MERMAID (Chapter 02)

BANGUNAN MEGAH TERSEBUT NAMPAK SEPERTI MAHKOTA dari kejauhan. Penggunaan aerosilika pada tiap jendela besar semakin menambah kesan mahkota itu lebih hidup. Ketika sinar matahari menerpanya, pantulan cahaya membuat istana yang dihuni para seiryuu berkilauan seperti berlian.

Sayangnya, tak ada yang dapat melihat keindahan istana tersebut kala malam menyelubungi. Dua tiang besar di tiap sisi pintu gerbang utama—terbuat dari empat bilah besi berlapis kuningan yang saling menyilang dan menyangga mangkuk besar dengan api yang menyala-nyala di dalamnya—menjadi alat penerang di sana.

Pada tepi beranda, wanita dengan rambut hitam menjuntai di balik punggungnya tengah mencoba menghitung titik-titik cahaya yang berasal dari rumah-rumah penduduk di bawah kantung matanya. Sepasang mata besar dengan eyelid tegasnya itu menyipit. Ia memutuskan untuk menyerah. Ternyata kegiatan yang ia lakukan selama hampir separuh waktu itu telah membuat matanya lelah.

Sambil berpegangan pada pembatas beranda, wanita itu menunduk menjulurkan kepala. Di tengah pencahayaan yang begitu buruk, ia melihat sebuah kereta kuda bergerak menuju jembatan yang terhubung dari pintu utama istana hingga ke sisi sungai. Wanita itu menjulur semakin jauh hingga kedua kakinya bertumpu pada ibu jari. Kepalanya mendadak linglung dan keseimbangannya goyah. Terhisap kuat oleh gravitasi bumi, kedua kakinya serasa tak menapaki lantai.

Membayangan tubuhnya hancur dari ketinggian itu membuatnya memekik. Hingga sepasang tangan kekar berhasil mengunci dan membawa tubuhnya kembali memijak lantai. Dadanya bergerak naik-turun. Kalut dengan bayangan yang muncul di benaknya akibat kecerobohan kecil yang ia buat.

“Hanya karena tak bertemu Hyukjae, kau memutuskan untuk bunuh diri?” ejek seorang pria dengan pakaian kerajaan yang masih melekat di tubuhnya.

Sepasang pupilnya menyala merah, terarah telak pada Leeteuk yang berdiri kokoh di sampingnya. Sabina memutuskan untuk menahan diri. Setidaknya hal itu menjadi bentuk rasa terima kasih atas pertolongan Leeteuk terhadapnya.

“Aku melakukan hal itu karena terlalu bosan menunggumu,” balas Sabina, mencibir.

Si pria terkekeh. “Matamu terus saja menyorotkan kekecewaan di tengah acara makan malam barusan,” ucap Leeteuk kemudian duduk pada salah satu kursi di sana.

Sabina melirik tajam. Ia menyandarkan tubuhnya pada pembatas beranda. Sebenarnya ia tidak begitu mengharapkan kehadiran Hyukjae. Hanya saja, pria itu pantas untuk mendapatkan penghargaan atas keselamatan yang diperolehnya.

“Jadi, apa yang membuatmu bisa terdampar di azure?” Pertanyaan retoris dari Leeteuk menegunkan Sabina. Sangat tiba-tiba dan tanpa basa-basi.

Kepalanya menunduk, memperhatikan gerakan kesepuluh jemari kakinya yang merespon atas percikan air terjun yang menghujaninya. “Aku belum sepenuhnya yakin untuk menceritakan apa yang telah menimpaku beberapa waktu lalu,” ia berbisik.

“Kalau begitu perbincangan kita cukup sampai di sini saja, Sabina.” Leeteuk perlahan berdiri, beringsut dari tempatnya.

“Kata-kataku barusan bukan berarti bahwa aku tidak mempercayaimu, Leeteuk-ssi.” Sergahnya, berharap pria itu tak membuat perbincangan mereka berakhir hanya dalam waktu semenit saja.

“Lantas?”

Sabina berdiri tegak. Meluruskan kedua kakinya yang mulai bergetar. Sekali pun ia bertelanjang kaki, wanita itu ternyata masih harus membiasakan diri menggunakan sepasang kaki manusianya. “Terlalu rumit dan—”

Leeteuk melepas jubah putih tulangnya seraya berucap, “Sebaiknya kau istirahat. Kita bisa berbincang lain kali.” Kemudian ia melayangkan senyum tipisnya pada Sabina sebelum benar-benar meninggalkan tempat tersebut.

