EXO PLANET “CHAPTER 08” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASER

TIRAI AKAR TUMBUHAN YANG MENJULUR-JULUR seperti lintah raksasa di hadapan Kai secara otomatis membelah diri, memberinya sebuah celah seiring langkah pria tersebut melebar menembus bayangan patung Prajurit Zang26 yang terbias cahaya rembulan dari jendela.

Ia menemukan Cho Ikha di dalam ruangannya. Gadis itu masih sama seperti sebelumnya, lebih menghabiskan waktunya di sana ketimbang di dalam kamar yang sengaja disediakan khusus oleh Suho. Cho menatap sosok lain dari dirinya melalui pantulan cermin. Bola matanya bergerak, mengarah tajam pada Kai selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali memfokuskan diri pada tatanan rambutnya.

“Kau tidak segera bergegas? Sepertinya Suho agak bosan menunggumu di gerbang istana.” Kai berjalan malas ke arah manekin bambu di pojok ruangan tanpa mengurangi sikap acuh yang selalu ia tunjukan pada Cho.

Gadis itu memilih diam. Ia sudah mengira jika Kai selalu menyulut emosinya acap kali keduanya bertemu. “Aku sudah memutuskan untuk datang sendiri jadi berhentilah bertingkah seperti ibuku,” ia merutuk pelan.

Tak ada jawaban dari Kai. Pria itu sama sekali tidak bicara dan hal itu justru membuat Cho harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan kata-kata makian.

“Aku sedikit kecewa karena kau tidak jujur padaku,” ucap Cho sembari menerbangkan secarik perkamen. Benda itu jatuh ke lantai sebelum mencapai tangan Kai. Menimbulkan bunyi nyaring saat kertas tersebut berubah menjadi sebilah besi tipis berwarna perak.

Kai mengetahui dengan baik perkamen besi tersebut. Tentu saja. Terdapat pahatan namanya dan nama Sulli di atas permukaan benda itu. Tak heran jika Cho dapat membacanya meski makhluk lain hanya akan mengira tulisan tersebut seperti hasil goretan cakar ayam.

“Jujur itu tetap tidak akan mengubah keputusan Leeteuk. Tak ada gunanya.”

“Dan kau sama sekali tidak menolak.” Dengan cepat gadis itu menyela. Tegas. Tandas. Tak ada sedikit pun keramahan di dalam nadanya.

Meski begitu Kai tetap membisu. Pakaian resmi yang dikirim kerajaan dua hari lalu telah membalut rapih tubuh atletisnya. Cho menggerutu pelan. Pria ini benar-benar membuatnya naik pitam.

“Aku minta maaf jika kata-kataku membuat mood-mu memburuk. Tapi bisakah kau bersikap sedikit sopan padaku?”

Seperti kerikil, kata-kata Cho berhasil membuat Kai melirik tajam mencari si pelaku yang telah melempar benda padat itu ke arahnya. Tak ada senyum di wajah Kai. Malah rautnya semakin mengusut.

“Kau benar-benar membuat mood-ku semakin buruk.” Kemudian pria itu melenggang pergi setelah memberi polesan gel hitam di rambutnya.

“Kuharap pesta pertunanganmu berjalan lancar. Sayang, Sulli tidak pandai memilih pria yang tepat untuk dijadikan pendamping hidupnya kelak.” Cho berceloteh sebelum Kai benar-benar menghilang dari ruangan tersebut.

Tubuh Kai mendadak terhenti. Tanpa berpaling, pria itu berucap lantang. “Terima kasih atas pujianmu, Cho Ikha. Asal kau tahu, Sulli bukanlah gadis cerewet yang bisanya mengomentari apapun yang kulakukan.”

Dengus kasar meluncur dari mulut Cho. Sisir pentagon yang dipegangnya menghentak permukaan meja. “Baguslah.” Ia menjawab dengan ketus. “Kalian memang pasangan yang serasi.”

Tak ingin perbincangan mereka berubah menjadi debat kusir, Kai memilih untuk berteleportasi meninggalkan gadis itu dengan segala amarah yang ditahannya. Cho mengerang, melepas binyeo di antara rambutnya kemudian melemparkan benda tersebut ke arah partikel no̱ménos Kai yang masih tersisa.

Benda itu berubah keperakan menjadi pedang afftheurcaly yang menyala-nyala saat ujungnya menembus dinding ruangan. Dada gadis itu bergerak naik-turun. Ia tak peduli dengan suara gemuruh dari konstruksi markas yang bergetar akibat tancapan afftheurcaly. Yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya untuk menghilangkan suara gemuruh yang mengguncang tubuhnya.

Tentu saja. Semua itu karena Kai.

-o-

CHO MENGHITUNG LANGKAH KAKINYA SAAT MENITI jalan menuju istana EXO PLANET. Gadis itu berbisik mengucap angka seratus tujuh puluh tiga saat ujung ibu jari kakinya setara dengan gerbang istana. Sebelumnya ia sempat mengamati cahaya gemerlapan di atas bangunan paling mencolok di antara bangunan lain sepanjang jangkauan matanya beberapa menit lalu. Dan ia yakin telah melewatkan prosesi itu—pembukaan pertandingan dan juga pertunangan Kai.

Makhluk khas planet ini berlalu-lalang melintasi matanya. Tatanan rambut mereka begitu unik. Sangat berbeda dengan makhluk bumi. Bahkan apa yang mereka kenakan jauh di atas kata normal. Cho membulatkan mata saat seorang gadis dengan tattoo lambang kerajaan di bahunya mengenakan pakaian yang sangat mirip dengan kandang ayam. Belum lagi pria tinggi di hadapannya seperti mengidap penyakit jiwa yang bermondar-mandir ria memamerkan cuping telinga selebar daun gajah.

Selama mengarah ke aula utama, gadis itu berbisik pada diri sendiri untuk tidak melangkah lebih jauh. Ia pasti akan kecewa. Terutama saat melihat Kai bersanding dengan Sulli.

Cho lantas mendongak. Ia merasakan napasnya beradu dengan udara malam. Rasa kecewa yang semula diramalkannya kemudian membumbung di atas kepala. Menguap cepat bersama kepedihannya.

