CHANGE “Prologue”

JADI KAU MENYALAHKANKU ATAS SEMUA yang telah menimpa kita?”

Gadis itu memaki, meninggikan nada suaranya di antara udara malam yang berhembus mengayun syal shiffon-nya. Kemudian ia menyumpahi pria yang tengah merajut langkah disampingnya tersebut seolah melampiaskan amarah yang berkerumun di dalam kepalanya.

Tawa ringan si pria lantas ikut menghiasi suasana malam. Ternyata membuat gadis yang dikenal tiga bulan terakhir ini jengkel setengah mati merupakan hal yang menarik. Jauh lebih menarik daripada playstation maupun PMP canggih yang menjadi bagian dari koleksinya.

“Bukan menyalahkanmu, tapi menyalahkan kecerobohanmu, Miss Cho.” Ejeknya.

Cho Ikha, gadis yang sedari tadi terus saja mendumal, memutar bola matanya. Pria ini tak pernah absen memandangi wajahnya melalui pantulan cermin setiap saat, tapi sepertinya ia tidak bisa menjawab kasus ini: siapa yang ceroboh dan siapa yang patut untuk disalahkan.

“Pantas saja kau menjadi Head of Corporate Secretary di perusahaan ayahmu. Lidahmu pintar berkelit—dan membual tentunya,” puji Cho. Tentu saja dengan menyelipkan sejumput sindiran di dalamnya.

“Berkelit dan membual itu adalah keahlianku,” ucap si pria penuh kebanggaan.

“…dan bermain wanita—poin penting itu tak akan pernah tertinggal dari kamusmu bukan?” sindir Cho.

Tanpa mengurangi kecepatan langkahnya, pria itu terkekeh. “Sejak mengenalmu, poin itu sudah kuhapus dari kitab undang-undang-ku. Statusku adalah pria baik-baik sekarang.”

Detik berikutnya, hembusan napas kasar meluncur cepat dari mulut Cho. Dipandangnya pria yang selalu nampak arogan tersebut dengan tatapan seolah menyiratkan ‘kau pikir aku akan terbuai oleh omong-kosongmu itu?’.

Keduanya lantas terdiam. Membiarkan suara-suara khas kegelapan menguasai keadaan. Tak ada yang melontarkan satu kata pun di antara mereka, seolah sepasang manusia itu menikmati keheningan tersebut.

Sambil meniti langkah demi langkah yang tercipta, kedua pupil hitam gadis itu tertuju pada ujung sepatu yang dikenakannya. Jika pepatah mengatakan penyesalan selalu muncul di akhir cerita, maka bagi Cho Ikha, kata terkutuk itu justru hadir tepat pada prolog kisah hidupnya.

Beruntung mungkin bukan kata yang tepat. Ia hanya sekedar menikmati takdir yang digariskan Tuhan padanya. Ya. Benar. Cho mensyukuri apa yang telah Ia beri. Kehadiran pria yang selalu setia menemaninya beberapa bulan ini mungkin adalah jawaban atas segala do’a yang ia panjatkan.

Sesuatu yang mengeratkan jemarinya membuat Cho Ikha terkesiap. Lamunannya terpecah, membuatnya terjaga sepenuhnya. Disampingnya, si pria mengangkat alis. Kebisuan Cho Ikha ternyata mampu membuatnya bertanya-tanya.

Wae?” tanya Cho saat melihat pria tersebut menatapnya bingung.

Pria itu berdecak. “…‘Wae’ katamu?”

“Lantas apa?” Gadis itu balik bertanya.

“Katakan saja kalau kau tidak ingin malam ini berakhir. Jadi aku tidak perlu mengakhirinya,” celetuk si pria.

Cho menggelengkan kepala. Tawa mencemoohnya meredam suara-suara di sekitar. Tadinya ia hanya menerka-nerka sejauhmana tingkat kepercaya-dirian pria yang sedari tadi menautkan jemari dengannya. Kini ia mengetahui jawaban tersebut: kepercaya-diriannya equivalent—tidak terbatas.

Pria yang sejak tadi terlihat tenang menyeimbangkan irama napas dan langkah kakinya itu menarik lengan kokoh Cho lalu mengeratkan tubuhnya saat angin malam berhembus ke sela-sela sweeter fleece yang membalut tubuhnya. Sedikit aneh memang—karena pria itu yang mendekap erat tubuhnya, bukan sebaliknya. Namun baik Cho Ikha ataupun pria itu menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sepele.

