EXO PLANET “CHAPTER 10” (REPACKAGED)

EXO PLANET TEASER FOR 10th Part

***

Aku sama sekali tak tahu maksud Zaque menyuruhku untuk menghadapmu. Namun melihat kehadiran Cho Cho di sana, kurasa aku harus meluruskan sesuatu.”

Langkah Kai terhenti. Tubuhnya berpaling. Berhadapan dengan Leeteuk yang mengekorinya di belakang.

“Meluruskan sesuatu?” Pria itu balik bertanya. Melempar kembali pernyataan Kai sementara dirinya tetap melangkah menuju tempatnya.

“Gadis itu tidak ada hubungannya dengan hubungan kami—aku dan Sulli. Kau hanya perlu menghukumku atas segala hal yang kau ketahui,” ia membuat pembelaan. Bola mata Kai bergerak mengikuti kemana Leeteuk tertuju. Mengamati sesuatu yang akan penguasa planet itu lakukan setelah ini.

“Duduklah. Kita bisa membicarakan hal ini dengan lebih santai,” ia tersenyum. Menggeser kursi dan menyuruh pria itu duduk di hadapannya.

Kai tak banyak bicara setelah itu. Tak pula mengacuhkan perintah Leeteuk. Otaknya bekerja cukup lambat untuk sekedar menggeret kursi kayu di sampingnya. Sesuatu yang patut untuk diberi acungan jempol—karena ia memutuskan untuk duduk manis dan mendengar.

“Aku tak tahu-menahu dan tak akan pernah peduli dengan kehidupan pribadi atau pun perasaanmu, Kai. Kau bukanlah pria sepuluh tahun yang perlu kuatur dalam segi apapun.” Leeteuk menjulurkan tangan ke sisi meja persegi yang membatasi keduanya. Menyeret sebuah buku tebal di antara tumpukan buku lain lantas menunjukkan sampul yang nampak tua tersebut pada Kai.

Kepalanya menunduk. Diikuti pula oleh arah bola mata Kai yang tak lepas dari simbol EXO di lapis terluar buku tua.

“Apa ini?”

“Buku sejarah. Termasuk di dalamnya membahas mengenai Maallum Witch yang sangat membahana sepanjang usia,” terang Leeteuk.

Tangan berotot Kai meraihnya. Menggeser benda tersebut agar lebih jelas dipindai oleh kedua lensa matanya. “Kau ingin menunjukkan sesuatu padaku, ‘kan?” ia membolak-balik buku beberapa kali. Kesan kuat bahwa dirinya sama sekali tidak tertarik untuk sekedar membuka halaman pertama.

Bibir Leeteuk membentuk senyum tipis. Ia memutuskan untuk berpindah begitu melihat pria yang akan menjadi menantunya kelak itu tengah menyorotkan sensor matanya pada halaman pertama. Kegiatan Kai terus berulang selama beberapa detik; membolak-balik halaman tanpa rasa antusias.

“Kekuatanku sudah tak sanggup lagi untuk memimpin seisi planet ini. Alangkah baiknya jika kau segera melangkah untuk menggantikanku,” Leeteuk menyatukan ke sepuluh jemarinya di balik punggung. Menatap satelit EXO Planet dari jendela besar yang melindungi tubuhnya dari sinar sang bulan.

Kai berdecak. Masih mengamati halaman demi halaman buku sejarah di pangkuannya. “Sudah kukatakan berulang kali bahwa aku tidak tertarik dengan tempatmu itu, Pak Tua?”

Bunyi kekeh si penguasa tertahan. Sudah lama ia tak mendengar sebutan itu meluncur dari mulut pria berambut hitam tersebut. “Apa kau tahu? Aku begitu menyukai sikap keras kepalamu itu, Kai.” ucapnya—entah itu merupakan sebuah pujian atau sebuah sindiran.

Kai menoleh. Memperhatikan Leeteuk yang semakin nampak rapuh tiap detiknya. Dari terpaan sinar bulan, kulit pria tua itu bergerak perlahan. Mengerucut dengan sendirinya seperti rerumputan yang kehabisan pasokan air di tengah padang.

Lantas ia menghampiri Si Penguasa. Memutuskan untuk berdiri disampingnya setelah membuat keputusan itu dalam sepersekian detik saja. Terbesit sedikit penyesalan di dalam hati kecilnya, betapa ia begitu membenci Leeteuk hanya karena hal sepele. Kebencian terhadap kematian ayahnya—yang secara logika bukanlah kesalahan Sang Pemimpin Negara.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengucapkan kata ini. Tapi… terima kasih,” pria dengan manik mata birunya yang hampir tertelan kegelapan malam itu meredup.

Kai menunduk. Keberanian yang selalu melingkupinya mendadak hilang saat itu juga. Selama ini ia lupa, pria tua disampingnya secara tidak langsung selalu membagi sedikit perhatiannya meski hanya dengan sekedar bertanya kabar. Hal yang tak pernah ia tanyakan pada siapa pun.

Di lain pihak Leeteuk tersenyum. Ia berpaling pada Kai, berbisik dalam hati bahwa pria muda itu tak tahu betapa bersyukur dirinya saat mendengar dua kata sederhana tersebut. Kata-kata yang paling didengar semasa hidupnya.

“Tak ada yang perlu kau ucapkan, pria kecil. Kau hanya perlu melihat dan mendengar,” ia menepuk pundak Kai dan pria itu memberikan senyum sederhana.

“Selama ini aku memandangmu sebagai pria tangguh yang selalu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Kehidupan telah mengajarkanmu menjadi pria kuat,” ucap Leeteuk.

“Karena itu kau menyelenggarakan pertandingan itu? Karena aku menolak tawaranmu? Karena aku tak ingin menjadi sepertimu?”

Lagi-lagi Leeteuk hanya tersenyum. Senyum yang membuat Kai mengeluarkan dengus menyebalkan.

“Kau membuat keadaan menjadi semakin rumit, Pak Tua. Kau hanya perlu mengatakan padaku siapa yang akan memenangkan pertandingan nanti dan selesai,” gerutu Kai.

Leeteuk tertawa. Mengingat kata-kata Kai yang sama persis seperti apa yang diucapkan Cho beberapa menit lalu. Kemudian tangannya terjulur, merentang lurus mengajaknya untuk mendekat. Agak ragu pria itu bergerak, menyambut Leeteuk dengan sejuta tanya.

“Kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah saat kau menyisakan sedikit waktumu untuk berbincang denganku. Sadarkah dirimu bahwa semenjak huglooms itu hadir di planet ini hubungan kita semakin membaik?” Leeteuk memperdalam pelukannya.

Bahkan Kai dapat merasakan kehangatan yang diberikan Leeteuk melalui pelukan sederhana tersebut.

