NO, YOU ARE WRONG

Picture of 'No You're Wrong'MATA PRIA ITU TAK BERKEDIP MENATAP LANGIT MALAM yang secara sempurna menutupi atmosfer di atas hiruk-pikuk Kota Seoul. Kedua tangannya menyiku sementara sepasang kakinya menyilang angkuh. Tubuhnya yang tinggi besar membuat si pria nampak mencolok di antara pengunjung cafe yang berada di pinggir jalanan Gangnam-gu. Belum lagi jaket faux leather yang menutupi bahu tegapnya. Ia semakin nampak seperti rentenir yang patut untuk diawasi.

Tanpa peduli dengan sekelilingnya, pria dengan model rambut seperti Zac Efron tersebut mengaduk frapuccino-nya yang mulai mendingin. Ia mengamati riak air di dalam cangkir cukup lama sebelum meneguknya memenuhi rongga mulut.

Pandangannya kemudian tertuju pada seorang gadis di ujung belokan yang tengah mengenakan kostum playboy serta bulu-bulu penghias yang melingkar di sekitar lehernya. Gadis itu selalu tersenyum saat pria-pria yang melintasinya menyentuh bagian tubuhnya meski hanya menggunakan ujung telunjuk.

Pria itu lantas tersenyum kecut. Meski kostum tersebut menampakkan lekuk tubuh si gadis dengan jelas, ia sama sekali tidak tergoda untuk sekedar menatapnya lebih dari lima detik.

Setengah jam telah berlalu dan pria itu tidak melakukan hal-hal mencolok selain duduk dan menghisap beberapa putung rokok. Ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di hadapannya pun ia acuhkan, bahkan saat benda itu bergetar beberapa kali—menandakan bahwa ada seseorang yang menghubunginya.

“Sepertinya ada seekor singa buas yang kehilangan buruannya.”

Pria itu tertegun dari lamunannya saat suara seseorang dari balik punggung berhasil mengusik imajinasinya. Suara itu lembut namun tegas—dan ia dapat menerka siapa pemiliknya dengan mudah.

Tak perlu bergerak banyak, pria itu menyipitkan kedua mata kecilnya saat sosok tersebut memutuskan untuk duduk pada kursi kosong yang selalu dibiarkan hampa olehnya. Ia mengatupkan bibir rapat-rapat dan kembali mengamati awan-awan di luar sana yang menjatuhkan butiran-butiran es dengan anggun.

Orenmaniya, Kangin-ssi (Lama tak jumpa, Kangin-ssi),” sapa gadis tersebut. Syal tebal yang menutupi sebagian wajah membuat suaranya tidak terdengar begitu jelas.

Pria bernama Kangin itu membenahi letak duduknya. Suasana damai yang baru saja ia dapatkan beberapa menit lalu seketika terlepas dari genggaman. Kehadiran gadis itu seperti hantu, selalu muncul tak terduga.

“Apa kau tidak pernah bosan membuntutiku setiap hari? Cho Ikha-ssi?” ia bergumam meski kata-katanya lebih terdengar seperti sindiran halus.

Sudut bibir Ikha tertarik semakin dalam. Kangin masih menghindari tatapannya sejak pertama dirinya muncul. Hal yang selalu pria itu lakukan setiap kali mereka bertemu di tempat mana pun—dalam kondisi apa pun.

“Bagaimana mungkin aku bosan jika orang yang kubuntuti adalah kaki tangan Choi Siwon?”

Ikha berucap dengan maksud untuk menohok jantung Kangin. Sejenak kedua matanya menatap lurus pada pria dengan wajah mulus tanpa cacat tersebut. Namun kerutan di keningnya seketika tampak begitu Kangin malah mendengus seraya menyesap kembali kopinya dengan santai.

Geuraeseo? (Lalu?)”

Ia meletakkan cangkir hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring akibat beradu dengan lapisan meja. Kangin kemudian balas menatap Ikha. Gadis itu bahkan mengerjap dua kali saat mata itu seperti menusuk-nusuk pupilnya.

