SHUT UP AND KISS ME (Oneshoot)

New FF - Shut Up and Kiss Me

REDUP. SEPASANG KELOPAK MATA GADIS ITU MEREDUP SEIRING DETAK penghitung waktu yang melingkari pergelangan tangan kecilnya. Layar televisi flat di hadapannya masih menyala, saling berkelebat menyoroti kilasan gambar dengan begitu cepat. Alunan musik pada speaker yang berada di masing-masing sudut ruangan pun terdengar mendengung di telinganya. Si gadis mengerang tertahan, membenahi letak tubuhnya yang sedikit merosot dari kursi.

Tak ada siapa pun di sana. Hanya ia seorang diri, ditemani beberapa gelas botol kosong dan kulit kacang yang berserakan di sekitar kakinya. Bosan, bola mata gadis itu berputar secara acak. Ia mengisi segala kekosongan itu dengan memperhatikan hal-hal kecil yang ada di sana. Lapisan kursi yang robek tertelan usia; bulir-bulir air yang saling berjatuhan pada dinding gelas; bahkan semut-semut hitam yang berderet rapi membentuk untaian garis lurus di sepanjang sisi meja—bergerumul saling mendahului menggapai sisa-sisa remah makanan.

Ia kembali mendesah, dan kali ini terdengar lebih panjang dan dalam. Soju yang mengisi gelasnya hampir tumpah jika saja gadis itu tidak segera menyeimbangkan jemarinya. Kemudian terdengar bunyi klik dari sisi ruangan. Si gadis sama sekali tidak menoleh atau sekedar melakukan gerakan kecil. Ia paham, seseorang dari petugas KTV pasti akan mengusirnya—mengingat ia tidak beranjak dari ruangan tersebut lebih dari tiga jam setelah pesta berakhir.

Bahkan, mungkin lebih dari itu.

“Masih bertahan juga?”

Seorang pria.

Suara tersebut milik seorang pria.

Si gadis agak mendongak untuk menggapai siluet tinggi di dekat daun pintu yang menganga. Kelopak matanya mengerjap-ngerjap, memastikan bahwa ia tidak sedang mengingau atau berhalusinasi.

“Kenapa kau kembali?” ia menghardik.

Mungkin niatnya memang ingin menghardik tapi suara gadis berambut sebahu itu terlalu kemayu dan tak bertempo untuk dikategorikan ke dalam sebuah hardikan.

Pria yang dimaksud hanya menyunggingkan senyum kecut, sedikit bersyukur karena si gadis masih mampu mengenalnya—di tengah kelinglungan yang ia yakini tengah mengerubungi kepala gadis tersebut. Alas sepatunya menyenggol-nyenggol lantai ruangan. Suaranya teredam oleh bising instrumen lagu. Yang tertangkap indera pendengaran si pria hanya saat pintu di balik punggungnya tertutup secara paksa oleh dorongan tubuhnya.

Ia menghampiri si gadis tanpa rasa antusias. Langkahnya seolah mengambang di udara—beraturan namun gontai. Pria itu duduk disampingnya, mengamati perubahan wajah si gadis yang mulai memerah seperti babi panggang. Kemudian diraihnya remote yang tergeletak sembarangan di atas kursi; mematikan sound system dan juga mengatur nyala LED sehingga berubah menjadi cahaya remang-remang.

Gadis disampingnya mengatakan sesuatu yang hanya mampu ditangkap si pria sebagai gumaman kecil. Maka si pemakai sneaker Adidas hijau tosca itu mencoba mendekat hingga suara lawan jenisnya berhasil terjangkau oleh telinga.

“Kalian terlalu banyak menghamburkan uang untuk menyewa tempat ini semalaman. Dan lagi, sayang jika minuman-minuman ini tidak tertelan habis. Yang itu,” gadis itu mengarahkan telunjuknya pada botol kosong bergambar pria bertopi. “bukankah harga benda itu setara dengan jumlah gajiku dalam sebulan?”

