ACCIDENT (Chapter 10)

HEMBUSAN NAFAS TERATUR yang terdengar dari sela bibir Key menandakan bahwa namja itu tengah tertidur pulas sekarang. Hampir satu jam lalu, namja yang lebih tinggi dari Ikha tersebut menggunakan bahunya sebagai tempat bersandar. Si pemilik bahu tetap bergeming di tempat, merasakan kehangatan yang terpancar di antara tautan jemari mereka yang sengaja tak dilepaskan oleh Key.

ACCIDENT

Yeoja itu memperhatikan siluet jemari Key dengan seksama. Ia sedang mencoba membaca perasaannya sendiri yang terlihat sama-samar. Rasanya aneh jika ia merasa simpati atau luluh pada Key hanya karena namja itu menyentuhnya. Sedangkan pada kenyataannya, kebencian dan kedengkian terus menyelubungi benak Ikha.

Sambil mengeratkan tautan jemarinya, yeoja itu memejamkan mata sejenak seraya menghela nafas sekuat yang ia bisa. “Kau yang telah membawaku ke dalam bagian dari kehidupanmu yang pelik ini, Key. Jaebal (Kumohon), jangan membuatku bingung dengan perasaanku sendiri.”

Ikha berbisik lirih saat mengucapkan kata tersebut, berharap bahwa Key akan mendengarkan kalimat pendeknya dan tak lagi membuat yeoja itu merasakan denyut ngilu di sebelah kepala setiap kali ia dihadapkan oleh pertanyaan mengenai perasaannya sendiri terhadap Key.

Setelah berperang dengan pikirannya sendiri, yeoja itu akhirnya membuat keputusan.

Dengan hati-hati, ia berusaha melepas tautan jemari mereka dan membaringkan tubuh Key di atas sofa—agar namja itu tak terusik olehnya. Ikha berjalan menuju kamar tercinta, mencari ponsel yang menjadi teman sejatinya kemudian menekan tanda hijau setelah menemukan nama ‘Mallang Dubu’ di antara deretan phonelist.

Sambil menunggu panggilan tersebut terangkat, yeoja itu menggeleng pelan begitu melihat pecahan hiasan miniatur-nya berserakan di lantai. Ulahnya semalam saat kekesalannya telah mencapai puncak ubun-ubun begitu melihat wajah Nyonya Kim dan juga Key yang datang meminta belas kasihan kedua orang-tuanya.

Eo, Oppa!” sahut Ikha begitu panggilannya telah dijawab oleh namja di seberang sana. “Ada yang harus kubicarakan sekarang—dan sangat penting. Nae jib-e galsu ittnayo? (Bisakah kau datang ke rumah?)”

***

MESKI SIANG ITU TERASA lebih menyengat dari biasanya, angin dingin musim semi tetap berhembus mengayun rambut panjang Ikha dan membuatnya melambai-lambai seperti daun kelapa. Ia serta Onew duduk di tepian teras halaman belakang sambil menikmati udara yang menghangatkan tubuh mereka. Entah kenapa cuaca hari ini nampak lebih bagus dari kemarin.

Mian, aku menyuruhmu datang dengan paksa. Aku lupa bahwa kau adalah seorang selebriti,” ujar Ikha seraya meneguk Hwachae yang ia buat lima menit lalu.

Onew tersenyum seadanya. “Kebetulan atmosfer di dorm dan di gedung SM tidak begitu bagus. Dan lagi, aku tidak ada jadwal atau pun kegiatan lain. Kau beruntung kali ini,”

Eotteonji moseun iriya? (Apa ada yang terjadi disana?)” tanya Ikha sambil menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga mungilnya.

Well, keadaan di dua tempat itu tidak cukup bagus sejak semua orang—termasuk management SM—tahu perihal apa yang dilakukan Key padamu,” aku Onew. Ia tengah memperhatikan pergerakan awan di angkasa hingga tak menyadari tatapan penuh curiosity dari Ikha.

Da? (Semua orang?)”

Onew berdeham pelan. Ia menoleh sejenak pada Ikha kemudian kembali menengadahkan kepala pada langit sore. “Saat Eomoni berdebat hebat dengan Manager Choi di gedung SM—membicarakanmu dan Key, semua terjadi begitu saja.”

Diam.

Yeoja itu seketika terdiam mendengar penjelasan Onew. Pikiran Ikha berdengung di kedua  telinganya  untuk tidak tersentuh dengan ucapan Onew tentang bagaimana Key mengalami masa-masa sulit di agency-nya. Meskipun hati kecilnya yang saat ini sulit ditembus oleh siapa pun itu berhasil membuatnya merasa simpati.

“Jika kau berdoa pada Tuhan meminta agar Key mendapat hukuman yang pantas ia dapatkan karena telah membuatmu mengalami masa-masa sulit, maka namja itu sedang merasakannya sekarang,” tutur namja bermata hypocrative tersebut.