“Kau akan menghuni salah satu sel di kantorku jika tertangkap basah menyembunyikan sesuatu dariku—terlebih menyangkut aktifitas pria kaya itu.” Ikha mencoba menggertak. Tentu saja dengan meredam suaranya agar mereka tidak menjadi pusat perhatian.

Lagi-lagi Kangin mendengus. Kepalanya menggeleng pelan seolah meremehkan. “Bukankah harapan terbesarmu tahun ini adalah agar bisa menjebloskanku ke dalam penjara? Kenapa kau lebih memilih duduk manis di hadapanku—dan bukannya mencari-cari kesalahan yang pernah kubuat?” tantangnya.

Rahang Ikha seketika mengeras. Dipungutnya kembali keberanian yang sempat terjatuh dari benaknya kemudian menepis jauh-jauh rasa iba yang menyelubungi pikirannya. Kata-kata yang tersalur dari rasa emosi di dalam tubuhnya tertahan di tenggorokan. Tidak, jika ia memaki Kangin maka ia kalah saat ini juga.

“Selain angkuh, kau juga sangat percaya diri,” olok Ikha.

Gadis yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda itu mengamati Kangin yang sedang menyelipkan ponselnya ke dalam kantung celana. Pria itu kehilangan berat badan, terlihat dari tirus di wajahnya yang membentuk sepasang garis tipis di kedua pipi. Bulu-bulu halus di sekitar dagu dan di bawah hidungnya bahkan membuat Kangin semakin nampak maskulin. Meski orang lain mungkin menganggapnya pria jalanan yang tidak pandai merawat diri.

Mengerikan.

Kangin menghabiskan kopinya dalam sekali teguk lantas mendorong kursi agar tidak menghalangi tubuhnya beranjak dari sana.

“Aku belum selesai bicara, Kim Young Woon!” cegah Ikha.

“Oh, kukira perbincangan kita sudah berakhir?” terkanya asal.

“Akan kubuktikan bahwa kau salah, Kangin-ssi. Bagaimana pun caranya,” ucap Ikha.

Kangin kembali pada posisinya lantas menajamkan mata. Memahami tatapan Kangin, gadis itu malah duduk tenang di singgasananya. Kedua kaki Ikha saling bertautan lantas mengangkat hot chocolate-nya ke udara saat Kangin kembali memancarkan sinar laser melalui kedua matanya.

Wae na hante jit-eul hangeoya, Ikha-ssi? (Kenapa kau melakukan ini padaku, Ikha-ssi?) Apakah dendammu masih belum terbalaskan?” Pria itu berdiri tegap. Kesepuluh jemarinya tersembunyi rapih di dalam kantung jaketnya.

Ikha menggeleng. Suara tawanya terdengar merendahkan. Ia membiarkan Kangin begitu saja. Sekedar ingin tahu sampai sejauh mana pria itu menahan diri untuk tidak melayangkan sebuah pukulan keras di wajahnya.

“Berapa kali kukatakan padamu bahwa aku adalah anak dari pria yang membunuh kedua orang-tuamu?” Kangin berucap, sekedar mengingatkan kembali pada Ikha mengenai statusnya tersebut.

Gadis itu memaku. Tatapannya yang kosong itu tak dapat ditebak Kangin—antara marah, sedih, atau iba. Fakta tersebut memang tak bisa dilupakan bagi keduanya. Terlebih bagi Ikha. Di saat ia sedang membutuhkan begitu banyak kasih-sayang dari kedua orang-tuanya, pembunuh itu merenggut nyawa orang yang sangat ia kasihi. Dan kriminal itu adalah ayah dari pria yang tengah berdiri tegap di hadapannya.

“Perlakukanlah aku seperti yang selalu orang lain lakukan padaku,” imbuh Kangin.

