The Puppet (Oneshoot)

The PuppetJANGAN MENYENTUHKU,” GADIS ITU MENEROBOS KERUMUNAN dengan paksa. Menatap jijik pada Kangin setiap kali pria bertubuh besar itu menahannya.

Sekumpulan manusia yang masih berunding di tengah ruangan lantas beralih. Tak lagi tertuju pada tab 10” yang terselip di antara masing-masing jemari mereka. Bagai Lautan Merah, bauran beberapa pria dan wanita tersebut terbagi dua; memberi celah pada si gadis untuk berjalan.

“Jangan menyentuhku, Kangin-ssi! Aku tidak segan-segan melubangi kepalamu menggunakan senjataku! Sekarang!” Kini gadis ber-vest hitam itu berseru. Menusuk pupil hitam pria yang menghambat tubuhnya melebihi ketajaman mata paku sekali pun.

Ia menepis kasar. Tak peduli apakah salah satu rekannya sempat menolong Kangin untuk meredam hasratnya yang tak terbendung lagi saat ini; atau pun lengkingan Koordinator Investigation Unit yang memerintah siapa pun untuk menyeret gadis itu meninggalkan tempat yang beberapa detik lalu masih senyap seperti kuburan Belanda.

“Kau akan kuizinkan masuk ke dalam ruangan Eunhyuk jika menuruti perintahku untuk tidak membuat gaduh,” Kangin berbisik semampunya. Tak ingin membuat keadaan semakin memanas.

Gadis yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda itu menenang. Agak risih begitu sadar bahwa seluruh mata kini tertuju padanya. Selang beberapa detik ia membungkuk. Sekedar menghormati atasan yang nampak menyeramkan dengan janggut lebat di bawah dagunya itu atau ia akan didepak dari unit tersebut sebelum kuartal kedua tahun ini.

Pintu terbuka otomatis, membiarkan dirinya menjauh dari meeting dadakan yang diadakan oleh Sang Koordinator bersama Kangin yang masih setia menjadi ajudan di sisinya. Gadis itu mendesah. Membenturkan tubuh pada dinding diiringi geraman menyeramkan layaknya harimau gusar.

“Pasti kau melihat cuplikan CCTV itu,” Kangin berkacak pinggang. Berdiri di hadapan si gadis dan bersikap acuh pada beberapa petugas yang melintasinya.

“Aku tidak melihatnya tapi aku berada di tempat kejadian,” suaranya tertahan. Jelas bahwa ia tengah menahan amarah.

Bola mata Kangin bergerak perlahan. Mengamati gadis yang menjadi rekan satu timnya selama kuartal pertama tahun ini mengeluarkan pistol laser dari kantung di sisi pinggangnya. Ia melakukan pengecekan seolah bersiap untuk melelehkan organ tubuh seseorang. Tindakannya agak tergesa. Kesan kuat bahwa ia sudah tak sabar ingin menjatuhkan mangsanya.

“Jangan bertindak bodoh, Jean. Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa,” cegah Kangin.

Jean, gadis yang jarang mendengarkan pendapat orang lain itu menatap garang. Kepalanya mendongak karena tubuh Kangin tinggi besar dan menjulang seperti tiang jemuran.

“Harusnya kau paham alasan mengapa aku bersikeras menjadi anggota tim lapangan bersamamu di unit ini, Kangin-ssi.”

“Dan kau juga harus paham dengan kemampuanmu, Jennifer. Mungkin kau memang ahli membidik, tapi otakmu tidak cukup mumpuni saat membuat strategi. Termasuk saat kau sedang dilanda amarah seperti ini.”

“I don’t care! Aku hanya menginginkan kepala pria itu dan tugasku selesai!”

“Tidak sekarang!” Kangin mencengkeram lengan Jean kuat. “Tidak jika tindakan bodohmu nanti hanya akan membuatmu jatuh!”

Jean mengatupkan bibir. Merasakan jemari-jemari Kangin yang gemuk berisi melesak permukaan kulitnya. Wajahnya yang mungil dihiasi tahi lalat di dekat bibir berkedut kesal. Tak ada yang bisa ia lakukan. Tak ada, selain menunggu waktu yang tepat.

