STEP FORWARD (Chapter 06)

DI DALAM RUANGAN ITU tak ada suara lain kecuali bunyi tetesan air dari selang infus yang tersambung pada salah satu punggung tangan Ikha. Suara pelan dari mesin Air Conditioner pun tak mampu mengalahkan bunyi detak dari jam dinding yang menjadi hiasan ruangan bercat putih tersebut.

Perlahan, Ikha mencoba menggerakan kelopak matanya yang begitu sulit terbuka saat kesadarannya kian pulih. Samar-samar ia memperhatikan sekeliling ruangan dan hanya beberapa detik saja ia dapat membuat kesimpulan bahwa dirinya sedang terbaring di dalam salah satu ruangan rumah sakit. Alasannya hanya satu: bau obat-obatan semacam transluthrin yang menyeruak di hidungnya.

S T E P F O R W A R D

Perhatiannya terhadap ruangan serba putih itu tak berlangsung lama begitu pandangan mata Ikha tertuju pada salah satu kakinya yang terbalut sempurna oleh gips setebal tiga sentimeter. Tak hanya itu, sebuah peyangga dari besi yang mengelilingi gips tersebut dan tersambung pada sisi bangsal membuat Ikha sama sekali tak dapat menggerakan tubuh. Penyangga itu sengaja mengunci kaki kanan Ikha agar ia tak banyak melakukan pergerakan.

Sambil memperbaiki posisi berbaring—karena punggungnya terasa pegal, Ikha mengaduh pelan karena selang infus yang ada di tangan malah menghambat gerak-geriknya. Hembusan nafasnya terdengar kuat. Rasanya ia ingin sekali merusak besi penyangga itu agar ia dapat bergerak bebas.

Saat Ikha berusaha membangunkan tubuh, kenop pintu ruangannya perlahan berputar dan menampakkan sosok Kyuhyun yang tengah menatapnya was-was. Ikha hanya melemparkan senyum simpulnya sambil terus berusaha untuk duduk di atas bangsal sementara Kyuhyun lebih memilih untuk berkacak pinggang serta menggelengkan kepala.

It’s cool, isn’t it?” ucap Ikha seraya menggerakan dagu untuk menunjuk ke arah kaki kanannya yang terbungkus gips.

“Kakiku baru saja tersambung dan sekarang giliran kakimu yang terluka. Paboya! (Dasar Bodoh!)”

Kyuhyun berjalan mendekati Ikha seraya meletakkan beberapa bungkus cemilan kesukaan dongsaeng satu-satunya tersebut. Diperhatikannya yeoja yang nampak segar bugar itu sejenak sebelum ia memutuskan untuk mengikat rambut panjang Ikha yang sedikit berantakan. Lagi-lagi Ikha tersenyum. Senang, karena Kyuhyun sangat memperhatikannya.

Eomma eodisseo? (Dimana Ibu?)” tanya Ikha di sela kegiatan memijat kedua pahanya sendiri yang terasa kaku seperti terkena efek dari suntikan kebal (?)

“Setelah Dokter bilang bahwa kakimu akan kembali seperti semula hanya jika kau melakukan beberapa operasi, mereka langsung kembali bekerja dan menyuruhku untuk menjagamu.” Jelas Kyuhyun kemudian duduk pada sisi kiri bangsal sambil sesekali membenahi letak pakaian khas rumah sakit yang dikenakan Ikha.

Yeoja itu tersenyum kecut. Harus ia akui, kedua orang-tuanya memang gila kerja. Ketika Kyuhyun mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya tak berfungsi sebagaimana mestinya, mereka berdua tetap bersikap santai dan tenang. Mungkin karena bagi mereka, uang bukanlah hal yang sulit untuk di dapatkan.

Baik Ikha dan juga Kyuhyun tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Setidaknya Tuan dan Nyonya Cho masih mengingat mereka sebagai anak kandung keduanya.

Kyuhyun melirik hati-hati pada Ikha. Yeoja itu menatap kakinya yang dikelilingi besi metal dengan tatapan yang sulit diartikan. Meski ia bersyukur karena retak tulang kaki Ikha hanya sebatas tulang kering, tetap saja hal itu tak dapat mengurangi kekecewaan yang dirasakan yeodongsaeng-nya.

Ia tahu persis bagaimana rasanya ketika kaki yang sangat ia banggakan tak dapat digunakan dengan baik tepat saat ia akan melakukan pementasan. Musikal FAME adalah langkah awal bagi Ikha untuk memulai kembali mimpinya yang selama ini terus dipendam dan ditepisnya. Rasanya tidak adil jika Tuhan menguji Ikha dengan cara seperti ini.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak ingin dikasihani,” gumam Ikha begitu ia menyadari tatapan sendu Kyuhyun pada salah satu kakinya.

Sontak Kyuhyun beralih menatap Ikha. Ia menemukan senyum yeoja berparas oriental itu—senyum yang biasa ia bagi pada semua orang—menghiasi wajahnya, membuat Kyuhyun mengusap puncak kepala Ikha dan memberinya sebuah senyum tipis sebagai balasan dari senyum Ikha. Dalam hati, ia begitu bangga memiliki dongsaeng yang memiliki mental yang kuat.

“Ada beberapa orang yang menunggumu di luar,” ucap Kyuhyun mengalihkan suasana di antara mereka yang tiba-tiba berubah mellow.

Ikha menatap Kyuhyun seraya menggerakan bibirnya mengucapkan kalimat ‘Nugusijyo?’ tanpa suara. Namja berparas tengil itu merunguskan bibir sambil menggedikkan bahu.

“Aku hanya mengenal namja yang ada pada salah satu bingkai foto yang berderet di kamarmu. Sisanya aku tak tahu,”

Ikha mendengus. Paham dengan maksud Kyuhyun. “Lee Hyuk Jae?”

Lagi-lagi Kyuhyun menggedikkan bahu. “Mungkin,”

Ikha merentangkan kedua tangan kemudian menguap dan menggeliat sebisanya. “Biarkan saja. Aku tidak ingin melihat mereka menertawakanku karena coretan di gips ini,” tolaknya.