Matanya membulat, membuat single-eyelid di kelopak matanya membentuk lengkungan tajam. Sejak dunia mengetahui apa yang membuatnya menjadi manusia hina, seisi penghuni bumi seolah menatapnya sarkatis. Ia merasa bahwa orang-orang seolah melemparkan batu kerikil lewat tatapan mereka. Orang-orang seolah menghindar, melihatnya sebagai anak dari seorang kriminal merupakan predikat yang selamanya tak akan pernah hilang dari diri Kangin.

Hingga sekarang…

Saat ia menginjak umur dua puluh delapan tahun.

“Kau benar-benar akan menyesalinya,” gumam Ikha. Bibirnya merapat hingga tercipta sebuah garis lurus.

Kangin mendengus. Entah berapa kali ia selalu mencoba untuk mengacuhkan Ikha meski cara itu tak pernah berhasil. Melihat punggung gadis itu saja membuat kepalanya berdenyut. Rasanya sungguh menyiksa.

“Pernahkah—sekali saja—kau merasa takut padaku?” tanya Kangin sambil menyisir poninya. “Orang-orang selalu menganggapku seorang kriminal karena telah membantu ayahku melakukan perbuatan keji tersebut. Apa yang akan kau lakukan jika suatu hari kesabaranku menghilang untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan organ di dalam perutmu?”

Pria itu mengucapkan kata demi kata dengan intonasi yang dalam. Ikha mendongak, merasakan jantungnya berdebar hebat menahan amarah. Ia tak pernah menganggap Kangin seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya, sekali pun pria itu berteriak dan mencaci maki dirinya.

Namun kali ini tidak. Sikap Kangin yang selalu merendahkannya membuat kesabaran gadis itu menipis. Terlebih jika ia sudah mencemooh kedua orang-tuanya.

“Kemana kau akan berlari saat aku berniat untuk membunuhmu?” Kangin kembali menyerang. “Bahkan ayahmu yang berpangkat Kepala Polisi Seoul saja tidak bisa menghindari kematiannya. Ironis bukan?”

Napas Ikha beradu kasar dengan oksigen di ruangan tersebut manakala mendengar perkataan Kangin yang menusuk-nusuk hulu hatinya. Buku-buku jemari Ikha menegang saat tangannya secara refleks membentuk sebuah kepalan.

“Harusnya kau sadar sedang berhadapan dengan siapa, Kangin-ssi.” Gadis itu menggertak. Meski ia tidak memakai seragam kepolisian, Kangin dapat dengan mudah mengenal gadis itu sebagai orang yang selalu mengusik kehidupannya.

“Sepenuhnya aku sadar, Cho Ikha. Kau adalah Kepala Polisi Seoul yang baru—“ Kangin perlahan mendekat, menundukan kepala agar lebih mudah menatap Ikha. “—dan juga seorang yatim-piatu yang pernah menjadi kekasihku dulu. Jauh sebelum peristiwa itu terjadi.” imbuhnya.

Kangin lantas memutar tubuh, beranjak dari tempatnya dan meninggalkan Ikha dengan segala perasaannya yang tak menentu.

Di tengah perjalanan menuju rumah yang selalu memberikan kehangatan baginya, pria itu terus menghujani dirinya sendiri dengan kata-kata makian. Jika bukan karena tujuannya, ia mungkin masih bersama gadis itu sekarang.

Seperti yang pernah mereka lalui sepuluh tahun tahun lalu.

***

SATU PASUKAN BATALION YANG TERDIRI DARI dua puluh polisi bersenjata lengkap memasuki area Pelabuhan Gimhae dan menyebar melalui sudut-sudut yang berbeda. Mereka bergerak cepat dan tangkas, seperti angin yang berhembus tanpa suara.

Ikha melirik seseorang di antara mereka yang bersembunyi di balik tumpukan kotak kardus. Setelah mendengar kode ‘clear’ dari walkie-talkie di genggamannya, gadis itu menggerakkan telunjuk menyuruh pasukan yang ada di sekitarnya bergerak memasuki gedung usang di dekat pelabuhan.

Senjata api terarah lurus membidik sesuatu yang mencurigakan mata. Mereka bergerak hati-hati. Tak boleh salah bertindak selama pengepungan berlangsung.

