EXO PLANET “CHAPTER 09” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASER

JADI DUDUKLAH MEREKA DI BAWAH RUNOS SETINGGI Namsan Tower. Kai dan Cho, keduanya bersandar pada batang pohon sembari menghirup karbondioksida yang mewangi saat melalui sela-sela indera penciuman.

Selain runos, mereka hanya dikelilingi rerumputan setinggi mata kaki. Kadang melintas seekor longear32 melompat-lompat mengejar ekor papipluvius yang melambai-lambai seperti layangan. Pemandangan sederhana itu justru nampak indah. Berbaur bersama kesejukan yang melingkupi hati keduanya.

Dari sudut matanya gadis itu tahu bahwa Kai tengah memandanginya. Ia menoleh. Balas menatap manik mata biru si pria yang mirip seperti hamparan laut di sepanjang Pulau Jeju. Kelopak mata Cho mengerjap pelan. Tak ingin kehilangan sensasi itu barang sekejap saja.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Suara gadis itu terbang bersama hembusan angin yang menngayunkan helai rambutnya. Tanpa melepas kontak, pria yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus pada area bawah hidungnya tersebut meraih tangan Cho. Meremas jemarinya seolah berkata bahwa ia tak akan melepasnya sekali pun gadis itu membangkang.

“Aku hanya sedang menikmati saat-saat ini—bersamamu,” ucap Kai tak kalah bergumam.

Cho menunduk. Menaruh segala beban tubuhnya di pundak Kai. Gadis itu meringkuk seperti kucing. Mencium wangi tubuh Kai yang mirip seperti hutan tropis nyatanya berhasil membuat sendi-sendinya merenggang. Seharian duduk bersama pria ini telah menguras tenaganya. Sadar bahwa ia telah menahan napas beberapa kali—hal itu benar-benar melelahkan.

Sejenak keduanya membungkam diri. Tetap bertahan dengan posisi mereka.

Sejauh mata mereka memandang, rerumputan yang menguning di sepanjang padang berayun ringan membentuk gelombang. Hanya bebatuan besar saja yang tidak mudah goyah. Masih kokoh seperti bukit taash yang nampak setinggi telunjuk dari tempat keduanya bernaung.

“Jika kau mengatakannya lebih awal, mungkin sikapmu akan jauh lebih baik. Seperti ini,” Cho menyenggol tubuh Kai saat gadis itu semakin mempererat diri.

Tindakannya disambut manis oleh senyum Kai. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk memberinya sebuah pelukan. “Aku berhutang banyak pada Luhan,” ia berbisik parau.

Kekehan Cho tertahan hingga suaranya terdengar seperti tawa hantu. Benar. Ia menyadari bahwa Luhan lah yang membuat semuanya menjadi nyata. Baik dirinya dan pria yang memeluknya saat ini tidak melakukan usaha lebih untuk menciptakan kebersamaan ini.

Hanya Luhan.

Sekalipun piala Golden Disk Award terbuat dari emas murni, rasanya benda itu tidak akan mampu membalas usahanya. Akan lebih baik jika ia menjadi manager pria tersebut dan membuka audisi bagi calon pendampingnya kelak. Cara itu melintas begitu saja di kepala Cho—dan ia bangga dengan ide yang dianggapnya brilian.

“Apa kau tidak mencurigai sesuatu?” Kai menarik napas dalam. Menghembuskannya perlahan hingga Cho dapat merasakan udara dari mulut pria itu mendinginkan permukaan kulit kepalanya.

Gadis itu meringkuk. Menarik sedikit rayon yang melapisi tubuh Kai agar pria berkulit lebih gelap darinya tersebut merasakan detak jantungnya. “Misalnya?”

Kai menurut. Ia mengikuti instruksi Cho tanpa membantah. “Kebahagiaan ini terlalu cepat kudapatkan,” ucapnya. Terdengar tak bersemangat.

“Maksudmu apa yang kau rasakan saat ini tidak akan berlangsung lama?” Cho meremas pakaian Kai saat merasakan tubuh pria itu menegang. Ia tahu Kai sedang gelisah. Kegelisahan yang menurutnya tidak penting untuk dipikirkan.

“Aku hanya takut saat-saat ini hanya untuk menutupi hal-hal besar yang akan terjadi nanti.”

Dari jawaban Kai gadis itu semakin mengerti. Jadi inilah yang membuat Kai tidak banyak bicara selama mereka menghabiskan hampir separuh waktunya di bawah runos. Kebisuannya menandakan ketakutan. Pikiran Kai terlalu banyak dipenuhi kekalutan. Tidak peduli seberapa indahnya kebahagiaan yang ia peroleh saat ini, pengkhianatan dan penolakan itu seolah terus menghantuinya.

“Kai,”

“Hmm?”

Tubuh Cho bergeser. Memberi celah agar ia dapat menatap mata biru Kai sekali lagi. “Bisakah kau, sekali saja, tidak memikirkan sesuatu dengan begitu serius? Spekulasi-spekulasi yang kau buat itulah yang membuat kebahagiaanmu menjauh. Semua hanyalah sugestimu. Apa kau mengerti?” ia mencoba berkhotbah. Berharap pria yang memenuhi jarak personalnya itu memahami ucapannya.

Kai tak banyak merespon. Ia hanya menatap lurus pada kedua mata Cho dan sesekali tersenyum. Senyum sederhana yang dipenuhi kerahasiaan.

Gadis itu kembali melanjutkan, “Meski apa yang kuketahui berasal dari mulut orang lain, aku tahu persis apa yang telah menyebabkanmu seperti ini. Jadi bisakah kau hanya melihatku dan melupakan kegelisahanmu yang terlalu berlebihan itu?”

Kai lantas menunduk. Sengaja menghindari tatapan gadisnya seolah ia sedang menghujamkan duri razours padanya. Bibirnya bergetar. Menahan keinginan untuk tidak mengakui ketakutan yang dapat gadis itu rasakan.

Saat pria itu masih menimang-nimang, Cho hanya dapat memberinya sebuah usapan lembut di pipi Kai. Tulang selangkanya membentuk garis tegas saat pria itu menahan napas. Ia masih berpikir keras.

“Aku takut,” Pada akhirnya Kai membuat sebuah pengakuan. Suaranya hampir hilang ditelan gemerisik daun Runos yang saling bersentuhan tertiup angin.

Setelahnya Kai segera menjatuhkan tubuhnya pada bahu Cho. Membenamkan wajahnya sebaik mungkin sebelum gadis itu mendapati perubahan tersebut—memerah menahan emosi jiwa. Sementara itu Cho tidak banyak menuntut. Membiarkan Kai larut dalam pikirannya sendiri.

“Kau hanya perlu percaya padaku. Seperti aku mempercayaimu.” Gadis itu berbisik di sisinya. Merengkuh wajahnya semakin dalam serta memeluknya dalam dekapan. Dan entah mengapa ia merasa beban berat yang memenuhi sebagian otaknya menghilang begitu saja.

Kata-kata gadis itu menghipnotisnya. Menghancurkan kegelisahannya saat itu juga.

“Kau tahu apa yang orang bumi—khususnya Korea Selatan—sering ucapkan pada pasangannya?” tanya Cho. Merobek keheningan di sekitarnya.

Kepala Kai bergerak lemah diiringi geram pelan yang lebih mirip seperti suara ringkihan seekor puppy. Ia masih terbujur kaku disamping Cho. Seperti tidak tertarik dengan topik tersebut.

Saranghae.” Bibir Cho bergerak membentuk kata tersebut. Tetap memaksa bicara sekalipun Kai benar-benar tidak memperhatikannya. “Satu kata yang menjadi simbol keromantisan. Yang artinya aku mencintaimu,” imbuhnya.

Kai mendengus. “Kata itu pernah kudengar saat aku mengamatimu di bumi. Sarang… hae?” ia menirukannya persis seperti yang Cho sebutkan. Gadis itu bahkan terkekeh mendengar pengucapan Kai yang agak aneh.

“Suatu hari nanti kau harus mengucapkan kata itu untukku,” ucap Cho, memerintah.

Sambil berpegangan pada pergelangan tangan gadisnya, Kai menengadahkan kepala dan membuat mereka saling bertatapan selama beberapa saat. “Aku tidak membutuhkannya. Yang kubutuhkan hanya ini,” kemudian pria itu bergerak mendekat dan mencumbu Cho tepat di bibirnya.

Saat keduanya saling berbagi kehangatan, partikel no̱ménos dari tubuh Kai menguap dan membentuk partikel-partikel biru yang bercahaya terkena sentuhan afftheurcaly di rambut Cho. Beberapa papipluvius mengitari mereka. Bergerak membentuk sebuah tarian seiring debunya yang mengudara.