Ikha mendengus. Diamatinya rumput-rumput yang ada di bawah kakinya seolah tak ada yang menarik untuk ia lihat selain hal tersebut. “Aku menyuruhmu datang kemari untuk meminta saran dan petunjuk, Oppa. Bukannya mendengar pembelaanmu terhadap Key.”

Nuga eul byeonho? (Siapa yang sedang membelanya?) Apa kata-kataku terdengar seperti sedang membelanya?” Onew berkilah. “Dia bersungguh-sungguh dengan segala yang ia lakukan padamu, Kha-ya. Apakah tidak ada sedikit simpati yang kau rasakan?”

Lagi, yeoja itu menghela napas berat. Kini giliran dirinya yang menatap langit sedangkan Onew berbalik tertuju pada Ikha. “Pada intinya dia hanya sedang membangun citranya sendiri yang telah rusak di mataku, Oppa. Setelah aku cukup luluh dan memaafkan kesalahannya, ia akan pergi dan melupakan segalanya.”

Suara ‘Tsk’ pelan meluncur dari bibir Onew. “Kenapa sekarang pikiranmu jadi picik seperti itu, eo?”

“Lalu apa yang kau harapkan, Oppa? Berharap semuanya akan berakhir bahagia?” timpal Ikha disertai tawa rendahnya.

“Bagaimana jika kukatakan bahwa Key mencintaimu?”

“Jika?” Ikha menyipitkan mata. Salah satu alisnya terangkat sempurna. “Bahkan kata itu—mencintai—terdengar begitu asing di telingaku,” akunya.

Serasa berada di tengah padang pasir gersang, Onew menyambar mangkuk Hwachae yang Ikha sajikan khusus untuknya kemudian menyeruput minuman tersebut untuk menghilangkan dahaga. Stubborn. Satu kata yang paling tepat mendeskripsikan watak Ikha.

“Jika aku menjadi dirimu, aku juga tidak akan dengan mudah memaafkan Key. Tapi lihatlah sisi lain dari kisah intinya, Kha-ya. Tekan rasa kecewa dan rasa bencimu itu dan cobalah melihat lebih dalam,” Onew mencoba menengahi dengan memberi sedikit arahan pada Ikha.

“Apa kau sedang mencoba untuk menyatukanku dengan Key?”

Onew menggedikkan bahu. “Kurang lebih seperti itu,”

“Aku tak yakin dengan perasaanku sendiri terhadap Key—dan aku juga menebak jika apa yang Key rasakan padaku hampir sama seperti apa yang kurasakan. Perasaan kami berdua masih tertutup kabut, sulit untuk diterawang. Jadi biarkan kondisinya tetap seperti ini karena aku tahu bahwa kita berdua memang ditakdirkan begini.

Tujuanku memanggil Oppa kemari adalah untuk meminta bantuan. Setelah kedatangan Kim ‘yeosa’ dan Key tadi malam, aku sudah menganggap urusan kami telah selesai sampai disini. Tak ada yang perlu dibicarakan lagi karena semua telah kembali seperti semula. Jalani kehidupan kalian seperti biasa dan anggaplah aku tak pernah muncul di dalam lembar cerita kalian,”

Penuturan Ikha yang cukup panjang di atas membuat Sang Leader dari SHINee tersebut mengatupkan bibir rapat-rapat. “Kau bicara seolah-olah tak ingin lagi bertemu dengan kami,” terkanya.

Ikha kembali menghela napas. Merasakan udara musim semi yang akan menghilang hanya dalam hitungan hari. “Aku sudah memutuskan, Oppa. Sudah kubilang, tidak semua cerita berakhir dengan indah bukan?”

Menyerah. Akhirnya Onew tak lagi menuntut. “Baiklah—jika itu maumu. Tapi aku ingin menanyakan satu pertanyaan saja,”

Haebwa (Katakan),” ucap Ikha.

“Sejujurnya aku ingin tahu perasaanmu pada Key. Apa benar kau masih tak dapat menebak perasaanmu sendiri?” selidik Onew. Terselip nada menggoda saat namja itu mengucapkan kalimat tersebut.

Ikha membungkam diri. Tak dapat menjawab pertanyaan Onew karena ia sendiri pun belum tahu pasti akan hal itu.

“Jika kau membencinya, seharusnya kau mengatakan pada publik tentang kejadian itu. Setidaknya cara itu cukup jitu untuk membalas Key. Namun sepertinya kau selalu berusaha untuk menjaga hal itu agar tak tercium media. Jika kau tidak menyukainya, tidak mungkin kau tetap bungkam hingga sekarang,” Onew kembali menyerang Ikha dengan sebuah fakta yang ia temukan saat memikirkan masalah yang Key hadapi.

Ikha tersenyum tipis. “Kau sedang memancingku, eo?”