Isanim, sebaiknya anda tidak di garis depan. Terlalu berbahaya,” bisik seorang pria disamping Ikha yang tengah mengarahkan Heckler & Koch ke berbagai arah.

“Apakah aku begitu pengecut di matamu, Donghae-ssi? Tutup mulutmu atau kupasifkan kau dari misi ini,” tukas Ikha langsung pada intinya.

Selanjutnya pria itu tak banyak bicara. Saat Ikha memberi tanda untuk masuk melalui jalur yang berbeda, keduanya berpisah pada lorong gelap yang berisi drum kosong dan keranjang kayu tak beguna.

Gadis itu berjalan sendirian. Sekelilingnya sunyi. Hanya terdengar bunyi baling-baling dari kipas angin tua yang ia sendiri pun tak tahu persis letaknya dimana. Saat walkie-talkie Ikha mengeluarkan bunyi gemerisik, saat itu pula lah ia merasakan seseorang menjerat lehernya dari belakang.

Ikha berkelit dengan memutar tubuh dan membuat tangan pria berjas hitam tersebut terpelintir. Gadis itu kemudian menekuk tangan si pria lantas memberi sodokan keras di perut menggunakan lututnya yang cukup tajam.

Pria itu terkapar di lantai, membuat Ikha bangga dengan hasil pelatihan judo yang selalu ia datangi setiap malam Rabu selama tiga tahun terakhir ini. Tapi kebanggaan tersebut tak berlangsung lama. Gadis itu seketika membeku saat beberapa pria berjas hitam muncul dari pintu yang sama.

Kesebelas pria berjas itu mengelilinginya. Sebilah kayu, tongkat baseball, rantai, bahkan besi-besi yang menjadi bahan material bangunan besar berayun ringan di setiap tangan pria-pria tersebut. Gadis itu berusaha untuk tetap tenang—meski ia sadar bahwa ia tak akan mampu membasmi hama tersebut dalam sepuluh kali tendang.

“Cho Ikha-ssi… Kepala Polisi Seoul… Tsk, sudah kuduga kau akan datang.”

Pandangan Ikha langsung tertuju pada sumber suara. Gadis itu menyeringai saat mendapati seorang pria berbadan atletis, lengkap dengan hiasan pita Sapphire Blue di sisi kiri jas putihnya, masuk ke dalam ruangan diiringi oleh beberapa pengawal pribadi.

Pria berambut hitam dengan senyum seperti karakter The Joker dalam film Batman Revolution tersebut melepas kacamata hitam yang menyembunyikan mata besarnya. Gadis itu mengenal baik pria itu. Choi Siwon, pengusaha hotel terbesar di Korea Selatan yang diduga merupakan biang kerok dari pendistribusian narkoba di seluruh Asia.

“Kau tidak perlu mencari teman-temanmu karena Kangin sepertinya sedang membereskan mereka,” ucap Siwon angkuh.

Tangan Ikha meraba walkie-talkie-nya yang tergantung di sisi tubuh. Sialnya ia baru sadar jika tak ada suara berisik yang timbul dari sela-sela lubang speaker benda tersebut. Ia terjebak dan tak ada yang mampu menolongnya. Ia memaki dalam hati. Bukan karena kecerobohannya, tapi karena Kangin menjadi bagian dari operasi ini.

“Benar. Seperti yang kau dengungkan di dalam otakmu, Cho Ikha. Kau terjebak.” Siwon mengangkat dagu, menelisik gadis tersebut dari matanya yang menyipit.

“Setidaknya masih ada dua batalion lain yang sedang menyusulku kemari. Jadi bersabarlah, Choi Siwon. Kau akan segera mendekam di dalam sel. Aku sudah tidak sabar ingin menyuapimu dengan potongan daging busuk,” cemooh Ikha.

Tawa Siwon membahana diiringi tawa dari kaki tangannya yang lain. Detik berikutnya ekspresi pria itu berubah datar. Raut wajahnya nampak tenang namun memancarkan aura jahat yang luar biasa.