Rasanya begitu menakjubkan saat lidahnya menyentuh bibir Cho. Begitu menggoda hingga pria itu sama sekali tidak berhenti selama hampir tiga menit. Sekujur tubuh gadis itu memucat dan kepalanya mendadak pusing. Cahaya di dalam tubuhnya terhisap kuat oleh sentuhan Kai setiap kali ia merasakan getaran itu.

Tubuh Kai bisa dibilang tidak kurus dan tidak gemuk. Namun pria itu menyimpan kekuatan yang hebat termasuk saat keduanya bercumbu. Cho tak berdaya. Ditambah lagi dengan wangi tubuh Kai yang berbaur dengan suhu tubuhnya yang mendingin.

Cho berjuang melawan daya tarik Kai dengan menggigit lidah si pria. Cara itu berhasil. Kai menjauh meski ia tahu bibirnya masih mencoba untuk mencari-cari.

“Beri aku satu menit untuk bernapas. Setelah itu kau bisa menciumku lagi,” cegah Cho sebelum Kai berniat untuk menyerangnya kembali.

Si pria mendengus diiringi tawanya yang tertahan. “Baiklah,” ia menyerah. “Tapi bisakah kau menungguku? Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Sambil mengusap bibirnya yang berdenyut-denyut, gadis itu mengangguk. Tanpa berpikir panjang, Kai segera menghilang menembus waktu. Meninggalkan Cho yang masih terpukau dengan ciuman yang dilakukannya barusan.

Gadis itu terkekeh sendiri. Ia tak tahu apakah ciuman tadi merupakan ciuman ke sekian yang dilakukan Kai bersama lawan jenis lain. Namun baginya ini yang pertama. Dan rasanya luar biasa—sekaligus addicted.

Sambil menunggu kedatangan Kai, gadis itu memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Ia menurunkan tubuh pada lengkungan akar runos. Mengubah posisi beberapa kali hingga menemukan kenyamanan yang ia cari. Hembusan angin serta suara dengung dari sayap papipluvius meraung-raung di telinga. Membuat rasa kantuk sempat hinggap di kedua kelopak matanya.

Saat gadis itu hendak melanglang buana di bawah alam sadarnya, sesuatu yang dingin menyentuh bibirnya dengan anggun. Meski hanya sekilas, tidak ada yang lebih lembut selain bibir seseorang yang menghinggapinya.

“Apa ciuman tadi masih belum cukup?” ejek Cho, masih memejamkan mata sembari tersenyum lebar.

“Wow, tak kusangka jika kau dan Kai sudah melakukannya hingga pada tahap itu.”

Seketika otot-otot pada wajah Cho membentuk garis-garis brutal. Alis dan matanya begitu sinkron membentuk tautan kasar saat sepenuhnya membuka mata. Gadis itu melempar pandangan ke arah seseorang yang ia yakini bukanlah pria yang barusan mencumbuinya.

Benar. Seseorang itu ternyata Suho. Sang pemimpin castè Krypth yang tidak begitu ia sukai.

Mwohaneun geoya? (Apa yang kau lakukan?)” ia membentak kasar. Tak peduli jika para papipluvius terbang menyebar karena suara lengkingannya yang menggema di udara.

Saat melihat wajah Suho, hanya amarah yang melintas di benaknya. Pria ini telah berani mengecupnya tanpa izin. Hal yang begitu sensitif bagi Cho.

Gadis itu hendak berdiri sebelum Suho menahan kedua bahunya dan membuat ia tak berkutik.

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan, Cho Ikha. Tapi jika itu artinya kau bertanya mengenai apa yang kulakukan barusan, jawabannya adalah memberikan sebuah penghargaan. Karena kau memutuskan untuk tinggal disini hingga pertandingan berlangsung—meski kehadiranmu sebenarnya sia-sia berkat pedang afftheurcaly yang tak mampu disentuh siapa pun.” Jelas Suho panjang-lebar.

“Menurutku tindakanmu begitu rendahan, Suho-ssi. Kukira etikamu cukup baik karena telah berhubungan dengan si gadis bangsawan. Sepertinya semakin hari sikapmu itu justru semakin tidak berpendidikan,” oceh Cho. Ia memberontak. Mencoba melepas kungkungan Suho karena ia tidak menyukai keadaan ini.

Pria itu terlalu dekat. Wajah Suho memang tidak kalah tampan dengan Kai. Sayangnya tidak ada sedikitpun faktor yang membuatnya terpesona. Tidak ada. Sekali pun pria itu operasi plastik hingga wajahnya menyaingi keseksian Zac Efron.

“Setidaknya aku bisa merasakannya,” gumam Suho.

Cho mencoba menyingkirkan tangan si pria begitu bola matanya bergerak menatap bagian tubuh yang sempat ia hinggapi. Namun pria itu menolak. Ia tetap bertahan dengan posisinya meski gadis itu tetap memaksa untuk menjauh.

“Aku mengganggu waktumu bersama Kai tidak dengan tanpa alasan, Cho Ikha. Hari ini aku bertugas sebagai pembawa pesan. Parleemos King menunggumu di istana sekarang.”

“Tapi tidak dengan menciumku!” bentak Cho.

Suho tertawa. Nadanya terdengar begitu menyebalkan bagi Cho. “Tak kusangka jika reaksimu akan begini jadinya. Tapi tak apa. Saat kau memegang tanganku, seseorang justru mengira bahwa kita sedang melakukan adegan romantis.”

Cho menerjang tubuh si pria hingga jatuh berdebam ke atas tanah sebelum sadar bahwa seseorang tengah mengamatinya. Saat ia menemukan Kai tak jauh di balik punggungnya, cacian dan makian pun meluncur manis dari mulutnya. Ia membodohi diri. Menebak bahwa akan terjadi kesalahpahaman dalam hitungan detik.

“Tunggu. Aku bisa menjelaskan—“

Terlambat.

Kai seketika menghilang bersama partikel hitam yang menaunginya. Membawa serta amarah yang mengejutkan otak dan juga raganya. Cho menghentakkan kedua kaki di permukaan tanah sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang dan mendapati Suho tengah tersenyum menang di sana.

“Kau…”

Desisan Cho terdengar menyeramkan. Meski pada akhirnya Suho malah mencairkan diri bersama partikel air yang dikuasainya dan menghilang menembus tanah EXO Planet yang menggembus seperti pasir abu.

Cho menggerutu seraya menarik helaian rambutnya tiada henti. Ia menyesali diri. Seharusnya saat Suho muncul, ia sudah mencabik-cabik pria itu hingga membagi tubuhnya menjadi beberapa bagian. Sayangnya terlambat. Pria yang dicintainya telah menghilang.

Sesuatu di antara rerumputan mengusik pandangannya. Gadis itu memicingkan mata dan berakhir dengan menghampiri benda tersebut. Ia mengenal baik benda itu. Tulip ungu—atau entah itu namanya karena Baekhyun terlalu cepat memberikan eksplanasi padanya. Bunga itu jatuh tepat di tempat Kai berteleportasi.

Gadis itu kemudian mendesah berat. Bunga yang semula berwarna pink menyala itu tiba-tiba berubah hitam pekat. Itulah kondisi Kai sekarang. Kondisi hatinya yang berubah gelap hanya karena adegan bodoh yang sengaja dibuat oleh Suho.

“Akan kucabik-cabik wajahmu, Suho-ssi!”

-o-

SEPERTI BIASA, ZAQUE MENEMANI CHO MENYUSURI LORONG istana menuju ruangan yang pernah ia kunjungi saat pertama kali bermukim di planet ini. Tak perlu memakan waktu banyak hingga akhirnya ia menemukan punggung Sang Penguasa menyambutnya bersama kegelapan malam.

Pria dengan predikat Parleemos tersebut memutar tubuh. Mengalihkan pandangannya pada Cho saat jendela besar yang menampakan keadaan sekitar istana tak lagi menarik perhatiannya. Pria itu menggerakkan ujung jari. Menyuruh kedua pelayan yang setia berada di sampingnya untuk menyalakan cahaya sebelum menjauh meninggalkan keduanya.

Saat cahaya yang menyinari seisi ruangan tersebut menyala terang. Pandangan Cho serta-merta tertuju pada Parleemos King. Ia terlihat berbeda. Tidak bersinar seperti biasa. Pria itu kini nampak tua. Keriput di wajahnya bermunculan—padahal kemarin wajah Sang Penguasa masih licin seperti pria berusia dua puluh tahun.

“Sepertinya ada hal penting yang ingin Parleemos sampaikan padaku. Zaque agak sedikit terburu-buru menuntunku,” ucap Cho. Bicara pada intinya.

