EXO PLANET “Chapter 11” (REPACKAGED)

EXO PLANET TEASER FOR 10th Part

KRIS!”

Sahutan Chen dan Lay menyatu di antara bising lengkingan naga. Cahaya merah menyilaukan dari bandul Key membentuk kilatan petir dan menyambar-nyambar sang pemimpin Myrath. Tubuhnya mengejang seperti ikan yang menggelepar di sisi pantai. Lay bahkan tak mampu merengkuh Kris ke dalam telapaknya.

Saat sinar membara tersebut meredam, saat itu pula lah Kris berhenti menggeliat. Pria tinggi itu menghirup udara dengan rakus. Matanya membelalak, merasakan kesakitan yang menyerang jiwa telah memudar membebaskannya. Tangan Lay kemudian terulur meraih tubuh Kris. Ia berbisik penuh syukur saat Kris mengaduh pelan sambil memijat halus pelipisnya.

Kelopak mata Kris mengerjap cepat dalam sepersekian detik. Rasanya ia telah tertidur cukup lama. Tidur panjang yang menarik mimpinya jatuh ke dalam lubang menuju lapisan neraka terdalam. Kegelapan menusuk-nusuknya. Bahkan api yang selalu menjadi teman baiknya ikut menggerogoti tubuhnya.

“Lay,”

Kris menyebut nama pria disampingnya meski ia masih kesulitan menangkap berbagai warna yang menyoroti mata. Ia melakukan hal yang sama saat menemukan Chen tengah berlutut menghadap tubuh Suho. Kris mengabsen nama mereka bukan karena ia mengenali mereka, melainkan untuk memastikan bahwa ia telah kembali ke dunianya.

“Dimana ini?” tanya Kris. Ia merasakan jemari Lay melilit lengannya saat hendak bangkit dari sana. Alisnya berjengit. Tubuhnya seperti tertimbun pasir, sulit untuk digerakkan.

“Rumah,” jawab Lay. “Kau telah pulang ke rumah, fratheer.” Kemudian menepuk bahu Kris dan meremasnya kuat.

Lay tahu bahwa pria ini memang benar seorang Kris. Sorot matanya berbeda dengan yang selalu ditunjukkan Key melalui iris pearl sky blue yang dimilikinya. Tidak ada kebohongan di sana. Tidak ada pula kepalsuan.

Kris tidak langsung beranjak dari tempatnya. Kedua lututnya diseret paksa hingga bergesekan dengan serpihan debu di lantai mimbar. Ia melihat Chen menunduk. Tangannya melingkar melindungi tubuh Suho. Sang pemimpin Krypth tersebut terbujur kaku bagai bangkai hewan. Tubuhnya menghitam, hanya mata terbukanya saja yang memutih.

Situasi ini membuat Kris semakin mengaduh panjang. Ketika tubuh tingginya berdiri tegak dengan sempurna, kekhawatirannya muncul bersama ketakutan yang mencuat menggetarkan hatinya. Lengkingan naga yang berbaur dengan suara klarks membuat Kris terjaga. Bola matanya bergerak cepat menelusuri sepanjang lapangan. Semua porak-poranda. Belum lagi bayangan-bayangan hitam yang berkelebat di udara dan saling beruntun menjatuhkan pasukan berkuda.

Tidak sampai disitu, Kris menajamkan penglihatan saat menemukan dua pria berjubah di tengah castè. Ada satu yang paling menarik perhatiannya. Seorang pria dengan paras tak kalah cantik dengan Sulli, pria yang tengah kesulitan mengatur napas dengan mata bulat yang tertuju lurus ke arah Kai.

“SHINee World,” gumam Kris.

Punggung tangannya digunakan untuk menutupi sinar matahari yang menyilaukan kedua mata. Saat ia menengadahkan kepala, nampaknya matahari tersebut tak lebih besar dari bola dunia berjari-jari seperempat hektometer. Hanya saja sihir sang porter terasa kuat. Kris bahkan dapat merasakan sinar matahari itu seolah menghisap tenaganya.

Meski tidak dalam jumlah banyak, dari sela pori-pori tubuh Kris bermunculan kepulan uap hitam dengan bau amis yang menyengat. Hal itu terjadi pula pada Lay dan juga Chen. Sayangnya kedua castè itu tidak peka untuk sekedar menyadarinya.

“Bagaimana bisa selama ini Key bersemayam di dalam tubuhmu, Kris?”

Kris kembali menatap langit. Matanya menyipit saat mengamati lubang besar yang menganga di atmosfer terdalam. Kepalanya seolah terkena lemparan busur saat mendengar Chen mengajukan pertanyaan. Tentu saja hal itu membuat Kris terjaga dari lamunannya.

“Aku tidak ingat,” ia berkata lirih.

Mendadak kelopak mata Kris kian memberat. Pria itu terpejam. Di antara ringkihan suara Audaces, kabel-kabel otaknya melerai dan mencoba terhubung kembali pada lubang saklar yang sempat ditinggalkannya.

Kemudian Kris mengingat sesuatu. Sekelebat memori yang nampak samar di otaknya. Permukaan kulit di sekitar kening Kris mengerut seperti ubur-ubur yang tersengat matahari saat bayangan-bayangan itu memperjelas diri. Yeah, hal yang hampir saja terlupakan dan menghilang akibat terkikis oleh ketakutannya selama ini.

Saat itu, tepat di penghujung putaran evolusi EXO Planet, ia bersama Suho berpatroli di hutan arboris, hutan yang dipenuhi pohon-pohon tua dengan akar jalar yang menyembul di atas permukaan tanah. Daun-daun berbentuk ovate tumbuh lebat pada tangkai besar dan pada ranting-ranting yang berayun ringan seperti untaian rambut.