Kerumunan orang di dalam aula yang luasnya hampir sama dengan stadiun bola tetap tak menyulitkannya menemukan sosok Kai. Adegan Baekhyun yang tengah menggoda seorang gadis bermata tiga di tengah aula atau pun permainan abasse27 dan zephiar28 yang dilakukan oleh duo D.O & Luhan di atas panggung mini hanya mengalihkan perhatiannya sekejap saja.

Otot-otot wajah Cho membeku. Hanya kedua matanya saja yang bergerak liar. Kelopak mata gadis itu menyipit tatkala menyaksikan pria yang telah menyita seluruh mimpi indahnya tersebut tengah merangkul seseorang.

Ya. Itu dia. Sulli. Gadis yang telah secara resmi menjadi pendamping Kai. Tanpa disadari sudut bibir Cho tertarik semakin dalam. Kini ia tak perlu lagi menerka-nerka. Secara kasat mata gadis itu memang menawan. Sangat menawan hingga nampak sempurna bergandengan tangan dengan Kai.

Kaki Cho bergerak mundur secara perlahan. Ia memalingkan wajah. Menatap pantulan dirinya melalui kaca yang melapisi pintu aula yang sengaja terbuka lebar. Ia tahu betul seperti apa penampilannya saat tinggal di planet ketiga. Sederhana dan tak pernah menomorsatukan kecantikan. Disini mungkin ia nampak berbeda dengan rambut panjang serta kulit pucatnya yang terang. Namun jika harus dibandingkan dengan Sulli, gadis itu jelas kalah telak.

Indera penglihatan Cho beradu dengan tatapan Luhan saat gadis itu kembali memperhatikan hiruk-pikuk di dalam aula. Pria itu masih memainkan zephiar-nya meski kedua mata bulat Luhan tak berkedip menatapnya.

Sebelum Luhan menemukan kegalauannya, gadis itu memilih untuk menjauh. Ia yakin, Luhan dapat merasakan kepedihan dari sorot matanya. Maka ia berjalan gontai ke bagian lain istana. Menemukan pagar rendah yang membatasi lantai istana dengan taman bunga kemudian menyandarkan tubuhnya disana.

Sambil mendengar sayup-sayup alunan abasse D.O, gadis itu menengadahkan kepala. Langit hitam yang menguasai penglihatannya serasa makin menghitam. Sama hitam dengan hatinya. Terpejam, ia mencoba untuk mengusir kekecewaannya. Setidaknya Sulli gadis yang cantik. Mungkin pula ia memang tidak cerewet—seperti apa yang diutarakan Kai sebelumnya.

Mungkin memang benar. Huglooms hanya berjodoh dengan reinkarnasi prajurit maritimo. Setidaknya ia masih mengingat dengan baik kata-kata Hyukjae saat menemukan afftheurcaly di pantai terlarang. Dan sayangnya Kai bukanlah prajurit maritimo.

Sayang sekali.

“Tadinya aku ingin memakimu karena Suho benar-benar telah berpaling dariku. Namun melihat tatapanmu yang sendu itu, sepertinya kita berada di pihak yang sama.”

Mendadak Cho membuka mata. Ia mendengar seseorang tengah berbicara tak jauh dari tempatnya dan dugaannya sungguh tepat. Kepalanya bergerak miring, memperhatikan sesosok gadis dengan pakaian mewahnya yang mengilat-ngilat. Ia mengenal gadis dengan mata besarnya itu sebagai tunangan Suho. Satu-satunya gadis yang pernah ia temui di planet ini.

“Apa maksudmu? Sangri-ssi?” ia menekankan kembali pernyataan Sangri.

Gadis itu menghampirinya. Duduk dengan anggun seraya mengibaskan ujung gaunnya yang menyentuh lantai. Dagu Sangri bergerak, menunjuk ke satu arah. Cho mengikuti arah tersebut dan ia baru sadar jika di balik punggungnya terdapat sebuah jendela lebar yang menembus aula istana.

Ia memutar tubuh. Menyejajarkan diri dengan Sangri. Dari jendela itu lagi-lagi ia menemukan Kai. Pria yang tak ingin ia temui saat ini—setelah ia memutuskannya beberapa menit lalu.

“Pria yang berdiri disamping Sulli itu bukan? Dan, ah! Panggil aku Akira. Sangri adalah nama yang Suho berikan untukku—sekarang aku tidak memerlukan nama itu lagi.” Gadis itu melipat tangan di dada.

Cho melirik semampunya pada Sangri. Bulu mata lentiknya bergerak elegan saat berkedip. Ah. Ia baru menyadari satu hal. Ini ketiga kalinya ia bertemu gadis yang kini menamai dirinya sebagai Akira dan gadis ini juga cukup menawan.

“Hubunganmu tidak berjalan baik?” Cho mencoba berbaur dengan Akira.

Gadis itu menggedikkan bahu. “Sejak perebutan tahta itu, semuanya tidak berjalan baik.”

Keduanya lantas membisu. Menikmati alunan abasse yang kini dimainkan oleh Tao.

“Apakah tatapanku terlihat berbeda—pada Kai?” Terlalu pahit saat melihat pria yang dimaksudnya tengah berdansa manis dengan Sulli di dalam sana, gadis itu memilih untuk mengajukan pertanyaan konyol pada Akira.

Benar saja. Gadis itu terkekeh. Kekehannya bahkan terdengar seperti sedang mencemooh. “Tentu saja. Aku dapat membacanya saat pertama kali bertemu denganmu,” jawabnya.

Cho merapatkan bibir membentuk garis lurus yang begitu tegas. “Sayangnya tidak bagi Kai.” Suaranya terdengar berbisik.

“Pria itu memang tidak pandai mengutarakan apapun. Ia juga tidak pandai memperjuangkan perasaannya sendiri. Karena itu, semua yang menjadi miliknya selalu mudah dirampas orang lain.”

Cho menatap Akira yang tatapannya masih tertuju pada satu titik. “Sepertinya kau sangat memahaminya.”

