SPY (i)

SPY (Oneshoot)

SEINGAT JEAN, POHON PINUS YANG SALING BERJAJAR RAPI DI KEDUA SISI jalan tak beraspal tersebut akan membawa siapa pun ke kaki Gunung Gyeryong saat mencapai titik terujung. Salju berjatuhan cukup lebat melewati ranting-ranting pinus, menutupi jalanan sempit yang menjadi satu-satunya penghubung menuju kota besar yang ia telah lewati satu jam lalu.

Di luar nampak gelap. Sama gelapnya dengan kondisi di dalam Daihatsu Zebra tua yang sedang ia tumpangi. Jean memilih diam saat dua pria bersenjata lengkap mengapitnya di jok belakang. Tak ada yang mengajaknya bicara, termasuk perempuan paruh baya di samping si pengemudi—yang menjemputnya dari Itaewon.

Jean berusaha bersikap tenang dengan memperhatikan setiap rambu yang melintasi penglihatannya. Terlebih saat pria berkacamata hitam membanting cepat kemudinya ke sayap kiri. Sepertinya si pengemudi tak memperhatikan tanda ‘caution’ di sudut jalan—tanda yang melarang siapa pun untuk menerobos jalan buntu tersebut.

“Victoria,” Jean menyahut dan perempuan berambut blonde di jok depan pun menoleh. “Bukankah aku hanya perlu mengambil data dari seseorang yang kau sebut di perbincangan kita beberapa waktu lalu? Kenapa pria-pria disampingku harus mengarahkan senjatanya selama mobil ini terus melaju—membawaku ke suatu tempat yang antah-berantah?”

Tubuh Jean bergerak naik turun saat roda van melindas batu-batu besar di sepanjang jalan. Ia mencium sesuatu yang mencurigakan. Tentu saja, karena manusia-manusia misterius di sekelilingnya tidak sedikit pun membuka mulut mengenai tempat destinasi mereka.

Perempuan bernama Victoria itu melepas lensa hitam berbingkai yang dikenakannya lalu tersenyum. Polesan Etude House flower-pink membuat bibirnya semakin terbentuk indah. Jean bertaruh, Victoria pasti selalu dikelilingi pria tampan semasa hidupnya.

Calm down, Jean. Kau akan segera mendapatkan uang itu setelah kita sampai di tempatku,” jawab Victoria.

Ia memerosotkan tubuh pada jok empuknya. Tak ada hal mencolok yang dilakukan Victoria selain memegang smartphone dan sesekali mengirim pesan melalui benda tersebut. Sementara itu Jean tidak lagi bertanya, membiarkan mereka menahannya hingga ia dapat melarikan diri setelah kedua kakinya berhasil menjejak di atas permukaan tanah lembab.

Dan kali ini ia akan menunggu dengan sabar saat waktu itu tiba.

-o-

TAHAN GADIS INI DAN JANGAN SAMPAI MEMBUATNYA TERLUKA. MINHO akan menebas leherku jika hal itu terjadi.” Victoria berjalan mendahului Jean dan dua bodyguard yang mengapit gadis tersebut. Tatapannya mengawasi keadaan sekitar, menggiring ketiganya masuk ke dalam sebuah gedung tua dengan penerangan yang begitu buruk.

Jean kembali mengaduh. Sepertinya ia tidak pandai memanfaatkan timing yang sedari tadi ditunggunya. Kemampuan berkelahinya sangat minim. Terbukti saat kedua bodyguard itu berhasil membuatnya tak berkutik.

Mereka masuk melalui pintu besar dimana engsel berkaratnya mengeluarkan bunyi ‘kreet’ yang cukup nyaring. Jean bahkan sempat tersandung beberapa kali saat berjalan memasuki bangunan tersebut. Tempat ini hanya mengandalkan cahaya dari luar. Belum lagi bau apek dan juga pengap yang menusuk-nusuk penciumannya. Gedung ini benar-benar menyeramkan dan tak layak untuk ditinggali.

Pria di kedua sisi Jean menyeretnya menepi, memberi ruang lebih bagi Victoria saat perempuan berperawakan seksi itu berdiri kaku di hadapan sebuah lukisan wanita tua. Jari lentiknya mengusap lembut permukaan bingkai dan detik berikutnya terdengar bunyi ‘klik’ diiringi suara deruman mesin yang menggema.

Lantai semen di bawah kaki Victoria perlahan bergerak. Jean menganga seperti orang tolol saat menemukan beberapa anak tangga di sana. Victoria mengayunkan tangan, menyuruh Jean dan bodyguard-nya mengikuti kemana tangga-tangga ini tertuju. Bodohnya Jean sama sekali tidak melakukan perlawanan.