Nada si gadis yang begitu berantakan dan tak berirama membuat pria itu mendengus—tertawa dengan suaranya yang lembut.

“Sesuai perintahmu, aku sudah mengantar dua gadis itu hingga pintu keluar. Dan kau, Cho Ikha,” gelas kecil yang diapit oleh jemari gadis itu dirampasnya paksa. “berhentilah meneguk soju atau aku akan kesulitan membawamu pulang.” Kemudian meletakkan benda itu hingga terdengar bunyi nyaring saat beradu dengan permukaan meja.

Cho Ikha, si gadis, menolak dengan menarik ujung T-Shirt Micro Fiber yang dikenakan si pria dan merampas kembali sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya—bagiannya.

“Aku hanya minum beberapa gelas saja, Kai. Lagipula aku tidak memintamu untuk mengantarku!” Ikha berucap sengit.

Dipandu oleh sisa kesadarannya, Kai melayangkan cubitan pelan di pipi Ikha dan berhasil membuat gadis itu mengaduh. Beruntunglah ia hanya menghabiskan seperempat botol wine dan setengah botol soju saja sebelumnya. Kai masih mampu mengendalikan rasa pusing di kepalanya mengingat ia harus menyetir—atau Audi R8 nya akan malfungsi akibat terbentur tiang listrik di pinggir jalan.

“Miinah dan Rizka,” Ikha kembali bicara setelah soju di gelasnya meluncur manis di tenggorokan. “kenapa kau hanya mengantar mereka sampai pintu keluar? Bukankah kusuruh kau untuk mendampingi keduanya sampai pintu rumah mereka?”

Gaya bicara Ikha lagi-lagi membuat Kai terkekeh. Pria itu menjerat lengan Ikha saat tubuhnya agak oleng meletakkan gelas di atas meja. “Aku bukan pria murah yang mau, seenak jidatmu, mengantar pulang gadis-gadis lain.” ia berujar.

Ikha kembali bersandar pada punggung kursi, mencari-cari titik kenyamanan dengan sesekali menggerakan kepala pada busa empuk yang melapisinya. “Jika dibandingkan denganku, mereka jauh lebih baik dari segi apapun. Setidaknya hanya itu yang dapat kuberikan untukmu, my best friend.”

Nada bicara Ikha tenggelam di tengah kesunyian yang menyelubunginya. Pupil cokelat di kedua mata Ikha pun berubah gelap saat pandangannya mulai memudar. Dari jarak sedekat ini, Kai mengamati setiap perubahan tersebut dengan bibir yang terkatup sempurna. Mata dan penciumannya saja yang bekerja—memindai mata Ikha yang nampak tidak fokus serta menangkap bau alkohol bercampur emosi yang mengalun dari sela bibir Ikha.

“Jauh lebih baik? Misalnya?”

Disampingnya, Kai melihat beberapa rambut sebahu Ikha melekat di kedua pipinya yang lengket. Jemarinya terulur untuk menggapai wajah Ikha, menyingkirkan helai-helai tersebut dengan sentuhannya yang lembut dan ringan. Meski cahaya orange dari LED menerpa rambut tergerai Ikha, brown-red yang mewarnai bagian tubuh gadis itu tetap tak menyala saat malam menjelang. Rambutnya berkilau hitam, sama hitamnya dengan pupil Kai.

“Finansial. Jika diibaratkan zaman Dinasti Yang, Miinah dan Rizka adalah titisan keturunan bangsawan. Sedangkan aku hanya rakyat jelata yang berusaha bertahan hidup dengan bekerja tiga paruh waktu dalam sehari,” tutur Ikha.

Saat mengucapkan kalimat tersebut, tangan Ikha sesekali menyentuh dada Kai. Ia kembali meracau tak jelas dan hal itu menyulitkan Kai untuk memahami lantunan kata yang tak beraturan tersebut.

“Selain itu?”

