan kita,” kemudian melayangkan sebuah kerlingan manis sebelum gadis itu meninggalkannya seorang diri.

Jean kemudian mendesah lega.

Kesunyian itu terlalu menggerogoti kegelisahannya yang belum mereda. Sepasang mata cokelatnya yang terendam oleh remang di dalam ruangan tersebut menenggelamkan pikirannya. Seharusnya ia menyadarinya—saat tawaran Victoria beberapa minggu lalu tak akan sesederhana yang ia pikirkan.

Gadis itu tertegun.

Hembusan angin di rambutnya merupakan satu dari serangkaian hal yang membuat jantungnya hampir melesak menembus tulang-tulang rusuknya. Ia menoleh, mendapati sesosok pria berusaha memeluknya mesra.

Jean membentuk sedikit ruang di antara keduanya. Matanya menyipit, “Bagaimana kau bisa masuk?” kemudian memerhatikan pintu di balik punggung lawan jenisnya.

Tertutup rapat. Bahkan ia sama sekali tak menangkap bunyi derap langkahnya.

“Karena pikiranmu tak berada di sana,” bola mata si pria mengarah pada keningnya. “Apa yang sedang kau pikirkan, hmm?”

Jean mengeratkan gelas wine yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Seringaian muncul di bibirnya. “Sejenak kukira kau tak akan menerima ajakanku karena beberapa hal. Entah karena aku tidak begitu cantik; tidak begitu seksi; atau tidak begitu menggoda.”

Hyukjae tersenyum. Direbutnya gelas tersebut dari Jean lantas berjalan ringan ke arah meja di pusat ruangan. Gadis itu menggunakan kesempatan tersebut untuk menelisik lebih jauh.

Ya.

Penari itu memakai t-shirt hitam serta jeans panjang dengan warna yang sama. Di atas kursi panjang, ia menemukan jaket kulit tebal yang ia yakini adalah milik Hyukjae. Pria itu tak lagi mengenakan pakaian seksi seperti saat dirinya berada di atas panggung.

Mungkin terlalu vulgar.

Entahlah. Jean tak mampu untuk sekedar mengira-ngira.

“Berarti kau harus merayakannya karena aku telah memutuskan untuk datang,” ucapan Hyukjae beriringan dengan suara gemerisik buih alkohol yang ia tuangkan.

Jean mengamati Hyukjae mencium aroma itu beberapa kali. Pria itu nampak ragu selama beberapa detik sebelum alkohol tersebut ditenggak habis dalam sekali tegukan. Hyukjae bahkan mengajak Jean untuk bergabung namun penolakan halusnya menjadi jawaban telak.

Hell, Sulli. Jean memekik dalam hati.

“Ini terlalu mudah, Lee Hyukjae.” Jean masih berdiri di tempatnya.

Pria itu mendekat. Dari cara Hyukjae menatapnya, Jean berasumsi bahwa makhluk dengan rambutnya yang berantakan tersebut sedang berusaha melawan efek dari alkohol yang dikonsumsinya.

Yeah. Memang mudah,” ucapnya gamblang.

Ia menarik tubuh Jean ke dalam area personalnya hingga gadis itu menghentak dinding kaca. Jean mengeratkan gigi-giginya. Victoria tak akan menyukainya jika ia memberikan penolakan pada Hyukjae. Maka ia menyerah, membiarkan pria itu menghirup udara di tengkuknya.

“Tidak, Lee Hyukjae. Maksudku, kau.” Nada Jean sedikit meninggi. Pria itu lantas mendongak, menciptakan semerbak alkohol dari hembusan napasnya. “Tak kusangka jika kau begitu rendah dan murahan.”

Seringaian Hyukjae berpacu bersama senyum tipisnya. Singgungan Jean sama sekali tak mampu menggoyahkan emosinya.

“Mengeksplor sesuatu yang baru adalah bagian dari hobiku,” begitulah jawaban Hyukjae. “Tak apa. Kadang-kadang aku memang sedikit murahan. Apa dayaku untuk menahan hasrat itu saat dihadapkan dengan gadis cantik sepertimu?”

Napas Jean tersendat. Sesungguhnya aroma alkohol dari mulut Hyukjae membuat sendi-sendinya menegang, tapi kata-kata manis pria itu jauh lebih kuat menghantam dinding pertahanannya.

Dalam sekali kedipan mata, Jean mendapati pria itu mencumbunya kasar. Terburu-buru namun dengan ritme yang baik. Tanpa sungkan gadis itu membalasnya. Ciuman hanyalah hal kecil yang ia pelajari sejak bangku senior high. Tentu saja, bibir Hyukjae mampu ditaklukkan olehnya dengan mudah.

Jean merintih karena Hyukjae menggila.

Pria itu mendesaknya hingga tubuh mereka saling bergesekan. Masih dikendalikan oleh kesadarannya, Jean menarik jari-jari ramping Hyukjae yang mulai menelusup ke dalam pakaiannya.

Hyukjae mengerang.

Ia mendorong Jean hingga bunyi ketukan heels gadis tersebut menyatu dengan deru jantungnya. Masih menahan tubuh Jean dalam pelukannya, Hyukjae menyerang gadis itu dengan ciuman-ciuman yang begitu dalam. Ia menjamah bibir dan mulut Jean seolah tempat itu menyimpan harta karun terpendam.