Cemas sekaligus penasaran. Maka ia memilih untuk mengikuti apa yang diinstruksikan Victoria padanya. Ia telah menyelam cukup dalam. Sebaiknya ia terus bergerak untuk mendapatkan pancingannya atau usahanya akan berakhir sia-sia.

Welcome!

Seruan seseorang menegunkan Jean. Kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah si pemilik suara. Bahkan ketika bodyguard Victoria menyeretnya ke sisi lain meja, bola mata Jean tetap tertuju pada pria tinggi dengan wajah kecil yang seakan-akan menyatukan dua mata bulatnya. Tak perlu banyak menerka, kini Jean duduk tepat di seberang si pria—setelah dua pria disampingnya dengan paksa menyeretnya.

“Jangan menatapku seolah kau akan menelanku hidup-hidup, Jean. Victoria tidak sedang menjualmu padaku hanya untuk secarik kertas yang sangat kau inginkan.”

Jean terlalu menyeramkan saat menatap pria tinggi tersebut. Maka si pria menenggak habis minumannya sebelum berpindah tempat, mempersilahkan pria lain yang lebih pendek darinya untuk memimpin perbincangan mereka.

Kening Jean mengerut seolah enggan untuk berhenti berpikir dan menerka-nerka. Kedua bahunya tegang. Akibatnya, ia harus menegakkan tubuh dan sama sekali tidak nampak rileks duduk di singgasananya.

“Sebaiknya kau segera menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini atau aku akan menghubungi polisi!” Ia mencoba menggertak pada si pria tinggi. Meski biasanya ia selalu acuh dan tidak mempedulikan sekelilingnya, kali ini seluruh indera yang ia punya sengaja dengan aktif dikerahkan.

Cetak pearl sky blue pada beige pakaian yang dikenakan si pria menguntungkan Jean. Saat diamati lebih jauh, orang-orang di sekelilingnya mengenakan beige yang sama. Hanya urutan huruf di bawah lambang itu saja yang berbeda. Well, kemampuannya membaca Hangul memang tak perlu diragukan lagi.

Yeah. Pria tinggi itu bernama Minho Choi dan si pendek berkulit pucat itu berlabel Key.

“Sekali pun kau menggonggong dan melolong, tak ada seorang pun yang akan menghinggapimu, Jean.” Giliran pria pendek bermata hitam yang bicara. Perawakannya memang kecil, tapi ia terlihat berkharisma seperti Minho.

“Kau butuh uang; dan kami akan membantumu untuk mendapatkannya,” kembali ia berucap.

Telapak tangan Jean mendadak lembab; pertanda bahwa gadis ini sedang dilanda kecemasan. Ia meremas kemudian menyapukan ke sepuluh jemarinya ke jeans belel yang ia kenakan. Cepat-cepat ia mengontrol ekspresi wajahnya sebelum pria blonde di hadapannya menemukan ketakutannya.

“Mencurigakan,” Jean bergumam.

Pria itu memberikan reaksi fisik dengan menggedikkan bahu. “Seperti yang telah kita sepakati sebelumnya, Jean. Kau akan membantuku mendapatkan data yang kucari. Bukankah Kyunghee Medical Center menunggu aliran dana dari tabunganmu untuk mengoperasi Kyuhyun?”

Si pria mengetuk-ngetuk telunjuknya pada permukaan meja. “Itu pun jika kau masih ingin melihat kakakmu tersenyum lagi,” imbuhnya.

Jean mendesah.

Ia bukannya tidak berani. Hanya saja ia tak ingin menentang pria bermata tajam itu atau efeknya mungkin saja akan lebih buruk dari yang dibayangkan.

“Katakan saja apa yang harus kulakukan, Key.” Jean menjawab dengan terus-terang karena ia tidak memiliki opsi lain. Jika ia menolak, maka bukan hanya nyawa Kyuhyun saja yang tidak selamat—peluru pada pistol bodyguard Victoria pasti akan bersemayam di kepalanya tepat saat ia memutuskan untuk meninggalkan tempat terkutuk ini.

Good girl!” Key berseru menang.

Seorang gadis berambut pendek kemudian menyerahkan benda kotak tipis pada Key. Sesuatu seperti remote. Key berdiri di depan white board yang terbentang di balik punggungnya. Lantas cahaya putih menyorot lewat proyektor, menampilkan wajah seseorang dengan berbagai pose secara acak.