Akira memutar kepala membalas tatapan Cho yang nampak tegang namun penuh dengan rasa keingintahuan. “Dulu, aku sempat dekat dengannya.” Ia meluruskan kedua kakinya yang terbalut sepatu berhak tinggi.

“Dekat?” ulang Cho. Berharap indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Hampir menjadi kekasih Kai. Hampir,” akunya kemudian kembali menatap kerumunan makhluk di dalam aula. “Sebelum Suho berhasil menarikku dari pesona Kai.”

Menganga. Kedua bibir Cho seperti magnet yang saling bertolak-belakang. Kedua alisnya terangkat. Persis seperti kano yang terbalik di atas sungai. Melihat ekspresi Cho, Akira justru semakin terkekeh. Ia menepuk pundak Cho. Sekedar memberitahu bahwa gadis itu tak perlu terkejut mendengar pengakuannya.

“Kai memang selalu ketus pada siapa pun. Termasuk padamu—mungkin. Namun jangan menganggap sikap tersebut sebagai penolakannya terhadap keeksisanmu disini.” Akira menatap dalam pada manik mata Cho. “Saat aku berterus-terang padanya bahwa aku memilih berada disamping Suho, Kai berkata bahwa ia akan memilih untuk menghindari apa pun yang ia sukai sebelum dirampas lagi oleh orang lain.” imbuhnya.

Cho meringis. “Seburuk itukah?”

“Aku adalah contoh kecilnya. Jika kau mengenal Kai dengan baik, kau akan mengetahui pengkhianatan apa saja yang telah diterimanya selama ini.” Suara Akira yang halus tersebut menggaung di sekitar tempat tersebut.

Bola mata Cho memutar, berubah kosong saat mengingat pria yang menjadi topik bahasan keduanya. “Karena itu ia selalu menyendiri?” ia bergumam, bertanya pada diri sendiri.

“Kurang lebih seperti itu,” timpal Akira.

Seperti tertusuk paku beton, Cho merasakan nyeri yang berkedut-kedut di sebelah kepalanya. Kenapa ia harus mendengar fakta yang disebutkan Akira saat ini? Saat pesta pertunangan ini berlangsung?

“Aku tak tahu faktor apa yang membuat Kai melepasmu dan memilih bersama cucu dari Parleemos. Dia bukanlah tipe pria yang haus tahta—meski kudengar bahwa Kai akan menjadi pengganti Parleemos jika menerima tawaran untuk bertunangan dengan Sulli dan pertandingan itu hanyalah hiburan semata bagi Sang Penguasa.” Akira kembali mengoceh, mengobrak-abrik perasaan Cho yang semula telah paten untuk tidak membawa Kai lagi ke dalam kehidupannya.

“Jangan membuatku berharap lebih, Akira. Ucapanmu itu…”

“Apa kau tidak menyadari bagaimana cara Kai menatapmu?” Gadis itu menyela. Membuat Cho semakin ragu. “Yang jelas, aku sangat berterimakasih pada Tao. Jika bukan karena dia, mungkin saat ini aku sedang mengencani cucu mereka—dan bukannya Suho atau pun Kai.”

Kedua alis Cho yang semula terangkat berubah haluan menjadi riak gelombang. Kali ini ia benar-benar tidak paham dengan kata-kata Akira.

Gemas, gadis bangsawan itu memutar mata seraya menghela napas. “Sebenarnya kau ini berasal dari mana, Cho Ikha? Kau seperti makhluk asing disini,” tukasnya.

Gadis itu hanya melontarkan sebuah senyum tipis sebagai jawaban. Yang mengetahui identitasnya hanya para castè—dan juga Parleemos. Tak ada yang lain—tak boleh.

Akira kembali melanjutkan. “Saat Tao lahir, pertumbuhan para castè ikut terhenti. Seharusnya umur mereka mencapai angka tujuh puluhan karena ayah mereka satu generasi dengan Parleemos.”

Melihat Cho hanya menggeleng seadanya, Akira kembali mendesah dan ikut menggeleng. “Dimana kau tinggal? Kau sama sekali tak tahu tentang rahasia yang telah menjadi konsumsi publik itu?”

Lagi. Gadis itu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Akira. Ia lantas tersenyum dan disambut oleh tawa Cho. Well, setidaknya Cho sedikit lega karena Akira sama sekali tidak mencurigainya.

“Seharusnya aku mengambil viinum untuk Skoutz. Dia pasti menungguku.”

Setelah menepuk halus pundak Cho, gadis yang memakai lingkaran neon putih di kepalanya tersebut beranjak pergi dari sana. Cho sempat mengikuti arah Akira berlalu. Mengamati punggung lebar si gadis yang tak terbalut oleh gaun mewahnya.

“Kuharap gadis cantik di hadapanku ini berkenan untuk menemaniku berdansa di dalam sana,” sahut sumber lain yang terdengar jelas dari sisi kanan Cho.

Gadis itu tersenyum kecut manakala mendapati sosok lain yang menggantikan kehadiran Akira beberapa detik lalu. Suara derap dari langkah sosok itu semakin jelas. Menghampirinya dengan langkah pasti.

“Maaf, Luhan. Tapi aku tidak bisa berdansa,” tolak Cho serta-merta.

Pria dengan balutan pakaian perpaduan black & white itu berdiri tegap. Membungkus ke sepuluh jemarinya di dalam poket celana. “Kau menyesal tidak melihat pembukaan pertandingan barusan. Kai sempat terjatuh saat Lay membunyikan gong.” Ia mencoba melucu.

Cara itu ternyata tidak cukup jitu. Gadis itu sama sekali tidak tersenyum. Menggerakan bibir pun terasa sulit.

“Sepertinya kau belum mengucapkan selamat pada dua makhluk itu.” Kepala Luhan bergerak. Menunjuk ke arah aula seperti apa yang dilakukan Akira menggunakan dagunya.

Cho berdecak. Rambut panjang bergelombang yang sengaja diurai sederhana itu berayun saat tangan si gadis mengibasnya. “Kau sama menyebalkannya dengan Kai,” rutuknya.

