EXO PLANET “Chapter 12” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASER

KIM JONGHYUN DAN AMBER LIU. ORANG-ORANG AKAN MENGANGGAP mereka sebagai sepasang saudara kembar jika saja keduanya memiliki marga dari keluarga yang sama. Dua makhluk dengan spesies yang bertolak-belakang tersebut terlalu mirip untuk dikategorikan sebagai saudara kembar. Wajah identik; hobi identik; kebiasaan yang identik.

Teman mereka dapat membedakan Jonghyun dan Amber hanya melalui tiga cara: gaya rambut, nada suara, dan sifat mereka. Hal yang sama—yang dilakukan Sunhwa saat ia dikelilingi oleh keduanya.

Sunhwa duduk dengan menyilangkan kaki pada salah satu bangku besi yang berderet di sepanjang sisi lorong rumah sakit. Disampingnya, Amber, tidak melakukan kegiatan lain selain mendongakkan kepala. Bola matanya bergerak tidak stabil mengikuti objek yang dilihatnya.

Yeah. Siapa lagi jika bukan Kim Jonghyun.

Si muscle pig itu tidak memiliki kesabaran yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan Amber. Lima belas menit berlalu, ia masih—dan tetap—melakukan hal yang sama. Sesekali Jonghyun mengusap wajah atau menggosok rahang tegasnya untuk menghilangkan gusar.

“Apa sebaiknya kita pulang?” Sunhwa bertanya tanpa menatap Jonghyun maupun Amber. Kepalanya menoleh ke samping, mengamati parsel yang sengaja disiapkan khusus oleh ketiganya sebelum memutuskan mengunjungi Cho untuk kedua kalinya.

“Setidaknya tunggu eomonim muncul terlebih dahulu,” jawab Amber. Ia memijat otot-otot di sekitar leher dan bahunya. Mengamati Jonghyun selama lima belas menit ternyata melelahkan. Dan juga membosankan.

“Sebenarnya apa yang ada di benak si mata tiga itu?” Nada suara Jonghyun meninggi, mengagetkan seorang petugas rumah sakit yang melintas disampingnya.

Sunhwa menyentuhkan telunjuknya di bibir. Tindakan yang cukup jitu untuk menyuruh Jonghyun tidak membuat gaduh.

“Guru Shin pernah menjelaskan bahwa ketika seseorang terbangun dari ketidaksadaran yang cukup lama, ia akan mengalami semacam ‘halusinasi’ atau ‘fatamorgana’ atau… entahlah, aku tak tahu persis istilah-istilah kedokteran.”

“Jadi maksudmu aku adalah pria yang merasuki mimpi Cho selama lebih dari sepuluh hari ia terbaring kaku pasca kecelakaan?”

Langkah Jonghyun terhenti tepat di hadapan Sunhwa. Kelopak matanya bergerak turun saat pria itu menyorotinya dengan tatapan tak percaya.

Well, yang jelas hampir seisi kelas kita me-retweet apa yang kutulis kemarin.” Amber menimpali, membuat laser yang muncul dari bola mata Jonghyun seketika tertuju padanya.

Jonghyun mengeratkan kepalan di kedua tangan. Gigi-giginya yang berderet rapih kini menyatu, bergemurutuk menahan amarah yang ditundanya sejak dua puluh jam lalu. Jika Amber bukanlah salah satu dari teman baiknya—dan ia bukan seorang wanita, mungkin saat ini Jonghyun telah melayangkan tinju-tinju mematikannya yang ia pelajari dari Kim Jongkook, pelatih gym yang biasa ia temui setiap hari Minggu.

Kunjungan pertamanya disambut oleh pukulan dan cakaran dari Cho Ikha. Ini adalah hari ke-empat pasca kejadian memalukan tersebut dan gadis yang telah terbangun dari mimpi panjangnya itu masih tak ingin menemui Jonghyun. Sialnya, hal itu justru menjadi lelucon bagi Amber. Bahkan, gadis tomboy itu mempublikasikannya melalui jejaring sosial.

Santapan lezat bagi para pecinta gossip di kalangan murid Seoul High School.

“Kau pikir semua yang diucapkannya masuk akal, eh? Bagaimana mungkin aku berubah menjadi pria berjubah yang mampu menghentikan waktu; menghajar para prajurit yang namanya lebih aneh dari nama latin sayuran-sayuran di kulkasku; atau bahkan mencoba merebut pedang appocalipse dari dirinya—yang mengaku sebagai hamboosh?”