Tawa Onew membubung di udara. Sadar bahwa Ikha menyadari motifnya. “Anhaeyo (Tidak). Hanya sekedar menebak saja,” sangkal namja berparas mulus tersebut.

“Bicara saja sesuka hatimu, Oppa. Aku tidak akan mudah terjebak omonganmu.”

“Jawab pertanyaanku, Cho Ikha!” Onew sedikit menggertak. Berusaha bersikap layaknya seorang leader.

No,” jawab Ikha, mencoba memuaskan keingintahuan Onew.

Jeongmal?

Bola mata Ikha berputar. “Geureom. Lagipula aku tidak pernah bisa disamakan atau dibandingkan dengan yeoja-yeoja yang ada di sekeliling Key. Nicole? IU? Krystal? Minyoung?”

Onew mematung. Well, Key memang dikenal sangat dekat dengan beberapa yeoja-idol, tak heran jika Ikha mengetahui perihal rumor tersebut. Sayangnya, perubahan wajah Onew yang mendadak menjadi masam itu bukan karena hal tersebut, namun karena ia baru menyadari kehadiran Key yang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang.

Menyadari bahwa Onew sedang mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang cukup mengejutkan, Ikha pun mengikuti kemana mata namja itu tertuju. Tawanya yang semula menghiasi wajahnya pun seketika menghilang.

Disana..

Key…

Dengan wajah sarat kekecewaan, tengah menatap Ikha dengan sendu…

***

HINGGA SENJA DI UFUK BARAT telah terbenam dan langit sore berubah menjadi gelap, tak ada satu pun diantara mereka yang berucap atau sekedar untuk mengutarakan pendapat. Keduanya duduk dalam diam pada salah satu bangku yang ada di dekat trotoar jalan. Bahkan helaan napas Ikha yang begitu pelan pun terdengar sangat jelas di telinga Key. Tak ada yang menarik di sekeliling mereka. Orang-orang pun seolah enggan untuk sekedar melintas di depan keduanya.

“Jika kau terus berdiam diri seperti ini, sebaiknya aku kembali dorm sekarang. Sepertinya kehadiranku hanya membuat mood-mu semakin buruk,” Key angkat bicara setelah cukup bosan berada di tengah kesunyian.

“Kau mendengar semuanya bukan?” tanya Ikha setengah bergumam. Dari sudut matanya, ia menangkap gerakan tubuh Key terhenti saat namja itu telah siap untuk beranjak dari tempatnya.

Yeoja itu sontak mengalihkan pandangan begitu tatapan Key mengarah padanya. Saat ini ia tak ingin melihat ekspresi wajah namja itu—atau ia akan mudah luluh.

“Kau bisa menyimpulkannya sendiri,” ucap Ikha, kembali bergumam. Bahkan Key hampir tak mendengar suaranya karena tertutup oleh suara hembusan angin.

Key tersenyum tipis. Sambil mengeratkan coat yang dipakainya, ia memutar bola mata dan memilih untuk menatap kedua pasang sepatu Jammie Scoots miliknya.

“Seperti apa yang Onew Hyung katakan, Tuhan memang telah memberikan ganjaran-Nya atas apa yang telah kuperbuat. Namun rasanya tak adil jika kau terus bersikap seperti ini, Cho Ikha.” Key mengutarakan pendapatnya tak kalah berbisik dari suara Ikha.

Ia beranjak dari tempatnya, bergerak perlahan agar bisa berhadapan dengan yeoja tersebut seraya menundukkan tubuh—berlutut di depan Ikha. Key meraih ke-sepuluh jemari Ikha dan menggenggamnya erat seolah menyiratkan bahwa ia bersungguh-sungguh dengan apa yang akan ia katakan.

“Bisakah kita mengulang semuanya lagi dari awal?” pinta Key.

Ikha balas menatap Key yang tengah menatapnya dalam. Bola matanya sempat bergerak melihat genggaman Key di tangannya. Ia kemudian mendengus, melepas tangan Key dengan perlahan seraya berbisik, “Jangan membodohi dirimu sendiri, Key.”

Detik berikutnya, yeoja itu beranjak dan berusaha untuk tidak melakukan kontak mata sedikit pun dengan Key. Sebelum Ikha pergi lebih jauh, Key berusaha menahannya dengan mencengkeram pergelangan tangannya. Namja itu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Ikha, sedikit menarik tangan yeoja itu agar mereka bisa saling bertatapan.

“Sekarang aku berdiri bukan sebagai Key ‘SHINee’, tapi aku berdiri disini sebagai seorang Kim Kibum. Aku hanya ingin kau mendengarkanku meski hanya semenit saja, Cho.”

Kali ini Key memohon.

Ikha mematung di tempat dan hal itu Key artikan bahwa yeoja ini sedang memberinya waktu untuk bicara. Tanpa melepas cengkeramannya, Key mencari perhatian Ikha dengan menatapnya jauh hingga menembus lensa serta pupil matanya.

