VOICE NOTE

FF - Voice Note Feat Leeteuk

Requested By:

Janniace

***

KURSI EMPUK YANG DIDUDUKI LEETEUK BERDERIT NYARING SAAT Jinhee dengan tak sabaran membidik tubuh pria itu dengan serangan-serangan mematikan melalui bibir tipisnya. Leeteuk hanya menyeringai malas di antara hujaman ciuman yang dilakukan Jinhee. Terlalu naif untuk menolak hadiah Jinhee di saat ia sendiri pun tengah membutuhkan sentuhan-sentuhan tersebut.

Jinhee merasakan kedua tangan Leeteuk meremas pinggulnya. Pria dengan proporsi tubuh sebaik model-model iklan L-Men itu melakukannya bukan karena hormon Leeteuk menguap akibat kesensualan yang selalu disalurkan Jinhee sejak beberapa menit lalu. Namun, karena Leeteuk seolah menyuruhnya untuk menjauh.

Kebingungan, gadis itu menghentikan ciumannya dan beralih mengamati kekasihnya. Mata Jinhee menatap Leeteuk lekat-lekat, seolah mencari sesuatu.

Bola mata Leeteuk berputar ke sudut matanya, menunjuk pada satu arah yang sama sekali tak dimengerti Jinhee. Setelah Leeteuk membisikkan sesuatu dengan suara rendahnya yang menggoda, Jinhee mengerjapkan mata dengan cepat untuk mengembalikan pikirannya. Mungkin ia terlalu fokus melampiaskan napsunya pada Leeteuk hingga tak mampu menangkap suara gaduh ketukan pintu diiringi teriakan anak kecil yang nampak tak sabaran dari luar sana.

“Sepertinya Dony lupa bagaimana caranya membuka pintu.”

Dada Jinhee bergerak turun. Ia masih duduk dengan nyaman di pangkuan Leeteuk, mengamati kembali suara makian pria kecil tersebut untuk sekedar memastikan bahwa si pengganggu itu memang benar adik laki-lakinya.

“Bukankah kau memang sengaja menguncinya?” Leeteuk mengingatkan kemudian Jinhee menepuk jidat mulusnya cukup keras.

“Kukira bocah itu tak mau pulang dari sekolah. Tunggu, aku akan segera kembali.” ucap Jinhee.

Gadis itu beranjak dari tempatnya setelah melayangkan sebuah kecupan singkat di bibir Leeteuk. Cekung kecil di pipi pria itu muncul seiring bilah senyum yang mewarnai wajahnya. Ia tak pernah bosan saat bersama Jinhee, gadis yang dikencaninya lebih dari usia anjing peliharaan Eunhyuk. Alasannya memang klise: Jinhee adalah gadis yang menyenangkan—bukan hanya menyenangkan saat bicara, namun juga ‘menyenangkan’ saat mereka bercumbu.

Tak lama setelah Jinhee pergi, ia mendengar dua bersaudara Shin saling beradu memperdebatkan lamanya gadis itu bereaksi dalam membukakan pintu rumah. Dony lebih cerewet dibandingkan Jinhee tapi Leeteuk sudah terbiasa seakan-akan ia adalah bagian dari penghuni rumah Keluarga Shin.

Bunyi beep dari atas meja menggugah perhatian Leeteuk. Salah satu sudut ponselnya berkedip merah. Ia paham betul tanda itu dan entah mengapa Leeteuk merasa begitu enggan untuk meraihnya. Sekedar menebak, itu pasti pesan dari rekan kerjanya. Seorang wanita paruh baya yang bisa dibilang salah satu dari sasaeng fans yang selalu mengganggu kehidupan normalnya.

Malas, Leeteuk mengangkat ponsel layar sentuh miliknya hingga setara dengan dagu.

One Voice Note Received

Begitulah yang ditunjukkan layar ponsel setelah Leeteuk menekan tanda unlock. Permukaan ibu jarinya menyapu kaca bening yang melapisi LCD bergambar Miranda Kerr. Dua angka pertama pada voice note tersebut membuat alisnya mengerut.

Nomor tak dikenal, berkode +62.