Afftheurcaly, Kim Jonghyun. Dan huglooms, bukan hamboosh.” Sunhwa mengoreksi.

Whatever, i don’t even care about those shits!

Jonghyun meletakkan kedua tangannya di pinggang. Pupil hitamnya bergerak ke sudut mata, memperhatikan sebuah pintu—dengan kaca tembus pandang di titik pusat—yang tak kunjung terbuka sejak Nyonya Cho memutuskan untuk membujuk Cho Ikha.

Amber terkekeh. “Kau dengar apa yang diteriaki Cho saat kau muncul? Ia mengatakan bahwa wajahmu menyerupai pria itu, namamu, bentuk tubuhmu, bahkan caramu bicara.”

“Dan kenapa hanya aku yang muncul di mimpi anehnya?”

Amber dan Sunhwa mengabaikan pertanyaan Jonghyun saat mendengar pintu yang sempat diamati pria itu mengeluarkan bunyi pelan. Ketiganya membungkuk sopan begitu seorang wanita, diiringi dua perawat, muncul dan menyuruh mereka untuk masuk sementara ia harus mengurus sesuatu.

Sunhwa menyikut torso Jonghyun. Geli melihat ekspresi si muscle pig yang berubah drastis saat bertatap muka dengan Nyonya Cho. Amber lantas menahan langkah Sunhwa saat hendak memasuki ruangan. Sesuatu di antara celah pintu hampir saja membuatnya tersentak.

Itu tangan seseorang.

Gerakan yang ditunjukkannya mengisyaratkan agar ketiganya tidak melangkah lebih jauh. Jemarinya kemudian menjepit daun pintu. Jarum infus yang melekat di punggung tangan membuat kulitnya nampak pucat. Jonghyun bahkan membisu selama beberapa detik saat melihat kuku-kuku si pemilik tubuh itu seperti kucing peliharaan noona-nya. Panjang, tak terurus dan nampak tajam seperti cakar Wolverine.

Yah, Kim Jonghyun. Karena Amber telah menjelaskan bahwa kau bukanlah salah satu dari pemimpin SHINee World, kau boleh masuk asalkan tidak membawa senjata apapun.”

Dua gadis yang mengapit Jonghyun menyemburkan tawa bersamaan. Si pemilik tangan pucat ternyata adalah Cho Ikha. Gadis itu bersembunyi di balik pintu selama jemarinya membentuk kode-kode yang—Jonghyun sendiri pun—tak mampu mengartikannya secara teoritis.

Pria yang sama tingginya dengan Sunhwa menatap kedua temannya bergantian. Tatapannya absurd: bingung, linglung bercampur emosi. Sunhwa menggedikkan bahu, diikuti Amber yang nampak tak peduli dan memilih untuk memasuki ruangan lebih dulu.

Sementara Jonghyun, pria itu meremas-remas jemarinya sendiri seolah haus dan terobsesi untuk memukul wajah siapa pun.

“Apa kau pikir aku ini memiliki titisan darah Jackal yang akan membunuhmu dengan sadis menggunakan pisau daging? Lalu apa lagi yang kau sebut barusan? Shiny? Kau pikir aku ini anggota boyband di agensi Lee Soo Man? Begitu?”

Suara Jonghyun melengking mengalihkan keheningan di sekelilingnya. Tubuhnya terhenti tepat di dekat pintu, mengamati Cho yang nampak riang menaiki kembali bangsalnya. Gadis itu melipat kedua kaki seraya melambai antusias, menyuruh Jonghyun untuk berdiri lebih dekat dengannya.

“Lihatlah betapa warasnya teman tercintaku!”

Itulah teriakan terakhir Jonghyun sebelum gadis itu memberinya sebuah pelukan hangat.

-o-

SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS BERCERITA, CHO IKHA? AKU BUKAN Amber atau pun Sunhwa yang mau mendengarkan ocehanmu dengan senang hati dan penuh kesabaran!”

“Tunggu hingga kuceritakan bagian dimana aku dan caastè Krypth bertarung melawan pasukan batu dan hantu abu berjenggot di pulau maritimo, Jong.” Kemudian Cho kembali melanjutkan kisahnya dan membuat Jonghyun mengaduh sendirian.