Terkaget, Kai menatap lurus pada Leeteuk. Tepat setelah pria tua itu melepas pelukan singkatnya. “Bagaimana kau mengetahuinya?” terbata-bata Kai bertanya. Namun setelahnya otaknya kembali berfungsi normal. Ia lupa sedang berhadapan dengan siapa.

Leeteuk, Sang Penguasa, Parleemos King, yang dapat mengetahui segalanya.

“Yang harus kau ketahui hanyalah satu hal, Kai.” Leeteuk menginterupsi. “Masa depan akan berubah jika aku salah bertindak. Jadi kuharap kau akan mengerti mengapa aku memutuskan untuk melakukan semua ini.”

Kai berdecak. “Aku tidak seperti Luhan yang dapat memecahkan teka-teki dengan mudah, Pak Tua. Bisakah kau mengatakan apa yang ingin kau utarakan secara lebih sederhana?” ia kembali berkomentar.

“Aku meminta bantuanmu untuk mengantar Sora dan Sulli ke Navepole sesegera mungkin. Dan ingat,” Leeteuk meremas bahu Kai. Menatapnya tajam seolah tak ada sedikitpun keraguan dari kalimat berikutnya. “Gunakan kekuatanmu dengan baik dan jangan mendekatiku sekalipun aku terjatuh di hadapanmu.”

Tangannya terlepas. Kembali menatap langit malam yang semakin meredup tertelan awan gelap. “Zaque menunggumu di luar,” bola mata Leeteuk berputar. Secara tidak langsung menyuruh Kai untuk pergi.

Pria itu tak banyak menuntut. Ia menurut meski otaknya mendadak konslet mendengar setiap penuturan Leeteuk. Karena masih bingung ia kembali berputar. Dari cahaya yang tak begitu terang itu ia melihat Leeteuk menatap kepergiannya.

Hal yang tak pernah pria itu lakukan.

“Kita akan kembali berbincang setelah aku memenangkan pertandingan,” ucap Kai.

Pria itu mengangguk sebagai jawaban.

Lantas Kai meninggalkan ruangan sambil membawa buku sejarah yang akan menjadi pekerjaan rumahnya esok hari. Buku yang secara tidak langsung merupakan petunjuk baginya untuk menghadapi masa depan yang diramalkan Leeteuk.

***

KAI TERPEJAM. MENGINGAT KEMBALI PERCAKAPAN SINGKATNYA bersama Leeteuk kemarin malam. Ada rasa menyesal saat ia menyaksikan peristiwa tersebut—ketika Suho menghabisi nyawa Parleemos di hadapannya, di depan matanya sendiri.

Ia berniat mengoyak jiwa Suho jika tatapan Leeteuk tak tertuju padanya. Tatapan itu menyuruhnya untuk tidak mendekat dan melakukan hal gegabah. Sama seperti apa yang diucapkan pria tua itu saat mereka berbincang.

“SHINee World,” bisik Kai samar-samar.

“Apa katamu? SHINee?” Luhan menimpali. Alisnya berkerut, membuat wajah mulusnya mengerucut.

Kai menatap pria berjubah yang berdiri di pusat formasi; pria yang terlihat lebih cantik dengan kompleksitas wajah sebaik Sulli. Sejenak ia mengira bahwa pria itu adalah sesosok perempuan. Namun saat matanya terarah pada dada si pria yang rata, ia berani menarik kesimpulan bahwa pria cantik itu memang benar pria tulen.

Pupil hitam Kai bergerak ke sudut matanya, melirik hati-hati pada Lay serta Chen. Seolah mengerti arti lirikan tersebut, keduanya segera terbang ke podium, menjaga tubuh Kris dan Suho yang lebih mirip seperti bongkah mayat terinfeksi virus mematikan.

“Bukankah SHINee World telah musnah oleh Prajurit Donghae?” Luhan berbisik tanpa berpaling dari pria berjubah yang mengenakan kalung biru laut—pria yang muncul dari tubuh Kris.

“Haruskah kujawab pertanyaanmu itu? Tyst Saka Gescheit?” Pria di seberang sana menyebut nama asli Luhan. Pria yang sama, yang menjadi pusat perhatiannya sejak tadi.

Semua castè seketika tertuju pada pria blonde bermata kucing tersebut. Tentu saja, karena si pria mengetahui hal yang hanya diketahui oleh pihak-pihak kerajaan.

“Sepertinya kau sangat nyaman tinggal di tubuh Kris, Key. Kau dapat mengetahui nama asli mereka tanpa salah pelafalan,” ucap pria lain berambut sama. Ia nampak lebih jangkung. Mata single eyelid lah yang membedakannya dengan pria bernama Key tersebut. Tak lupa air mukanya nampak tenang. Tidak seperti Key, tegas dan tajam.

“Justru sebaliknya, Onew. Berpura-pura menjadi pemimpin mereka selama tiga bulan ini justru sangat melelahkan,” komentar Key seraya memutar-mutar sendi lehernya.

“Kehadiran SHINee World di planet kami merupakan sebuah kehormatan yang tak terhingga. Bukan begitu, Kai?” Chanyeol menimbrungi. “Sayangnya mereka tidak sadar bahwa jumlah mereka tidak sebanding dengan pasukan kita.”

Pandangan Chanyeol berbeda dengan Luhan yang terfokus pada Key. Ia memilih mengamati pria paling tinggi di antara mereka. Yang kepalanya tidak sinkron dengan tubuhnya yang kekar.

Si pria jangkung itu membentuk seringaian. Tubuhnya tetap kokoh saat jarinya terangkat ke atas; menggerakkannya seolah memberi tanda. Berikutnya pasukan berjubah hitam di belakang pemimpin SHINee World melesat bagai angin dan terbang ke berbagai sudut. Pasukan itu berubah menjadi segumpal bayangan hitam. Menembus tiap pasukan EXO Planet yang melintasi mata mereka dan membuat beberapa diantaranya ambruk tak berdaya.

Pasukan bayangan kembali ke tempat semula. Berdiri sejajar di belakang kapten mereka setelah kembali ke bentuk sebelumnya.

“Pasukan kami memang tidak lebih dari tiga puluh orang. Tadi kuberikan sedikit contoh agar kalian paham. Pasukan kalian hanya segenggam sampah yang bergantung pada kekuatan kalian. Berbeda dengan mavors36 di belakangku.”

“Sudahlah, Minho. Jangan terlalu panjang mendeskripsikan para mavors pada mereka. Kau tidak lihat pria berambut hitam di sana tengah membulatkan kedua matanya?” Si pria pendek-kekar; yang paling terlihat santai; menimpali. Dagunya bergerak ke arah Tao saat yang-paling-muda membulatkan mata melihat begitu mudahnya bayangan itu menjatuhkan para tentara.