“Memang sulit untuk membuktikan bahwa kera sakti itu bersalah dan terlibat kuat dengan kasus ini. Sayangnya kedua mataku tidak akan mungkin membohongiku, Kangin-ssi.”

Jean menyimpan kembali senjata yang telah menjadi teman terbaiknya itu pada tempatnya. Sementara Kangin hanya mengamati. Gadis ini selalu diselubungi kebencian. Dan hari ini awan gelap itu semakin mendung menyelubungi kepalanya.

“Aku melihat darah segar menetes-netes di setiap ujung jari-jari logamnya. Aku melihat mata liarnya memancarkan kekejaman yang mampu menyilaukan dunia. Aku juga melihat pria itu tertawa setelah puas mencabik-cabik isi perut korbannya.” Jean menggumam, sedikit gagu begitu siluet menakutkan itu melintasi benaknya.

Perlahan Kangin mendekat. Menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam dekapannya.

“Pria brengsek itu membunuh Kim Heechul,” ia berbisik lemah. Suaranya teredam oleh tubuh besar Kangin. “Dia membunuh kekasihku, Kangin-ssi.”

Hanya dalam hitungan detik saja dan gadis yang selalu nampak serius itu menangis tersedu tak berdaya. Spandex hitam yang menyatu dengan dada Kangin mengerat seperti karet saat Jean berusaha menutupi wajahnya.

“Dia membunuh kekasihku. Dia membunuh kekasihku.”

***

SEBELUM MEMASUKI RUANGAN DENGAN PENJAGAAN YANG SUPER ketat, Jean melakukan double check terlebih dahulu. Kali ini ia hanya mengecek Mac 11 berkekuatan 1100 Volt yang bertengger di balik punggungnya. Sisanya ia abaikan. Yang ia inginkan hanyalah membuat seseorang yang sangat ia benci seumur hidupnya mati dalam sekejap.

Segera. Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Ruangan berdiameter 7 M itu dikelilingi kaca tebal. Sebagian dihias oleh garis-garis putih yang bergerak membentuk pola dan juga sudut, sebagian lagi diisi oleh bias gambar dari aktivitas seseorang di dalam tempat mungil tersebut.

Jean melangkah pasti. Mengamati seorang pria di pusat ruangan yang tengah duduk dikelilingi lingkaran laser biru yang bergerak naik-turun. Pria itu terpejam. Kedua pelipisnya dipasang kabel panjang yang menyatu dengan atap ruangan.

Lantas Jean menekan tombol di sisi kiri kacamata beningnya. Kemudian tampaklah bayangan-bayangan tulisan serta instruksi yang diberikan Kangin dari luar sana. Poni rambutnya berayun saat mendekati laser pembatas. Sekedar memastikan bahwa perisai itu akan melindunginya dari si kera sakti yang bisa saja menyerangnya tiba-tiba.

Nice to see you again,” sapa si pria. Kelopak matanya terbuka dan membuat dinding kaca merespon dengan memunculkan kode-kode rahasia. “Jennifer Cho,” imbuhnya sembari melontarkan senyum menjijikan.

Jean merengut. Kepal di tangannya telah siap meluncur setiap saat. Kali ini ia memilih untuk menunggu. Setidaknya ia tidak ingin mati sia-sia hanya karena menyentuh perisai laser yang mengelilingi tubuh si pria.

“Aku tidak menyuruhmu untuk bicara jadi simpan kata-katamu dengan baik sebelum kurontokkan semua bulu-bulumu, Eunhyuk-ssi.”

Pria bernama Eunhyuk itu terkekeh. Di tengah pusaran laser, ia nampak tenang dan tidak berbahaya. Memainkan kuku jari; menyisir rambut; bahkan sesekali mencoba menyentuh sinar mematikan tersebut meski pada akhirnya ia memperoleh kejutan listrik di ujung jarinya.

“Kau semakin terlihat menyeramkan, Jean. Tapi aku menyukainya,” Eunhyuk menopang dagu. Menatap gadis yang berdiri kaku di tepi ruangan dengan keintiman yang terpancar dari bola mata hitamnya.