Salah satu sudut di dalam mulut Jean mengeluarkan bunyi retakan. Ia mengaduh karena Hyukjae sama sekali tak mengindahkan penolakannya. Pria dengan hidung mancungnya yang menusuk-nusuk pipi Jean pun terjatuh di atas kursi sementara kedua lengannya masih mendekap Jean dalam kungkungannya.

Jean menghirup udara panjang. Kuku-kukunya yang terlapis mulus oleh nail polish membentuk cakaran tajam di kedua pundak Hyukjae. Sepasang matanya menatap lurus pada pria yang menahan beban tubuhnya. Masih tak menyangka jika Hyukjae akan menciumnya melebihi keganasan Tinker Bell, kelinci peliharaannya.

“Kita sudah berciuman dan aku masih belum mengetahui namamu, Lady.”

Seketika Jean memerhatikannya dengan seksama. Selama beberapa detik, ia hanya terpusat pada sepasang bibir tipis Hyukjae. Jean menggeleng tanpa Hyukjae menyadarinya—menepis pikiran busuk yang terbesit cepat melewati otaknya.

“Jean,” Ia menjawab dengan sedikit kejutan dalam suaranya. Hyukjae membenamkan wajah tampannya di dadanya dan Jean belum siap menerimanya. “You can call me Jean.” Suaranya tercekat di tenggorokan.

“Jean,” Hyukjae membisikkan namanya. “Wangi tubuhmu membuat kepalaku pusing.”

Pria itu semakin membenamkan wajahnya pada Jean. Ia mengerat rapat seolah tubuh gadis itu adalah boneka kesayangannya.

Jean menyentuh rambut Hyukjae dan menghirupnya. Wangi yang mengalir hingga ke kepalanya itu membuatnya mendesir. Rasanya menyenangkan; dan sejujurnya ia mengakui bahwa Hyukjae telah memberinya ciuman terbaik yang selama ini tak didapatkannya dari mantan-mantan kekasihnya.

“Saat kita berciuman barusan, kau menyentuh tubuhku seolah sedang menggeledahku, Jean.”

Pria itu tiba-tiba berucap, membuat detak jantung Jean berdentum cepat. Ia mencoba mengulang kembali kejadian beberapa menit lalu namun ciuman-ciuman kasar nan lembut yang menyerang kesadarannya itu hanyalah satu-satunya hal yang mampu ia ingat.

“Kalau begitu maaf,” hanya itu jawaban yang diberikannya. Jika memang sepasang tangannya bergerak tanpa instruksi dari saraf motoriknya, tentu saja itu merupakan pertanda bahwa ia menikmatinya.

Dan Jean sama sekali tak menolak fakta tersebut.

Gadis itu mendengar Hyukjae mendengus. “Well, sejujurnya aku ingin kau menggeledahku.”

Sebelum wajahnya benar-benar tegak sempurna, pria itu menarik tubuh kecil Jean dan menjatuhkannya di atas lapisan kursi yang didudukinya. Untuk menghindari keterkejutannya, Jean menengadah dan menatap langit-langit. Hal itu membuat Hyukjae mendaratkan ciumannya di sana dan ia cukup kesulitan menahan erangannya.

“Jika kau pikir kau akan mampu memanipulasiku dengan rencana kecilmu, maka kau melakukan kesalahan besar, Jennifer Cho.”

Bisikan Hyukjae seketika terdengar nyaring di telinganya. Jean mencari-cari sepasang mata gelap si pria. Itu dia, Lee Hyukjae, mengapit tubuhnya dengan kedua lengan kokohnya.

“Aku sama sekali tak mengerti maksud dari perkataanmu itu, Lee Hyukjae.” Suara Jean bergetar. “Dan namaku adalah Jean. Bukan Jennifer Cho.”

Jantung Jean berpacu bersama aliran darahnya. Dari cara pria itu bicara, Hyukjae sedang menggertaknya dan sepertinya ia mengetahui Jean dengan baik.

Hyukjae merendahkan tubuhnya hingga bersentuhan dengan Jean. Wajah gadis itu bersembunyi di balik bayangannya. “Kau tak perlu takut Minho maupun Victoria mendengar perbincangan kita karena alat penyadap di gigimu sudah kubereskan.”

Pusing.

Jean merasakan aliran darah di otaknya terhenti seketika. Pria itu bahkan menyebut dua nama terlarang yang tak ingin didengarnya. Kesimpulan mutlaknya adalah Hyukjae mengetahuinya dan ia terperangkap.

Tangan Hyukjae menekan wajah Jean saat ia berusaha untuk mengintip ke sela-sela tanaman di sudut ruangan, membuatnya hanya terpusat pada satu-satunya makhluk yang berada bersamanya.

“Mereka masih mengamati kita jadi jangan melakukan gerakan-gerakan bodoh.” Ucapannya menggantung di mulut Jean.

Lagi-lagi gadis itu mendesir. Napas hangat Hyukjae berhembus ke pori-pori wajahnya dan berhasil membuat gejolak di perutnya kian meningkat. Jean menarik rambut Hyukjae kasar, menariknya supaya ia dapat berbisik di telinganya.

“Tidak, Lee Hyukjae. Ajakanku benar-benar hanya untuk menghabiskan malam ini bersamamu,” gumamnya.