“Aku hanya sedikit membantu, Jong. Tidak lucu jika mereka lari tunggang-langgang mengetahui hebatnya para mavors sebelum kita memutuskan untuk berduel,” ledek Minho.

Onew dan Key terkekeh. Diikuti oleh tawa Jonghyun yang membahana di tengah lapang. Suara bass-nya lebih mendominasi. Meredam kekeh tawa kedua temannya.

Situasi ini digunakan Kai untuk meneliti keadaan. Ia nampak tenang, meski dalam hati kehadiran mereka seperti seonggok batu yang menahan kedua bahunya; membuatnya sulit untuk berjalan.

Ia menatap dalam diam. Sengaja mengulur waktu hingga para penjaga dan tentara planet mengevakuasi penduduk sepenuhnya.

“Onew, Jonghyun, Key, Minho.” Kai menyebut nama mereka diikuti gerakan bola matanya pada masing-masing si pemilik nama. “Lalu siapa yang berada tepat di tengah barisan? Kalian dipimpin oleh pria kurus itu?” Matanya terarah pada si pria cantik. Tatapan mencemooh yang menjadi andalannya.

Pria yang ditujunya membalas dengan senyum sinis. Ia tak banyak menunjukkan hal-hal yang menyebalkan seperti keempat rekannya.

“Hati-hati dengan cara bicaramu, Nak. Aku tidak akan segan-segan meremukkan tengkorakmu,” Minho bicara sambil berjengit.

“Nak?” Kai tak kalah sinis. “Jangan menyebutku dengan kata itu, Minho. Sadarkah kau jika kita tidak jauh berbeda—dalam segi umur tentunya?” sudutnya.

Minho mendadak diam. Tulang rahangnya semakin tegas menahan amarah.

“Apakah Onew sudah terlalu tua untuk memimpin kalian? Karena itu kalian memberikan dapuk kekuasaan pada pria kurus ini?” serang Kai, membuat kelimanya seketika membungkam mulut. “Bukan begitu? Lee Taemin?”

Sekarang giliran Kai yang menerjang mereka dengan segala yang ia ketahui. Semua tercengang. Termasuk para castè. Baekhyun hendak menimpali sebelum akhirnya gerakan tangan Luhan menghentikannya.

Percayakan semua ini pada Kai. Begitulah yang dibisikkan pria itu pada sisa castè.

“Sungguh menarik,” gumam Key.

Detik berikutnya tubuh pria berkulit pucat itu bergerak, mengabur membentuk bayangan hitam dan melesat cepat ke arah para castè. Sigap, Kai merentangkan kedua tangan. Mengeluarkan debunya mengelilingi semua castè. Termasuk menjangkau Lay dan Chen; yang tengah menjaga tubuh Suho dan Kris tak jauh darinya.

Gumpalan bayangan tubuh Key mencoba menerjang raga para castè satu per satu. Sayangnya, bayangan itu selalu terpantul kuat saat bertubrukan dengan debu yang diciptakan Kai. Selanjutnya, sang bayangan kembali membentuk tubuh Key. Pria itu sempat terjungkal saat mendarat. Beruntung Jonghyun menahannya.

“No̱ménos sialan!” gerutu Key. Lengannya dipijat kuat karena terasa ngilu.

Kelima pemimpin SHINee World lantas menajamkan mata. Terlebih pada Kai. No̱ménos berhasil melindungi mereka. Key bahkan tak bisa menembus jiwa castè untuk melenyapkan jiwa mereka.

Di lain pihak, para castè tetap diam di tempat. Mereka tak terlihat kaget ketika partikel Kai berhasil melindungi mereka. Sisa castè mengikuti instruksi Kai saat pria itu membisikkan sesuatu melalui pikiran mereka—untuk tidak bertindak sembarangan dan tunggu instruksi selanjutnya.

“Bicaralah, Kai. Apa kau masih sibuk mendiskusikan strategimu melalui pikiran mereka?” Pria bernama Lee Taemin itu akhirnya bicara. Suaranya lembut, sama dengan perawakan tubuh dan wajahnya.

Kai mengerutkan alis. Taemin dapat menebak apa yang sedang dilakukannya. Hal yang tidak ia temukan di dalam buku sejarah.

“Kau ingin tahu apa yang sedang kami bicarakan?” Giliran Xiumin yang bicara. “Aku sedang menertawaimu, Lee Taemin. Empat pria yang mengapitmu di sana terlihat lebih kuat dan lebih pintar darimu. Tapi mereka sekarang nampak seperti tikus tanah karena kapten mereka tak lebih dari pria kecil busung lapar,” ejeknya.

Jonghyun menggelengkan kepala. Senyumnya nampak menyeramkan. “Sebaiknya kau benahi gigimu sebelum mengataiku tikus tanah, pengecut. Aku bisa menjatuhkanmu sebelum kau menggunakan kekuatanmu terlebih dahulu,” ia menggertak tanpa gentar.

Luhan melirik Xiumin. Mengedipkan mata menyuruh pria bergigi kelinci itu untuk tidak gegabah. Mereka hanya perlu mempercayakan semua ini pada Kai. Karena teleport-man ini sepertinya mengetahui seluk-beluk lawan.

“Jadi… tujuan kalian datang kemari hanya untuk mengacak-ngacak tempat ini?” Kai kembali bicara. Nadanya menunjukkan bahwa ia sedang berhati-hati memilah kata.

“Ayolah! Tanganku sudah tak sabar ingin melenyapkan mereka! Sekarang bukan saatnya untuk bercerita!” Key mengaduh.

“Tahan sebentar saja, Key. Setidaknya kita dengan sukarela memberi mereka kesempatan untuk bernapas lebih lama lagi,” imbuh Onew.

Bola mata Taemin beralih. Tak lagi menantang Kai tapi justru tertuju pada Luhan. “Kurasa Luhan dapat menangkap dengan baik apa yang menjadi tujuan kami.”

Pria cantik itu tersenyum. Senyum tipis yang memuakkan. Kai menyoroti Taemin begitu ia berhasil mendengar apa yang dibisikkan Luhan melalui pikirannya. Hal yang sangat tak ingin didengarnya.

“Kenapa, Kai? Terkejut mendengarnya?”

Kai diam. Luhan terus berbisik di dalam pikirannya menyuruh pria itu untuk menahan amarah. Tentu saja karena Luhan tahu, Kai akan melakukan apa saja untuk membunuh Taemin setelah itu.

“Benar. Sesuai dengan apa yang Luhan katakan. Tujuan utama kami tak lain adalah untuk merampas afftheurcaly dari kalian. Termasuk si pemiliknya juga,” kicau Taemin.

“Apa yang Luhan katakan, Kai? Aku tidak bisa mendengarnya,” Tao berbisik di samping Xiumin. Berharap dapat mendengar penuturan Luhan.