“Sederhana saja, Jennifer Cho. Kau hanya perlu mendekati pria ini untuk mendapatkan data yang kami perlukan. Krystal akan memberikan to-do-list nya padamu; termasuk target-plan dan data yang dimiliki si pria,” jelas Key.

Kursi yang diduduki Jean berderit nyaring saat ia menyeretnya. Mata gadis itu berpaling drastis mengamati foto-foto pria yang kebanyakan diambil dari kejauhan dan dari tempat yang tersembunyi.

“Siapa dia?” tanya Jean. Dagunya menunjuk lurus pada foto pria yang akan menjadi targetnya; tinggi putih, berambut hitam dengan perpaduan gradien warna cokelat dan emas, mata hitam yang menggoda serta gummy-smile yang istimewa.

“Agen NIS. Sulit untuk didekati dan sangat cekatan seperti simpanse.” Begitulah Key menjawab.

“Kenapa harus aku?” Pertanyaan Jean diiringi pula oleh tatapan tegasnya yang menjurus cepat pada tiap gadis-gadis lain yang ada di dalam ruang rahasia tersebut.

Masih ada Victoria, Sulli, Krystal, Luna dan gadis tomboy yang tengah mengotak-atik komputer di sudut ruangan. Jika Key atau pun Minho membutuhkan seorang wanita untuk mengemban ‘tugas’ yang dimaksudnya, Jean merasa gadis-gadis itu lebih cocok ketimbang dirinya yang hanya bertitel ‘biasa’.

First of all, because you need money. Terbukti saat kau sama sekali tidak menolak tawaran Victoria beberapa waktu lalu meski sebenarnya kau mencurigainya seperti saat ini—pikiranmu terus saja mendengungkan siapa kami dan darimana kami berasal. Second, because of your hidden abilities. Bermuka dua, pintar berbohong, pintar berkelit dan pintar berakting. Jonghyun sempat memergokimu tengah mengelabui seorang preman dan kau berhasil mendapatkan hasil rampasannya hanya dengan mengucapkan satu kalimat saja; tanpa berkelahi. Sungguh luar biasa!”

Sambil menjelaskan, Key berjalan lambat mengelilingi meja oval yang memisahkannya dengan Jean. Gadis berkuncir satu itu mendengus kasar. Ia baru tahu jika berbohong dan berkelit termasuk ke dalam kategori kemampuan yang tersembunyi. Mungkin bagi penjahat seperti mereka, memanipulasi orang merupakan sebuah mukjizat.

And the last one,” Langkah Key terhenti. Tubuhnya menunduk begitu mencapai kursi yang Jean duduki. “Because you’re sexy enough to seduce men.” Ia berbisik tepat di telinga mungil Jean. Bisikan halus yang membuat si gadis merasa takjub sekaligus ngeri.

Pupil cokelat Jean bergerak ke sudut matanya. Senyum tipis yang terbentuk di bibir Key lambat-laun merekah. Jean menangkap sesuatu di balik denotasi tersebut: bahwa pria yang menurutnya belum cukup umur itu sedang menggodanya.

Lihat saja, alis tebalnya bergerak naik-turun. Persis seperti yang dilakukan para gigolo di sepanjang daerah Gwangali.

Okay. Anggap saja aku setuju dengan dua alasan yang kau sebut sebelumnya. Tapi… seksi? Kau tidak sedang mengolokku, ‘kan?” ujar Jean.

Key memposisikan diri dengan duduk di atas meja. “Tak ada yang akan terjun ke lapangan selain kau. Aku tidak ingin mengambil resiko sedikit pun bagi seluruh anggota organisasi jika kau bisa mengelabui pria ini dengan mudah.”

“Keamananku,” Jean agak menyela untuk menginterupsi Key. “Bagaimana dengan keamananku? Kau bersembunyi di balik aksiku sementara aku harus bekerja sendiri hanya untuk uang yang kubutuhkan?” ia bertanya dengan tak sabar.

“Tenang, Jean. Semua sudah kuatur. Selain itu, jumlah uang yang kutulis lebih dari cukup untuk menutupi seluruh dana kesembuhan Kyuhyun. Sisanya kau masih dapat membeli hunian baru untuk dijadikan naungan kalian.” Tangan Key terulur, menepuk pundak Jean yang masih tegang sejak pertama kali duduk di sana.