Semua yang mereka temukan masih normal. Perpaduan gas helium dan fosfina yang muncul dari respirasi pepohonan begitu menyejukkan hingga ke sel-sel tubuh, membuat keduanya dapat lebih mudah mengatur pernapasan.

Sayangnya, keadaan yang begitu damai itu tidak berlangsung lama saat Kris menemukan sesuatu di antara batang pohon salazar. Diiringi Suho, pria dengan proporsi tubuh yang jauh lebih tinggi dari pemimpin Krypth tersebut membuka telapak tangan, membentang kelima jemari hingga percikan api menyulut di setiap ujungnya.

Suho melakukan hal yang sama dengan menggulung segumpal air di kepalan tangannya. Ia menjejakkan kedua kaki dengan tajam ke atas tanah saat siluet dari balik pepohonan itu membentuk sebongkah makhluk sepertinya. Fokusnya kini tertuju pada sosok perempuan dengan rambut hitam panjang yang berayun ringan menutupi punggung hingga ke paha.

Si perempuan menyunggingkan sejumput seringaian, seolah sosok yang tidak begitu jelas akibat tertutup rimbunan pepohonan hutan itu secara sengaja menunggu kehadiran keduanya. Berbeda dengan Suho, Kris kehilangan ketertarikan pada perempuan itu tepat setelah ia mendapati kehadiran makhluk lain yang berhasil menajamkan seluruh indera yang dimilikinya.

Dua bayangan hitam, bersama perempuan dengan iris mata setajam tutul yang mengendalikannya. Wajah mereka tertutup tudung dengan sempurna. Dan kini ia mengetahuinya secara sempurna pula.

Maallum witch,” gumam Kris ketika sadar bahwa kehadiran perempuan aneh di hutan arboris lah yang telah membuatnya terkurung di dalam kobaran api antah berantah.

Maallum?” Chen mengulang.

“Dia yang telah membangkitkan kembali tulang-tulang mereka.”

Jawaban itu datang diikuti gerakan bola mata Kris yang menyoroti pria berjubah hitam di selasar lapangan dengan penuh keyakinan.

Itu dia. Lee Taemin. Salah satu di antara bayangan hitam yang masih menahan jiwa Suho pada bandul yang menggelantung di dadanya.

“Tapi… bagaimana bisa?” Giliran Lay yang berbicara.

Perlahan, Kris berjalan ke sisi mimbar. Sebagian konstruksi bangunan yang telah hancur terkena kombinasi luapan pukulan dashyat Minho dan kekuatan D.O membuatnya melangkah seperti pria tua. Retak di pijakannya roboh ketika tumpuan kakinya terasa berat. Refleks Kris mundur teratur atau tubuhnya akan terjun bebas bersama reruntuhan dari ketinggian tujuh meter.

Kris mendongak, menemukan Uro bersama Audaces—naga peliharaannya—saling mendaratkan taji dan cakar mereka pada bulu halus klarks. Sambil memegangi dada; lantas menggerakkan bahu; kemudian memutar pergelangan tangan, Kris berniat untuk melakukan serangan.

Namun ada satu hal lagi yang menarik perhatian Kris, selain bulu-bulu klarks yang merontok akibat cakaran Audaces. Seorang gadis berkulit pucat—dengan sebilah pedang keperakan yang menari-nari membelah udara di sekitarnya, menyatu bersama kelihaian di setiap gerakan pergelangan tangannya—berada di tengah arena perang dilindungi oleh tubuh tegap Kai.

Masalah utamanya bukan pada identitas daripada si gadis. Melainkan benda keperakan yang mampu memusnahkan mavors hanya dengan sekali tebas.

“Tidak mungkin huglooms berada di planet ini.”

Lay mendengar Kris berbisik, meski bisikannya lebih tepat dikategorikan sebagai seruan tajam. Tatapan skeptis Kris tak beralih dari kilatan afftheurcaly selama beberapa detik. Sesuatu yang sulit untuk dipercayai oleh benaknya sendiri.

“Tentu saja bisa. Gadis itu berada di sini atas perintahmu juga, Kris—atau lebih tepatnya atas perintah Key.” sahut Lay.

“Baiklah,” Kris memberi aba-aba pada Lay untuk menjauh. “Karena aku yang telah mengundang mereka secara tidak sadar, sebaiknya kuusir para tamu ini secepat mungkin dalam keadaan sadar.”

Detik berikutnya jemari Kris mengeluarkan api yang kian berkobar seperti disapu angin. Ia membisikkan kalimat panjang; sesuatu seperti mantra. Saat pria bertubuh tegap itu merentangkan kedua tangan, menyesapi bau debu bercampur tanah yang berubah menjadi polusi udara, kobaran api berkapasitas tinggi dan membentuk sepasang sayap phoenix pun berkibar di udara.

Para mavors yang melesat bagai kilatan cahaya seketika membaur dan memusnahkan mereka. Api sharon ciptaan Kris mampu membabat habis kehadiran mavors. Bagai batu karang tua, pasukan SHINee World terkikis dengan mudah hingga tak ada sedikit pun bayangan hitam yang tersisa.

Sialnya, sunggingan seringaian Kris setelah pemusnahan massal itu tidak berlangsung lama. Cahaya menyilaukan dari lubang besar di atas atmosfer membuat pria itu berdecak. Lay bahkan sedikit menghindar saat percikan api sharon hampir mengenainya, tepat ketika Kris memukul udara kosong di depan matanya.