“Selama aku mengenalmu dalam waktu yang singkat ini, kau adalah yeoja yang begitu kuat dan tangguh. Kau berhasil mengatasi permasalahanmu dengan caramu sendiri. Saat aku memikirkanmu, aku baru sadar bahwa kita memiliki satu kemiripan. Hanya saja… sejak aku dihadapkan oleh masalah pelik ini, aku berubah menjadi namja yang sembunyi di balik topengku sendiri.

Kau benar. Aku memang tak pantas mendapatkan kata maaf itu. Saat ini aku tidak menginginkan kata itu lagi. Yang kuinginkan—tidak, maksudku yang kubutuhkan—hanyalah sedikit simpati saja darimu,”

Kalimat demi kalimat yang Key ucapkan sarat dengan emosi. Ikha mendengarkan dengan baik. Ada satu hal yang ia tangkap dari cara Key berbicara, yakni kedewasaannya yang mulai tampak. Yeoja itu kemudian melepas cengkeraman Key, memberinya sebuah senyum tipis kemudian meletakkan telapak tangannya pada salah satu pipi Key.

Seburuk apapun perbuatan yang telah Key—atau eomma dan juga orang-orang di sekelilingnya—lakukan padanya, ia tetaplah seorang yeoja biasa yang memiliki sisi kelembutan. Cara Key memohon pengampunannyalah yang membuatnya sedikit melunak—meski ia mencoba untuk menyangkal perasaan lunak tersebut.

Ia menatap mata sendu Key, mengusap permukaan wajahnya dengan lembut hingga membuat namja yang terpaut satu tahun dengannya tersebut menyunggingkan seulas senyum.

“Lebih baik kau segera pulang. Onew sepertinya lelah menunggumu,” ucap Ikha.

Setelah melepas tangannya, yeoja itu melirik ke belakang tubuh Key. Di ujung jalan trotoar sana, ia melihat Onew tengah bersandar pada kursi pengemudi mobil Peageut miliknya. Ia memutuskan untuk menunggu Key hingga keduanya selesai bicara.

“Sepertinya kau lebih tertarik pada Onew Hyung dibandingkan padaku,” dengus Key.

Ikha lantas tersenyum. “Stop speaking nonsense in front of me,”

Then listen to me, Cho Ikha!” serunya, membuat yeoja itu sontak menautkan alis karena perubahan sikap Key yang sangat tiba-tiba.

“Kim Kibum,” Ikha berbisik. “Jaebal,” pintanya, berusaha menelisik kedua mata Key agar namja itu tidak menahan kedua bahunya—karena ia saat ini benar-benar tengah meremas bahunya cukup kencang.

Key melemah. Hembusan napasnya terdengar begitu berat. “Geurae. Aku akan menuruti apa maumu. Namun ada satu hal yang ingin kuketahui, Noona.”

Tanpa melepas kedua tangannya di bahu Ikha, namja itu segera saja memperkecil jarak di antara keduanya seraya menautkan bibirnya pada bibir Ikha. Meski tiba-tiba, yeoja yang selalu saja menolak kehadiran Key tersebut sama sekali tidak memberikan reaksi penolakan. Ia terpaku di tempat, membiarkan namja yang sempat membuatnya melupakan Eunhyuk itu lebih lama lagi memberinya sebuah soft-kiss.

Hanya beberapa detik saja, setelahnya Key menjauhkan bibirnya. Ia tersenyum tipis sembari mengusap pelan bibir Ikha.

“Sekarang aku sudah tahu jawabannya,” gumamnya.

Ikha tetap mematung, membiarkan Key pergi begitu saja setelah berhasil merenggut ‘kegadisan’ bibirnya. Dengan penglihatan seadanya, ia berusaha mengamati gerak-gerik Key dari kejauhan. Ia melihat namja itu duduk disamping jok kemudi Onew. Mata mereka juga sempat bertemu hingga Onew menutup kaca jendela dan memutuskan kontak keduanya.

Yeoja itu menggigit bibir bawahnya.

Gelisah. Satu kata yang tepat mewakili apa yang dirasakannya sekarang.

Ia tahu betul apa yang sedang Key cari saat mereka melakukan soft-kiss barusan. Kesungguhan hatinya—apakah ia memang benar-benar menginginkan Key enyah dari kehidupannya atau tidak.

“Bagaimana jika dia menemukan jawaban lain?” tanyanya, berbisik pada diri sendiri.

***

JIKA KAU BERTANYA BERAPA banyak cup Latte yang Ikha habiskan sore itu? Jawabannya adalah ‘enam’. Yang ada di tangannya kali ini adalah cup ke-tujuh—dan ia sepertinya masih akan meminum beberapa cup lagi. Baginya, saat pikirannya sedang kacau dan tidak fokus, minum coffee itu jauh lebih baik ketimbang minum alkohol.