Ia mengusap permukaan gips putih dari sela-sela besi penyangga yang telah dicoret-coret dan dihias oleh replika wajahnya—meski ia tak yakin bahwa gambar yang dibuat dari coretan spidol hitam itu adalah gambar wajahnya atau gambar hantu sadako karena perbedaannya sangat tipis—dan juga beberapa tulisan dari kata-kata seperti ‘kamseupay’, ‘yo man’, ‘mas bro’ atau pun kata ‘mbrew’.

Kyuhyun terkekeh. Sepertinya Ikha sudah menebak keusilannya dari tulisan tangan tersebut. Well, ia memang sengaja menghias gips yang ada pada kaki Ikha karena dongsaeng-nya itu juga pernah melakukan hal yang sama saat kakinya pernah terpasang gips. Setidaknya kata-kata yang ia pelajari dari Anak Gaul Indonesia itu lebih baik ketimbang kata-kata yang pernah Ikha tulis—misalnya ‘fuck me’, ‘hollyshit’ dan ‘One Kiss 400 Won’.

Saat Kyuhyun dan Ikha masih asyik saling berbagi tawa, kedua bersaudara itu dikejutkan oleh kehadiran seseorang di ambang pintu. Disana, Victoria, membungkuk sopan pada Kyuhyun lalu berdiri kaku di tempatnya. Wajah yeoja dengan rambut keemasan itu kelihatan lebih murung dari biasa. Ikha melayangkan seulas senyum pada Victoria, sengaja agar yeoja yang biasa dipanggil ‘eonni’ olehnya itu dapat lebih rileks. Lihat saja, kesepuluh jemari Vic nampak tegang memegang tas tangan Jammie Coo miliknya.

“Bisakah Oppa keluar sebentar?” pinta Ikha pada Kyuhyun.

Tanpa banyak berpikir dan rasa curiga sedikit pun, Kyuhyun lantas pergi meninggalkan keduanya setelah memberikan sebuah kecupan manis di pelipis Ikha.

Sepeninggalan Kyuhyun, Victoria memberanikan diri menghampiri Ikha meski tatapannya sama sekali tak dapat teralihkan dari gips serta besi metal yang melekat pada kaki kanan Ikha. Ia menatap yeoja itu sarat dengan ketakutan. Keberaniannya masih belum sepenuhnya cukup untuk membuatnya bicara pada Ikha pasca kejadian malam itu.

“Jika Eonni ingin menanyakan keadaanku, aku akan menjawabnya dengan kalimat ‘Nan gwenchana’,” ucap Ikha, sengaja memulai percakapan karena Victoria sedari tadi masih saja membungkam mulut.

Victoria tersenyum. Senyum yang bagi Ikha terbentuk karena sebuah paksaan. Yeoja itu masih belum juga menatap kedua bola mata Ikha. Sepertinya ia lebih tertarik memandangi besi metal tersebut.

Well, rasanya memang agak aneh. Tapi aku akan membiasakan diri,” kata Ikha. Tangannya bergerak memegang ujung gips yang ada di atas lutut. Ia belum tahu apa saja yang telah dilakukan dokter bedah terhadap kakinya. Yang jelas, ia dapat merasakan hawa dingin meresap di dalam tulangnya yang retak. Persis sama dengan rasa dingin saat ia memegang besi metal tersebut.

Sebelum benar-benar menatap Ikha, Victoria terlebih dulu menelan ludah membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.

Mianhae, Kha-ya. Aku… aku—“

Gwenchana (Tak apa), Eonni-ya. Anggap saja kecelakaan ini sebagai takdir yang telah digariskan Tuhan untukku,” potong Ikha, menginterupsi kata-katanya tepat saat dua orang yeoja berpakaian perawat memasuki ruangan dan mulai memeriksa kondisi tubuh Ikha.

Sambil memperhatikan kedua perawat tersebut, Victoria kembali memberanikan diri untuk bicara.

“Saat itu aku tidak bermaksud untuk mencelakaimu. Aku hanya sekedar ingin menggertakmu saja dan—“

Ikha meletakkan telunjuknya di bibir sehingga membuat Victoria menghentikan kata-katanya. Yeoja itu menunggu hingga pemeriksaan kecil dari kedua perawat itu selesai. Begitu keduanya keluar dari ruangan setelah menyuruh Ikha untuk tidak melakukan gerakan-gerakan sekecil apapun agar penyangga di kakinya tidak bergeser, ia kemudian kembali menatap Victoria yang semakin menunduk.

“Victoria Eonni. Sungguh. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini dan menganggapnya sebagai kecelakaan biasa. Kita harus menyimpan rahasia ini hingga ke akar-akarnya. Tidak boleh ada yang tahu. Okay?” suruh Ikha.

Tak percaya dengan pernyataan Ikha, Victoria kini balas menatap yeoja berambut hitam pekat itu dengan tajam. “Bagaimana mungkin kau dapat dengan mudah memaafkanku, Kha-ya?” tanyanya setengah bergumam.

Senyum Ikha mengembang. Di tengah kegiatannya merasakan dingin yang semakin menyeruak di dalam tulang kakinya yang patah, yeoja itu sempat terkekeh memamerkan deretan gigi-gigi putihnya.

“Karena aku tahu bahwa kau melakukannya tanpa sengaja,”

***

JINJJA? (BENARKAH?)”

Ikha setengah memekik begitu mendengar pengakuan Kai. Namja yang kini menambahkan perm di rambut hitamnya tersebut mengangguk sambil menatap Taemin untuk mencari dukungan.

“Jika aku dan Taemin tidak melihatmu malam itu, mungkin kau tidak akan selamat.” Imbuh Kai kemudian menyilangkan kedua kakinya. Ia baru saja menceritakan bagaimana dirinya dan Taemin menolong Ikha saat mereka menemukan yeoja itu terkapar di tengah jalan.

“Untung saja Kai segera menghentikan laju bus saat aku memanggil ambulance. Jika tidak, mungkin kepala Noona juga ikut terlindas mobil,” Taemin menjelaskan.