Kakinya yang semula terbujur lurus lantas menegak. Membawa serta tubuhnya menjauh dari tempat tersebut. Luhan mengikutinya diam-diam. Meski Cho tahu bahwa pria itu tengah menguntitnya.

“Jika memerhatikan sikapmu yang acuh ini, sepertinya kau masih belum paham juga, Cho Ikha.” Langkah pria berambut blonde tersebut memelan saat menuruni anak tangga. Suara gesekan alas sepatunya beradu dengan permukaan lantai. Terdengar bergemerutuk seperti mesin popcorn.

“Aku sedang tidak bernapsu untuk bermain tebak-tebakan,” ucap Cho tak peduli. Gadis itu tetap berjalan tanpa menoleh. Tak sadar jika keduanya hampir mengelilingi bagian tenggara istana.

Kini Luhan menyembunyikan kedua tangannya di balik tubuh. Ia masih mengekori Cho. Sekedar berjaga-jaga jika suatu waktu gadis itu melempar sepatu hak tinggi ke wajahnya. “Kalian berdua memang sama-sama bodoh,” timpalnya.

Bola mata Cho berputar. Tangannya yang sesekali menyentuh dedaunan yang melintasi matanya kemudian mencabut sehelai daun keunguan dari tangkainya dengan kasar. Membuang daun itu setelah mencabiknya menjadi beberapa bagian.

“Aku tidak bodoh.” Ia berkilah.

“Jelas saja kalian bodoh. Kau sama sekali tidak bisa membaca tindak-tanduk Kai dan pria itu juga tidak bisa mengutarakan perasaannya secara gamblang. Bukankah itu berarti kalian berdua itu sama-sama bodoh?” celoteh Luhan tanpa merasa berdosa.

Gadis itu kini memilih untuk menginjak dedaunan yang sengaja ia cabut menggunakan sepatunya. Terselip kekesalan dari tindakan Cho saat ini. “Sudah kubilang aku tidak ingin menjawab teka-tekimu, Luhan.”

“Menurutku, kalian berdua juga sama-sama berpikiran picik. Kau anggap bahwa kehadiranmu hanya sesaat di planet ini dan mencintai Kai merupakan hal yang sia-sia. Di satu sisi, pria bodoh itu juga berpikiran sama dan menganggap bahwa perasaannya padamu hanya akan membawanya pada jurang kekecewaan—karena kalian berada di dunia yang berbeda.” Luhan menghentikan gerakan bibirnya saat mendapati gadis itu memelankan langkah. “Anggapanku benar bukan?” ia kembali menimpali.

“Jangan menghiburku. Itu sama sekali tidak menarik,” kilah Cho. Gadis itu sempat melirik dingin pada Luhan yang kini telah sejajar dengannya.

“Saat kau tak sadarkan diri di dalam kamar Kai—“ Luhan memberi jeda sesaat. Memberi kesempatan pada Cho untuk mengingat kembali peristiwa tak terduga yang hampir memusnahkan rohnya. “—Parleemos tidak akan semudah itu datang menolongmu jika Kai tidak memberinya penawaran.”

Kali ini kedua kaki gadis itu terhenti sempurna. Ia menatap Luhan sepenuhnya. Mencari kebenaran serta penjelasan lebih yang belum mampu memuaskannya.

“Kau pasti tahu jika hubungan keduanya tidak baik?” tanya Luhan kemudian disambut oleh anggukan Cho yang tidak begitu kentara.

Pria itu memutar tubuh beberapa derajat, menghadap sebuah kolam di tengah taman yang dihiasi oleh air keperakan. “Saat itu Kai segera berteleportasi menuju istana, memohon pada Parleemos karena dia pasti mengetahui penyebab ketidaksadaranmu saat itu,” jelasnya.

“Apa yang Kai tawarkan padanya?”

Senyum Luhan yang selalu nampak manis itu akhirnya menampakan diri. Terlalu cepat. Gadis itu terlalu cepat melontarkan pertanyaan. Sepertinya rasa penasaran itu telah berhasil menyelubungi seluruh tubuh Cho.

“Tentu saja pertunangan ini. Parleemos King selalu menginginkan Kai menjadi bagian dari keluarganya. Bukan karena dia adalah castè Krypth. Melainkan karena ia memang pantas untuk menggantikan tahtanya,” oceh Luhan.

Tatapan penuh keinginantahuan yang semula ditujukan Cho pada Luhan berubah dalam hitungan detik. Pancaran emosi dilayangkan dengan jelas oleh gadis itu melalui pupil matanya. Rasanya begitu menyedihkan diapit oleh kebohongan dan kepalsuan. Ditambah lagi lagi ketidakjujuran Luhan. Seolah jalan menuju hidup yang damai tersebut tertutup oleh salju dan kabut tebal.

“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?” Cho mendesis. Suaranya bahkan hampir tak terdengar.

Luhan meraih lengan Cho. “Sebaiknya kita ke dalam. Kau harus menyapa Kai dan—“

“Tidak!” tolaknya tegas. Menepis kasar sambutan hangat yang Luhan berikan. “Aku merasa begitu bodoh saat ini,” ia menunduk. Memunggungi Luhan dan berharap pria itu tak memaksanya untuk saling beradu pandang.

“Tapi—“

“Aku ingin sendiri jadi tinggalkan aku,” Cho mengucapkan kalimat tersebut dengan cepat tanpa jeda.

Gadis itu kemudian menapaki lantai bebatuan yang menjadi bagian dari konstruksi bangunan istana. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Luhan untuk sekedar menjawabnya. Suatu kesalahan, karena ia harus mendengarkan hal-hal yang tak perlu didengarnya malam ini.

Ia semakin merasa dibodohi dan dikhianati. Tepat setelah pengakuan Akira dan Luhan yang berhasil mengoyak-ngoyak organ tubuhnya. Amarah itu bangkit. Membakar tulang hingga ke lapisan terluar kulitnya.

Cho berhenti sejenak setelah kedua kakinya membawa serta tubuhnya ke sisi kolam air perak di tengah taman. Tidak ada kata-kata yang terlontar dari sela bibirnya. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Gadis itu terdiam selama beberapa saat hingga akhirnya kedua lututnya jatuh berdebam membentur lapisan tanah.