Begitu pula sore ini. Seharusnya ia masih berada di Hankook Industries dan berkutat dengan beberapa hal yang harus ia kerjakan. Sayangnya, sang manager tercinta berhasil membuat Ikha didepak dari ruang meeting karena beberapa kali tertangkap basah tak menyimak atau bahkan tak fokus saat ia melakukan presentasi tentang proyek mendatang.

Benar. Tanpa diberitahu pun mungkin kau bisa menebak apa yang telah membuat yeoja itu selalu mengaduh dan menghela napas setiap menitnya.

Seharusnya ia bersyukur karena Key telah benar-benar menghindarinya beberapa minggu ini. Namun—entah hantu apa yang merasukinya—yeoja yang telah mewarnai rambutnya menjadi merah maroon itu justru merasakan gundah yang cukup mampu membuatnya tak bisa merasakan tidur nyenyak.

“SHINEE!!” seru seseorang yang tak lain adalah salah satu customer cafe yang Ikha tempati sore itu.

Sontak Ikha menoleh pada layar LCD 34” yang ada di pusat cafe. Ia melirik jam tangan Mickey Mouse-nya dan bibirnya mengerucut. Ia tak menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul 06.47 p.m. Pantas saja murid Senior High School itu nampak kegirangan, si pemilik cafe menayangkan acara musik Mnet M!Countdown.

Pengang. Akhirnya Ikha memutuskan untuk pergi. Ia tak bisa menahan suara teriakan yeoja-yeoja labil itu sedangkan yang sangat ia butuhkan saat ini hanyalah sedikit ketenangan.

Setelah membayar bill-nya, ia bergegas menuju tempatnya bekerja yang hanya terpaut dua gedung saja dari cafe tersebut. Selang beberapa detik, ia menerima sebuah pesan dan sontak membuat langkah Ikha seketika itu juga terhenti. Lantas ia memutar arah. Rasanya seperti ada tarikan magnet yang begitu kuat di kakinya setelah membaca perintah dari isi pesan tersebut—menyuruhnya untuk pergi.

 

Eodindae? (Kau dimana?) Jika kau tidak sibuk, aku menunggumu di jalanan kompleks rumahmu.

Onew ‘Si Leader Tampan’

 

***

IKHA SENGAJA MEMELANKAN langkah kakinya begitu sampai di depan jalan kompleks rumahnya yang dikelilingi oleh trotoar. Jam baru saja menunjukkan pukul 07.55 p.m. namun di sekelilingnya benar-benar sunyi seperti di pemakaman Gwangali. Sesekali Ikha melirik ke kiri dan ke kanan, berharap Onew akan muncul dan mengagetkannya.

Sialnya, hingga ia sampai di depan pagar rumah, ia tak menemukan siapa pun disana. Sekelilingnya benar-benar hening. Yeoja itu menghela napas. Apakah hal ini tidak terlalu mencolok? Sepertinya ia sangat ingin bertemu Onew ketika namja itu mengatakan bahwa Key menitipkannya sesuatu.

Begitu Ikha membuka pintu pagar—setelah melenguh panjang seperti seekor sapi yang akan melahirkan, seseorang tiba-tiba menjulurkan sebuket bunga tepat di depan wajahnya. Yeoja itu menoleh, menelusuri uluran tangan si pembawa bunga. Dan tepat disampingnya, Key—namja yang tanpa ia sadari adalah seseorang yang ditunggunya, tengah tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang begitu rapih.

Mwohaneun geoya jigeum? (Apa yang kau lakukan disini?)” tanya Ikha, berusaha bersikap senormal mungkin saat ia—dengan penuh kesadaran—mendapati Key benar-benar berdiri di sampingnya.

“Mengirimkan pesanan Onew Hyung,” jawabnya santai.

Ikha menautkan alis. Apakah yang Onew maksud dengan ‘titipan’ itu adalah Key sendiri? Dalam artian, tubuh Key seutuhnya?

“Bunga ini dari M!Countdown. Aku sengaja memberikannya untukmu,” ucap Key, kembali menjulurkan buket bunga yang belum juga Ikha raih.

Yeoja itu menerimanya. Buket itu bahkan sempat ia perhatikan dari berbagai sudut. Ia tidak menonton acara musik itu lebih detail jadi ia tak tahu jika SHINee yang memenangkan crown Mnet untuk minggu ini. Well, setidaknya bunga itu adalah bunga asli, bukan bunga palsu.

“Aku lebih suka Fantastic Baby-nya Bigbang daripada Sherlock,” celetuknya.

Key seraya mengerucutkan bibir dan bertindak seolah-olah akan melayangkan sebuah pukulan pada Ikha. Ia kembali tersenyum—meski kelihatan sedikit terpaksa.