“Apa tak ada hal lain yang ingin kau sampaikan?” Pria itu angkat bicara. “Sebelum semuanya berakhir,” imbuhnya, masih melanjutkan perjalanan menuju Kuil Munmyo yang hanya terpaut beberapa meter saja darinya.

“Jika suatu hari foto-foto itu tersebar ke publik, aku akan benar-benar mengoyak isi perutmu, Lee Hyuk Jae.” Cho memicingkan mata. Sesuatu di bola mata cokelatnya memberitahu bahwa ia sedang bersungguh-sungguh.

Lee Hyuk Jae mengangkat bahu. “Silahkan saja. Lagipula aku akan menggunakannya untuk kepentingan lain. Mmm, menyuruhmu melakukan apa yang kumau—misalnya?” ia menggoda.

Bak sepasang paku, kaki gadis itu menjejak tanah dengan sempurna lantas melayangkan sebuah pukulan kosong pada Eunhyuk. Ia tidak sepenuhnya melakukan hal tersebut, hanya sekedar menggertak karena mulut pria itu kadang lebih riang dari suara kokok ayam.

“Kita sampai,” ucap Cho saat keduanya telah tiba di depan kuil.

Hening.

Keduanya mematung.

Setelah beberapa saat, keempat pasang mata itu kemudian bergerak liar menjelajahi setiap sudut tempat. Tak ada siapa-siapa disana, berbeda dengan keadaan kuil tiga bulan yang lalu—saat perayaan Festival Daeboreum diselenggarakan.

Tanpa ragu, Cho berjalan dengan sedikit tergesa menuju halaman utama kuil. Namun saat ia sudah berada di tempat yang sejak awal begitu ia harapkan, entah mengapa rasa ragu malah mendominasi benaknya.

Haruskah ia mengakhiri semuanya sekarang? Saat ini? Ketika perasaannya sendiri mulai bangkit dari kematian yang cukup lama?

“Cho Ikha,”

Sapaan Hyukjae di balik punggungnya menyentak hatinya. Gadis itu menoleh, mendapati pria itu tengah berjalan pelan menghampirinya. “Senang? Karena kau bisa kembali hidup normal?” tanyanya.

Cho membisu. Hanya membisu. Bahkan otot-otot wajahnya sama sekali tak bergerak. Ia hanya mampu memandang wajah yang sangat dibanggakannya itu dengan berjuta makna yang Hyukjae sendiri pun sulit untuk menebaknya.

Ia sengaja menunggu—apa yang akan pria itu ungkapkan untuk terakhir kalinya.

“Kita hanya perlu menunduk dan berdoa, bukan? Bulan purnama itu yang akan menjadi saksinya,” ucap Hyukjae seraya menengadahkan kepala ke langit gelap.

“Hanya itu yang ingin kau ucapkan?” Cho bertanya dengan sedikit menuntut.

“Kau sendiri?”

Eobseo (Tidak ada),” jawabnya lantang.

Di tengah pencahayaan yang temaram, Eunhyuk berusaha menyembunyikan senyumnya sebisa mungkin. Meski Cho Ikha selalu menyangkal, nyatanya gadis itu memang tidak pandai berbohong. Ada yang ia tunggu dari Hyukjae. Sesuatu menyangkut kelanjutan dari kisah mereka.

Hyukjae meraih kedua tangan Cho lantas menggenggamnya erat. Menyalurkan sedikit kehangatan di tengah angin musim semi yang menusuk-nusuk pori-pori kulitnya.

“Setelah semua ini berakhir, kita akan benar-benar menjalankan kehidupan kita masing-masing—sesuai dengan perjanjian yang telah kau buat. Sejujurnya aku sangat menikmati keadaan ini. Well, setidaknya aku bisa belajar banyak hal tentang seorang wanita.”

Hyukjae menghentikan perkataannya untuk melihat ekspresi Cho. Benar saja, gadis itu tengah menyorotkan sinar laser mematikannya setajam mungkin. Ia tahu persis apa yang sedang pria itu bicarakan—dan ia tidak menyukainya sama sekali.

Pria itu kembali melanjutkan, “Namun sebelum semuanya kembali seperti sedia kala, aku ingin kau mengajukan satu permohonan terakhirku.”

Cho Ikha mengangkat kepala memandang Hyukjae. Di dalam pribadi absurd yang dimiliki si pria, di dalam sikap arogan dan keras kepala yang dimilikinya, gadis itu tak dapat menjawab mengapa pria yang sulit mengucapkan kata ‘tolong’ itu malah mengajukan permohonan padanya.