Jinjja?” Sambil mengayunkan garpu kecil, Ikha mengucapkan kata tersebut dengan nada yang terdengar seolah sedang meragukan perkataan Taemin.

Dangyeonhaji! (Tentu saja!),” ucap Taemin mantap.

“Kau berhutang budi pada kami,” Kai ikut menanggapi.

Ikha terkekeh. Piring kecil yang dipenuhi potongan semangka yang sengaja disediakan khusus oleh Kyuhyun pun ia letakkan di atas meja kemudian mengibaskan tangan ke arah Taemin.

Iriwa (Kemarilah),” titahnya, menyuruh namja cantik itu untuk duduk disampingnya.

Taemin mendekati Ikha lalu duduk pada sofa dengan penuh kehati-hatian—agar kaki kanan Ikha yang terbujur lurus serta ditopang oleh meja tersebut tak bergeser dari tempatnya. Ikha segera menarik tangan Taemin seraya memberikan sebuah kecupan singkat di pipi namja dengan paras yang tak kalah cantik dari Kaya Scodellario tersebut.

Kedua mata Taemin membulat. Pipi kiri yang baru saja dicium Ikha serasa terbakar, membuat wajah Taemin berubah kemerahan seperti terlalu lama berada di bawah sinar matahari.

“YA!”

Kai menghardik Taemin begitu melihat Ikha memberikan sebuah kecupan pada kembarannya itu. Ia menatap garang ke arah Taemin yang tengah mengusap permukaan pipinya. Namja itu mendengus, nampak seperti banteng liar yang siap menyerang siapapun yang dilihatnya.

NOONA! WAE PPYAM-E POPO HASSEO? (NOONA! KENAPA KAU MENCIUM PIPINYA?)” rutuk Kai, tak terima atas perbuatan Ikha pada Taemin.

Wae? Neo ddo neomu hasigesseo? (Kenapa? Kau mau juga?)” ejek Taemin.

Kesal, Kai melempar bantal kecil yang ada di balik punggungnya hingga tepat mengenai kepala Taemin. Tak mau kalah, Taemin pun balas melempar bantal tersebut pada Kai hingga akhirnya sepasang namja kembar itu saling beradu melempar benda berbentuk segiempat tersebut.

Ikha mengaduh saat bantal yang dilempar keduanya hampir saja mengenai kakinya yang masih terbungkus gips. Hingga akhirnya Taemin dan Kai langsung menghentikan peperangan singkat mereka begitu melihat kehadiran seseorang. Ikha mengarahkan pandangannya ke arah pintu dan senyumnya seketika tampak. Orang yang selama ini ditunggunya kini muncul di hadapannya.

“Sepertinya kehadiranku mengganggu kalian,”

Eunhyuk—setelah menatap Kai dan Taemin satu per satu—menutup pintu dengan perlahan kemudian meletakkan sebuket lily dan sekeranjang kecil buah-buahan segar di atas rak yang terletak disamping bangsal. Si kembar membeku di tempat. Kemunculan Eunhyuk cukup membuat alis keduanya mengerut.

Bagi mereka, Eunhyuk itu patut untuk digarisbawahi. Siapa yang tidak tahu seorang Lee Hyuk Jae? Namja yang menjadi saingan terberat mereka untuk mendapat perhatian Ikha—sekaligus mantan kekasihnya—itu malah datang di saat yang kurang tepat.

“Aku sedikit kecewa karena kau baru datang menjengukku,” olok Ikha, menyelipkan sedikit aegyeo saat mengucapkan kalimat tersebut.

Wajah Eunhyuk yang semula mengerut karena tidak begitu menyukai kehadiran namja dari Keluarga Lee itu kemudian melayangkan senyum terbaiknya pada Ikha. Setibanya di sisi sofa, namja berambut blonde tersebut memberikan sebuah ciuman padanya. Kai dan juga Taemin saling beradu pandang.

Tak masalah jika Eunhyuk mencium Ikha di pipi atau di keningnya. Masalahnya, bibir Ikha yang menjadi target namja itu dan hal itu jelas membuat keduanya merunguskan bibir. Ditambah lagi Ikha malah menyambut ciuman Eunhyuk dengan baik, membuat keduanya serasa ingin menjatuhkan diri ke dalam sumur karena tubuh mereka terbakar emosi.

Eunhyuk duduk tepat disamping Ikha sementara kedua matanya memperhatikan Kai dan Taemin dari sudut matanya. Deretan gigi-giginya tampak saat ia tersenyum. Senang, karena ia dapat mencium Ikha tepat di depan mata mereka. Tadinya ia masih kesal pada Kai saat namja ingusan itu mencium Ikha di kelas tari. Tapi hari ini ia berhasil membuatnya skakmat.

Skor saat ini: 1-1.

Gomawoyo (Terima kasih). Jika bukan karena kalian, mungkin Ikha sudah mati kehabisan darah.” ucap Eunhyuk pada si kembar sembari merangkul tubuh Ikha.

Keduanya mengangguk kaku. Bukan karena kecanggungan yang mereka rasakan saat berbicara dengan Eunhyuk, melainkan karena melihat namja itu bermesraan dengan Ikha seolah menganggap mereka itu makhluk maya. Kai bahkan mengibas-ngibas tangannya sendiri saat melihat Eunhyuk bergumam tak jelas di telinga Ikha dan membuat si noona terkekeh dibuatnya.

Noona, aku lupa mengatakan sesuatu.” Taemin sengaja mengatakan hal tersebut agar sepasang insan itu menghentikan aktivitas mereka. Benar saja, Ikha langsung mendorong tubuh Eunhyuk untuk menciptakan jarak antara mereka berdua.

Mwoya igeo? (Apa itu?)” tanya Ikha.

“Sebelum kejadian itu terjadi, aku dan Kai masih berada di gedung Sound. Kami melihatmu bersama Victoria Noona di area halte bus,”

Mendengar keterangan Taemin barusan, bola mata Ikha berputar cepat menatapnya lekat-lekat. Ia sedang menunggu apa yang akan dikatakan Taemin selanjutnya—dan semoga saja bukan sesuatu yang ingin didengarnya.