Jean mencoba sekuat tenaga untuk memfokuskan diri. Sialnya justru sepasang kaki jenjangnya malah mengapit tubuh Hyukjae dengan erat—dan jangan salahkan Hyukjae jika dirinya mengerang indah di telinganya.

“Kau masih harus mendalami bakat aktingmu itu, Lady.” Bibirnya bergerak menyentuh leher Jean. “Aku hanya ingin kau tetap berpura-pura. Mereka telah menjatuhkan intelku di sekeliling tempat ini dan satu-satunya pilihanku untuk selamat adalah kau.”

Jean mendadak ling-lung. Setiap pernyataan Hyukjae sama sekali tidak meleset dari kenyataan. “Tapi—“

“Ssst!”

Hyukjae kembali memotong penolakan Jean. Gadis itu benar-benar tak berkutik saat ia menekan halus bibirnya di telinga mungil Jean, bergerak perlahan melalui pipi mulusnya dan berhenti tepat di bibir Jean.

“Aku hanya ingin kau melakukan tiga hal: berpura-pura menaklukanku, menyayat kulit di lengan bawah kiriku dan mengambil benda kecil di dalamnya, kemudian seret Minho dan yang lainnya untuk mundur dari tempat ini sesegera mungkin. Apa kau paham?”

“Tunggu dulu. Kau membuatku bingung!”

Reaksi Jean membuat pria itu kembali menciumnya. Jean seketika mengutuk dalam hati, betapa ia tak mampu melawannya hanya karena sebuah ciuman singkat.

Dengan paksa, ia menggigit bibir Hyukjae dan membuatnya menjerit menggoda. “Jika aku adalah salah satu komplotan mereka, kenapa kau tak membunuhku saja saat ini?” Sepasangan lengan Jean ia letakkan di atas kepalanya. “Aku sama sekali tak bersenjata dan hal itu akan memudahkanmu.”

Senyuman yang muncul pada wajah pria itu membuat Jean terpana. Sejenak ia menginginkan pria itu menjamahnya—jika saja saat ini ia tidak sedang berada dalam misi sialan yang Victoria paksakan untuknya.

“Jennifer,” Hyukjae menggenggam salah satu lengannya. Bahkan menyusupkan jemarinya di antara jemari Jean. “Bernegosiasi saat ini bukanlah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Jadi aku ingin kau mendengarkanku jika kau benar-benar ingin selamat.”

Pria itu mengendalikan Jean agar gadis itu memeluknya.

“Taklukan aku,” pintanya.

-o-

JEAN MENDEKAP TAS KECIL DI TENGAH LANGKAHNYA yang tegap berirama. Sepasangan matanya menatap lurus ke depan. Sesekali ia menunduk, memerhatikan ujung sepatu lusuhnya yang ia peroleh sebagai hadiah tahun lalu dari Kyuhyun, kakak laki-lakinya. Tak lupa setelan t-shirt pink dan skinny jeans biru tua membuatnya nampak lebih normal.

Ia duduk di antara orang-orang yang mengisi empat baris kursi di depan kasir. Kebanyakan dari mereka adalah pria-pria dan wanita tua. Mereka menyibukkan diri dengan membaca koran yang disediakan oleh rumah sakit di konter khusus, atau sekedar memerhatikan nomor yang muncul dari layar digital di hadapan mereka.

Jean menelan liurnya pahit.

Mendadak perutnya melilit seperti untaian benang kusut. Rambutnya yang diikat sembarangan tak mampu menyembunyikan tetesan dingin yang mengalir dari ujung poninya. Hari telah berlalu dan kegelisahan itu masih membayangi sekelilingnya.

Ia masih mengingat dengan baik malam itu…

Ketika Hyukjae menuntunnya menciptakan skenario-skenario bodoh sebagai cara untuk memanipulasi geng bawah tanah tersebut, rasanya wangi maskulin dari tubuh gym itu sama sekali belum menghilang dari benaknya.

Jean menggigit kuku-kuku tangannya. Masih terbenam di dalam akalnya saat darah segar yang mengalir dari sayatan di lengan Hyukjae membuatnya menahan mual. Setelah melakukan ciuman berikutnya, Hyukjae jatuh tak sadarkan diri. Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh Jean untuk melakukan instruksi kedua dari Hyukjae.

Ia tak pernah melukai seseorang sebelumnya. Ketika ujung pisau saku yang ia temukan di dalam jaket Hyukjae membentuk sebuah garis panjang di lengan si pria, Jean benar-benar harus menahan diri untuk tidak menjerit. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya saat dirinya dengan paksa mengoyak lengan Hyukjae untuk menarik benda hitam berbentuk kunci yang besarnya tak lebih dari dua sentimeter.

Jean seketika mendongak saat petugas kasir memanggil namanya.

Ia menyodorkan sejumlah cash. Wanita paruh baya berseragam rumah sakit itu pun menghitungnya dan lagi-lagi pikiran Jean tenggelam bersama memorinya.

Sepasang mata tajam Minho yang penuh antuasias saat ia berhasil memberikan kepingan hitam tersebut menggugah ingatan Jean. Inilah yang membuatnya gelisah. Apa jadinya jika Minho dan Victoria menemukan kebohongannya? Hal terburuk yang mampu ia bayangkan adalah tubuhnya digantung bebas di bawah jembatan sungai Han.