Angka itu tidak merujuk pada kode negaranya. Dan sekalipun voice note tersebut dikirim dari salah satu fansnya, ia tahu betul bahwa posisinya sebagai seorang Manager Operasional di perusahaan IT Korea Selatan belum mencapai kemasyhuran hingga pada tingkat internasional.

Dengan acuh, Leeteuk mengarahkan ibu jarinya pada deretan perintah lain. Tersisa sepersekian detik saja sebelum ia menekan tanda delete. Namun, secara otomatis, muncul kotak dengan garis panjang yang berputar-putar pada layar ponselnya, sama seperti benda yang menjadi simbol di setiap sudut barber shop.

Tertulis tanda downloading di sana.

Leeteuk tak ambil pusing. Ia membiarkan gadget kesayangannya mengungah suara-entah-siapa tersebut karena setelah itu ia akan segera menghapusnya. Tak butuh waktu lama, ponselnya menjerit sejenak untuk memberi tahu si pemilik bahwa unggahannya telah mencapai titik komplit.

Lagi, Leeteuk mengerutkan alis begitu hasil download-nya berputar dengan sendirinya. Setahunya, ia tak pernah mengatur ponsel secara otomatis dalam segi apapun—kecuali alarm. Ia juga tidak meminum alkohol yang mampu membuatnya linglung untuk melakukan tindakan tersebut.

Sambil menguap dan menggeliat, pria itu meletakkan speaker ponselnya tepat bersentuhan dengan daun telinga. Entah perasaannya saja atau bukan, bunyi gaduh yang ditimbulkan Jinhee dan Dony di luar ruangan tersebut seketika meredam seolah tertelan dinding kedap suara.

Telinga Leeteuk mendengung saat itu juga, membuatnya terjaga dengan melemparkan pandangan ke sekelilingnya. Yang tertangkap indera pendengaran Leeteuk hanya bunyi gemerisik angin yang berhembus kasar dari voice note yang tengah diperiksanya. Semua berubah hening dan redup. Bahkan, suara detak penghitung waktu pun tak tertembus oleh gendang telinganya.

Bingung, pria itu menjauhkan ponsel darinya.

Leeteuk kembali mengecek layar. Garis kecil yang bergerak pada player menunjukkan bahwa voice note yang diterimanya masih memutarkan rekaman tersebut.

Ada lagi.

Pada penghitung durasi, aplikasinya itu tidak menunjukkan berapa lama rekaman tersebut akan berakhir. Hanya tertera angka 00:00 sementara suara tersebut telah berputar lebih dari 00:23 detik.

Pria itu mencoba menekan tanda merah untuk mengakhiri suara konyol tersebut. Usahanya tidak cukup jitu karena garis pada player masih bergerak dengan langkah yang berirama.

Mencegah kelemotan yang sering dialami ponselnya, Leeteuk memutuskan untuk kembali mendengarkan voice note tersebut. Untuk kedua kalinya ia mengalami sensasi yang sama saat pertama kali mendengarkan rekaman tersebut. Suara di sekeliling Leeteuk meredam seolah tenggelam di dalam air. Dan saat gemerisik angin dari voice note meresap ke dalam telinganya, tubuh Leeteuk seperti diselubungi oleh sesuatu yang tak nampak.

Selain hembusan angin, samar-samar Leeteuk mendengar bunyi bel yang berdentang serta suara aliran sungai. Sebenarnya, rekaman itu sangat cocok untuk mengiringi yoga. Namun efek yang ditimbulkan justru membuat Leeteuk dikelilingi kebisuan. Leeteuk merasa bahwa ia hanya sendiri di ruangan tersebut. Tak hanya di dalam ruangan, tapi sendirian di atas bumi yang dipijaknya.

Kepala Leeteuk yang semula menunduk lantas mendongak saat merasakan siluet seseorang terbentuk di hadapannya. Untuk pertama kalinya, jantung pria itu berdebar hebat melihat sosok Jinhee muncul dari balik pintu. Bahkan ia sempat mengucap syukur karena siluet itu memang benar seorang Jinhee.

Otot-otot di wajah Leeteuk mengerucut seiring gadis itu melangkah menghapus jarak di antara keduanya. Suara-suara yang berkumpul di dalam voice note berlalu-lalang di telinganya. Kedua mata Leeteuk memang mengamati Jinhee yang, sepertinya, tengah mengucapkan sesuatu dengan samar-samar. Namun pikiran pria itu tetap tertuju pada rekaman voice note.