“Kami juga melihat dengan jelas saat Victoria mendorong tubuhmu ke tengah jalan,” lanjut Taemin.

Bola mata Ikha membulat, melayangkan tatapan pada Taemin agar namja itu tidak bicara lebih jauh lagi. Eunhyuk—yang merasa bahwa Ikha tengah menyembunyikan sesuatu—menatap Kai dan Taemin satu per satu.

“Apa maksud dari perkataan kalian?” tanya Eunhyuk, kebingungan.

Noona… kau tahu bahwa Victoria telah membuatmu seperti ini. Kenapa kau tidak menuntutnya?” Giliran Kai yang mendesak Ikha.

“Yang kalian lihat itu tidaklah seperti yang kalian duga,”

Aniyo. Kami juga mengetahui hal lain yang mungkin saja belum kau ketahui,” ucap Taemin, menginterupsi kalimat Ikha hingga membuat yeoja  itu bungkam.

Ikha menghela nafas. Ia juga mengabaikan Eunhyuk yang sedari tadi menatapnya seolah mencari jawaban atas segala kebingungan yang melandanya.

“Mobil yang menabrakmu itu—“

“Bukan suruhan Victoria dan kecelakaan ini memang hanya sebuah ketidaksengajaan. Semua yang kau lihat itu bukanlah seperti drama-drama di televisi, Kai. Okay, arattanikka (aku tahu). Jadi sebaiknya kalian pergi sekarang juga dan tinggalkan kami berdua,”

Dengan cepat, Ikha berseloroh menghentikan spekulasi-spekulasi yang dibuat Kai dan Taemin.

“Tapi—“

“Kita akan membicarakan ini lain kali. Okay?” Kembali ia memotong perkataan Taemin lalu menatap keduanya tajam—menggerakan bola matanya menyuruh mereka untuk segera keluar dari ruangan.

Taemin sempat mengaduh namun Kai segera menarik lengan kembarannya menjauh dari Ikha. Ia tahu persis bagaimana watak yeoja bermental baja itu, sangat menyeramkan ketika ia sedang naik pitam. Jauh lebih menyeramkan dari dirinya sendiri.

Ikha memastikan terlebih dahulu kedua namja yang lebih tepat menjadi dongsaeng-nya itu benar-benar keluar dan menutup pintu ruangan dengan sempurna sebelum menggubris kehadiran Eunhyuk.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Ikha saat mendapati Eunhyuk melayangkan tatapan tajamnya.

“Jadi Victoria adalah dalang dari semua ini?”

Ikha menghela napas. “Jangan berprasangka buruk pada seseorang jika kau belum mengetahui kebenarannya,”

“Lantas apa arti dari perkataan si kembar itu selain fakta bahwa mereka berdua merupakan saksi dari kejadian tersebut?” tukas Eunhyuk, memaksa.

Yeoja itu membungkam mulut. Helaan napasnya terdengar kuat meluncur dari sela bibirnya. “Yang mengetahui hal ini hanya kita berempat saja. Jadi kumohon, jangan sebarkan hal ini pada siapa pun. Okay?”

Eunhyuk menepis jemari Ikha yang tiba-tiba menggenggam jemarinya. Tak ada sedikit pun guyon atau candaan yang biasa muncul di wajahnya. Kali ini ia serius. “Kau akan membiarkan Victoria berlari kencang sementara kau harus berjalan tertatih-tatih akibat perbuatannya?”

Ikha mengerucutkan bibir. “Kau takut seseorang menggantikan posisiku di musikal itu bukan?”

Sambil mengucapkan kalimat tersebut, yeoja itu bergelanyutan di bahu Eunhyuk meski namja berhidung mancung itu lagi-lagi menepisnya. Ia menatap lurus pada sesuatu di hadapannya sambil melipat kedua tangan. Ia merasa bahwa Ikha terlalu mudah menganggap hal sepenting ini.

“Kau tak ingin siapa pun menggantikan peranku, bukan? Mengaku saja,” goda Ikha, sengaja memancing Eunhyuk agar namja itu tak lagi mengatupkan bibir.

“Kau sudah berjanji akan menemaniku membangun masa depanku kembali. Bagaimana mungkin semua akan berjalan lancar jika kau—” Eunhyuk menghentikan kata-katanya sejenak begitu melihat kaki kanan Ikha yang terbalut gips dan juga besi-besi metal. “Esseo. Ijeo beoryeo! (Sudahlah. Lupakan!)” rutuknya.

Mengerti dan paham betul dengan semua yang dikhawatirkan Eunhyuk, Ikha pun menggenggam jemari namja yang telah dikenalnya begitu lama tersebut dengan erat. Menyalurkan kehangatan untuk meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.

Duryeowohaji marayo (Jangan takut). Aku akan tetap disampingmu, Oppa. Asal kau tetap memegang janjimu untuk tidak bermain wanita di luar sana,” tutur Ikha disertai tawa renyahnya.

Kali ini Eunhyuk melemah. Raut wajahnya tak lagi tegang seperti semula begitu Ikha memberinya sebuah kecupan singkat.

“Kau memang sangat tahu kelemahanku,” bisiknya di depan wajah Ikha, membuat yeoja itu menyeringai bangga.

Eunhyuk menggeser tubuhnya lebih dekat pada Ikha untuk memudahkannya mencumbu yeoja itu sekali lagi. Rasanya ia sudah begitu lama tidak menyentuhnya pasca kunjungan Ikha ke rumah susun dua minggu lalu. Dan sekarang, ia memang benar-benar menginginkan Ikha. Hanya mereka berdua saja di ruangan itu, jadi ia bisa sedikit bebas melakukan apapun.

Ia sengaja menyatukan bibir mereka dengan cara yang lembut dan tidak terkesan buru-buru. Sengaja, karena Eunhyuk ingin menikmati moment itu lebih detail. Biasanya namja berbibir tipis itu melumat bibir Ikha dengan kasar setiap kali berciuman. Namun kali ini ia melakukannya lebih sabar dan tenang.