Sialnya yang dapat bicara di dalam pikiran hanyalah Kai. Perbincangan dua arah, bukan banyak arah. Sehingga castè lain tak bisa saling bertukar pikiran selain pada Kai.

“Sejak mereka dihidupkan kembali, mereka berniat untuk membalas kekalahan sebelumnya dengan memanfaatkan kekuatan afftheurcaly. Sialnya kita tak tahu bahwa selama ini yang bersemayam di dalam tubuh Suho dan Kris adalah dua pria berambut pirang di sana.” Kai menjelaskan dalam waktu singkat. Matanya mengawasi seperti elang. Tak ingin Key atau pun Taemin merasuki para castè saat ia lengah.

“Mereka memanfaatkan kekuatan kita. Menyuruh Baekhyun melacak huglooms, membuat Kai turun ke bumi menjemput Cho Ikha, merenggangkan hubungan Krypth dan Myrath, serta mendoktrin kita semua untuk membenci Kai.” Luhan menambahi.

“Demi huglooms, kenapa semua jadi rumit begini?” Baekhyun memijat pelipisnya. Otaknya terlalu lelah untuk mengaitkan antara hal yang satu dengan hal yang lain.

Sehun mendekati telinga Kai. “Dua pria itu berpura-pura menjadi pemimpin kita dan memanfaatkan pertandingan ini untuk mendapatkan afftheurcaly?”

“Tidak. Bukan itu, Charitomenos. Aku tidak peduli mereka merencanakan apa dan ingin melakukan apa. Mereka tidak akan membunuh Leeteuk serta membuat Kris dan Suho tak berjiwa seperti saat ini jika bukan karena seseorang,” Kai menatap Minho, pria yang nampak lebih berkharisma di antara mereka. “Seseorang yang berhasil menghidupkan kembali bangkai mereka.”

Pria yang masih mengenakan pakaian berhias lengkungan-lengkungan besi itu berusaha untuk menguasai diri untuk tetap bersikap tenang. Sejujurnya ia masih kalut, Leeteuk telah tiada sedangkan pemimpin Krypth dan Myrath terkapar seperti ikan mati. Kini ia yang menjadi tumpuan para castè. Makhluk yang diyakini Parleemos King sebagai pria terkuat di EXO Planet.

“Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Lebih baik kembalilah ke tempat asal kalian. Banyak-banyaklah berdoa. Karena kalian telah diberi kesempatan untuk hidup kembali.” Chanyeol angkat lidah. Kebisuan membuatnya jengah. Rasanya ia ingin menusuk-nusuk wajah kecil Minho menggunakan kuku-kuku Uro. Ia terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang pria.

“Caramu bicara tidak setinggi tubuhmu, Omorfos. Jika Cho Ikha ada di antara kalian, mungkin gadis itu akan tertawa saat mendengarku menyebut dirimu sebagai duplikat dari Lee Kwangsoo,” ejek Key.

“Bedebah!”

Chanyeol mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengeluarkan luncuran api dari ujung jemarinya. Tak lama, empat naga yang sempat menjadi penari di pembukaan pertandingan terbang di atas mereka. Kai berusaha menghalau perbuatan Chanyeol tapi pria berambut ikal itu telah tersulut emosi lebih dulu.

Saat para naga hendak menyerang, tiba-tiba muncul sekelebat sinar hitam yang melesat cepat menghalau si naga. Sinar itu muncul dari Perisai Scutus dan melayang-layang di udara, membentuk tiga burung besar bersayap lebar. Bulu hitam lebatnya nampak kasar. Mata elang paruh gagak. Cakar tajam serta sebesar naga.

“Jangan bermimpi untuk mengalahkan kami dengan mudah, Omorfos. Jika kau tidak ingin kehilangan nagamu, lebih baik pukul mundur mereka semua sebelum peliharaan Onew menjadikan mereka santapan makan malam,” ucap Taemin.

Kai dan Luhan memaku. Berbeda dengan castè lain yang nampak gelisah, keduanya menunggu pergerakan musuh. Pandangan Kai sempat beredar ke sekeliling stadiun. Sebagian penduduk sudah aman. Tersisa beberapa pria besar di seberang podium utama yang masih berdiri kokoh di sana meski beberapa penjaga memaksa untuk pergi.

Saat mereka masih membaca situasi, pasukan mavor mulai membuat pergerakan. Sambil menerbangkan partikel no̱ménos pada tiap tubuh castè, Kai berteriak di dalam pikirannya menyuruh Baekhyun, Dio dan Xiumin untuk mengurusi para mavors.

“Kekuatan mereka hampir setara dengan kita. Ubahlah posisi sesuai instruksiku sebelumnya. Yang dapat merasuki kita hanya Taemin dan Key. Sisanya tak lebih dari mesin penggiling sampah,” gumam Kai.

Disampingnya, Luhan, Sehun, Tao dan Chanyeol memasang kuda-kuda. Tatapan mereka tak lepas dari kelima makhluk SHINee World yang mulai bergerak menyerang.

“Pertunjukan dimulai,”

-o-

BERHENTILAH MENYURUH KAMI UNTUK MENYINGKIR, pasukan gembel!” Seorang pria besar yang tengah menyaksikan kehadiran SHINee World di tengah lapangan menangkis tombak penjaga.

“Kau harus mengikuti prosedur atau kalian akan mati di tangan musuh castè!” Penjaga lain berdatangan. Mencoba mengevakuasi sekelompok berandalan yang masih berdiam diri di tempat mereka.

Pria besar lain yang ada di bagian atas stadiun mengangkat tubuhnya melewati beberapa bangku. Turun sejajar dengan si penjaga lantas menarik kerah bajunya, meremasnya, hingga besi yang ada di bahu mereka agak penyok.

“Dengar, pria dungu! Kami memang dikenal sebagai sekelompok berandalan yang bisanya hanya merebut jatah makanan orang lain dengan paksa. Tapi kami tidak akan tinggal diam saat anak-anak kecil bertudung hitam di sana membunuh penguasa kami!” Sengit si pria kemudian mendorong tubuh si penjaga hingga terjatuh.

“Kalau begitu biarkan kami mengevakuasi para wanita. Itu! Gadis bertudung di sana!” Si penjaga mengarahkan telunjuknya pada seorang gadis yang masih berdiri tenang pada salah satu tempat duduk. Menatap ke arah lapangan tanpa memperhatikan keadaan.

Si gadis menoleh. Merasa bahwa mata para pria di sekelilingnya tertuju padanya.

“Kau! Pergi dari sini jika ingin selamat!” Suruh si pria besar yang duduk di barisan pertama.

Gadis itu menoleh seperlunya. Tak ingin kehilangan moment saat Chanyeol memanggil Uro. Terlebih ketika muncul tiga burung aneh dari balik perisai scutus yang menganga lebar.