Vermillion!

Kening Sabina mengerut. Sambil menggigit bibirnya, ia terpejam. Setelah menimang dalam sepersekian detik saja, ia memutuskan untuk mengucapkan satu kata sakral tersebut. Ia sengaja memekik, tak ingin terkalahkan oleh bunyi deru air terjun yang bergemuruh di kedua sisi istana.

“Tempatku diserang oleh sekelompok vermillion.” Nada suaranya menurun dua oktaf.

Langkah Leeteuk terhenti sebelum mencapai daun pintu. Tubuhnya berputar. Tatapan matanya menembus pupil Sabina yang kini berubah violet, mencari sebuah keyakinan yang terpancar di sana.

“Guyonanmu tidak lucu, Sabina-ssi.” Ia berusaha menyangkal.

“Aku belum menceritakan semuanya dan kau menyebutnya sebagai guyonan. Inilah yang membuatku tak yakin untuk mengatakannya padamu,” jelas Sabina.

Ia melihat Leeteuk membeku di tempat. Sepasang mata pria itu menerawang. Alisnya mengerut dan tak melakukan pergerakan sekecil apa pun.

“Aku tak tahu apa yang mereka cari di laut gorgóna. Karena sebelum penyerangan itu terjadi, spesies kami sempat menghilang satu per satu tanpa jejak.”

Sementara itu Leeteuk masih mencerna kata-katanya, ia melangkah mengurangi jarak di antara mereka.

“Aku tak tahu apakah masih ada yang tersisa. Yang jelas, aku tak pernah berharap akan selamat dari penyerangan itu. Hingga akhirnya seorang seiryuu pemilik pegasus itu menemukanku.”

Ia menunggu reaksi Leeteuk.

“Kau menyelipkan kata penyerangan di antara kalimatmu barusan,” ulang Leeteuk meyakinkan pendengarannya sendiri.

“Ya, penyerangan.”

“Sebelum makan malam berlangsung, aku sempat bertemu Suho dan Kris. Mereka sama sekali tidak membahas sesuatu yang bersangkutan dengan penyerangan yang kau sebutkan.”

Seperti tersumbat biji almond, Sabina tak dapat berkumandang atau sekedar bernapas. Nama-nama yang Leeteuk sebutkan berhasil mengurungnya dalam kebisuan. Tubuhnya menegang. Aliran darahnya seolah terhenti mengaliri sekujur organnya.

“Karena mereka tidak peduli,” ucap Sabina menggumam. Ia menunduk. Memburu keberaniannya sendiri yang sempat hilang. Syaraf motoriknya tak mampu bekerja dengan sempurna.

Leeteuk bergerak, membenahi letak tubuhnya agar sejajar dengan Sabina. “Apa kau yakin dengan apa yang kau lihat—menyangkut vermillion itu?” tanyanya, kembali meyakinkan.

Wajah ovalnya mengangguk cepat.

Leeteuk kemudian tersenyum kecut.

“Apa kau memiliki hubungan khusus dengan salah satu vermillion itu dan kau meragukan ucapanku?” Keraguan Sabina menguap, menyoroti Leeteuk dengan tatapan penuh kecewa.

“Tidak. Tentu saja tidak,” pria itu mengoreksi.

Keduanya terdiam, membiarkan suara air terjun menelungkupi sekeliling mereka.

“Aku masih belum dapat menangkap inti dari pembicaraanmu, Sabina-ssi.” Leeteuk berkata, bermaksud untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba membentuk sebuah dinding tebal di antara mereka.

Sabina mendengus. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian. “Karena satu alasan, Leeteuk-ssi. Penghuni gorgóna dan para genbu tidak memiliki hubungan yang cukup baik. Meski kami bagian dari wilayah utara, mereka seolah melepas kami begitu saja,” ungkapnya.

“Maksudmu, saat penyerangan itu terjadi mereka seolah menutup kabar itu dari publik?” selidik Leeteuk.

“Itu hanya spekulasi sementara yang mengiang di otakku,” jawab Sabina. Ia berbalik berjalan ke tepian beranda.

“Bukankah mermaid di sana dipimpin oleh seorang ratu?” Leeteuk pada akhirnya mendekat.

“Ratu Mary hanya sebuah simbol. Ia masih sama dengan mermaid lain. Berbeda denganku dan Sviesa—ia tertangkap dan aku tak tahu bagaimana nasibnya sekarang.”

