EXO PLANET “CHAPTER 06” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASER

SIAPAPUN TAK AKAN BISA MENEBAK APA yang ada di dalam kegelapan. Sulit melihat, sulit mendeteksi dan sulit meraba situasi. Kau hanya dapat mengandalkan indera pendengar dan perasa untuk sekedar menerka-nerka. Bahkan setitik cahaya pun tak akan mampu menghilangkan takut yang menyelubungimu.

Begitu pula yang dialami Cho Ikha saat ini.

Ketika pusaran udara menyeret paksa tubuhnya jauh ke dalam kegelapan, ia hanya melakukan dua hal secara berulang-ulang: menjerit dan menyebut nama Tuhan.

Saat Cho tengah melantunkan pengampunan, tubuh kecilnya perlahan melesat rendah. Ujung sepatunya belum menjejak dasar; berarti bahwa ia masih melayang di dalam ruang hampa yang membuat pikirannya kembali menawarkan berbagai macam kegilaan yang sedang menantinya. Cho yakin bahwa sepasang matanya membelalak. Namun ia buta. Tak ada warna lain selain hitam yang berpendar di sekelilingnya.

Seiring ujung sepatunya yang mendarat paksa pada lapisan datar di bawah kakinya, tubuh Cho seolah terhisap gravitasi hingga ia jatuh bersujud. Cho merasakan butiran pasir di kedua telapak tangannya. Ia kini berada di atas tanah. Hanya fakta itulah yang diketahuinya saat ini.

Tak ada yang mampu memasuki wilayah maritimo—”

Gadis itu membelalak mendengar gema dari suara maskulin yang ditangkap oleh inderanya. Pandangannya berpendar di dalam gelap, mencari-cari bisikan maskulin yang terdengar seperti sebuah peringatan.

“—selain sang penjaga scutus.”

Cho mencoba menghapus ketakutannya yang kini telah bercampur dengan kengerian. Lidahnya kelu. Ia tak tahu sejauh mana tubuhnya terhempas dari dinding tinggi yang membatasinya dengan para castè Krypth. Meski ia berteriak, usahanya tak akan membuahkan hasil yang jitu.

Harus kuakui, keberanianmu selalu mengesankanku.

Seiring suara maskulin itu menjauh bersama getar gema yang mengusik rambut-rambut halus di tengkuknya, Cho menyambut kehadiran seberkas cahaya yang mulai menyinari kegelapan tersebut dengan keryitan di wajahnya. Ia masih membungkam mulut meski gelap itu kini menampakkan tumpukan tanah tinggi dengan bebatuan kasar yang menonjol.

Cho kembali memaku.

Sepasang kakinya bergetar, ragu untuk sekedar menciptakan langkah kecil. Kepalanya mendadak ling-lung saat segumpal asap putih di hadapannya membentuk sesosok pria. Meski Cho terus meyakinkan diri bahwa apa yang ada di hadapannya hanyalah salah satu trik sihir yang pernah Luhan tunjukkan padanya, kepulan asap itu terlalu tangguh menembus dinding ketakutannya.

Cho mengerjap.

Wajah itu tidak nampak nyata namun ia menemukan setitik senyum yang terbentuk oleh asap tersebut. Sepasang kakinya tak berbentuk, melebur bersama sisa asap yang masih melayang-layang di sekelilingnya.

“Tidak mungkin,” bisik Cho saat sepasang lengannya tak mampu menyentuh gumpalan tersebut.

Ia mengedarkan pandangan. Tak ada yang ditemuinya selain dinding-dinding batu yang tak berstruktur.

“Siapa kau?” Pada akhirnya Cho memberanikan diri.

Gumpalan itu bergerak menembus tubuhnya. Cho berputar mengikuti setiap pergerakan tersebut. Tubuhnya merasakan hawa dingin saat asap keabu-abuan itu menembusnya. Bentukan itu menatap Cho lama sebelum akhirnya menggeleng pelan.