“Bukankah hanya kekuatanku dan kekuatan Suho saja yang mampu membuka scutus?” Kris lagi-lagi menengadah. Sejumlah bayangan hitam yang jatuh melesat ke bawah atmosfer berhasil membuat suasana hatinya kian memburuk.

Usahanya sia-sia. Terbukti ketika pasukan bayangan sialan itu semakin membabi-buta, saling mendahului melewati perisai scutuss untuk membuat para castè kewalahan.

Yeah, dan kalian berdua benar-benar melakukannya,” ejek Lay seraya melayangkan sebuah pukulan pada mavors yang mendarat di antara mereka—sebelum akhirnya mavors malang itu musnah di tangan Kris.

“Bagaimana caranya jiwaku bisa bebas?” tanya Kris. Cambuk api dari ujung telunjuknya bergerak liar melucuti mavors lain yang hendak menyerang Chen.

Afftheurcaly,” sela Lay.

“Kalau begitu,” tubuh Kris melayang ke tempat yang agak tinggi. “biarkan sang huglooms yang menghabisi pria kurus dari SHINee World. Aku akan mengurus sisanya.”

Mulut Kris bergerak sedemikian rupa hingga terdengar bunyi siulan panjang dari sela bibir tebalnya. Audaces menyahut dengan meringkih seperti kuda balap. Naga dengan hidung yang dihiasi tiga tanduk tajam itu memutar haluan, mengepakkan kedua sayap kuatnya hingga nyaris menyapukan permukaan tanah berdebu di atas lapangan sebelum akhirnya mendarat mulus di bawah podium.

Kris menaiki tubuh Audaces, alas boots setinggi tulang keringnya menapaki punggung sang naga. Pria itu meneriaki satu kata kemudian Audaces melesat terbang membelah awan. Mata sang naga memancarkan semangat yang disalurkan sang pemiliknya, semangat untuk menghancurkan musuh dalam bentuk apa pun yang tertangkap mata hijau tosca–nya.

Tentu saja, termasuk menyingkirkan klarks yang sedari tadi berusaha menjatuhkan Uro dan dua naga lain yang melindungi para castè.

-o-

KEPALA KAI MEMBENTUK GARIS LURUS SEPANJANG dagu hingga leher. Tak ada yang memenuhi pandangannya selain hamparan api sharon di bawah langit terang. Ia mengetahui tanda itu; kebangkitan Kris dari tidurnya yang panjang dan melelahkan. Kai hampir tidak bisa membuka mata sepenuhnya. Hawa panas yang ditimbulkan membuat rambut hitamnya mengerucut—jika saja ia tidak menunduk seperti saat ini.

“Tersisa satu sampah lagi.”

Bola mata Kai terseret turun seratus lima derajat mendengar penuturan seseorang di sisinya. Suara lembut nan lemah itu sedikit demi sedikit membuat ketakutannya menguap ke permukaan. Afftheurcaly yang masih digenggam kuat olehnya tak mampu menenangkan Kai. Wajah pucat itu nyatanya tidak berhasil disembunyikan dari sorot mata sang teleporter.

“Jangan berlagak sok pahlawan, Cho Ikha. Pergi dari sini atau kupaksa kau untuk kembali ke bumi.” Nada Kai tak lagi menggertak. Kali ini ia mencoba untuk membujuk; secara halus.

“Diamlah, Kai! Kau tidak sedang dalam kondisi untuk menceramahiku!” Cho berseru, mendelik acuh pada si pria lantas menatap garang ke arah Taemin di sisi lain lapangan.

“Kau—“

Tekanan di dada bidangnya menyentak Kai. Pria itu menunduk, merasakan telapak tangan sang huglooms seolah menembus hingga ke organ terdalam. Metal yang melapisi pakaiannya mendingin saat tersentuh oleh Cho. Kulitnya menggelenyar, otot di balik lapisan pakaiannya ikut menegang.

Kai melepas tangan Cho. Kondisi gadis itu makin mengkhawatirkan meski Cho sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan. Kai membawa pandangan Cho ke manik matanya tapi gadis itu menolak.

Siapa yang tahu jika saat ini Cho tengah bergumul seorang diri di dalam pikirannya. Berbondong-bondong, gadis itu meluncurkan beribu-ribu kebencian melalui tatapannya kepada Taemin. Kelopak matanya bahkan nyaris tak berkedip; tak ingin apa pun menghalangi jalan penglihatannya.

Gadis itu mendapati Taemin menyunggingkan senyum kecut setelah berhasil mengontrol udara di paru-parunya. Bibir Cho semakin merapat, menahan diri untuk tidak meludah ke arah si pria berjubah. Jika Kai dapat membaca pikirannya seperti yang dilakukan Edward Cullen, pria itu pasti tak akan menghalanginya untuk berduel langsung dengan Taemin.

Lee Taemin adalah sosok yang bersemayam di dalam tubuh Suho. Sedangkan Suho palsu itulah yang sempat merenggangkan hubungannya dengan Kai. Tentu saja kau tahu penyebab utamanya. Ciuman konyol di bawah runos—dan menurut Cho terasa menjijikan.

Gerakan kecil di mulut Taemin menunjukkan sesuatu. Bahwa pria itu akan mengucapkan sederet kalimat.

“Lebih baik simpan kata-kata makianmu itu, Cho Ikha. Aku harus membereskan kekasihmu terlebih dahulu. Setidaknya kau tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga untuk sekedar bersitegang karena hal-hal sepele.”

Tepat sesuai dugaannya.

“Demi neraka! Tutup mulutmu, Lee Taemin!”