Sepasang mata Ikha tak luput dari perhatian Kai. Gadis itu berusaha untuk terjaga dengan susah-payah bertarung melawan kelopak matanya yang memberat. Gerakan bulu mata Ikha berbanding terbalik dengan histeria di Central Park Seoul; turun perlahan lalu bergerak ke atas dengan kekuatan penuh. Dugaan Kai akan kondisi itu tak dapat terelakkan lagi; Ikha mabuk—hal yang membuatnya bersikap lain dari biasanya.

Appearance. Well, tubuhku memang lebih ‘wow’ dari mereka. Tapi wajahku,” Ikha mengusap-usap kulit wajahnya disertai keluhan panjang. “Seharian terkena sorot matahari membuat wajahku mengusam. Sementara wajah terawat Miinah dan Rizka nampak seperti balita.” Nada bicara Ikha terdengar murung.

Andai saja soju tidak mengambil-alih segala kewarasan dan kesadaran Ikha, Kai bertaruh gadis itu tidak akan pernah melakukan pengakuan tersebut. Kai memejamkan mata sejenak saat Ikha mengucapkan keluhnya. Karena yang ia tahu, Ikha adalah satu-satunya gadis yang—ia temui—tak pernah menunjukkan apapun pada orang lain selain senyum simpul dan tawa riangnya.

Malam ini, ia berhasil memancing seekor paus raksasa.

“Ada lagi?” sambung Kai.

“Tidak. Tidak ada. Tadinya aku ingin menjadikan isi kepala sebagai faktor ketiga. Tapi kemampuan otakku jauh di atas rata-rata,” jawabnya. Tangan Ikha menekan-nekan sebelah pelipis, merasakan denyut yang mulai mondari-mandir di kepalanya.

Kai bergumam. Suara pria itu lantas mampu mengalihkan perhatian Ikha yang masih pusing akibat mabuk. Kai mengetahuinya saat Ikha tiba-tiba terkekeh menertawainya. Entah apa yang gadis itu tertawakan namun hal itu justru membuat bola mata Kai bergerak turun dari kedua mata Ikha.

Napas Kai tertahan di tenggorokan saat bibir Ikha yang merah membuat pembuluh darahnya berdesir hebat. Sebelum akal sehat menguasai dirinya, selama beberapa detik tatapan Kai tetap bertahan di sana. Buah jakunnya bergerak perlahan setiap kali melihat gadis itu menjilati bibir; membasahi dengan saliva-nya yang nampak manis seperti tetesan madu.

Masih di tengah tawa Ikha yang belum kunjung berhenti, Kai mencoba mengalihkan pikiran kotornya ke titik lain. Bodohnya, pria itu bahkan tak mampu memilih titik terbaik untuk meredam libido yang meningkat cepat hingga ke ubun-ubun.

Kai memaki di dalam hati saat pandangannya tak ingin beralih dari dada Ikha. Pakaian seragam hotel yang dikenakan gadis itu berantakan. Tiga kancing kemejanya terlepas dan sialnya Kai lagi-lagi tak mampu menahan gairahnya saat bra putih dari balik pakaian Ikha sedikit mengintip dari celah tersebut.

Dorongan untuk menerkam gadis itu ditahan Kai kuat-kuat. Ia berusaha bertahan dengan sisa-sisa harga dirinya dengan meremas rambut hitamnya. Tidak. Ia tidak diajarkan oleh Kim Heechul, kakak laki-lakinya, untuk menyerang seorang gadis di saat makhluk lemah itu dalam kondisi yang memprihatinkan. Maka Kai memilih untuk menelan kekecewaan itu dengan menggigit bibir bawahnya.

Setidaknya ia belajar satu hal malam ini: soju dan wine adalah obat bius terbaik.

Terbukti hanya dengan beberapa teguk saja, pikirannya berubah liar oleh hal-hal sepele seperti ini.

“Memang apa keuntunganmu setiap kali mengenalkan gadis-gadis itu padaku?” tanya Kai. Suaranya terdengar lembut dan menggoda. Bahkan, ia sendiri pun menangkap aroma sensualitas di dalam nadanya.