Ikha tersenyum saat Eunhyuk hanya sekedar membasahi bibirnya dan tidak membuat suara decak yang biasa mereka timbulkan acap kali berciuman. Bosan, Ikha pun sengaja meremas T-Shirt tipis yang dikenakan Eunhyuk dan meraba dada bidangnya dengan intens. Cara itu cukup jitu. Namja yang dikenal sebagai The King of Yadong itu semakin mengeratkan tubuh mereka dan mengubah ciumannya menjadi lebih panas.

Ackh!

Tiba-tiba Ikha memekik saat kaki kanannya bergeser. Seketika Eunhyuk melepas pelukannya seraya meniup poni sebatas alis yang ia pelihara dengan baik itu.

See? Gara-gara kakimu yang patah itu, aku jadi tidak bisa leluasa menciummu!”

***

KAU AKAN MENJENGUK Cho Ikha lagi?” tuntut Hyoyeon, mencoba berkomunikasi dengan Eunhyuk yang nampak tidak tertarik dengan kehadirannya.

“Apa hal itu menjadi sebuah masalah besar bagimu?” Eunhyuk tetap meneruskan langkah kakinya sambil sesekali menyeka peluh. Hari ini adalah hari pertama latihan resmi untuk musikal FAME tanpa Ikha—the main character.

Aniya. Tapi sebaiknya kau seimbangkan waktumu itu dengan latihan dan mengurusi kehidupanmu sendiri. Kau terlalu mengkhawatirkannya. Dia akan baik-baik saja, Oppa.” Hyoyeon mengelak. Ia masih berusaha menyetarakan langkahnya dengan langkah Eunhyuk yang cepat dan lebar.

“Aku menjenguknya atau tidak, kurasa kau tidak perlu ikut campur. Kau bukan manager yang mengatur seluruh kegiatanku. Jadi sebaiknya kau urusi saja urusanmu sendiri,” tuturnya seraya memasukan kunci ke dalam loker yang telah disediakan khusus untuknya.

Hyoyeon menarik lengan Eunhyuk, membuat namja itu mau tak mau berhadapan dengannya. “Kenapa kau berubah jadi ketus seperti ini?”

Sambil berkacak pinggang, Eunhyuk menghela napas dan memutar bola mata. “Bagaimana sikapku tidak begini jika kau telah dengan penuh percaya diri meyuruh Ikha untuk menjauhiku. Apa hakmu menyuruhnya melakukan hal itu, eo? Kekanak-kanakan!” dengusnya kemudian menepis tangan Hyoyeon yang mencengkeram kuat salah satu lengannya.

“Ia mengadukan hal itu padamu?” tanya Hyoyeon tak percaya.

Eunhyuk hanya berdecak tanpa menjawab pertanyaan Hyoyeon. Ia lebih memilih mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

“Lalu bagaimana jika kukatakan bahwa aku tidak pernah meyuruhnya menjauhimu? Apa kau akan lebih mempercayai kata-katanya daripada kata-kataku?”

Untuk kedua kalinya Eunhyuk mendengus tajam. Ia menatap Hyoyeon sengit setelah menutup pintu loker cukup kencang. “Jeonghwag-hage (Tepat sekali),”

Ia menyampirkan tas Adidas kebanggaannya di bahu kemudian berlalu meninggalkan Hyoyeon. Yeoja itu tidak menyerah. Ia kembali menyusul Eunhyuk dan membuat namja yang memakai topi Hip-Hop itu menghentikan langkahnya karena Hyoyeon memblokir jalannya.

“Sebenarnya apa yang membuatmu tak pernah bisa lepas dari Cho Ikha, Oppa?” desak Hyoyeon.

Eunhyuk hanya memberinya sebuah smirk dan kembali melangkah. Hyoyeon mematung, membuat Eunhyuk lagi-lagi tak dapat bergerak maju.

“Apakah perhatianku selama ini masih belum cukup?” tuntut Hyoyeon.

Pandangan Eunhyuk ia alihkan sejenak ke arah lain. Ia mengusap tengkuk lehernya yang mendadak pegal. Sepertinya ia harus lebih kasar lagi pada Hyoyeon agar yeoja itu tak mengharapkannya lebih dari sekedar teman.

“Dengar, Hyoyeon-ah. Sejak awal kutekankan dengan jelas bahwa kita berdua hanya akan menjadi sepasang teman. Tidak lebih. Harus berapa kali kuulangi kata-kata itu?” Eunhyuk mengucapkan deretan kata tersebut dengan sedikit penekanan dan emosi.

“Aku bisa melakukan apapun yang bisa Ikha lakukan padamu,” balas Hyoyeon, menatap lurus pada kedua mata Eunhyuk untuk meyakinkan bahwa ia memang serius dengan ucapannya.

Seringaian Eunhyuk tampak tatkala mendengar pengakuan Hyoyeon. Sebenarnya ia agak heran mengapa yeoja ini begitu menggilainya. Ia tidak memiliki apapun kecuali tampang yang tak kalah keren dari Won Bin. Selebihnya nol.

“Jangan terlalu yakin,” gumamnya.

Hyoyeon menahan lengan Eunhyuk agar namja itu tak menghindarinya lagi. “Apa yang harus kulakukan agar perhatianmu itu beralih padaku, Oppa? Apa Victoria juga harus membuat kakiku patah seperti Ikha?”

Eunhyuk—yang semula ingin segera pergi menjauhi Hyoyeon—mendadak diam. Ia menatap yeoja berambut blonde itu tajam. Alisnya mengerut, membuatnya nampak lebih tua. “Bagaimana kau tahu jika Victoria yang membuat kaki Ikha patah?” desisnya.

Hyoyeon tergagap. Ia melepas tangannya kemudian meremas jemarinya sendiri. “Semua orang sudah mengetahui hal itu, bukan?” akunya.

Eunhyuk menggerakan tubuhnya agar bisa menatap Hyoyeon lebih mudah. “Anhae-yo (Tidak). Tidak ada orang lain yang tahu selain aku dan si kembar dari Keluarga Lee,”

Hyoyeon mundur beberapa langkah begitu Eunhyuk mendesaknya.