Pasrah, gadis itu menunduk dalam sebelum akhirnya membuat keputusan final. “Kulakukan semua ini demi Kyuhyun,” ia berbisik pelan. Kepalanya merunduk seperti puteri malu, tak mampu untuk sekedar menatap Victoria yang nampak santai menghapus cat kuku di jemarinya.

“Victoria, Taemin, Minho dan Sulli akan sedikit menuntunmu di lapangan. Lagipula pria ini memiliki satu kelemahan yang begitu kentara,” jelas Key. Nadanya sengaja dilambat-lambatkan.

Ia merengkuh dagu Jean, mengangkatnya paksa hingga pertemuan mata mereka pun tak dapat dihindari. Seketika suasana mendadak sunyi, seperti berada di wahana roller coaster. Jean hanya perlu menunggu kapan ia harus berteriak begitu roller coaster mulai berjalan menantang gravitasi bumi.

Dan saat mata Key menyodok ketakutannya, jeritan yang menggema di dalam hati Jean mengguncang batinnya.

His name is Lee Hyuk Jae and his weekness is women.

-o-

VOLUME CLUB. TEMPAT MUNGIL INI CUKUP TERKENAL DI KALANGAN anak muda karena dua hal: banyaknya pelancong dari berbagai negara yang bertandang kemari serta sexy dancer yang selalu menjadi pemeriah suasana.

Dan di sini lah Jean.

Ia duduk dengan hati-hati pada bangku tinggi dekat meja bartender setelah luput dari desakan pengunjung yang nampak ricuh menari-nari di lantai dansa. Mini dress setengah pahanya membuat Jean tidak nyaman. Bukan karena pria-pria Nigeria yang tengah meneguk sampanye di ujung meja tengah menyeringai menggodanya—menampakkan gigi-gigi mereka yang putih bersinar, melainkan karena payet khusus yang menghiasi seluruh permukaan dress Jean. Bokong gadis itu serasa ditusuk-tusuk mata jarum, membuatnya seperti gadis yang mengidap penyakit ambeyen.

“Tak kusangka jika Lee Hyuk Jae berperan sebagai salah satu dancer di tempat ini—untuk menutupi latar belakangnya sebagai agen NIS.”

Jean memusatkan perhatiannya ke gelas coctail yang disuguhkan gadis bartender. Dipungutnya tangkai leci yang terapung di atas liquor, memoles buahnya sejenak dengan lipstik fuschia keunguan di bibirnya lantas mendaratkannya ke dalam mulut.

“Penyamaran bukanlah hal asing di dunia kami. Do it smoothly, okay?

Si gadis bartender mengerling ke arah Jean saat ia mengajaknya bicara. Tangannya masih sibuk memutar-mutar Smirnoff, menciptakan sebuah atraksi yang cukup memukau begitu botol itu melayang-layang di udara. Ia sengaja mengabaikan pesanan pria berkumis sejak lima menit lalu hanya untuk menjangkau Jean.

Tentu saja Jean paham. Meski bibir gadis itu dipoles Color Sensational Coral Crush; meski wajah cerah halusnya dipulas Maybelline Clear Smooth; meski hyperdiamonds eyeshadow membuat kedua matanya menjadi lebih bersinar, suara yang dibuat-buat si gadis berdasi kupu-kupu itu tidak dapat menipunya.

Well, Lee Taemin memang nampak seksi dengan penyamarannya kali ini. Lengan rampingnya yang berotot berhasil disembunyikan dengan baik di balik kemeja putih sebatas pergelangan tangan. Jari lentik dan wajah cantik alaminya menjadi nilai lebih bagi Taemin. Ia semakin nampak sempurna jika saja Minho mengizinkannya untuk operasi kelamin.

Sangat disayangkan.

Jean memutar tubuh ketika riuh sorak-sorai penghuni club menarik perhatiannya. Dentuman musik menggema mengisi udara hampa, menggantikan alunan LP yang dimainkan deejay malam itu. Panggung yang berada tak jauh dari hadapan meja bartender kini di kelilingi oleh kumpulan muda-mudi. Mereka meneriaki nama Shindong saat pria gemuk berambut gimbal muncul bersama dua dancer lain lalu menari lincah di atas sana.

“Sebentar lagi targetmu akan menampakkan diri. Bersiaplah,” Victoria muncul dari balik kerumunan dengan susah payah. Gelas Jean disambarnya tanpa banyak bicara. Ia nampak kelelahan. Napasnya terdengar berat.

“Pekerjaanmu tidak begitu menarik, uh?” ejek Jean. Ia terkekeh geli membayangkan betapa sulitnya Victoria menghalau pria-pria hidung belang yang hendak menghinggapinya.