Jean mendengar para wanita di balik tubuhnya menjerit, bersahut-sahutan.

Gadis itu mendongak, si penjaga kasir jatuh terkulai setelah darah segar mengalir pada lubang di keningnya. Jean hendak menunduk begitu peluru lain menembus bahu petugas di sisi kirinya, hingga seseorang menarik tubuhnya menjauh dari kekacauan. Kesulitan menyeimbangkan langkahnya, Jean berlari bersama sesosok pria misterius melalui tangga darurat.

Pria itu menghentikannya setelah menuruni dua lantai pertama. Jean melirik tanda di dekat pintu. Napasnya memburu namun ia tetap bersikap tenang.

Basement.

Jean sempat mendongak begitu mendengar bunyi gaduh di atas kepalanya. Ia menoleh pada si pria. Hanya beberapa detik saja dan ia segera mengetahuinya.

“Lee Hyukjae?” Gadis itu membulatkan sepasang mata hitamnya.

Pria itu mengenakan jaket kulit berwarna cokelat tua. Jeans hitam dan sneakers membuat penampilannya semakin maskulin. Ia sama sekali tak mengenakan penutup di wajahnya. Kacamata hitamnya bertengger manis di kerah kaus putihnya.

“Apa yang terjadi? Mengapa kau ada di sini?” Jean menggertak, membuat pria itu mendelik tajam padanya.

“Aku tidak menyuruhmu untuk bicara jadi diamlah dan jangan melakukan hal-hal bodoh.”

Hyukjae sama sekali tak menatap Jean saat berbicara. Gadis itu bergejolak, melayangkan sebuah pukulan kuat di lengannya. Seketika Hyukjae mendelik tajam. Itu dia! Bekas luka yang ditoreh oleh Jean malam itu ternyata adalah sebuah fakta, bukan khayalan belaka.

“Aku harus kembali pada Kyuhyun. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?”

“Kau tak akan pergi ke sana tanpa seijinku.” Hyukjae menghentikan langkah Jean.

Gadis itu berusaha menepis jeratan Hyukjae meski hasilnya gagal total. “Kau sama sekali tak memiliki kekuasaan untuk mengaturku.”

“Tentu saja, ya. Karena Kyuhyun menyuruhku untuk menjagamu.”

Spontanitas yang Hyukjae berikan membuat Jean tertegun. “Apa maksud dari perkataanmu itu?” Matanya kini menyipit, mencari-cari makna sesungguhnya dari kata-kata pria yang baginya hanyalah bualan dan candaan saja.

“Jangan melepas tanganku dan berlarilah sekuat yang kau bisa. Hanya tujuh detik saja untuk mencapai mobil yang kuparkir di wilayah B5.”

“Aku butuh penjelasan, Lee Hyukjae!”

Hyukjae menarik tubuh Jean hingga gadis itu terjungkal di sampingnya. Jean mendengar suara benda jatuh berguling-guling dan saat ia membuka matanya, seorang pria telah tergeletak tak bernyawa di ujung kakinya.

Ia menoleh pada satu-satunya pria yang ada di sana. Hyukjae, dengan pistol kedap udara di tangan kanannya, menjurus was-was ke arah tangga yang menghubungkan tempat itu ke lantai utama.

“Aku tak ingin mati sia-sia di sini hanya untuk menjawab pertanyaanmu,” ucap Hyukjae dingin.

Kaki Hyukjae menekan-nekan tubuh tak bernyawa di hadapan Jean. Darah segar yang mengalir di bawah tubuhnya cukup meyakinkan Hyukjae bahwa pria berpakaian lusuh itu benar-benar telah mati.

“Kakakku—“

“Dia sudah dipindahkan setengah jam lalu saat kau asyik menggigiti kukumu di depan kasir. Keselamatan Kyuhyun jauh lebih berharga dari seorang gadis keras kepala sepertimu.”

Kemudian Hyukjae memaksa Jean untuk mengikutinya. Gadis itu meringis saat melangkahi tubuh tersebut. Pria di sampingnya bergerak dengan cepat hingga mereka mencapai Range Rover Evoque Black dalam sepersekian detik saja.

“Pakai seatbeltmu. Kita akan bermain racing car.”

Kebingungan, Jean hanya mampu mengikuti setiap instruksi yang diberikan Hyukjae padanya. Gadis itu mengeratkan jemarinya pada apa pun yang mampu dipegangnya. Hyukjae tak menyadari bahwa cara pria itu mengendalikan mobil jeep tersebut membuat jantung Jean menggila.

“Jelaskan padaku, Lee Hyukjae! Apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa ada penembakan di rumah sakit dan kenapa pria-pria itu mengejarku?”

“Aku sedang menyetir,” jawabnya singkat. Matanya saling memerhatikan spion dan jalanan.

“Akan kubuat kau menabrak mobil lain jika kau tak memberikan jawaban-jawaban itu segera!” Jean mencoba menggertak.

“Kurasa jika kita mati hari ini juga, bosku tak akan menyukainya.”

“Aku tak peduli!”

Jean mengaitkan lengannya pada kemudi dan membuat mobil itu oleng. Hyukjae hendak memaki hingga bunyi desing di antara mereka membuat Jean menjerit dan menunduk. Lubang kecil pada kaca memperingatkan Hyukjae untuk berlari. Lantas pria itu menaikkan kecepatan mobilnya begitu menyadari sebuah mobil kijang tua membuntuti mereka dengan kecepatan yang sama.