Leeteuk menyuruh gadis itu untuk duduk di tempat yang telah ia sediakan. “Bagaimana hubunganmu dengan Kai?”

Pertanyaan tak terduga tersebut sempat membuat gadis itu tersedak. Namun ia segera bangun dari pikirannya. Tak heran jika Leeteuk tahu. He is the-man-who-knows-anything.  “Kalau begitu maaf karena telah merusak hubungan Kai dengan Sulli,” jawabnya.

“Aku hanya sedang berguyon saat Kai mengiyakan tawaranku. Ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sangat serius.” Leeteuk nampak tersenyum saat mengibaskan ujung lengan pakaiannya yang memanjang menyentuh lantai.

“Apa kau dapat menebaknya—mengapa aku menyuruh Suho untuk mengundangmu kemari?” tanya Leeteuk. Kembali mengajukan pertanyaan.

“Jika Parleemos hanya ingin memberitahuku mengapa pertandingan para castè ditunda hingga esok hari, sebaiknya aku kembali ke markas dan menikmati masakan D.O bersama yang lain.” tolak Cho.

Leeteuk tersenyum dan mengangguk-angguk. “Aku lebih tenang mendengarnya.”

Jawabannya membuat kedua alis Cho mengerut. “Kau sedang menyembunyikan sesuatu, Oppa.” Ucapnya. Masih tak dapat menebak arti dari perkataan Leeteuk yang baginya sangat jauh dari topik pembicaraan mereka.

“Benarkah?” Leeteuk malah melontarkan kembali kata-kata Cho.

“Sorot matamu itu terlalu mudah untuk ditebak,” gadis itu menopangkan satu kaki pada kakinya yang lain. Menyandarkan punggung dengan santai seolah tempat itu seperti miliknya sendiri.

“Sudah kuduga,” gumam Leeteuk.

Bola mata Cho berputar. “Kau tahu? Hanya ada dua jenis orang yang paling membosankan di planet ini. Pertama, Luhan. Kedua, kau.” Ia mengarahkan telunjuknya pada Leeteuk. “Kalian berdua selalu memberiku teka-teki yang sulit untuk kupahami. Bukankah kau sudah tahu bagaimana nilai tesku di kelas ilmu alam?”

Ocehan Cho menggelitik Leeteuk. Pria itu semakin terkekeh hingga kerutan di sekitar matanya membentuk lipatan dumpling. “Aku hanya ingin memberitahumu beberapa hal dan kuharap kau dapat mencernanya dengan baik.”

Leeteuk mengangkat tangan saat Cho hendak menginterupsi. “Saat pertandingan berlangsung, hanya ada tiga orang yang akan duduk di podium utama. Aku, Suho dan Kris. Sisa castè akan berbaur dengan publik termasuk kau.”

Ia kembali memberi aba-aba kedua pada Cho. Gadis itu tidak diijinkan untuk bicara sebelum ia menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan. “Semua penjaga akan mengelilingi arena dan pertandingan akan diadakan tepat saat matahari mulai terbenam. Kau harus mencari spot yang baik dan jangan terlalu mencolok jika kau ingin selamat. Afftheurcaly dapat dikenal baik oleh para shaman dan penyihir.”

Cho mengangkat tangan, memberikan interupsi ketiganya dan berharap Leeteuk memberinya kesempatan. Melihat si pria memberi tanda, gadis itu begitu sumringah dengan izin yang diberikannya.

“Sejenak aku ingin menanyakan dimana tempat istrimu dan Sulli saat pertandingan nanti; mengapa hanya Suho dan Kris yang ada disampingmu; mengapa pertandingan dilakukan sore hari—meski awalnya akan dilakukan siang bolong; mengapa aku seolah-olah harus bersembunyi di tengah kerumunan publik; dan masih banyak lagi yang ingin kutanyakan,”

Gadis itu memberi jeda dengan menyelipkan sejumput rambut di balik cuping telinganya.

“Sekarang yang ingin kuajukan hanya satu pertanyaan, Oppa.” Ia menelan ludah. Menatap lurus pada bola mata Leeteuk yang warnanya menyerupai mata miliknya. “Apakah ini yang kau lihat—saat membaca masa depan?”

Leeteuk mendongak. Tersenyum penuh kedamaian sebelum akhirnya kembali menatap Cho. “Umurku sudah genap seratus tahun. Aku sudah tidak memiliki lagi kemampuan supranatural yang, bagi semua orang, sangat hebat tersebut. Aku hanya manusia biasa sekarang,” kilahnya.

“Kau hanya perlu mengatakan padaku siapa yang akan memenangkan pertandingan nanti dan selesai. Kenapa kau membuat semuanya menjadi rumit?” Cho berjengit. Gemas dengan cara Leeteuk yang selalu membuat kepalanya pusing.

“Masa depan akan berubah jika aku salah bertindak. Karena itu cerna kata-kataku dengan baik agar kau mengerti.” Pria itu sama sekali tidak termakan emosi meski cara bicara Cho hampir meledak-ledak. Leeteuk nampak tenang. Ekspresinya terkontrol dengan baik.

“Baiklah. Aku akan mencobanya,” ia mengalah.

Leeteuk tiba-tiba berdiri. Pandangannya tertuju pada tempat yang dilalui Cho saat gadis itu hendak menemuinya. Melihat mata antusias Sang Penguasa, Cho pun dalam sedetik ikut berdiri. Hampir berhadapan dengan Leeteuk sebelum akhirnya pria itu menjauh.

Seseorang datang. Pihak yang begitu dinantikan Leeteuk. Terbukti saat sosok tersebut menampakkan diri dan Sang Penguasa seketika memberinya pelukan selamat datang. Sosok itu hanya tersenyum seadanya. Terlebih saat sorot matanya tertuju pada Cho.

Tercetus niat di dalam dirinya untuk menghampiri tamu lain Sang Penguasa dan ikut menyambutnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Setelah membungkuk hormat pada Leeteuk, sosok itu bergerak cepat melintasinya menuju sisi lain ruangan. Tindakan sepele yang mampu menikam hatinya.

“Aku harus bicara empat mata saja dengan Kai, Cho-ssi. Kau bisa menyelesaikan masalahmu setelah giliranku.” Leeteuk menepuk bahu si gadis saat pandangannya tidak teralihkan dari partikel no̱ménos yang bertebaran di belakang Kai.

Meski agak kecewa gadis itu tetap menurut juga. Perbincangan mereka sepertinya telah mencapai titik penting. Karena itu kehadirannya tidak diperlukan lagi.

“Cho Ikha!” sahut Leeteuk lantang.

Gadis itu menoleh. Menghentikan tubuhnya dalam selangkah.

“Apa kau lihat cermin itu?” Leeteuk menunjuk sebuah cermin besar yang terhalang kain tipis di dinding bebatuan istana.

Cho mengikuti arah jemari Leeteuk. Matanya menyipit saat menangkap cermin berbingkai perak serta terdapat ukiran-ukiran aneh di sekelilingnya.

“Kau akan melihatnya wajahmu yang sesungguhnya saat bercermin disana,” ucap Leeteuk kemudian beranjak menyusul Kai.

Gadis itu mengerutkan alis. Masih belum memahami perkataan Leeteuk. Saat tirai tipis itu tertiup angin malam yang masuk melalui celah jendela, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Itu hanya sebuah cermin biasa.

“Apa Leeteuk pikir wajah asliku ini seperti werewolf? Tsk, neomu ookyeo (Sangat lucu),” dengusnya kemudian berlalu.

-o-

AKU TIDAK PERNAH MENGERTI JALAN PIKIRAN LEETEUK,” rutuk Kai sembari melempar biji-bijian ke arah fugore. Kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Risih dengan kelakuan kekanak-kanakan Kai.

“Bukankah pemikiran kalian memang selalu bertentangan?” ujar Luhan. Ia mengelus-elus puncak kepala fugore agar kuda itu kembali tenang.

Kai memutar bola mata. “Lagi-lagi kau membelanya. Aku masih dendam dengan kebohonganmu tadi malam, fratheer.”

Dibalik kerah baju yang menutupi lehernya dengan sempurna, pria yang diajak Kai bicara tersebut terkekeh meski tidak begitu kentara. Well, setidaknya ia bangga atas tindakannya semalam. Kebohongan yang mampu membuat Kai dan Cho menyatu. Mungkin ia harus membuat izin resmi ke Departemen Perdagangan untuk membuka jasa perjodohan.

Luhan lantas duduk berdampingan dengan Kai di atas rerumputan. “Memang apa yang kau bahas dengan Parleemos barusan?”

“Omongannya melantur. Aku sama sekali tidak mengerti,” jawab Kai asal.