Jean berdecak. “Kau tak perlu menatapku seperti itu, Kera Sakti. Fantasi liarmu tidak selevel denganku.”

“Benarkah?” Alis Eunhyuk terangkat. “Kau tak akan pernah tahu jika tidak mencobanya terlebih dahulu,” timpalnya.

Gigi-gigi Jean saling beradu. Rahangnya mengeras dan raut wajahnya nampak tegang. Perintah Kangin untuk meredam amarah muncul secara berulang melalui kacamata beningnya. Ia paling benci jika harus menahan diri untuk tidak memukul Eunhyuk.

“Apa yang pria besar itu perintahkan padamu kali ini, Jean? Menyuruhmu untuk tidur denganku malam ini—agar aku mau membuka mulut?”

“Maaf, tapi aku termasuk gadis pemilih jika sudah berurusan dengan ranjang. Hargaku terlalu tinggi untuk sekedar berciuman dengan pria brengsek sepertimu,” jawab Jean lantang.

Eunhyuk tertawa panjang. Membuat kabel yang terhubung langsung dengan otaknya berayun ringan.

“Kau masih dendam padaku?” tanyanya. Mata Eunhyuk berputar mengikuti pergerakan tubuh Jean.

“Seharusnya kau tidak perlu mengajukan pertanyaan itu. Jawabannya sudah jelas, bukan?” Jean menggeram. Rasanya Mac 11 di punggungnya sudah tak sabar untuk melumerkan tulang belakang Eunhyuk saat ia membelakangi si pria.

Eunhyuk berdiri. Mencoba mengimbangi diri agar tidak tersentuh oleh lingkaran laser. “I’m so sorry, Jean. Malam itu, aku tidak bermaksud untuk membunuh Kyuhyun. Dia tidak mendengarkanku dan kecelakaan itu tak dapat terelakkan,” ia memasang tampang sendu saat Jean kembali menghadapnya.

“Tidak bermaksud?!” Jean menggertak.

Selama ini Eunhyuk tidak bermaksud membunuh Kyuhyun? Tidak bermaksud?

“Aku sudah memberikan tawaran ini berkali-kali padamu, Jean. Aku akan bertanggung-jawab atas apa yang telah kuperbuat pada kakakmu,” pria itu kembali memelas. Ekspresi menyebalkan yang paling tak disukai Jean.

“Kau pikir dengan menikahiku akan membalas semua yang telah kau lakukan padaku?” hardiknya begitu mengingat apa yang ditawarkan Eunhyuk beberapa waktu lalu. Tawaran bodoh sekaligus nonsense.

“Tentu saja. I’ll give you so much happiness into your life soon. Kau beruntung karena hanya akulah pria yang tepat untuk memuaskanmu,” ia menepuk dada bidangnya yang terbalut kaus tipis.

“Kau tidak akan pernah bisa menyentuhku—dan tak akan pernah kuizinkan,” Jean mendesis seperti ular. Kejijikan kembali terpancar kuat dari matanya.

Eunhyuk menegakkan badan. Pergelangan tangannya berputar seiring gerakan kepalanya. Ia tidak lagi terlihat santai dan easy. Ujung bibirnya yang menyudut semakin dalam mengisyaratkan bahwa ia tak lagi bermain-main.

“Aku bosan dengan semua kepura-puraan ini.”

Sambil memegang pergelangan tangan kirinya, Eunhyuk menekan kuat hingga lengan bawah dilapisi kulit putih pucatnya memunculkan sederet huruf yang menyala dari dalam tubuhnya. Jean tak dapat memahaminya karena tulisan yang menyala seperti alarm digital itu seperti tulisan Yunani Kuno. Atau Latin. Entahlah ia tak tahu pasti.

Ia mendengar Kangin dan beberapa agent di luar ruang kaca mengiang-ngiang dari earphone yang tertancap di lubang telinganya. Namun Jean tidak cukup tanggap untuk mengikuti perintah. Seketika ujung-ujung jemari Eunhyuk menyala biru terang. Pria itu menyentuhkan cahaya itu pada laser dan berikutnya sinar itu berpendar, tak lagi mengelilinginya.