Ia berlutut. Menghadap kumpulan air yang nampak seperti lelehan besi panas. Ingin rasanya ia mendongak atau pun mengamati sekitarnya. Namun kepala ini terasa berat. Ia merasakan pandangannya mulai mengabur. Benar. Genangan air matalah penyebabnya.

Kalut itu mencekam tubuhnya. Pikirannya melayang-layang mengingat kembali hal-hal yang disebutkan Akira dan juga Luhan. Gadis itu menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk dadanya hingga sebuah tetesan air mata mengalir pelan melalui pipi pucatnya.

Semua yang dilihatnya serasa gelap.

Ia merasa tersesat.

Tersesat dalam perasaannya sendiri.

-o-

KAU SAMA SEKALI TIDAK BERSEMANGAT” Sulli menurunkan kedua tangannya yang semula bertengger di kedua bahu Kai.

Gerakan tarian mereka otomatis terhenti. Sulli sama sekali tak peduli. Meski orang-orang memenuhi matanya, toh tak ada yang terlalu memperhatikan mereka.

“Haruskah aku tersenyum?” Kemudian Kai membentuk seulas senyum yang lebih mirip seperti cengiran kuda.

Sulli tertawa. Pria yang telah menjadi tunangannya itu memang tidak pandai berakting. “Senyummu tidak bagus. Sebaiknya kau diam,” ia menghentikan tindakan bodoh Kai sebelum yang lain mengetahuinya.

Keduanya kemudian menepi. Memilih untuk duduk di tempat khusus yang disediakan penyelenggara pesta.

“Aku tahu kau melakukannya dengan terpaksa. Tapi bisakah aku melihat senyum tulusmu sekali saja?” pinta Sulli—lebih tepatnya memohon.

“Tidak. Aku sudah memberitahumu sebelumnya bukan? Untuk masalah ini, aku tidak bisa berpura-pura.” Kata-kata itu keluar tanpa permisi dari mulut Kai. Spontan. Tanpa dibuat-buat.

Nyaris tersedak, Sulli segera menelan tegukan minumannya mendengar kejujuran tersebut. “Tak kusangka jika pertunangan ini merupakan suatu masalah bagimu,” ia bergumam. Sedikit kecewa mendengarnya.

Kai tidak peduli. Bukan hanya pikirannya saja yang tak peduli. Sekali pun seluruh organnya dapat berucap, ia yakin semua bagian tubuhnya itu memiliki pendapat yang sama. Ia telah memenuhi janjinya dan itu sudah lebih dari cukup. Tak ada lagi kepura-puraan. Pura-pura tersenyum. Pura-pura manis. Atau pura-pura bersikap baik.

Pria yang tengah melepas deretan kancing yang menyempitkan area lengan atletisnya tersebut mendadak berdiri saat Chen menghampirinya dengan wajah panik. Chen, castè Myrath, membisikkan sesuatu yang mampu membuat Kai nampak bingung.

Disampingnya, Sulli, hanya berdiam diri. Meski kerutan di alisnya menandakan bahwa ia sedikit penasaran.

“Chen akan menggantikanku berdansa. Luhan ingin menemuiku dan sepertinya sangat penting,” ucap Kai. Cepat dan agak terburu-buru.

Sebelum Sulli mengiyakan perkataan Kai, pria itu telah melesat menembus kerumunan bersama partikel no̱ménos-nya. Gadis dengan wajah bak malaikat itu masih menatap kepergian Kai dengan sejuta tanya.

Hingga ia tak sadar jika Chen tengah memainkan kedua alisnya—menggoda Sulli.

-o-

LORONG ISTANA YANG DILEWATI KAI MEMANJANG seperti rel kereta api. Tak berujung hingga lenyap ditelan pandangan. Cahaya di sepanjang tempat itu tidak begitu terang. Mungkin akan lebih baik jika dipakai Baekhyun untuk bermesraan dengan kekasihnya. Sayang keadaan itu tak diharapkan Kai saat ini.

Ia memilih untuk tidak berteleportasi. Maka kedua kakinya yang panjang berisi itu saling beriringan menjejaki lantai berdebu tersebut. Pandangannya beredar, mencari tempat yang Chen sebutkan. Kepanikan semakin nampak saat cahaya bulan memantul di wajahnya.

“Luhan! Aku—“

Kai tak melanjutkan kalimatnya saat ia tak menemukan Luhan di tempat tersebut. Siluet yang dilihatnya mirip seperti siluet gadis yang sangat dikenalnya dengan baik. Nyatanya benar. Dia Cho Ikha. Terlihat dari pakaiannya—yang dikenakan saat mereka bertemu di ruangan Kai sebelum keduanya beradu mulut.

Gadis itu melirik sebisanya. Hanya sejenak kemudian kembali mencelupkan ujung telunjuknya pada kolam air perak. Sepertinya ia telah tertipu. Dan ini karena ulah Luhan dan Chen yang ikut meng-sekongkoli saudaranya.

Oh, tidak. Jangan sekarang.

Pria itu terus berbisik untuk tidak terbawa suasana. Jelas sekali ia melihat gadis itu tengah terpuruk dengan kesendiriannya. Ia bisa saja mati merana. Ia disini bukan merujuk pada Cho. Melainkan pada dirinya.

Ia sudah terbiasa mengendalikan ekspresi wajahnya. Kemampuannya tersebut tak ada yang dapat menandingi. Namun semua itu serasa sulit. Melihat gadis yang sesungguhnya sangat ingin ia lindungi menyendiri seperti ini justru menyayat hatinya.

“Apa yang kau lakukan disini? Sendirian?” Akhirnya Kai berucap. Kata-katanya terdengar seperti sebuah pengusiran. Ia hanya tidak pandai untuk mengungkapkan kata itu dengan benar.

Tajam, pria itu mengamati gerak-gerik Cho. Gadis itu sepertinya tidak tertarik.

“Sepertinya aku hanya akan merusak mood-mu jika berada di aula istana. Jadi aku memilih bermain disini bersama para brascus29,” jawabnya sederhana.