Wanita itu menunduk. Mengingat Sviesa sama saja dengan menggali mimpi buruk yang mencokol benaknya. Bayangan busur vermillion yang mengacak-acak habitatnya telah merusak semua hal terindah yang ia miliki.

“Apa ada sesuatu yang berharga—yang disimpan oleh spesiesmu?” tanya Leeteuk, bersikap hati-hati di tengah penyelidikannya.

Sabina menggeleng lemah. “Tidak. Kami tidak memiliki apa pun yang bisa dijadikan barang untuk ditukar atau pun sesuatu yang dapat digantikan dengan puluhan batang emas.”

“Jika kalian tidak menyimpan barang pusaka atau semacamnya, mereka seharusnya mengincar mermaid kami yang menyimpan p’rizt untuk dijadikan koleksi perhiasan mereka.” Leeteuk memagut dahu. Bibirnya mengerucut dan keningnya mengerut—memikirkan hal yang terlalu mudah untuk dijadikan sebuah kesimpulan.

“Itulah yang menjadi pergunjinganku sejak tadi, Leeteuk-ssi. Mereka tidak mengincar benda apa pun kecuali makhluk-makhluk yang menghuni seisi samudera di sana. Oh, tidak! Mereka hanya menyerang kami. Mereka hanya menyerang kami!” Sabina mencengkeram lengan kekar Leeteuk mengingat bagaimana kilatan-kilatan emas itu menangkap teman-teman dan keluarganya.

“Bagaimana kau bisa lolos?” Leeteuk menggenggam tangan Sabina yang masih bertengger pada lengannya.

Bibir Sabina bergetar. “Aku memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh sebangsaku. Dan kekuatan itu tak akan nampak jika aku berubah menjadi sepertimu,” kemudian ia menelungkupkan telapak tangan untuk menyembunyikan wajahnya.

Leeteuk membisu. Sengaja ia membiarkan kuku-kuku Sabina menyesak kulitnya.

“Diantara spesiesmu, siapa saja yang memiliki kekuatan sepertimu?” Kembali Leeteuk mengajukan pertanyaan.

“Hanya aku dan Sviesa,”

“Siapa itu Sviesa?”

Lagi.

Wanita berparas cantik itu membungkam mulut. Tangannya terkulai, terlepas dari cengkeramannya sendiri. “Kakakku.”

“Lalu apa yang akan kau perbuat selanjutnya?”

“Pertolonganmu,” jawabnya. “Aku membutuh pertolonganmu, Leeteuk-ssi.” Wajahnya yang semula menunduk seketika mendongak. Menatap Leeteuk yang jauh lebih tinggi darinya.

Pria itu tidak langsung mengiyakan.

“Untuk kakakku. Kumohon,” Sabina membungkuk, tertunduk di hadapan Leeteuk—sesuatu yang ia pelajari saat memperhatikan para bajak laut yang melintas di gorgóna.

“Aku akan membantumu,” ucap Leeteuk memberikan sedikit keceriaan di wajah Sabina. “Namun aku akan menyelidiki kebenaran dari semua ucapanmu terlebih dahulu. Kita lihat nanti, apakah kau masih bisa bertemu kembali dengan Sviesa atau tidak.”

Pupil mata Sabina kini dipenuhi cahaya biru laut yang mengilat-ngilat. Bibirnya bergerak, merakit seulas senyum yang mampu membuat Leeteuk terpesona.

“Terima kasih,” ucapnya tulus.

Leeteuk tersenyum. “Meski peraturan istana tidak mengizinkan seiryuu untuk tidur satu kamar dengan wanita, Hyukjae akan kuberi dispensasi malam ini saja hingga kamar lain tersedia untukmu.”

Sabina terkekeh. “Terima kasih, Leeteuk-ssi.”

Pria dengan mahkota berbentuk mawar hitam yang tersemat pada rambut pirangnya tersebut menatap Sabina. Raut wajahnya mendadak sendu kala mengingat bagaimana Hyukjae menemukannya terkapar tak berdaya di antara bebatuan karang.

“Leeteuk-ssi,” sahutnya, kemudian dibalas oleh suara deham dari pemimpin wilayah Timur tersebut. “Bisakah kau menyembunyikan identitasku? Aku tidak ingin keberadaanku terdeteksi oleh para genbu,” pintanya.