Kai menemukan gadis disampingnya mendongak, kedua matanya seolah sedang mengeksplorasi makna dari ucapan yang ia lontarkan. Cukup lama gadis itu menatapnya dalam diam. Tidak memberikan respon—hanya mengamati objeknya yang sulit untuk ditelaah.

Di saat pandangan mereka saling bertabrakan, refleks tubuh Kai memberikan reaksi dengan melakukan pergerakan kecil. Jika saja pria itu tidak mencakar kursi untuk menahan diri, saat itu juga ia akan melumat bibir Ikha hanya dalam sepersekian detik saja.

“Aku—aku juga tak tahu.” Itulah jawaban singkat yang diberikan Ikha.

Suasana sunyi kemudian terisi oleh desah napas Ikha. Raut wajahnya mendadak mengerut; berubah murung. Kesedihan seolah mendominasi emosi yang tampak di wajahnya. Sejenak pikiran bodoh Kai mengira bahwa gadis itu terintimidasi oleh tuturan kata yang ia ucapkan. Namun rasanya tidak mungkin Ikha mendadak murung hanya karena sensualitas dari nada suaranya.

“Aku lelah, Kim Jongin. Menjadi tumpuan keluarga adalah beban terberat yang pernah kutanggung semasa hidupku. Tak ada waktu untuk menoleh pada pria-pria di luar sana, tak ada waku untuk bersenang-senang—malam ini pun kuikuti kemauan Yeonra karena gadis itu memaksa. Bahkan aku tidak ingat mengapa gadis biasa sepertiku dapat menyatu dengan kelompokmu.”

Bingo. Bukan karena sensualitas.

Kai bersyukur karena Ikha malah meracau mengenai hal-hal vital dalam kehidupannya. Ia tersenyum pada Ikha, meletakkan jemarinya hingga bersentuhan dengan helai rambut si gadis. Well, mendadak Kai merasa bersalah karena telah membawa paksa Ikha—yang masih menyelesaikan sip terakhirnya di Marriot—atas perintah Yeonra malam itu.

Sekarang, saat menatap kembali wajah Ikha, kepala Kai seolah berputar menyoroti berbagai adegan-adegan lama. Hal yang membuat bibirnya menyunggingkan senyum adalah saat Yeonra merekrut gadis itu sebagai additional dancer di kelompok mereka. Kehadiran Ikha membuat gempar anggota lain. Tentu saja, karena gadis itu menarik dan low-profile. Bahkan ia harus menelan ludah karena tak mampu mendekatinya karena Luhan, Lay dan Dio telah mencuri start lebih dulu.

“Sudah berapa banyak yang kau minum?” Suara lembut Kai mengalun mengikuti kontur ruangan. Ia menyapu sejumput rambut di pipi Ikha saat gadis itu mengaduh karena pusingnya tak kunjung hilang.

Tangan gadis itu kemudian menepisnya. “Memang apa pedulimu?” sungut Ikha. “Sudahlah, Kai! Berhentilah bersikap manis padaku! Aku takut salah mengartikan semua maksud baikmu itu!”

Kai tercenung. Bola matanya kian membesar saat ia terdiam. Ia kini menunggu, menunggu gadis itu bicara karena ia menangkap sesuatu yang abstrak dari kalimatnya.

“Kau,” gadis itu menelan ludah. “aku selalu berusaha untuk menolak perasaan ini karena status yang kusandang. Jadi kumohon, Kai.” Bibir Ikha bergerak-gerak tak beraturan. Kedua alisnya mengerut seperti hendak menangis.

Sayangnya tontonan itu justru merupakan hal yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Kai. Secara tidak langsung gadis itu telah melakukan sebuah pengakuan. Selama ini Ikha menyukainya, dan gadis itu terlalu naif untuk mengakui perasaan itu hanya karena ia bukanlah gadis kaya yang selalu mengelilinginya.