Ia nampak bosan. Setelah biji-bijian yang sengaja disediakan Luhan untuk makan siang fugore telah menyebar di sekitar kaki kudanya, kini giliran rerumputan yang Kai cabuti dan ia lempar sejauh angin membawanya.

“Parleemos selalu menguji kemampuan otak siapa pun saat bicara dengannya. Ini hanya menyangkut kecepatan kepalamu dalam memahami makna di balik ucapannya,” jelas Luhan bijak.

“Ya. Sama sepertimu yang selalu membuatku sakit kepala,” rutuk Kai.

Luhan terkekeh. “Jadi?”

“Leeteuk menyuruhku untuk membawa Ratu dan Sulli ke Navepole33 malam ini. Mereka tidak akan menyaksikan pertandingan kita besok. Belum lagi beberapa batalion prajurit akan menyebar di seluruh arena dan melakukan penjagaan ketat. Menurutku pria tua itu terlalu berlebihan menanggapi pertandingan bodoh ini. Seperti ada sesuatu yang hebat akan terjadi besok.”

Luhan menyentuhkan bibirnya pada telunjuk. Menyuruh Kai untuk tidak membuat gaduh meski setelahnya ia tidak mendengar apapun selain suara aliran sungai samgh dan ringkihan fugore.

Castè EXO Myrath tersebut menggerakkan jemarinya sedemikian rupa hingga terbentuk sebuah pusaran angin di atas telapak tangan. Pusaran tersebut membumbung di udara lalu berubah menjadi lebih lebar dan mengelilingi ketiganya tanpa tersisa celah sedikit pun.

“Yang kutahu kau hanya dapat menggerakan benda padat saja, Luhan. Sejak kapan kau bisa mengendalikan angin?” Di tengah rasa penasarannya pria itu memandang takjub. Luhan memiliki kekuatan Sehun. Hal yang begitu tak terduga.

Pria itu kembali menggerakkan jemarinya membentuk simpul-simpul yang tak dimengerti Kai. “Sekarang bukan saatnya memuji kekuatanku. Yang jelas aku tidak akan menyerangmu di pertandingan besok,” ia masih fokus membuat pusaran tersebut agar dapat bergerak sendiri. Sementara disampingnya Kai tengah bertepuk riuh sendirian.

Dengan pusaran angin tersebut, Luhan berharap tidak ada yang mendengarkan perbincangan mereka saat ini. Mereka ada di wilayah Myrath. Dan yang ia tahu, Kris sedikit kejam terhadap siapa pun yang berada di wilayahnya. Termasuk castè Krypth sendiri.

“Hanya itu yang diucapkan Parleemos?” Luhan kembali ke topik utama.

Kai mengangguk. Matanya masih mengamati pusaran angin yang digerakkan Luhan. “Ia menyuruhku untuk berhati-hati.”

“Dan jawabanmu?”

“Aku bisa mengalahkanmu dengan mudah. Jadi aku menyuruh pria itu untuk tidak mencemaskanku.”

Tanpa menoleh dari wajah Kai, Luhan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Jemarinya bergerak membentuk kepalan sederhana dan detik berikutnya ranting-ranting kering yang ada di atas pepohonan berjatuhan mengenai kepala Kai. Pria itu meringis. Mengusap kepalanya yang terasa perih.

“Kau masih bisa bercanda saat Parleemos mengatakan hal penting itu?” Luhan berdecak. Memberi peringatan pada Kai atas jawaban bodohnya tersebut. “Ini pasti ada hubungannya dengan Kris dan Suho.”

“Kenapa kau malah menyebut dua pria yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan topik ini?” Kai menimpali.

“Sebelumnya kau pernah bilang bahwa Kris dan Suho berubah drastis sejak pemilihan tahta ini. Hubungan kita menjadi renggang termasuk dengan sisa castè lain. Apa kau tidak mencurigai hal itu?”

Tawa renyah Kai membahana di dalam pusaran angin. “Kris dan Suho? Maksudmu dua pria itu sedang merencanakan sesuatu?” ia masih tertawa penuh ejekan.

“Tindak-tanduk mereka sangat mencurigakan akhir-akhir ini. Kris bahkan sempat menyuruhku untuk—“ Luhan terhenti. Menelan ludahnya sesaat dan menggeleng pelan. “Ergh, lupakan!”

Melihat kegalauan yang Luhan tunjukan membuat Kai mencurigai sesuatu. “Menyuruhmu untuk apa?” desaknya.

Luhan kembali menggeleng. “Bukan sesuatu yang penting. Semua orang tahu bahwa aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui kelemahanmu. Kris sempat memaksaku untuk menyebutkan hal itu padaku tapi aku menolak.”

Kai berdecak hebat. “Pertandingan ini membuat mata para pemimpin mengabur. Sudah kubilang jika aku tidak pernah tertarik dengan tahta itu. Mereka hanya perlu melindungi gugus masing-masing dari segala gangguan dan Leeteuk pasti akan tersentuh dengan apa yang mereka lakukan.”

“Sayangnya tidak semudah itu, Kai. Kita tahu bahwa Parleemos dapat melihat masa depan. Meski kemampuannya telah musnah, seharusnya ia tidak perlu berlebihan seperti itu.” Kedua alis Luhan mengeryit. Pria itu nampak serius. Seperti sedang memikirkan sesuatu dengan begitu dalam.

“Ia sempat mengatakan hal lain padaku,” Kai memperbaiki posisi duduknya sejenak. “Masa depan akan berubah jika aku salah bertindak… seperti itu.” Ia mencoba menirukan gaya bicara Leeteuk.

Pria yang dikenal sebagai saudara tiri Kai tersebut terdiam. Raut wajahnya masih serius seperti semula. Ia mencoba mencerna setiap kata yang Kai ungkapkan.

“Kau tidak menceritakan hal ini pada siapa pun bukan?” tanya Luhan, meyakinkan.

“Hanya padamu,” jawabnya pasti.

“Jangan sampai yang lain tahu. Seingatku mulut Baekhyun dan Chanyeol hampir sama seperti wanita penggosip yang berderet di selasar jalanan kota.”

Luhan berganti-ganti memandang pusaran angin di sekeliling mereka dan langit-langit di atas kepala. Suara desing yang timbul dari angin tersebut berhasil meredam suara keduanya. Sementara Kai termenung menatap rerumputan Myrath yang mengering setiap kali fugore menjejakkan kaki.

“Perkataanmu ada benarnya juga, Luhan. Jika memang Kris atau pun Suho sedang merencanakan sesuatu, Leeteuk pasti bisa mengatasinya dengan mudah sejak dulu.” Kai berspekulasi. Mencoba mencocokkan setiap kejadian yang menyangkut kedua pemimpin wilayah EXO Planet.

Masa depan akan berubah jika aku salah bertindak,” bisik Luhan, mengulang kembali kata-kata Leeteuk yang Kai sampaikan padanya.

Keduanya lantas membisu. Membiarkan fugore mengendus-endus pusaran angin dan berjingkrak-jingkrakan seekor diri. Baik Luhan dan juga Kai terbenam dalam pikiran masing-masing. Berlomba-lomba memasang puzzle yang berserakan di dalam otak mereka.

“Besok adalah duel pertama antara kau dan aku. Apa kau pikir akan terjadi sesuatu yang diramalkan Leeteuk?” Kai bertanya tanpa melirik. Matanya menatap kosong rerumputan berwarna merah maroon di dekat kakinya.

“Kau hanya perlu mengontrol emosimu nanti,” ucap Luhan sederhana.

“Kenapa?”

Pria itu kemudian mendengus. “Apa kau lupa kejadian itu?” tanyanya, sekedar mengingatkan kembali apa yang telah terjadi dahulu saat Kai hampir membunuh fugore hanya karena Luhan mengejeknya dengan sebutan pria kulit hitam.

Kai memberi cengiran polos pada fugore. Sayangnya kuda itu terlalu pintar untuk diajak bicara. Maka si kuda malah memalingkan wajah seraya menghentakkan kaki belakangnya beberapa kali.

Tiba-tiba pusaran angin yang diciptakan Luhan terpecah dan memudar saat cahaya kehijauan membelah perisainya. Fugore bahkan melengking cukup kencang hingga membuat kedua bersaudara tersebut berdiri tegap lalu memasang aba-aba untuk menyerang.

Dari balik cahaya kehijauan tersebut, Kai melihat Kris muncul bersama kobaran api merahnya yang menyala-nyala. Pria itu dikelilingi api. Tatapannya sangat dingin. Berbeda dengan kobaran api yang membakar kedua lengan kokohnya.