Leeteuk menghela napas. “Apa kau memiliki konflik dengan mereka? Kau terlihat tidak begitu nyaman saat aku menyebut nama mereka.”

Urat serta sendi di sekujur tubuh Sabina menegang. “Yang jelas, mereka akan menghambatku untuk menemukan Sviesa.”

Masih berdiri di tempatnya, Leeteuk mengamati Sabina yang kini menunduk sambil meremas jemarinya.

“Cho Ikha,” sahut Leeteuk.

“Apa?” Sabina mengangkat dagu mendengar pria gagah di hadapannya menyebutkan sebuah nama.

“Cho Ikha. Nama itu cukup pantas untukmu. Jadi bertingkahlah seperti manusia lain saat kau berada di tengah publik.” Leeteuk menyeret tubuhnya menjauh dari Sabina setelah yakin bahwa wanita itu mendengar ucapannya.

“Lalu bagaimana dengan seiryuu lain? Mereka mengetahui namaku saat makan malam tadi.”

Langkah Leeteuk terhenti. Ia memutar kepala, menyejajarkan dagu dengan bahunya. “Semua sudah diatur. Istirahatlah. Kita akan bertemu lagi besok—untuk membahas hal ini lebih lanjut.”

Tubuh Sabina yang semula menegang kini berangsur normal. Setiap kata yang Leeteuk ucapkan mengandung aura tersendiri baginya. Menenangkan, menyejukkan, sekaligus menentramkan.

Setelah yakin Leeteuk telah meninggalkannya, Sabina memutar tubuh melawan arah. Ia tidak beranjak menuju tempat peristirahatannya, menatap kerlip lampu-lampu kota utama yang nampak seperti hamparan bintang di angkasa.

Seluruh panca inderanya bergerak aktif. Merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya; mendengar suara-suara lain yang terbenam oleh deru air terjun; bahkan menghirup wangi bebatuan ĉefa yang terkikis.

Ia tidak akan pernah bertemu Leeteuk jika ia tidak membuat keputusan itu.

Ia tidak akan pernah terdampar dengan keadaan hampir mati di pulau azure jika ia tidak membuat keputusan itu.

Ia tidak akan melihat para vermillion menyerang habitat dan membawa Sviesa pergi jika ia tidak membuat keputusan itu.

Dan ia tidak akan membohongi perasaannya sendiri jika ia tidak membuat keputusan itu.

Sabina meringis, meremas ujung gaunnya saat membayangkan seseorang yang ia curigai sebagai dalang dari semua kejadian ini. Ia menunduk, mengamati cincin perak yang masih melingkar manis pada salah satu jemarinya.

“Sebesar itukah kekecewaan yang kau limpahkan padaku, Kai?” bisiknya seraya melepas benda mungil tersebut—menjatuhkannya di antara udara hampa dan mendarat di suatu tempat yang ia sendiri pun tak dapat menebaknya.

-o-

DIA SANGAT MEMPESONA, HYUNG! Kau harus melihatnya!” Henry mengoceh hingga kedua telinga Hyukjae berdengung. Sekali pun Hyukjae sama sekali tak menghentikan langkahnya, Henry tetap mengekorinya tanpa lelah.

“Tidak ada hal yang paling indah di dunia ini selain choco*. Apa kau paham?” tandas Hyukjae, sengaja agar Henry tak melolonginya lagi perihal duyung yang ia temukan pagi tadi.

Di balik punggung Hyukjae, pria termuda itu menggerak-gerakkan bibir—mengejeknya. Baginya, Hyukjae terlalu naif setiap kali dihadapkan dengan topik pretty woman.

“Ah—Henry!” Hyukjae menghentikan langkahnya saat mengingat sesuatu. “Apa yang harus kau lakukan jika nenek sihir itu datang lagi kemari?” tanyanya; lebih tepatnya mengingatkan.

“Menyeretnya ke sungai ghin?” jawabnya asal.

Hyukjae terkekeh lantas mengacungkan ibu jari pada pria berparas imut tersebut.

“Apa dia masih sering mengunjungimu?” selidik Henry sambil menyetarakan langkahnya dengan Hyukjae. Topik ini ternyata masih menarik untuk diperbincangkan.

Pria itu menghembuskan napas berat. “Seharusnya istana ini memiliki alat yang dapat mendeteksi keberadaan makhluk asing.”