“Keberanianmu hampir sama dengan ayahmu. Ia sadar betul bahwa ia tidak akan selamat malam itu, tapi si pria tua dan bodoh tersebut masih saja berlagak angkuh.”

Alis Ikha mengerut. Sama sekali tak mengerti dengan pernyataan Siwon. “Mwoseun iriya? (Apa maksudmu?)”

Pria tinggi itu berdecak. “Apa Kangin tidak menceritakan padamu bagaimana ayah dan ibumu mati?” ia bertanya lantas tersenyum licik saat melihat ekspresi Ikha yang nampak seperti gadis terbelakang. “Ah, aku lupa jika kecoa gemuk itu menjadi kaki tanganku sekarang.”

Mwoseun iriya, Choi Siwon?” ulang Ikha.

Siwon membenahi jasnya. Ia meraih putung rokok dan korek api yang diberikan pengawalnya. “Karena malaikat pencabut nyawa sudah siap menjemput jiwamu, apa sebaiknya kuceritakan sebuah lelucon terlebih dahulu?” tawarnya.

Gerak refleksnya yang baik membuat Ikha mengarahkan pistol caliber-nya tepat tertuju pada kening Siwon. “Jangan sampai peluru dalam pistol ini menembus otakmu, Choi Siwon.” Ia menggertak.

Tepat saat gadis itu mengarahkan pistolnya, dua titik bayangan laser merah di kepala dan jantungnya membuat gadis itu tercekat. Ia tahu betul arti tanda tersebut—ia akan mati di tangan dua pengawal yang mengapit Siwon sebelum pelurunya sempat menyentuh kulit pria itu.

“Apa kau tahu? Ayahmu berdiri di tempat yang sama saat ia menerima tembakan di beberapa titik tubuhnya,” terang Siwon seraya menyulut ujung rokoknya. “Ia selalu mengorek aktifitasku dan malam saat ayahmu menghembuskan napas terakhirnya, ia berniat membekuk kegiatan transaksi yang kulakukan. Tentu saja karena otakku cerdas, aku tidak akan tertangkap dengan mudah.”

Ia memberi jeda dengan menghisap benda tersebut dan membuat kepulan asap yang berbaur dengan bau pengap di dalam ruangan. “Aku memanipulasi ayah pria yang sangat kau cintai itu sebagai pembunuh kedua orang-tuamu,” imbuhnya.

Seolah tertembus panah Avatar, tubuh gadis itu membeku mendengar pengakuan Siwon. Jika benar adanya, maka selama ini ia telah melakukan hal yang sia-sia dengan membenci Kangin sepanjang hidupnya.

Mworago? (Apa yang kau katakan)” tuntutnya.

“Dasar pria bodoh. Aku juga bingung kenapa Kangin malah ingin menjadi kaki tanganku. Jelas-jelas saat itu aku yang membuat ayahnya ikut terbunuh di tengah perang tembakan yang terjadi antara polisi dan anak buahku. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa memanfaatkan keahliannya dengan baik.”

Tepat setelah Siwon mengakhiri kalimatnya, perhatian Ikha tertuju pada sosok lain yang memasuki ruangan tersebut. Langkah pria itu begitu berat, terseok-seok seperti kehilangan tenaga.

“Apa kau sudah membereskan orang-orang itu?” tanya Siwon begitu Kangin berdiri tepat disampingnya.

Kangin hanya mengangguk semaunya. Jas hitamnya penuh debu dan rambutnya berantakan. Ikha tak perlu berpikir panjang karena pria itu pasti telah berhasil mematahkan organ tubuh pasukannya.

Kecewa, gadis itu akhirnya mengarahkan pistolnya ke arah Kangin. Pria itu sama sekali tidak bergerak. Ia seperti robot yang mematuhi semua keinginan Siwon. “Kenapa kau tidak jujur padaku, Kangin-ssi?” tanyanya.