Ia melirik Luhan yang telah menurunkan kedua lengannya. Wajahnya memang nampak tenang. Tapi tidak dengan tubuhnya. Pria kurus dengan wajah seperti anak kecil itu menyiratkan kewaspadaan. Ia merasakan sesuatu yang lain dari kehadiran Kris.

Pria berapi itu memancarkan aura yang berbeda. Begitu kuat dan gelap.

“Apa yang kalian berdua lakukan disini? Mengucapkan salam perpisahan—karena salah satu di antara kalian akan ada yang mati besok?” tanya Kris seiring meredamnya kobaran api yang membelah pusaran angin. Hanya tersisa sedikit api di ujung-ujung jemarinya. Namun hal itu cukup membuat Kai bergidik ngeri.

“Hai, Kris. Apimu semakin menawan dari hari ke hari. Apa kau menambahkan bubuk grinphil34 di tanganmu? Lihat! Apimu menyala kehijauan!”

Luhan menoleh kaget pada Kai. Pria itu jelas sedang tidak melucu. Ejekan yang dilontarkannya bisa berakibat fatal. Terakhir kali yang ia lihat, Kris pernah menghias wajah Kai dengan lebam keunguan di pipi kirinya. Pria itu menyikut pelan perut Kai. Tak ingin terjadi hal serupa yang pernah ia lihat beberapa waktu lalu.

“Kenapa, Luhan? Bukankah dulu kita bertiga sering bermain petak umpet di sekitar hutan ini? Bagaimana jika kita memainkan permainan itu untuk mengenang masa lalu?” Kai mengoceh tanpa jeda. Membuat Luhan semakin cemas karena tujuan pria disampingnya ini adalah untuk menggoda Kris.

Si pria berapi melayangkan seberkas smirk di bibirnya. Dan detik berikutnya kobaran api di ujung jemarinya semakin menyala hebat. “Kubiarkan kau mengejekku kali ini, Kai. Besok mungkin kau tak memiliki kesempatan itu.”

Seperti kereta subway, pria itu kemudian menghilang saat api yang menjadi bagian dari tubuhnya tersebut membawanya pergi. Sangat cepat dan tak terjamah. Kehadiran Kris tak jauh berbeda seperti jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Atau lebih tepatnya datang tak diundang dan pergi pun tak mengucapkan salam.

“Kau lihat? Ada yang aneh dengannya.” Luhan berbisik pada Kai dan disambut oleh anggukan antusias dari pria tersebut.

Mengiyakan.

-o-

KITA HARUS BICARA, KAI! SAMPAI KAPAN KAU akan terus menghindariku?” Langkah gadis itu begitu lebar dan panjang. Terus menyetarakan tubuhnya agar dapat menahan Kai yang telah siap kabur lagi dari penglihatannya.

“Apa kau tidak lihat aku sedang terburu-buru?” ucap Kai tak peduli. Ia masih melanjutkan langkahnya sembari memasang sepasang sarung yang menyembunyikan telapak tangannya dengan sempurna.

Cho merentangkan kedua tangan. Mengejutkan Kai hingga pria itu mau tak mau menghentikan langkahnya. “Kau cemburu! Dan aku harus meluruskan semuanya atau sikapmu akan semakin buruk padaku!” ia agak menggertak.

“Cemburu?” ulang Kai. Ia memutar bola mata lantas mendengus kasar. Tak peduli dengan cengkeraman tangan Cho di lengan kekarnya. Ia tidak ingin membahas apa yang telah dilihatnya kemarin.

“Baiklah. Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan peduli!” Dan gadis itu melepas tautannya lantas menatap sinis pada Kai.

Pria ini tak mau mendengar meski ia telah menjelaskannya dengan gamblang. Keras kepala sekaligus bodoh.

“Sebaiknya kau menjaga dirimu baik-baik, Cho zouis35. Lihatlah pertandingan dengan baik karena setelah itu aku akan segera mengembalikanmu ke bumi,” ucap Kai dengan memberikan penekanan pada tiap kata-katanya.

Kai melangkah ke depan dengan tatapan tak peduli sementara tangannya mencoba menyingkirkan tubuh Cho. Bak dipompa oleh karburator, jantung gadis itu serasa hampir meledak karena terlalu dipenuhi oleh amarah. Ingin rasanya ia memeluk Kai agar pria itu paham bahwa sesungguhnya bukan itu yang terjadi. Namun Kai telah menghilang lebih dulu. Berteleportasi.

Gadis itu merutuki diri dengan memukul dinding di balik punggungnya. Bunyi ‘krek’ dari buku-buku tulangnya sama sekali tidak terasa sakit. Ia ingin memukul sesuatu yang lebih kuat untuk mengalihkan amarahnya. Apapun. Karena jantungnya kian bergemuruh.

“Saatnya mengisi energi!” sahut Baekhyun yang muncul dari anak tangga dengan setengah berlari.

Pria itu menemukan Cho tengah berdiri kaku menghadap dinding. Sama sekali tidak melirik saat Baekhyun dengan sumringah menghampirinya.

“Hei! Cho Ikha! Aku tidak suka saat kau tidak mempedulikanku!” Pria dengan smookie tebal di kedua matanya tersebut menggertak. Nadanya terdengar kekanak-kanakan.

Biasanya gadis itu akan terkekeh setiap kali ia memainkan nada tersebut. Kali ini Cho tetap mematung dan berdiri teguh di sana. Sekali pun gadis yang menyandang gelar huglooms itu berjalan cepat dan menyambar tudung abu-abu di atas meja yang disiapkan Sehun untuknya, Cho tetap tak menoleh. Tidak pula menyapa.

“Aku tidak ingin melewatkan pertandingan ini. Lebih baik kau segera bergabung dengan yang lain.” Bibirnya bergerak. Agak terpaksa karena ia tak ingin mendengar Baekhyun mengoceh nanti.

Tahu bahwa si pemilik afftheurcaly ini dalam kondisi yang tidak baik. Pria itu memilih untuk tidak membuat suasana menjadi semakin buruk. “Aku duduk di sayap kanan Parleemos. Jika kau butuh seseorang untuk menemanimu—“

“Kita akan berkencan setelah pertandingan ini berakhir. Aku akan baik-baik saja selama orang-orang di sekelilingku tidak mengganggu,” potong si gadis seraya melangkah menuruni anak tangga.

Saat gadis itu memakai tudung tersebut untuk menyembunyikan wajahnya, ia tak tahu jika Baekhyun tengah berjingkrak-jingkrakan meneriaki kata yahoo berulang kali. Tentu saja. Karena Cho menjanjikannya pergi kencan setelah pertandingan berakhir.

-o-

SETELAH MELEWATI PENJAGA BERTUBUH BESAR yang berbaris di sepanjang pintu gerbang, gadis bertudung tersebut menyusup di antara kerumunan menaiki anak tangga menuju podium yang telah disediakan. Hidungnya mengendus pelan saat pria kurus berambut lepek disampingnya mengeluarkan bau tak sedap. Pria itu meneriaki sesuatu yang tak dimengertinya.

Pandangan si gadis masih mencari-cari. Dengan insting manusia yang masih dimilikinya, ia memilih untuk mengikuti segerombol wanita hitam di hadapannya. Masing-masing di antara mereka membawa segelondong kertas dan sebilah kayu cokelat tua dengan lambang EXO Planet. Dan ia baru sadar jika hanya dirinya saja yang datang dengan tangan hampa.

Setelah melewati lorong gelap yang dikelilingi bebatuan kasar dan juga lembab, gadis itu merasakan udara segar menerpa wajahnya saat mendapati langit hitam di atas kepala. Ia terus mengikuti gerombolan tersebut hingga anak tangga terakhir.

Dan di sanalah Cho Ikha. Di tempat tertinggi sebuah podium yang mengelilingi lapangan besar di bawah kantung matanya. Setelah menimang-nimang, akhirnya gadis itu duduk di antara pria besar yang memakai pakaian besi penyok-penyok serta seorang wanita dengan bintik-bintik merah di wajahnya. Tudung abu-abunya dikeratkan. Tak ingin berbaur dengan mereka meski seseorang di balik punggungnya sempat mencuri pandang dan mencolek-colek bahunya.

Tempat ini sangat luas. Hampir menandingi Stadiun Munsu di daerah Ulsan. Di atas tiang-tiang penyangga di sekeliling stadiun terpasang cahaya menyilaukan yang menyinari seluruh lapangan. Cahaya-cahaya itu membentuk ilustrasi mahkota kuno. Selain itu terdapat dua lantai basement dan semuanya telah dipenuhi penghuni EXO Planet yang begitu antusias menantikan pertandingan calon penguasa baru.