Buah jakun Kai bergerak naik-turun. Tidak. Gadis itu berbohong. Brascus tidak berkeliaran di luar udara hampa saat malam hari.

“Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu,” balas Kai.

Selama beberapa detik pria itu tak melepas pandangannya dari Cho. Gadis itu sama sekali tidak menatapnya; dan ia baru sadar jika Cho menolak tatapannya untuk pertama kali. Maka dengan berat hati Kai memutar tubuh. Mulai beranjak.

“Pengecut.”

Gumaman suara itu terdengar jelas di telinga Kai. Angin malam yang berhembus menerpa kulitnya jelas tak akan mampu mengumandangkan nada tersebut. Hanya satu suara dan itu milik Cho.

“Apa kau bilang?” ia memutar tubuh kembali. Mendapati gadis itu masih bermain-main dengan air kolam.

“Pengecut.” Tandasnya datar. Jemarinya yang basah ia kibaskan hingga percikan air perak itu mendarat di atas rerumputan. Matanya mengarah tajam pada Kai. Rasanya seperti sedang menusuk-nusuk harga dirinya.

“Kau adalah pria paling pengecut yang pernah kutemui selama ini,” Cho menambahkan.

Kai balas menatap mata Cho dengan ketajaman yang dimilikinya. Saat keduanya saling bertemu, ia baru sadar jika mata cokelat yang dimiliki gadis itu begitu indah. Hal yang selalu ia lewatkan.

“Apa maksudmu?” tanya Kai, menghalus.

Dari kata-kata penekanan tersebut, Cho malah memilih untuk berdiri. Ia dan juga Kai. Jarak antara keduanya hanya terpaut beberapa meter saja. Mereka cukup dekat. Hanya saja Kai merasa keduanya seperti dibatasi oleh sebuah jurang terjal dipenuhi bebatuan tajam. Sangat sulit untuk dijangkau.

Gadis itu berjalan gontai melewati Kai. Dari sekelebat hal tersebut, ia mampu mendeteksi bahwa gadis ini telah menangis. Kedua matanya sembab. Merah. Wajahnya tidak seterang sebelumnya. Cahaya di dalam tubuh Cho seolah meredup.

Kai berhasil menahan lengan Cho sebelum ia menjauh. “Jelaskan padaku apa maksud dari perkataanmu itu,” bisiknya penuh tuntutan.

“Kau bisa mengetahuinya saat kau bercermin.” Hanya itu jawaban Cho. Lagi-lagi ia tak menatap Kai. Membuat pria itu semakin geram dengan sikapnya.

“Apa masalahmu, huh?” Kai agak membentak.

Cho menoleh. Mengalihkan mata cokelatnya pada Kai. “Masalahku? Masalahku ada di dalam dirimu, Kai!”

Ujung telunjuk Cho menekan-nekan tubuh Kai. Tepat di dadanya.

Kai sama sekali tidak menghentikan apa yang dilakukan Cho terhadapnya. Karena saat ia melihat mata gadis itu berkaca-kaca, ia merasakan kepedihan yang sama—yang dirasakan Cho terhadapnya.

“Aku bukanlah seorang wanita dewasa. Aku masih remaja. Umurku masih enam belas tahun dan yang kutahu mencintai seseorang adalah hal yang begitu indah. Kenapa saat mengenalmu semua berubah gelap?”

Gadis itu terisak. Masih menekan-nekan ujung telunjuknya di dada Kai. Sesekali bahkan ia memukulnya keras. Kai menangkap tangan Cho saat meluncur melepas pukulan di bahunya. Tangisnya semakin pecah. Dan ia tidak menyukainya.

Ia tidak ingin melihat gadis itu menangis. Terutama menangis karenanya.

“Kau tidak benar-benar mencintaiku bukan?”

Pertanyaan tak terduga yang dilayangkan Kai menyenggol hulu hatinya. Pria ini tidak peka. Begitulah yang ada di dalam pikiran Cho saat ini.

“Apakah mencintai seseorang itu perbuatan yang salah? Kalau begitu, hukum aku sekarang juga.” Cho memberontak dengan mencoba menepis cengkeraman Kai. “Inilah yang paling kubenci darimu, Kai. Kau selalu menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya!” tukasnya lantang.

Kai terdiam. Sebagian pandangan meninggalkan matanya. Ia tak dapat berpikir fokus. Apa yang harus ia lakukan? Mengatakan segalanya? Atau sebaliknya?

“Kau salah. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun.” Itulah jawaban Kai.

Pria itu merasakan tangan Cho menggeliat di dalam cengkeramannya. Ia mencengkeram semakin keras. Tak akan membiarkan gadis itu meninggalkannya.

“Kenapa kau begitu keras kepala, Kai? Tidak bisakah kau memahami perasaanku? Berhentilah menjadi pria arogan yang selalu bersikap egois dan tak berperasaan. Apa kau menganggap bahwa apa yang kau lakukan itu merupakan keputusan yang tepat?”

Pengakuan Cho membuat Kai semakin membeku. Seharusnya ia bahagia. Gadis itu mencintainya. Sama sepertinya. Tapi perasaan itu justru semakin perih. Faktanya tetap sama. Takdir itu tidak memihak mereka. Sekali pun mereka melewati garis tersebut.

“Kau masih tidak ingin bicara? Kalau begitu kembalikan aku ke bumi. Aku tidak sanggup hidup seperti ini. Rasanya menyakitkan jika—“

Tiba-tiba Kai menarik tubuh Cho dengan kuat. Meraih belakang kepala gadis itu dan menariknya mendekat. Bibirnya melumat bibir Cho dengan kasar. Lidahnya mendesak masuk di antara bibir Cho, menghujam dalam namun singkat.

Gadis itu tidak banyak menolak. Tindakan Kai terlalu tiba-tiba dan pikirannya cukup kacau untuk sekedar memberikan reaksi penolakan. Maka ia membiarkan pria itu dengan kasar menjelajahi bibirnya. Meski rasa perih itu masih mengiris-ngiris sebagian hatinya.