Ketika Hyukjae sama sekali tidak memutus kontak di antara keduanya, udara mendadak berubah dingin. Cho Ikha bahkan tak tahu apakah ia masih bernapas atau tidak. Tatapan pria itu mampu mengintimidasinya. Sepenuhnya.

Terdengar bunyi kecup pelan yang diciptakan Hykjae saat pria itu memutuskan untuk menyatukan bibir mereka. Meski hanya beberapa detik saja, Cho Ikha dapat merasakan buku-buku jarinya seolah membeku di dalam genggaman Hyukjae.

Jantungnya bergemuruh. Tenggorokannya tercekat.

Sekarang ia sadar perasaan apa yang dialaminya pada Hyukjae. Ia tak dapat menyangkalnya kali ini.

“Dari sekian banyak wanita yang kukenal, kau adalah satu-satunya yang berhasil membuatku merasa ketergantungan. Karena itu, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” tutur Hyukjae, berbisik di depan wajah Cho Ikha.

“Untuk apa? Untuk mencuri sebuah ciuman dariku?” ejek Cho, mencoba bersikap sewajarnya.

“Tidak. Tapi untuk mencuri semua perhatianmu untukku,” ucap Hyukjae. Suaranya terbang bersama udara kosong di dekatnya dan melesak masuk dengan lembut melalui gendang telinga Cho.

Gadis itu menelan ludah. Oh, tidak. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berbohong. “Jangan membual lagi, Lee Hyuk Jae. Aku—“

“Ssstt!” Eunhyuk meletakkan satu jemarinya pada bibir Ikha, menginterupsi kalimat yang tak ingin ia dengar.

“Rasanya memang agak aneh berciuman denganmu. Tapi aku menyukainya,” akunya. Tubuhnya bergerak, memperkecil jarak antara keduanya. “Jika besok sudah kembali normal, kuharap kita masih bisa bertemu lagi, Cho Ikha. Aku ingin melakukannya lagi suatu hari nanti,” gumam Eunhyuk lalu memberi gadis itu sebuah kerlingan manis.

…and that’s the end of the story…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

106 thoughts on “CHANGE “Prologue””

  1. haduhhh, oenni masa prolog udah bikin galau cetar membahana aja
    wkwkwkwk
    buruan publish part 1nya ya oen
    ditunggu dengan amat sangat
    hehehe #maksamodeon
    keke 😀

      1. hahaha, gak juga sihh oen
        ohh iya oen aku kemaren semper baca FF step forward yang baru kok di protect yaa??
        padahal aku belum coment
        waktu aku baca masih blum di protect oenn???
        bolehkah saya mnta pw?

  2. aih…penasaraaannnn
    dari yang aku tangkap sih,ikha bukan manusia ya ??? *sotoy*
    bacanya lagi ga konsen sih,makanya jadi rada ga nyambung gitu..hehe
    eonni aku tunggu chapter1 nyaaa~~

  3. .wahhh ..
    .terLaLu banyak yg tersirat ..
    .Foto ? MeLakukan x Lgi ? Knf mesti jLan msing” ? Bingung ..
    .cieee .. Yg udch jdi PRIA BAIK-BAIK ..
    .Yakin ? Aq egk tuh .. Kkk~
    .d tunggu next .. Annyeong !!!

  4. Inhale~ exhale fuuuuuu~~~~
    huwaaaaaaaaaaa entah kenapa gue megap-megap sendirian bacanya. prologue nya aja udah begini. gimana cerita lengkapnya. mereka ceritanya ketuker gitu yah jiwanya? ah gue suka posternya! keren!
    ps: ngarep banget lee hyukjae bisa kayak di ff ini /slap

      1. hahahaha gini nih kalo udah lama nggak baca FF :p
        nungguin ajalah. sibuk apa? gue mah masih sibuk… sibuk nyuci, beberes rumah, sibuk ngelonin yesung ahhahahaha XD

      2. kkk~ gile, kesibukan lw yang terakhir mantaf banget. gue udah gak ngelonin eunhyuk lagi men, taemin sama kai suka cemburu soalnya. seneng banget gue digilir tiga pria, eaaaa~ /mimpi siang bolong

      3. BUAHAHAHAHA macam penyanyi dangdut lo, mana brondongan semua lagi. gue mah cukup ecung sama key aja udah

      4. Hahaha tau nih men, keknya efek nonton pilm india sama emak gue jadi begini nih… Haseeek, masa bang yes makin hari bibirnya makin seksi men? Rasanya gue pengen samber aja. MUAHAHAHHAA

      5. hahahaha nonton india langsung di praktekin :p
        iya si ecung makin tua makin jadi. makin genit dia cho.