Cho melihat para prajurit berkostum perang mengusung tombak dan berbaris rapat mengikuti pola stadiun. Pasukan penunggang kuda ikut berbaris di sekeliling lapangan. Wajah mereka tertutup topeng besi. Lengkap dengan baju berkarat yang nampak berat di kedua bahu mereka.

Gadis itu memicingkan mata. Mengamati puluhan ribu orang yang berbaur dan saling membuat gaduh di sekeliling stadiun berbentuk segi enam tersebut. Tak sulit baginya menemukan para castè Krypth dan Myrath. Setidaknya mata huglooms-nya masih berfungsi dengan baik.

Sambil memperbaiki letak tudungnya, Cho menemukan sosok Sehun di sayap kiri stadiun. Tak jauh dari pria itu duduklah Baekhyun, Chanyeol dan Dio. Mereka berada di basement bawah, mengenakan pakaian yang sama berwarna biru langit. Di seberang mereka berderet Lay, Xiumin, Tao serta Chen. Pakaian mereka lebih mencolok dari yang lain. Merah terang dipenuhi hiasan duri tajam di pergelangan tangan.

Cho mengamati kembali keadaan stadiun. Sepertinya para castè duduk berdasarkan wilayah mereka sendiri. Tempat itu terbelah menjadi dua kubu. Pendukung Krypth dan pendukung Myrath. Dan ia duduk di antara garis pembatas kedua kubu bersama para penghuni planet yang lebih tepat disebut berandalan. Sangar, saat mendengar teriakan mereka yang setara dengan auman singa.

Jemari Cho mengusap jarum keperakan yang tersemat di antara pakaiannya. Beruntunglah afftheurcaly ia ubah menjadi jarum kecil. Keadaan di sekelilingnya tidak begitu kondusif. Jika bukan karena ia berada di tempat yang berseberangan dengan podium utama, ia akan memilih untuk mencari spot lain. Meninggalkan bau lumut dari tubuh pria yang duduk di depannya.

Podium di seberang Cho terpisah dengan tempat duduk yang lain. Empat tiang besar menyangganya di tiap sudut. Tempat itu terlihat lebih ekslusif dan megah. Tentu saja karena singgasana Leeteuk serta dua kursi lain yang khusus disediakan untuk Kris dan Suho.

Sore menjelang malam. Cho hampir tak bisa mengenali kerumunan di seberangnya selain Leeteuk yang diapit oleh sepasang pemimpin castè. Meski riuh orang-orang seisi stadiun memekakkan telinga, suara Leeteuk tetap terdengar jelas mengumandangkan beberapa hal—termasuk aturan main pertandingan.

Selesai memberi instruksi, empat ekor naga sebesar pesawat terbang muncul dan melayang-layang di tengah lapangan. Kepakan sayap mereka membentuk sebuah tarian. Tontonan yang sulit ia temui di planet asalnya. Dari keempat hewan yang hanya dapat ia jumpai di negeri dongeng tersebut, ia mengenal satu diantaranya. Si buas berbulu tajam. Uro, peliharaan Chanyeol.

Riuh penonton kembali mengiang saat suara yang tak dikenalinya mempersilahkan warrior yang akan bertanding untuk memasuki arena. Cho sempat merutuki orang-orang di sekelilingnya karena mereka menaiki tempat duduk. Menyebabkannya harus berdiri atau ia akan melewati duel kali ini.

Seisi udara dipenuhi teriakan para penonton. Mereka mengelu-elukan nama Kai dan juga Luhan. Cho menyaksikan dalam diam. Tak peduli jika hanya dirinya sosok yang terlihat tidak begitu antusias dibanding yang lain.

Sementara di bawah sana, Kai serta Luhan memasuki arena pertandingan dengan gagah. Luhan sempat melambai beberapa kali ke arah penonton. Sedangkan Kai lebih menyukai untuk membenahi pakaiannya.

Keduanya saling berhadapan saat bertemu di titik tengah. Kai memakai pakaian berwarna putih tulang. Terdapat enam bilah besi tipis yang melengkung di area bahunya. Luhan lebih terlihat sederhana. Ia memakai boots putih yang melekat dengan celana sekaligus menampakkan lekuk kakinya. Tak lupa, kaus berhiaskan besi bergerigi yang melindungi bahu membungkus tubuhnya dengan baik.

Keduanya saling menatap cukup lama. Membiarkan orang-orang meneriaki nama mereka dan berbaur dengan suara gendang yang bertalu-talu. Leeteuk mengamati dalam diam. Demikian pula dengan Kris maupun Suho.

“Berhati-hatilah, Kai. Aku tidak akan melukaimu.” Luhan berucap santai.

“Apa kau pikir aku akan menyerangmu lebih dulu? Selesaikan pertandingan ini dengan cepat karena aku sudah tak sabar ingin mengakhiri segalanya,” balas Kai. Agak bermalas-malasan.

Luhan tersenyum kemudian menoleh ke sisi kirinya. Meski tak begitu kentara, ia dapat menangkap sosok Cho di basement atas. Ia tersenyum ke arah gadis itu—karena ia tahu Sang Huglooms dapat melihatnya dengan baik pada jarak sejauh apapun.

“Maksudmu Cho Ikha?” Luhan menegaskan. Pipinya terbentuk bulat saat melihat tirus Kai yang semakin tegas. “Kau yakin ingin mengembalikan gadis itu ke bumi?” ia kembali bertanya.

Seringaian Kai tampak di wajahnya. “Kau ini seperti hantu, Luhan. Selalu saja tahu apa yang kurasakan,” ucapnya.

“Karena itu kau harus berhati-hati,” Luhan memperingatkan.

Kai tertawa. “Kalau begitu kapan kita akan memulainya?” tanyanya. Membuat penonton di balik tubuh Kai semakin riuh menyebut kata ‘hajar dia’ dengan tak sabaran.

Raut wajah Luhan nampak tenang. Masih sama seperti biasa. “Apa kau tidak merasakannya? Aku sudah memulainya sejak tadi.”

Kai hendak menggerakkan tubuhnya saat ia sadar aliran darah pada kedua kakinya tidak mengalir dengan normal. Ia tak sanggup menggerakkan otot-otot kakinya. Perintah otaknya tak digubris oleh organ tubuh. Seolah ada sesuatu yang mengendalikan mereka.

“Kau semakin pintar dengan kekuatanmu, fratheer. Sayang, aku lebih cerdas darimu.” Kemudian Kai mengeluarkan partikel no̱ménos ke sekeliling tubuhnya. Hanya sedetik dan pria itu dapat menggerakkan organnya kembali meski Luhan tetap mencoba mengendalikannya.

Pria itu lantas melesat bagai angin. Menembus udara hampa dan melayangkan sebuah pukulan kuat ke arah Luhan. Lawannya mengibaskan tangan untuk menggerakkan udara. Membuat Kai mendadak berubah haluan saat debunya tertiup angin.

“Lakukanlah dengan serius, Kai. Kau masih setengah hati saat menyerangku,” ucap Luhan seraya menggerakkan rerumputan yang tumbuh di atas tanah lapang. Rumput tersebut meruncing. Menusuk-nusuk pakaian serta wajah Kai.

Castè Krypth itu lantas menghilang. Muncul kembali beberapa meter dari tempatnya untuk menghindari serangan Luhan. Tak kehabisan akal, Luhan kembali menyerang dengan menggerakkan bebatuan. Puluhan benda padat itu melayang bagai roket ke arah Kai. Dan pria itu dapat menghancurkan batu-batu tersebut hanya dengan sekali sabetan no̱ménos. Partikel yang selalu menguap di kedua kepalan tangannya.

“Inikah kekuatan yang kau punya? Hanya ini?” ejek Kai sembari menyingsingkan serpihan bebatuan yang mengotori pakaiannya.

Luhan masih berdiri tegap. Sama sekali tidak merasa lelah meski telah mengendalikan beberapa elemen untuk menyerang Kai. “Haruskah kubuat dirimu marah agar kau mau memukulku?”

Pria Myrath itu menggerakkan jemarinya seperti sedang menyulam. Tanah yang diinjaknya menderu. Bergetar seperti gempa sebelum akhirnya membentuk enam bongkah patung berbentuk manusia yang mengelilinginya. Luhan mengayunkan tangan. Membuat patung itu bergerak dan berjalan menyerang Kai.

Seperti keripik kentang, pria itu memusnahkan boneka Luhan dalam sekali tebasan no̱ménos. Semua orang tahu jika Kai adalah pria yang selalu lihai dalam berkelahi. Baginya, yang dilakukan Luhan merupakan hal sepele.

“Sudah kubilang aku bisa mengalahkanmu dengan mudah,” ia berteleportasi dalam hitungan detik lalu muncul tepat di depan wajah Luhan.