“Kecuali….”

***

BERAPA LAMA KAU harus melakukan operasi dan terapi?” tanya Donghae sambil menuntun Ikha menuju sofa.

Yeoja itu sedari kemarin terus saja mengaduh menyebut kata ‘bosan’. Jelas saja ia bosan. Kakinya baru saja melewati operasi tahap awal sementara Dokter memaksanya untuk tidak kembali ke rumah sebelum operasi ketiga dilakukan sedangkan tubuhnya pegal dan linu karena harus berbaring seharian di dalam ruangan yang memuakkan tersebut.

Nan moreugetta (Aku tak tahu). Paling sedikit tiga bulan—itu pun jika aku pergi ke Jerman untuk operasi tahap selanjutnya,” jelas Ikha. Meski Donghae meluruskan kaki kanannya dengan pelan dan hati-hati, Ikha masih meringis merasakan potongan besil metal di dalam tulang kering yang menggesek engsel di lutut kakinya.

“Berarti aku harus memundurkan waktu pementasan,” ucap Donghae seraya duduk disamping Ikha.

“Kau akan melakukan hal itu hanya demi menunggu kesembuhan kakiku?” ucap Ikha tak percaya. Donghae merunguskan bibir sembari menggedikkan bahu. “FAME harus tetap berjalan, Sajangnim. Jika pementasan diundur, kau akan mengecewakan Eunhyuk. Bukankah kau tidak ingin membuatnya kecewa lagi akibat perbuatanmu?” terangnya.

Donghae terdiam, pikirannya menerawang memikirkan segala yang telah ia rangkai sebelumnya. Ucapan Ikha ada benarnya juga. Jika ia menunda pementasan, ia takut semua media partner akan menarik semua sponsor mereka.

“Tenang saja, Oppa. Aku tahu orang yang tepat—yang pantas menggantikan posisiku,” ucap Ikha, menepuk pundak Donghae. Namja berparas bak Pangeran Scotlandia itu tersenyum tipis. Sedikit tenang dengan kekalutannya.

“Aku sudah bicara secara resmi dengan Kyuhyun,” akunya.

Ikha mengangkat kedua alis. “Mengenai?”

“Semuanya. Dan ia menyetujui kontrak itu,”

Ikha kembali menepuk pundak Donghae. Senyumnya merekah. “Kau akan terkejut melihat bakatnya. Oppa-ku itu lebih hebat jika dibandingkan dengan Park Giyoung Si Ratu Musical Seoul,” jelasnya sembari membusungkan dada.

Saat mereka masih asyik membicarakan keberlangsungan musikal FAME, Eunhyuk dan juga Hyoyeon muncul dari balik pintu dengan tergesa. Ikha mengarahkan pandangannya pada tangan Eunhyuk yang tengah menggenggam erat pergelangan tangan Hyoyeon. Mengerti akan arti tatapannya, Eunhyuk pun segera melepaskan cengkeramannya sementara ia balik menatap Donghae dengan sinis.

“Kebetulan sekali kau datang. Kemarilah,” pinta Ikha. Ia mengibaskan tangannya menyuruh Eunhyuk untuk mendekat.

Hyoyeon membungkuk kaku pada Donghae yang kini telah berdiri menyambut kedatangan Eunhyuk. Sedangkan Eunhyuk hanya menatap jijik padanya dan lebih memeluk Ikha dengan hangat untuk meredam emosinya yang tiba-tiba memuncak.

“Donghae ingin bicara empat mata saja denganmu. Sementara kalian berdua berbincang, aku akan mengajak Hyoyeon Eonni mengobrol. Carilah tempat yang nyaman,”

Donghae menoleh pada Ikha. Ia tahu, yeoja itu sedang berusaha agar Eunhyuk mau bicara padanya. Hati-hati, ia melirik pada Eunhyuk yang sepertinya tidak suka dengan keputusan Ikha.

“Tapi—“

Ikha menutup kedua telinganya mendengar penolakan yang lagi-lagi diberikan Eunhyuk. Namja berambut blonde itu mendesah.

“Hanya sebentar dan tidak lebih dari sepuluh menit,” ucap Eunhyuk sambil melirik tajam pada Donghae.

Setelah mengecup pelipis Ikha, Eunhyuk berjalan keluar diiringi Donghae yang sebelumnya telah mengacak rambutnya terlebih dahulu. Hyoyeon memperhatikan kedua namja yang telah menghilang dari ruangan itu kemudian beralih pada Ikha. Yeoja itu melambaikan tangan, menyambut kedatangannya dengan seulas senyum yang biasa ia temuka di wajahnya.

Orenmaniya, Eonni-ssi. (Lama tak berjumpa, Eonni)” sapa Ikha hangat.

Hyoyeon menelan ludah sejenak. Saat ini—di hadapannya, ia memandangi kaki Ikha yang tak dapat digunakan untuk menari seperti sedia kala. Meski begitu, ia masih dapat merasakan rasa iri yang begitu kuat.

Yeoja itu mengalihkan pandangan untuk menatap Ikha yang masih tersenyum padanya. Bola matanya berkaca-kaca. Benar, sekali pun Ikha tak lagi menjadi tokoh utama di musikal itu, rasa iri yang dirasakannya masih belum padam juga.

***

EUNHYUK DAN DONGHAE duduk berdampingan pada kursi yang berjejer di dekat dinding ruangan Ikha. Eunhyuk memutuskan untuk tidak meninggalkan Ikha dengan Hyoyeon lebih jauh.

Hampir lima menit dan diantara mereka tak ada yang memulai untuk bicara. Donghae lebih memilih menatap kaleng Cola di tangannya sementara Eunhyuk memejamkan mata sambil bersandar pada dinding. Kedua kakinya menyilang. Bahkan Donghae mendengar namja yang seumuran dengannya itu sesekali menghela napas.

Geureondae… (Jadi…)” Eunhyuk membuka mulut untuk pertama kali. Matanya masih terpejam, masih enggan bertatapan langsung dengan Donghae.