Masih di hari yang sama, keluhan Jonghyun bergulir sepanjang menitnya selama ia mendengar racauan Cho yang tak kunjung menemui titik akhir. Jonghyun melenguh seperti babi hutan yang terjebak di dalam lubang, berguling di atas kursi panjang yang ada di sudut ruangan kemudian kepalanya menusuk-nusuk dinding di balik punggungnya.

“Bagaimana dengan kehidupan di EXO Planet? Apakah di sana ada mesin pembuat kopi?” tanya Sunhwa.

Gadis itu menghampiri Cho setelah mengaduk-aduk isi hoodie-bag, menyerahkan beberapa buku pelajaran yang sengaja diminta Cho selama ia melewati hari-hari sekolah. Sunhwa terkekeh begitu menemukan Jonghyun tengah membulatkan mata ke arahnya. Bibir pria itu bergerak mengucapkan kata ‘hajima’ tanpa suara. Hal-hal nonsense yang didongengkan Cho selama satu jam itu nyaris membunuhnya dalam kejenuhan. Dan Sunhwa malah memancing si pembunuh untuk menyiksanya secara perlahan.

Detik berikutnya, Cho lagi-lagi mengoceh seperti reporter berita politik mengenai betapa bahagianya gadis itu dapat kembali ke bumi. Cho juga sempat membandingkan papipluvius dengan layangan, mengakibatkan satu-satunya pria di ruangan itu terkena migrain dadakan.

“Lihatlah dirimu, Cho Ikha. Eomonim terus menangisimu selama kau tak sadarkan diri dan kau malah terus mengoceh mengenai dunia yang sama sekali tak pernah ada di jagad raya ini. Apa kau belum sadar juga—bahwa selama ini kau hanya bermimpi?” tukas Jonghyun.

“Bermimpi?” Cho tergelak. “Impossible, Jjong. It seems real to me. All of them. Semuanya sangat, sangat masuk akal dan—oh, kau tahu hantu yang mengikuti dengan mata biru yang menyala-nyala? Dialah yang membawaku ke dunianya.”

Amber dan Sunhwa tak dapat menahan tawa begitu Jonghyun berteriak sembari menarik rambutnya sekuat tenaga, memohon pada Cho untuk menghentikan cerita-cerita fantasi yang baru saja dikarangnya. Cho Ikha justru malah menatap bingung. Terutama saat Amber mengedipkan mata menyuruh Jonghyun mengiyakan segala ucapannya.

“Beruntunglah Keluarga Lee bertanggung-jawab atas kecelakaan ini. Jika tidak, mungkin selamanya kau akan menjalani kehidupan di planet itu.”

Alis Cho mengerut. Entah mengapa ucapan Amber seolah mengandung ejekan di dalamnya. “Keluarga Lee?”

“Dari ekspresimu, sepertinya Eomonim belum menjelaskan bagian itu.”

“Ah!” Cho menjentikkan jari. Benar, ia terlalu sibuk bercerita sementara ibunya pun terlalu gembira melihatnya terjaga—mengiyakan apapun yang dikatakannya. “By the way, siapa mereka?”

Jonghyun meluncur secepat angin, duduk di sisi bangsal di mana Cho masih melipat kedua kakinya sambil mengayun-ayun selang infus. “Orang itu tidak seberuntung dirimu. Ia masih tak sadarkan diri setelah mobilnya menabrak taksimu malam itu. Under licence, tak mampu mengendalikan kesadarannya di bawah pengaruh alkohol.”

“Pria itu sangat kaya. Keluarganya lah yang membiayai semua pengobatanmu. Sayang sekali ia juga bernasib sial sepertimu—terbaring seperti mayat di ruangan lain.”

“Kudengar kemungkinan hidupnya dibawah 40%. Organ dalamnya rusak parah.”

Amber dan Sunhwa saling bersahutan memberikan keterangan.

Cho mengangguk pelan seraya bersandar pada bahu bangsal. Matanya menatap neon putih di atap ruangan. Tak lama kemudian pupilnya beralih untuk mengamati ruangan yang telah ditinggalinya selama satu minggu pasca kesadarannya. Ayahnya hanya seorang pegawai swasta dan ibunya pemilik toko kecil yang menjual makanan khas Korea di daerah Namdaemun. Rasanya memang tidak masuk akal jika kedua orang tuanya membayar fasilitas dan alat-alat mahal di sekelilingnya dengan gaji mereka yang tak seberapa.