Sepasang kaki Cho dihalangi Kai saat bersiap membentuk kuda-kuda. Meski tak berucap, sorot matanya menyiratkan sebuah peringatan; ia tidak boleh bertindak gegabah mengingat tubuhnya sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Oh, jadi kalian telah berbaikan? Sungguh drama anak muda yang menyentuh hati!” Taemin menyatukan kedua telapak tangannya hingga terdengar tepukan yang saling bersahutan.

Kai mendengus. “Sebaiknya perintahkan pasukanmu untuk kembali, Lee Taemin. Aku bisa membaca sorot ketakutan di kantung matamu.”

“Pengendalian emosimu cukup baik, Kai. Namun kau melupakan satu hal.”

Kai merapatkan tubuh ke sisi Cho saat perhatian Taemin beralih pada gadisnya. Seringaian pria dengan kompleksitas wajah yang hampir menyerupai dirinya tersebut menunjukkan sebuah petunjuk; Lee Taemin sedang merencanakan sesuatu.

“Apa kau yakin ingin membunuhku menggunakan afftheurcaly yang sangat kukagumi?” Taemin melayangkan pertanyaan pada Cho, menatap si gadis yang keberadaannya hampir tak terdeteksi di balik punggung Kai.

“Tentu saja. Lebih cepat lebih baik,” jawabnya. Napas Cho tersengal. Seperti ada sesuatu yang dingin dan beku menghambat saluran udara di dadanya.

“Baiklah. Jika itu yang kau mau. Namun sebelum itu terjadi…” Taemin melepas pengait jubahnya. Benda itu jatuh tertumpuk di tanah berdebu. Menyisakan linen hitam berlapis baja di pundak dan dadanya. “Tidakkah aku begitu romantis di matamu, Cho Ikha? Peranku di sini hampir mirip seperti Eodrad yang rela mati di tangan Lady Dyandra.”

Jari-jari sang huglooms mengerat di tungkai pedang. Entah mengapa saat Lee Taemin mengucapkan kalimat itu, dunia seolah berputar di sekelilingnya. Sebelum ia terjatuh karena mual, tangannya yang lain mencengkeram lengan Kai dengan kuat hingga pria itu merasakan dingin yang menusuk-nusuk tulangnya.

Dengan cepat Kai berputar, menyeret Cho ke dalam pelukannya sebelum gadis itu benar-benar terjatuh. Tak banyak yang dilakukan Kai selain mengepung Taemin melalui partikel no̱ménos. Ia cukup beruntung karena D.O dan Sehun menyingkirkan mavors yang hendak menyerangnya.

Lee Taemin menggeleng. “Ah, aku lupa jika kau penghuni bumi. Tentu saja tidak paham mengenai legenda di planet busuk ini—mengenai kisah cinta Eodrad.” Kemudian terkekeh geli seorang diri.

“Mengulur waktu untuk membuat rencana kedua? Atau mengulur waktu untuk mendapatkan pengampunanku?” tanya Kai. Air mukanya masih setenang seperti sebelumnya.

“Jangan sombong dulu, Kai. Bukankah kau tahu apa yang sempat terjadi di antara kami—aku dan huglooms tercintamu itu?”

Kai mendekap Cho semakin erat. Berharap apa yang diperbuatnya mampu meredam napsu dan amarahnya.

“Kuharap kita akan berbagi ciuman hangat lagi setelah semua ini berakhir, Cho Ikha. Aku merindukan bibirmu yang, eum, buah apa yang harus kudeskripsikan? Flubbish? Tumblegomb? Atau semanis sengatan fleurfly?” seloroh Taemin.

Kai hendak menyepak tubuh pria kurus berambut pirang itu menggunakan tapak kaki liarnya sebelum Cho menahannya.

“Ia sedang membuatmu marah. Ingat, Kai.”

“Aku tidak peduli!”

Kemudian Kai melepas Cho dan melesat cepat menyeberangi mavors yang melayang di antara ruang Taemin dan dirinya. Cho tak dapat menghitung kecepatan Kai saat mencapai tempat Taemin. Yang ia tahu, kapten SHINee World itu tidak meloloskan diri atau pun menghindar dari Kai. Mungkin ia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk sekedar menarik mundur tubuh kurusnya.

Kai merobohkan Taemin dengan hantaman keras di kepala dan bahunya. Pria itu bergerak mundur. Kekuatannya melemah akibat duel sebelumnya. Karena itu ia tak mampu untuk sekedar mengelak. Beruntung Kai tidak kembali menyerang. Maka Taemin memilih terbang ke udara, bersembunyi di antara mavors dengan mengubah diri menjadi bayangan.

“Sial! Kemana perginya pria cacingan itu?”

No̱ménos Kai menyusut ke dalam tubuh. Ia berbalik, berjalan lengang ke arah Cho tanpa mengejar kepergian Lee Taemin. Kai sempat memperhatikan yang lain, memutuskan untuk tidak ikut andil saat Tao dan Luhan mampu menangani Minho serta Onew.

Kai menyerahkan sebuah bandul pada Cho. Gadis itu tidak banyak berkomentar setelah menerimanya. Lee Taemin mungkin terlalu gegabah hingga tidak menyadari benda berkilat biru itu dirampas Kai diam-diam.

Pergelangan Cho bergerak memutar, afftheurcaly berubah bentuk menjadi belati seukuran pisau daging, memudahkannya menghancurkan bandul untuk membebaskan jiwa Suho. Saat cahaya biru mengilat-ngilat seperti petir muncul dari pecahan bandul, kedua lututnya meluncur mencium tanah kering tidak rata akibat sembulan bebatuan.