“Cemasi saja keselamatan kawan-kawanmu, pria besar. Aku bisa melindungi diriku sendiri,” ucap si gadis. Ia nampak tidak begitu tertarik dengan perbincangan mereka.

“Kau hanya akan menyusahkan kami jika masih berada di antara gerombolan. Biarkan penjaga di sana membawamu pergi,” titah si pria kurus bergigi jarang.

Saat penjaga menaiki anak tangga untuk menjemputnya, tanpa banyak bicara gadis itu membuka tudung yang telah berhasil menyembunyikan sosoknya. Ia menunjukkan sebuah simbol di kancing baju teratasnya sesuai petunjuk Sehun sebelum pertandingan dimulai.

Cara itu cukup jitu.

Para penjaga mengenal simbol angin Sehun lantas membungkuk hormat padanya. Para berandalan sempat keheranan melihat para penjaga membungkuk pada gadis bertudung tersebut.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya pria bergigi jarang.

“Sederhana saja. Kau bisa memanggilku Cho. Jika kau ingin bertarung bersamaku, aku akan menyuruh mereka menjauh,” kemudian melirik para penjaga. Tak butuh waktu lama saat para berandalan yang terdiri dari tiga belas pria dan dua wanita itu mengangguk lantas berbisik satu sama lain.

Tepat saat Cho mengakhiri perkataannya. Sekelompok pasukan hitam di belakang lima pria yang muncul dari perisai scutus itu terbang berpencar ke seluruh basement stadiun.

Ada beberapa kelompok penduduk lain yang masih berdiri di tempat mereka pada beberapa bagian stadiun. Sepertinya mereka berpikiran sama dengan gerombolan di dekat Cho; ingin bertarung melindungi planet mereka.

“Sebaiknya kalian cepat pergi sebelum bayangan hitam itu menghampiri kalian,” cegah Cho. Gadis itu perlahan menuruni anak tangga dari tempat duduknya menuju tempat terendah.

“Kau bercanda, gadis kecil? Sebongkah bayangan tidak akan bisa menjatuhkanku!” Lantang si pria besar.

Lima bayangan hitam mendarat di basement tempatnya berdiri. Para berandalan tersebut lantas menyerang bayangan bertudung tersebut. Sayangnya mereka dapat jatuh dengan mudah. Ketika bayangan hitam masih disibukkan oleh serangan si berandalan, Cho menangkap sosok D.O dan Xiumin terbang ke sisi kiri dan kanan mereka. Menghalau pasukan bayangan yang membabi-buta menghabisi para penjaga.

Ia juga menangkap siluet Baekhyun tengah terbang ke arahnya dan terhenti di stadiun lantai dasar. Saat gadis itu hendak menuruni basement untuk menghampiri Baekhyun, teriakan pria besar tak jauh darinya menghancurkan sensornya. Si pria berteriak karena melihat lima temannya telah tergeletak tak berdaya oleh para mavors.

Gadis itu melepas afftheurcaly dari pakaiannya. Menggenggam benda tersebut hingga berubah menjadi pedang utuh yang dikelilingi cahaya putih menyilaukan. Cho mengayunkan pedangnya saat seorang mavors melayang cepat ke arah si pria besar. Ia melompat dan tebasannya tepat mengenai tubuh mavors. Bayangan itu lantas memudar dan menghilang.

Pria besar tercengang saat Cho membantunya berdiri. Matanya membulat lebar saat melihat pedang yang dipakai Cho berhasil menghancurkan salah satu mavors.

Afftheurcaly?” ucapnya tak percaya. Selanjutnya pria besar itu menunduk cepat seolah gadis itu merupakan berhala mahal.

“Sekarang bukan saatnya menyembahku, pria besar.” Cho menyuruh si pria untuk berdiri. Ia kembali mengayunkan pedangnya saat satu mavors di hadapannya berusaha menyerang.

Seperti sebelumnya, mavors itu langsung memudar tanpa jejak begitu Cho berhasil membelah bayangan yang melewatinya. Cho lantas melompati beberapa bangku melihat kemunculan mavors ketiga yang telah membuat satu orang pria lain jatuh tak bernyawa.

Saat bayangan itu keluar dari tubuh pria itu, dengan sigap afftheurcaly memudarkannya. Cho menggenggam pedang itu dengan kuat. Napasnya memburu meski gadis itu hanya melakukan beberapa gerakan. Tubuhnya meredup. Sadar bahwa ia belum mengisi tenaga hari ini. Anehnya lagi, cahaya bawaan SHINee World yang menyinari EXO Planet seperti menghisap sinar di tubuhnya.

Ia harus segera bertemu Baekhyun. Keadaan ini tak boleh berlangsung lama.

“Bawa teman-temanmu pergi sebelum yang lain ikut tak bernyawa!” titah Cho agak berteriak.

Ia menyikut bayangan yang mencoba menyerangnya dari belakang. Mavors itu mencoba merasuki tubuhnya namun beruntunglah tubuh Cho tak bisa tertembus. Maka si bayangan menyerang Cho dengan memberikan pukulan-pukulan keras di beberapa tubuhnya. Gadis itu berkelit. Menahan setiap pukulan dan menangkisnya dengan tebasan pedang.

Mavors ke empat memudar, tersisa satu lagi di base atas. Ia sempat melirik pada base bawah. Baekhyun nampak kewalahan karena mavors tidak memudar oleh sabetan pedang ataupun kilatan cahayanya. Cho lantas membunuh mavors terakhir dan memastikan para berandalan itu telah pergi menyusuri lorong pintu keluar.

Kemudian ia melompat ke base bawah. Mendarat sempurna bersama pedangnya yang nampak mengilat terkena matahari yang dibawa SHINee World melalui perisai scutus yang terbuka. Ia menusuk seorang mavors yang hendak menyerang Baekhyun. Pria itu tercengang saat tahu Cho lah yang membantunya.

“Kemana saja kau? Apa kau tak tahu betapa cemasnya aku?” Baekhyun berseru seraya melekatkan punggungnya pada punggung Cho.

Mata mereka beredar, memperhatikan pergerakan mavors lain yang telah membuat para penjaga ambruk. Cho bahkan melihat Kai serta castè lain menyerang para SHINee World di tengah lapangan.

“Aku bukan pengecut yang lari begitu saja saat teman-temanku dalam bahaya,” ucap Cho di tengah kegiatan menghalau serangan mavors.

“Mereka tak bisa mati oleh kekuatanku!”

“Tapi aku bisa,” ucap Cho lalu membunuh mavors yang ada di hadapan Baekhyun.

Gadis itu menarik napas dalam setelah memastikan tak ada mavors yang berkeliaran di basement tempat mereka berdiri. Tersisa mavors di sayap kiri dan kanan yang harus ia urus. Maka Cho melempar afftheurcaly ke udara. Pedang itu melayang tepat di atas kepalanya. Seolah dikendalikan oleh remote control, benda itu melesat cepat ke sayap kiri dan kanan—tempat D.O dan Xiumin memberantas para mavors.