Satu lagi.

Ia hanya mampu mengingat partikel nomenos Kai meraung-raung melingkupinya saat kendaraan yang menghantam tubuhnya itu membuatnya tak sadarkan diri.

“Menyangkut ceritamu sebelumnya, apa yang kau lakukan hingga kau dapat kembali ke bumi?”

Pertanyaan Sunhwa seketika menyatukan kesadaran Cho yang sempat melayang-layang bebas di dalam kerumunan pikirannya. Dari ketiga teman terbaiknya, hanya keingintahuan dan ketertarikan Sunhwa saja yang membuatnya antusias. Bisa dibilang Amber masuk ke dalam hitungan tapi tidak dengan Jonghyun.

Pria itu memagutkan dagu karena Sunhwa lagi-lagi melemparkan pertanyaan yang sama konyolnya dengan cerita Cho. Setahunya, Sunhwa lebih banyak membaca novel teenlit dengan kisah romance yang menggelitik—bukan cerita-cerita fantasi yang mempercayai keberadaan naga atau pun kuda bertanduk.

Tawa yang menghiasi wajah Cho hanya bertahan selama sepersekian detik. Mata cokelatnya meredup seiring lembar ingatan di tumpukan berkas otaknya menghentak pusat kepalanya. Pertanyaan Sunhwa mengingatkannya pada scene terakhir sebelum ia dapat menghirup oksigen dengan nyaman.

Tangan mayat Lee Taemin.

Suara lengkingan Audaces dan Uro.

Retakan tubuh Taemin yang mengenai wajahnya saat afftheurcaly berhasil menembus jantung pria kurus tersebut.

Teriakan Baekhyun yang terdengar begitu samar di telinganya.

Bahkan, desah napas Kai saat pria itu membisikkan sesuatu yang tak mampu ditangkapnya dengan jelas.

Semua yang nampak tak nyata itu membuat Cho memejamkan kedua mata. Ia mencoba mengulang kembali segala yang mampu diingatnya meski suara desing yang mengiang di kepalanya justru membuat scene-scene tersebut memudar—berubah menjadi hitam-putih dan berputar dengan cepat hingga ia tak mampu menangkap wajah Kai.

Cho mengusap pipi kanannya kemudian tersenyum tipis. Tak ada bekas luka di sana, wajahnya mulus tanpa noda. “Kai mengembalikan jiwaku setelah Taemin membuatku tak berkutik.” Ia bergumam, tak lagi bersemangat seperti semula.

“Siapa lagi Kai? Pria yang mampu mengendalikan angin itu maksudmu?” olok Jonghyun.

“Bukan, Jong.” Cho mengoreksi. “Dia adalah satu-satunya pria yang telah menggeser posisi Heechul Sunbae di sini.” Kemudian ujung telunjuknya bergerak menyentuh bagian kanan perutnya, tepat di mana hatinya berada.

Jonghyun menarik napas dalam sebelum suara dinosaurusnya menghujam seluruh udara hampa di ruangan tersebut.

“Oh, tidak! Hantu-hantu itu telah merusak pikiran temanku!” pekik Jonghyun. “Otaknya semakin tidak beres, Han Sunhwa! She falls in love with unreal things!”

-o-

KEAJAIBAN. SEMULA PIHAK RUMAH SAKIT MENDETEKSI ADANYA gumpalan darah di kepala Cho dan menyatakan bahwa sekali pun gadis itu selamat, ia akan mengalami beberapa kemungkinan: amnesia, kelainan otak, dan kesulitan bernapas—mengingat salah satu dari empat pasang tulang rusuknya menembus dinding terluar paru-parunya.

Kini harapan kosong yang selalu menaungi kedua orang-tuanya dalam sekejap sirna saat tim medis mengizinkan Cho untuk mengemasi barang-barangnya setelah melakukan beberapa kali cek kesehatan. Mereka tak menemukan sedikit pun cacat di tubuhnya. Semua nampak normal, tepat setelah gadis itu tersadar sejak delapan hari yang lalu.

Cho berjalan dengan irama yang indah. Setiap langkah yang dijejakinya menyiratkan kebahagian dan rasa syukur yang tiada tara. Sneaker pink abu-abu andalannya tidak menimbulkan suara derap. Cho tak lagi menyeret-nyeret alas kaki karena ia telah terbiasa mengenakan heels maupun boot tinggi selama tinggal di EXO Planet.