Pria itu mundur beberapa langkah saat Kai memberinya sebuah pukulan keras telak di perutnya. Jika ia tidak menekan kedua tumit kakinya, mungkin tubuhnya akan terseret jauh hingga ke sisi lapangan.

Sambil memegangi bagian tubuhnya yang terasa ngilu, Luhan terkekeh. Kedua kakinya berdiri tegap. Saling meregang membentuk kuda-kuda. “Jika ayah melihat kita, kurasa dia akan memilihku ketimbang dirimu. Lihat bagaimana mengenaskannya hidupmu, Kai. Dikhianati, dikecewakan, disisihkan. Seperti itu pula yang terjadi antara kau dan juga Cho Ikha.”

Kata-kata Luhan membuat rahang Kai mengeras. Amarah itu bangkit. Kalimat sederhana yang diungkapkan Luhan nyatanya berhasil membuat emosinya berhamburan. Pria itu melolong kencang. Kedua kakinya lantas berubah menjadi partikel no̱ménos. Melesat lurus ke arah Luhan.

Tapi tidak. Kali ini Luhan dapat menangkisnya dengan mudah. Ketika pria itu memberinya pukulan bertubi-tubi dari berbagai sisi, ia berkelit dan bahkan menahan serangan Kai. Sesekali Luhan menangkap pergelangan tangan Kai dan memutarnya. Kecepatan mereka hampir sama. Baik kecepatan Kai dalam menyerang maupun kecepatan Luhan dalam menepis serangan.

Selama Kai memberinya hantaman-hantaman tersebut, jemari Luhan bergerak-gerak mengendalikan kerikil-kerikil. Kerikil tersebut menyatu menjadi batu besar lantas melayang di sela-sela pukulan Kai. Melapisi tangan Luhan dalam sekali hentakan. Tanpa ragu Luhan memukul Kai tepat di rusuknya begitu kesempatan itu muncul.

Kai terjengkang hingga tubuhnya melambung tinggi di udara. Pria itu mendarat dan sempat berguling beberapa kali. Terdengar bunyi derit saat jemarinya melesak menembus tanah. Membentuk lima garis lurus yang cukup dalam. Pukulan Luhan yang dilapisi batu keras itu terlalu kuat.

Debu hitam berkobar-kobar di sekeliling tubuh Kai. Mata birunya mengilat-ngilat. Sambil berteriak, pria itu bergerak ke arah Luhan lantas kembali menyerang. Sialnya Luhan berhasil menangkisnya. Pria itu menggerakkan angin di kedua sisi dan membuat tubuh Kai berputar lalu jatuh berdebam.

Luhan mendekat. Sedikit menunduk, menatap Kai yang agak kewalahan untuk berdiri. “Sudah kukatakan berapa kali untuk berhati-hati mengontrol emosimu, eum? Lihat sekarang! Kau terlalu fokus untuk menyerangku tanpa menggunakan otakmu. Kemampuanku memang terlalu sederhana. Namun karena aku menggunakan otak, aku bisa menjatuhkanmu dengan mudah,” koarnya.

Napas Kai memberat. Satu tangannya menangkup di dada. Ia berhasil duduk—meski posisinya terlihat seperti sedang menyembah Luhan. Ia mendengus kasar. Dan dengusnya berubah menjadi tawa mencemooh.

“Kau melupakan satu hal, Luhan.”

Kai mendongak. Menatap lawannya sesaat. Detik berikutnya pria itu diam tak bergerak. Namun anehnya Luhan tiba-tiba berkelejat hebat.

Pria itu ambruk ke tanah. Menggeliat-geliat seperti ada sesuatu yang begitu menyakitkan di dalam tubuhnya. Keadaan itu berlangsung selama beberapa menit dan membuat penonton berteriak keheranan. Termasuk para warriors dan juga Cho. Saat tubuh Luhan berhenti mengejang. Kai mengerjapkan mata beberapa kali kemudian menarik napas dalam.

Agak sempoyongan, Kai berdiri tegap, menatap miris ke arah Luhan. Keadaan berubah terbalik hanya dalam sekejap. Ia berjalan gontai. Menghampiri Luhan yang nampak lemah dan terbatuk-batuk di atas permukaan rerumputan.

“Bukan hanya kau yang bisa membuat kemampuanmu bertambah kuat. Aku juga bisa,” gumam Kai. Duduk disamping Luhan dan membantu pria itu mengusap butiran pasir yang menetes di sela bibir saudaranya.

Tubuh Luhan menguap. wajahnya memucat dan ia sama sekali tak berdaya. Tak ingin menyakiti saudaranya, Kai menyentuh dada Luhan dan membuat pria itu berangsur-angsur normal.

Luhan tersenyum tipis. Ia tahu jika selain berteleportasi, Kai mempelajari trik memisahkan roh dengan tubuhnya. Selain itu, Kai juga dapat masuk ke dalam tubuh seseorang, mengambil jiwa orang tersebut atau merusak jiwa siapa pun yang ia inginkan.

Kai pernah memberitahu Luhan perihal kemampuannya yang tak pernah diketahui oleh siapa pun. Dan kali ini ia baru sadar betapa hebatnya kemampuan tersebut. Kai bisa menjatuhkannya dengan mudah. Hanya dalam hitungan detik.

Tiba-tiba suara riuh menghias lapangan. Sejenak Kai dan Luhan mengira bahwa orang-orang meneriaki mereka karena Kai memenangkan pertandingan. Tapi tidak. Teriakan itu berbeda. Seperti teriakan histeris.

Kai membantu Luhan berdiri setelah menstabilkan kembali jiwanya yang sempat ia koyak. Dan ketika keduanya mengarahkan pandangan ke podium utama, mereka baru sadar mengapa para penghuni planet berteriak histeris.

Sebuah belati tajam menusuk dada Leeteuk. Sang penguasa itu hanya tersenyum tanpa membuat pergerakan ataupun reaksi perlindungan. Membiarkan butiran pasir di dadanya jatuh berdesir.

Tidak.

Bukan itu yang membuat pikiran Luhan dan Kai—maupun para castè lain—serasa terkantuk batu. Namun saat Suho yang menusuk belati itu pada Leeteuk lah yang membuat mereka serasa terbakar api naga.

Refleks, Chen dan D.O terbang dari tempat duduk mereka ke arah Leeteuk. Kris tidak tinggal diam. Ia melempar bola api ke arah keduanya sebelum Chen dan D.O mengeluarkan kemampuan mereka. Beruntung D.O dan juga Chen berkelit dan jatuh di rerumputan lapangan. Meski bola api itu justru mengenai dinding podium dan membuat publik berhamburan saling menyelamatkan diri.

“Pertandingan ini cukup menarik. Sayangnya aku sudah tidak sabar ingin memulainya,” Suho bicara setelah melepas belati dari tubuh Leeteuk. Sang Penguasa ambruk dan tubuhnya perlahan berubah menjadi setumpuk pasir. Menyumblim menjadi udara dan memudar bersama angin.

Semua orang panik. Prajurit yang menjaga seluruh lapangan bergerak cepat mengevakuasi makhluk lain. Para castè terbang menggunakan kekuatan masing-masing. Berdiri di sekeliling Kai dan juga Luhan. Begitu pula D.O dan Chen. Mereka saling memandang. Kaget sekaligus bingung.

“APA KAU GILA, KRIS?” pekik Tao. Ia hendak menyerang namun Luhan menahannya.

Ke sepuluh castè mendongak menatap Kris dan juga Suho yang masih berdiri di atas podium. Keduanya mengamati puluhan ribu makhluk EXO Planet yang berwara-wiri. Seperti kandang semut yang tengah diobrak-abrik.

“Castè tolol,” desis Kris. Dingin.

Ia bersama Suho mengangkat tangan ke udara. Mengeluarkan elemen air dan api dari tangan mereka. Kedua elemen itu menyatu dan bergerak menembus atmosfer. Sementara sisa castè hanya terdiam. Bingung. Antara menyerang atau memperhatikan keduanya. Bagaimana pun juga Kris dan Suho adalah leader mereka. Pemimpin mereka.

“Dimana Cho Ikha?” Di tengah kepanikan tersebut Baekhyun berusaha mencari-cari sosok Cho. Para prajurit sibuk mengevakuasi orang-orang dan ia tidak dapat mendeteksi keberadaan gadis tersebut.

Saat elemen Kris dan juga Suho menembus langit, Kai baru sadar akan pertanyaan Baekhyun. Cho tidak ada di sekeliling mereka dan berada di luar jangkauannya. Saat ia berusaha mencari pun tetap saja percuma. Terlalu banyak orang yang berlalu-lalang—dan juga panik.