“Lihat kecerobohan yang kau buat, dasar wanita!” Hyukjae menggeram, membuat Jean tak memiliki keberanian untuk sekedar berbicara.

Mereka melaju cepat hingga perbatasan kota. Masih menunduk, Jean mendengar pria itu tengah berkomunikasi dengan seseorang—memberitahu posisi mereka saat ini. Sayangnya Hyukjae tak menyadari bahwa mobil tua itu mendahuluinya, menabrakkan diri pada mobilnya dan membuat Range Rover kesayangannya berguling di jalanan bebas.

Dalam mobil terbalik itu, ia mendengar Jean merintih. Seatbelt-nya terlepas hingga keduanya jatuh ke atap mobil yang kini setara dengan jalan raya. Hyukjae menyentuh bibir dengan telunjuknya—menyuruh Jean untuk tidak menimbulkan suara.

Kesulitan pria itu merogoh sesuatu pada dashboard. Ia memperhatikan sepasang kaki yang bergerak perlahan menuju mobilnya. Dengan perhitungan yang baik, Hyukjae menembak kaki tersebut hingga tubuhnya terjatuh, menembus kepala si pria sebelum isi pistolnya mengenai tubuhnya.

Hyukjae melakukan hal yang sama saat sepasang kaki lain menembaki bagian belakang mobilnya.

Dua orang.

Setelah menjatuhkan mereka dengan bakat menembak yang dimilikinya, Hyukjae menarik diri dari dalam mobil dan perlahan mengevakuasi tubuh Jean. Ia menyandarkan gadis itu pada pintu mobil. Langit cerah di atas kepalanya membuat Jean mampu melihat dua mayat lain tergeletak di jalanan sepi tersebut.

“Kyuhyun adalah salah satu intel NIS. Sama seperti diriku,” ucap Hyukjae menghilangkan hening di antara keduanya.

Jean tak mampu bicara. Kepalanya terbentur hebat dan sebagian tubuhnya seolah mati rasa.

“Aku tak diijinkan untuk memberitahumu namun kau telah terlibat lebih jauh sejak kau bertemu Victoria.”

Hyukjae memeriksa pistolnya. Hanya tersisa satu peluru saja dan ia memaki diri dengan mengetuk-ngetuk pintu mobil dengan kepalanya.

“Kyuhyun mengalami kecelakaan hebat. Itulah informasi yang kudapat dari kepolisian dan pihak rumah sakit,” pada akhirnya Jean bicara. Ia mengamati luka-luka pada tubuh pria di sampingnya. Ia juga menemukan darah segar mengalir dari sela lengan jaketnya.

Luka yang dibuatnya terbuka kembali dan Jean menyesali perbuatannya.

“Kedua orang-tuamu adalah agen NIS. Mereka meninggal saat mengemban misi di Korea Utara. Kyuhyun, the smart-ass, menggantikan posisi orang-tuamu demi melindungi identitasmu dari musuh.”

“Ini tidak masuk akal.”

“Rumit, Jennifer,” nada Hyukjae terdengar tak sabar. “Jika kujelaskan maka kita akan menghabiskan hari ini dengan bermalam di atas aspal.”

Jean masih bingung. Napasnya tak beraturan akibat luka di siku tangannya. “Jadi Victoria mengetahuinya—bahwa aku adalah adik dari Kyuhyun?”

Hyukjae menggeleng. “Tidak. Sepertinya tidak. Hingga detik ini, tak ada yang mengetahui identitas kakakmu. Jika wanita pirang itu mengetahuinya, maka hal pertama yang diincar Minho adalah Kyuhyun. Mereka sering merekrut anggota lain dengan paksaan dan kau sangat tidak beruntung.”

Keduanya terdiam selama beberapa saat. Hyukjae memberikan kesempatan bagi Jean untuk menerima dengan baik setiap penuturan yang merupakan fakta baru baginya. Gadis itu sama sekali tak mampu untuk sekedar mengolah setiap data yang diperolehnya.

“Ya, Tuhan! Apakah kalian baik-baik saja?”

Keduanya melonjak begitu menyadari seorang pria paruh baya menghentikan kendaraannya tak jauh dari jalan sepi tersebut. Jean bergumam lega hingga harapannya pupus saat penyelamatnya itu tertembus peluru tepat di jantungnya.

Hyukjae menarik tubuh Jean ke dalam dekapannya, melindungi diri mereka di balik badan Range Rover saat beberapa tembakan lain membabi-buta menyerang keduanya.

“LEE HYUKJAE!”

Pria tersebut mengintip dari celah mobilnya saat mendengar seseorang menyerukan namanya. Seorang pria, beserta senapan M14 di tangan kanannya, berjalan angkuh setelah turun dari mobil yang ditumpanginya.

Jemari Hyukjae menggenggam kuat pistol andalannya. Fokus adalah satu-satunya hal terbaik yang ia lakukan saat ini. Sementara itu, Jean membekap mulutnya sendiri saat mayat pria paruh baya tersebut terkapar tak bernyawa. Si pria hanya melintas dan Jean benar-benar merasa bersalah karena pria itu berniat untuk menolongnya.