Henry merapatkan bibir menahan tawa. “Well, jika aku berada di posisimu, aku akan membiarkan Hyoyeon—“

“Kenapa kau menyebutkan namanya?” Kalimat Hyukjae menginterupsi lidah Henry hingga membuat pria itu menelan kembali ucapannya.

Pria yang terpaut umur empat tahun dengan Hyukjae itu menyeringai kaku; terdiam; kemudian menggeleng cepat. Ia lupa, topik ini sangatlah sensitif bagi Hyukjae. Sebelum Hyukjae melemahkan titik-titik sendinya dan menguburnya hidup-hidup, ia harus meredam amarahnya.

“Kenapa kau tidak suka jika wanita itu ada di sekelilingmu, hyung? Bagaimana pun juga dia adalah mantan kekasih—“

Henry kembali menelan ludah. Jemarinya bergerak menutup garis mulutnya. Tatapan Hyukjae yang mematikan itu ternyata jauh lebih menyeramkan jika dibandingkan kata-kata makiannya. Ia tidak menduga jika seorang pria yang dulunya begitu periang ini berubah serius dan tegas.

“Kau masih mengikutiku?” tanya Hyukjae, nada acuh tak acuhnya memberi kesan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran Henry di sampingnya.

Henry melempar sebuah pukulan di pundak Hyukjae sekeras yang ia mampu kemudian berlari secepat yang ia bisa sebelum Hyukjae menangkapnya. Tawanya menggema di sepanjang lorong istana—tak sadar jika Hyukjae masuk ke dalam ruangannya setelah memaki pria itu tanpa ampun.

Saat tiba di belokan pertama, ia melihat sosok Sabina tengah berjalan dengan ayu menggunakan sepasang stiletto-nya. Henry berdeham; membenahi pakaiannya; merapihkan tata rambut sebisanya; tak lupa mengecek wangi napasnya.

“Sabina Ma—ehm. Cho Ikha!”

Wanita yang dipanggil namanya itu mengangkat dagu. Dari jarak lima meter, ia menemukan Henry tengah tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyanya. Setahunya hanya Leeteuk saja yang mengetahui nama palsunya.

Henry hanya tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk pelipisnya menggunakan ujung telunjuk. “Telepati adalah alat komunikasi terbaik bagi para seiryuu,” ucapnya sembari membusungkan dada—mencoba mengikuti gaya Siwon saat bicara.

“Perlu kuantar?” Henry menawarkan bantuan.

“Tak apa. Terima kasih,” tolak Sabina halus.

“Tidak usah sungkan. Aku—akh!”

Jemari seseorang berhasil mengapit cuping telinganya hingga memerah. Ia menoleh, menemukan Donghae menatapnya tajam. Henry mengaduh, mengeluarkan kata-kata makian yang justru semakin membuat Donghae bereaksi.

“Apa dia mengganggu privasimu?” tanya Donghae pada Sabina.

Wanita itu tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan.

Ya! Hyung! Aku hanya menanyakan beberapa hal! Aish!” Henry mengaduh. Donghae bisa saja membuat telinganya berubah seperti telinga kerdil.

Tidak berperikemanusiaan, begitulah Henry memaki.

“Jika dia mengganggumu lagi, beritahu aku.”

Tanpa melepaskan Henry, Donghae membungkuk sopan seraya meninggalkan Sabina.

Ia tersenyum. Kali ini bukan karena Henry, melainkan karena Donghae. Satu lagi pria tampan dan berwibawa yang ia kenali selain Leeteuk. Ia tidak banyak bicara saat makan malam berlangsung, berbeda dengan Yesung dan Henry.

Hanya memerlukan satu menit saja bagi Sabina untuk mencapai ruangan yang ditujunya. Ia terkesiap menemukan Hyukjae telah berada di ruangannya.

“Aku tidak salah masuk ruangan bukan?” tanyanya kaku.

Hyukjae menoleh. Gerakan jemarinya menyuruh Sabina untuk menutup pintu yang masih terbuka. Ia menurut, tak banyak menuntut. Ruangan itu kini kembali seperti sedia kala. Tak ada genangan air dan sisa-sisa makan siangnya. Tub besar diletakkan dekat pintu, jauh dari tempat tidur Hyukjae yang nampak nyaman di sudut kamar.

“Kudengar kau bergabung bersama seiryuu lain malam ini.”

Untuk pertama kalinya pria itu menatap lurus pada sepasang mata violetnya. Sabina menyelipkan sejumput rambut di balik telinganya. Keadaan ini sungguh memuakkan. Bukan ini yang ia harapkan saat bertemu penyelamatnya.