Rekaman yang berubah menjadi bisikan seseorang.

“Aku paling tidak suka melihatmu menelpon seseorang saat sedang bersamaku!”

Hardikan Jinhee berhasil membuat dengung di telinga Leeteuk menghilang dalam sekejap. Pria itu mengerjapkan mata beberapa kali.

Oh, ia seperti sedang bermimpi.

“Apa kau sempat menggunakan android-ku?” tanya Leeteuk tiba-tiba.

Jemarinya menggenggam ponsel cukup erat. Panas dari baterai ponsel menjalari tubuh Leeteuk hingga pori-pori di pelipisnya meneteskan peluh dingin.

“Tidak. Apakah ada seseorang yang menghubungimu?” Jinhee melempar kembali pertanyaan Leeteuk.

Pria berambut blonde tersebut menggeleng. “Kukira kebiasaan burukmu masih belum hilang juga. Sepertinya seseorang salah mengirimkan voice note. Omongannya agak melantur dan—“

Leeteuk menelan ludah saat layar ponselnya kembali pada tampilan semula.

Tunggu.

Ia belum mengakhiri putaran voice note tapi aplikasi pemutar rekamannya telah menghilang dari tampilan LCD. Pria itu mengotak-atik gallery dan folder penyimpan voice note. Anehnya, ia tak menemukan rekaman terakhir yang diunggahnya.

Voice note tersebut menghilang, dan ia tak berhasil menemukannya.

“Jangan bercanda, Oppa. Sebaiknya kita pindah ke ruang tamu atau Dony akan menelpon ibunya karena memergoki kita tengah berciuman di kamarku,” titah Jinhee.

Gadis itu lantas menarik pergelangan tangan Leeteuk, menggiring pria berotot itu menuju tempat paling umum di dalam huniannya. Dari keriangan Jinhee, sepertinya gadis berparas oriental itu tak mempedulikan sorot kebingungan yang sedari tadi memenuhi wajah kekasihnya.

Voice note itu masih membentuk awan hitam di atas kepala Leeteuk. Ia hanya berharap rekaman itu hanyalah ulah usil preman-preman pasar ikan di wilayah Incheon yang ingin menakuti orang-orang pengecut di luar sana. Namun saat ia mengingat kembali bisikan yang sangat sulit ditangkap dengan jernih oleh sarafnya, rasa dingin itu menggelayar di sekujur tubuh Leeteuk. Ia hanya mampu mengartikan kalimat terakhir yang diucapkan suara lirih tersebut.

Dan tanpa sadar pria itu menggenggam jemari Jinhee dengan erat.

…sebagai contoh, kau akan mengetahuinya saat kuberikan sebuah kejutan pada orang yang ada disampingmu…

-o-

EMPAT PULUH LIMA MENIT. JIKA LIMA BELAS MENIT LAGI JINHEE TAK kunjung kembali dari toilet umum, Leeteuk besumpah akan menerobos area khusus wanita itu dan menyeret kekasihnya untuk duduk manis di sampingnya. Ia masih menunggu satu hadiah lagi yang dijanjikan Jinhee selain tart mini yang sengaja disiapkan gadis itu sebelum kedatangannya.

Bosan. Leeteuk berada pada keputusan terakhirnya.

Ia melangkah pasti menuju petunjuk arah toilet wanita. Leeteuk sempat mengintip sebisanya di depan sebuah pintu dan beruntunglah tempat itu nampak sepi dari lalu-lalang pengunjung cafe.

Pintu dibuka perlahan dan Leeteuk menemukan tas tangan Jinhee tergeletak disamping salah satu dari tiga wastafel yang tersedia. Tak ada siapa-siapa di sana. Toilet yang terbagi menjadi tiga sekat tersebut masing-masing tertutup sempurna. Leeteuk sempat memanggil Jinhee meski tak ada jawaban maupun sahutan dari si pemilik nama.

Penasaran, Leeteuk mencoba mengecek setiap pintu toilet dan langkahnya terhenti pada pintu kedua yang tak kunjung terbuka meski ia mendorongnya dengan kuat. Sekali lagi, pria itu memanggil nama Jinhee sembari mengetuk daun pintu. Tak ada sambutan dari dalam sana. Hanya bunyi tetes air dari keran wastafel saja yang menjawab sahutan Leeteuk.