“Aku tahu kau di sana! Keluarlah pengecut!”

Suara itu kembali menggema di sepanjang jalan bebas yang di apit oleh pepohonan. Ia melayangkan satu tembakan lain ke badan mobil, membuat Jean menggigit bibirnya untuk tidak berteriak.

Hyukjae mengarahkan pistolnya. Setelah memperhitungan sudut dan jarak, ia berlari dan berhasil menusuk lengan Minho setelah menghindar dari beberapa tembakan yang Minho tujukan padanya. Kesempatan itu digunakan Hyukjae untuk menyerang, memberikan pukulan dan tendangan yang—hebatnya, mampu ditepis Minho dengan baik.

Hyukjae mundur. Ssepasang tangannya membentuk perisai untuk melindunginya. Di hadapannya, Minho, masih berdiri kokoh untuk menantangnya.

“Kau bisa saja membakar markas dan menghanguskan teman-temanku, tapi kau tak akan bisa membunuhku!”

Kata-kata Minho menyambut Hyukjae bersama serangan-serangan yang ditujukannya. Pukulan Minho mengenai torso Hyukjae kemudian pria itu membalasnya dengan menyikut pundak dan dada Minho hingga ia mundur beberapa langkah.

Pria itu meringis. Harus ia akui bahwa Hyukjae memiliki bakat bertarung yang luar biasa. Justru itu yang ia nantikan selama ini, melawannya dengan tangan kosong.

“Kau telah membunuh Victoria oleh chip buatanmu,” Minho menggeram seraya menyerang Hyukjae kembali. “dan kau juga telah memusnahkan pasukanku menjadi butiran-butiran debu!” Ia memukul lutut Hyukjae dan memberikan tendangan kuat di wajahnya saat ia berhasil memerangkap Hyukjae dengan gerakan yang ia kuasai.

Kini giliran Hyukjae yang meringis. Senyum ketir menoreh wajahnya saat bercak merah di sudut bibirnya menandakan bahwa Minho berhasil membuatnya terluka.

“Aku akan mengakhiri duel ini dengan cepat jadi kumohon bersiaplah, Lee Minho.” Hyukjae mendesis. Sepasangan matanya menatap tajam di balik poni yang menggantung di wajahnya.

Setelah menciptakan rencana-rencana di dalam otaknya, Hyukjae lantas menyerang Minho dengan kelihaian yang dikuasainya. Si pemimpin organisasi hitam itu sempat menyerangnya beberapa kali namun tubuh Hyukjae cukup gemulai untuk menghindar.

Mematahkan sepasang rusuk Minho, menekuk lehernya, menendang tubuhnya hingga terseret di atas jalan, Hyukjae berhasil menjatuhkan Minho dengan amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya.

Hyukjae melihat pria itu kini memuntahkan darah segar.

“Apa yang kau cari dengan menjadi seorang penjahat, Lee Minho?” tanya Hyukjae dengan napasnya yang terengah-engah.

Ia melirik jam tangannya. Donghae akan segera tiba di lokasi dalam hitungan detik. Partner terbaiknya itu akan membantunya membereskan sisa-sisanya. Maka ia berjalan menuju Jean, mentatih gadis itu untuk berjalan bersamanya.

Jean menemukan Minho terbatuk-batuk di sisi jalan. Gadis itu mencengkeram lengan Hyukjae dengan kuat. Benda yang menghanguskan tempat dan pasukan Minho adalah chip yang diberikannya. Tentu saja, Minho akan mencari-cari kepalanya jika saja pria itu masih berdiri tegap seperti sebelumnya.

“Kau tahu mengapa aku ditakdirkan menjadi seorang penjahat?”

Langkah Hyukjae terhenti seketika, mengamati Minho yang kini tak lebih dari seekor ikan yang menggelepar menunggu ajal.

“Karena aku muak melihat wajah-wajah yang bersembunyi di balik kebohongan pemerintah!”

Minho kemudian melempar sesuatu dari balik tangannya. Hyukjae tertegun. Segera pria itu menarik Jean menjauh saat benda kecil tersebut berguling-guling di atas jalan. Sayangnya, keduanya tak mampu menghindari ledakan dashyat dari granat yang mendarat di Range Rovernya.

Tubuh keduanya terpental jauh, begitu pula dengan tubuh Minho. Jean merasakan dekapan Hyukjae sebelum keduanya mendarat di atas rerumputan tepi jalan.

Sebelum kesadaran Jean menghilang, gadis itu menemukan Hyukjae tak sadarkan diri saat memeluknya. Telinganya mendengung dan tak mampu mendengar apa pun kecuali ledakan lain yang membuat tubuhnya merasakan panas yang membara.

-o-

APA KAU MENGERTI, JENNIFER?” SAHUT PRIA TINGGI BESAR yang berdiri angkuh di hadapannya.

Gadis itu mengangguk malas. Sejak kesadarannya dua hari lalu, ia terkurung di dalam wilayah yang sama sekali tak dikenalnya. Ia tak menemukan sinar matahari dan ia merasa kulit cokelatnya menua dengan cepat.

“Jika kau tak bisa memfokuskan dirimu, sebaiknya kau segera ke kelas taekwondo agar Agent Siwon membuka matamu.”

Kalimat itu seketika menghentak Jean dan membuatnya menjawab dengan tergesa. “Baik. Agent Kangin!” jawabnya lugas.