“Sangat disayangkan kau tidak hadir saat acara makan malam,” ucap Sabina. Ia berpaling, berjalan ke arah kursi berlapis spons abu-abu di dekat jendela.

“Setidaknya kau mendapat sambutan yang baik dari para seiryuu.”

“Aku akan menganggap hal itu sebagai sebuah pujian,” tutur Sabina.

Ia mendapati Hyukjae tersenyum—atau lebih tepatnya mendengus. Pria itu berjalan menuju sisi lain dari ruangan. Hanya beberapa detik saja dan ia kembali dengan pakaiannya yang lebih sederhana.

“Sampai kau menemukan tujuanmu yang sesungguhnya, aku akan tetap mengawasimu Cho Ikha.”

“Dan kuanggap hal itu sebagai sebuah kehormatan—bukan peringatan,” balas Sabina, tenang.

Hyukjae tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum.

“Kau tetap akan bersembunyi di sini menggunakan nama itu?” tanya Hyukjae. Sikapnya kini lebih baik—meski ia tetap menghindari kontak mata.

“Setidaknya cara itu lebih baik daripada berkeliaran di luar sana,” jawab Sabina.

Ia mengamati Hyukjae. Pria itu bersandar pada patung pria tua. Gelas anggur di tangannya bergerak perlahan. Sesekali ia menghirup wanginya sebelum meneguk cairan merah pekat tersebut. “Aku sangat tak yakin jika kau memilih untuk bersemayam di dalam tub itu malam ini,” Hyukjae menunjuk ke arah wadah besar di hadapannya.

“Tempat ini jauh lebih baik dari tepian pantai altemoz.”

“Kenapa kau selalu berdalih, Cho Ikha?” Nada suara Hyukjae meninggi. Ia merasa terkalahkan oleh setiap kalimat yang Sabina lontarkan padanya.

Selama beberapa saat, keheningan menyesap di antara keduanya. Melihat wanita itu duduk kaku, desah panjang dari mulut Hyukjae pun terdengar seperti lenguhan kerbau.

“Namamu?” tanya Hyukjae, pada akhirnya.

“Sabina… Mara,” jawabnya enggan.

“Nama itu jauh lebih baik dibanding Cho Ikha,” Hyukjae menyeringai. “Leeteuk memberimu nama yang buruk.”

Sabina beringsut dari tempatnya sembari menahan tawa. “Lebih baik kita lanjutkan perbincangan ini esok hari. Kau nampak lelah dan percakapan ini sesungguhnya membuatku canggung.”

Hyukjae sama sekali tidak memberi respon.

“Bagiku kau tetaplah penyelamatku. Jadi aku akan menghargai setiap ucapanmu—yang menyiratkan seolah-olah aku adalah seseorang yang sedang memata-mataimu. Tujuanku hanyalah untuk menemukan Sviesa dan menyelamatkan habitatku. Tak lebih dari itu.”

Rambut Sabina bergerak mengikuti ayunan tubuhnya. Duduk di tepian tub, ia membenamkan sebagian jemarinya ke dalam air. Perubahan kulitnya ketika menyentuh air tersebut membuat Sabina sendiri pun takjub.

“Kau tak akan tidur di sana,” sergahan seseorang di sampingnya membuat Sabina tertegun.

Hyukjae meraih lengannya. Kasar, ia menyeret Sabina menuju tempat tidur kebanggaannya dan memaksa wanita itu untuk duduk. Wajah si gadis yang dipenuhi garis-garis kebingungan membuatnya nampak bodoh. Namun kali ini ia benar-benar sedang bingung.

“Kuputuskan untuk tinggal di ruangan Donghae jadi kupersilahkan kau untuk menikmati selimutku malam ini. Jangan menyentuh benda apa pun atau kau tak akan kuampuni jika esok hari ruangan ini berubah menjadi pasar malam. Mengerti?” Ia menenggak habis anggurnya, menciptakan bunyi derit dari kaki gelas dan permukaan meja.

Meski gadis itu terlihat tenang, Hyukjae tahu bahwa tubuh Sabina menegang. Mungkin ada yang salah dari sikapnya karena itu ia memilih untuk menatap langit-langit. Dihelanya udara malam yang berhembus dari sela jendela. Kadang hal itu membantunya untuk mengendalikan emosi.