Eunhyuk menggerakkan jarinya. Kabel yang terpasang di kedua pelipisnya terlepas lantas bergerak cepat ke arah Jean tepat sebelum gadis itu menarik pelatuk Mac 11 nya. Jean mengerang saat kabel itu bergerak membelit tubuhnya. Benda itu seolah hidup. Mencekik lehernya kuat dan menggantungkannya di udara.

“Dengar, Jean. Jika kau berharap aku akan membeberkan dimana letak chip yang kucuri dari Kyuhyun, maka usahamu tak akan membuahkan hasil. Pukul mundur anggota NIS itu atau mereka akan kehilangan nyawa salah satu agent terbaik mereka,” ucap Eunhyuk.

Dengan dibalut sepasang kemeja dan celana berwarna senada, pria itu menghentikan gerakan kabel dan membuat gadis itu jatuh berdebam di atas lantai. Ia berjalan perlahan. Ujung celananya ikut terseret karena melebihi ukuran kakinya. Pria dengan rahang tegas serta hidung bengkoknya itu merendahkan tubuh. Duduk pada kedua kaki Jean begitu gadis itu melambaikan tangan sambil terbatuk.

Eunhyuk nampak puas saat beberapa anggota NIS tidak menerobos masuk atau melubangi kepalanya dengan laser mereka.Ujung jemarinya yang masih bercahaya itu mengambil paksa kacamata Jean. Benda itu mengeluarkan asap saat jari Eunhyuk menyentuhnya.

Begitu pula dengan jam tangan digital serta Mac 11 Jean. Benda-benda canggihnya malfunction. Hanya dengan satu sentuhan.

“Kau pikir dengan menjadi bagian dari tim ini, kau dapat menundukkanku dengan mudah?” Eunhyuk menunduk, meraup dagu Jean saat gadis itu terkapar tak berdaya kehilangan oksigen.

Mata Jean berkedip merah. “Kau membunuh mereka. Kau membunuh Kyuhyun, Professor Lee dan juga Kim Heechul.”

“Aku sedang memakan roti basi saat pembunuhan itu berlangsung. Buktikan bahwa akulah pelakunya, Baby. Jika tidak, maka kau tidak akan memiliki cukup banyak waktu untuk mengurungku. Dan saat waktu itu telah habis, kau akan menjadi puppet-ku berikutnya. Aku butuh seseorang untuk menemaniku menguasai dunia,” Eunhyuk mengoceh. Mengumandangkan alibi yang selalu ia ajukan.

Jean mengeratkan gigi-giginya. Ia memiliki alasan kuat untuk berpaling dan tidak menatap Eunhyuk tapi ia harus membalas cemoohan pria itu atau ia akan merasa kalah. “Akan kutebas kepalamu sebelum rencana busukmu itu terlaksana.”

Eunhyuk menggeleng. Bahunya terangkat dengan sikap tak acuh. “No. No. No. Kau akan memohon padaku ketika waktu itu tiba, Jean. Kupastikan hal itu akan terjadi,” ia menunduk. Semakin mendekatkan wajahnya pada Jean meski gadis itu malah memaki ke arahnya.

By the way, aku tidak bermaksud untuk mengacaukan kehidupanmu, Jean. Kau hanya kurang beruntung karena dikelilingi orang-orang hebat seperti Kyuhyun, Lee Donghae dan pria bermarga Kim itu. Alat-alat mereka begitu canggih dan aku membutuhkannya untuk merealisasikan mimpiku,” jelas Eunhyuk.

“Ah, satu lagi.” Pria itu berdiri. Bola matanya sempat berputar mengelilingi ruangan kaca yang telah dipenuhi anggota NIS. “Bagiku tempat ini terlalu mudah untuk kuterobos. Kau lihat? Aku dapat mengendalikan semua ini dengan mudah. Jadi beritahu semua rekan-rekanmu itu untuk tidak repot-repot mengurungku di Lock Door. Ruangan itu hanya sebongkah sampah bagiku.”

Langkah pria itu tertuju pada satu-satunya kursi yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia duduk manis seolah tak pernah terjadi sesuatu beberapa menit lalu.