Aku sudah memeringatkanmu untuk tidak menghapus ingatan masa lalumu, Siète. Kurasa kau pun tak mengenali Leeteuk saat bertemu dengannya.”

Cho hanya mampu terdiam.

Asap berbentuk tubuh pria itu menggeram seperti seekor harimau. Cho memperhatikannya dengan hati-hati. Ada satu poin penting yang membedakannya saat bentukan itu sedang bicara: rambutnya berkibar beserta kilatan sapphire blue di kedua matanya.

Aku selalu menunggu kehadiranmu,” ia berkata lirih. Ucapannya menghilang halus bersama angin sepoi di sekelilingnya.

“Kalau begitu maaf karena telah mengecewakanmu.” Cho berhasil mengumpulkan sisa keberaniannya untuk mendorong lidah kelunya untuk bergerak.

Sosok itu kembali tersenyum. Ia mengayunkan tangan, menyuruh Cho untuk mendekat. Si gadis mematung sambil mendekap tubuhnya sendiri. Tatapan penuh keraguan Cho merupakan sebuah penolakan yang tak langsung dilontarkan padanya.

Bentukan itu terus bergerak tak menentu. Cho bahkan hampir pusing karena sepasang matanya tak berhenti mengikutinya. Beberapa kali sosok itu berusaha untuk menembus tubuh Cho seolah sedang mempraktekkan sesuatu.

“Kau berasal dari mana, Siète? Tubuhmu bukan tercipta dari tanah planet ini.”

Cho menghela napas panjang setelah sosok itu kembali menembus tubuhnya.

“Namaku Cho Ikha. Bukan Siète—seperti yang kau sebutkan sebelumnya. Dan sungguh tidak lucu jika huglooms-mu itu tidak menghapus ingatan masa lalunya. Seperti yang Leeteuk sebutkan, aku hanyalah semacam reinkarnasi.” Cho memberikan penjelasan logisnya.

Sosok itu memutarinya hingga Cho tak mampu menerima kilatan cahaya yang dibuatnya. Ia menutup mata rapat-rapat. Hanya beberapa detik saja kemudian Cho mengedarkan pandangannya bersama sepasang matanya yang membulat.

“Mungkin kau mengira tempat ini hanyalah sebuah ilusi. Namun inilah duniaku yang sesungguhnya.”

Cho tertegun; masih takjub dengan apa yang ada di sekelilingnya. Suara maskulin itu kini terdengar lebih nyata. Sama halnya seperti tubuh sosok misterius yang tak lagi berbentuk asap tebal tak beraturan.

Seorang pria.

Dilingkupi oleh pakaian tentara istana, perawakan pria itu begitu gagah dengan sepatu boot hitam dan topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya. Meski desain pakaiannya lebih tua dengan warna yang gelap, wajahnya tetap menyilaukan. Terlebih ketika si pria melepaskan topi tuanya.

Gerakan tangannya kemudian menyuruh Cho untuk duduk di sampingnya.

Cho mengerjap.

Sebuah bangku panjang yang diapit oleh rerumputan liar kini berada di hadapannya. Ia meyakini bahwa tempat ini merupakan dinding-dinding gelap saat pertama kali ia mendarat. Dinding-dinding itu berubah menjadi air terjun yang membentuk sungai kecil dengan air keperakan yang menyilau lembut di mata.

Cho menyingkir saat menyadari sepatunya berada di dalam genangan air.

“Namaku Lee Hyukjae. Penguasa Maritimo—eum, tidak. Salah satu prajurit Super Junior yang mampu membaca pikiran—eum, tidak, tidak. Pelindung afftheurcaly—eum, tidak juga. Aku adalah kekasihmu di masa lalu—eum, kurasa hal itu jauh lebih tepat.”

“Kekasih?”

Diantara deretan keterangan tersebut, Cho hanya menangkap kata-kata terakhirnya. Ia mengamati wajah si pria. Sepasang alisnya membentuk gelombang diikuti oleh kedutan di hidung mungilnya.