Mianhae,” gumam Donghae. Ia masih menunduk menatap kaleng tersebut.

“Berterimakasihlah pada Ikha. Jika bukan karena dia, mungkin aku masih kesulitan untuk memaafkanmu.”

Donghae menghembuskan napas leganya sesaat. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding lalu melirik sebisanya pada Eunhyuk yang masih memejamkan mata. Namja berambut hitam itu tersenyum. Ia tahu, Eunhyuk belum sepenuhnya memaafkan dirinya. Namun ia bersyukur karena namja itu mau bicara dengannya sekarang.

“Sudah lama kita tidak berbincang seperti ini,” ucap Donghae sambil memperhatikan langit-langit rumah sakit.

“Itu karena kau yang memulainya,” tandas Eunhyuk dengan nada yang terdengar begitu tenang. “Sudahlah. Lagipula aku juga lelah terus menerus seperti ini, Donghae-ssi.”

Eunhyuk membuka mata lalu menoleh pada Donghae, menatapnya sesaat kemudian beralih menatap langit-langit seperti yang Donghae lakukan.

“Aku hanya ingin menebus semua yang telah dilakukan Appa,” Donghae memberi jeda sesaat untuk meneguk softdrink-nya. “Seharusnya aku melakukannya sejak dulu,” imbuhnya. Terselip nada penyesalan dalam ekspresi wajah Donghae.

Namja itu kemudian merogoh sesuatu di dalam kantung jas yang dikenakannya. Selembar kertas berukuran A4 disodorkan pada Eunhyuk.

Mwoya ige?” Eunhyuk menerima kertas tersebut kemudian membaca deretan tulisan pada lembaran itu.

“Aku ingin kau membantuku mengurus Sound Ent. Aku juga lelah menjalankan tempat itu sendirian—karena aku tidak mungkin menyuruh Taemin dan Kai mengurusi hal-hal semacam itu,” jelas Donghae.

Eunhyuk menatap Donghae tak percaya. Lembaran kertas yang dilipat menjadi empat bagian itu adalah copy-an dari surat pernyataan yang dibuat Donghae perihal pengalihan saham Sound Ent padanya.

Belum sempat Eunhyuk menanyakan lebih lanjut, terdengar suara teriakan dari ruangan Ikha dan membuat keduanya sontak beradu pandang. Donghae dan Eunhyuk berlari menuju ruangan dan ia melihat Ikha terkapar di lantai memegangi kakinya.

Kedua namja tampan itu menghampiri Ikha. Eunhyuk langsung meringis saat melihat besi yang ada di dalam kaki Ikha melesak keluar melalui lutut kakinya. Seketika itu juga Eunhyuk mengedarkan mata, ia menemukan Hyoyeon menatap ketiganya ketakutan di dekat pintu.

“YA!!” teriak Eunhyuk histeris. “NEO! MWOHANEUN GEOYA? (KAU! APA YANG KAU LAKUKAN?)”

Eunhyuk hendak mengejar Hyoyeon yang telah berlari meninggalkan mereka hingga niatnya diurungkan begitu Ikha menahan tangannya.

“Aku akan memanggil Dokter dan menghubungi Kyuhyun. Jaga dia,” ucap Donghae.

Eunhyuk mengangguk. Ia segera mengangkat tubuh Ikha ke atas bangsal sambil terus menggenggam erat jemarinya. Ia tak bisa melakukan apapun saat ini selain menenangkan Ikha yang terus saja menjerit menahan perih. Eunhyuk pasti akan melakukan hal yang sama jika ia berada di posisi Ikha.

Ia ingin melepas besi penyangga dan juga gips yang menyelubungi kaki Ikha tapi ia sama sekali tak mengerti apapun. Ditambah lagi metal-iron yang muncul dari dalam kakinya, Eunhyuk tak bisa membayangkan sakit yang dirasakan Ikha.

“Kha-ya. Tenanglah. Aku disini,” ucap Eunhyuk berkali-kali, berharap kata-katanya itu akan sedikit mengurangi rasa sakitnya.

…bersambung…

copy-header.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

121 thoughts on “STEP FORWARD (Chapter 06)”

  1. aduh itu ikha kenapa ? kenapa juga itu tbc muncul pas bagian ikha nya lagi menderita ? ish.. -_-
    itu yeoja ga tau malu yah ? andai dia bukan member fav saya di snsd pasti udh diblacklist u,u
    hoho~ eunhae baikan ? cie ciee :3 haha.
    ah iya, kira2 apa yg dibicarain eunhyuk sama hyoyeon pas percakapan terakhir itu ? o.O

    1. Kkk~ sebenernya Hyoyeon juga member favorit aku di SNSD saeng. Tapi entah kenapa malah eonni-ku tercinta yang jadi antagonis disini, huhuhuu &gapapa ya Hyo~
      Apa yaaa~ kkk~ tunggu aja next chapternya ya Saeng. Makasih udah stay close disiniii~

  2. ff ini bnyak bkin pnasarannya, jadi gk bsa jauh2 nih…hihihi
    cpat dlanjutin ya onn, pnasaran nih ama lanjutannya..jgn lma2 yaahhhhhh, hehehe #maksa
    tp klo emg onn lg sbuk, ya udh deh gak ap2 klo agk lama.. #readerbaikhati kkkkk-

    1. Ya ampun baiknyaaa~ onn jadi terharu nih saeng^^ (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
      FF ini pasti aku lanjutin tapi gk tau kapan saeng. Jadwalnya lagi gak memungkinkan soalnya, huhuhu~ tapi makasih ya udah stay close di blog ini… ^^

      1. iyaa onn aq psti akn ttp stay di blog nya onn, soalnya pnsaran ama lnjutan n krya2 onn yg lain,,hehehe^^
        aq akan ttp nunggu buat ff onn..hahay fighting onn *muahmuah

      1. kalo aku mah enggak , kalo ayahku pernah tapi gak parah-parah amat sih , yg lebih parah itu saudaranya ayahku , kan abis operasi punggung trus salah gerak , nah pennya itu kan dari platina itu nusuk keluar punggung.