Pria itu tidak menjawab atau sekedar menatapnya. Membuat Ikha semakin kehilangan kendali. “Aku tanya kenapa kau tidak jujur padaku? JAWAB AKU, KIM YOUNG WOON?” pada akhirnya ia berteriak, melepaskan kekecewaan yang menumpuk di dalam kepala.

“Kau sudah mengetahui semuanya bukan? Apa kau sadar apa yang telah dilakukan pria jahanam disampingmu itu? Dia yang membunuh orang-tuaku, dia yang membunuh ayahmu, dia juga yang membuat orang-orang selalu meludah ke arahmu. KENAPA KAU MAU HIDUP SEPERTI PELIHARAANNYA YANG HINA ITU? WAE?” Tangis gadis itu pecah, menggema di dalam ruangan pengap tak tertembus matahari tersebut.

Kangin menatap Ikha datar. Ia sama sekali tak tersentuh oleh gadis tersebut.

“Hentikan. Aku sedang tidak ingin menonton drama.” Siwon menginterupsi.

“Apa kau yakin?” Suara Kangin yang begitu dalam tersebut membuat Siwon mengerutkan alis. “Apa kau tidak ingin menonton drama? Sajangnim?” sambungnya.

Bola mata Kangin bergerak saat pilar di balik jendela mengeluarkan bunyi yang mencurigakan. Maka ia segera bertindak sebelum rencananya gagal total. Pria itu menghajar pengawal Siwon hanya dengan memukul beberapa titik syaraf mereka. Keduanya jatuh dengan mudah. Padahal ia hanya menggunakan sepersekian persen dari tenaganya.

What are you—“

Belum sempat Siwon menghabiskan kalimatnya, Kangin dengan cepat menusuk kaki pria tersebut menggunakan belati lipat yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Siwon tersungkur namun hal itu justru membuat Kangin dengan mudah menjepit leher Siwon di antara lengannya lantas mengarahkan pistol yang dipakai pengawalnya tepat di kepala Siwon.

“Jika kalian bergerak sedikit saja, maka pria ini akan mati sekarang juga.” Kangin menyeret Siwon yang mengerang kesakitan ke tengah ruangan.

Ya! Kangin-ssi. Jigeum mwohani? (Apa yang kau lakukan?) I’m your boss!” erang Siwon.

Pasukan batalion yang bersembunyi di balik pilar lantas menembak peluru bius pada pria-pria berjas dan membuat mereka seperti domino yang jatuh pingsan saling beriringan.

Ani (tidak). Kau hanya sebongkah sampah yang patut untuk disingkarkan.” Bisik Kangin, tepat di telinga Siwon. “Kau pikir untuk apa selama ini aku selalu mencoba agar kau mempercayaiku?”

Pria itu mencabut belati di kaki Siwon dan membuat pria itu berteriak seperti meminta ampun. “Aku sangat menunggu saat-saat ini—saat di mana aku bisa mematahkan tulang-tulangmu dengan tanganku sendiri,” gumamnya.

Saat para batalion itu mengamankan pengawal Siwon, Kangin mendorong pria itu hingga tersungkur lantas memukul-menendang-menghajarnya membabi-buta. Siwon berteriak agar Kangin menghentikannya tapi pria itu pura-pura tak mendengar.

“Aku muak melihat tindak-tandukmu yang selalu bersembunyi di balik uang dan kekuasaanmu. Kembalikan nyawa ayahku,” ia mengarahkan pistol yang masih terselip di antara jemarinya pada Siwon.

“Kangin-ssi.”

“KEMBALIKAN NYAWA AYAHKU!!!”

Kangin berteriak. Tak peduli dengan sahutan Ikha yang berusaha untuk mencegahnya. Bola mata pria itu memanas, membuat indera penglihatannya memerah dan digenangi airmata. “Bagaimana jika kita akhiri saja?”

Ibu jari Kangin menarik pelatuk pada pistol tersebut. Bersiap untuk mengantar Siwon ke neraka yang paling kejam. Ia berusaha sabar hanya demi satu hari ini, hari dimana ia bisa membalaskan dendam ayahnya.