“Berhasil mengingat sesuatu?” tanya Hyukjae. Sadar bahwa gadis itu memerhatikannya cukup lama.

“Tidak. Tentu saja tidak,” kemudian Cho tersenyum. Sambil berjalan di antara kerikil bebatuan di tepian sungai, hati-hati ia duduk di samping Hyukjae.

“Bolehkah kuajukan beberapa pertanyaan?”

Hyukjae menunjukkan telapak tangannya, mempersilahkan gadis itu untuk menginterogasi.

“Dimana—“

“Pulau Maritimo. Tempat terindah di kutub planet yang kemudian menjadi tempat terlarang sejak pertempuran terakhir para prajurit Super Junior.”

Seketika Cho mengernyit.

Yang mampu ditangkap otaknya saat ini adalah: pria ini sangat aneh.

“Baiklah. Lalu mengapa—“

“Yang kau lihat saat ini adalah pemandangan yang seharusnya menjadi nyata di sekelilingmu. Kini semua telah berubah menjadi bebatuan kering dan tandus. Tanpa pepohonan, tanpa bunga, tanpa cahaya.”

“Bagaimana—“

“Hanya huglooms yang mampu menembus dinding mègalos. Sudah kukatakan kalimat itu saat pertama kali kau muncul.”

“Apa yang—“

“Teman-temanmu mungkin akan baik-baik saja selama mereka mampu bertahan melawan sihir maritimo.”

“Kau benar-benar menyebalkan, Lee Hyukjae.” Cho mendesis. Bibirnya menipis untuk menahan makian-makiannya yang telah siap di ujung tenggorokannya. “Kurasa Parleemos mendapatkan bakat itu darimu; membaca pikiran makhluk lain.”

Hyukjae lantas melantunkan sebuah tawa ringan.

“Sejujurnya aku hanya mampu menebak jalan pikiranmu saat kau telah memutuskan apa yang ingin kau ucapkan. Pikiranmu terlalu kompleks. Rumit namun unik.”

Sebelah alis Cho terangkat. Ia kembali mendengus.

“Terima kasih atas pujianmu.”

Mereka mengucapkan kalimat itu bersamaan. Keduanya saling memandang sebelum akhirnya  tertawa pelan.

“Baiklah. Aku tidak akan banyak berbasa-basi. Siapa Siète?”

“Demi apapun! Kau bahkan tidak tahu nama aslimu sendiri?” Hyukjae memekik, membuat Cho menutup kedua telinganya saat lengkingan suara itu menyesap ke dalam gendang telinga.

Darn! Tenanglah, Lee Hyukjae! Setidaknya aku tidak menyesal memiliki kekasih sepertimu!” Cho sengaja memuji meski kalimat tersebut terdengar seperti sebuah paksaan.

Bibir Hyukjae semakin menipis saat mengatupkannya rapat-rapat. “Aku memaafkanmu kali ini,” desisnya setelah membatalkan pukulan kecil yang hendak diluncurkan pada kening Cho melalui ibu jarinya.

“Bukankah kau sudah…mati?” tanya Cho hampir mendesis seperti ular.

Wajah Hyukjae yang merona perlahan meredup. Hembusan angin yang mengayunkan helai rambut saddlebrownnya semakin membuat kesenduan terukir halus di wajahnya.

“Kemarilah,” Hyukjae menggerakkan sebagian tubuhnya untuk memberi perintah.

Cho terdiam. Baginya, jarak yang memisahkan keduanya tak lebih dari sepasang manusia yang sedang berbagi kursi penumpang di dalam kereta. Ketika pria dengan wajah yang menenangkan itu meraih tangannya—dan mengecupnya lembut, Cho hanya mampu terpaku dengan ciuman Hyukjae yang mendarat sempurna di bibirnya tepat pada detik berikutnya.

Sepasang mata Cho terpejam.