“Kau mabuk,” ucap Kai. Pria itu menyeret tas tangan Ikha, hendak membopong gadis itu pulang. Namun tangan gadis itu malah menarik paksa Elizabeth-nya kemudian melempar benda itu ke sembarang arah.

“Aku tidak mabuk, dasar pria jalang!” hardik Ikha, membuat Kai kebingungan akan tingkah lakunya.

“Kau pria jalang! Pria jalang yang mampu memikat semua gadis hanya dengan sebuah lirikan singkat!” Mata Ikha menembus pupil hitam Kai. “Termasuk aku!” Ia melanjutkan.

Seketika telunjuk Kai mengorek-ngorek sebelah telinganya.

Tunggu! Ia sedang tidak salah mendengar! Namun kepolosan pengakuan Ikha nyatanya berhasil menyentak jantung Kai. Sebelumnya Kai hanya berharap umpannya akan dihinggapi oleh ikan kecil untuk disajikan khusus malam ini saja. Yeah. Terima kasih pada Yeonra, selain dapat bertatap muka dengan Ikha—karena ia benar-benar merindukannya, malam ini ia yakini bahwa sesuatu yang besar akan terjadi setelah umpannya ditelan bawal raksasa.

Kai mencengkeram pergelangan tangan Ikha saat gadis itu hendak mengisi gelas kosongnya dengan soju yang tersisa. Ikha berputar, menatap Kai dengan pandangan yang kian mengabur tiap detiknya.

“Setelah kau benar-benar pulih dari ketidakwarasanmu, kau akan menyesali setiap perkataan yang kau lontarkan padaku malam ini,” ucap Kai.

Detik berikutnya kepala Kai menunduk, mencari-cari letak bibir Ikha sementara tangannya menarik halus gadis itu ke dalam tubuhnya. Ia menahan napas selama beberapa detik saat hembusan hangat dari mulut Ikha menerpa dagunya. Rasanya seperti ada sesuatu yang terbakar di balik celananya. Dan ia tak dapat menahan lagi lebih jauh.

Kai melakukannya dengan sangat perlahan saat bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman hangat. Ia tak ingin terburu-buru atau gadis itu bisa saja lari tunggang-langgang—mengira dirinya seorang pria mesum yang hanya mementingkan napsu belaka.

Tekanan di bibir Ikha semakin bertambah manakala Kai berhasil membaringkan tubuhnya pada alas kursi. Kai sempat melepas ciumannya sesaat untuk menarik kedua kakinya, mengapit tubuh Ikha di sana untuk mencari kenyamanan yang ia cari. Jemarinya diletakkan di dagu Ikha, menuntun bibirnya kembali melekat bersama miliknya.

Mata Kai terpejam saat pria itu memberikan pijatan lembut di bibir Ikha yang selama ini selalu menjadi pusat perhatiannya. Awalnya gadis itu mematung dan tidak merespon. Entah karena perlakuan Kai yang begitu lembut, Ikha menyambut segala bentuk penyatuan itu sama seperti apa yang dilakukan Kai terhadapnya—meski bibirnya agak bergetar dan kaku seperti ikan beku.

Erotis.

Itulah yang Kai dapatkan saat bibirnya berkelana menikmati wilayah jajahannya. Sesekali Kai menggoda Ikha untuk membuka bibir dan memasukinya. Tak butuh waktu lama, gadis itu kembali terperangkap dalam rayuannya dan menyeret Ikha terlibat aktif dalam ciuman tersebut. Well, Ia telah mencium gadis lain dan kali ini rasanya jauh berbeda. Menenangkan sekaligus memabukkan.

Kedua tangan Ikha lantas dituntun Kai menuju bahu tegapnya. Kemudian satu jari Kai mengikuti garis rambut Ikha, membuat jalur sensual hingga gadis itu mengerang tertahan. Ciuman mereka berubah panjang dan penuh gairah. Kai tak mampu menghentikannya selagi jemari gadis itu berpindah dan terus menyusuri rambut hitamnya.

