WHEN THE WORLD TURNED BLACK “Prologue”

Preview

JEAN MENATAP PRIA DI HADAPANNYA DENGAN MATA cokelatnya yang meresahkan. Napasnya memburu sementara tubuhnya tidak bergerak seperti orang mati. Ia menangkupkan satu tangannya di dada. Rasa ngilu pada tulang rusuknya cukup menjelaskan bahwa salah satu organ tubuhnya itu telah bergeser dari tempatnya.

Gadis itu masih terkapar kaku di antara puing-puing reruntuhan. Bahkan ia nyaris terjatuh saat mencoba untuk berdiri. Kini, bukan hanya pria bertubuh kurus itu saja yang menjadi musuhnya, melainkan rasa sakit yang menggeletar di sekujur tubuhnya.

Si pria menatap Jean dengan ketajaman yang telah ia tunjukan sejak pertama kali mata keduanya saling bertemu. Ia sama sekali tidak menunjukan kepeduliannya. Justru aura kuat yang memancar dari tubuhnya membuat pria itu semakin nampak menyeramkan. Tak ada belas kasihan. Begitulah yang dirasakannya.

Neo… (Kau…)” Mata pria itu mengilat-ngilat merah, menatap Ikha tanpa rasa iba. “Jika kau berani menghalangiku, maka kau akan berakhir seperti pria itu.”

Suara si pria terdengar menggeram. Menggetarkan udara hampa di sekelilingnya.

Jean berpaling dari si pria lantas memerhatikan seseorang di kejauhan melalui sudut matanya. Seandainya ia tidak melibatkan Minho, mungkin pria jangkung itu masih bersama Onew di tempat persembunyian—bukannya terkulai  tak berdaya bersama lebam yang menghiasi wajah mulusnya.

Sekali lagi, Jean mencoba untuk berdiri. Dibantu sebilah kayu, gadis itu kemudian mengangkat tubuh mungilnya sekuat yang ia mampu. Giginya bergemeretak menahan amarah. Ia ingin segera mencengkeram leher pria itu lalu mencekiknya tanpa ampun.

“Dengar, Lee Taemin. Kau akan membayar semua yang telah kau lakukan padaku.” Jean mengusap bercak darah pada salah satu sudut bibirnya. Suaranya mungkin terdengar parau namun cukup membuat pria kurus bernama Lee Taemin itu menyeringai—meremehkan.

Entah apa yang merasuki pria yang dikenal sebagai teman sekaligus tetangga baiknya itu saat ini. Satu yang tak dapat ia tolerir: Lee Taemin telah melempar tubuhnya menggunakan kedua tangannya sendiri hingga bertubrukan dengan tumpukan bebatuan dan membuat buku-buku tulangnya meremuk.

Masih dengan tubuh tegap serta tatapan mencemoohnya, Lee Taemin berdecak seraya menyeringai. “Lalu apa yang akan kau lakukan, Jennifer? Menghentikanku?” tanyanya.

Seiring perkataan Taemin, suara gemuruh di tengah awan hitam pekat yang menyelubungi seluruh dunia itu menggelegar.

Langit seolah memberi Cho sebuah tatapan tolol. Sama halnya seperti tatapan yang Taemin berikan padanya.

“Serahkan buku sialan itu padaku dan aku tidak akan melukaimu,” tawar Jean. Ia sadar, apa yang diucapkannya benar-benar nonsense belaka. Namun hanya itu satu-satunya cara untuk menggertak Taemin.

Baru saja gadis itu mengedipkan mata, seketika ia merasakan sesuatu mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga jatuh berdebam di atas tanah. Ia berusaha membulatkan mata meski jeratan di lehernya membuat pandangan gadis berparas oriental itu berubah suram.

Hanya dengan satu tangan, Taemin berhasil membuat Jean tak berkutik. Gadis itu kini nampak seperti seekor ikan yang terlepas ke daratan. Kekangan tangan Taemin di lehernya membuat si gadis harus berusaha sekuat tenaga untuk melepasnya dan bernapas.

Pria yang tak memiliki rasa takut itu terkekeh. Kuku-kuku jemarinya semakin menyesak menusuk leher Jean. Sedangkan si gadis memukul-mukul; menendang; mencakarnya—meski hanya kata nihil yang didapat.