Tubuhnya kembali merasakan sensasi yang sama saat tubuhnya melayang bebas menuju dasar maritimo. Kemudian warna-warna yang mengelilinginya membentuk sebuah adegan yang nampak nyata; seolah-olah dirinya kembali ke masa lalu—masa lalu huglooms yang menjadi bagian dari kehidupannya saat ini.

Cho mengerjap saat adegan tersebut mempertontonkan broadsword pria dengan mahkota Big Bang di kepalanya menembus dan mengoyak jantung Hyukjae. Di sekelilingnya dipenuhi oleh kobaran api dan kilatan pedang. Tanah yang dipijaknya merupakan medan perang yang mengerikan.

Tubuhnya berputar cepat ke arah teriakan yang memecahkan berbagai suara denting pedang. Cho membungkam mulutnya begitu sesosok wanita; dengan pakaian prajurit serta rambut panjangnya yang terurai; bersujud di samping tubuh Hyukjae yang kian melemah. Perawakan wanita itu lebih tinggi darinya namun wajah pucatnya yang berurai air mata menyentak jantungnya.

Huglooms.

Wanita yang jauh lebih dewasa itu memiliki lekuk dan bentuk rupa yang sama dengannya.

Cho tetap memerhatikan adegan tersebut hingga perdebatan kecil antara sang huglooms dengan Leeteuk muda membuat keduanya saling meyakinkan diri mereka masing-masing. Hingga afftheurcaly yang melegenda di tangan sang huglooms mengilatkan sinar perak yang menyatu dengan perisai scutus.

Leeteuk muda berupaya untuk menghentikannya namun sang huglooms menyuruhnya untuk berlindung; Cho mampu mengikuti pergerakan bibir tebalnya yang terus saja memperingati si pemimpin planet.

Detik berikutnya, hanya cahaya keperakan saja yang meghuni penglihatan Cho. Hembusan dan helaan napasnya mendadak menggebu-gebu. Melihat adegan-adegan tersebut telah membuat gadis itu kesulitan bernapas. Kini ia telah kembali bersama Hyukjae dan sontak membuatnya melepaskan tautan bibir mereka.

Cho menjauh.

Tubuhnya melemah dan kulitnya kian memucat.

“Sesungguhnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Lee Hyukjae.” Cho masing memunggunginya. Tubuhnya merasakan efek yang luar biasa dari ciuman singkat yang didapatkannya dari Hyukjae.

“Takdirmu, takdirku, dan takdir kita semua.”

Cho berbalik. Sepasang lengannya mendekap tubuhnya sendiri. Pria itu masih duduk di tempat yang sama, bersama pesona yang dipancarkannya melalui senyum sederhana yang dimilikinya.

“Kau tidak menjelaskan padaku mengapa rohmu masih berkeliaran disini,” ucap Cho.

“Salah satu kekuatanku yang sengaja tidak kualihkan pada tubuh Leeteuk adalah memisahkan roh dari tubuhku. Kulakukan hal itu karena kau menyuruhku untuk menjaga afftheurcaly.”

“Jadi semua sihir di pulau ini adalah hasil dari karya senimu?”

Hyukjae menunduk, menyembunyikan senyum ketirnya. “Sayangnya semua ini akan berakhir saat kau meninggalkan tempat ini bersama pedang itu.”

Sambil menatap Cho, pria dengan single-eyelid di kedua matanya itu menghampirinya. Ia mengusap lembut wajah Cho, menyalurkan rasa hangat yang menjalar hingga ke hulu hatinya. “Selama ini Leeteuk mengetahui dimana letak pedang itu dan dimana rohku berada. Namun aku sengaja melarangnya untuk tidak mendekatiku. Karena jika ia melakukannya, maka ia akan mati.”

“Mengapa?” tanya Cho, sedikit menginterupsi.