Terpengaruh oleh film-film horror yang sering ditontonnya, Leeteuk menendang pintu toilet setelah mempertimbangkan uang ganti-rugi yang akan ditanggungnya. Pemisah itu terbuka dalam sekali pukulan kaki liar Leeteuk. Sejurus kemudian, pria itu terpaku di tempat saat menemukan Jinhee, dengan mata terbuka, tergeletak tak sadarkan diri di atas septic tank.

Sekujur tubuh Leeteuk bergetar tak terkendali. Jemarinya refleks meremas mulut dan wajahnya.

Dress putih tulang yang dikenakan Jinhee dipenuhi bercak darah yang menyembur dari beberapa goresan yang cukup dalam di beberapa bagian tubuhnya. Selang shower yang membelit leher Jinhee membuat wajah gadis itu pucat parah. Leeteuk bergegas menghampiri tubuh tak bernyawa Jinhee, memeluknya erat sembari mencari tanda-tanda kehidupan yang masih tersisa.

Mata Leeteuk berkaca-kaca. Bau amis dari darah Jinhee yang menyebar di atas lantai dan dinding toilet itu menusuk-nusuk penciumannya.

Tidak.

Jinhee tidak akan melakukan praktek percobaan bunuh diri mengingat gadis itu selalu open-minded dan periang. Dan lagi, Jinhee hidup dalam damai tanpa memiliki musuh yang mencolok. Siapa yang dengan teganya melakukan perbuatan keji ini?

Leeteuk berteriak histeris dan mengakibatkan beberapa orang yang ada di sekitar toilet berhamburan mengelilinginya.

Kini, pertanyaan sesungguhnya adalah, apa yang sesungguhnya terjadi pada Jinhee?

-o-

PEMAKAMAN JINHEE BERLANGSUNG KHIDMAT KEESOKAN HARINYA. Keluarga serta teman terdekat saling bergantian memberikan ucapan bela sungkawa pada kedua orang-tua Jinhee. Tak lupa, pada Leeteuk, kekasihnya.

Setelah melantunkan doa, pria itu memutuskan untuk meninggalkan tempat lebih dulu. Kemudian Leeteuk menemukan sebuah bangku panjang yang masih berada di area pemakaman sebelum memutuskan untuk duduk di sana.

Keluarga Jinhee menyambut bela sungkawa Leeteuk dengan kesedihan yang sama setelah polisi memastikan dirinya terbebas dari segala tuduhan—CCTV cafe menunjukkan bahwa Leeteuk lah yang menemukan mayat Jinhee, bukan pembunuh—mengingat tak ada sidik jari orang lain yang melekat di tubuh Jinhee selain miliknya.

“Aku turut berduka cita.”

Leeteuk mendongak. Eunhyuk, sahabat terbaiknya, tersenyum tipis lantas menempatkan diri duduk disampingnya. Keduanya bernapas dengan berat. Jas hitam yang dikenakan Leeteuk membuat pria itu melepas beberapa kancing teratas kemejanya. Malam sebelumnya dilalui Leeteuk dengan kesedihan. Kematian Jinhee seolah membunuh sebagian dari jiwanya.

“Jinhee adalah gadis yang periang. Rasanya tak mungkin ia bunuh diri tepat di saat kalian berdua merayakan ulang tahunmu,” ucap Eunhyuk.

Leeteuk tak merespon. Dugaan sementara yang dikumandangkan polisi masih mengganjal di hatinya.

Bunuh diri? Apa mungkin?

“Padahal beberapa hari lalu kami masih saling berbagi tawa. Aku masih ingat saat Jinhee menakut-nakutiku dengan nomor hantu yang didapatnya dari seseorang,” celoteh Eunhyuk, sekedar menghibur dirinya dan teman disampingnya.

Leeteuk tertegun.

“Nomor hantu?”

Yeah. Kau tahu ‘kan betapa takutnya aku dengan hal-hal mistis seperti itu,” jelas Eunhyuk diselingi kekehan hambarnya.