Wae? Kecewa karena aku yang muncul di hadapanmu dan bukan Onew Hyung?” seloroh Key, balas mengejek Ikha.

Kali ini Ikha yang melayangkan buket bunga itu ke arah Key hingga niat baiknya untuk memukul namja itu terhenti berkat pengendalian emosinya yang begitu baik. Key terkekeh. Senang karena bisa menggoda Ikha.

“Tidak ingin mengajakku masuk?” tanyanya sembari memutar bola mata menunjuk ke arah pintu rumah Ikha yang hanya terpaut beberapa meter saja.

“Tidak!” jawab Ikha tegas.

Key meniupkan udara dari mulutnya dan membuat poni blonde yang menjadi konsep comeback SHERLOCK SHINee tersebut terbang tertiup angin. Namja itu lalu menyandarkan tubuh pada pagar besi yang menjadi bagian dari rumah Ikha.

Mian, aku harus latihan performance comeback SHINee dan tidak sempat untuk sekedar menanyakan kabarmu,”

Ikha menggedikkan bahu. “Aku juga tidak peduli. Jinjeonghaeyo (Santai saja),” ucapnya datar.

“Kau masih saja dendam padaku, eo?” rutuk Key. Nada suaranya naik setengah oktav.

Anhaeyo (Tidak),”

“Lalu kenapa wajahmu selalu menekuk begitu setiap kali bertemu denganku?”

“Kau membuat mood-ku turun drastis,” balas Ikha.

Key berdecak. “Geurae! Geurae! Geurae! Aku pergi. Percuma saja aku datang jauh-jauh kemari,” dengusnya.

Ikha tersenyum tipis. “Kalau begitu, Gomawo,” ucapnya sambil mengayunkan buket bunga yang baru saja Key berikan.

Ia mendorong pagar besi itu hingga terdengar bunyi kreet pelan. Sengaja ia tak berpamitan dengan Key agar ia tidak semakin lama berhadapan dengan Key. Bukan karena ia tak ingin melihatnya, melainkan karena ada perasaan bergejolak lain yang dirasakan.

Baru saja Ikha melangkahkan satu kakinya, ia tiba-tiba dikagetkan oleh Key yang memeluknya dari belakang. Yeoja itu tertegun, merasakan kedua tangan Key semakin erat memeluknya.

“Kibum-ah,” sahutnya, bibirnya bergetar karena jantungnya berdebar hebat.

“Kau tidak lelah terus menerus berpura-pura, eum?” gumam Key dan kembali mengeratkan pelukannya. Namja itu bahkan sesekali menghirup udara dari sela-sela rambut panjang Ikha, membuat yeoja itu menelan ludah menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Key.

“Bohong jika kukatakan bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun padamu… Buktinya, aku merasa tenang saat memelukmu seperti ini,” imbuh Key seraya membenamkan wajahnya lebih dalam lagi pada bahu Ikha.

Ikha terdiam. Dengan susah payah ia berkata, “Jangan membahas hal itu lagi, Key. Jaebal.”

“Apa kau akan terus membiarkan kisah ini tak berujung, eum?” ucap Key.

Ikha bergidik. Cara Key menyebutkan kalimat itu terdengar agak sensual di telinganya. “Jika paparazzi melihat kita, matilah kau!”

Dengus tawa Key terdengar. “I don’t care,” ucapnya tak kalah sengit.

Kalah. Ikha memutuskan untuk menikmati saja apa yang telah Key mulai sebelumnya. Ia membiarkan namja itu memeluk sepuasnya. Yang penting ia berusaha untuk mengontrol diri.

Mianhae,” bisik Key lembut di telinga Ikha.

Ia menelan ludah, mencoba untuk tidak gugup saat bicara. “Untuk apa?”

“Untuk semuanya,”

Kemudian Key melepas pelukannya dan memutar sedikit tubuh Ikha agar berhadapan dengannya.

“Aku hanya akan menanyakan hal ini sekali lagi, Cho.” Key memberi jeda sesaat untuk meraih tangan Ikha yang bebas. “Apa kau yakin akan membiarkan cerita ini berakhir seperti ini? Pemeran utama yeoja tidak berdampingan dengan pemeran utama namja?”

“Sudah kubilang jangan membohongi dirimu sendiri, Key.”

“Kau yang membohongi dirimu sendiri, Cho Ikha. Kau…” Key sedikit berbisik saat menyebutkan kata terakhir.

Perlahan ia melangkah mundur. Pegangan tangannya pada tangan Ikha terlepas dan jarak antara keduanya pun tercipta. Ikha mengatupkan bibir rapat-rapat begitu Key semakin jauh darinya.

Yeoja itu menyipitkan mata memperhatikan punggung Key yang perlahan menghilang dari pandangannya.

Kenapa saat Key pergi seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya?

***

PA-BO-YA!!!” bentak Taerin begitu Ikha mengakhiri perkataannya.