  3. itu paragraf terakhir ngeri banget ya ngebayanginnya ckckkckckckck
    penasaran banget sama hyukjae sama ikha hahahahha sama sama yadong -____-‘”
    kai sama taemin imut ya hahahahha
    btw hyoyeon parah hahahhahha
    next nya ditunggu yaaa :))

  4. Gregeeet.,.
    greget pisan, Ikha qo baik bgt,.
    aaaaargh pengen jambak2 rambut vict ampe botak,
    and Hyoyeon, pasti Hyoyeon yg nabrak Ikha, bener g????

    berharap Ikha cepet sembuh, ngga kuat, linu bgt bayangin kaki Ikha yg di bag akhir.

  5. wadoooh,, gila!! ngeri bgt sih,, wktu d part sebelumnya aq komen cepet2 gara2 ga tega, aq pikir tuh kakinya ikha putus,,
    eee,, malah disini logamnya keluar kemana2,, gila ya yg bikin ff,, sampe mules2 ini yg bayangin,,
    semoga heppy ending deh,, jgn bikin ngeri2 terus dong kha,, gag kuat nih,, kesian ikha nya jg,, udah.. kuliah aja di management komunikasi gih, ga usah nari2 aja,, biar aman tuh kaki,,,
    dan aq ngga bakal nagih2 buat next chap,, ditunggu sih, tp tenang aja, bkn tipeku buat nagih2 ff yg belom kelar,,.soalnya aq tau kok kesibukan seorang mahasiswa,, jadi tetep semangat aja ya kha!! aq doain skripsinya lancar deh…. ^^

  6. ngeri ngeri suer. . wohhh ternyata pelaku hyeoyeon oenni. oenni sabar ya cinta itu gak harus memiliki. oenni yg akan tersakiti tatkala memaksakan seseorang yang tak mencintaimu disisimu. meskipun bila nanti kau memilikinya belum tentu juga hatinya tertuju padamu oen. jadi yang harus oenni lakukan melepaskannya. hyeoyeon oenni paikting!!! 😀 *devi mulai gajelas*

  7. wah ikha berhati besar ya, klo gw jadi dia sih gw dah bayar orang buat ngelindes balik tuh cewe2… hehe…
    kaga’ lah, gw kan jelmaan bunda dari jadi berhati mulia
    *kesian banget ya gw muji2 diri sendiri… T_T

    Daebak lah….

    terakhir neh…

    SARANGHAEYO CHO IKHA….!!!!

    *hehe… gw bikin lu blushing ga?? 😉

    1. Hahahah gue malu kalo eunhyuk cium-cium gue doang li. Tenang aja /kabur sebelum dilindes
      Betewe itu ‘bunda dari’ itu ibunya si ‘bida dari’ ya? Wuiiih kereeen~ *tepok pantat cz temen gue punya anak namanya bidadari*

      1. Dasar lu! kakek2 ompong juga bakal blushing klo digituin… hehe…

        Ih, ikha norak deh… Bunda dari itu kan dah ada di sinetron, si Sandra dewi itu loh… gak punya tv ya?? hehe… 😛

        lucu bgt seh, kasih nama anak bidadari… ada gak ya, yang kasih nama anaknya goblin???
        *sok mikir

      2. Masa? Emang ada sinetronnya? Muahahaha~ gue kalo nonton tv gk pernah pindah channel selain TVOne atau Metro beb. Jadi acara” lain gak tau menahu. Pasti pilmnya alay membahana ya? ᄏᄏᄏ

  8. Hai aku readers baru salam kenal ^^ aku baru baca ff kamu yg step forward. Aku langsung komen disini aja yah, ceritanya keren gak terkesan buru buru. Aku suka sama karakternya cho ikha disini dia misterius susah ditebak jalan pikirannya. Kisah percintaan hyukjae sama ikha cukup rumit. Penasaran deh itu si hyoyeon ngapain ikha yah? Kalau aku jadi ikha hyoyeon pasti udah aku bejek bejek. Pokoknya ff kamu daebak

    1. Annyeong haseyo Serra Han. Salam kenal juga^^
      Thx for your visit here. Lagi bosen nonton drama yang karakter ceweknya lemah & suka tertindas, jadi aku bikin main cast-nya punya karakter strong kek Cho Ikha^^ By the way, welcome here ya~ need ur critics & suggestions for the next projects

  9. Dari part 1-6 yg dh q baca,,smua crita2 nya SERU …HEBAT deh
    Oya mian ya kak bru komen ,,krna bru bkin e-mail#keting’lan jaman
    q adlh jewels#gada yg nanya#jdi boleh ga minta PW part 7 nya ???plisss and SMANGKA bwt Nex NEW STORY’S nya

    1. Annyeong haseyo Stny Lee^^
      Thx for your visit here. Aku Ikha, salam kenal 😀
      Kamu bisa isi form di page QUESTION buat dapetin password-nya. Karna kamu jewel, aku kasih diskon ntar, kkk~

  10. ‘kamseupay’, ‘yo man’, ‘mas bro’ ‘mbrew’.. Lahh ?? apapula ini? LOL -___-
    maudong dikecup kyuhyun XD *salahfokus
    “The King of Yadong” waaks XD
    hyoyeon !! hih gua gemes banget. lama² gua bacok nih org (ʃ⌣ƪ)
    bener² terkutuk. kampret ( ˘˘̯)\m/

    1. Tau tuh, kyuhyun kebanyakan gaul sama anak alay beb. jadi begitu deh. hahaha~
      wets, gak boleh deket” sama abang aku ya… kalo mau kecup kyuhyun harus dapet izin dari adeknya dulu. hihihi~^^

  11. Aaaaaa gregetan ama si hyeo jdnya
    Dan apa2an adegan mesra ddpn anak dbwh umur xD
    *pukpuk taeminkai* yg sabarr ya dekk xD
    Mau baca next part sprtny udh dgnt pas x_x
    Tgu dpet pass deh bacanta ^^

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s