“Menggertak bukanlah sesuatu hal yang buruk, Jean. Setidaknya jika kau menggertak pada orang yang tepat,” ujar Taemin, berbisik di telinganya.

Taemin memberi jeda sejenak untuk menatap wajahnya. Wajah gadis yang menjadi alasan akan segala perubahan yang terjadi padanya.

Sesuai dugaannya, Jean sedang mencoba menusuk pupil Taemin dengan tatapan penuh kebenciannya. Sedangkan di satu sisi, gadis itu terus meringkih, Pasokan oksigennya mulai menipis dan Taemin sama sekali tidak memberinya kesempatan.

“Aku menyukai kekuatan ini. Dia membantuku melenyapkan Jonghyun—Minho dan Onew mungkin target selanjutnya. Dan kau… kau akan segera menyusul kekasihmu tercinta, Jean. Sesuai keinginanmu,” ucap Taemin.

Tangannya semakin menekan tubuh Jean ke atas tanah, membuat gadis itu semakin kesulitan bernapas.

“Apa—akh… apa kau yakin… akan membunuhku?” tanyanya, terbata. Ia masih berusaha melepas jeratan Taemin karena ia benar-benar sudah tak dapat menahannya lebih jauh.

Seringaian Taemin yang semula menggelantung di bibirnya berubah datar. Dagunya merengut. Nyatanya kalimat sederhana yang Jean ucapkan justru menikamnya hingga ke dasar hati.

Sekelebat memori yang pernah ia ciptakan bergantian menyala melewati lensa matanya. Ke semua memori tersebut hanya menampilkan video-video kebersamaannya bersama Jean. Gadis yang baginya hanyalah masa depan yang tak akan pernah tergenggam di tangannya.

Jeratan tangan Taemin pada leher Jean sempat melemah. Namun ketika ia mendengar bisikan-bisikan di telinganya, kedua mata Taemin kembali menyala merah. Terdengar bunyi rintihan meluncur dari bibir Ikha dan hal itu justru membuat Taemin semakin meremas tulang lehernya.

Merasa bahwa ia tak memiliki kesempatan, urat serta sendi Jean melemah dengan sendirinya. Bibirnya bergerak melukis sebuah senyum yang tak begitu kentara. Mungkin inilah pada akhirnya.

“Tae—Taemin-ah…”

Taemin sama sekali tak menyahut saat gadis itu menyebut namanya. Ia masih terus membuat gadis yang biasa dipanggil noona olehnya itu kehilangan harapan.

Jean kembali tersenyum. Senyum ketir di antara bibirnya yang mulai membiru. “GeuraeGeunyang hae… (Baiklah, lakukan saja). Jika itu… membuatmu puas,” ucapnya, berusaha mengucapkan kata-kata tersebut sejelas mungkin.

Salah satu tangan Jean bergerak lemah, meraih sisi wajah Taemin kemudian mengusapnya perlahan. Wajah pria itu masih sama halusnya sebelum ia berubah fatal. Hanya tirus di sekitar tulang pipinya yang membuat wajahnya kelabu.

Taemin menelusuri wajah Jean yang mulai membiru. Membayangkan gadis itu menghembuskan napas terakhirnya justru menggelitik sanubarinya.

Tangan namja itu mendadak bergetar hebat. Keinginan dan kemauannya tidak berjalan seimbang. Ada kepuasan tersendiri saat ia melihat Ikha menderita, tapi penderitaan yang ia buat tidak akan ia langkahi hingga batas kematian.

Taemin bergerak menjauh. Dari kejauhan, ia melihat Ikha membeku di tempatnya. Ia tak tahu apakah yeoja itu benar-benar telah mati atau belum. Yang jelas, ada hal lain yang harus ia perangi saat ini.

Suara-suara yang mengiang di otaknya terus mengusik pikiran Taemin. Namja itu melolong, menabrak dan menjatuhkan tubuhnya kian kemari untuk menghilangkan suara aneh yang selalu merasukinya.

Andwae… ANDWAE!!!” pekik Taemin sambil meremas rambutnya tak karuan.