Kai menyadarinya dan segera menangkap tubuh Cho sebelum wajah atau tubuhnya yang lain ikut mencium tanah. Kai berteleportasi, membawa gadis itu ke basement atas di seberang podium utama—tempat semula saat gadis itu mengamati pertandingan.

“Bertahanlah. Setelah kuhabisi sisanya, aku akan segera menyembuhkanmu.” Kata Kai lantas menghilang menyusul castè lain yang masih berduel di lapangan.

Cho mengamati sekeliling. Ia sendiri. Tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya di basement tersebut. Ujung afftheurcaly tertancap kuat di lantai. Ditopang oleh belati, Cho berperang melawan dingin yang menggerogoti setiap sel tubuhnya.

Saat ia berusaha menghirup udara dalam bentuk apa pun, sebuah bayangan mavors muncul diam-diam di hadapannya. Cho mengeratkan punggungnya pada tumpukan bata yang memagari sisi basement. Bayangan itu bukan mavors, karena sosok yang mulai memadat menjadi bentuk manusia itu kini nampak jelas di matanya.

Belum sempat gadis itu menghunus afftheurcaly, tangan yang sama dinginnya dengan tubuh Cho membekap wajahnya dengan sempurna. Ujung-ujung kukunya melesak, menusuk kedua pelipis, kening, pipi, dan dagunya. Sesuatu yang menyakitkan mengejutkan seluruh tubuh Cho. Kekuatan yang tersisa di tubuhnya serasa terhisap ke dalam telapak tangan Taemin.

Ya. Lee Taemin.

Pria itu menunduk, merendahkan tubuhnya sejajar dengan Cho. Tangan mayatnya menjauh dari Cho, tepat setelah melihat gadis itu tak lagi melakukan pergerakan.

“Jika saja kau menerima tawaranku, perang ini tidak akan terjadi. Kau membuat keadaan ini semakin buruk, Cho Ikha.”

Taemin melangkahi tubuh sang huglooms kemudian berdiri angkuh di sisi base. Ia melambaikan tangan dan hal itu berhasil mengambil seluruh perhatian Kai. Taemin menoleh ke sisi kirinya sejenak. Tak lama, dan pria itu tersenyum mencemooh pada si teleporter. Senyumnya berubah menjadi tawa puas begitu Kai berlari kencang ke arahnya—meski para mavors sempat menghalanginya.

Taemin di sana, dan itu berarti pria itu berada di dekat Cho.

“Tenang saja, Kai. Gadis itu sudah kubereskan. Meskipun aku tidak bisa mendapatkan afftheurcaly, setidaknya aku masih bisa mengalahkan kalian setelah ini. Hanya dalam hitungan detik saja dan aku—argh!”

Langkah Kai yang besar dan tak berirama itu terhenti saat celotehan Taemin tak lagi menggema di udara. Minho; yang telah berhasil menjatuhkan Chen, Xiumin dan Chanyeol; menjerit-jerit seperti pria pesakitan.

Kai mengetahuinya. Koneksi dengan tubuh Taemin lah yang membuat Minho menggelepar seperti ikan. Jantung Taemin terkena hujaman afftheurcaly, dan pria itu mendapatkan jawabannya saat pedang keperakan tersebut berubah menjadi busur panah. Ujungnya mencuat menembus dada Taemin. Gagangnya yang panjang dan ramping melintang di antara tubuhnya.

Taemin dan Minho sama-sama mengaum seperti serigala. Tubuh keduanya meretak, bersinar dan mengeluarkan lava, sebelum akhirnya melebur menjadi kepingan bebatuan. Kai lantas berteleportasi, sesegera mungkin mencapai tempat Cho meski dugaannya benar-benar menjadi nyata.

Sambil membungkuk rendah-rendah, Kai meluruskan tubuh Cho di atas pangkuannya. Kedua kaki gadis itu telah membeku sempurna.

“Oh, tidak….” Kai menatap miris pada gadisnya. Tak ada pergerakan dari tubuh Cho. Perubahan tersebut cukup cepat hingga telah mencapai kedua pahanya.

“Cho Ikha—tidak.” Kai memeluk leher Cho protektif. Rambut hitamnya menyapu pipi Cho saat ia meletakkan bibir di telinga si gadis.

Setelah memantrai afftheurcaly dan meluncurkan benda tersebut ke tubuh Taemin—dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Cho tak lagi mampu melakukan kontak fisik. Gadis itu tergagap, dingin di sekujur tubuh membuat pita suaranya tersendat. Seluruh inderanya menumpul terhadap segala sentuhan Kai.

“Lay,” dipenuhi oleh frustasi, Kai hanya mampu bergumam sambil memeluk Cho di dalam rengkuhannya.

“LAY!” Kali kedua Kai berteriak. Ia menyebut nama castè itu beberapa kali. Teriakannya semakin menguat saat tubuh Cho mengejang. Mulut gadis itu bergerak-gerak liar menggapai udara.

Terbang rendah dari podium, pria itu bersimpuh di dekat Kai mengamati Cho. “Apa yang terjadi?”

“Aku tak tahu,” Kai terus berbisik menyuruh gadis itu untuk bertahan. “Lakukan apapun agar ia tetap hidup, Lay.” Pintanya.

Segera tangan Lay terulur pada sang huglooms. Namun ia segera menyingkirkan jemarinya saat menyentuh kening Cho. Ia melirik cemas pada Kai. Pria itu terus saja memeluk dan membelai Cho, tak peduli dengan suara debam di tengah lapang saat Kris dan Suho berusaha untuk menutup kembali perisai scutus.