Setelah meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia baik-baik saja, Cho memutuskan untuk menaiki lift menuju lantai tujuh pada rumah sakit yang sama saat ia masih menjalani perawatan, sendirian. Sebelum berniat untuk mengunjungi si ‘tersangka’ dari kecelakaan mematikan tersebut, ia sempat bertemu dengan pihak keluarga yang bersangkutan.

Seorang wanita, dengan seekor poodle cokelat yang menemaninya, menjabat tangan Cho dengan hangat seraya mengucap ribuan maaf atas apa yang diperbuat adik laki-lakinya. Keduanya hanya menghabiskan waktu lima belas menit, membicarakan hal-hal yang menyangkut kecelakaan tersebut termasuk si supir taksi yang meninggal di tempat kejadian.

Pintu lift terbuka, gadis itu bergerak tiga langkah untuk mencapai ruang kosong di antara orang-orang yang memadati kotak besi tersebut. Ia sempat melirik ke deretan tombol di sisi pintu, menekan angka tujuh untuk memastikan destinasinya atau ia akan terbawa menuju lantai teratas bersama pria gemuk yang menekan angka lima belas disampingnya.

Tak ada yang bicara di dalam kotak yang digerakkan oleh mesin dan listrik tersebut. Hanya suara pergerakan lift saja yang mampu didengarnya. Cho berpaling ke sisinya, menemukan pantulan tubuhnya sendiri dari besi yang dilapisi metal baja. Dari pantulan tersebut ia baru menyadari sesuatu. Rambut pendeknya telah memanjang hingga sebatas bahu. Bagian tubuhnya tersebut ternyata tumbuh lebih cepat dari perkiraan.

Cho memutuskan untuk menyandarkan punggungnya pada dinding lift saat beberapa orang keluar dari kotak sempit itu di lantai tiga. Tas kecilnya disampirkan di bahu kiri, sementara kedua tangannya bersembunyi dengan nyaman di dalam kantung celana baggie-nya. Entah mengapa kata-kata Jonghyun beberapa hari lalu malah membuat keraguan itu muncul mengintimidasinya.

Pintu lift terbuka. Gadis itu mendongak, menemukan angka tujuh tertera di layar digital lantas beranjak dari tempat tersebut menuju ruangan dengan nomor yang dihapalnya sejak dua jam lalu. Lagi-lagi ucapan Jonghyun mengusik pikirannya. Argumen-argumen pria itu seolah mematahkan apapun yang diceritakannya mengenai EXO Planet.

Cho terus memutar otaknya untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat menguatkan ceritanya. Namun sejak ia tersadar, ia tidak menemukan kemunculan sosok Kai ataupun partikel no̱ménos yang berputar-putar di udara. Yang ia temui justru seorang anak kecil berambut panjang dengan mata putihnya yang menyala dan kaki yang mengapung di lorong lantai dasar.

Ia semakin ragu akan hal-hal yang dialaminya. Ragu akan sosok Kai; ragu akan petualangan yang ia alami di planet bernama EXO tersebut; ragu akan pertemuannya dengan Luhan maupun castè lain; lebih dari itu—ia ragu akan semua yang telah menimpanya selama ini.

Apa yang diucapkan Jonghyun membuat pikirannya bertanya-tanya. Pria itu menjelaskan beberapa teori yang cukup kuat untuk mematahkan segala ceritanya. Dan jika memang apa yang dituturkan Jonghyun benar adanya, berarti selama ini ia hanya bermimpi. Mimpi yang nampak begitu nyata dan masuk akal.

Kemudian Cho menelan segala kekecewaannya begitu ia telah sampai di tempat tujuan.

3.6.5

Begitulah angka yang tertera pada dinding di samping pintu. Gadis itu menghela napas sebelum memasuki ruangan. Kedua bahunya merosot seiring pintu yang bergerak memberi celah antara dua ruangan yang berbeda.

Cho melangkah masuk semakin dalam. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya sebuah bangsal dengan kubah yang sama—yang dipakainya saat masih tak sadarkan diri, serta beberapa alat medis yang tak dimengertinya.

Ruangan itu lebih lebar dari ruangan yang ditinggalinya kemarin. Sinar matahari dari jendela lebar di sisi ruangan hampir menyinari seluruh sudut tempat tersebut. Terdapat beberapa rangkaian bunga yang berderet di atas meja, semuanya berisi rangkaian doa yang dikirimkan si pengirim bagi pria yang terbaring kaku di dalam kubah.