“Jangan, Kangin-ssi. Kau bukanlah pembunuh sepertinya. Geumanhae (Hentikan),” bujuk Ikha. Gadis itu berjalan mendekat, menahan lengan kekar Kangin agar tidak bertindak gegabah.

Ia melihat Siwon tak mampu bergerak banyak. Pukulan Kangin sepertinya berhasil mematahkan rusuknya.

“Aku tidak akan pernah tenang sebelum pria ini mati di tanganku,” gumamnya lirih.

Dua batalion berpakaian hitam kemudian mengapit Siwon yang sudah tak berdaya. Kangin berteriak agar mereka melepas pria tersebut dengan alasan tidak boleh ada yang menyentuhnya sebelum eksekusi ini berakhir. Maka keduanya berjalan mundur dan mengawasi dari jarak beberapa meter.

“Jangan lakukan ini, kumohon. Sekarang aku sudah tahu fakta yang sebenarnya jadi kita bisa memulai lagi dari awal,” pinta Ikha. Kangin memejamkan mata, menahan emosi yang selalu ia tahan sejak kematian ayahnya.

“Kau tahu aku tidak bisa,” jawab Kangin lirih.

Ikha menggeleng. “Ani (tidak). Aku ingin menebus semua kesalahanku karena tidak percaya padamu. Karena itu lebih baik biarkan dia mendekam di penjara dan kita bisa kembali bersama seperti dulu—” jelasnya lalu berbisik, “—Oppa.”

Kangin memutar tubuh, mendapati Ikha yang masih menahan lengannya dengan mata yang sembab. Pria itu tersenyum seraya menghapus air mata gadis itu dengan perlahan. Gadis itu selalu nampak kuat saat memakai seragamnya. Kali ini ia sedikit lebih feminim karena tangis tersebut.

“Senang mendengarmu menyebutku dengan kata ‘Oppa’. Rasanya begitu lama sejak—“

Perkataan Kangin seketika terhenti saat terdengar bunyi desing yang mampu membuat perhatian seluruh orang tertuju padanya. Pria itu membeku. Kepalanya bergerak perlahan, menunduk untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah dalam dirinya.

Detik sebelum Kangin jatuh ke atas lantai yang berdebu, suara teriakan Ikha membahana diiringi tembakan jitu dari beberapa batalion yang menembus tubuh Siwon. Pria itu mati dalam sekejap setelah menembak Kangin menggunakan pistol mini yang sengaja ia selipkan di dalam jas-nya.

Andwae, Oppa.” Gadis itu memeluk Kangin sambil terus memanggil-manggil namanya.

Pria itu mengejang. Bibirnya bergetar hebat menahan sakit yang begitu menyiksa saat sebuah peluru berhasil menembus jantungnya. Kangin menatap Ikha sebisanya—meski pandangan pria itu mulai tak fokus dan samar.

“K-kau tahu… a-aku bukanlah anak dari seorang pembunuh,” bisik Kangin.

Tangis Ikha semakin menjadi. Kata-kata itu… kata-kata itu adalah kata-kata yang sama ketika ia memutuskan untuk tidak mengenal Kangin lagi setelah mengetahui kematian orang-tuanya. Gadis itu menggeleng, menyebut kata ‘andwae’ sebanyak yang ia mampu.

“Badanku memang seperti gorilla tapi aku bukanlah seorang kriminal,” ia kembali berbisik dan membuat gadis itu berteriak histeris melihat darah segar terus mengalir pada lubang di dada Kangin.

Andwae. Ambulance akan segera datang dan kau akan selamat,” gumam Ikha, sekedar menghibur diri.

“Dengar,” Kangin menelan ludah begitu mesin-mesin yang menggerakkan jantungnya mulai berjalan lambat. “Kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu bukan?”

Gadis itu mengangguk.

“Aku akan menunggumu disana,” ucap Kangin. Bola matanya sempat bergerak menatap langit-langit ruangan sebelum sepenuhnya menutup rapat.