“Kau harus segera mengembalikannya ke bumi, Kai.” Ucap Lay.

Sayang, perintahnya tak didengar. Kai seolah tak terusik oleh kata-kata Lay.

Dari semua kesalahan yang pernah diperbuatnya, inilah yang terburuk. Kai terus saja mendengungkan kata-kata penyesalan. Jika saja ia tidak meninggalkan gadis itu sendirian, Cho mungkin tak akan membatu seperti patung es seperti ini.

“Jangan tinggalkan aku, Cho Ikha.” Kai berbisik, berulang-ulang.

“Kai,” Lay meremas bahu Kai saat pria itu menemukan tangan Cho mulai membeku seperti kedua kakinya.

“Aku mencintaimu. Saranghae. Saranghae. Bisakah kau mendengar kata itu?” Jari-jari Kai membelai rambut Cho dengan lembut. Bibirnya menyapu kening Cho, nyaris tak menyentuhnya. “Sadarlah. Kumohon,” gumamnya parau.

Kai sadar usahanya sia-sia. Cho bahkan tak mampu melihatnya dengan benar. Nada suara Kai melemah dari sebelumnya. Ia masih belum siap, tak sanggup untuk kembali ditinggalkan. Disampingnya, Lay kini memahami betapa besarnya kesungguhan hati Kai terhadap Cho. Ia tidak pernah merasakan bagaimana ditinggalkan oleh orang yang terkasih, dan saat melihat adegan itu, hatinya seolah ikut teriris.

“Onew menghilang. Kita harus waspada sementara Kris dan Suho menutup scutus dan—oh, tidak!” Tak kalah nyaring, Baekhyun memekik mendapati Kai tengah meracau memeluk tubuh Cho yang hampir membeku sepenuhnya.

Baekhyun mengeluarkan cahaya corion miliknya, menekan dada Cho seperti yang dulu diajarkan Parleemos padanya. Matahari SHINee World dan mavors telah menghilang saat scutus tertutup sempurna. Namun efek corion tetap tak mampu mengembalikan tubuh Cho.

“Demi keselamatannya, Kai. Kembalikan gadis ini ke bumi atau kita akan kehilangan dua kehidupannya sekaligus,” suruh Baekhyun.

“Lagipula Taemin dan Key sudah musnah. Tak ada yang akan menyerang jiwa castè. Kumpulkan noménos–mu dan segeralah ke bumi,” lanjut Lay.

Di tengah kegalauannya, Kai mampu menangkap, mengerti, dan memahami ucapan kedua rekannya. Sejenak ia mencari-cari sedikit celah dari kesadaran Cho. Ada kalanya mata gadis itu terlihat mencoba menatapnya, meski pada ujungnya tatapan itu tak berarti apa pun.

Menyerah, Kai memilih untuk menuruti Lay. Ia memeluk gadis itu seraya berbisik mengucap kata-kata panjang tak berstruktur. No̱ménos yang semula menyelubungi setiap tubuh castè perlahan menyatu di tubuh Kai. Debu itu mengelilingi keduanya, Lay dan Baekhyun mundur menjauh saat cahaya biru pekat menyinari keduanya.

Cahaya itu meredup dalam sekejap, membawa serta tubuh Cho melewati ruang-ruang waktu yang hanya mampu ditembus oleh Kai.

Detik berikutnya, afftheurcaly yang tergeletak di lantai base mengeluarkan sinar terang. Sejenak, Lay dan Baekhyun mengira bahwa pedang itu akan ikut menghilang bersama kepergian si pemiliknya. Namun saat afftheurcaly melayang tinggi dan berubah ke bentuk semula, keduanya menatap bingung begitu benda itu justru melesat jatuh di hadapan Luhan.

Suho, yang baru saja terlepas dari kungkungan Taemin, menatap takjub pada kilauan afftheurcaly.

Lastragha38,“ ucap Suho.

Suasana berubah sunyi. Kegelapan malam serta awan pekat yang selalu menyelubungi seluruh kota membuat situasi semakin menghening. Yang mampu ditangkap oleh pendengaran mereka hanyalah saat seluruh castè saling bersaing menghirup udara yang sama.

Dengan gerakan bahunya, Luhan meraih gagang pedang lantas mencabutnya dalam sekali hentakan. Tubuh afftheurcaly menjulang tinggi di matanya. Sangat indah, meski benda itu telah dikotori oleh darah tiga pemimpin SHINee World.

“Tidak mungkin,” bisik Luhan.

Kini ia tengah berhadapan langsung dengan afftheurcaly. Benda yang seingatnya tak mampu disentuh oleh siapa pun kecuali pemiliknya. Terakhir, afftheurcaly sempat membuat tubuhnya terpental jauh hingga sepuluh meter saat ia berniat memegangnya.

Pedang sang huglooms berputar ringan mengikuti gerakan tangan Luhan. Kilauannya tak lagi putih keperakan. Merah, seolah sesuai dengan region Luhan—si castè dari Myrath.

“Sementara menunggu Kai kembali, sebaiknya kita segera memburu sisanya. Kita tak tahu apakah Onew memasuki scutus sebelum perisai itu tertutup atau masih tertinggal disini dan bersembunyi di suatu tempat,” ucap Kris berspekulasi.

Kesebelas castè berkumpul di lapangan. Selain Lay—yang tengah berusaha mengobati tiga rekannya, yang lain menyoroti setiap sudut tempat dengan sikap mengawasi. Malam membuat penglihatan mereka menurun. Itu berarti bahwa Onew bisa saja menyerang mereka kapan saja, di saat mereka lengah.