“Siapa yang kau sebut ‘pabo’ itu, hah?”

“Jelas kau, Cho Ikha! Dasar bodoh!” tandas Taerin sembari meletakan ujung telunjuknya pada kening temannya tersebut. “Sudah jelas-jelas kau menyukainya tapi kau tetap menyangkalnya. Dasar bodoh!”

Ya! Berapa kali kau menyebutku ‘bodoh’, eo? Kau kira aku ini benar-benar bodoh?”

“GEUREOM!” balas Taerin.

Ikha berdecak. Seharusnya ia memang tidak membicarakan isi hatinya sejak semula pada Taerin. Temannya yang satu ini benar-benar tidak membantunya.

“Apa kau masih menyimpan nomornya?” tanya Taerin dan dijawab oleh gelengan pelan dari Ikha.

“SEE? SIAPA YANG BODOH SEKARANG?” Yeoja yang dikenal sebagai teman baik Ikha itu tak lagi memekik, melainkan berteriak.

“Kau tidak perlu berteriak begitu, Taerin-ie!” sungut Ikha tak sabar menanggapi Taerin.

Taerin menghela napas untuk mengatur nada bicaranya. “Lihat sisi baiknya, Cho Ikha. Jika kau berpacaran dengan Key, aku bisa memiliki akses untuk bertemu Kim Heechul!”

Ikha mencibir. Ujung-ujungnya pasti Kim Heechul. Dalam otaknya memang tak ada hal lain selain namja bergolongan darah AB tersebut.

Saat keduanya masih berdebat, Ikha merasakan handphone-nya bergetar tanpa suara. Segera saja ia membaca isi pesan tersebut.

Nugu?” Taerin dipenuhi rasa ingin-tahu.

Ikha lantas menyambar tas dan juga blazer yang sempat ia tanggalkan. “Aku pergi. Kita bicara lain kali,” pamitnya, seadanya.

“YA! EODIGA? (Kau mau pergi kemana?)”

***

KENAPA KAU MENYURUHKU datang kemari?” selidik Ikha pada Jonghyun yang menyeretnya paksa ke dalam sebuah pub.

“Sherlock menang lagi jadi kau harus menjadi bagian dari pesta juga,” tuturnya sambil terus menarik tubuh Ikha yang masih enggan diajak kompromi.

“Ada siapa saja di dalam sana?” tanya Ikha, sekedar untuk berjaga-jaga.

“Hanya kita berlima,”

“Dan aku satu-satunya yeoja? YANG BENAR SAJA?” Ikha menepis tangan Jonghyun agar tak menyeretnya lagi. Ikha sering mendengar Taerin bicara jika para selebriti biasanya akan minum-minum saat merayakan kemenangan mereka di acara musik.

“Cerewet!” Jonghyun kembali menarik salah satu tangan Ikha. Namja yang satu ini benar-benar tidak mau mendengarkannya.

“Kalau begitu aku pergi ke toilet dulu,” elak Ikha.

Ck, Key tetap menyukaimu meski kau tidak memakai make-up. Kkaja! (Ayo pergi)” tolak Jonghyun tanpa sedikitpun mengurangi jeratannya seolah Ikha itu adalah seekor kerbau yang harus diarahkan dengan benar.

“Sebentar saja. Okay?” pintanya memelas.

Jonghyun berhenti. Ia menatap Ikha selama beberapa detik kemudian mengangguk. “Ok. Orae-eobseo (jangan lama-lama),” titahnya.

Ikha hanya mengangguk pelan sambil menyatukan ujung telunjuk serta ujung ibu jari membentuk huruf O.

Ia lantas bergegas menuju toilet—yang ia sendiri pun tak tahu dimana letaknya. Dan begitu ia sampai di belokan berikutnya, ia menabrak seseorang hingga  membuat orang yang ditabraknya—atau yang tidak sengaja ditabraknya—terjatuh ke lantai.

Eo! Jweoseonghiaeyo,” ucap Ikha sembari berusaha membantu orang tersebut berdiri.

Bukannya berdiri, orang tersebut malah menarik Ikha hingga ia terjatuh ke dalam pelukannya. Ikha terkesiap. Matanya sempat berkedip beberapa kali untuk membenarkan penglihatannya.

“Key?” tanyanya, tak percaya.

Ia mencium alkohol menyeruak dari tubuhnya. Sepertinya Key memang sudah mabuk total.

Noona?” gumam Key, bicara layaknya orang mabuk.

Ikha mencoba untuk berdiri  namun Key malah memeluknya hingga membuat keduanya tergeletak di lantai.

Eodiga? Bukankah disini lebih nyaman?” ucap Key, matanya membuka-menutup dan kesadarannya pun timbul-tenggelam.

“Kau mabuk,” ujar Ikha.