Andwaeandwae… ANDWAE!!!!” Ikha menggoyangkan bahu Kangin yang melemah. Berharap pria itu hanya sedang melakukan lelucon basi yang dulu pernah ia lakukan saat masih berusia belia.

Tapi tidak, pria itu sama sekali tidak bergerak. Bahkan saat Ikha mendeteksi napasnya yang benar-benar menghilang. Ia menangis, memeluk tubuh Kangin yang sudah tak bernyawa sambil terus menyebut namanya.

Kadang hidup memang tidak adil. Dan gadis itu membenci pepatah yang mengatakan bahwa ‘saat kita memperoleh sesuatu maka kita harus kehilangan sesuatu’. Ia akan lebih memilih untuk tidak mengetahui fakta kematian orang-tuanya daripada harus kehilangan pria yang tak pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.

★★ FIN ★★

2013 - Thx For Coming

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

18 thoughts on “NO, YOU ARE WRONG”

      1. Eonni kalo yang dipublis disini sih udah di edit lagi kan, yg eonni kirim ke sjff itu ada kalimat yang mencurigakan…
        Cho Ikha mengarahkan caliber-nya pada kening Siwon tpi dia ngancemnya ‘jangan sampai peluru ini menembus jantung(?)mu’

        -Yeonra-

      2. udah ko cantiiik^^
        itu sebenernya bener, cuma onn kurang nambahin kata” si bangkang yang harusnya ngarahin pistol dari kepala terus ke jantung. kkk~ maklum lagi mabok dek. makasih yaaa udah ngingetin onn~~ 😀

  1. ya mskipun w dah bca nie ff di SJFF tp gpp kan w nyampah lg dsini…..,*toel pantat cho ikha
    eh w mo nanya kha knp loe sering….g sering jg sich *apa mksud’y coba
    make karakter cho ikha sbg polisi mang loe pngen jd polisi????
    *prtnyaan yg g bermutu
    btw parah sadis’y nie cerita udah sad ending bangkang dimatiin lg hadeewwwhhh…..apalagi bangwon g kepikiran saiia low dy seorang bandar narkoba paraaahhhh…..

    1. ahahaha gomapta bebi ^^
      gue itu selalu bikin karakter cewenya yg kuat dan gak letoy, cengeng ataupun pasrahan nenk, makanya polisi itu salah satu profesi yang tepat buat doi. Aku mah pengennya jadi istri hyukjae nenk, gak mau jadi polisi, buahahahha~~

  2. Eh saya melihat nama saya diatas… hehe~

    Kenapa berkat gw??? Emang gw yang bikinin FF ini buat lo? hahaha~ 😛

    Itu karena gw yakin genre yang lu kuasain pasti bakal disukain sama jurinya, makanya gw yakin banget klo lu ikutan pasti lu menang.

    Dan gw gak bosen2nya bilang selamat buat lo, dan harus berapa kali sih gw tekenin ke elu klo gw gak pernah salah milih author favorit…

    gw emang bukan penulis yang bagus, tapi gw reader yang terlatih~ 😉

    And until now, gw tetep fans setia lo~

    Semoga hubungan Idola dan penggemar kita bakal bertahan sampe selamanya ya Khaa~

    Hwaiting!!! ^^

  3. Aku mau protes, eonni Kenapa suami ku jadi orang jahat disini ????
    Aigoo gak rela gak rela huh

    oke back to ff
    sad ending yang bener sad,kangin kenapa mati eon….
    Bener bener sedih

  4. Oke. *tarik napas dalem dalem*
    Siwon mati. Kangin mati. Ikha ngejomblo.-.
    *hening*
    Kenapa mati onn? Nyayat banget nih ff-..-
    Dan ya ampun, masih aja ye udh mau mati masih sempet sempetnya bilang “Badanku memang seperti gorilla–” Ckckckck, Ahjussiku yang satu itu emang deh *geleng geleng* Wkwkwk.
    Tapi seperti biasa, FFnya onni emang selalu daebak! 😀
    Oiya, congrats ya onn karena udh jadi 1st winner di SJFF^^

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s