“Aku sudah memindahkan sebagian kekuatanku padanya, jadi saat tubuhnya bertemu dengan rohku, maka aku akan terhisap ke dalam tubuhnya dan rohnya memudar. Secara otomatis, aku yang akan menggantikan Leeteuk di dalam tubuhnya sendiri. Kedengarannya memang bagus. Namun aku sadar bahwa aku tak akan bisa disamakan dengannya. Aku tidak bisa mencuri karakternya.”

Terselip rasa bangga di dalam hati Cho mendengar kata-kata bijak yang Hyukjae utarakan. Ia memang cocok bersandang dengan huglooms. Dibalik wajah tampannya masih tersimpan sisi kebijaksanaan yang sama seperti yang dimiliki Leeteuk.

“Lalu apa maksudmu dengan mengatakan bahwa semua ini akan berakhir saat aku pergi bersama pedang itu?”

Hyukjae menghela napas sejenak seraya menatap sendu. “Kemampuanku hanya akan bertahan hingga si penjaga pedang yang sesungguhnya datang. Setelah itu, rohku akan memudar.”

“Kalau begitu aku tidak akan mengambil pedang itu,” jawab Cho retoris.

Hyukjae mendengus. “Ambil pedang itu dan pergi dari sini secepatnya. Apa kau tahu rasanya hidup seperti ini? Rohku tak dapat hidup tenang, Siete. Rasanya seperti hidup di dunia yang hampa,” ucapnya lirih.

Digenggamnya jemari Hyukjae dengan erat seolah ia merasakan aliran darah melalui urat-urat nadinya. “Maaf,” ia bergumam.

Pria itu tersenyum simpul. “Semua sudah digariskan.”

Sambil menggenggam jemari Cho, tangan Hyukjae yang lain bergerak lihai membentuk sebuah simbol di udara. Jemarinya berayun sedemikian rupa hingga bermunculan kerlip-kerlip berwarna-warni.

Secercah cahaya biru muncul di antara kelap-kelip tersebut, memunculkan sebilah pedang keperakan yang hampir mirip dengan pedang swiss. Struktur pedang hexagonal itu mengilat saat Hyukjae mengayunkan benda itu beberapa kali.

“Aku tak tahu apa kepentinganmu mengambil pedang ini. Yang jelas, aku memercayaimu.”

Hyukjae meletakkan gagang pedang di tangan Cho. Sekilas pedang itu nampak biasa. Namun saat benda itu menyentuh kulitnya, Cho merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir ke dalam tubuhnya.

“Jaga pedang ini baik-baik. Selain Leeteuk, orang yang memiliki kebijaksanaan tinggi adalah kau,” ucap Hyukjae.

Cho kembali menatap pria yang dikenal sebagai legenda prajurit Super Junior itu sekali lagi. “Terima kasih,” gumamnya.

“Jangan lupa, kau harus secepat mungkin keluar dari tempat ini setelah rohku memudar. Aku memasang sihir yang sangat kuat di sini.”

Cho seketika terdiam. “Aku memang harus segera pergi,” kemudian terjaga dari tempatnya setelah sadar bahwa Kai dan castè lain menunggunya di pantai maritimo.

Hyukjae menahan Cho saat gadis itu disibukkan oleh pikiran akan keberadaan para castè. “Aku akan selalu menjagamu, dimana pun dan kapan pun.”.

Cho mengangguk.

Sebelum Hyukjae mengirim tubuh Cho kembali ke dinding mègalos, pria itu memberinya sebuah kecupan manis. Kali ini Cho menyambutnya dengan baik—sekedar untuk memberikan apresiasi kepada makhluk yang telah membantunya menjaga afftheurcaly. Dan ketika ia membuka mata, ia telah berada di pusat lingkaran yang semula menarik tubuhnya.

Cho menemukan para castè kewalahan menghadapi makhluk-makhluk sihir maritimo. Bersama afftheurcaly di tangannya, Cho berharap dapat menghentikan segala permainan ini. Gadis itu lantas memejamkan mata, mengayunkan afftherucaly seraya bergumam.