Kata-kata Eunhyuk lantas mengingatkan Leeteuk akan voice note yang diterimanya beberapa hari lalu. “Apakah nomor itu berawal dengan angka +62?”

Eunhyuk membulatkan kedua matanya. Tawanya menghilang seketika. “Bagaimana kau tahu?”

“Tepat sehari sebelum Jinhee meninggal, aku menerima sebuah voice note dari nomor itu. Suaranya aneh dan aku tak bisa melakukan apapun selama suara itu berputar. Kudengar seseorang berbisik dan—“

“Jangan, hyung!” Eunhyuk meremas bahu Leeteuk kencang. “Jangan lanjutkan!” Tatapannya berubah tajam dan bibirnya bergetar.

Voice note itu mengatakan bahwa ia akan memberi sebuah contoh pada seseorang yang duduk disampingku dan—“

“Tidak!”

Eunhyuk beranjak dari tempat duduknya, berjalan beberapa langkah menjauhi Leeteuk.

“Kau mengetahui sesuatu, Lee Hyuk Jae.”

Pria yang lebih tua dari Eunhyuk itu ikut berdiri. Ia agak kesulitan mendapatkan perhatian Eunhyuk karena pria dengan julukan ‘pemimpin kumpulan teri’ itu mondar-mandir gelisah di hadapannya.

“Seseorang,” Eunhyuk meremas rambut merah maroon-nya. “Jinhee menyebutkan bahwa seseorang dari Indonesia mati mengenaskan saat pria disampingnya menerima voice note dari nomor itu, Hyung. Aku tak tahu jika Jinhee melakukannya… melakukannya melalui ponselmu.”

Suara Eunhyuk bergetar saat menuturkan kalimat tersebut. Leeteuk tercenung di tempat. Ia mencoba memahami kata-kata Eunhyuk meski pikirannya sulit untuk bersikap fokus.

“Aku tidak mempercayai hal-hal mistis—“

“Begitu pula denganku!” Suara Eunhyuk meninggi. “Jauhkan ponsel itu darimu, hyung! Inilah alasan mengapa aku tidak pernah mau menggunakan android!” teriaknya, mengarahkan telunjuk pada ponsel layar sentuh yang sedari tadi digenggam Leeteuk.

“Tapi—“

“Jangan mendekatiku selama kau memegang ponsel itu!”

Ekspresi Eunhyuk begitu dalam saat meneriaki kata-kata itu. Matanya menyoroti Leeteuk bahwa ia bersungguh-sungguh. Saat Leeteuk berniat untuk menghampirinya, Eunhyuk menggeleng pelan lantas berlari menjauh dari sisi Leeteuk. Sejauh yang ia mampu.

Rahang Leeteuk mengeras. Ponselnya dibanting cukup kencang hingga bertubrukan dengan kaki bangku. Kedua lututnya terkulai, jatuh ke permukaan semen yang melapisi jalan setapak pemakaman. Pria itu menangis dalam diam.

Tidak.

Ia tidak menyalahkan Jinhee atas ulah iseng berbuntut kematian ini. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu mengawasi Jinhee. Ya. Seharusnya ia mengawasi Jinhee saat gadis itu bermain-main dengan ponselnya.

Tangis Leeteuk terhenti mendengar kaki bangku yang sempat didudukinya bergetar. Getaran itu dari ponselnya. Ponsel bodoh yang membawa malapetaka bagi Jinhee.

Pria itu meraih android-nya. Matanya membulat merah saat ia menemukan angka +62 muncul mengirimnya sebuah voice note lain. Seolah dikendalikan oleh sihir, voice note itu meengunggah dan berputar pada player dengan sendirinya.

“YOU, BASTARD! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA JINHEE!” maki Leeteuk. Tak peduli dengan suara-suara yang ditimbulkan rekaman tersebut karena ia benar-benar di luar kendali sekarang.

Amarah yang disalurkan Leeteuk pada voice note itu tak berlangsung lama hingga seseorang di balik punggungnya membuat Leeteuk terjaga. Pria itu membalikkan tubuhnya, masih dengan voice note yang bermain-main ria pada aplikasi player-nya.

“Maaf aku terlambat ke pemakaman Jinhee, Hyung. Apa kau baik-baik saja?”