Pedang itu berayun ringan, menembus seluruh mavors yang membuat kedua castè di sana kewalahan. D.O dan Xiumin beralih ke arah afftheurcaly yang berhenti melayang dan kembali ke tangan Cho. Keduanya mengangguk lantas terbang ke podium utama membantu Lay dan Chen.

Tapi tiba-tiba ada beberapa gumpalan bayangan yang berjatuhan dari perisai scutus. Gumpalan itu melayang di udara seperti kunang-kunang sebelum akhirnya mendarat membentuk manusia bertudung hitam.

Ternyata mavors lain bermunculan lagi.

“Gawat,” gumam Baekhyun sembari menghitung jumlah gumpalan hitam yang menuruni planet.

“Kita harus menutup perisai scutus atau mavors lain akan membuatku kewalahan,” desis Cho sambil memegangi dadanya yang mulai mendingin.

-o-

KAI MENYIPITKAN MATA BEGITU TAEMIN DAN KAWAN-KAWANNYA melakukan pergerakan. Kelimanya tidak membiaskan tubuh. Tanpa pedang atau pun belati, sepasang kaki mereka mempercepat langkah. Membawa mereka mendekati kelima castè. Formasi SHINee World membentuk segitiga; dan mereka telah siap menyerang.

Sementara Luhan, Sehun, Chanyeol dan Tao bertukar posisi, Kai mencoba menelisik pergerakan mereka tanpa menyisakan sedikit pun celah. Keempatnya bergerak sesuai instruksi Kai; menunggu aba-aba. Luhan masih sama seperti sebelumnya. Tatapannya nampak tenang saat bertukar pandang dengan Key. Chanyeol tak kalah jijik begitu Minho menyunggingkan senyum menghinanya.

Kelima castè ikut bergerak. Menghampiri kelima pemimpin SHINee World dan berusaha untuk tetap berhati-hati.

Saat jarak mereka terpaut beberapa meter, Tao mengendalikan pikiran untuk menghentikan waktu. Ia menyentuh pundak Luhan yang berdiri disampingnya dan pria itu tidak mengalami efek penghentian tersebut.

Semua mendadak berhenti. Hal itu sempat digunakan Luhan dan Tao untuk merebut kalung di leher Taemin dan Key—untuk membebaskan jiwa pemimpin mereka. Namun keduanya tak tahu jika salah satu di antara kelima pemimpin SHINee mampu menembus kekuatannya.

Jonghyun.

Pria kecil-kekar itu bergerak cepat ke arah Luhan dan memberinya pukulan keras hingga pria itu tepental jauh. Tubuh Luhan menabrak dinding podium utama dan membuat salah satu tiang penyangga runtuh.

Tao lantas menyerang. Pria itu mencoba memberikan pukulan pada Jonghyun. Jonghyun sempat mundur saat Tao berhasil memukul telak torsonya. Jonghyun terkekeh. Saat Tao bersiap dengan serangan selanjutnya, Jonghyun malah berbalik dan berlari menyerang Kai yang nampak kaku terhenti oleh waktu.

Maka Tao segera mengembalikan waktu. Ia menerjang Jonghyun sebelum pria itu berhasil mencapai Kai. Keduanya berguling di atas tanah. Ia harus menahan Jonghyun dan membunuhnya. Itu adalah bagiannya.

Dari kejauhan, Luhan menggerakkan tanah begitu Key menyetarakan langkahnya dengan pergerakan Taemin. Luhan tiba-tiba berada di luar radarnya. Hal itu Key manfaatkan untuk menyerang Kai bersama Taemin.

Langkah Key mendadak terhenti saat tanah keras itu berubah menjadi pasir halus yang menghisap tubuhnya semakin dalam. Kesal, pria itu berteriak lantas menghentakkan telapak tangan. Tubuhnya lolos dengan mudah dari jebakan Luhan. Terbang di udara dan melesat turun ke arah Luhan.

Key melayangkan sebuah pukulan begitu tubuhnya telah mencapai daratan. Luhan kemudian menggerakan bebatuan dari pondasi yang rusak. Membuat sebuah dinding besar untuk menghalau Key.

Key menghentakkan pukulannya dan membuat perisai Luhan terpecah belah. Pecahan terbesar melayang ke arah Sehun. Pria berwajah awet muda itu berhasil berkelit dan pecahan batu justru malah mengenai Onew. Pemimpin SHINee World itu terjungkal mundur saat hendak menyerang Sehun.

Hal itu dimanfaatkan oleh Sehun. Ia menerbangkan sebilah pedang yang tergeletak di pinggiran lapangan. Menggenggamnya erat lantas menerjang Onew. Pria itu berdiri. Menangkis setiap serangan Sehun. Sehun sempat terguling begitu Onew menghentakkan tubuhnya dengan segumpal udara.

Sehun tersenyum. Sebelumnya ia sempat mengaduh karena Kai menyuruhnya untuk berhadapan dengan Pemimpin SHINee World. Namun kini ia paham. Kekuatan Onew tak seberapa jika dibandingkan dengan kapten mereka, Lee Taemin.

Maka Sehun kembali menyerang dengan memberikan beberapa kejutan pada Onew. Tangannya bergerak lihai membentuk sebuah pusaran angin. Benda itu bergerak cepat ke arah Onew. Pemimpin SHINee World itu sempat kewalahan karena tudung hitamnya malah membelit tubuhnya kuat. Ia lantas menghembuskan napas dari mulutnya, membuat pusaran tersebut terbelah.

Chanyeol mendelik sinis pada Onew. Pusaran angin Sehun yang terbelah itu memadamkan bola api yang hendak ia tujukan pada Minho. Pria yang sama tinggi dengan lawannya itu akhirnya memilih menyerang Minho tanpa api. Kai berbisik di dalam pikirannya bahwa kekuatan Minho ada pada pukulannya. Jadi Chanyeol hanya perlu menghindari pukulan Minho atau tengkoraknya akan benar-benar remuk dalam sekejap.

Chanyeol mencoba memukul Minho tapi pria itu dapat menangkisnya dengan mudah. Minho begitu kuat. Nampak dari otot-otot tubuhnya yang menyembul dari pakaian hitamnya. Perhatian Chanyeol sempat pudar begitu mendengar lenguhan Uro. Naganya terkena serangan klarks37 dan itu adalah pertanda buruk.

Saat Chanyeol hendak menolong Uro, ia tidak sadar jika Minho tengah melesat cepat melayangkan pukulan padanya. Chanyeol hendak menghindar sebelum akhirnya Sehun menghentakkan udara di sekitar mereka dan membuat tubuh Minho bergeser.