Namja berambut blonde tersebut kemudian bersimpuh di atas tanah dengan kedua lutut yang menyangga tubuhnya. Ia melirik ke arah Ikha yang mungkin sudah tak bernyawa.

Rasa sakit itu lantas menyodok-nyodok mental dan fisiknya.

Tidak.

Cara yang ia lakukan benar-benar salah. Bagaimana mungkin ia membunuh orang yang begitu dicintainya dengan tangannya sendiri?

“BERHENTI MENGGANGGU PIKIRANKU!!!” teriak Taemin. Wajahnya menengadah, menatap langit yang semakin menghitam.

Napasnya memburu. Peluhnya pun bercucuran.

Tanpa mempedulikan bisikan-bisikan yang terus mengiang di telinganya, Taemin berjalan mendekati Minho yang juga tak sadarkan diri. Ia mencari-cari sesuatu. Benda yang dapat menghentikan bisikan bodoh tersebut.

Setelah mengambil belati Minho yang terselip diantara pakaiannya, Taemin mengarahkan benda tajam tersebut ke arah tubuhnya sendiri. Sesekali ia menutup telinga dan mengaduh. Sayang, bisikan tersebut tak dapat menghentikannya. Ia sudah bertekad.

“Taemin-ah…”

Sahutan seseorang disampingnya membuat Taemin menoleh. Disana, tak jauh darinya, ia melihat Ikha tengah menjulurkan tangan ke arahnya.

Taemin tersenyum. Senyum yang baru ia bagi pada Ikha sejak terakhir kali mereka bertemu. Ia bersyukur, karena Tuhan telah mengembalikan nyawa yeoja tersebut.

Sayangnya tawa Taemin tidak berlangsung lama. Belati Minho yang dipegangnya telah lebih dulu menembus jantungnya. Sebelum namja itu terjatuh, ia sempet mendengar suara teriakan Ikha mendengung di telinganya.

“LEE TAEMIN!” teriak Ikha. Ia menyeret tubuhnya yang masih lemah tersebut untuk meraih Taemin.

Saat Ikha berhasil meraihnya, namja itu lagi-lagi hanya tersenyum. Keputusannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri mungkin memang jalan yang terbaik.

Mianhae,” bisiknya lirih. Perlahan, kelopak mata Taemin kian padam. Darah segar dari tusukan tersebut terus mengalir membanjiri tubuhnya.

Ikha berbisik memanggil nama Taemin berkali-kali. Berharap bahwa namja ini hanya sedang membodohinya saja—sama seperti yang pernah ia lakukan saat pesta Halloween tahun lalu. Sayangnya, tidak. Taemin sudah tiada. Dan itu terbukti saat Ikha tak dapat mendeteksi tanda-tanda kehidupannya.

Seiring kesadaran Taemin yang mulai memudar, muncul lah kepulan asap hitam pekat dari sekujur tubuh namja tersebut. Asap itu mengepul, terbang di udara dan bergumul menjadi satu.

Lama kelamaan, asap itu membentuk sesosok manusia. Seorang namja, dengan bola mata hitam pekat serta sepasang taring yang menyerupai kucing. Ia merentangkan tangan kemudian menghirup udara sebanyak yang ia mampu.

Sambil mendekap tubuh Taemin, Ikha memperhatikan namja tersebut hingga bulu alisnya berderet membentuk untaian tali. Sejauh ini kedua matanya masih bekerja dengan baik, tapi apakah benar bahwa namja ‘gothic’ itu terbuat dari kepulan asap yang menguap dari tubuh Taemin?

Saat Ikha masih bergumul dalam hati, ia terkesiap begitu namja itu kini tertuju padanya.

Yeoja itu semakin mengeratkan tubuh Taemin dalam dekapannya. Pertanyaannya adalah: mengapa aura namja itu penuh dengan aura yang sama dengan Taemin? Apa yang sebenarnya terjadi?

…and the story begins…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

68 thoughts on “WHEN THE WORLD TURNED BLACK “Prologue””

  1. My Bias in SHINee!!!
    LEE TAEMIN!!!

    Daebak eon!
    Daebak!
    Aku tunggu part 1nya! :D:D:D

    Lagi-lagi aku telat baca FF-FF disini u,u
    Yah, aku baru sempet liat FF-FF eonn sekarang soalnya ._.v

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s