Saat beberapa agent memasuki ruangan setelah berhasil melacak kode yang sempat diubah oleh Eunhyuk melalui jari-jari mekaniknya, pria itu tak banyak berkutik. Hanya tersenyum saat salah satu di antara mereka memborgol kedua tangannya.

Dibantu oleh Kangin, Jean memperhatikan kepergian Eunhyuk dengan kebenciannya yang semakin menjadi.

Chip itu ada di dalam tubuhnya. Menjadi bagian dari tubuhnya. Ia akan kesulitan mengambil apa yang seharusnya menjadi eksperimen Kyuhyun karena Eunhyuk sepertinya mampu mengendalikan benda elektronik apapun dengan chip itu.

Termasuk mengendalikan siluet menakutkan yang membunuh Kim Heechul kemarin malam.

***

KAU YAKIN AKU TAK PERLU IKUT BERSAMAMU KE DALAM sana?” Kangin melontarkan pertanyaan yang sama sejak separuh jam yang lalu.

Jawaban Jean tetap sama. Menggeleng atau pun mengucap kata ‘tak perlu’ tanpa banyak diiringi alasan lain. Rumah dengan garis polisi yang melintang di sepanjang tempat itu telah menjadi destinasinya minggu ini. Dinding-dinding tempat itu sebagian telah hangus. Terbakar oleh ledakan kecil dari atom-atom yang berada di dalam ruangan Kyuhyun.

Setelah Kangin bersikeras menunggunya di luar rumah bertingkat dua tersebut, gadis itu memutuskan untuk segera melesat menuju satu ruangan yang berada di basement. Tempat itu berbau apek. Penuh debu dan tak terurus.

Sejak kematian Kyuhyun, Jean dan kedua orang-tuanya memutuskan untuk tak lagi menetap di sana. Terlalu pahit untuk mengenang Kyuhyun. Begitulah orang-tuanya beralasan. Hati-hati ia memasuki basement yang disulap menjadi tempat eksperimen Kyuhyun beberapa tahun belakangan.

Sebagian telah hilang tertelan api. Hanya tersisa beberapa kertas serta botol-botol dan juga tabung yang tak dimengertinya. Gadis itu melangkah dengan hati-hati. Tak ingin merusak apapun termasuk menghilangkan satu kertas sekali pun.

Mata bulatnya beredar. Mengamati tanpa terlewatkan barang satu inchi-pun. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang akan ia temui dari ruangan gelap tanpa cahaya matahari ini. Sesuatu yang dapat menjawab segalanya. Termasuk chip yang terselubung di dalam tubuh Eunhyuk.

White board. Atau lebih tepatnya glass board yang masih utuh di pojok ruangan mengundang rasa ingin tahunya. Beruntung ia membawa kotak infra red. Benda sebesar korek api itu ia rekatkan pada salah satu sudut glass board dan… tada!

Tulisan-tulisan yang semula terhapus kini bermunculan kembali. Agak rumit memang. Namun Jean mencoba menelaahnya dengan seksama. Cukup memakan waktu hingga gadis itu sempat menguap beberapa kali. Namun rasa kantuknya seketika menghilang begitu ia menemukan sesuatu.

“Split.”

“New body.”

“Machine.”

“Chip.”

Gadis itu menyebutkan kata-kata sesuai anak panah yang ditunjukkan glass board. Alisnya mengerut saat melihat satu kata terakhir yang diberi tanda bulat dan bintang secara acak.

“Clone?” ia bergumam.

Belum sempat rasa penasaran itu terjawab olehnya, Jean memicingkan seluruh indera yang ia punya saat mendengar bunyi gemerisik tak jauh darinya. Sejenak ia mengira bahwa itu Kangin. Namun pria itu tak perlu berhati-hati jika memang ingin menyusulnya kemari.

Kesadaran itu mengguncang jiwa Jean saat ia berbalik dan merasakan tangan kuat seseorang mencengkeram lehernya. Ia tersudut hingga ke dinding yang telah retak. Bahkan ia merasa buku-buku tulangnya mengeluarkan bunyi pergeseran yang kentara.

“Mencari sesuatu? Miss Jennifer?”