Wajah Kai menyuruk ke dalam lekukan di leher Ikha. Ia tak sanggup untuk menatap gadis itu saat melepas ciumannya dan berpaling ke sana. Karena saat ini tatapannya dipenuhi oleh sorot napsu yang menggebu.

Bagian tubuh gadis itu tak luput dari sasaran Kai. Ia menyentuhnya dengan lidah, menciumnya, bahkan menggigitnya. Rambut Kai menggelitik otot-otot wajah Ikha—dan hal itu membuatnya kesulitan mengatur udara. Dada Ikha yang bergerak naik-turun sesekali menyentuh Kai. Di sela hujaman ciumannya, pria itu berbisik bahwa ia sangat menyukai bagian itu.

Mata Kai yang indah berkilat lembut. Ia memisahkan tubuh keduanya dalam jarak yang hangat. Panas menyebar di sekujur tubuh, karena itu Kai memutuskan berhenti untuk meredam api yang berkobar di dadanya.

Sambil mengamati Ikha, dengan lembut Kai menyusuri ibu jari ke atas bibirnya yang membengkak. Hidung mereka saling bergesekan, menciptakan nada seiring gerakan tubuh mereka yang saling mendahului menghirup udara yang sama. Ia tersenyum saat Ikha menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin segera mencium gadis itu lagi jika saja pasokan oksigen di paru-parunya telah terisi penuh.

“Kau tidak memiliki cukup kesopanan dengan mencium seorang noona di tempat seperti ini. Seharusnya kau—”

Just shut up and kiss me.”

Kai tidak memberi Ikha kesempatan untuk sekedar mengakhiri kalimatnya. Gerakan bibir gadis itu terlalu menggoda hingga ia tak mampu lagi menahan bendungan yang selalu ia jaga. Dibawah tekanan tubuhnya, Ikha begitu mustahil menolak setiap sentuhan yang ia berikan. Maka keduanya kembali menghujam ciuman yang lebih panas dari sebelumnya.

Di tengah kegairahan yang memuncak tersebut, jemari Kai bergerak lihai menyusuri leher Ikha. Terhenti tepat di pusat tubuh gadis itu kemudian menggapai-gapai mencari kancing lain yang masih terkait di sela pakaiannya.

Kini ia tak akan menerka-nerka lagi. Karena malam ini akan berakhir dengan sempurna.

 

***END***

cropped-key-71.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

35 thoughts on “SHUT UP AND KISS ME (Oneshoot)”

  1. Aigoooo…….cho ikha kek’y loe dah kerasukan hantu berondong ya mueheeeheee…..
    Well,,,,,tetep aj persaingan dlm memperebutkan berondong ttp trjd mski di ff jg heee tp kek’y ttp loe yg jd penguasa kai kha,,,,,,, 😉
    >>>>>Jagung muda emang lebih manis rasa’y bener g kha?????

  2. awuuuuu~
    baru berkunjung ke sini dan langsung disuguhi adegan yadong macam beginian? omaigosh~ Kai seksi sekali disini. Kaget aja pas tau Ikha itu noona. demen ama yang tua-tua yaa ternyata 😀
    tulisannya ficlet tapi pas bacanya kok berasa lama banget yaa kaya baca oneshot? mungkin rating mempengaruhi durasi membaca seseorang..hahaa
    dan astaga! setelah setelah baca baru liat posternya yang ternyata “mengundang” sekali yah XD Kai cucok lah yau~ pose nya minta dicipok :*
    dan adegan terakhirnya nanggung sumpah *gigit bantal*

    oh iya dateng2 main komen aja nih :^)
    ellysa imnida, 92line, jewels
    jadi ceritanya lagi nyari FF my name is lee hyukjae, ketemu lah blog ini, sebenernya udah dari tahun lalu taunya itu ff dari blog sebelah etapi karena “sesuatu” aku jadi lupa dan baru inget tadi sama FF itu di Juni 2013 meeen >< telat banget ingetnya *pikun*
    /okeh abaikan komen gapenting diatas/ *menghilang*
    Dan oh iya, salam kenal ^^
    izin baca my name is lee hyukjae ya ~~
    *end*
    eh btw dulu perasaan nama blog author nya bukan ini deh, blog baru atau ganti nama blog nih? <-yang ini beneran terakhir