“Jangan menjilat bibirmu setiap kali meneguk coctail dan berhentilah menggesekkan pahamu ke atap meja. Aku harus mengusir seorang pria overweight saat berusaha men—argh, dammit!

Victoria berseru saat melihat pria bermata sipit hendak merangkul tubuh Jean. Buru-buru gadis itu menarik si pria menjauh. Tak boleh ada yang mengganggu misi Jean, begitulah yang didengungkan Key sebelum ia turun ke lapangan.

Jean tersenyum memperhatikan Victoria sebelum gadis blonde itu menghilang membawa si mata sipit ke spot lain. Menjaganya adalah tugas Victoria dan Minho. Well, Victoria memang kewalahan menghadapi pria-pria yang hendak memangsanya, tapi sejak tadi ia belum melihat kemunculan Minho. Mungkin ia tengah asyik bercumbu dengan bule Australia di suatu tempat. Jean sama sekali tak peduli.

Alunan musik berubah lambat ketika Shindong meninggalkan panggung. Jean bahkan ikut menyorakinya seperti yang dilakukan pengunjung lain. Pertunjukan yang terlalu singkat dan tak lebih dari dua menit.

Sorot lampu mendadak berkedip-kedip begitu irama musik terdengar bertalu-talu. Suara teriakan pengunjung club makin histeris memekakkan telinga Jean. Sebelum gadis itu sempat menerka-nerka, kemunculan pria berjaket bulu-bulu tebal dari sisi panggung membuatnya terpaku di tempat.

Ia mengenal wajah itu. Wajah yang ditunjukkan Key. Wajah pria yang akan membantunya memperoleh segumpal uang untuk kesembuhan Kyuhyun.

Ya. Itu dia. Lee Hyuk Jae.

Beruntung ia duduk di tempat yang agak tinggi jadi ia tak perlu menjinjitkan tumit kakinya hanya karena orang-orang di sana nampak tak sabaran saat melihat Hyuk Jae menari. Mereka saling mendahului untuk mendapatkan spot terbaik, terlebih wanita-wanita paruh baya dengan pakaian yang mencolok. Mata mereka begitu berbinar seolah menemukan harta karun abad ke-13.

Wanita-wanita itu menyebut nama Eunhyuk berkali-kali—bukan Lee Hyuk Jae. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang melepas bra dan melemparnya ke panggung mini tersebut. Jean mendengus. Sepertinya ia harus ekstra hati-hati saat mencoba mendekati Hyuk Jae. Bisa saja fans labilnya menghajar wajah yang sangat diberkatinya sebelum ia hendak menyentuh si sexy dancer.

Jean meneguk minumannya tanpa mengalihkan perhatian dari pusat kehebohan. Penari lain yang muncul dengan tatto salib di dadanya menggantikan performa Hyuk Jae. Cukup seksi namun tak mampu membuat hatinya menggebu-gebu seperti yang dilakukan Hyuk Jae sebelumnya.

Kini ia mengerti mengapa wanita-wanita ini begitu antusias melihat performa Sang Sexy Dancer. Lee Hyuk Jae memiliki aura yang mampu membuat wanita mana pun jatuh ke dalam pesonanya dalam sekejap. Dan aura itu terdapat dalam tariannya.

“Ingat misimu dengan baik, Jennifer. Aku sedikit meragukanmu saat kau melihat Hyuk Jae tanpa berkedip.”

Jean mencerna kata-kata tersebut. Minho lah yang bicara. Pria itu berhasil menegunkannya saat melintas bersama seorang gadis seksi yang hanya mengenakan bra bermotif serta rok super mini. Ia mencibir. Minho tak perlu repot-repot mengingatkannya karena ia bukan lagi anak berumur tujuh tahun yang kadang lupa mengunci pintu rumah.

Ia hanya sedikit terkesima.

Terkesima dengan penampilan Lee Hyuk Jae.

Tempo musik kembali berubah dan Jean tak lagi mengumpat ke arah Minho saat pria itu meremas bokong si gadis. Sepenuhnya ia kembali tertuju pada panggung. Shindong, Eunhyuk dan pria bertatto dengan nama Lee Donghae itu muncul bersamaan.

Jean mengenal baik alunan musik tersebut. Harleem Shake. Lagu yang dipopulerkan oleh Baauer, si sexy dari London. Saat diperhatikan lebih detail, Eunhyuk—atau Lee Hyuk Jae, selalu menjadi pusat formasi. Pria itu begitu bersemangat menarikan lagu yang telah di-remix khusus oleh timnya. Hingga Jean baru sadar jika Hyuk Jae sama sekali tidak mengenakan lapisan lain selain jaket bulu tersebut.