“Jika Leeteuk mengetahui kebohonganmu, aku tak akan mengampunimu Sabina.” Suara Hyukjae kini terdengar lembut, mengingatkannya pada taqidus* yang selalu memperdaya mangsanya oleh perubahan taring di gigi.

Ia beranjak, menantang Hyukjae dengan menatapnya sekalipun ia harus mendongak. “Leeteuk nyaris mengetahui segalanya saat ia menyentuhku—jika saja aku tidak melindungi pikiranku sendiri. Ia tak akan menahanku di sini bersamamu, jika ia mengetahui kebohonganku,” ucapnya berbisik tepat di hadapan Hyukjae.

Pria itu melangkah mundur. Wangi rumput laut dari helai rambut Sabina tiba-tiba membuatnya pusing. Entahlah, mungkin anggur yang melakukannya—bukan si duyung. “Kita lihat saja nanti,” gumamnya seraya meninggalkan Sabina.

 

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

90 thoughts on “MERMAID (Chapter 02)”

  1. Hhhhuuuwwwaa. . .ternyata eonni publish lg ff. . kirain bkal hiatus lama. . tpi ternyata akhirnya. . yeeeii!!!!
    sbenernya wkt d awal aq msh agak bingung ceritanya, mungkin efek kelamaan kali ya *d gampar eonni*
    tpi setelah bca ke tengah aq mulai ngerti *dasar lola -,-* dan scene wkt eunhyuk ma cho ikha. . akhh. . keren!!!
    dan apa sbenernya hubungannya ama kai? pacar ikha ya?
    eh, eonn maksudnya tube itu kayak bathup bukan sich?*mian, bnyak nanya*
    belum bca step forward. . nyicil dlu akh. .
    bubaiii eon. .

    1. iyap, tube itu tempat mandi itu. abis onn rada bingung mau nyebutnya apa, hahaha /plak
      Hmm, kasih tau gak yaaa kalo Ikha sama Kai ada affair? kkk~ nanti aja liat next part-nya ya saeng. makasih loh udah comment disini^^

  2. Habis dari part 1.. ^_^.)
    saya rasa Author rada keburu di part yang ini..
    tapi suka sama Si Sabina yang bikin para oppa cakep ngiler..
    tapi knapa Siwon ndak tertarik.?
    Hyuk aja sampe kelimpungan.. ^_^.)
    Author..
    saya suka banget alur ceritanya..
    saya tunggu kelanjutannya.. ^_^.)

    1. Kalo dibilang keburu… mmm, sedikit…^^ lagi banyak yg mesti di urus jadi aku paksain publish aja 😀
      Kkk~ makasih ya buat komennya.. Siwon? Doi mah sukanya ma saya aja Rhu, gak boleh sama sabina. hahaha~ /evil

  3. hoaaaaa……….
    aku ketinggalan..
    hoaammm..
    tapi gak papa deh..
    akhirnya folder “Mermaid_keren lum fin” aku ketambahan 1 part lagi..
    hihihihi..
    chapter ini aa’ Hyukkie dikit amat nongolnya…
    n si Ika…
    aigooo…
    ati2 neng! jangan ngelepas baju sembarangan. pamali..
    hahahha…
    overall bagus eonni part ini.
    next part jangan lama-lama yah!
    *maksaaa

    with love
    Kania Watson

    1. Kamu ganti nickname lagi Saeng? Aigoo~ *lempar kolor eunhyuk*
      Kkk~ baru sempet dilanjutin soalnya Saeng. Makasih ya buat komennya~^^ nanti ditunggu aja next chapt-nya oke *wink*

      1. ahahahaha….
        jangan kolor dong ih…..

        namaku yang ini luchu khann??? hohohohohoho..
        le;anjutannya so pasti di tunggu eon..
        cemungudh eahh buatnya.
        panjangan dikit okeii (banyak juga gak papa) ^^
        xixixi

  4. yaiy akhirnya ad juga epep’a bang hyuk 🙂
    eonni bagus bgt ceritanya ^^, aq suka aq suka, biarpun rada2 ga ngerti :D. maaf ya eon aq cuman komen di part 2, aq blm smpet bca yg part 1 -_- aq lagi sibuk eon soalnya mw ulangan umum *gaknanya* hehehe 😀
    aq suka karakter’a hyuk oppa dsni, keren2 gimana gitu, terus itu kenapa isi kai segala? jangan2 dy mantan’a ikha, hihihi
    si bang hyuk pake ngeliatin lg pas ikha nglepasin baju’a -_-
    next chap’a aq tunggu ya eon 😀 hwaiting!!!