    1. Ahahaha___ salam kenal juga ellysa. Aku juga jewels tapi malah kepincut sama si sekseh jongin jadinya begendang deh. uuuu____ itu posternya malu”in ya? hahaha ngeditnya kurang bener tar deh diganti muka aku aja biar kamu ma yang lain pada murka. Muahahaha___
      sip siiip met baca yoo makasih loh udah visit kesiniii

  3. Hanya sebatas itu onn?,
    kirain msi dpnjangin, haha y udh gk ap2^^
    ntar pd rusak lg, mnding diskip wlupn dkit lgi tdi ituuu, onn emg sllunya bkin akhir yg buat org pngen bunuh diri’-‘ haha *kabur

    amaZing, singkat tp inti cerita nya dapet..
    kykny nih onn lgi jlnin perburuan brondong am si wolf kece yg pesonanya bukan main mnta ampun(?).
    mg prburuanny sukses ya onn, akuh sllu dpihakmu hahaaa
    yg SPY dilnjutin yaa onn, ditungguu ^^

  4. hai un,,,,
    lambai tangan,,,, ^^~
    segitu girangnya kah????? kkkk
    #TentuAja
    haha
    satu kata bwt FF ni ,, WOW!!!
    Kyahaha,,
    ditengah keadaan stres mnjelang ujian , FF mu hadir mnyegarkannya,,,
    /Apaan Ini/////
    Kyahaha
    q kira bakalan dilanjutin #plakkkkk
    ok dah ,, Thank You Bwt FFny Un,, beneran ,, deh, suer ,,,, 🙂

    1. YA!!! NGAPAIN KAMU KOMEN KOMEN DISINI? INI KHUSUS DEWASA DEK KAMU GAK BOLEH BACAAAAAAAAAAAA
      aduh gawat ini. gawaaaaat hahahaha___
      yaudah aq doain ujiannya lancar dek.. udahan kan? kamu gak ngisi soal pake nama kai semua kan?

    1. BUAHAHAHAHA____ eh masih mending dek daripada gue jadiin lw kambing hitam atau pengemis disini. hayooooo 😀
      sebenernya ini buat adult tapi gw blm nyantumin categories yang buat dewasa jadi yg ke klik PG15 ra. hahaha gapapa yaelah cuma begini doang *eh?

  5. IKHAAAAA!!!! KENAPA LO BIKIN KAYA GINI TERUS GAK LO PROTEK HAH??!!!
    DEMAM TERNYATA BIKIN OTK LO GAK WARAS!!!!

    LO LIAT PEMBALASAN GUE NANTIIIIII!!!!

    *seret Kai pulang*

  6. TERLAMBATTTTTTT, TERLAMBATTTTTT
    GUE BARU BACA DAN MWOOOOOO???
    KENAPA BERHENTI PAS ADEGAN PUNCAKNYAAAAAA!!!! KYAAAAAAA *garuk”tanah*
    ya ampunnn oen, gue tau Kai menggoda kenapa adegannya di cut pas itu sihhh. emosi gue oen *kebanyakan ketularan tante” mesum*
    AISHHHH, GUE JADI MESUM KAN??? PKOKNYA OENNI HARUS TANGGUNG JAWAB
    GUE GAK MAU TAU POKONYA SPY HARUS LANJUTTTTTT. KARNA GUE SANGAT” MENANTI. *kecup basah*