      6. Gue paling sebel kalo doi udah jaga kasir terus bibirnya dimonyong-monyongin? doi gak tau apa kalo gue bisa aja nikam dia saat itu juga? Hahahha bilangin ma bangyes beb, jangan genit-genit gitu…. (‾(••)‾)

  5. Ka aku baru nyamperin blog kamu *telat
    Eh,tu yakin pake IU?
    Gk rebutan nnti hhhha
    Nunggu 2 bln kah untuk part 1 nya?
    Pkknya di tunggu
    Byk bngt hutang ff kamu ya ka ckckck (⌣́_⌣̀)\(‘́⌣’̀ )

    1. kkk~ pasti sibuk sama kerjaan kan beb? gapapa ko dimaklumin, kecuali kalo kamu sibuk ngegoda laki gue, baru gue sikaaaaaattt ( ̄へ ̄)==( ̄へ ̄)==
      Hahaha, gapapa doi cuma pemanas situasi aja. Yohi nih beb, gara” banyak FF yang aku munculin jadi utangnya makin banyak. Zzzz~ salah sendiri nih. huh!!

      1. Ia ka senasip sih kita kuliah sambil kerja 😐
        Eitss, gw msh setia sama yesung ka,gk bakal pindah kelain hati lah soalnya si abg makin seksi klo lg jaga kasir hhhha
        O..bgs deh ka,soalnya klo liat IU skrg ingat fotonya sama suami kamu -__-v…
        Ia sih,tp kamu kan author handal pasti bisa di siapin 🙂
        Pkknya yg penting skrg kamu jaga kesehatan!!!!
        Ok cinta :*

      2. hahahaha tau tuh yak si bang yes masa bibirnya makin seksi ka? aku mah paling suka liat potonya doi terus bibirnya di zoom sampe full. Sempet kaget cz ketauan hyukjae lagi curi pandang. Gak jadi deh ka sneak peak ma bang yes. hahhhaa ƪ(‾(••)‾)ʃƪ(‾(••)‾)ʃ
        SIAP KOMANDAN!! makasih ya ka.. Huaaaa *lari kepelukan ika kasih cium yang banyak*

      3. Tuhkan jd ketauan kamu,makin seksi kan krn aku juga yg ngerawat buahahaha *ditendang ika
        memang ka udh 2 minggu ini doi asik mainin lidah sama bibirnya itu aja, supaya apa coba supaya, kan makin cinta sama doi hhhe 😀
        makanya kamu itu jgn suka lirik” ahh, udh brp kali coba kamu ngelirik pria” seksi diluar sana sampek yg tua juga kamu lirik *shinhwa 😀

        iya sayang, kan aku sayang sama kamu *bales peluk cipika cipiki*

      4. WHAT? /beneran tendang ika ╰(◣﹏◢)╯
        hahaha itu dia ka, doi gak tau apa kalo gue paling gak tahan liat begituan. Jangankan yesung, semua yang jadi member suju dengan senang hati gue cobain satu-satu 😮
        itu yang shinhwa gak sengaja beb, abis dompetnya tebel, eaaa~

  6. ah sedikit mulai ngerti *mungkin* jalan ceritanya pas ada kata ‘kuil’. secara pas pertama masih aneh. secara prolog ._.
    mungkin mereka disulap(?), ato ada sihir(?) yg ngubah mereka di kuil itu pas ada festival apa tadi ? lupa -_-v *ini readers bego* yah seperti itulah khayalan absurd saya ~.~
    dan eonni berhasil bikin saya berfikiran aneh dan penasaran ;;; jadi pengen cepet2 liat part 1nya >,<9

  7. uwoooo … akhirnya saya baca loooo …
    wkwkwkkwk …
    setelah terpuaskan dgn stepforward …
    mari kita ke step berikutnya yaituuuu
    ‘berbuahhh’ eehh ‘berubahhhh’

    ya gitu deh .. masih gak mudeng .. hehe
    itu hyukjae makhluk halus ya???
    saya sih nangkepnya gitu .. hihihi

    makasih ya udah buat penasaran …

    oiya paketan kolor hyuk udah sampe belum? lemparannya kemarin aku kembaliin

  8. prolog’a bkin otak jdi tebak”an ^^
    mgkin mereka kena mantra apa gito yg bsa bertukar jiwa saat pas dateng ke kuil wktu ada festival ???
    haha *fantasy amat*
    dtunggu klanjutn’a onn FIGHTING ^^

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s