Setelah berhasil membuat Cho tak banyak bicara, Kai melepas tautan bibir mereka dan menghentikan ciuman singkatnya. Ia sempat mengecup lembut bibir Cho beberapa kali. Ia sedikit bersalah karena telah menyerang gadis itu tanpa aba-aba.

Keduanya bernapas kasar melalui sela-sela bibir. Bahkan Kai masih merasakan bibir yang selalu dianggapnya seksi tersebut berdenyut-denyut.

“Yang paling tak ingin kudengar saat ini adalah kata-kata yang berhubungan dengan bumi. Kau tidak diizinkan kembali,” Kai merengkuh wajah Cho di dalam telapak tangannya. Memberikan kehangatan yang tak pernah ia bagi pada siapa pun. “Sebelum aku mengutarakan semuanya.” ia melanjutkan.

Cho terdiam. Perasaannya semakin campur aduk setelah Kai menciumnya. Pria itu tersenyum ketir; menatap Cho dengan mata tegasnya yang mulai meneduh.

“Aku tidak pandai mengucapkan kata maaf.” Ia mengusap air mata yang kian jatuh membasahi pipi Cho. “Maafkan aku,” bisiknya manis di wajah Cho.

Meski isaknya tak terdengar, tangis gadis itu terlihat semakin hebat. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kencang untuk menahan suara cengeng anak kecil yang ia punya. Kai memeluknya. Membuat gadis itu semakin membenamkan wajahnya menyembunyikan apa pun yang dirasakannya saat ini.

Tak jauh dari sana, Luhan tersenyum puas di balik tiang tinggi yang berhasil menyamarkan bayangannya. Mungkin adegan mereka terlalu dramatik tapi ia menyukainya. Sudah terlalu lama sejak Kai terakhir kali tersenyum. Dan saat melihat keduanya bersama, ia merasa bahwa tugas yang diberikan ibunya untuk melindungi dan membuat Kai bahagia telah dilakukan dengan baik.

Namun senyum Luhan tak berlangsung lama. Kedua matanya menyipit saat ia menemukan bayangan lain di balik tumbuhan gog30 yang menjalar membentuk tirai. Pria itu menggerakan ujung telunjuknya dan dedaunan gog bergerak perlahan agar tidak menghalangi penglihatan Luhan.

Pupil hitamnya membulat lebar. Dari celah-celah gog, ia menemukan Kris dan Suho tengah berbisik mengamati Kai dan juga Cho. Keduanya mengangguk tipis sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut dan berpisah di lorong istana.

Rasa penasaran itu menggerogoti Luhan. Maka pria itu sengaja mengikuti kemana arah pemimpin Myrath tertuju. Sebagian hatinya berkata untuk membuntuti Suho. Namun Kris adalah orang penting di wilayah Myrath.

Luhan berhasil membuat Kris terperanjat saat pria itu menghalangi jalannya ketika sampai di belokan lorong utama. Kris nampak tegang. Rahangnya kaku dan bibirnya terkatup sempurna.

“Apa yang kau lakukan di sekitar sini, fratheer?” sapa Luhan. Tentu saja dengan sikap yang normal.

Kerutan di dahi Kris terlihat semakin tampak. “Mencari udara segar. Aku tidak suka dengan pesta bodoh itu,” jawabnya rendah.

Sudut bibir Luhan tertarik dalam. Hal yang jarang pria itu lakukan. “Apa kau sudah berdamai dengan Suho? Terakhir kali kulihat, kalian berdua bertarung hebat di Cape Showel31,” sindirnya.

Kris tidak bereaksi. Mereka hanya saling menatap dalam diam.

“Jujur saja, fratheer. Hubunganmu dengan Suho itu sedikit rumit. Di satu sisi kalian selalu memberi kesan bahwa kalian itu lawan yang harus diawasi. Sementara di sisi lain, kalian nampak akur dan menyatu. Ada apa dengan kalian?” ujar Luhan.

“Ini bukan urusanmu jadi menyingkirlah.” Titah Kris.

“Benarkah?” Luhan mengangkat alis. “Ada lagi, fratheer. Ada satu lagi yang membuatku harus memutar otak hingga sekarang.”

Luhan berjalan mendekati Kris. Perawakan pemimpin Myrath yang lebih tinggi darinya membuat pria itu sedikit mendongak. “Kenapa kalian selalu mendoktrin pikiran para castè lain bahwa Krypth ataupun Myrath itu berbahaya dan tak diizinkan untuk dekat satu sama lain? Terlebih terhadap Kai?” serang Luhan.

Ia tahu ada yang salah dengan Kris. Sesuatu yang belum mampu ia deteksi dengan baik.

“Jika kau ingin selamat, ikuti perintahku dengan baik.” Kris menyoroti mata Luhan dengan ketajaman yang luar biasa.

Pria itu melanjutkan langkahnya dan sempat membuat tubuh Luhan oleng saat menabrak bahunya.

Luhan memperhatikan Kris hingga pria itu ditelan oleh kegelapan lorong istana.

Benar.

Ada yang salah dengan para pemimpin castè.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

———————————-

26Prajurit Zang : Sebenarnya dia bukan seorang prajurit perang. Ia seorang seniman melegenda di Exo Planet. Karena cita-citanya yang tidak tercapai sebagai seorang prajurit, maka Penguasa Exo Planet memberinya penghargaan nama tersebut padanya.

27abasse : Sejenis alat musik. Berbentuk mangkuk besar. Pada sisi mangkuk terdapat enam penjepit yang masing-masing terjulur senar panjang yang disatukan oleh kayu. Cara memainkannya dengan dipetik.

28zephiar : Sejenis alat musik. Terbuat dari lempengan besi berbentuk lingkaran. Terdapat enam lingkaran dengan ukuran berbeda yang jika dipukul akan menimbulkan nada yang berbeda pula.

29brascus : Binatang sejenis kunang-kunang. Antena di kepalanya bersinar seperti pelangi.

30gog : tumbuhan parasit. Akarnya tumbuh dan bergerak ke atas, bukan ke dalam tanah. Makanya tumbuhan ini sering dijadikan hiasan rumah sebagai penghalang sinar matahari. Akar-akar mereka ditumbuhi dedaunan berbentuk persegi panjang berwarna merah. Jika disentuh daun tersebut akan berubah bentuk menjadi lingkaran / segitiga.