  7. IKHA!!! Gue g rela ngapai lo sma kai hah!!!
    Jgn ajarin kai yg gak bener….
    Kasian masih kecil…
    Hahaha

    Lo sakit bisa buat ff kyk gini
    Btw cpt sembuh ya beib gak ada lo gk rame ngerebutin brondongnya hahaha

    1. Udeh relain aje orang si jongin yang ngapa-ngapain gue, hahaha___
      ULALALA SENENG GUE BIKIN FF INI KAAAAA RASANYA GUE JADI IKLAS LIAT TEASER WOLF 😀
      gue udah baekan ko bebs… nih gue baru bales komen mu malah. hohoho___
      btw katanya blog lw mau diisi ya? ayo ayo ayoooo gue pengen baca jugaaaaa

  8. Langsung tertarik pas liat title nya.
    Karena walpaper ponsel aku juga shut up and kiss me.
    Hhhhaa *ga nyambung ye*
    suka si tappi penuturannya kurang jelas, bahasanya juga agak bingung.
    Mf chingu buka brmaksud sok ngritik.
    Cuma menyampaikan pendapat.
    Hhe
    aku suka bagian kai menyerang(?) ikha.
    Kkkkk

  9. njirrr… panas~~ panasss~~~ *kipas2*
    KAI MENGGODA IMAN SEKALI!!! SANGAT, SANGAT, SANGATTTT~~~!!!
    dan eonii!! bisa2nya memikirkan ide seperti ini~~
    0.o
    ehm… ehm… tapi boleh tuh kalo dipanjangin sedikit lagi ceritanyaa~
    nanggung tuh… *lirik KAI yang sudah siap*
    dan eooonnniii~~~~
    SPYnya, Mermaidnya, ama EXOPlanetnya kapaannn??? >,< *banyak maunya*
    dittunnggu ff lainnya eon!!! hwaitinggg~~ ❤

    1. ANAK KECIL GAK BOLEH BACA TAU HUSH HUSH PERGI KAMU DEEEEEEEKKKK
      Ini karna aku sebel sama si jongin. siapa suruh di teaser wolf pake acara cium cium pipi si artis SM itu. Kamfret emang. Kamfreeeeettttt
      SPY nanti awal ramadhan baru di publish dan EP & Mermaid menyusul okeee

  10. WOW O_O mataku ternoda XD *bohong *lebay -_- wkwk KAI!!! Pulang2 title lu langsung RIP #dibunuhexotic
    ini OS apa chingu? semi pg+15?? nga nyangka, untuk udh di CUT, kai nyium pipi sohee aja ada yg nangis+galau, gimana klau bibir/ranjang?? bisa2 langsung “BYE-BYE WORLD” XD *curcol* semangat terus, chingu^^

  11. Aaah.. Terlambat, terlambat..
    Baru buka blognya eon langsung aja ada kyk gni..
    Aduh, aq bisa gila nih eon, dikelilingi oleh ff yg kayak gini.
    Pusing…
    Ketawa2 sendiri bacanya, bahkan pas kai cium bibir ikha aq sampe megangin bibir aku sendiri. Adegannya hot banget, sampe gak sadah kuku aku neken bibir aq, sakit nih eon.

    Oh ya aku mau review nih, yg kata mondari-mandir itu maksudnya mondar mandir ya eon? Ups, eon kelebihan 1 hurup tuh *senyum evil

    y udh eon, aq gk tau mau komen apa lgi yg jelas it’s so amazing, and so hot..

    1. ADUH DEK KENAPA KAMU BACA YANG INI HAAAAA INI BUAT ORANG DEWASA GAK BOLEH BACAAAAAAA
      sebenernya salah aku juga c gak diprotek cuma males mau diprotek. kkk___ *duakkkk
      hihihi makasih yaaa udah ngoreksi yang salahnya, nanti tak benerin typo nya 😀

  12. yah terlanjur baca ampe akhir #emang_niatan_dari_awal gak ngira ampe ada adegan yang ehm ehm haha…. tapi keren oenni bahasanya gampang konek (?) Btw FIGHTING !!!

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s