Benci kekalahan, Minho memasang kuda-kuda dan mencoba menyerang Chanyeol kembali. Genggaman tangannya mengeluarkan kobaran api. Begitu pria itu berteriak menyerang, tiba-tiba naga hijau peliharaan Kris terbang landai di antara mereka. Keduanya mundur begitu naga itu jatuh berdebam di atas lapangan. Terseret beberapa puluh meter dan terhenti saat menerpa basement.

Kai melihat salah satu naga mereka jatuh bebas. Keadaan semakin buruk saat mavors lain satu per satu bermunculan dari perisai scutus. Lay dan Chen terus diserang oleh pasukan bayangan hitam. Mereka berusaha menghancurkan tubuh Kris dan Suho untuk menuntaskan hasrat mereka.

Ia kewalahan. Selain menjaga staminanya, ia juga harus menjaga partikel no̱ménos nya tetap utuh di setiap tubuh castè. Jika ia lalai, Taemin dan Key bisa saja mengambil jiwa yang lain seperti yang mereka lakukan pada pemimpin mereka.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Kai? Membuat rencana baru untuk mengalahkan kami?” Taemin bicara di tengah serangannya yang bertubi-tubi.

Keduanya berduel tapi tak ada satu pun yang terjatuh. Kekuatan mereka hampir sama. Seimbang.

“Jika kau menyerahkan afftheurcaly, aku akan menarik kembali pasukanku.” Ucap Taemin agak terengah.

“Kau tidak sedang dalam posisi memberikan tawaran padaku, Lee Taemin.” Kai mundur untuk mengambil napas lalu kembali menyerang dengan memberikan beberapa teknik pukulan yang pernah diajarkan Zaque padanya.

“Kau terpojok, Kai. Tidakkah kau lihat di sekelilingmu?” Taemin mendesis sembari menangkis setiap pukulan Kai.

Kai mencoba untuk fokus. “Tutup mulutmu, Pria kurus!” pekiknya lantas memukul bertubi-tubi.

Entah ia yang terlalu fokus untuk menyerang atau pertahanannya yang tak begitu tebal, Kai tak tahu apa yang terjadi saat tiba-tiba keadaan terbalik dan Taemin berhasil memukulnya hingga terpental jauh.

Mendapati Kai terpukul mundur, Luhan lantas menyerang Taemin dari sisi lain. Ia mengabaikan Key yang sempat terpental jauh saat pria itu memukulnya. Semoga saja sepersekian detik itu dapat membuatnya mencapai Taemin dalam sekejap.

Melihat kondisi tersebut, Key lantas mengeluarkan belati di antara pakaiannya dan bergerak ke arah Kai. Saat itu Kai mencoba untuk berdiri, tak dapat mendeteksi serangan Key. Begitu Key hendak mendaratkan belatinya, pria blonde itu merasakan jantungnya seketika perih dan ngilu. Tubuhnya mendadak membeku. Belati di tangannya jatuh.

Taemin merasa tertohok saat melihat kondisi itu. Begitu pula dengan Luhan. Gerakan keduanya seolah ter-pause seketika. Kai menoleh, menemukan Key tengah berdiri kaku di dekatnya. Mulut salah satu pemimpin SHINee World menganga saat sebuah pedang perak menembus jantungnya.

“Kau tak akan pernah bisa menanamkan benda itu pada tubuh Kai selama aku berada di sampingnya. Mengerti?” Seseorang di balik tubuh Key membisikkan sesuatu. Sesuatu yang nampak begitu jelas didengar oleh Kai.

Sambil memegang perutnya yang terhantam keras, Kai menatap Cho dimana gadis itu memegang afftheurcaly di tangannya yang menyala terang terkena sinar matahari SHINee.

Key berteriak nyaring. Tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan sinar merah menyala. Kulitnya retak seperti tanah kering dan berakhir dengan hancur lebur. Seiring tubuh Key yang berubah menjadi abu, lengkingan keempat pemimpin SHINee World membahana di seisi lapangan.

Keempatnya menutup telinga rapat-rapat dan merunduk. Terlebih Jonghyun. Pria itu berguling tak karuan seolah sesuatu yang hebat menusuk tubuhnya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Cho. Gadis itu melempar afftheurcaly seperti busur panah ke arah Jonghyun. Pedang itu melintas cepat mengenai tubuh pria kekar itu hanya dalam hitungan detik.

Sama seperti yang terjadi pada tubuh Key; tubuh Jonghyun menyala-nyala seperti lava vulkanik, meretak sebelum akhirnya hancur lebur.

Para castè bergerak cepat menyerang sisa SHINee World. Namun Taemin, Minho dan Onew terlalu mudah untuk berkelit. Efek yang dirasakannya tak sehebat Jonghyun, seolah tubuh Key dan Jonghyun memiliki kontak batin dan saling terhubung.

Cho menggerakan jemarinya dan membuat afftheurcaly datang ke dalam genggamannya. Napasnya terengah karena ia memutuskan untuk berlari menghampiri Key dan meninggalkan Baekhyun membereskan mavors yang semakin banyak berdatangan.

“Sampai kapan kau akan terus berada di posisi itu?” Cho menurunkan bola mata, menatap Kai yang masih kesulitan untuk berdiri.

“Apa yang kau lakukan disini? Pergi! Terlalu berbahaya dan—“

“Hanya pedang ini yang dapat memusnahkan mereka. Kau harus bekerja sama denganku atau jumlah mereka akan semakin banyak.” Gadis itu menjulurkan tangan dan Kai segera meraihnya; membantunya untuk berdiri.

Pria itu terdiam saat Cho mengambil kalung yang jatuh di antara reruntuhan tubuh Key. Tangan gadis itu mendingin. Sama seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Ia memperhatikan Cho semakin seksama begitu mendapati kulit gadisnya memucat parah. Di sela-sela rambutnya  pun mulai bermunculan bulir-bulir es.

“Kau harus pergi pada Baekhyun, Cho Cho. Cahayamu memudar,” Kai menahan lengan gadis itu kuat. Ia bahkan sempat meringis begitu bagian tubuh Cho yang satu itu lebih dingin dari semula.

“Percuma. Cahaya Baekhyun tertutup oleh kekuatan matahari yang dibawa oleh pria-pria itu.”

“Kalau begitu tetap di sisiku dan jangan terlepas dari jangkauan mataku!” Kai mendorong gadis itu ke balik punggungnya. Sementara ia melirik Luhan dari kejauhan untuk menghalau Taemin dan yang lain jika suatu saat ia lengah karena harus menjaga Cho.

Gadis itu tak dapat berpikir jernih. Kata-kata Kai terdengar mengabur di telinganya. Kini fokusnya hanyalah pada kalung itu; untuk segera membebaskan jiwa Kris dan Suho karena hanya kedua orang itulah yang mampu menutup kembali Perisai Scutus.