31cape showel : Kedai minuman paling terkenal di daerah EXO Krypth.

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

69 thoughts on “EXO PLANET “CHAPTER 08” (REPACKAGED)”

  1. Akhir’a kluar jg part 8’a…:D #snang’a soal’a kmren bru bka wp trnyata wp kmu gnti nma y cho ikha 🙂

    Oooo jd isi perkamen kmaren tu undangan pertunangan Kai n Sulli?

    Kasian Cho Ikha kcewa abis tau pertunangan tu tp pda akhir’a krena bantuan Luhan akhir’a Kai mw mengakui perasaan’a.

    Sbenar’a Kris ma Suho brniat ngpain c smp mata”in Kai.

    D tnggu next part’a cho ikha 😀

  2. Halo halo haloooooooooo!!!!! Kyaaaaaa baru mampir ke sini lagiiiiii :” Maaf ya, eonni. Aku lagi diserbu tugas kuliah nih. Hiks :””” Pasti eonni udah kangen kaaaannnn sama akuuuuu??? Ayo ngakuuuu!!!! wkwkwkwkwkwk
    Nah! Kaaaaannnnnn?? Selalu aja ceritanya bagus. Adudududuuhhh gak paham lagi deh. Seriusan deh ini mending dibuat film aja, eonni. Betulan ini keren sekaleeeehhhhhh. Karena ceritanya sudah keren, aku bingung jadi mau ngomong apa. haha speechless. Oh! Makasih banyak eonni di chapter ini pedang yang entah apa itu namanya cuma muncul di satu paragraf. Haha Tapi, ternyata dia digantikan nama debu yang nulisnya susah. haha Tapi, gapapa. Aku palingan agak belepotan pas bacanya. Tsaaaahhhhh
    Oya oya oya oya! Aku menemukan typo nih beberapa. beberapa doang kok, ga banyak. di paragraf ke-dua, harusnya ditulis ‘di sana’. Terus yang ini, “Maaf, Luhan. Tapi, aku tidak bisa berdansa.” Terus ada satu lagi, pas bagian kalimat aktif juga. Gaada tanda jeda buat kata ‘jadi’ yang menunjukkan kesimpulan.
    Tuh, kan? Saking gak ada yang gabisa aku komentarin, yg ga penting aja aku omongin. maafkan aku, eonni *sungkem
    Eonni, foto yang pakai baju merah cantik nian #ihik
    terus makasih udah taro blog-ku di blogroll eonni. uuuuuwwwww sayang eonni. peyuuuukkkkkk ({}) :*
    Naaahhh! Aku lanjut nugas dulu yaaaa. Caw!

    1. CACAAAAA KENAPA KAMU BARU MUNCUL HAAAAAH? GAK TAU APA ONN KANGEN SAMA SAMPAHAN KAMU/ SIAP YANG BERANI NGASIH KAMU TUGAS HAH? SIAPA? #gaknyantai
      Ahahaha apapun yang kamu komentarin pasti aku iya-in ca. Makasih yaaaa~ gak mau komentarin adegan ciumannya nih? yakin? #wink
      Hihihihi makasih cintaaaa mau onn kasih kecup basah atau toss pantat nih? Iya cama camaaaaa~ betewe tugasnya udah kelar? tugas apaan sih? tugas ngedeskripsiin betapa seksinya gue yak? kkkk

  3. Ciyee udh wisudaaa…
    Ahh kapan aq bisa nyusul T___T
    Ikaaa alamat blog mu ganti yaa??
    Aku jd bingung,utg liat twittermu..
    Aaaaa..kai nyium ika?? Sumpahh teriak2 gaje dibuatnyaa
    Tapi bneran deh,penasaran kenapa suho ama kris klo gak klitaan org2 itu jd bermusushan tpi klo diem2 mereka itu akrabnya super
    Cant wait for next chap
    Hwaiting ikaaa ^-^)9 
    Aku selalu sabar menunggu ff mu..

    1. kkkk~secepetnya dong meindiii~ harus nyusul buruan 😀
      Hehe iya nih abis kalo huglooms lebih gampang ngingetnya ndi. Hahahaha dasar empruuuuuuuulll~ next partnya udah ada ko. disitu jawaban kenapa kris sama suho jadi begitu…
      sip siiip makasih ya meindiii 😀

  4. huaaaaa
    ikha uniii T.T
    aku sempet bingung+resah gara2 blog beibiilee itu ga bisa dibuka -.-
    aku bingung harus gimana setiap hari selalu buka blog itu tp tetep sama
    ehh setelah sekarng baru kepikiran search di google “zuleykha lee ff” baru deh ada -.-
    huee unni kangen sama ff ini ToT
    kasian cho ikha nya -,-
    kai jahat banget maen cium aja (?)
    sebenernya ada hubungan apa kris ama suho ?
    apa mereka mempunyai suatu hubungan spesial (?) #plisdeh
    sumpah ya demi apanya un aku kangen banget sama ff ini tambah pembuatnya hehe
    saranghaee

    1. jadi dari kemaren kamu itu nyasar ya dek? Aigoo~ maaf yaaa keknya pemberitahuan pindah blog kurang kenceng jadi masih pada gak tau. tapi sekarang udah ketemu kaaaan~ *towel towel pantat*
      hihihi aku juga kangen sama komen kamu dek. Kalo gitu met jalan jalan yaaa~
      makasih loh komennya 😀

  5. ya ampunnn kasian bngt sih ikha ma kai,,, knpa jga mrka gx bisa ngungkapin prsaan masing”… ap y rncna suho ma kris..??

  6. waaah duo leader diem” kerjasama nih, harus waspada dong para casté lainnya, Cho juga
    Sehun ga muncul lagi kak?? padahal udah ngebayangin dia pake jas hitam, kemeja dalemnya putih, pake dasi kupu-kupu, rambutnya disisir ke atas…oke cukup sudah ngayal babunya ehehe

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s