Voice note yang didengar Leeteuk seketika berhenti. Pria itu mengamati layar ponsel sebelum akhirnya menatap miris pada pria yang menyapanya tiga detik lalu.

“Lee Sungmin?”

…don’t play around with demons, lil’ kid. For instance, you’ll know it when i give a surprise to someone beside you…

END

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

18 thoughts on “VOICE NOTE”

  1. Haaa… Serem eonni, buktinya ni detak jantungku kedengeran banget DUK DUK DUK…
    Bacanya tengah malem lagi =-O

    Aku gak mudeng sama endingnya eon, kenapa Sungmin tiba” muncul? apa hubungannya?

  2. siapa itu yg ngirim voice note???????
    pas baca genre’y agak ragu mo baca coz tengah mlem hiiiii…..tp ttep aj lnjot
    sungmin???? ap ad hub’y ah g ngrti ttep aj seru kha,,,,

  3. njiirr… serem bangett!! apalagi waktu jinhee meninggal..
    tapi hubungannya sama sungmin apa, eon???
    jadi pusing sendirii… -,-“

  4. awalnya sedikit *ehem* ekstrim *ehem* aku kan masih polos eonni~ *plak
    Eonni, seriusan kurang panjang! Panjangin lagi pasti lebih greget! hihi
    Jahat banget itu voice note nomornya dari indonesia T..T

  5. Oh eonni..
    Kasian ya Leeteuk oppa, udah oppa ama aku aja kan jinhee nya udah meninggal jadi oppa jgn sedih, masih ada aku kok. #peluk leeteuk oppa
    eon aku masih gak mudeng nih, kok endingnya gitu. Blm slesai itu mah eon. Jgn bkin ff yg gantung lagi eon, atau nanti eon yg aku gantung. #kabur
    tp tetep daebak kok eon.

    1. ko kam labil sih dek? hyukjae digaet, bang leeteuk juga? kamu mau ribut sama onn? ayo dah *buang tiker*
      hahahaha kan biar kek thriller luar negri dek, endingnya begitu emang sengaja. cuma ngasih tau doang kalo voice note itu gak akan berhenti selama si pemilik ponsel gak nge-destroy ponselnya. begitu bebiiii 😀

      1. Iya, aq emang labil eon,.
        Semenjak Leeteuk wamil, aq jadi kepincut sama si hyuk jae.
        Tp tetep yg pertama dihatiku just Leeteuk, kalo hyuk buat pelampiasan aq aja selama 2 thn ini.
        Apa eon bkin ff ini krn leeteuk oppa ultah ya eon?
        Apapun ffnya yg main castnya Leeteuk oppa bkal Keren deh.
        Wkwkwk

  6. serem bangetttt
    jadi selanjutnya adalah lee sungmin? huaaa serem nyaaa
    aku langsung berdebar debar baca nya
    sedih juga begitu tau sungmin selanjutnya hiks hiks
    itu nomornya dari indo lagi
    heeehh siapa itu yang ngerjain leeteuk? mana orangnya? eh mana hantunya? xD

      1. Ini ngapain si Nona cerewet-yang-obi-menistakan-pria-berbibir-sexy-aka-Donghae udah nyangsang disini aja neh???

        Sophie tuh rusuh Kha~ Lebih rusuh dari Gueeee…. Hahahaha~
        Siap” aja yak….

        *kabur sebelum dilepmar Sophie pake lampu*
        *scene di why,why,why part 2* XD

  7. Haloooo… Ini kunjungan pertamaku di sini, tadi baru dapet rekomen dari Lia (@chocho_lia). Salam kenal ya… (masih bingung manggil apa).

    Ini nyeremin bgt. masih aja gemetaran sih kalo bca horor ginian. T.T etapi ini aku ingetnya sama film the ring lho, yg ada videonya dan siapa yg nnton video itu pasti bakal mati. Heuu… *makin merinding*
    dan itu… Kalo cerita ini dilanjutin, berarti sungmin dong yg mati? Soalnya siapa aja yg ada di samping org yg mainin voice note itu bakal mati kan? Well, kalo aku jadi leeteuk, mending bb.nya aku ancurin aja deh. buang ke sungai ato apa kek gitu ketimbang megang benda angker kek gitu. LOL

    overall, aku suka cerita ini. Penulisannya rapi. 🙂

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s