Seolah mendapat ilham, Cho merasakan sesuatu yang kuat merasuki tubuhnya. Ia membuka matanya lebar-lebar, mengayunkan pedang tersebut seperti seorang ahli samurai kemudian menusuk pusat lingkaran.

Baekhyun, yang semula menahan cahaya mematikan sapphire blue dari pusaran yang tebentuk di antara patung kembar di tepi tangga, terjungkal cukup jauh. Pria itu melihat Cho, dengan rambutnya yang berkibar serta sorot matanya yang berubah menjadi putih terang, tengah membisikkan sebaris kalimat yang tak dimengertinya.

Saat Cho mengarahkan afftheurcaly ke atas langit, cahaya putih kehijauan muncul dari ujung pedang dan menyebar ke seluruh pantai. Gadis itu menggeram, mengamati troll yang menghajar Kai; puluhan batu raksasa yang membuat D.O dan Chanyeol kewalahan; serta pasukan tengkorak yang menyerang Sehun dan Suho.

Suaranya menggema, membuat seluruh castè tertuju pada wujud Cho yang dipenuhi cahaya keperakan. Seluruh makhluk-makhluk sihir itu seketika memudar, meninggalkan para castè bersama luka yang mereka dapatkan.

Baekhyun berlari secepat angin pada Cho. Gadis itu jatuh terkulai setelah patung kembar yang memunculkan pasukan-pasukan maritimo telah dihancurkan menjadi butiran debu.

“Kau tak apa-apa?” Kecemasan melingkupi wajah Baekhyun. Ia sama sekali tak peduli dengan luka dan peluh yang membasahi keningnya.

Para castè mendadak khawatir. Bunyi gemuruh mengelilingi mereka dari berbagai sudut.

Dari segala kecemasannya itu, sayup-sayup Baekhyun mendengar teriakan Suho. Castè lain telah berkumpul di sekitar tubuh Kai. Maka Baekhyun, dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya, membawa tubuh mungil Cho dengan susah payah.

Setelah mencapai tubuh Kai, Baekhyun sama sekali tak merasa puas. Si teleport-man itu sangat lemah dan ia tak yakin akan kepulangan mereka yang berakhir dengan selamat.

“Pegang tanganku,” gumam Kai seraya menjulurkan bagian tubuhnya itu dengan lemah.

Para castè saling menyentuh tubuh masing-masing. Kemudian Kai membisikkan kalimat ajaib yang dimilikinya hingga partikel nomenos mengelilingi tubuh mereka dengan sempurna.

Tha perásou magemou gia prostatèf sognizonte,”

-o-

MEREKA JATUH BERSERAKAN SETELAH KAI MELEPASKAN nomenos-nya di udara. Erangan Chanyeol membahana karena bagian belakang tubuhnya mendarat paksa pada pasir putih. Beruntunglah Cho dapat mendarat dengan sempurna, jadi ia tidak perlu berakhir kesakitan seperti yang dialami Chanyeol.

Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak ada hal lain selain hamparan es yang ditemuinya. Pegunungan yang mengapit mereka pun dilapisi oleh es. Cho kembali mengedarkan pandangan dan yang ia temui lagi-lagi hanyalah lautan es.

“Dimana ini?” tanya Cho, tatapannya masih tertuju ke arah langit yang dipenuhi awan hitam.

Mare Glacies. Tempat paling dingin di planet ini,” Sehun memberi jawaban saat ia berusaha untuk berdiri.

“Kai!”

Suho berlari ke arah Kai yang tergeletak jauh di tengah lapisan es. Pria itu terpisah dengan mereka saat mendarat. Sang pemimpin Krypth mengangkat tangan, menyuruh Sehun—yang berlari di belakangnya—untuk menahan diri.

Dengan segala kekuatan yang tersisa, Cho mencoba meraih tubuh Kai. Dibantu Chanyeol, ia seketika bersimpuh di samping Kai. Ia membungkam mulutnya. Saat Sehun membalikkan tubuh Kai yang jatuh telungkup, ia mendapati tetesan darah segar mengalir dari sisi kanan tubuhnya dan membuat lapisan es itu dibanjiri bercak kemerahan.