Sosok itu bicara. Suaranya terputus-putus dan menggema. Seperti suara robot yang memasakkan burger di markas NIS. Namun yang ini lebih baik dan jelas.

Jean membulatkan mata saat melihat mata yang menyala merah terang itu membungkam jantungnya. Tangan sosok itu masih membuatnya tak berkutik. Ia merasakannya. Ia merasakan bahwa tangan ini tangan manusia. Tapi tidak. Ini tidak masuk akal.

Siluet menyeramkan yang membunuh Kim Heechul kini berada di hadapannya. Tengah berusaha untuk menghabisinya. Bukan itu. Bukan itu saja yang membuat gadis itu serasa tercekik. Meski sinar lampu 10 Watt yang nampak remang itu tak mampu membuat seluruh ruangan terlihat jelas, mata batinnya tetap mampu menebak siapa dalang dari siluet ini.

“Eunhyuk?” Gadis itu berbisik saat saluran oksigen dari kerongkongannya tak mampu berjalan dengan sempurna.

Siluet itu tersenyum picik. Satu tangannya terangkat. Dari kuku telunjuknya muncul sebuah jarum panjang yang nampak tajam.

“Hello, Miss Jennifer. Let me tell you something,” pria itu berkata seraya menusukkan jarum tersebut tepat pada jantung Jean. Gadis itu meringkih. Menahan sakit luar biasa yang ditimbulkan oleh satu tusukan sederhana tersebut.

Tubuh gadis itu ditangkap oleh siluet itu sebelum jatuh ke atas lantai. Mata merahnya masih mengilat-ngilat. Menunggu instruksi selanjutnya dari sensor yang berkedip-kedip di balik kepalanya.

I’m not Eunhyuk anyway. You can call me Lee Hyuk Jae,” ucapnya seraya melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.

***

SUNGGUH MERUPAKAN MISTERI YANG TAK DAPAT HABIS UNTUK ditelaah. Sudah tiga hari sejak menghilangnya Jennifer dari rumah lamanya dan satu jejak pun tak dapat ia temukan. Termasuk track-chip yang berada di dalam punggung tangan Jean—yang sengaja dipasang khusus bagi seluruh anggota NIS.

Kangin yakin, malam itu ia sama sekali tidak melewatkan satu detik pun untuk bersantai-santai. Ia mengawasi keadaan sekitar tapi justru ia kaget saat tiga jam berlalu dan sosok Jean menghilang ditelan bumi.

“Penjagaan diperketat. Kurasa ada yang tidak beres di sini. Aku akan pergi ke pusat NSS dan mencari tahu—“

Kata-kata Kangin mendadak terhenti. Seperti efek slow motion, matanya dapat melihat dengan jelas saat sebuah tabung kecil sebesar ibu jari melesat cepat di dekatnya. Dalam sepersekian detik saja pria itu paham. Lalu, “MERUNDUK!”

Dan detik berikutnya bunyi debam keras membahana di dalam ruangan lantai enam tersebut. Kangin berguling, tak peduli dengan beberapa agent yang terpelanting ke sisi lain ruangan. Ia menatap lubang kecil yang ada di jendela. Bekas tembakan. Tembakan tabung granat yang merontokkan markas NIS.

Suara pecahan kaca mengiringi teriakan petugas kebersihan saat dua sosok manusia menerobos masuk tanpa melalui pintu yang telah disediakan. Semua menyingkir, terkecuali Kangin. Pria itu justru memasang kuda-kuda; mengamati keadaan dan membaca situasi.

“Jean?” pria itu menyahut saat sosok yang membombardir tempatnya itu adalah Jean.

Gadis itu nampak lebih pucat sekarang. Tatapannya kosong. Pupilnya terlihat berbeda. Menyala-nyala merah seperti halnya manusia lain yang berada disampingnya.

“Eunhyuk?” Kangin menyebutkan nama pria dengan pakaian serupa dengan Jean itu dengan kebingungan yang tak berujung.

Tak habis pikir, pria itu hanya memandang hampa saat Eunhyuk berjalan menuju ruangan yang menjadi tempat dimana Eunhyuk yang sesungguhnya dikurung.