Cho mencium sebatang bunga mawar yang masih kuncup di antara puluhan bunga lain, mengingatkannya pada tulip ungu yang diberikan Kai saat ia masih berada di planet—yang bagi Jonghyun—fantasi tersebut.

Kemudian Cho menghampiri bangsal. Kedua kakinya bergerak seiring mesin pendeteksi jantung mengeluarkan bunyi beep selama sepersekian detik. Gadis itu menyeka permukaan kubah akibat tertutup uap dari air conditioner yang berada tepat di atas kepala kubah. Seiring terpupusnya uap tersebut, seketika Cho terpaku disusul oleh keterkejutan yang membuat aliran darahnya naik ke ubun-ubun.

Ada sesuatu yang membuat Cho begitu familiar dengan pria yang terbaring kaku di dalam sana.

Matanya. Hidungnya. Bibirnya. Bahkan tatanan rambut dan bentuk tubuhnya.

Sosok itu berhasil mengingatkannya kembali akan sesuatu yang menjadi bagian dari kisahnya di EXO Planet.

“Lee Hyukjae?”

-o-

ADA BANYAK PERUBAHAN YANG TERJADI SETELAH CHO KEMBALI KE kehidupannya saat ini. Salah satunya adalah gaya rambut. Setelah mendapatkan izin dan uang lebih dari ayahnya, gadis itu mengunjungi hair shop langganan ibunya untuk melakukan extension dan bleaching.

Biasanya Cho juga hanya memoles wajahnya dengan bedak bayi sebelum berangkat sekolah. Kali ini gadis itu melapisi bagian tubuh yang sangat dibanggakannya itu dengan BB Cream yang diiklankan oleh Sandara Park. Tak lupa, hypergloss red-torch ikut andil dalam mewarnai bibirnya hingga mengilat seksi.

Aksi yang dilakukan Cho di hari pertamanya masuk sekolah cukup membuat gempar teman-temannya—dan gossip itu menyebar cepat hingga ke telinga para sunbae dan hoobae. Cho dikenal sebagai gadis tomboy kedua setelah Amber. Ia juga dikenal sebagai gadis yang tidak memiliki pengetahuan fashion kedua setelah Sunhwa.

Kali ini, ia berhasil menepis dua predikat tersebut dan membuat mata para pria melirik manis padanya. Tentu saja, lirikan takjub yang ditujukan gadis-gadis lain. Meski di antara mereka ada yang melemparkan lirikan sinis dan dengki.

Bahkan Jonghyun tak berkedip saat mengamati Cho yang duduk tepat di hadapannya.

“Kecelakaan itu ternyata memberikan dampak besar bagimu, mata tiga.” Jonghyun berucap setelah menelan bokkumbap di lekukan sendoknya.

Sesungguhnya, dan sejujurnya, ia mengumandangkan kata terima kasih pada Tuhan saat melihat Cho melayangkan senyumnya pada pria-pria yang secara sengaja mengarahkan perhatian mereka padanya. Bahkan Cho melambai manis pada Chansung, si penggoda hoobae, saat pria itu melemparkan sebuah siulan padanya.

Hanya saja, Jonghyun agak bergidik ngeri setiap kali mendapati gadis itu tersenyum pada dinding ataupun ruang hampa yang ditemuinya. Seolah-olah Cho sedang melayangkan senyum pada hantu-hantu yang ikut merasakan amazing luar biasa akan perubahan penampilannya.

Sekarang keadaannya berbeda. Orang-orang melihat Cho Ikha seolah gadis itu adalah murid pindahan dari sekolah wanita Santa Maria. Si mata tiga yang selalu bermain-main dengan lelucon hantunya itu kini berubah menjadi gadis anggun yang saat meminum juice pun sangat hati-hati dan pelan-pelan.

“Katakan saja jika kau tertarik padaku, Kim Jonghyun. Tenang saja, kau boleh mengajakku berkencan setelah jam terakhir selesai.”

Ucapan Cho disambut oleh cibiran dari Jonghyun setelahnya.

“Kudengar Yuri Sunbae dan Tiffany Sunbae mengajakmu bergabung di group mereka. Benar begitu?” selidik Amber.