-o-

SEOLAH DIKEJUTKAN OLEH RIBUAN VOLT, TUBUH CHO MENGEJANG hebat hingga membuat pembaringannya bergetar. Sepasang mata besarnya membelalak lebar. Hidungnya yang mungil membuat mulut gadis itu menganga untuk menghirup oksigen dengan rakus. Setelah yakin paru-parunya tak lagi berkedut nyeri, Cho mulai menenang sambil mengerjapkan mata dengan cepat.

Ia mulai menggerakkan jemari, lengan bawah, lengan atas, bahu, dan juga kedua kaki. Seluruh tubuhnya mati rasa. Seperti tertimbun lama di dalam tanah.

Selagi menggosok matanya dengan pangkal tangan, Cho berusaha untuk menjernihkan kembali otaknya. Ia menatap kubah kaca yang menutup tubuhnya tanpa menyisakan celah. Kubah itu mengelilingi tempat tidurnya.

Ah!

Gadis itu baru menyadarinya. Ini bukan tempat tidur. Ini sebuah bangsal. Lengkap dengan selimut khas rumah sakit yang menutup kedua kakinya. Terdapat jarum infus pada salah satu punggung tangannya. Selain itu, sesuatu seperti penjepit jemuran menekan ujung telunjuknya yang lain.

Cho juga merasakan sesuatu yang dingin melekat di beberapa titik tubuhnya. Benda setipis kertas itu terhubung oleh selang-selang panjang melewati lubang kecil di sisi kubah. Dengan suara yang tidak bisa dikendalikan, gadis itu hanya mampu memukul-mukul kaca setebal tiga sentimeter tersebut. Ia masih belum yakin apakah Kai benar-benar membawanya kembali ke bumi atau malah tersesat ke belahan alam semesta lain.

Samar, ia menemukan dua sosok manusia memasuki ruangan. Dua? Tidak. Sepertinya lebih dari dua. Tergesa-gesa melewati pintu, sepasang pria dan wanita itu menghampiri kubah. Masing-masing telapak tangan mereka menyapu lapisan kaca. Keduanya meneriaki sesuatu—meski suara mereka berubah menjadi dengung-dengung tak menentu.

Cho hendak mengangkat tubuh hingga niatnya terhenti begitu merasakan nyeri di kepalanya. Ia hanya mampu berbaring, menatap bingung saat beberapa petugas rumah sakit mengontrol mesin di ujung kubah terluar.

Di tengah kekosongan udara di dalam kubah, Cho mampu mengenali wajah sepasang manusia tersebut. Wanita itu menyeka air matanya. Bibirnya terus saja menggumamkan sesuatu yang tak mampu dibaca oleh mata Cho sendiri.

Eomma. Appa.”

Dan saat Cho menyebut dua kata tersebut, tak ada yang perlu diragukan lagi selain kesimpulan akhir yang dibuatnya: ia telah kembali ke tempat asalnya—selamat dan tanpa cacat.

-o-

PARTIKEL NOMENOS MUNCUL DI SATU TITIK SEPERTI BADAI PASIR California. Benda itu menyusut kemudian membentuk sosok tinggi bertubuh tegap. Kai jatuh terkulai saat berhasil mendarat di tanah EXO Planet. Hal itu mengejutkan castè lain, terlebih Luhan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Suho. Pria itu mencapai Kai lebih dulu. Kedua tangannya meremas bahu sang teleporter, membantunya untuk berdiri.

Dibantu Suho, Kai mengokohkan kembali tungkai kaki dan tangannya yang sakit. Perjalanan singkat ke bumi membuat tubuhnya melemah. Sambil bergerak meraih uluran tangan Sehun, kelopak matanya terpejam lekat untuk menghilangkan pusing yang mendadak memendungi penglihatannya.

“Terlalu hening,” ungkap Kai begitu kesadarannya pulih.

“Keberadaan Onew masih belum terdeteksi,” jawab Suho.

Setelah meyakinkan Suho dan Sehun bahwa ia baik-baik saja, Kai menoleh pada Luhan. Kilatan afftheurcaly tertangkap sensornya saat benda itu berayun ringan di bawah kendali Luhan. Hal yang baru—mengingat bagaimana pedang itu sangat sensitif dan emosional seperti halnya manusia.

Kai menajamkan instingnya saat hembusan angin melintas menerbangkan rambut pendeknya. Tubuhnya berputar cepat, mencari-cari, meski tak ada siapa pun yang ditangkap matanya selain D.O dan Tao. Kemudian ia menghampiri Luhan, memandangi kilau merah afftheurcaly yang mencolok di tengah suasana malam.

“Dia ada di sini,” bisiknya. Bola mata Kai berputar ke setiap sudut, bergerak-gerak mendeteksi gelombang misterius yang menggerayangi bulu kuduknya.

Kai terkesiap melihat Chanyeol kembali roboh—setelah Lay menyembuhkannya. Sehun jatuh berdebam ke atas tanah, disusul D.O dan juga Tao. Mata tegas Kai menyipit, mengamati pergerakan bayangan hitam secepat angin penyebab runtuhnya kuda-kuda keempat rekannya. Bayangan itu pasti Onew, bergerak tak menentu hingga membuyarkan konsentrasi mereka.

Kai melekatkan punggungnya pada Luhan saat Kris, Xiumin, Suho, Lay dan Chen ikut roboh seperti pohon tumbang. No̱ménos dikeluarkan melalui sela-sela jemarinya, menyebar cepat ke seluruh castè untuk melindungi mereka. Sialnya, Kai terlalu sibuk melindungi castè lain hingga tidak memperhatikan ketika bayangan itu justru mengarah ke padanya.