Tunggu? Mengapa ada dua Eunhyuk? Mengapa Jean muncul dan malah berada di pihak pria tengil itu? Mengapa Jean seperti tak mengenalnya saat tatapan mereka saling bertemu?

Jean, gadis berpakaian serba hitam itu mengarahkan senjatanya saat beberapa agent NIS muncul dari balik pintu. Ia membidik dengan baik. Lima peluru laser perusak organ melesak sempurna ke dalam lima tubuh anggota NIS. Melumpuhkan lawannya dalam hitungan detik.

The boss is safe. Time to move.”

Kangin mendengar sosok Eunhyuk bermata merah itu berjalan di depan Eunhyuk yang lain. Mengawasi sekaligus menjadi pengawal. Serangan demi serangan bermunculan dari berbagai sisi dan anehnya tubuh Jean dan Eunhyuk bermata merah itu tak tertembus oleh apapun. Termasuk peluru padat.

“Pria itu bagianmu,” ucap Eunhyuk berpakaian narapidana sebelum menjatuhkan diri bersama Eunhyuk lain dari balik jendela.

Jean menatap dingin pada Kangin. Pria itu sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ia terlalu bingung. Semuanya tidak masuk akal.

“Jean, ini bukan kau…” Kangin menggumam saat gadis itu mengarahkan pistolnya tepat di kepala nya. Pria itu bisa saja melawan tapi ia tidak bisa. Ia tak mampu melakukan itu terlebih pada Jean.

Mission clear,” ucap Jean setelah menembuskan salah satu peluru pelumpuhnya pada tubuh Kangin.

***

KESADARAN JEAN BERANGSUR-ANGSUR PULIH SAAT MENDENGAR bebunyian khas mesin-mesin yang berada di ruang ICU menghiasi indera pendengarannya. Kelopak matanya yang telah terbuka sempurna berkedip-kedip. Menyesuaikan cahaya menyilaukan yang berada tepat di atas kepalanya.

Ia merasa lelah. Tubuhnya begitu berat untuk sekedar menggerakkan jari. Begitu ia melihat apa yang ada disekelilingnya, lantas ia membuang jauh-jauh harapan yang semula memuncak di ubun-ubun.

Jean ingin menendang Eunhyuk saat ia melihat pria itu tengah berdiri menang di sisi tempatnya terbaring. Ia mengenakan kaus berlapis dark lace. Matanya berwarna hitam pekat. Menandakan bahwa pria ini bukanlah siluet clonning dari tubuhnya.

“Kau harus banyak istirahat, baby. Ada yang harus kita lakukan setelah operasi ini selesai,” Eunhyuk mengusap lembut pipi Jean.

Gadis itu ingin berontak. Namun tubuhnya tak dapat bergerak normal. Ia merasakan ada sesuatu yang menusuk otak kanan dan otak kirinya. Sesuatu yang dingin dan berair. “Apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya lemah.

Pandangan Jean beredar. Semuanya nampak putih. Sosok Eunhyuk bahkan terlihat seperti bayang-bayang. Di sisi lain ruangan, ia menemukan dua sosok lain. Clonning dari tubuh Eunhyuk dan satu lagi… clonning dari tubuhnya.

Itu dia. Jean bermata merah.

“Bahkan clonning-mu nampak cantik dan juga seksi. Seperti dirimu,” ucap Eunhyuk kemudian memberi kecupan singkat di pipi Jean.

Bibir gadis itu bergetar. Ingin mengucapkan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan.

“Kau tak perlu bicara, Baby. Aku akan menjelaskannya dengan mudah,” kata Eunhyuk seolah mengetahui isi dari pikiran Jean.

Gadis itu mengerang nyeri saat merasakan sesuatu mengaliri perutnya. Eunhyuk memberi reaksi dengan memberikan pijatan halus. Pria itu nampak tenang—dan puas tentunya.

“Kau tahu? Chip yang diciptakan Kyuhyun merupakan chip yang multifungsi. Hanya ada satu di dunia dan tertancap manis di tanganku. Aku dapat membuat clone dari tubuh siapa pun serta mengendalikannya. Seperti kedua puppet-ku di sana,” ia menunjuk Lee Hyuk Jae dan Jean lain.