Untuk menghilangkan gelisahnya, Jean meminta Taemin untuk mengisi kembali gelasnya. Ia meneguk habis tanpa tersisa. Rasanya suasana di dalam club semakin panas. Terlebih lagi ia berada tak jauh dari panggung. Tempatnya hanya dibatasi oleh lautan wanita-wanita genit yang berjoget seperti kuda liar. Matanya dapat dengan mudah menangkap jelas setiap ekspresi yang dibuat Hyuk Jae.

Jean menarik napas cepat saat Hyuk Jae berjalan ke sisi panggung lantas menurunkan jaket bulunya.  Dari sorot lampu yang berkedip tak menentu tersebut, ia mampu melihat abs Hyuk Jae yang terbentuk sempurna di tubuhnya.

“Shit!”

Gadis itu mengaduh kemudian memutar tubuh untuk tak lagi mengarah ke sana. Padahal seisi club justru makin riuh dan gaduh. Betapa tidak, Hyuk Jae malah melakukan pelvic dance yang menggebu-gebu dan tak terkontrol. Siapa yang tahan melihat kondisi tersebut?

“Kenapa?” tanya Taemin.

Jean menggeleng. “Pria ini sepertinya terlalu mengerikan untuk kuajak berciuman.”

Taemin terbahak. Beruntunglah suara maskulinnya teredam oleh teriakan serta lantunan lagu. “Itulah mengapa Victoria dan yang lain tak ingin mengemban misi ini. Karena Hyuk Jae sangat berbahaya—bahkan di atas ranjang sekali pun,” jelasnya.

Pelipis Jean dipijat kuat. Ia mendesah hebat. Sesekali gadis itu juga menjatuhkan kepal tangannya ke permukaan meja. Bibirnya mengecap tak karuan. Berbisik untuk meyakinkan diri bahwa ia dapat mengelabui pria mesum itu dengan baik—meski kemungkinannya sangat kecil menyangkut keperawanannya yang akan selamat setelah misi ini berakhir.

Dua menit kemudian lagu berhenti, pertanda bahwa pertunjukan si sexy-threesome telah berakhir. Jean tetap berada di posisinya. Masih belum memiliki cukup keberanian untuk kembali memandangi Hyuk Jae. Jean hanya tersenyum kecut saat mendengar wanita-wanita di belakangnya mengelu-elukan Hyuk Jae. Menurutnya hal tersebut agak berlebihan.

Rambut panjang Taemin dikibaskan perlahan. Jean mengetahuinya. Tindakan sederhana yang mengandung kode tersembunyi. Lee Hyuk Jae sedang mendekat. Itulah sensor yang dipancarkan Taemin padanya.

Where is Sungmin?

Untuk kali pertama Jean mendengar Hyuk Jae bicara. Suaranya unik, seimbang dengan bentuk tubuhnya yang skinny-berotot. Ia mengamati melalui sudut matanya, tak ingin si penari seksi ini memergokinya tengah memancarkan sensor infra merah ke tubuh topless-nya.

“Aku menggantikan shift-nya untuk hari ini,” jawab Taemin. Suaranya tertahan di tenggorokan. Jika bukan karena Jean tengah menenggak minumannya, mungkin saat itu juga tawanya akan terlepas.

Agak malas, Hyuk Jae duduk tepat di samping Jean setelah meminta Taemin menyediakan mineral dingin untuknya. Selama Taemin melakukan proses tersebut, mata Hyuk Jae melirik nakal mengamati sang bartender.

Jean mengikuti kemana pupil Hyuk Jae bergerak. Ada tiga titik utama yang diperhatikan pria itu.

Pertama, wajah Taemin. Tak butuh waktu lama, Hyuk Jae segera mengangkat sebelah alisnya kemudian berpindah target. Mungkin karena Taemin terlalu cantik untuk ukuran gadis-gadis sebayanya, jadi pria itu dapat lolos dengan mudah dari pemindai Hyuk Jae.

Kedua, payudara. Well, sepertinya Krystal cukup mahir menjejal busa pada bra Qmomo Push Up yang melekat di dada Taemin. Hyuk Jae mengangguk pelan lantas melewatkan bagian tubuh yang satu itu tanpa banyak bicara.