Cho menjatuhkan kalung bercahaya biru itu ke atas tanah. Sambil mengayunkan pedangnya dengan gontai, ujung afftheurcaly tertuju lurus pada pusat mata kalung. Benda tersebut meretak. Terpecah dan melebur.

Selanjutnya cahaya kemerahan muncul bersamaan dengan menghilangnya retakan tubuh Key. Cahaya itu membentuk garis panjang yang melengkung-lengkung sebelum akhirnya mendarat ke dalam tubuh Kris. Cho tersenyum. Tersisa satu lagi dan setelah ini ia dapat beristirahat lega.

“Pria kurus itu bagianku. Sebaiknya kau dan Luhan membantu Tao dan Chanyeol,” ucap Cho, mendorong tubuh Kai untuk tidak menghalanginya menatap Taemin dari kejauhan.

“Kau pikir kita sedang latihan?” serang Kai.

Meski kelopak mata Cho bergerak lambat, gadis itu berhasil menebas seorang mavors yang menghampiri mereka sebelum Kai menghabisinya menggunakan no̱ménos-nya. Tentu saja hal itu membuat Kai semakin garang. Karena mavors itu seharusnya menjadi bagiannya.

“Aku bertanggung-jawab penuh atas jiwamu jadi jangan membuat kacau keadaan karena kehadiranmu hanya akan membuat castè tak fokus—antara menyerang mereka atau untuk melindungimu. Sebaiknya kau pergi ke tempat aman dan biarkan para castè yang membereskan sisanya,” Kai mulai cemas saat pria itu merasakan tubuh Cho yang semakin mendingin.

“Kita akan bicarakan ini setelah semua selesai. Aku harus mengambil benda yang melingkar di leher pria itu,” Cho mengarahkan matanya pada Taemin. Pria itu terdiam di sisi lapangan seperti sedang merencanakan sesuatu.

Kai menghalangi tubuh Cho saat gadis itu berjalan lurus hendak menghampiri Taemin. “Jangan membuatku cemas, Cho Ikha! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang tak kuinginkan menimpamu!”

Cho, mempertegas alat inderanya sekali lagi, dan beruntunglah ia berhasil menangkap setiap kata-kata Kai dengan baik. Gadis itu tersenyum padanya. Mungkin Kai hampir lupa jika pria itu sedang tak ingin mengajaknya bicara akibat insiden Suho yang menciumnya. Kai menunjukkan perhatian yang tulus padanya. Pertanda bahwa pria itu tidak benar-benar membencinya.

“Kalau begitu kita akan menghadapinya bersama,” gumam Cho seraya mengusap lembut wajah Kai yang mulai samar-samar di matanya.

…bersambung…

—————————-

36Mavors : Pasukan army SHINee World. Menggunakan jubah bertudung hitam dan tak memiliki wajah. Tubuhnya 89% terbuat dari bayangan. Mavors hanya dapat memudar oleh dua hal, afftheurcaly serta gabungan kekuatan Suho dan Kris (air dan api).

37Klarks : Burung khas SHINee World. Onew memeliharanya untuk dijadikan makhluk perang. Bulu hitam lebatnya nampak kasar. Mata elang paruh gagak. Cakar tajam serta sebesar naga. Jika naga mengeluarkan api dari napasnya, Klarks mengeluarkan api dari kepakan sayapnya.

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

64 thoughts on “EXO PLANET “CHAPTER 10” (REPACKAGED)”

  1. haloooooooo onnieeeee !!!! long taim no siii yaaah. yaampun baryu kelar uts kemarin jadi baru sempet komen. yaampun itu perang nya seru bet. wahhh pemimpinnya si dedek taemin yaw, anywayy si ikha gak kekurangan cahaya tuh. ih parah bettt, tetep ya si kai perhatian, ampe lupa kalo lagi selek sama si ikha hihihihhi jjaaaa~~~~~ kai dan ikha !!!! mari bersatu untuk membasmi anak anak shinnee muahahahaha

      1. weses sori dori mori nih gak maen contekan aku mah ahahaha nilai uts nya bagus bagus loh, jadi sebagai hadiah cepet terbitkan exo planet ahahahahah

        eung ^^ aku kan memang selalu menunggu FF mu onnikuh ahahaha

      2. hihihi~ bagus kalo gitu dek. jangan kek adek onn, contekannya sesuatu banget. Tapi gapapa biar hidup lebih berwarna, eaaa /ngajarin yg gak bener\
        Sip siiip diusahakan ya jean. maklum, lagi gencar nyari calon suami onn yang hilang (?)

  2. Taemin jadi pemimpin? :O
    part 10 yaa?? cepet bgt, perasaan baru kmrn baca part 1 #lebay
    konfliknya suka :3

    next part ditunggu! jangan lama2 ya ^^

  3. hwaaaa aku lupa coment #plakkkk!!!!
    pkoknya ceritanya great :D….. penasaran bgt akhirnya ikha bisa brstu gk ya sma kai…..
    i can’t say anything… your story totally great!! yeah….. post next part soon eonni

  4. Bacanya udah lama tapi baru sempet komen sekarang 😀
    Eonniiiiiii, itu ikha gimana lanjutannya? Apa dia bakal mati? Kayanya ga mungkin deh kalo mati, ga asik dong nantinya 😀
    Seperti biasa, ujungnya bikin greget dan jadi nunggu nunggu ke part selanjutnya
    Hwaiting eonni, ff paling ditunggu nih! 😉

  5. Annyeong, author ^0^ aku reader baru. sebelumnya aku prnah bca ff ini tpi aku blum smpet komen, aku juga kbetulan nemu di google. maaf ya 😦 dan aku juga mau bca kelanjutannya lgi tpi nga ada wpnya..eh pas lgi iseng ktmu judul ff author yg lgi dcari,, mian thor klau pas sblum ini aku prnah jdi sider di sini mianhamnida tpi saya jnji kok thor nga bkal ngulangin lgi :^) dtnggu next chaptnya, fighting!!!

  6. Kaaaaaaaakk, pertarungannya sengit banget, kok bisa SHINee World bangkit lagi?? aku jadi ngeri kak bayangin pertarungan mereka, apalagi ngebayangin kemampuannya Taemin, dia keliatan kek cowok lemah tapi pasti kekuatannya yg paling wow. Terus juga saat-saat genting gitu Cho mulai kehabisan tenaga juga kan, padahal mau melawan Taemin juga 😦

    1. Kebanyakan nonton James Bond sama MI6 dek, makanya pengen banget ini scene dijadiin film. Bayangin Kai kesayanganku sama Sehun kesayanganmu bertarung sengit sambil ngibasin poni rambut mereka? OH NOOOOOOO *ngiler sendiri hahaha*

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s