Kai tak sadarkan diri. Bibirnya membiru dan wajahnya memucat.

Cho berbisik memanggil nama Kai. Ia mengusap wajah pria itu yang nampak begitu mengenaskan.

“Aku sudah bertelepati memanggil Uro dan Draco untuk membawa kita ke markas,” sela Chanyeol.

“Kita berada di tengah perjalanan. Sebaiknya kita istirahat sejenak untuk memulihkan kekuatan kita,” titah Suho, terengah-engah.

“Istirahat?” sulut Cho. Nadanya terdengar sinis dan dalam. “Kau menyuruh yang lain istirahat sedangkan Kai dalam keadaan sekarat?” lantas melirik tajam pada Suho.

Pemimpin Krypth itu kemudian mengucapkan beberapa kalimat sanggahan dengan maksud untuk menenangkan kekalutan yang Cho rasakan tapi gadis itu lebih memilih untuk tidak mendengar. Ia terus berbisik memanggil Kai yang semakin membiru di pangkuan D.O.

“Kai.”

-o-

SEHUN MEMILIH UNTUK BERLARI SEPERTI BIASA KETIMBANG menggunakan kekuatannya. Ia mendapati Cho tengah duduk di sisi ranjang dimana Kai terbaring lemah tak berdaya. Pria berparas imut itu menghampiri Cho. Ia berusaha untuk tidak mengagetkan gadis itu dengan berteriak sesuka hati seperti yang biasa dilakukan Baekhyun.

“Seseorang datang. Dia ingin bertemu denganmu,” gumam Sehun sembari menepuk halus bahu Cho.

Gadis itu menoleh. Memberi senyum seadanya kemudian melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam jemari Kai yang mendingin. Setelah menyuruh Sehun untuk menjaga Kai sejenak, Cho bergegas turun menuju lantai dasar yang dihuninya.

Suasana di dalam markas sangat hening. Tak ada siapa-siapa selain dirinya, Kai dan juga Sehun. Sambil menuruni setiap anak tangga, gadis itu berpikir dan menerka-nerka siapa orang yang ingin menemuinya.

Baekhyun? Suho?

Keduanya adalah para castè dan mereka tak perlu menyuruhnya ke bawah jika ingin bertemu dengannya.

Saat tiba di ruang utama, Cho menemukan sepasang pria tengah berdiri kaku di tengah ruangan. Saat keduanya menoleh padanya, raut wajah Cho mendadak berubah lega.

“Luhan!” pekiknya seraya memberikan sebuah pelukan.

Pria yang dikenal pendiam itu sama sekali tidak menolak saat Cho memeluknya. Lay, pria yang datang bersama Luhan, yang nampak terkejut.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Luhan lembut.

Dahi Cho mengerut. “Bagaimana kau mengetahuinya?” ia nampak keheranan.

Luhan tersenyum tipis. “Sebut saja karena aku dan Kai saling terhubung satu sama lain. Dan, ah—perkenalkan. Dia adalah Lay. Orang yang akan membantuku menyembuhkan Kai.”

Lay, pria dengan lesung pipi di wajahnya, mengulurkan tangan yang disambut manis oleh Cho.

“Aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu tapi tabib istana pun tak mampu untuk menyembuhkan Kai dan—“

“Dia adalah salah satu castè di EXO Myrath. Kau hanya perlu percaya pada kami. Itu saja,” ucap Luhan. Air mukanya nampak tenang dan bersahaja.

Cho mengamati Lay dengan tatapan meragukan. Kikuk, ia mempersilahkan keduanya menuju tempat Kai. Sehun bahkan sempat berpelukan dengan Luhan dan Lay. Cho berpendapat bahwa sepasang pria tampan dari Myrath ini masih diterima baik oleh castè Krypth. Berbeda dengan pria berapi yang ia temui di gugus Myrath beberapa hari lalu.