Luhan membalikkan tubuh saat bayangan hitam itu menggumpal membentuk tubuh Onew. Terdapat sebilah senyum di bibir sang pemimpin SHINee World begitu mendarat beberapa sentimeter saja dari Kai. Luhan mengayunkan afftheurcaly, menebas leher Onew dan membuat kepalanya jatuh ke tanah sebelum mengeras menjadi batu.

Teriakan histeris Luhan membahana mengisi keheningan. Pria itu melepas gagang afftheurcaly yang memanas. Tak banyak berpikir, Luhan bergerak meraih tubuh Kai sebelum pria itu menghentak tanah. Di balik punggungnya, tubuh Onew mengeluarkan lava dan meretak seperti bebatuan gunung.

Agak ragu, Luhan menggenggam gagang belati yang tertancap tegak di jantung Kai. Setelah mengumpulkan keberanian, benda tajam berlambang SHINee World itu ditarik secara paksa hingga membuat Kai mengerang. Luhan membaringkan tubuh Kai setelah menyingkirkan reruntuhan. Tangannya menekan luka di dada Kai, menghambat aliran darah meluncur dari lubang tersebut.

“Kenapa kau bisa seceroboh ini, huh?” Luhan berteriak, memaki pada Kai atas apa yang menimpanya. Raut wajahnya berantakan. Kekalutan itu tidak dapat disembunyikan saat Kai berusaha bernapas meski jantungnya telah terkoyak.

Lay menghampiri keduanya setelah berhasil mengangkat tubuh. Ia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri saat Onew menusukkan belati berkaratnya ke tubuh Kai. Hal yang tak pernah terbayangkan olehnya.

“Dengar! Kau akan selamat karena Lay sebelumnya telah berhasil menyembuhkanmu. Kau akan selamat. Kau akan selamat,” ucap Luhan berkali-kali.

Wajah pria itu memerah menahan tangis. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak karuan saat Kai membisikkan sesuatu di pikirannya. Kai menggenggam jemari Luhan, mengatakan pada fratheer-nya bahwa usaha Lay tidak akan berhasil.

“Tidak! Kau dengar?” tegas Luhan.

Ia menoleh, melihat rona keputusasaan muncul di wajah Lay.

“Apa yang harus kulakukan?” Luhan berucap lirih. Ditatapnya manik mata biru Kai yang mulai berubah gelap.

“Biarkan aku pergi,” gumam Kai terbata.

Sehun dan Baekhyun mengguncang tubuh Kai. Castè lain mengerubunginya setelah pulih dari serangan Onew. Luhan mengusap wajah Kai. Bibirnya bergetar sementara matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak rela. Selamanya aku takkan rela.” Luhan memeluk Kai ke dalam tubuhnya. Meremas rambut hitam Kai bahwa ia bersungguh-sungguh akan hal itu.

Keadaan itu tidak berlangsung lama begitu Luhan menemukan tubuh Kai melemah. Pria itu melepas Kai, mencoba menelisik tanda kehidupan lain yang masih tersisa. Namun kelopak mata Kai telah tertutup sempurna. Tubuhnya tidak merespon meski Sehun mengguncangnya beberapa kali.

“Kai,” sahut Luhan.

Sahutan terakhir sebelum ia merelakan kepergian Kai selamanya. Castè Krypth dan Myrath berdiri tegap membentuk lingkaran, mengelilingi tubuh Kai, mengiringinya bersama lantunan doa.

…bersambung…

 

———————————–

38Lastragha : Efek pengalihan. Ketika pemilik pedang tak mampu untuk menyelesaikan tugas, ia akan mengalihkan pedang pada orang yang berkompeten dan dapat dipercaya. Apabila orang yang diembani tugas telah berhasil, pedang akan kembali ke pemiliknya dan tak akan bisa disentuh kembali oleh siapa pun.

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

62 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 11” (REPACKAGED)”

  1. kok bisa kok bisa kok bisaaaa (?)
    huaaa… full action!! and I like it!! ceritanya gak terduga banget..
    ngerasain sakitnya Kai pas ditusuk ( secara aku kan pacarnya kai #dirajam) kenapa TT.TT kai nya mati gak sih? atau reinkarnasi jdi manusia?? need next part!!

  2. apa apa apa apa apa? kai kenapaaaaaa? alurnya nggak bisa ditebaaaaakk. waaaaaa nangissss. part selanjutnya harus secepatnyaaaaaaa ;;;;;———;;;;;

  3. Annyeong author aku reader baru disini 😀 ini ceritanya daebak banget thoooor 🙂 belum pernah baca sebelumnya ff yang kaya gini , ff ini beda dari yang lainnya ^^ ikhanya kenapa thor ?? Mati ?? Kai juga mati gitu ?? Huaaaaaa jangan dong thor T.T semoga ikha sama kai bisa bersatu lagi T.T next chapnya di tunggu thor ^^

  4. eonnie…..
    kenapa kaia gini….
    gx rela beneran dah kai berakhir..

    actionnya aku suka..bener2 berasa menegangkan bgt…
    kaia aku ikutan di medan perang..
    .
    sebenernya si ika di apain sich ama taemin..

    eonnie… gx tau lagi mau kmen apa.. intinya aku suka banget ama ni ff…

    rasanya beda ama ff yg lain…

    eonnie saranghae…
    buing2..lemparin eunhyuk…

  5. Kaaaaiiiiiiiii T.T walaupun dirimu bukan main biasku lagi tp tetep aja miris bacanya, apalagi chemistry sama Luhan di ff ini tuh….. 😦

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s