Perhatian Kai segera berakhir saat cahaya terang menyinari seisi planet. Sinar itu berasal dari perisai scutus. Perisai pelindung planet yang berada di lapis terluar atmosfer. Seiring nyala terang itu, bayangan-bayangan gelap melintas cepat di udara. Turun berdebam di sisi lain lapangan dan berubah perlahan menjadi sosok manusia.

Bayangan itu satu per satu turun ke lapisan planet. Tiga yang paling mencolok di antara puluhan bayangan lain memakai jubah hitam bertudung. Sisanya seperti prajurit atau pengawal yang masing-masing membawa tombak dan pedang.

Para castè memutar tubuh. Menyaksikan pemandangan aneh yang sulit dicerna. Pikiran mereka kembali terganggu saat tubuh Kris dan Suho ambruk di podium. Keduanya tak sadarkan diri. Tubuh mereka menghitam dan tatapannya kosong. Seiring itu, asap tebal kehijauan muncul dari dalam tubuh kedua leader. Menguap, terbang di udara kemudian berhenti di depan pasukan yang muncul dari perisai scutus.

Asap itu berubah pula mejadi sosok manusia. Sosok yang ternyata selama ini bersembunyi di dalam tubuh Kris dan Suho. Keduanya berdiri di tengah pasukan. Menatap sinis ke arah mereka.

“Salam kenal, EXO Planet. Lama tak menjamah planetmu lagi,” sapa si pria yang muncul dari dalam tubuh Suho.

Mereka berlima kemudian tersenyum licik. Berdiri sejajar seolah mereka pemimpin dari pasukan di belakang mereka.

Para castè berdiri tegak, bersiap dengan ancaman penyerangan. Mereka tak tahu siapa segerombolan pasukan yang telah berani menembus perisai scutus dan muncul mengoyak-ngoyak pertandingan.

Dari simbol pada perhiasan yang membelit leher mereka, sayup-sayup para castè mengenalnya. Kalung yang dikenakan dua pria—yang muncul dari tubuh pemimpin mereka—menyala kebiruan. Luhan menebak jika jiwa Kris dan Suho terjebak di sana.

Kai diam.

Kini ia mengetahui alasan Leeteuk menyiapkan prajurit planet: untuk mengevakuasi orang-orang. Pria yang dulu selalu ia benci tersebut telah mengetahui hal ini. Hanya saja Leeteuk terlalu berhati-hati dalam bertindak agar masa depan itu tidak berubah. Termasuk untuk tidak menceritakan apa yang telah ia lihat.

Kai menatap para castè satu per satu. Suasana yang semula begitu gelap kini berubah terang begitu pasukan itu muncul. Seperti ada matahari kedua yang mengelilingi planet mereka.

“SHINee World,” gumam Kai.

Ia menatap lekat pada simbol yang dikenakan kelima pria. Simbol yang pernah Leeteuk beritahukan tepat sebelum Sang Penguasa meninggalkan planet ini selamanya.

…bersambung…

——————————————–

32Longear : Hewan berkaki empat. Tingginya tak lebih dari 15 cm. Berbulu putih lebat dan halus. Kedua telinganya seperti antena di puncak kepala. Karena itu orang-orang menyebutnya longear.

33Navepole : Planet kecil yang berada dekat bulan EXO Planet. Planet itu berdiri sendiri. Biasanya digunakan sebagai tempat berlibur Sang Penguasa. Hanya Parleemos King dan juga castè saja yang mengetahui koordinat Navepole.

34Grinphil : Bubuk yang biasa dipakai paranormal di EXO Planet untuk mengusir hewan buas. Warnanya hijau terang.

35Zouis : Sebutan Nona Bangsawan di EXO Planet.

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

75 thoughts on “EXO PLANET “CHAPTER 09” (REPACKAGED)”

  1. eonnie…koment lagi..keke
    udh di baca ulang…n baru ngehh..
    hahahaha

    oh iy..itu parlemos king kok ikha nyebutnya jadi “oppa”?
    hihihih

    pasukan yg tiba2 menyerang itu “shinee world” bener g???

    emmm action nya kurang seru ahh…
    kurang panjang..hihihihih

    next part moga2 actionnyamakin banyak..
    suka ngebayangin mereka pada baku hantam..
    kwkwkwkw

    1. kkkk~ kamu belum baca part” sebelumnya ya dek? Ntar disitu ada keterangan kenapa Ikha manggil leeteuk pake kata oppa^^ Sip bener banget!! yang nyerang itu ternyata SHINee,, kkk~ tak ava ko dek.. yang lebih panjang actionnya nanti di part 10. 😀
      Sip siiip makasih yaa dek udah dibaca ulang. uuuu~ *kasih kecup basah

  2. Ya ampunnn!!!
    Part ini daebak bangeet!!!
    Aku suka eonn!
    Adegan pertarungannya seru!
    Jadi ternyata selama ini Suho sama Kris dikendaliin sama dua member SHINee?
    Siapaa?
    Tapi aku rada ga bisa bayangin kalo Taemin my bias jadi orang jahat :’)
    Tak apalah~
    Yang penting part ini beneer-bener keren!
    Ditunggu part selanjutnya!
    Dan, maaf baru komen + baca ya, eon 😀

    1. hehe makasih RJ~ ^^
      nih karna lagi banyak pikiran jadi proses bikinnya agak lama. Hohoho~ tunggu aja yak, part selanjutnya bentar lagi juga publish ko. Tinggal menghitung hari… Jadiiii, sabar yaaa hehehe
      makasih yaaa udah komen 😀

  3. Nggk kak aq bkan sma tp msi kelas 3smp*kcil bnget y*
    oh slamat y kak bsa nnton, jgn lupa kbar kbarin konserny kyk gmana seru apa nggak. Tp kak aq liat difto ss5 eunhyukny jelek, yg lainny jg, gra2 rmbutny tuh..
    Oya fto kakak yg pke kbya merah it ckep tau, udh kyk org mau kawinan aja, nanti tinggal abang eunhyuk/ kai pke blangkon.*hehehe

  4. Wow~ ini…terlalu keren ><
    dari cara penyampaiannya semuanya wow bgt 😀
    ini tuh aku berasanya lagi kayak baca novel fantasy best seller tau wkwk..
    Daebak!!

  5. kyaaaa unnn
    ciumannya bikin ngiler -,- #seretsehun #cipoksehun #ehh
    aaaaaa
    apaan ikhanya dicium suho -.-
    kaiii kau itu nyebelinn bangett
    kyaa appaku meninggal T,T #ditabok
    c ikha kemana tuh maen ngilang aja ._.
    yeeee ada baby taemm >.<
    yahh kris ama suho jangan matii dong unn 😦 kasiaann
    ini mah ditungguuuu bangettttt kelanjutannyaa yaa
    bikin Cho Ikha sama Kim Jong In nya happy ending hehe #author:sapaelo

  6. aku baca part ini 2 hari ka n jedahnya panjang bgt, kebanyakan kegiatan gk enak baca setengah” huhuhu
    jd aku cuma bisa coment singat aja ya tante
    ternyata suho n kris dikendalikan
    aku pikir meraka jahat beneran….
    disini tetem jahat ka??/ gpp gue suka cowok bad boy kok hahahha 😛

    1. kkk~ gue maklumin ko ka, pan anak skripshit-an :p
      lw komen cuma ngomong “uwo” doang juga gue aminin ka, yang penting ngeramein suasana hahahaha~
      yohi, doi jahat gitu cz pernah dimampusin sama donghae. Jadi mereka bales dendam ma kai and the genk
      (´▽`) – c (” `з´ )

      1. haha.. gue bakal senang hati nyampah disini ka…
        tp kai sok tenang bgt ya pdhal dalam hati jantungnya menari” hahaha~
        tp itu yg gue suka tenang & misterius, Kai klo lg pacaran sama gue juga gitu 😀 #kibarbenderaperang

    2. buauaua untungnya Kai gk bau jamban ya ka
      klo egk udh aku dorong ke ciliwung kkkk~
      ya gitu lah brodong gue ka, udh mulai dewasa, jd udh bisa nikahi gue selasai gue wisuda HAHAHAHA

  7. yah? Kak aku kira duo leader casté itu beneran jahat, jadi apa yg ada dalam tubuh mereka itu bukan jiwa mereka sesungguhnya??
    trus, Ratu sama Sulli ga ikut nonton juga krn udah “diliat” sama Leeteuk sebelumnya tentang kejadian ini??

    1. Iya dooong, masa aku tega bikin karakter mereka jahat? Kan akunya gak rela, hahaha~
      Yep yep, silahkan menerka nerka ya dek. Aku suka kalau liat siapapun yang baca kebingungan, wkwkwkw *ketawa jahat*

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s