Cho meletakkan tissue di sisi gelas setelah menyeka tetesan juice di sudut bibirnya. “Aku lebih suka menghabiskan waktu bersama kalian. Group mereka terlalu hedonis menghabiskan uang untuk treatment kecantikan. Lagipula, jika aku dikelilingi manusia-manusia dekil macam kalian, peranku akan berubah menjadi sebutir mutiara yang berkilau di dalam lumpur.”

Setelah Cho mengakhiri penjelasannya, serta merta gadis itu mendapatkan sebuah tendangan singkat dari Jonghyun. Tepat di tulang keringnya. Cho menunduk, mengaduh, memaki Jonghyun dengan kata-kata yang tak dimengerti Amber sambil mengusap-usap permukaan kakinya yang berubah ngilu dalam sekejap.

Amber menarik lengan Cho saat gadis itu masih merintih menahan sakit. Awalnya Cho menepis Amber hingga sepasang kaki seseorang yang tertangkap tengah berdiri disampingnya menghentikan rintihannya.

Jika Cho tengah menelan minuman, gadis itu bertaruh ia akan tersedak melihat pria tinggi yang menjulang disampingnya membawa nampan cokelat berisi makanan-makanan mahal yang disediakan kantin sekolah. Ini kali pertamanya pria itu berada di dekat jangkauan matanya. Rambut hitam berkilau; wajah mulus dan flawless melebihi Miss Korea; senyum yang mampu melelehkan setiap gadis yang melihatnya; dan jari lentik yang selalu didambakan para gadis agar pria itu mau menyentuh mereka.

“Bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian?” tanya si pria lembut.

Jonghyun nampak riang saat pria yang dikenal baik sebagai sunbae-nya itu mengajaknya ber-high-five. Berbeda dengannya, Amber dan Sunhwa justru menganga seperti manusia idiot. Bisikan-bisikan yang dilontarkan seisi kantin ikut mengisi pendengaran Cho.

Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali, berharap bahwa pria itu bukanlah hantu ataupun halusinasi yang ditimbulkan akibat efek tidur panjangnya minggu lalu.

Nyatanya tidak. Dia adalah Kim Heechul. Benar-benar Kim Heechul.

-o-

JUMAT. HARI YANG DIPENUHI DENGAN HAL-HAL BARU DAN DILUAR dugaan. Cho melempar baju lace dengan kerah peterpan berwarna peach ke atas tempat tidurnya. Tubuhnya berjongkok di sisi tempat tidur, menunduk rendah mencari kotak wedges pemberian ibunya sebagai hadiah ulang-tahun ke enam belas yang sempat terlewatkan.

Cho tersenyum mengamati replika tubuhnya yang terukir pada cermin. Tuhan seolah memberinya serangkaian keberuntungan yang tak pernah dialaminya selama ia hidup enam belas tahun di dunia fana ini.

Pertama, di tengah makan malam yang hangat bersama kedua orang-tuanya, sang ibu berkata bahwa ia tengah mengandung jabang bayi yang akan menjadi calon adiknya kelak. Umur ibunya memang tidak termasuk ke dalam kategori ‘muda’—empat puluh satu tahun. Namun Cho menyambut segala pemberian Tuhan itu dengan rasa syukur. Ia merindukan sosok adik pertamanya yang meninggal di usia muda akibat kecelakaan. Terima kasih karena Tuhan tak akan membuatnya kesepian di malam bersalju di bulan November tahun mendatang.

Kedua, para guru membebaskannya dari segala tugas yang ia lewati selama masih terbaring di rumah sakit. Itu berarti ia tak perlu melakukan eksperimen dengan cairan-cairan kimia ataupun mengorek-ngorek isi perut katak sebagai tugas akhir pekan di kelas biologi. Ugh, membayangkannya saja membuat gadis itu menggoyangkan tubuh karena geli.

Terakhir, dan juga merupakan highlight dari keberuntungan yang dimilikinya, Kim Heechul mengajaknya berkencan setelah pria itu berbasa-basi menghabiskan waktu istirahatnya hanya demi melakukan aksi pendekatan. Terlalu naif memang. Namun Cho memutuskan untuk mengiyakan. Kapan lagi pria yang dikenal sebagai The Killer itu menawarkan malam eksklusif untuk berkencan—dan hanya berdua? Ia tahu betul selera seorang Kim Heechul.