Ketiga, bokong. Lidah Hyuk Jae mengecap lantas menggigit bibir bawahnya. Bukan hanya Hyuk Jae yang membisikkan kata sexy di dalam benaknya. Jean pun mengatakan hal serupa saat melihat bokong Taemin lebih berisi dibandingkan miliknya.

New here?

Hyuk Jae melayangkan pertanyaan kedua. Kali ini bukan pada Taemin, melainkan pada Jean. Gadis itu menyadarinya begitu Hyuk Jae menatapnya seduktif kala meneguk minuman yang baru saja disediakan Taemin.

Like you see,” jawab Jean singkat. Ia berpaling, kembali menikmati coctail keempatnya seorang diri.

“Sepertinya hanya kau saja yang tidak begitu menikmati performance-ku barusan,” tanya Hyuk Jae. Pria ini sepertinya berniat untuk membuat perbincangan mereka makin jauh dengan melayangkan pertanyaan lain.

Tangan Jean mencengkeram sejumput rambut lantas menyelipkannya di balik telinga. “Well, tidak juga. Aku hanya tidak ingin bersaing dengan sekelompok pengagummu di sana,” ucapnya seraya menggerakan bola matanya ke arah wanita-wanita menor yang hanya berdiri kaku di lantai dansa menatap kosong pada Hyuk Jae.

Jean mengamati reaksi Hyuk Jae dan pria ini hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sama halnya ketika ia mengecek kemolekan Taemin, mata Hyuk Jae menatapnya skeptis dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jean pura-pura tak mengetahuinya dengan memperhatikan sekeliling. Ia menemukan Minho tengah berusaha menjauhkan gadis-gadis lain yang hendak mendekati Hyuk Jae.

Kini ia mengetahui tugas utama Minho; menjauhkan para gadis dari Hyuk Jae—kebalikan dari tugas yang dibebankan Key pada Victoria.

Name?” tanya Hyuk Jae.

Kedua alis Jean terangkat. Dengan lantang ia mengucapkan kata ‘What?’ dengan maksud agar pria itu mengulang kembali kata-katanya. Suasana di dalam club terlalu bising begitu seorang pria seumurannya tengah bermain biola di atas panggung.

Hyuk Jae mencondongkan tubuhnya mendekat. Ujung hidungnya menggesek lembut permukaan kulit di balik telinga Jean. Tentu saja hal itu membuat hati Jean mendesir. Sengaja, Jean melekatkan bibirnya di leher Hyuk Jae saat pria itu menggapainya. Si pria berbisik menanyakan namanya sekali lagi. Suaranya mengalun ringan, sangat menggoda hingga mampu membuat Jean merinding seketika.

Jean menjauhkan tubuhnya sejenak. Menatap bilah bibir Hyuk Jae yang entah mengapa terasa begitu menggairahkan. Gadis itu merogoh sesuatu di dalam dompet kecilnya sementara Hyuk Jae malah menatap bingung.

Sambil berpegangan pada bahu Hyuk Jae, Jean menurunkan tubuhnya dari kursi tinggi dan berdiri dengan bertumpu pada heels 12 cm -nya. Ia beralih menatap kedua mata Hyuk Jae, merasakan pancaran tubuh si pria dalam jarak personal yang diciptakannya.

Take this card. Kau akan mengetahuinya di dalam sana,” ucap Jean.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Hyuk Jae, salah satu tangan gadis itu bergerak perlahan menelusuri tubuh si pria. Senyum Hyuk Jae mengembang puas saat merasakan jemari Jean menyelipkan sesuatu di antara celana ketat dan underwear orange yang menyembul di pinggangnya.

Jean meraih dompetnya sebelum meninggalkan Hyuk Jae. Pria itu tengah memperhatikan pass-card yang barusan ia berikan. Kerlingan nakal Jean membuat smirk Hyuk Jae semakin menjadi. Itu berarti gadis itu mengundangnya malam ini.

Di tengah langkah Jean yang tersendat-sendat lantaran hamparan pengunjung club yang semakin memadati ruangan, Hyuk Jae tak pernah tahu apakah makna dari senyum Jean kali ini.

Stage 1, cleared.