    1. Agak ribet ya Saeng bahasanya? Hehe, tar aq sederhanain lagi ko^^
      Yaudah cemumudh sama ulangan umumnya yaa, masih sempet” aja visit kesini. Yaudah fighting juga ya buat kamuuu 😀

  5. To be continued,,,
    Aaaaaaaccchhhh, akhirnya! Lega klo udh baca ff mu kha_ya!!!! Tp gw agak2 lupa part 1nya, jd rus balik baca dulu deh, kkkkk! Gw suka kata2 Hyuk ” nama itu lebih baik di banding CHO IKHA” hehehe,
    T.O.P GD Eunhyuk Suho Onew banget lah, daebak!

    Nb: U lum folback I

      1. Gak juga sich, lebih suka Kim Sang Ri atau Kazuma Akira (itu mah nama korea+jepang si gue atuh)kkkkkkk…m…. /cabuuuutttt!

  6. Wah kak, ceritanya keren bnget dh,. Maaf y kak aq bru bsa komen, soalny tdiny aq gk tw cra mw komen gmana, tp skarang udh tw. Oh y kak aq mw tany boleh? Kakak kok bsa sih bkin crita fantasi kyk gtu, apa kakak prnah punya pngalaman pribadi kyk gtu?

    1. Annyeong haseyo vivie. Nama kamu mirip banget sama nama adekku^^ /gakpenting\
      Makasih ya sebelumnya, kamu udah sempetin baca + komen disini. Kebetulan semua stories yang aku buat idenya dapet dari mimpi. Mungkin karna aku sering dikejer deadline skripsi sama kerjaan, jadinya selalu dihinggapi mimpi buruk gitu. Kkk~
      Welcome~

  7. Wah kbetulan y kak nma adik kkak sma kyk aq, emang nma adik kkak vivi apa? Oh trnyata kkak bkin crita ini krn mimpi, emang sburuk apakah mimpinya? Oya kak emang skripsi itu tgas apa si kak? Maaf aq gk tw soalny kn aq msih smp..

    1. skripsi itu semacam penelitian yang harus dibuat perseorangan sama mahasiswa yang mau lulus saeng. Makanya onn lagi sibuk bolak balik lapangan buat sebar kuesioner dll. huhuhu *sedih elap ingus*
      namanya vievie juga, tapi sering dipanggilnya mpi. dia itu baweeeeel banget. Makanya aku curiga kamu juga bawel kek dia, ᄏᄏᄏ

  8. Ikhaaaa… gw dah pernah bilang blom klo tulisan lu tuh berkelas?

    Setelah baca tulisan lu, menurut gw athor laen jadi biasa aja

    Kasih tau dong tips nya, please… *pasang aegyo

    Lagian si Sabina bisa2nya dia buka baju depan eunhyuk, dasar!!!

    Ntar Si eunhyuk jadi inget2 gw gmn? /plak

    Oia, kata mpo’ gw, cepetan lanjutannya, die penasaran bgt katanya… hehe… 😀

    Smangat Ikha… I will be right here waiting for Eunhyuk…

    Eunhyuk-ah… Saranghae…!!!!

    *Kaburrrrr….

    1. Masih banyak cho yang tulisannya melebihi gue. Ciyusan gueee~ hahaha /alaymembahana
      Tips nya cuma 1 cho: Sering-sering ngegombal. Hahahha, karna gue suka menggombal, gue jadi suka nemu kata-kata baru. Dan kebetulan gue Public Relations. Mata kuliah utama di kampus itu Speaking & writing. Jadi gue udah terbiasa^^
      Salam buat mpok lu ye. Dari Cho ikha yang cetar membawa kebahagiaan. Hahaha~

      ps: jangan mencoba menghianati abang gue dengan menyebut saranghae ma eunhyuk /siapin tali pasung\

  9. ka brani ya buka baju dedepan bg eunyuk gak takut terjadi sesuatu cetar membahana halilintar hhha

    ka gak nyantai tu liat postenya hmmm

    next part ka^^

  10. ahhh.. ini cerita fantasy pertama yang bikin penasaran setengah mati><
    jangan-jangan si hyuk ngeliat sabrina buka bajunya sambil mupeng lagi -.-v
    jangan lama-lama ya eon lanjutannya..

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s