Aniyo… Aku masih sepenuhnya sadar. Lihat! Kau Cho Ikha bukan?” tutur Key ngalor-ngidul.

“Sebaiknya kita ke ruanganmu,” Ikha berusaha berdiri dan membawa tubuh Key sebisanya.

“Aku hanya ingin bersamamu, Noona. Eotteokhae?” Tangan Key berayun kesana-kemari.

Tsk! Kau ini—“

Kalimat Ikha terhenti begitu Key menciumnya secara spontanitas. Yeoja itu mengerang saat Key menggigit bibirnya tak sabaran. Ia menjauhkan namja itu semampunya dan syukurlah Key menghentikan aktivitasnya karena tubuhnya ambruk lagi ke lantai.

“Sebaiknya kupanggil Jonghyun,”

Samar-samar mendengar Ikha menyebut kata Jonghyun, namja itu pun lantas menggenggam pergelangan tangannya hingga Ikha tak dapat berkutik.

Hajima…” bisiknya.

“Sebenarnya kau sadar atau tidak, uh?”

“Apa kau mencintaiku?” tanya Key tiba-tiba.

“Eo?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ikha.

Sambil berusaha membuka kelopak matanya lebih lebar, Key kembali mengajukan pertanyaan semula. “Apa kau mencintaiku?”

Ikha tersenyum. “Kau benar-benar berada di bawah pengaruh alkohol,”

“Aku bersungguh-sungguh!” tukas Key, mengeratkan pergelangan tangan Ikha sambil menatap matanya lekat-lekat.

“Kalau aku mencintaimu, apa kau juga akan mencintaiku?” Ikha balik bertanya.

Key mendengus. Dengan sisa tenaganya, ia berusaha meraih wajah Ikha lalu mendaratkan ciumannya. Ikha menggerutu dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang nampak rendah di mata Key.

“Aku masih sadar dengan apa yang kulakukan,” gumam Key, memberi jeda sesaat sebelum ia kembali mencium Ikha membabi-buta.

***

DIMANA KEY?” tanya Jonghyun sesampainya ia di dalam ruangan yang disewanya bersama member SHINee yang lain.

“Toilet,” jawab Onew tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun dari layar android.

“Mana Cho Ikha?” tanya Onew begitu sadar bahwa Jonghyun datang sendirian.

“Toilet,” jawabnya seadanya.

Seketika Onew mematung. Ia menatap Jonghyun lurus dan tajam hingga namja bertubuh tak kalah atletis dari Minho tersebut mengerutkan alis.

Wae?” Jonghyun bertanya tanpa melihat ekspresi khawatir dari Onew.

“Kau tahu sendiri ‘kan kebiasaan Key jika sedang mabuk? Tadi dia ke toilet setelah meminum sebotol penuh soju bukan?” selidik Onew.

Jonghyun membulatkan kedua bola mata. Minho dan Taemin sepertinya tidak tertarik dengan perbincangan mereka dan memilih untuk bermain PSP terbaru milik Minho.

Khawatir, akhirnya mereka berdua menyusul Key ke toilet. Disana, mereka tak menemukan siapa pun. Bahkan saat ia bertanya pada petugas di toilet wanita, mereka tak menemukan tanda-tanda kehidupan dari Ikha.

“Bagaimana jika Key dan Ikha….”

Andwae (Tidak mungkin),” ucap Onew sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“LALU MEREKA BERDUA KEMANA, HYUNG???”

===END===

Header 01 (Cut)

 

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

54 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 10)”

  1. Ya. ya. ya. . knp d potong ampe situ. . . ><
    itu key sma ikha ngilang kemana coba???!!!
    jgn2. . . mereka. . andwae. .
    eonni. . . ini mah ngegantung bgt. . wajib ada after story nya. .!!!!

  2. IGE MWOYAAAAA????
    Emdingnyaa??masaa jd cerita ke motel lagii
    *plak
    Ciyee onew si leader tampan,kagak dibkin dubu aja tuhh di phone book ika xD
    Yahhh..pdhal seru ni klo ika n key tidak menyatu biar doet ganjaran lebih parah gitu keynya xD

  3. pertama kali baca ff ini adalah saat malam-malam sekitar jam 11-an dimana setelah aku baca the fake boyfriend yng masih nunggu pw di chap.ending 😀 . dan ternyata perjuangan sampe jam 2 dini hari gak sia-sia .
    ceritanya bener-bener keren , alurnya naik turun dibarengi sama feel emosinya yng dapet banget , karakter tokohnya pun kuat . dan aku gak nyesel sama sekali singgah di blog ini , aku bener-bener suka sama cerita-ceritanya ikha eonnie ^^ , bikin aku nyaman saat bacanya *ini jujur sejujurnya loh eonn , aku gak bohong* kekeke~
    gomapta ya eonn udah bikin cerita-cerita yng keren , bakalan ditunggu selalu karya- karyanya yng lain =)

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s