Tawa halus Eunhyuk membahana di seisi ruangan.

“Kemudian, Professor Lee, atau aku lebih familiar menyebutnya Lee Donghae, membuat chip yang dapat mengendalikan benda elektronik apapun di sekelilingku. Well, aku juga menanamnya disini,” ia tersenyum sembari mengangkat lengan kirinya penuh kebanggaan.

Jean gusar. Antara marah dan kecewa. Lagi-lagi ia tak dapat bereaksi selain merintih begitu sesuatu yang menyakitkan menyatu dengan aliran darahnya.

“Satu lagi, Baby. Dan ini sangat penting jadi kau harus mendengarkanku dengan baik,” Eunhyuk menelisik wajah Jean yang nampak seperti mayat hidup. “Mantan kekasihmu itu telah berhasil membuat chip yang mampu merekonsruksi memori seseorang. Benda itu memang belum pernah diuji tapi kita akan mengetahuinya segera.”

Pria itu mengusap pelipis Jean dengan lembut. Gadis itu mengerti apa yang tengah diucapkan Eunhyuk. Pria gila ini membuatnya menjadi bahan eksperimen. Tentu saja melalui chip yang diciptakan Heechul.

“Aku akan menciptakan memori-memori lain yang begitu indah untukmu. Kau akan menjadi pendamping hidupku. Seseorang yang tak akan mampu lepas dari genggamanku. Tentu saja, semuanya akan dimulai dari nama barumu.”

Tangan Eunhyuk menelusuri tubuh Jean yang terbalut kain tipis. Sempat berlama-lama mengusap dada dan area sensitifnya yang lain. Jean tidak menyukainya. Tatapan Eunhyuk begitu berbahaya. Apalagi saat pria itu memancarkan sinar infra merah seolah-olah sedang men-scan tubuhnya.

“Hello, Cho Ikha. Mulai detik ini, kau akan menjadi puppet pribadiku. Puppet khusus yang kuciptakan untuk memuaskanku.”

Eunhyuk menunduk. Menyatukan bibirnya dengan bibir Jean seraya melumatnya lembut tanpa diiringi paksaan yang mendalam. Ia akan bermain-main dengannya lebih dari ini setelah chip itu bekerja dengan baik di dalam otak Jean. Sesuatu yang begitu ia nantikan selama ini.

Sementara itu, Jean hanya mampu mengumandangkan kata maaf. Sebelum chip itu benar-benar menghanguskan seluruh memorinya, ia memohon ampun pada Tuhan karena setelah ini ia pasti akan terus melakukan dosa.

Pandangan Jean kian menghilang. Merasakan efek yang ditimbulkan chip tersebut. Sebelum pikirannya benar-benar mati, ia mengingat dengan baik wajah Eunhyuk saat pria itu mencumbunya.

Sisa hidupnya akan rusak seketika karena pria gila ini akan menjadikannya puppet seumur hidup.

Dan ia tak pernah membayangkan akan jadi seperti ini akhirnya.

** END **

Julie 04

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

52 thoughts on “The Puppet (Oneshoot)”

  1. kata katanya keren, ga kuat :””””)
    Uhm, gimana ya? Ini emang lagi ngerjain tugas, dan sempet ngescroll terus yang berhubungan dengan Hyukjae, karena dia suamiku *kecup manja /ga* Dan, ddeng! aku nemu ini. Ga diprotect, untungnya *sujud syukur*

    ada tuh beberapa fanfict hyukjae disini, sayangnya diprotect :”) merasa sedih karena tidak bisa membaca fanfiction yang kata katanya kaya udah discan (?) Dan terlebih Eunhyuk.

    Well, aku suka sama tema ginian. Jadi kaya gimanaaaa gitu. Aku suka tema yang dimana Eunhyuknya jadi ‘Eunhyuk’ yang lain. Bukan Eunhyuk yang mellow, super-duper-romantis, atau Eunhyuk yang pervert. Ini beda, karena Eunhyuk yang ‘beda’ juga :”)

    Okay, sekian saja ya (?) :”) terimakasih, kak Huglooms *sungkem*

    Hug and Kiss,
    Skylar Ziv, aka Sabella

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s