“Kuharap kedatangan kami tidak diketahui oleh siapa pun,” ucap Lay untuk pertama kalinya.

“Tenang saja. Aku sudah mengurus Suho dan yang lain. Bagiku, kalian berdua tetaplah diterima baik disini,” jawab Sehun tak kalah lembut.

Lay berjalan mengelilingi ranjang dan berhenti tepat berhadapan dengan luka yang dimiliki Kai. Sementara Sehun, Cho dan Luhan mengamati Lay; pria itu melepas kain penutup luka yang dilapisi dedaunan. Lay menutup mata sesaat untuk menghela napas dan detik berikutnya luka di tubuh Kai perlahan menutup dan kembali seperti semula.

Tubuh Kai mengejang sesaat. Ia menghembuskan napas panjang.

Meski penglihatannya agak kabur, Kai mampu melihat makhluk-makhluk yang mengelilinginya. Kedipan matanya nampak lemah dan gerakan tangannya tidak begitu kuat.

“Terima kasih,” ucapnya parau seraya menatap Luhan dan Lay bergantian. “Aku tahu kalian akan datang,” gumamnya pelan.

“Kau hanya berterima kasih pada Luhan dan Lay? Bagaimana denganku dan juga Sehun?” protes Cho.

Kai menunjukkan senyum, yang lebih mirip seperti sebuah seringaian, lemahnya pada Cho. “Kau itu terlalu banyak bicara,” ejeknya.

Cho melayangkan pukulan kecilnya pada lengan Kai. Pria itu hanya meringis pelan dibuatnya. Sehun menyeret Luhan dan Lay meninggalkan mereka. Kai dan Cho juga tidak banyak bicara begitu ketiganya meninggalkan ruangan.

“Kau benar-benar berhasil membuatku cemas,” gerutu Cho. Jemarinya bergerak mengusap halus wajah Kai yang mulai berwarna.

“Anggap saja skor kita sama,” ejek Kai, masih bergumam tak bertenaga.

“Jangan membuatku takut lagi. Kumohon,” pinta Cho. Bola matanya memanas saat tatapan keduanya bertemu.

Tahu bahwa Cho benar-benar mencemaskannya, Kai lantas meletakkan salah satu tangannya di pipi Cho. Senyumnya memudar dan digantikan oleh tawa pelan. “Tidak akan,” jawab Kai lembut.

Jemari pria itu menyeka air mata yang jatuh perlahan dari kedua mata Cho. Gadis itu tidak terisak. Hanya terdiam meski air matanya terus mengalir deras.

Sepanjang hidupnya, Cho tak pernah menangisi hal lain selain saat ia ditinggal pergi selamanya oleh adik perempuannya dan saat bertengkar hebat dengan ayahnya.

“Jika kau menyuruhku untuk tidak pergi, aku tidak akan pergi.” Kai membisikkan kalimat itu seolah memberikan kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Cho.

Serta-merta gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kai. Meski ia menahan tangisnya, Kai masih dapat mendengar gadis itu terisak di bahunya. Saat Cho memeluknya, Kai mengulurkan tangannya ke arah meja yang ada di samping ranjangnya.

Kai menyusupkan sebuah perkamen di atas meja yang ia terima dari istana beberapa hari lalu ke balik tubuhnya. Semoga Cho maupun castè lain tidak membaca isi perkamen itu saat ia lengah.

Tidak.

Tidak boleh ada yang tahu hingga nanti waktunya tiba.

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

107 thoughts on “EXO PLANET “CHAPTER 06” (REPACKAGED)”

  1. aku dibikin tegang sama chapter ini kak >.< ada aja yg dihadapi mereka bertujuh ini…mana aku gampang panik lagi, baca cerita ini kadang juga ikut panik kayak pas Cho sakit trus badannya membeku, sampe terakhir tadi Kai terluka, suka ga tega klo bias terluka :")

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s