Ia beranjak dari ruangan tersebut setelah pintu di hadapannya terbuka secara otomatis. Lorong yang terdiri dari beberapa pintu baja itu dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Sebagian besar adalah pria dan wanita muda yang berpakaian sama dengannya—seragam trainee NIS dan juga boots hitam bertali.

Jean sama sekali tak menyapa beberapa petugas dan pelatih yang berpapasan dengannya. Karena sejujurnya luka yang belum sembuh akibat kecelakaan sebelumnya membuat Jean malas untuk berpikir.

Gadis itu berhenti di ujung lorong. Sebuah ruangan besar berbentuk lingkaran menjadi pusat dari wilayah tersebut. Ia mendongak, menemukan atap ruangan yang masih jauh dari batas penglihatannya.

Ya.

Kini ia berada di pusat kegiatan NIS, agent resmi pemerintahan Korea yang keberadaannya merupakan misteri bagi publik. Jangan tanyakan mengapa—tentu saja karena kejadian bodoh dan mematikan yang dialaminya bersama Lee Hyukjae. Setelah Leeteuk, Chef Executive, menjelaskan secara detail mengenai hal-hal yang sulit diterima oleh akalnya, perlahan ia mulai belajar.

Ia menapaki beberapa anak tangga untuk mencapai pusat lingkaran. Dari beberapa kursi dan meja yang berderet rapi, fokusnya tertuju pada satu sosok yang tengah berbincang dengan pria lain yang tak kalah tampan dengannya.

“Hai,” sapa Jean kaku.

Sosok itu menengadah, mencari titik perhatian Jean. “Hai,” balasnya seraya bergumam pada rekannya.

Si pria dengan badge bertuliskan ‘Donghae Lee’ itu lantas menjauh setelah memberi Jean sebuah senyum sederhana.

“Sudah lebih baik?” Jean memberanikan diri. Tanpa perintah, gadis itu memposisikan diri di hadapan si pria. Sepasang tangannya terlipat di atas meja.

“Apa kau pikir aku terlihat lebih baik?” jawabnya seraya mengarahkan pandangan pada lengan kanannya yang terbalut band-aid seperti mumi.

Jean tersenyum. “Begitulah.”

Kemudian tak ada perbincangan lain di antara mereka selama selang waktu tersebut. Gadis itu hanya sesekali menatap Hyukjae tanpa pria itu menyadarinya. Masih ada beberapa luka sayat yang mulai mengering di wajahnya. Namun pria itu masih terlihat tampan.

“Jika tak ada yang ingin kau bicarakan, sebaiknya kau memulai kelas berikutnya.” Hyukjae masih menunduk mengamati gadget-nya.

Jean mendesah.

Ia sama sekali tak mampu mendeskripsikan apa pun. Peristiwa-peristiwa itu terjadi begitu cepat. Bahkan Jean tak menyangka akan berakhir di dalam kurungan NIS untuk menjadi mata-mata baru.

“Maaf,” gumam Jean.

Hyukjae bergeming. Ia tidak segera menyahuti Jean setelah layar digitalnya meredup. “Tak apa. Aku sudah terbiasa dengan luka-luka seperti ini.”

Jean mendongak. Kini ia menemukan sepasang mata hitam Hyukjae mengarah padanya. Gadis itu menggeleng. Sejujurnya tawa kecil yang terselip dalam senyumnya adalah tawa yang ia tujukan untuknya—bukan pada Hyukjae.

“Maksudku, maaf karena telah melukaimu malam itu.” Jean mengoreksi.

Kini giliran tawa Hyukjae yang menggema. Jemarinya menyibak poni rambutnya yang mulai memanjang. “Tak apa. Lagipula ciumanmu lebih cukup untuk menggantikan sejuta maafmu.”

Seketika Jean menunduk. Ia memaki neon-neon yang menerangi sekeliling ruangan tersebut. Cahaya putih itu jelas tak akan mampu menyembunyikan merah yang merebak di wajahnya. Hal-hal singkat yang ia alami bersama pria itu masih membuat otaknya mendadak malfunction. Jika bukan karena Victoria, sesungguhnya ia akan dengan senang hati menggoda Hyukjae.

“Ruanganku di lantai lima koridor sepuluh. Kau hanya perlu memindai ibu jarimu tanpa harus memasukkan kode pada pintu,” ucap Hyukjae seraya beranjak meraih gadget-nya.

Jean melihat pria itu tersenyum sebelum sosok itu meninggalkannya bersama bangku kosong di hadapannya. Ketampanan dan kemewahan Hyukjae tak hanya ditunjukkannya melalui wajah khas-nya, melainkan pula dari cara pria itu berjalan. Setiap alunan tubuh pria itu membuat Jean mengumandangkan desisan yang kian menggila di dalam benaknya.

Damn!

Jean menunduk tatkala ia menemukan Hyukjae melambai pada seseorang di lantai atas.

Itu Kyuhyun.

Dan dari cara pria yang kerap dipanggil ‘hyung’ tersebut memandangnya, Jean tahu bahwa pria itu pun mengetahui apa yang sedang berkeliaran di dalam pikirannya.

“Aku tidak sepertimu, brother. I’m not a pornstar.”