…to be continued…

Logo 01

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

92 thoughts on “SPY (i)”

  1. Annyeong, aku reader baru disini.
    Aaaaa~ ceritanya bagus, penggambarannya detail. Bener-bener gak sabar sama part akhirnya.
    Keep writing! ^~^

  2. Yaampun yaampun mangap2 baca ini, aduh aduh, ayo ayo lanjut next part nya ditunggu, jago emang bikin orang penasaran hehe

  3. waa..aku baru tau kalo udah pindah alamat..pantesan buka beibiiilee kok ga bisa bisa..untung aja tadi isseng2 nyari rekomendasi ff,eh ketemu deh sama blog ini…

    seperti biasa eunhyuk selalu mesum wkwk
    aaaa..pokonya suka banget sama ff bikinan kakak..><
    oh ya kak,coba dong bikin ff yg pshyco2 lagi..suka banget sama genre itu kkk~

    1. hihihi keknya aku kurang publikasinya ya sampe” banyak yang masih belum tau aku pindah tempat. Karna kamu udah berhasil nemu blog ini, mari kita bersama-sama mengucap “berhasiiiiiil” hahhaha
      thx hyunbum buat komennya. Nanti aku usahai bikin ff psikologi lagi yooo~ ^^

  4. echt?udah pindah tempat ya eon?aku gatau masa hehe pantesa pas aku buka yg beibiiilee ga ada postingan sama sekali ._.
    btw ceritanya seru. ditunggu part selanjutnya yaa hehe

  5. uwaa… Eonni…
    Yang ini keren lo….
    Hyukjae selalu muncul dengan karakter yang… Ehem…
    Part 2 nya kapan eon?

  6. what the….
    eunhyuk penarani skriptis ??? 0_0
    tpi emang ccok sich…#plaakk
    wkwkwkwk..
    wuuuaahh…
    jean brani bnget,pdahal sblumnya blom prnah trlibat dunia kyak gtu…
    demi kyu apapun dlakukan…
    Ђέђέђέ«{^⌣^}»

  7. data apa yang pengen key dapetin sebenernya, eon? o.o
    hihi, eonni terinspirasi dari ss5 ya dancenya? Emg kebangetan tuh si Hyukjae, udah tua tapi seksinya makin ga ketulungan. Hot emang ><
    lanjut eonni~

    1. kkkk__ biasa dek yang berhubungan sama organisasi mereka. secara hyukjae kan ceritanya agent NSS.
      BETUL BANGET DEK SAMPE SEKARANG ITU HARLEEM SHAKE MASIH BELUM NGILANG JUGA DARI BENAK ONN AAAAAAA
      tolong dek, tolong… onn gak bisa hidup tenang dek… gak bisa…

  8. Eonnie-yaa….. Eonnie, eonnie *ngikutin CL ‘the baddest female’
    Kak, aku harus komen heboh lagi kak…..???
    Harus panjang lebar lagi mendeskripsikan betapa terlalu mustahilnya seorang Lee HyukJae!!!
    Reaksi pertama aku pasa baca ituu….. 0.0
    Ah udah lah, mimisan sayaa~~

    1. wah itu lagu kesukaan gue. ayo kita ngedance bersama samaaaa hahahaha
      mustahil apanya sih deeeekkk, hyukjae itu keseksiannya REAL 100%. onn udah coba narik kolor doi pas di super show tapi gak berhasil. cuma pas lagi ngintip kaosnya, itu dibalik bajunya uwow banget hahaha /apaan ini malah ngelantur\

      1. hahah iya dong kan CL eonnie aku kak ._.V
        mustahil kalo aku GA BISA MENOLAK pesonanya .!!!!! god oh god, terbuat dari apa hyukjae itu ?? bikin mimisan cuman gara2 tatapanya XD hahahha

  9. ini kok panas yah? #padahalhujan #salahcuaca
    hahaha XD
    eonni, hyuk jae ituh hot banget dsini, ga kebayang jadi Jean, ga kuat mungkin..
    hahaha XD
    daebaaak, dtunggu next nya eon.. :*

  10. Eonnii!!!
    Wahhhh …. Daebakk!!
    Kali ini ngikutin image seksi and hotnya hyuk jae ya eonn?
    Part 2nya kapan nih eonn … Gak sabaran pengen baca bgt niihh

      1. Cerah dong eon! Wkwkkwkwkw
        Lhooo jangan ditunda lg dong eon, aku tiap hari uda ngecek blognya eonni lhoooo krna pengen banget tahu lanjutanny …
        Ayooo eonn dipublish *puppy eyes*

  11. gilee seru abis kkk~
    kasiandeh si jean sampe harus ngejatohin harga diri buat ngelakuin pekerjaan itu demi duit..
    tapi overall yg jadi fokus tuh TAEMIN BWAHAHAHA sampe hyuk jae jadi napsu..bisa2an nyumpel2in busanya. eh ukurannya jadi segede jupe tah? sampe hyuk aja tersepona XD

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s