Sepasang kaki Cho telah siap melangkah bersama wedges bercorak bendera Amerika yang membuatnya nampak semampai. Hingga sesuatu yang melesat melewati matanya membekukan tubuh Cho. Ia tak tahu persis apa yang telah membutakan pandangannya, yang jelas hal itu membuat seluruh indera yang dimiliki Cho menajam dengan cepat.

Gadis itu meraih ponsel kemudian menghentikan alunan suara Erick Banet dari aplikasi music player-nya. Bola matanya bergerak liar mengamati setiap sudut kamar.

Hening. Tak ada suara yang ditimbulkan selain suara napas Cho.

Ia berjalan menuju pintu, mengintip sebisanya dan menemukan ayah tercinta tengah menonton We Got Married di ruang keluarga. Ia tidak menemukan ibunya. Namun suara berisik yang berasal dari arah dapur menunjukkan bahwa wanita tua itu berada di sana. Tak menemukan sesuatu yang aneh, Cho memutuskan untuk kembali berkutat di dalam kamar yang menjadi markasnya.

Sesuatu yang muncul di hadapan Cho membuat gadis itu memekik hingga pintu di balik punggungnya mengeluarkan bunyi debam yang cukup nyaring. Cho mendengar suara ayahnya berteriak. Sambil menutup kedua matanya, ia segera memberikan klarifikasi bahwa dirinya baik-baik saja—kecoa bodoh yang muncul di kakinya lah yang menjadi alasan.

Perlahan, gadis itu membuka kelopak matanya. Bibirnya bergetar saat menemukan bayangan hitam yang dikelilingi debu pekat berpusar di hadapannya. Bayangan itu tak berbentuk dan tembus pandang. Dua titik cahaya biru di bagian teratas nampak seperti sepasang mata, mengamati Cho bersama pusaran tubuhnya yang membentuk gumpalan asap.

Cho kembali teringat akan sesuatu.

Bayangan itu.

Bayangan yang sama saat kali pertamanya ia bertatap muka dengan Kai. Segumpal hitam tersebut melayang tepat di hadapan Cho. Ia tak berbentuk, berbeda saat Kai muncul bersama tubuh manusianya yang begitu sempurna. Gadis itu mengulurkan tangan, mencoba menyentuhnya tepat di pusat bayangan.

Seperti udara, Cho lantas terjungkal dan jatuh ke atas tempat tidurnya saat tangannya tak mampu menyentuh bayangan tersebut. Ia berbalik, menemukan bayangan itu berputar untuk kembali menatapnya.

Sekali lagi, gadis itu menggapai-gapai gumpalan hitam tersebut meski usahanya sama seperti sedang mencoba memegang air. Cho menatap kedua tangannya kecewa sebelum akhirnya memutuskan menatap dua titik biru yang mengilat-ngilat seolah sedang menuturkan sesuatu.

“Katakan padaku bahwa ini bukan kau… Kai.”

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

52 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 12” (REPACKAGED)”

  1. tell me it’s not you, kai….i
    tpi dalam hati berharap itu kai, sama kayak aku yg juga brharap itu bukn hanya anggan semata….
    arghhh!!! eonni makin seru,,,,, si ikha nya kasihannn. ayolah kai tunjukan bahwa dirimu itu nyata,,,, next!

  2. Annyeong, aq reader baru. salam kenal..
    Onni, ff onni memang daebak!!!
    Aq serasa baca novel terjemahan fantasy. Dan juga, onni bagaimana sih cara onni buat ff?…kok kata2nya tepat banget, mudah di pahami, pokoknya bagus. Oh ya onni, mianhae gak komen dari part awal sampai part ini baru komen, soalnya aq browsing lewat hp jadi mau komen itu susah hehehe…
    Onni boleh minta pw part 4,5, & 6 gak onni?….boleh ya please……
    Soalnya gak enak gitu bacanya kalau di langkau2 part nya ^_^

  3. Kai muncul di kamarnya Cho? kok bisa kak? kan Kai udah mati gegara belatinya Onew…
    btw, cieeeee Cho diajak kencan sama Heechul si sunbae kesayangan 😀

    1. Maaf ciiin~~~ kamu boleh tampar aku pakai kolor celana Kai kok :*
      Mmm, ada sedikit repackaged dari cerita awal sebenernya Cho. Semoga kamu gak bosen ya baca tiap chapternya yang puanjang puanjang.

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s