 **END**

Logo 01

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

24 thoughts on “SPY (ii)”

    1. hi sagi 🙂
      iya silahkan membaca~ hmmm, berhubung udah dua tahun gak buka blog, aku cek dulu ya password nya. sebut aja email atau twitter kamu nanti aku kirim via dua alternatif itu 🙂

  1. Oh, My God! Is it just me or emang guenya aja yang ketinggalan jaman?
    Sejak kapan mulai ngeblog lagi, eon? Huhuhu T.T
    Buka email tetiba dapat notif ada postingan cerita baru.

    Siap berfantasi lagi dengan cerita-cerita kerenmu, eon.
    Salam hangat dari “cacamoi” (kalau eonni masih ingat aku :”)

    1. ini cacamoy? ya ampun aku gak lupa sama kamu iiihhhh tapi kalo kamu gak nyebut cacamoi, aku gak ngeh sama nama kamu di atas, wkwkwk~ iya nih lagi mulai nulis lagi ca. makasih ya udah visit. sepi pengunjung nih hiatus hampir dua taun 😦

      1. Kyaaaaa kyaaaa kyaaaaaa ini akuuuuuuu cacamoy heuheuheu
        aku sempet ngira eonni ga akan lanjut nulis lagi, soalnya tiap buka blog eonni selalu ga bisa :”
        Tenang eonni. Nanti para visiters dan readers akan kembali, karena cerita-cerita yg keren juga akan kembali lagiiiiiiiiiii uwahahaha
        Siap-siap aja ya, eon. Kuakan kembali ngerusuh spt dahulu kala mehehehe

      2. ahahahaha pasti dooong. gak akan lupa sama cacamoy yang rame gilak 😝
        well, aku terlalu fokus sama kehidupan pribadi jadk blog aku tutup selama periode itu. tapi sekarang TADAAAAAAA~ cerita-cerita lain udah siap di publish dan dilanjutkan 😉
        makasih ya ca udah ngerusuh lagi 😜

  2. Jean menunduk tatkala ia menemukan
    Hyukjae melambai pada seseorang di
    lantai atas.
    Itu Kyuhyun.
    Dan dari cara pria yang kerap dipanggil
    ‘hyung’ tersebut memandangnya, Jean
    tahu bahwa pria itu pun mengetahui
    apa yang sedang berkeliaran di dalam
    pikirannya.
    “Aku tidak sepertimu, brother . I’m
    not a pornstar .”

    aku kurang ngerti sama bgian ini kak.. yang manggil hyung sapa? kyu? hyuk? ato jean?

    1. hmmmm, coba kira kira maksudnya apa di beberapa paragraf terakhir? silahkan berkhayal dan cari jawabannya sama imajinasi kamu ya sagit 🙂
      gak lupa aku ucapin makasih karena kamu udah komen disini 😘

  3. halo kak, aku baru2 ini tahu blog kamu. Salam kenal ya. setelah aku telusuri walaupun gak semua, aku sukaaaaaak banget apalagi hyukjae story 😀 dan cerita disini anti mainstream dan gak alay kata2nya haha. Trus aku kirain udah ga bakal lanjut nulis dan update gitu u,u
    Dan setelah ada notif imel kalo ada postingan uwaaaaah seneng bgt kalo ternyata authornya mulai nulis lagiii. keep writing ya kak, im really truly in love with your stories!!! Aku fans kamu dan tulisan2mu pokoknya~~
    ngomong2 spy ini, hyukjae jadi makin ganteng kalo dibuat karakternya beginian wkwk misterius cerdas keren seksi gilaaaak. Tengkyu udah dilanjut dan bikin gak penasaran..
    Oh ya cerita lainnya ada niatan lanjutin enggak kak??

    1. hi kricika 😉

      apa kabar disana?
      sebelumnya maaf banget karna kamu sampe nunggu ini blog kebuka lagi. hampir dua tahun? 🙂 sekarang udah buka lagi dooong dan cerita lain siap di publish dalam beberapa hari ke depan.

      yeah aku terlalu fokus sama kehidupan pribadi jadi blog terabaikan begitu aja. makasih ya udah visit lagi 🙂

      salam kenal,
      huglooms

      1. yahhhh.
        jgan lah kk… kok di hapus.. aku penasaran bgt ama ntu ff. karn ada abg enim nya. *kedip kedip mata *
        wkwkwk

      2. hi kak huglooms.. baiiiik aku kabarnya.
        mau gimanapun kehidupan pribadi harus diutamakan dong. 2tahun mah apa sih haha yg penting skrg udah nge blog lagi yeaay \o/
        kakak masih interest buat hyukjae story kan ?? ditunggu ya kaak kelanjutannya. im truly deeply madly in love sama itu cowok hihihi
        oh ya kak, kalo mau baca my name is lee hyukjae sama step forward minta password ke kakak lewat apa ya?

      3. hehehe makasih cika 😘😘😘
        aku bisa kirim lewat email atau DM twitter so kamu sebutin aja username kamu. Hyukjae jelassss selalu jadi main cast ka (meskipun agak bergeser dikit gara gara kai), hehehe 😜

  4. lagi seru2nya baca bagian action, tetiba nemu kata2 “butiran2 debu”. hihi.. XD

    seru nih ceritanya yg spy :3
    btw, blh minta pass buat my name is lee hyuk jae yg part terakhir gak kk?

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s